<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Manuver Gerindra &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/manuver-gerindra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Jul 2019 10:44:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Manuver Gerindra &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sektor Pangan-Energi, Taktik Gerindra?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sektor-pangan-energi-taktik-gerindra/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2019 11:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kabinet Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Manuver Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[menteri jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=61920</guid>

					<description><![CDATA[Partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subianto menyiapkan konsep bagi pemerintah di sektor pangan dan energi. Berkaitan dengan tersebut, Gerindra akan mengajukan “lamaran” untuk posisi-posisi strategis di kabinet Joko Widodo (Jokowi) 2.0. PinterPolitik.com “All this capital, it&#8217;s like I left the caps lock on. It&#8217;s like every time I plot a return I seem to [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subianto menyiapkan konsep bagi pemerintah di sektor pangan dan energi. Berkaitan dengan tersebut, Gerindra akan mengajukan </strong><strong>“</strong><strong>lamaran</strong><strong>”</strong><strong> untuk posisi-posisi strategis di kabinet Joko Widodo (Jokowi) 2.0.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“All this capital, it&#8217;s like I left the caps lock on. It&#8217;s like every time I plot a return I seem to shift the game” – Drake, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">N</span>egosiasi atas posisi-posisi pemerintahan yang akan dibagikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampaknya tengah berlangsung alot. Di tengah-tengah negosasi yang alot tersebut, beberapa permintaan lain turut mencuat.</p>
<p>Layaknya Tom Hanks yang mencantumkan poin tambahan dalam negosiasi alotnya di film <em>Bridge of Spies</em> (2015), kini Gerindra sepertinya juga membuat tawaran tambahan lain bagi pemerintah, berupa konsep pemerintahan di sektor pangan dan energi.</p>
<p>Partai yang sempat dirumorkan mengincar jatah menteri pertahanan ini justru tampaknya lebih menginginkan sektor lain. Bisa jadi, keinginan Gerindra untuk menyasar sektor-sektor tersebut diutarakan untuk menghindari jatah-jatah lain yang telah disasar oleh parpol dan pihak lain.</p>
<p>Guna mewujudkan keinginannya tersebut, partai berlambang burung garuda tersebut telah berkumpul di kediaman Prabowo beberapa waktu lalu. Mungkin, seperti apa yang dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa, Gerindra ingin proposal tersebut semenarik mungkin bagi Presiden Jokowi.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Rapat Jajaran Dewan Pembina Partai <a href="https://twitter.com/Gerindra?ref_src=twsrc%5Etfw">@Gerindra</a> hari ini di Kediaman Pak <a href="https://twitter.com/prabowo?ref_src=twsrc%5Etfw">@prabowo</a> di Hambalang. <a href="https://t.co/i0LDDMWyqo">pic.twitter.com/i0LDDMWyqo</a></p>
<p>&mdash; JESSY DHEA MERLINDA (@DheaMerlinda) <a href="https://twitter.com/DheaMerlinda/status/1152191647851016192?ref_src=twsrc%5Etfw">July 19, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, bagaikan paket komplet, <a href="https://tirto.id/prabowo-ingin-tawarkan-konsep-jika-gerindra-masuk-kabinet-jokowi-eeDi/" rel="nofollow"><strong>tawaran konsep</strong></a> tersebut nantinya boleh jadi juga disertai dengan penentuan jatah menteri di kabinet Jokowi 2.0 bila diterima. Beberapa posisi menteri yang <a href="https://www.thejakartapost.com/news/2019/07/20/prabowo-gerindra-names-its-price-jokowi-cabinet-seats.html"><strong>dinilai</strong></a> bisa ditarget oleh Gerindra adalah menteri pertanian, menteri kelautan dan perikanan, menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM), menteri koordinator bidang kemaritiman, hingga menteri badan usaha milik negara (BUMN).</p>
<p>Beberapa pertanyaan pun kemudian timbul. Mengapa Gerindra mengincar posisi-posisi pemerintahan di sektor pangan dan energi? Ada apa di sektor-sektor tersebut?</p>
<h4><strong>Modal Politik</strong></h4>
<p>Upaya Gerindra untuk mengincar posisi-posisi pemerintahan di sektor pangan dan energi merupakan salah satu taktik partai tersebut dalam mempersiapkan diri dalam jangka panjang hingga Pemilu 2024. Oleh sebab itu, posisi di sektor-sektor tersebut bisa saja menjadi modal politik bagi partai tersebut.</p>
