<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kritik Jokowi &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kritik-jokowi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Dec 2023 11:06:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kritik Jokowi &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Santai Dikritik, Jokowi Teladani Aristoteles?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/santai-dikritik-jokowi-teladani-aristoteles/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S83]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Dec 2023 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[BEM UGM]]></category>
		<category><![CDATA[BEM UI]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=140834</guid>

					<description><![CDATA[Respons santai Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menerima kritik tampaknya sukses menggambarkan jika dirinya memiliki pengendalian diri dan impresi manajemen yang baik. Presiden Jokowi pun seakan sadar jika kritik itu adalah bagian dari konsekuensi dirinya ketika terpilih menjadi Presiden RI. Benarkah demikian? PinterPolitik.com Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM) belum lama ini melancarkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Respons santai Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menerima kritik tampaknya sukses menggambarkan jika dirinya memiliki pengendalian diri dan impresi manajemen yang baik. Presiden Jokowi pun seakan sadar jika kritik itu adalah bagian dari konsekuensi dirinya ketika terpilih menjadi Presiden RI. Benarkah demikian?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" data-type="link" data-id="pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gajah Mada (UGM) belum lama ini melancarkan kritik pedas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan cara memasang baliho di beberapa titik luar kampus mereka di Yogyakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baliho itu bergambar wajah Presiden Jokowi yang tampak terbagi dalam dua sisi, yakni menggunakan mahkota raja dan memakai topi petani, serta bertuliskan “Penyerahan Nominasi Alumnus UGM Paling Memalukan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketua BEM UGM Gielbran M. Noor mengatakan, jika kritik ini adalah bentuk kekecewaan mereka dengan pemerintahan Jokowi yang juga merupakan alumnus kampus tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Presiden Jokowi merespons santai kritik yang berasal dari alamamater nya itu. Dia mengatakan jika kritik adalah salah satu bentuk dari ekspresi dari negara demokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, dia juga menyebut jika wajar ada masyarakat yang puas dan tidak terhadap kinerja pemerintah. Hal itu seakan bisa menjadi vitamin bagi pemerintahannya tambah bekerja keras.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1121" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1.webp" alt="megawati terang terangan sindir jokowi.jpg 1" class="wp-image-140817" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1.webp 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-289x300.webp 289w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-987x1024.webp 987w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-145x150.webp 145w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-768x797.webp 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-696x722.webp 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-1068x1109.webp 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/megawati-terang-terangan-sindir-jokowi.jpg-1-405x420.webp 405w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Jokowi tetap mengingatkan jika dalam menyampaikan sebuah kritik, publik juga harus memperhatikan faktor sopan santun dan tata krama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bentuk kritik yang disampaikan oleh BEM UGM bukanlah yang pertama kali diterima oleh Presiden Jokowi. Sebelumnya, banyak kritik lewat baliho ataupun alat peraga lainnya dari beberapa kelompok mahasiswa di berbagai daerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum hilang dalam ingatan, kritik yang disampaikan oleh BEM UI dalam postingan akun sosial media mereka yang menampilkan gambar Jokowi bertuliskan “King of Lip Service” bertujuan mengkritik karena masih banyak janji Jokowi yang belum ditepati selama menjadi Presiden.