<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Mafia Berkeley &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mafia-berkeley/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Jun 2022 07:03:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Mafia Berkeley &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Misteri Mafia Berkeley</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinpol-tv/misteri-mafia-berkeley/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z70]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2022 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fact Check]]></category>
		<category><![CDATA[PinPol TV]]></category>
		<category><![CDATA[asian crisis 1997 explained]]></category>
		<category><![CDATA[berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[economy]]></category>
		<category><![CDATA[krisis moneter 1998 indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mafia Berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[mafia berkeley orde baru]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Politik]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah politik indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Sumitro Djojohadikusumo]]></category>
		<category><![CDATA[university of california]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=111076</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Misteri Mafia Berkeley" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/f6IQYKWNkpI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption>Berakhirnya keterpurukan ekonomi di era Soekarno, juga menjadi awal kekuasaan militeristik Orde Baru di bawah Soeharto. Indonesia kemudian beranjak ke sebuah era baru. Soeharto mengambil alih kekuasaan dan mencari-cari jalan untuk menemukan resep ekonomi yang cocok bagi Indonesia. <br><br>Indonesia akhirnya bergerak menuju sebuah model ekonomi yang sangat dipengaruhi pemikiran kapitalisme Barat. Namun, arah pergerakan ekonomi itu tidak terjadi dengan sendirinya. Disebutkan bahwa ada sekelompok ekonom yang memainkan peranan besar dalam menentukan kebijakan ekonomi negara saat itu. Mereka menggariskan arah pembangunan yang pada akhirnya justru dicap membuat Indonesia menjadi boneka Amerika Serikat. Kelompok inilah yang di kemudian hari dikenal sebagai para Mafia Berkeley, nama yang merujuk dari almamater sekolah para tokoh-tokohnya, University of California, alias UC Berkeley. Siapa saja para tokoh ekonom tersebut dan benarkah kiprah mereka merugikan Indonesia?</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/maxresdefault-3-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Stafsus Milenial: Kerja Senyap Bank Dunia?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/stafsus-milenial-kerja-senyap-bank-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2020 11:30:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Mafia Berkeley]]></category>
		<category><![CDATA[Neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[staf khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Staf Khusus Milenial]]></category>
		<category><![CDATA[Staf Khusus Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Stafsus]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=77357</guid>

					<description><![CDATA[Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tampak menjadi inklusif dengan memasukkan suara-suara kelompok muda sebagai staf khusus (stafsus) kepresidenan. Meski begitu, dimensi politik luar negeri bisa saja turut mendasari pelibatan para stafsus milenial yang kini menjadi sorotan di tengah pandemi virus Corona (Covid-19). Apakah ini hasil kerja senyap Bank Dunia? PinterPolitik.com “School is the tool to brainwash [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tampak menjadi inklusif dengan memasukkan suara-suara kelompok muda sebagai staf khusus (stafsus) kepresidenan. Meski begitu, dimensi politik luar negeri bisa saja turut mendasari pelibatan para stafsus milenial yang kini menjadi sorotan di tengah pandemi virus Corona (Covid-19). Apakah ini hasil kerja senyap Bank Dunia?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“School is the tool to brainwash the youth” – Jaden Smith, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">D</span>i dunia yang semakin memiliki teknologi yang canggih, sedikit aneh apabila suara kelompok muda tidak turut dilibatkan. Bagaimana tidak? Pada abad ke-21 ini, para penggerak teknologi disebut-sebut mulai diisi oleh mereka-mereka yang masih tergolong muda.</p>