<p>Mengacu pada <a href="https://about.illinoisstate.edu/critique/Documents/Spring%202008/Casey.pdf"><strong>tulisan</strong></a> milik Kimberly L. Casey dari University of Missouri, St. Louis, yang berjudul <em>Defining Political Capital</em>, modal politik dapat didefinisikan sebagai kombinasi atas berbagai macam modal untuk tujuan dan tindakan politik.</p>
<p>Modal politik dalam tulisan tersebut dipahami layaknya modal yang digunakan dalam melakukan bisnis dan aktivitas ekonomi. Dalam menghasilkan modal politik, diperlukan juga upaya produksi yang mana dapat dipahami sebagai upaya suatu aktor politik untuk mengumpulkan sumber-sumber politik.</p>
<p>Upaya produksi ini turut terjadi dalam berbagai tingkatan pasar politik. Dalam tulisannya, Casey memberikan empat pasar politik di mana pertukaran di antara modal-modal ini terjadi, yaitu Pemilu, pembuatan kebijakan, institusi, dan opini publik.</p>
<p>Layaknya berinvestasi dengan modal ekonomi, para politisi juga menginvestasikan modal dan sumber politiknya guna mendapatkan keuntungan politik. Bisa jadi, dengan modal politik yang dimilikinya dalam pasar opini publik – biasanya dilihat berdasarkan perolehan suara – yang cukup besar, Gerindra ingin mengumpulkan modal lainnya, yaitu modal yang diperoleh dari pembuatan kebijakan dan institusi.</p>
<p>Dari sinilah Gerindra mungkin melihat posisi-posisi strategis di sektor pangan dan energi dapat menghasilkan modal yang penting baginya dalam menyongsong 2024.</p>
<hr /><p><em>Modal politik merupakan kombinasi atas berbagai macam modal untuk tujuan dan tindakan politik</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fsektor-pangan-energi-taktik-gerindra%2F&#038;text=Modal%20politik%20merupakan%20kombinasi%20atas%20berbagai%20macam%20modal%20untuk%20tujuan%20dan%20tindakan%20politik&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Casey menjelaskan bahwa untuk berkompetisi memperebutkan modal dan sumber politik yang ada dalam tingkatan pasar Pemilu, politisi perlu juga terlibat di dua pasar lainnya, yaitu pembuatan kebijakan dan institusional. Kebijakan yang diberlakukan oleh politisi biasanya akan bermanfaat karena dapat dijadikan basis bagi masyarakat dalam memilih dalam Pemilu.</p>
<p>Pengajuan konsep ala Gerindra ini bisa jadi upaya partai tersebut untuk memperbaiki kebijakan tersebut sehingga dapat memperoleh modal politik untuk menyongsong Pemilu 2024. Jika kita tilik kembali, Prabowo dan Gerindra memang kerap <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181205180758-32-351421/prabowo-kembali-kritik-kebijakan-impor-pemerintah-jokowi/" rel="nofollow"><strong>mengkritisi</strong></a> pemerintahan Jokowi dalam bidang <a href="https://tirto.id/tak-ada-yang-baru-dari-janji-swasembada-pangan-energi-ala-prabowo-c9oW/" rel="nofollow"><strong>pangan dan energi</strong></a>.</p>
<p>Namun, seperti yang dibilang oleh Casey dalam tulisannya, sumber modal politik bisa bervariasi, termasuk sumber ekonomi. Sumber-sumber ekonomi dapat dikonversi menjadi modal politik, seperti dengan cara apropriasi (<em>appropriation</em>) oleh pemegang jabatan.</p>
<p>Mungkin, di sektor ini pula apropriasi semacam ini dapat berlangsung. Sektor energi misalnya, banyak melibatkan konsesi dan kerja sama investasi yang dilakukan di bidang pertambangan mineral yang dikenal banyak <a href="https://katadata.co.id/berita/2019/07/09/kementerian-esdm-buka-lelang-tambang-nikel-blok-suasua-kepada-swasta/" rel="nofollow"><strong>melibatkan</strong></a> banyak industri besar.</p>
<p>Bisa jadi, dengan adanya penguasaan sektor-sektor tersebut, pertukaran modal politik di bidang tersebut lebih banyak terjadi di kubunya sehingga politisi-politisi lain, termasuk parpol pendukung Jokowi, tidak memiliki akses yang luas terhadap sumber-sumber politik tersebut.</p>
<h4><strong>Pihak Asing?</strong></h4>
<p>Selain untuk mengakumulasikan modal politik, keinginan Gerindra untuk menguasai dua sektor tersebut bisa juga berkaitan dengan penguasaan pihak-pihak asing. Pasalnya, sektor pangan dan energi sering kali bersentuhan dengan kepentingan-kepentingan perusahaan asing.</p>
<p>Dalam pusaran kekuatan ekonomi dunia oleh negara-negara berdasarkan teori sistem dunia (<em>world-system</em>) milik Immanuel Wallerstein, Indonesia merupakan negara <a href="https://www.jstor.org/stable/656810"><strong>semi-pinggiran</strong></a> (<em>semi-periphery</em>). Tentu, sebagai negara semi-pinggiran, Indonesia turut menjadi tempat bagi penguasaan sumber-sumber daya alam oleh kelompok negara-negara inti (<em>core</em>).</p>