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sama seperti kritik dari BEM UGM, saat itu Presiden Jokowi juga santai merespons kritik yang dialamatkan kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa Presiden Jokowi selalu merespons demikian kritik tersebut dalam beberapa waktu terakhir?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cerdas Secara Emosional?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Respons santai yang ditunjukkan Presiden Jokowi ketika menerima berbagai kritik kepadanya seolah menunjukkan jika dirinya adalah sosok yang memiliki personalitas <em>agreeableness </em>atau keramahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seseorang yang tinggi dalam <em>agreeableness</em> cenderung lebih baik dalam menerima kritik. Mereka biasanya punya sifat seperti kebaikan hati, kerjasama, toleransi, dan empati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini membuat mereka lebih cenderung menerima pendapat orang lain, termasuk kritik dengan cara yang lebih terbuka dan tanpa reaksi yang terlalu defensif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, teori pengaturan emosi juga dapat berperan dalam kemampuan seseorang untuk menerima kritik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seseorang yang mampu mengatur emosinya dengan baik akan lebih terampil dalam menanggapi kritik dengan bijak serta, tidak terbawa emosi negatif yang dapat mengganggu proses penerimaan kritik itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penting juga untuk dicatat bahwa kemampuan ini bisa diasah dan dikembangkan melalui pengalaman, pembelajaran, dan kesadaran diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelatihan dalam komunikasi yang efektif, pembelajaran tentang <em>self-awareness</em>, dan pengalaman dalam menerima umpan balik bisa membantu seseorang untuk menjadi lebih terbuka terhadap kritik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam psikologi, <em>self-awareness </em>adalah konsep yang sering diungkapkan para ahli, seperti Daniel Goleman dalam bukunya <em>Emotional Intelligence</em> yang menjelaskan <em>self-awareness</em> sebagai komponen kunci dari kecerdasan emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks kecerdasan emosional, <em>self-awareness</em> merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami secara mendalam emosi, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan tujuan pribadi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkaca pada penjelasan itu, Presiden Jokowi tampaknya memiliki <em>self-awareness </em>yang baik karena dapat mengendalikan emosi ketika menerima kritik dengan selalu merespons santai kritik kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, respons Presiden Jokowi bisa jadi juga adalah sebagai bentuk dari manajemen impresinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Erving Goffman menekankan konsep <em>impression management </em>atau manajemen impresi yang dimana individu mempresentasikan diri kepada orang lain dalam situasi sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, Presiden Jokowi tampaknya sedang menampilkan dan mempertahankan dirinya sebagai pemimpin yang sederhana dan merakyat dengan menanggapi santai setiap kritik kepadanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan kepentingan Presiden Jokowi untuk menjaga tingkat kepuasan publik terhadap dirinya yang masih tinggi, dan disebut-sebut berada diangka 73,5 persen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu kiranya juga bertujuan agar dirinya tetap memegang kontrol sebagai pemimpin tertinggi di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kontrol yang masih bisa dikendalikan olehnya, Presiden Jokowi tampaknya ingin menjaga stabilitas politik jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Mantan Wali Kota Solo itu juga tampaknya tidak ingin terjadi instabilitas politik saat pemilu nanti.