<p>Tentunya, semua orang pasti ingat bahwa perusahaan-perusahaan internet yang kini telah menjadi raksasa mulanya hanya dimulai oleh segelintir anak muda yang pandai dalam teknologi. Teknologi internet ini pun bertemu dengan celah sosial dan ekonomi di masyarakat yang pada akhirnya memunculkan apa yang orang sebut sebagai disrupsi (<em>disruption</em>).</p>
<p>Facebook misalnya, dimulai oleh Mark Zuckeberg pada tahun 2004 dari kamar asramanya di Harvard University, Amerika Serikat (AS). Kini, Facebook adalah salah satu perusahaan internet raksasa yang memiliki banyak bentuk <em>platform </em>dan miliaran pengguna aktif.</p>
<p>Semakin ke sini, disrupsi perusahaan-perusahan teknologi seperti Facebook dan Google semakin terasa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Bagaimana tidak? Perkembangan digital ternyata tidak hanya terjadi secara pesat dalam dimensi media sosial, melainkan juga pada sektor barang dan jasa – dengan kemunculan Amazon, Walmart, dan Uber.</p>
<p>Tentunya, siapa yang tidak terpana dengan simplifikasi yang dibuat oleh aplikasi dan layanan daring seperti ini. Akibatnya, disrupsi ini juga terjadi di Indonesia dengan kemunculan aplikasi-aplikasi daring, seperti Gojek, Ruangguru, Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Knp program kaum muda banyak ttg entrepreneurship? Knp startup &amp; founder/CEOnya dielu-elukan? Jurnal thn 2008 ini masih relevan. Ada upaya pengkondisian neoliberal <a href="https://twitter.com/WorldBank?ref_src=twsrc%5Etfw">@WorldBank</a> (dan IGO lain) thdp kaum muda yg individualis, &#39;netral&#39;, memenuhi permintaan pasar &amp; siap kerja. <a href="https://t.co/PKftvEkRsL">pic.twitter.com/PKftvEkRsL</a></p>
<p>&mdash; Margianta S. J. D. (@margianta) <a href="https://twitter.com/margianta/status/1250812073593860096?ref_src=twsrc%5Etfw">April 16, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Bak pahlawan yang mendadak muncul dengan memudahkan kehidupan sebagian besar masyarakat, pemerintah akhirnya ingin melibatkan para pengusaha <em>startup</em> muda tersebut untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Nadiem Makarim – mantan CEO Gojek – misalnya ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan guna membantu pemerintah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi kemunculan ekonomi digital.</p>
<p>Tak hanya Nadiem, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga melibatkan tokoh-tokoh muda lainnya sebagai staf khusus (stafsus) kepresidenan milenial. Beberapa di antara mereka adalah Andi Taufan Garuda Putra (CEO Amartha) dan Adamas Belva Syah Devara (CEO Ruangguru) yang kini menjadi sorotan di tengah pandemi virus Corona (Covid-19).</p>
<p>Meski begitu, keterlibatan para milenial ini di pemerintahan bisa saja tidak hanya disebabkan oleh kesuksesan perusahaan atau <em>startup</em> mereka, melainkan juga karena dinamika politik yang terjadi. Kira-kira, dinamika apa yang terjadi di belakang para stafsus milenial tersebut? Lantas, bagaimana dampaknya terhadap kebijakan pemerintahan Jokowi?</p>
<h4><strong>Kerja Senyap Bank Dunia</strong><strong>?</strong></h4>
<p>Kehadiran kelompok muda dalam pemerintahan ini tak lepas dari pengaruh pemainan politik di panggung internasional. Pasalnya, peran kaum muda yang mulai tumbuh yang didasarkan pada inklusivitas pada abad ke-21 ini disebut-sebut menjadi bagian dari dorongan beberapa aktor internasional.</p>
<p>Dugaan ini didasarkan pada kampanye-kampanye yang dipopulerkan oleh organisasi-organisasi internasional. Salah satunya adalah Bank Dunia.</p>