<p>Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila struktur sosial dan politik Indonesia sering kali bersinggungan dengan kepentingan-kepentingan ekonomi pihak asing, terutama dari negara-negara yang lebih <em>core</em> dibandingkan Indonesia.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B0NuK2RJxFS/" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B0NuK2RJxFS/" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B0NuK2RJxFS/" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Gerindra ajukan proposal posisi pemerintahan di sektor pangan dan energi Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #gerindra #proposal #energi #pangan #infografis #infografik #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-07-22T09:42:18+00:00">Jul 22, 2019 at 2:42am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Akibatnya, posisi-posisi di pemerintahan yang berkaitan dengan sumber daya alam, seperti sektor pangan dan energi, turut menjadi wadah bagi kepentingan asing. Dalam hal ini, keinginan Prabowo dan Gerindra untuk menduduki sektor-sektor tersebut dapat menjadi penentu bagi kepentingan asing tersebut.</p>
<p>Sektor pangan misalnya, menjadi esensial karena perannya dalam pemenuhan kebutuhan primer manusia. Tiongkok misalnya, menghadapi permintaan makanan yang <a href="https://chinapower.csis.org/china-food-security/" rel="nofollow"><strong>semakin tinggi</strong></a> seiring bertumbuhnya ekonomi negara tersebut – berujung pada peningkatan investasi agrikultur dan <a href="https://www.seafoodsource.com/features/china-wants-to-invest-in-tropical-aquaculture-overseas/" rel="nofollow"><strong>perikanan</strong></a> di negara-negara lain seperti Indonesia.</p>
<p>Bila kita telisik kembali, beberapa perusahaan Tiongkok memang tengah memiliki investasi di bidang agrikultur di Indonesia, terutama industri kelapa sawit.</p>
<p>Salah satu perusahaan tersebut adalah <a href="https://www.ers.usda.gov/webdocs/publications/88572/eib-192.pdf?v=43213"><strong>Tianjin Julong Group</strong></a> yang mengelola dua kebun sawit dan dua fasilitas pemroses sawit total seluas 24.000 hektar di Kalimantan – hendak meluaskan kebunnya hingga 500.000 hektar. Selain Julong, terdapat juga ZTE yang mengelola 30.000 hektar kebun sawit di Kalimantan.</p>
<p>Selain sektor pangan, beberapa kepentingan asing juga bersentuhan dengan sektor energi. <a href="https://www.reuters.com/article/us-indonesia-inpex-c/indonesia-inpex-agree-on-masela-gas-block-framework-idUSKCN1SX0XP/" rel="nofollow"><strong>Blok Masela</strong></a> misalnya, merupakan proyek pengembangan hulu minyak dan gas (migas) yang berhasil disepakati oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dengan beberapa perusahaan asing, yaitu Inpex Corporation dari Jepang dan Royal Dutch Shell dari Belanda-Inggris.</p>
<p>Selain Blok Masela, pemerintah Indonesia juga ditengarai memiliki megaproyek pengembangan laut Indonesian Deepwater Development (IDD) yang bernilai sekitar Rp 70 triliun dengan perusahaan raksasa migas asal Amerika Serikat, yaitu <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20190722141605-4-86636/nego-alot-chevron-bakal-lepas-proyek-laut-dalam-ri-rp-70-t/" rel="nofollow"><strong>Chevron</strong></a>. Jonan pun sempat mengunjungi AS guna membahas proyek tersebut beberapa bulan lalu.</p>
<p>Meskipun begitu, entah apa intensi dari Prabowo dan Gerindra terkait kepentingan-kepentingan asing tersebut. Boleh jadi, Gerindra menginginkan dukungan politik dari negara-negara tersebut guna menyongsong Pemilu 2024. Seperti yang dijelaskan oleh Arye Hillman dan Heinrich Ursprung dalam <a href="https://www.jstor.org/stable/1811171"><strong>tulisan</strong></a> mereka, kepentingan perusahaan-perusahaan asing turut memengaruhi dinamika dukungan dalam politik domestik.</p>
<p>Pada intinya, jatah jabatan di sektor energi dan pangan dalam kabinet Jokowi 2.0. bisa jadi berujung pada akumulasi modal-modal politik guna memperoleh keuntungan politik bagi Gerindra di masa mendatang. Mungkin, lirik <em>rapper</em> Drake bisa menggambarkan hal tersebut. Dengan modal yang cukup, dinamika persaingan (<em>game</em>) politik yang ada pun bisa saja dapat berubah. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="xfH0qGvNUE0"><iframe title="Menguak Garis Keturunan Prabowo Subianto" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xfH0qGvNUE0?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p><a href="https://pinterpolitik.com//panduan-tulisan"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-60765" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/Jokowi_Prabowo_Jilid2_4-1-1024x741.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Great Depression: Bahan Politik Oposisi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/great-depresion-bahan-politik-oposisi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A34]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2018 12:16:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[defisit neraca perdagangan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Manuver Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dagang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=32743</guid>