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1175" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1.webp" alt="pdip masih butuh jokowi.jpg 1" class="wp-image-140639" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1.webp 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-276x300.webp 276w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-941x1024.webp 941w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-138x150.webp 138w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-768x836.webp 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-696x757.webp 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-1068x1162.webp 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/pdip-masih-butuh-jokowi.jpg-1-386x420.webp 386w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jokowi Paham Konsekuensi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Aristoteles, seorang filsuf dari Yunani mengatakan, hanya ada satu cara untuk dapat menghindari kritik, yaitu tidak melakukan apapun, tidak berkata apapun, dan tidak menjadi apapun &nbsp;(<em>there is only one to avoid criticism; do nothing, say nothing, and be nothing)</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang diungkapkan Aristoteles memiliki makna secara tersirat jika kritik tak selamanya memiliki dampak yang buruk bagi seseorang. Sebaliknya, kritik dibutuhkan agar seseorang menjadi lebih berkembang dan maju.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tidak mungkin, Presiden Jokowi menjadikan falsafah Aristoteles itu menjadi sikapnya dalam bereaksi terhadap kritik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, penerimaan Presiden Jokowi terhadap kritik kiranya juga didasari pada pemahamannya terhadap sebuah konsekuensi yang diterima sebagai Presiden RI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lawrence M. Hinman dalam bukunya&nbsp;<em>Ethics A Pluralistic Approach to Moral Theory</em>&nbsp;menjelaskan bahwa setidaknya ada sembilan teori etika yang berkembang saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dari semuanya, ada satu kategori teori etika, yakni etika konsekuensi (<em>ethic of consequences</em>) yang menitikberatkan suatu penilaian moral (baik atau buruk) pada konsekuensi yang diciptakan oleh suatu tindakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Jokowi tampaknya menyadari adanya penilaian moral terhadapnya yang dilakukan oleh masyarakat sebagai konsekuensi dari segala tindakan dan kebijakan yang pemerintahannya ambil, tidak peduli itu baik atau buruk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai pemimpin yang menangani berbagai permasalahan yang berkaitan dengan rakyat Indonesia, Presiden Jokowi tampaknya juga sadar jika dirinya tidak bisa membuat semua masyarakat puas atas apa yang dilakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Presiden Jokowi selalu memilih untuk merespons santai setiap kritik karena dia menyadari itu adalah bagian dari konsekuensi yang harus dia terima sebagai seorang kepala negara. (S83)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="soMF4ZTrHvw"><iframe title="Geger Pecinan, Pemantik Mimpi Buruk VOC" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/soMF4ZTrHvw?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/11/screen-shot-2021-02-20-at-21.53.28-1024x643.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi: Kritik Makanan Saya Sehari-hari</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/jokowi-kritik-makanan-saya-sehari-hari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Sep 2021 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=84557</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-819x1024.jpg" alt="" class="wp-image-84552" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-336x420.jpg 336w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /><figcaption>Jokowi buka suara soal mural hingga poster kritik di hadapan para pemred</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Jokowi-Kritik-Makanan-Saya-Sehari-hari-819x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perlu Tiru SBY?