<p>Mayssoun Sukarieh dari King’s College London dan Stuart Tannock dari University College London dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13676260801946431"><strong>tulisan mereka</strong></a> yang berjudul <em>In the Best Interests of Youth or Neoliberalism? </em>menjelaskan bahwa Bank Dunia berperan untuk mendorong negara-negara melibatkan kelompok muda dalam pengambilan kebijakan melalui laporan-laporannya.</p>
<p>Asumsi yang kebanyakan digunakan oleh Bank Dunia adalah kelompok muda dapat menjadi masa depan dari pembangunan dunia. Dengan populasi yang besar, kepentingan dan aspirasi para pemuda dan pemudi dianggap perlu untuk didengarkan.</p>
<p>Hal ini terlihat dari beberapa prioritas global yang dicanangkan oleh Bank Dunia bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan International Labour Organization (ILO) dalam <em>Youth Employment Network</em> pada tahun 2001. Beberapa di antaranya adalah penciptaan lapangan kerja, kemampuan kerja (<em>employability</em>), kewirausahaan, dan persamaan kesempatan bagi kaum muda.</p>
<p>Tentunya, prioritas-prioritas ini terdengar indah di telinga banyak orang. Apalagi, di tengah perkembangan teknologi internet yang pesat, kelompok muda semakin dianggap menjadi kelompok yang semakin penting dalam pembangunan di banyak negara.</p>
<p>Meski begitu, semua itu terdengar indah hingga – seperti yang dijelaskan oleh Sukarieh dan Tannock – terungkap bahwa telah terjadi “promosi” kelompok muda yang dilakukan oleh Bank Dunia itu sebenarnya bermuatan politis. Pasalnya, terdapat peran kelompok muda yang dianggap ingin dihilangkan, yakni kesadaran politik.</p>
<p><hr /><p><em>Terdapat kerja senyap yang dilakukan Bank Dunia (@WorldBank) guna menjaga keberlanjutan proyek neoliberal.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fstafsus-milenial-kerja-senyap-bank-dunia%2F&#038;text=Terdapat%20kerja%20senyap%20yang%20dilakukan%20Bank%20Dunia%20%28%40WorldBank%29%20guna%20menjaga%20keberlanjutan%20proyek%20neoliberal.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Upaya ini dilakukan karena hendak menjaga keberlanjutan proyek neoliberalisme ala AS. Neoliberalisme sendiri merupakan serangkaian reformasi kebijakan ekonomi yang didasarkan pada pasar bebas dan prinsip <em>laissez-faire</em>.</p>
<p>Namun, model neoliberal yang didorong oleh AS dan lembaga-lembaga internasional – atau dikenal dengan tatanan sistem Bretton-Woods yang terdiri dari International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, dan <em>General Agreement on Tariffs &amp; Trade</em> (GATT) – dianggap mulai menampakkan kegagalannya pada tahun 1990-an. Asumsi ini disertai dengan krisis yang banyak terjadi di Asia.</p>
<p>Selain itu, kegagalan-kegagalan neoliberalisme ini paling terekspos pada mereka yang berasal dari kelompok muda. Hal ini terlihat dari peristiwa <em>Battle in Seattle</em> pada 1999 yang didominasi oleh kelompok muda guna mengekspresikan gerakan anti-globalisasi kepada Konferensi World Trade Organization (WTO).</p>
<p>Mengacu pada penjekasan Sukarieh dan Tannock, bisa jadi, “promosi” ala Bank Dunia semakin berujung pada kooptasi para kelompok muda oleh para pengambil kebijakan agar proyek neoliberal tetap terjaga. Dengan penekanan pada fungsi ekonomi para kelompok muda, kesadaran politik mereka justru menjadi semakin minim pada abad ke-21 – mengubah mereka dari yang sebelumnya sebagai “ancaman” menjadi agen perubahan.</p>
<p>Bila benar begitu, bagaimanakah kira-kira dampaknya di Indonesia? Mungkinkah para stafsus milenial di pemerintahan Jokowi berkaitan dengan upaya penjagaan proyek neoliberal tersebut?</p>
<h4><strong>Mafia Berkeley Baru?</strong></h4>
<p>Kehadiran stafsus milenial di pemerintahan Jokowi bisa saja berhubungan dengan upaya penjagaan neoliberalisme di Indonesia. Pasalnya, para stafsus milenial ini memiliki latar belakang pendidikan tertentu yang bisa jadi membuat mereka memiliki preferensi kebijakan tertentu.</p>