					<description><![CDATA[Ketidakpastian ekonomi tentu akan memicu instabilitas politik, peluang oposisi untuk mengkritik pemerintah pun makin komplet. PinterPolitik.com [dropcap]P[/dropcap]residen Jokowi tampaknya perlu dalih yang rasional untuk meyakinkan publik bahwa performa ekonomi sedang berjalan baik meski terdapat ketidakpastian akibat gejolak ekonomi global, terutama terkait trade-war yang berlangsung antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Pasalnya, sejauh ini, belum terlihat strategi kebijakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Ketidakpastian ekonomi tentu akan memicu instabilitas politik, peluang oposisi untuk mengkritik pemerintah pun makin komplet. </strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #ccdb00">PinterPolitik.com</span></strong></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]residen Jokowi tampaknya perlu dalih yang rasional untuk meyakinkan publik bahwa performa ekonomi sedang berjalan baik meski terdapat ketidakpastian akibat gejolak ekonomi global, terutama terkait <em>trade-war </em>yang berlangsung antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).</p>
<p>Pasalnya, sejauh ini, belum terlihat strategi kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi perang dagang tersebut. Padahal, di sisi lain, produk-produk Tiongkok mulai membanjiri pasar Indonesia.</p>
<p>Strategi kebijakan yang dimaksud adalah: bagaimana pemerintah melindungi pebisnis lokal dari serangan masif produk Tiongkok akibat perang dagang yang berlangsung?</p>
<p>Terus terang saja, hal ini tergolong dilematis. Apalagi jika melihat total nilai investasi Tiongkok sebesar 800 juta dolar AS untuk pengerjaan 501 unit proyek di Indonesia sejak 2014. Hal tersebut dapat mengindikasikan Indonesia tak dapat berbuat lebih terhadap penetrasi produk Tiongkok.</p>
<p>Tentu, Jokowi tak mungkin membatalkan program-program infrastruktur saat ini. Mengingat pembangunan infrastruktur adalah ambisi ekonomi Jokowi sekaligus merupakan kredibilitasnya politiknya. Tapi, konsekuensinya adalah kondisi ekonomi tetap berada dalam ketidakpastian (<em>uncertainty</em>).</p>
<p>Padahal, hubungan Indonesia-Tiongkok selama ini mengalami defisit, terutama untuk beberapa produk impor seperti bahan kimia organik, besi dan baja, plastik, pupuk, kendaraan dan bahan kimia anorganik. Ekonomi memang tidak stabil, tapi di sisi lain pemerintah juga tak bisa membendung ekspansi Tiongkok. Idealnya, pemerintah harus menahan program-program ambisiusnya untuk mengembalikan stabilitas ekonomi.</p>
<p>Hal itu misalnya, dikemukakan oleh Faisal Basri, bahwa untuk menjaga stabilitas ekonomi saat ini pemerintah harus mengurung niatnya untuk melakukan pembangunan infrastruktur. Pasalnya, kenaikan dolar telah membuat pengeluaran impor bahan baku dan pembayaran tenaga kerja makin besar. Terutama, untuk proyek pembangunan jalur bawah tanah MRT.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-32747" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/2018-07-12-INFOGRAFIS-Indonesia-di-Ambang-Great-Depression-A34-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Hal senada juga diungkapkan oleh Rizal Ramli bahwa pemerintah selalu mengatakan kondisi ekonomi sedang dalam keadaan baik, faktanya <em>trade balance</em> atau neraca perdagangan pada per Januari-Mei 2018 mengalami defisit 2,83 miliar dolar. Ini berarti, nilai impor membludak daripada nilai ekspor.</p>
<p>Pengamat ekonomi dari INDEF, Enny Sri Hartati, juga mengungkapkan keresahan serupa dalam tulisan <strong>“Di Balik Perang Dagang” </strong>seperti diberitakan Kompas (10/7) kemarin.</p>
<p>Menurut Enny, impor bahan baku dan modal memang meningkat, tapi di saat yang sama justu terjadi deindustrialisasi. Peningkatan impor barang modal yang masif tidak terserap di sektor industri, tetapi justru untuk memenuhi percepatan infrastruktur. Padahal, jika proyek infrastruktur disiapkan dengan perencanaan dan peta jalan yang matang, tentu akan memacu industrialisasi, sayangnya hal demikian tidak terjadi.</p>