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/perlu-tiru-sby/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2021 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=87230</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="900" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-900x1024.jpg" alt="" class="wp-image-87217" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-900x1024.jpg 900w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-264x300.jpg 264w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-132x150.jpg 132w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-768x874.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-696x792.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-1068x1215.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-369x420.jpg 369w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px" /><figcaption>Presiden Jokowi respons unggahan BEM UI</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlu-Tiru-SBY-900x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Aktivis 98 Ajari Pemimpin   </title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/aktivis-98-ajari-pemimpin-indonesia-salah-aktivis-pemimpin-korup-garda-indonesia-gardazaimalistiqom/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G42]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2018 12:58:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Aktivis 98]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=31778</guid>

					<description><![CDATA[“Mana di mana anak kambing saya, anak kambing saya ada di pohon waru.” ~ Lagu Nasional PinterPolitik.com [dropcap]T[/dropcap]erima kasih Aktivis 98, generasi jaman now memang sudah sepatutnya menanamkan kebangaan yang mendalam terhadap perjuangan militan yang telah kalian lakukan pada masa itu. Berbeda zaman, berbeda perilaku. Seakan tak berdaya, generasi jaman now menjadi jauh dari yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Mana di mana anak kambing saya, anak kambing saya ada di pohon waru.” ~ Lagu Nasional</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]T[/dropcap]erima kasih Aktivis 98, generasi <em>jaman now </em>memang sudah sepatutnya menanamkan kebangaan yang mendalam terhadap perjuangan militan yang telah kalian lakukan pada masa itu.</p>
<p>Berbeda zaman, berbeda perilaku. Seakan tak berdaya, generasi <em>jaman now</em> menjadi jauh dari yang diharapkan para aktivis karena generasi ini dianggap tidak dapat melakukan hal yang serupa dengan generasi militan itu.</p>
<p>Terima kasih karena telah membuka pintu demokrasi yang sebesar-besarnya untuk generasi <em>jaman now</em>, yang akhirnya generasi ini menjadi sulit diatur dan malas bicara politik.</p>
<p>Tidak perlu risau kami bodoh, kami akan tetap anggap demokrasi ini adalah warisan berharga, pemberian kakak yang terindahkan.</p>
<p>Kakak, hari ini sulit bagi kami membedakan nada. Mengapa semua bernada indah? Kami merasa berada di dalam <em>orchestra</em> yang dipenuhi kerumunan lebah.<em> </em></p>
<p>Kakak, tak banyak kata, hanya ucap terima kasih untuk kakak sebagai Aktivis 98. Kakak terima kasih telah ciptakan &#8220;raja-raja kecil&#8221; bernada mayor di berbagai daerah, dan terima kasih masih berniat untuk bertangung jawab atas itu.</p>
<p>Bagi kami kakak bagai pelita di siang yang terik. Hmmm.</p>
<p>Terima kasih kakak telah mengajarkan kami bagaimana caranya merusak dan bertangung jawab.</p>
<p>Saat berdebat tentang radikalisme, kakak malah bilang radikal yang dimaksud adalah berpikir, bertindak, sesuai dengan kebutuhan bersama demi tercapainya tujuan yang diinginkan.</p>
<p>Kami masih belum mengerti apa yang kakak maksud, maklum kami terlalu banyak makan micin. Kak, boleh kami bertanya?</p>
<p>Kakak bilang, komunikasi yang sulit kalian bangun membuat kalian semakin radikal? Jalan kaki adalah jalan satu-satunya untuk kalian jalin komunikasi antar kampus?</p>