<p>Mengacu pada penjelasan Sukarieh dan Tannock sebelumnya, “promosi” ala Bank Dunia tersebut membuat para pemuda dan pemudi turut menjadi subjek dari neoliberalisme. Kelompok muda akhirnya menjadi pembawa standar baru bagi masyarakat berbasis pasar.</p>
<p>Hal ini terlihat dari bagaimana para kisah-kisah sukses pengusaha muda menjadi standar tinggi yang baru di era kontemporer ini. Pada ujungnya, muda dan mudi yang sukses ini menjadi bagian dari pengambil kebijakan yang baru.</p>
<p>Persoalan lainnya yang muncul adalah kemungkinan bahwa para pemuda dan pemudi ini memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan kepentingan negara lain. Pasalnya, beberapa dari stafsus milenial Jokowi merupakan lulusan-lulusan perguruan tinggi di AS.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B_AHflBHJcg/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_AHflBHJcg/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B_AHflBHJcg/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Setelah muncul surat Stafsus yang menjadi kontroversi, mereka diminta tinggalkan jabatan di perusahaan masing-masing &#8211; #stafsusjokowi #stafsusmilenial #corona #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #tundamudikdulu #dirumahaja #cucitangan #pakaimasker #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-04-15T12:39:33+00:00">Apr 15, 2020 at 5:39am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Pendidikan dan beasiswa yang biasanya diberikan pada pemuda-pemudi ini dalam Hubungan Internasional biasa disebut dengan istilah “diplomasi publik”. Joseph S. Nye dalam <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0002716207311699"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Public Diplomacy and Soft Power</em> menjelaskan bahwa diplomasi publik dapat menghasilkan <em>soft power</em> – kekuatan suatu negara agar membuat negara lain dapat memiliki kemauan yang sama dengan negaranya.</p>
<p>Maka dari itu, para stafsus milenial ini secara tidak langsung dapat mendorong nilai-nilai yang dihasilkan dari <em>soft power</em> ala AS. Preferensi kebijakan neoliberal misalnya dapat menjadi salah satunya.</p>
<p>Hal serupa pernah terjadi pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Kala itu, presiden Indonesia kedua tersebut banyak menempatkan para teknokrat lulusan AS di posisi-posisi penting pemerintahan dalam bidang ekonomi.</p>
<p>Para teknokrat – seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, dan sebagainya – ini disebut sebagai <a href="http://la.utexas.edu/users/hcleaver/357L/357LRansomBerkeleyMafiaTable.pdf"><strong>Mafia Berkeley</strong></a>. Mereka dinilai memiliki preferensi kebijakan yang sering kali sejalan dengan pemikiran dan kepentingan milik AS dan lembaga-lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan IMF.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan para stafsus milenial Presiden Jokowi? Apakah mungkin mereka bertindak layaknya Mafia Berkeley ala Orde Baru?</p>
<p>Mungkin, secara wewenang, para stafsus milenial Jokowi bisa dibilang terpaut jauh dengan Mafia Berkeley yang banyak mengisi posisi-posisi seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Meski begitu, peran para stafsus milenial ini bisa jadi tetap signifikan dengan tugasnya sebagai pemberi masukan kepada presiden.</p>
<p>Namun, adanya dugaan konflik kepentingan yang membatangi Belva dan Andi Taufan justru menjadi pertanyaan akan sejauh mana mereka memiliki pengaruh di pemerintahan. Pertanyaan ini mungkin cukup sulit untuk dijawab.</p>
<p>Yang jelas, preferensi kebijakan para stafsus milenial dapat menjadi masukan bagi Presiden Jokowi. Dan, bukan tidak mungkin, <em>soft power</em> AS turut memengaruhi preferensi tersebut. Mari kita nantikan saja “gebrakan” baru apa lagi yang akan diberikan oleh Belva dan kawan-kawan. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Wlsl13h-L3E"><iframe title="MENERKA JEJAK ALUMNI AMERIKA" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Wlsl13h-L3E?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/637226813.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