<p>Anehnya, meski terjadi impor modal yang begitu masif, namun penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi sangat minim. Tercatat, serapan tenaga kerja pada tahun 2015 sebesar 7,72 juta jiwa atau sekitar 6,39 persen. Tahun 2016 sebesar 7,71 persen atau turun 0,01 jiwa, sementara pada 2017 sektor ini hanya menyerap 7,16 juta jiwa. Artinya dalam periode 2015-2017 tenaga kerja di sektor konstruksi menyusut 0,56 juta orang.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Mana janji ekonomi meroket P <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> ? <a href="https://t.co/mwEMlwRJ4C">https://t.co/mwEMlwRJ4C</a></p>
<p>&mdash; Fadli Zon (@fadlizon) <a href="https://twitter.com/fadlizon/status/1015804447551729664?ref_src=twsrc%5Etfw">July 8, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Problem di atas belum ditambah dengan penguasan investasi modal Tiongkok di sektor <em>e-commerce</em> yang sudah sejak lama menjadi perbincangan. Data Google dan AT Kearney, misalnya, mengatakan selama periode tahun 2012 hingga Agustus 2017 menyebutkan nilai investasi Tiongkok kepada perusahaan <em>start-up</em> terus meningkat signifikan, yakni dari senilai US$ 44 juta menjadi US$ 3 miliar.</p>
<p>Beberapa perusahaan Tiongkok yang memberikan modal kepada perusahaan <em>start up</em> Indonesia adalah Alibaba Group, yang berinvestasi sebesar US$ 1,1 miliar kepada Tokopedia, Tencent yang menanamkan investasi ke Gojek senilai US$ 1,2 miliar, sementara, JD.com juga menyuntikan investasi sebesar US$ 500 juta kepada Traveloka, Expedia, East Venture, Hillhouse Capital Group dan Sequouia Capital.</p>
<h4><strong>Bahan Bakar Politik</strong></h4>
<p>Melihat problem di atas, terdapat kemungkinan bahwa kondisi ekonomi seperti ini dapat menjadi semacam pengajuan “mosi tidak percaya” oposisi terhadap pemerintah. Tentu, hal tersebut dapat terjadi bilamana isu-isu lain misalnya, politik identitas tidak lagi mendapatkan ruang dalam konstelasi politik 2019.</p>
<p>Dan, tampaknya demikian, apalagi jika benar pasangan Jokowi untuk Pilpres 2019 adalah Mahfud MD. Tentu, ruang politik identitas akan tertutup, mengingat koalisi yang terbentuk adalah mereka yang berasal dari spektrum politik nasionalis-religius.</p>
<p>Faktanya, kritikan berbau ekonomi tersebut telah dilakukan oleh Prabowo dengan mengkritik persoalan ekonomi di era pemerintahan Jokowi, salah satunya adalah utang negara yang mencapai Rp 9 triliun.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Mungkin Memang agenda rezim ini bikin Indonesia hancur disaat transisi dunia pak&#8230; kl liat Malaysia, kita cuma bisa ngiri&#8230; ????</p>
<p>Masa menteri ekonomi terbaik dunia, ekonomi Indonesia bisa sekarat dan balik utang keIMF??? ??? <a href="https://t.co/zHZYpTFj2k">https://t.co/zHZYpTFj2k</a></p>
<p>&mdash; TempoyakBusuk (@jasbird1) <a href="https://twitter.com/jasbird1/status/1010397574254096384?ref_src=twsrc%5Etfw">June 23, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Dalam konteks lain, Prabowo juga mengkritik sistem ekonomi noeliberal dengan merujuk pada pemerintahan Jokowi-JK. Menurut Prabowo sistem neoliberal telah gagal mensejahterakan rakyat. Bahkan dia menilai <em>Trickle Down Efect</em> (efek menetes ke bawah) adalah konsep ekonomi yang salah kaprah karena menjadikan si kaya menjadi kaya. Tentu, ini adalah manuver-manuver politik ekonomi Prabowo untuk melibas habis kinerja pemerintahan Jokowi.</p>
<p>Memang, ini bukan kali pertama Prabowo mengkritik masalah ekonomi. Sejak Pilpres 2014 Prabowo telah melakukan hal serupa. Marcus Mietzner dalam <strong>“Reinventing Asian Populism: Jokowi’s Rise, Democracy and Political Contestation in Indonesia” </strong>pernah bilang apa yang dilakukan Prabowo Subiato adalah mengikuti jejak populisme klasik, misalnya dengan menyerang perusahaan-perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia serta menggambarkan elit politik sebagai kroni dari parasit asing. Hal tersebut, dilakukan Prabowo untuk memposisikan diri depan publik sebagai tokoh anti–asing.</p>
<p>Hal tersebut jelas berbeda dengan citra Jokowi sebagaimana dijelaskan Lucky Djani dan Olle Tornquist dalam buku “<strong>Dilemmas of Populist Transaction: What are the prospects now for popular politics in Indonesia” </strong>bahwa praktik praktik populisme Jokowi lebih pada bagaimana memproyeksikan diri sebagai kalangan non-elit seperti praktik <em>blusukan.  </em></p>
<p>Tapi, hal mencengangkan jelang Pilpres 2019 adalah Prabowo semakin mendapatkan <em>spare parts </em>baru untuk dijadikan sebagai serangan-serangan politik. Hal tersebut didukung oleh nilai rupiah yang melorot, kenaikan harga minyak dunia dan perang dagang yang berimbas pada ekspansi produk-produk Tiongkok ke Indonesia.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Prabowo: Negara Kita Hidupnya dari Utang, Kalau Nggak Utang Nggak Gajian <a href="https://t.co/0n0FRCJqQm">https://t.co/0n0FRCJqQm</a></p>