<p>Untuk satu tujuan ya? Yang akhirnya sekarang terpecah dan mungkin ada yang menjilat ludahnya sendiri dengan kelompok-kelompok yang dilawan saat dulu? Maaf jika kami lancang kak.</p>
<p>Mengapa sekarang kakak terpecah? Apa kami kurang belajar sejarah? Maka ajari kami kak.</p>
<p>Kalian ingin mendorong generasi <em>jaman now</em> untuk berpikir kritis? Demi masa depan yang lebih baik? Kalian angap kami tidak berpikir? Maka mohon ajari kami berpikir.</p>
<p>“Jangan kau teriak maling, jika memang tidak pernah mau mengakui maling, jangan teriak bodoh kalo tidak mau mengaku bodoh. Bahwasanya kami tidak takut, tapi kami menunggu waktu yang tepat dan menunggu kalian berhenti medikte, kami akan bersatu menunggu generasi kalin berdiri di pucuk kekuasaan.”</p>
<p>Terima kasih atas doa dan masih mau mengkritik fenomena politik di bangsa yang kami banggakan ini. (G11)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/1451488REFORMASI-1998780x390-copy-1024x616.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fadli ‘Ngamuk’ Gerindra Diserang</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/fadli-ngamuk-gerindra-diserang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 May 2018 10:13:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Fadli Zon]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Oposisi Lemah]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=28432</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Adanya patroli Brimob ke kantor DPC Gerindra Kota Semarang itu, diduga ilegal karena melakukan intimidasi terhadap institusi politik, dalam hal ini Gerindra yang merupakan partai di luar pemerintah.&#8221; ~ Fadli Zon PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]ebagai partai yang berada di lingkaran oposisi, Partai Gerindra tak segan menghantam dan menyerang Pemerintah. Makanya, tak aneh muncul berbagai narasi dan wacana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Adanya patroli Brimob ke kantor DPC Gerindra Kota Semarang itu, diduga ilegal karena melakukan intimidasi terhadap institusi politik,</em> <em>dalam hal ini Gerindra yang merupakan partai di luar pemerintah.&#8221; ~ Fadli Zon</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]ebagai partai yang berada di lingkaran oposisi, Partai Gerindra tak segan menghantam dan menyerang Pemerintah. Makanya, tak aneh muncul berbagai narasi dan wacana yang mengkritik pemerintah.</p>
<p>Mau tak mau, terima atau engga, Partai Gerindra kini berada di luar pemerintahan, jadi jangan bersikap manis dengan Pemerintah. Takdirnya sudah digariskan begitu, <em>weleeeh weleeeh.</em> Harus jadi politikus berwatak antagonis.</p>
<p>Tapi kalau para ‘penyerang’ Pemerintah ini juga mendapatkan serangan balasan gimana? <em>Waduh, </em>repot juga kalau begitu. Kalau oposisi dapet serangan juga, lalu siapa penyerangnya? <em>Lahhh</em> siapa lagi kalau bukan, <em>ahhh syudahhlah.</em></p>
<p>Kalau oposisi kan memang ditakdirkan sebagai mitra kritis pemerintah, jadi kalau berteriak atasnama kebenaran versi oposisi, wajar aja dong. <em>Ehmm, </em>namanya juga di luar pemerintahan.</p>
<p>Makanya kalau ada serangan balasan dari pihak yang tak dikenal kepada pihak oposisi, tentu ini akan jadi ancaman bagi demokrasi.</p>
<p>Ya sederhananya itu, kalau ada kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, wajar ga sih kalau oposisi berteriak? Ya wajar aja, kecuali kalau Pemerintah yang teriak juga, <em>waduh, </em>sehat Pak? <em>Weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Tapi terkadang kalau mau jadi oposisi itu harus siap dengan dua konsekuensi, yang pertama harus sabar. Maksudnya sabar menunggu sampai periodisasi kekuasaan habis dan berganti.</p>
<p>Nah kalau yang kedua, harus berani pasang badan kalau ada serangan balasan untuk oposisi. Nah, mungkin ini yang sedang dilakukan Partai Gerindra.</p>
<p>Karena kabarnya Partai Gerindra sedang mendapatkan ‘intimidasi’ dari segerombol Brimob dengan persenjataan lengkap yang mendatangi kantornya.</p>
<p><em>Ehmm, </em>pantesan aja para petingginya merasa geram, akhirnya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Wakil Ketua DPR, Fadli Zon langsung terjun turun gunung pasang badan.</p>
<p>Emang gara – gara apa sih Brimob datang ke kantor Partai Gerindra? <em>Waduhhh, </em>kabarnya sih gara – gara Partai Gerindra itu melakukan pengerahan massa untuk CFD dengan menggunakan kaos #2019GantiPresiden, <em>waduh, </em>apa hubungannya sama Brimob deh? Terus apa salahnya tagar itu?</p>
<p>Tapi kalau kata Najwa Shihab, rakyat udah ga peduli dengan urusan koalisi atau oposisi, tapi yang terpenting kebijakan publik yang berkenaan dengan rakyat.</p>
<p>Kalau Brimob datangi Kantor Partai Gerindra rakyat harus ngapain? Kan siapa tau Brimob itu mau menjaga Partai Gerindra, <em>uhuukk uhuuukk, </em>coba berprasangka baik aja dulu deh, jangan <em>suudzon </em>melulu, <em>weleeeh weeleeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/05/fadli-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi &#8216;Ketagihan&#8217; Difitnah</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jokowi-ketagihan-difitnah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2018 05:15:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[kinerja pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Tuduhan PKI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=27640</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Fitnah di media sosial lebih dari 4 tahun ini. Menuduh Presiden Jokowi itu PKI. Saya lahir tahun 1961, PKI dibubarkan tahun 1965, saya baru umur 3,5 sampai 4 tahun. Masa ada PKI balita? Logikanya enggak masuk.&#8221; ~ Jokowi. PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]emakin tinggi pohon menjulang, akan semakin besar juga angin yang menerpa. Peribahasa ini sepertinya cocok untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Fitnah di media sosial lebih dari 4 tahun ini. Menuduh Presiden Jokowi itu PKI. Saya lahir tahun 1961, PKI dibubarkan tahun 1965, saya baru umur 3,5 sampai 4 tahun. Masa ada PKI balita? Logikanya enggak masuk.&#8221; ~ Jokowi.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]emakin tinggi pohon menjulang, akan semakin besar juga angin yang menerpa. Peribahasa ini sepertinya cocok untuk sosok Joko Widodo yang lagi dan lagi mendapat angin besar, <em>ehhh</em> maksudnya cobaan besar dalam menjalankan kekuasaannya sebagai Presiden.</p>
<p>Kalau dicermati, kayaknya memang wajar – wajar aja kalau Presiden banyak menerima kritik, ya namanya juga orang nomor satu dan sedang berkuasa.</p>
<p>Tapi kadang – kadang, para kritikus itu berlebihan juga sih, masa Presiden sendiri dikatain habis – habisan, <em>hadeuuhh</em>.</p>
<p>Kalau gitu kan udah bukan kritik membangun lagi, tapi sudah menghakimi. Walaupun ada sebagian pihak semisal ga suka sama Jokowi atau dengan gaya kepemimpinannya, tapi masyarakat setidaknya harus tetap menjaga marwah jabatan Presiden.</p>
<p>Mau ga mau itu kan simbol negara. Ya tapi mau gimana? Apalagi di media sosial, <em>hmmm </em>kadang – kadang jempol Netizen lebih jahat daripada lidah yang tak bertulang, <em>weleeh weleeeh</em>.</p>
<p>Baru memimpin lebih kurang 4 tahun, Jokowi sudah mengumpulkan kompilasi fitnah yang diarahkan kepadanya di media sosial. <em>Uppsss</em>, yang penting Jokowi sabar aja.</p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="in">Jokowi Curhat Sudah 4 Tahun Difitnah di Medsos <a href="https://t.co/bNMosT3x0q">https://t.co/bNMosT3x0q</a></p>
<p>— inilahcom (@inilahdotcom) <a href="https://twitter.com/inilahdotcom/status/989202506373677057?ref_src=twsrc%5Etfw">April 25, 2018</a></p></blockquote>
<p>Yang lebih repot kalau Jokowi malah sibuk dan tersita waktunya hanya untuk ngurusin fitnah. Untungnya engga ya, kocak juga kalau Jokowi lebih sibuk nanggepin kritik dibandingkan <em>blusukan</em>, mending <em>blusukan </em>aja deh.</p>