<p>&mdash; Citra (@CitraShanie) <a href="https://twitter.com/CitraShanie/status/979691805909303297?ref_src=twsrc%5Etfw">March 30, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Tentu, jika pemerintah tidak cepat melakukan antisipasi terhadap perang dagang, dampaknya adalah publik akan semakin percaya jika Tiongkok memang memiliki kendali atas pemerintahan saat ini. Mengingat defisit perdagangan antara Tiongkok-Indonesia tak mampu diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi. Hal tersebut juga dibuktikan dengan pemberitaan media massa soal isu komunisme yang melekat pada Jokowi sejak 2017.</p>
<p>Survei Lembaga Monitor Indonesia, misalnya menempatkan Presiden Jokowi sebagai tokoh yang paling banyak diberitakan terkait calon presiden 2019, tapi sekaligus menjadi tokoh yang paling dekat dengan pemberitaan negatif, terutama terkait komunisme.</p>
<p>Hal di atas, tentu mengkonfirmasi jika peluang Prabowo untuk merebut hati rakyat semakin terbuka lebar. Bukan melalui isu-isu politik identitas,  melainkan isu ekonomi, mengingat sejauh ini pemerintah belum mengeluarkan sebuah kebijakan populis untuk mengatasi dampak dari gejolak ekonomi global.</p>
<p>Secara politik, situasi saat ini telah merugikan Jokowi, terutama akibat gejolak ekonomi global. Tapi, hal terpenting adalah bagaimana sang Presiden mampu membalikan fakta bahwa kondisi ekonomi saat ini berada dalam kondisi baik. Dengan begitu, ia bisa mempersiapkan perisai dari hujaman kritik dari oposisi seperti Prabowo. (A34)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Jokowi-di-ambang-krisis.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Manuver Gerindra di Pansus Angket KPK</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/manuver-gerindra-di-pansus-angket-kpk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K32]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jul 2017 08:17:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Manuver Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[PAN]]></category>
		<category><![CDATA[Pansus Angket KPK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=12478</guid>

					<description><![CDATA[Aksi Gerindra dalam Pansus Angket KPK sungguh menarik. Awalnya sempat bergabung, kini malah memilih mundur. Ada apa gerangan? PinterPolitik.com [dropcap size=big]W[/dropcap]akil Ketua Umum Partai Gerindra Bidang Politik Dalam Negeri, Hubungan Antar Partai dan Pemerintah, Fadli Zon berpendapat bahwa kinerja Pansus Angket KPK tidak efektif karena sejauh ini belum menemukan bukti yang signifikan setelah melakukan kunjungan ke [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Aksi Gerindra dalam Pansus Angket KPK sungguh menarik. Awalnya sempat bergabung, kini malah memilih mundur. Ada apa gerangan?</h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></strong></p>
<p>[dropcap size=big]W[/dropcap]akil Ketua Umum Partai Gerindra Bidang Politik Dalam Negeri, Hubungan Antar Partai dan Pemerintah, Fadli Zon berpendapat bahwa kinerja Pansus Angket KPK tidak efektif karena sejauh ini belum menemukan bukti yang signifikan setelah melakukan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin dan melakukan pemanggilan terhadap beberapa pihak. Hal ini menjadi salah satu alasan Gerindra keluar dari Pansus Hak Angket KPK. Selain itu, kehadiran Pansus Angket KPK yang diisi oleh partai-partai pro-pemerintah dinilai justru memiliki kesan melemahkan kinerja KPK.</p>
<p>Hal itu juga disampaikan Wakil Ketua Fraksi Gerindra, Desmond Junaidi Mahesa pada Senin (24/7/2017). &#8220;Betul itu. Alasan pertama untuk membentuk pansus itu kan ada syarat. Bicara pembentukannya Ketua Pansus sekarang enggak memenuhi syarat yang sesuai dengan Tatib (tata tertib) DPR dan Undang-undang MD3,&#8221; ujar Desmond. Selain itu, kata Desmond, pembentukan Pansus juga bermasalah karena tidak diikuti oleh semua fraksi. Fraksi Demokrat, PKB, dan PKS hingga saat ini tak kunjung mengirim perwakilan ke Pansus Angket KPK.</p>
<p>&#8220;Nah, kedua rapat-rapatnya juga seolah dadakan. Seperti ke Sukamiskin. Saya bilang tak setuju tapi mereka tetap berangkat. Saya bilang kalau mereka berangkat, Gerindra akan keluar. Nah, inilah yang membuat kami tidak bisa,&#8221; lanjut Desmond. Ia menambahkan, kunjungan Pansus ke Sukamiskin juga menunjukan itikad buruk terhadap KPK. Dengan meminta keterangan kepada koruptor, menurut dia, merupakan sebuah sinyalemen melemahkan KPK. Padahal, tujuan awal pembentukan Pansus justru untuk memperkuat KPK.</p>