<p>Tapi ya namanya fitnah, mana ada yang bener sih. Nih, masa ada Netizen yang nuduh sembarangan aja kalau Jokowi itu bagian dari PKI. Akhirnya Jokowi menjawab, PKI aja dibubarkan tahun 1965, lah Jokowi lahirnya aja 1961, masa masih balita udah jadi bagian dari PKI, <em>hadeuuuhhh</em>.</p>
<p>Tuhkan kadang-kadang jempol Netizen emang jahat banget, asal-asalan aja gitu. Tapi <em>kok </em>Jokowi ga ada kapok – kapoknya ya, udah 4 tahun difitnah di media sosial, masih mau aja jadi Presiden di periode kedua, <em>weleeeh weeleeeeeh</em>.</p>
<p>Kalau kata Socrates, mungkin yang memfitnah Jokowi di media sosial itu adalah orang yang kalah dalam berdebat, jadi ga ada cara lain selain <em>pake</em> fitnah, padahal fitnah itu alat buat pecundang lho, <em>weleeeh weleeh</em>. (Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/jokw-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Idrus Si ‘Bunglon’ Politik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/idrus-si-bunglon-politik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2018 07:51:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Idrus Marham]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Golkar]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=26972</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Bangsa Indonesia bisa maju kalau dipimpin profesional? Atau yang dipimpin popularitas?&#8221; ~ Idrus Marham di Pilpres 2014 PinterPolitik.com [dropcap]A[/dropcap]pa kabar Idrus Marham yang kini menjadi Menteri Sosial, pengganti Khofifah Indar Parawansa? Rasanya kalau sudah berlabel Menteri, Idrus harus berterimakasih sama Presiden Jokowi. Pasalnya, kapan lagi kan Idrus bisa jadi Menteri kalau bukan dipilih Jokowi, ya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Bangsa Indonesia bisa maju kalau dipimpin profesional? Atau yang dipimpin popularitas?&#8221; ~ Idrus Marham di Pilpres 2014</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]A[/dropcap]pa kabar Idrus Marham yang kini menjadi Menteri Sosial, pengganti Khofifah Indar Parawansa? Rasanya kalau sudah berlabel Menteri, Idrus harus berterimakasih sama Presiden Jokowi.</p>
<p>Pasalnya, kapan lagi kan Idrus bisa jadi Menteri kalau bukan dipilih Jokowi, ya kalau nanti, ga tau deh dipilih atau engga, <em>hmmm.</em></p>
<p>Ya setidaknya, Jokowi udah ngasih kesempatan sama Idrus untuk menduduki singgasana Menteri. Kalau kata Idrus, tak pernah terbayang jadi Menteri. <em>Tuhkan, </em>kurang baik apa coba Jokowi yang sudah wujudkan mimpi Idrus.</p>
<p>Tapi Idrus seharusnya merasa ga enak sama Jokowi, lah kenapa? Ya secara dulu Idrus pernah menyindir Jokowi pas Pilpres 2014, katanya sih pemimpin itu jangan mengandalkan popularitas, <em>waduh</em>.</p>
<p><em>Ahhh </em>tapi kalau begitu sekarang Idrus lagi menikmati pemberian jabatan dari pemimpin yang cuma mengandalkan popularitas dong? <em>Hmmm, hayoloh </em>Idrus nih ada – ada aja deh, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Makanya jangan asal menyindir, kalau kepilih dan ditawari jadi Menteri kan jadi ga enak, <em>weleeeh weleeeh, </em>jadi ga enak kalau ga diterima tawarannya ya, <em>hadeuuhhh.</em></p>
<p>Dulu mengkritik tentang popularitaslah, kritik juga tentang belum tuntasnya jabatan Gubernurlah. <em>Weiitttss, </em>tapi wajarlah namanya juga kan taktik pertarungan zaman <em>baheula, </em>mungkin Idrus baru keinget kalau dulu itu sangat berseberangan sama Jokowi.</p>
<p>Setidaknya, Idrus membuktikan ucapan Tony Q kalau dunia politik itu ga ada kawan dan lawan karena yang abadi adalah kepentingan. Kalau kepentingannya diakomodir ya tentu saja bisa jadi kawan, kalau ga diakomodir tentu saja pasti jadi musuh, begitu sederhananya dunia politik ya, <em>weleeeh weleeeh. </em></p>
<p>Tapi yang menariknya, ternyata ada perubahan kepribadian dari Idrus Marham. Mantan Sekjen Partai Golkar ini sekarang menjadi pemuji Jokowi. Suara Jokowi baguslah, kepemimpinannya baguslah, atau apapun.</p>
<p>Salah sih engga, cuma rasanya kok agak janggal kalau dibandingkan sama sosok Idrus yang dikenal saat Pilpres 2014 sebagai koordinator Koalisi Merah Putih, apalagi katanya permanen itu, <em>weleeeeh weleeeh.</em></p>