<figure id="attachment_12481" aria-describedby="caption-attachment-12481" style="width: 696px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class=" td-modal-image wp-image-12481 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-1024x576.jpg" alt="Manuver Gerindra di Pansus Angket KPK" width="696" height="392" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-1024x576.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-300x169.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-768x432.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-696x392.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-1068x601.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa-747x420.jpg 747w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/Desmond-Junaidi-Mahesa.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px" /><figcaption id="caption-attachment-12481" class="wp-caption-text">Desmond Junaidi Mahesa (Foto: BreakingNews.co.id)</figcaption></figure>
<p>Melihat sepak terjang Gerindra, apakah ada indikasi keluarnya Gerindra dari Pansus KPK adalah untuk menggoyang pemerintahan Jokowi atau sekedar manuver untuk mengamankan posisi partai?</p>
<h4><strong>Pansus Hak Angket: “Balas Dendam” DPR Atas KPK?</strong></h4>
<p>Pembentukkan Pansus Hak Angket KPK menuai kritik di mata publik. Pansus yang semula dibentuk untuk menyelidiki transparansi maupun kinerja KPK dinilai akhir-akhir ini telah melenceng dari relnya. Oleh sebab itu, harus diadakan peninjauan ulang terhadap latar belakang maupun tujuannya. Perlu juga ada sosialisasi yang jelas kepada masyarakat terkait maksud dan tujuan Pansus untuk menghindari salah persepsi.</p>
<p>Akan tetapi, banyak kasus korupsi yang terjadi belakangan ini, ikut menyeret anggota dewan ke dalamnya. Ditambah lagi munculnya kasus mega korupsi KTP elektronik yang juga menyeret sejumlah nama anggota DPR membuat citra DPR semakin buruk di hadapan publik. Maka, tindakan DPR membentuk Pansus Angket KPK dinilai kurang tepat karena secara tak langsung memperlemah KPK dan juga semakin memperkuat stigma negatif masyarakat terhadap DPR.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-12482 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-1024x400.png" alt="" width="1024" height="400" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-1024x400.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-300x117.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-768x300.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-696x272.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-1068x417.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-1075x420.png 1075w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-02-1920x750.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Sejauh ini masyarakat menganggap bahwa pembentukan Pansus Hak angket KPK semata-mata sebagai ajang &#8216;balas dendam&#8217; DPR kepada KPK. Ketidakjelasan kiblat maupun tujuan dari Pansus Angket ini rupanya dirasakan oleh pihak Gerindra. Hal ini menyebabkan fraksi Gerindra memilih keluar dari Pansus Angket karena menilai kinerja Pansus tidak efektif. Agenda pertemuan dengan para koruptor dinilai hanya untuk mencari-cari kesalahan KPK. Selain itu, pihak Gerindra juga menilai bahwa kehadiran Pansus Angket malah melemahkan posisi KPK untuk menangani kasus-kasus korupsi yang masih dan sedang terjadi.</p>
<p>Sikap Gerindra yang memilih keluar dari pansus dinilai tepat dan mendapat apresiasi dari banyak pihak. Aksi ini semakin menunjukan bahwa arah kepentingan pansus adalah melemahkan KPK dan sekaligus menghambat proses penanganan kasus KTP elektronik di KPK. Hal ini menjadi jelas bahwa kepentingan politik pansus adalah membela kawan-kawan DPR yang terlibat dalam KTP elektronik dan hal tersebut tidak menguntungkan bagi Gerindra untuk saat ini.</p>
<p>Selain berindikasi untuk memasung eksistensi KPK, manuver Gerindra juga patut dicurigai sebagai potensi untuk menekan posisi maupun elektabilitas pemerintahan Jokowi. Hal ini bukan tanpa alasan sebab Pansus Angket KPK setelah kepergian Gerindra hanya menyisahkan enam fraksi – Golkar, PDIP, PPP, Hanura, Nasdem dan PAN &#8211; yang merupakan partai-partai koalisi Jokowi. PAN juga kemungkinan akan mengikuti jejak Gerindra. Hal ini pada satu sisi, semakin memperburuk citra pemerintah Jokowi karena terkesan tidak mengambil langkah yang pasti dalam menghadapi kasus-kasus korupsi yang melibatkan anggota dewan dari fraksi-fraksi partai yang mendukungnya. Pada saat yang sama hal ini justru menjadi senjata bagi Gerindra untuk menekan dan mengkritik pemerintahan Jokowi.</p>