<p>Dulu mengkritik karena berada diseberang, nah setelah diajak jadi Menteri akhirnya malah memuji. <em>Hmmm, </em>politik – politik, bisa bikin orang jadi berubah begitu ya, kayak bunglon aja berubah kalau keadaan disekitarnya ikut berubah, <em>weleeeh weleeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/idrus-marham-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Demokrat ‘Main’ Pintu Istana</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/demokrat-main-pintu-istana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2018 11:16:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrat]]></category>
		<category><![CDATA[Ferdinand Hutahaean]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Wasekjend Partai Demokrat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=23420</guid>

					<description><![CDATA[“Saat kau membalas kebencian dengan amarah dan caci maki, saat itulah musuhmu menang.” ~ Andy F Noya PinterPolitik.com [dropcap]P[/dropcap]antaslah bila Presiden Jokowi menjadi sasaran kritik, karena Jokowi lah yang kini memimpin negeri. Kritik kepada Jokowi datang dan pergi dari pihak manapun, termasuk Partai Demokrat yang telah mengisi dua periode kepemimpinan sebelum Jokowi. Sebagai ‘senior’ yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Saat kau membalas kebencian dengan amarah dan caci maki, saat itulah musuhmu menang.” ~ Andy F Noya</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]antaslah bila Presiden Jokowi menjadi sasaran kritik, karena Jokowi lah yang kini memimpin negeri. Kritik kepada Jokowi datang dan pergi dari pihak manapun, termasuk Partai Demokrat yang telah mengisi dua periode kepemimpinan sebelum Jokowi.</p>
<p>Sebagai ‘senior’ yang sudah memimpin dua periode berturut – turut, pastilah banyak catatan dan perbandingan yang selalu dilekatkan pada kebijakan yang dikeluarkan Jokowi.</p>
<p>Semisal, utang di era Jokowi jumlahnya berkali – kali lipat lebih besar dibandingkan era sebelumnya. Artinya apa? Ada hal yang selalu dibanding – bandingkan.</p>
<p>Walaupun kritik tentang adanya perbedaan kebijakan di setiap zamannya ini dituturkan oleh loyalis Presiden sebelumnya, Ferdinand Hutahaean.</p>
<p>Tapi sayang sekali, kritiknya ini tak disampaikan langsung kepada Jokowi. Bila kritiknya itu konstruktif, apa salahnya bila langsung berjumpa dengan Jokowi.</p>
<p>Kecuali kalau kritiknya itu tak berdasar, barulah gapapa <em>ngoceh – ngoceh</em> atau mengumbarnya lewat media sosial, kan belum tentu juga Jokowi liat, <em>weleeeeh weleeh.</em></p>
<p>Tapi seharusnya, memang kritik itu disampaikan langsung, kan lumayan bisa dapet respon dari Jokowi. Atau begini deh, kalau sungkan bilang sendiri ke Jokowi, kenapa kemaren ga nitip pesen aja ke Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)?</p>
<p>Padahal Partai Demokrat belum lama ini punya kesempatan berjumpa dengan Jokowi, mengapa coba ga nitip pesen aja? <em>Ahhh syudahhhlah. </em>Emang ga niat mengkritik kali ya? <em>heuuuhh!</em></p>
<p>Atau Ferdinand ngerasa ga enak ya sama AHY, masa kritiknya datang dari dirinya sendiri tapi malah minjem mulut AHY, <em>weleeeeh weleeeeh. </em></p>
<p><em>Hmmm, </em>pantesan Ferdinand cuma kritik lewat media sosial doang, <em>weeleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Emangnya Ferdinand berani gitu langsung mengkritik Jokowi? Kalau misalkan Ferdinand punya kesempatan datang ke Istana Negara, berani ga langsung berbicara dengan Jokowi?</p>
<p><em>Woailaaahh, </em>belum tentu juga kan? Palingan Ferdinand hanya berani sampai pintu depan Istana Negara aja kan? <em>Loh</em> kata siapa begitu, <em>hmmm.</em></p>
<p>Kan tujuan awal Ferdinand itu memang bukan mengkritik, tapi Ferdinand hanya ingin ‘bermain-main’ dengan pintu Istana Negara.</p>
<p>Maklumlah saking <em>gemes</em>nya, Ferdinand ingin menendang pintu Istana Negara, namanya juga punya bakat terpendam jadi pemain sepakbola, <em>weleeeeh weleeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/jokowi-presiden-Indonesia-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