<p>Selain itu, pertemuan kubu Gerindra dan Demokrat yang diagendakan terjadi hari ini (27 Juli 2017) akan memberikan tekanan bagi Jokowi menuju Pilpres 2019. Apabila koalisi berhasil disepakati, maka Jokowi akan mendapatkan lawan yang sepadan. Hasil pertemuan hari ini akan menentukan peta politik menjelang Pilpres 2019 nanti.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-12483 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-911x1024.png" alt="" width="911" height="1024" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-911x1024.png 911w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-267x300.png 267w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-768x863.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-696x782.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-1068x1200.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-374x420.png 374w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/banyak-pejabat-ditangjkap-KPK-01-1920x2157.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 911px) 100vw, 911px" /></p>
<h4><strong>Apa yang Perlu Dilakukan Jokowi?</strong></h4>
<p>Keluarnya Gerindra dari keanggotaan Pansus Angket memiliki dua tendensi, yakni yang pertama semakin memperkuat argumen bahwa Pansus Angket KPK itu tidak mendapatkan dukungan mayoritas dan yang kedua, menempatkan Jokowi pada posisi dilematis. Jokowi seolah-olah tidak berdaya menahan keinginan partai-partai koalisinya melalui hak angket KPK.</p>
<p>Ini adalah posisi yang serba sulit bagi Jokowi. Misinya untuk memberantas korupsi dihambat oleh kepentingan partai-partai koalisinya. Pembentukan Pansus Angket KPK yang semula bertujuan untuk menyelidiki kinerja KPK ternyata tak berjalan semestinya. Justru seiring berjalannya waktu, kehadiran Pansus Angket KPK malah menyandera posisi KPK dan membuat presiden layaknya ‘singa tanpa taring’. Rupanya kubu Gerindra menyadari hal tersebut sehingga memilih untuk menarik diri dari Pansus Angket KPK. Namun, di balik semua itu hal ini dapat dilihat sebagai salah satu strategi politik yang dimainkan Gerindra untuk menggoyang pemerintahan saat ini.</p>
<figure id="attachment_12484" aria-describedby="caption-attachment-12484" style="width: 1024px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12484 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-1024x682.jpg" alt="" width="1024" height="682" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-1024x682.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-300x200.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-768x512.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-696x464.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-1068x712.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi-630x420.jpg 630w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/KPK-ketemu-jokowi.jpg 1325w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-12484" class="wp-caption-text">Presiden Jokowi dan tim KPK (Foto: kriminalitas.com)</figcaption></figure>
<p>Mundurnya Gerindra dari Pansus Angket KPK secara tak langsung berdampak pada posisi Jokowi. Posisi Jokowi menjadi semakin dilematis. Upayanya mendukung pemberantasan korupsi yang digalakan KPK berbenturan dengan kehadiran Pansus Angket yang mewakili kepentingan politis partai koalisinya. Jokowi sulit untuk menentukan pilihan.</p>
<p>Berdasarkan prinsip <em>trias politica </em>yang diadopsi Indonesia, Jokowi sebagai Presiden tak bisa melangkahi wewenang DPR selaku lembaga legislatif untuk membubarkan Pansus Angket. Maka, langkah yang mungkin bagi Jokowi adalah mengajukan usulan pembubaran Pansus Angket KPK melalui partai koalisinya. Namun, ini adalah misi yang mustahil karena fraksi-fraksi yang tergabung dalam Pansus Angket tersebut terlibat dalam kasus korupsi KTP elektronik.</p>
<p>Patut juga diwaspadai bahwa ada kemungkinan Gerindra memanfaatkan polemik antara Pansus Angket dan KPK untuk melemahkan elektabilitas Jokowi di Pilpres 2019 nanti. Bisa saja ketakberpihakan PAN maupun Gerindra dalam Pansus Angket menjadi bukti bagi publik untuk melihat bahwa sebenarnya pemerintahlah yang melemahkan posisi KPK. Selain itu, bila Gerindra dan Demokrat sepakat untuk berkoalisi, maka Pilpres 2019 akan berjalan alot dan Jokowi mendapat lawan yang sepadan. Mengenai isu perombakan kabinet yang kembali mencuat bisa saja berdampak pada posisi Gerindra. Selain itu, berhembus kabar Gerindra mengincar jabatan dalam kabinet yang akan dirombak Jokowi. Selanjutnya, kita tunggu saja, kira-kira apa yang akan dilakukan Jokowi? <strong>(dari berbagai sumber/ K-32)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/07/antarafoto-menolak-hak-angket-terhadap-kpk-030517-yud-1-1-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
