<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>kpop &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kpop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jan 2024 08:22:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>kpop &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Anies Bubble, Prabowo-Ganjar Awas?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-bubble-prabowo-ganjar-awas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2024 08:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Anies bubble]]></category>
		<category><![CDATA[Desak Anies]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjar Pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabuming Raka]]></category>
		<category><![CDATA[Kampanye]]></category>
		<category><![CDATA[kpop]]></category>
		<category><![CDATA[Live TikTok]]></category>
		<category><![CDATA[Mahfud MD]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Gemoy]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[TikTok]]></category>
		<category><![CDATA[Twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=141601</guid>

					<description><![CDATA[Setelah agenda “Desak Anies” tak sedikit mendapat respons cukup baik, viralnya “Anies Bubble” di media sosial Twitter dan TikTok tampak menambah sentimen positif bagi duet AMIN. Ini membuat kewaspadaan dan strategi kampanye politik media sosial yang lebih baik dari kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo Mahfud MD mutlak untuk dilakukan di sisa masa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Setelah agenda “Desak Anies” tak sedikit mendapat respons cukup baik, viralnya “Anies Bubble” di media sosial Twitter dan TikTok tampak menambah sentimen positif bagi duet AMIN. Ini membuat kewaspadaan dan strategi kampanye politik media sosial yang lebih baik dari kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo Mahfud MD mutlak untuk dilakukan di sisa masa kampanye Pilpres 2024.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Satu kemungkinan yang saat ini sedang disoroti kubu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD adalah gelombang atensi positif netizen di media sosial atas kehadiran “Anies Bubble”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anies Bubble sendiri seperti semacam gerakan yang disebut bergerak organik dengan berbasis individu &#8211; atau kelompok &#8211; simpatisan Anies Baswedan di Twitter atau X dengan nama akun @aniesbubble. Kehadirannya pertama kali tercatat muncul pada tanggal 29 November 2023.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akun tersebut menjadi menarik dan mendapat sorotan karena membawa atmosfer dan atribut terkait K-Pop sejak awal kemunculannya. Praktis, terlepas dari kemungkinan skenario manuver kampanye tertentu di baliknya, penggemar budaya pop Korea Selatan berbondong-bondong tak ingin ketinggalan meramaikan Anies Bubble.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konten Anies Bubble sendiri terdiri dari unggahan ulang atau <em>repost</em> konten ringan yang telah diunggah Anies, terutama yang berasal dari TikTok. Termasuk sesi siaran langsung atau <em>live</em> TikTok.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu dicatat, penggemar K-Pop di Indonesia memiliki jumlah yang masif dan militan. Plus, mayoritas dari mereka terdiri dari milenial dan gen Z yang merupakan ceruk suara terbesar di Pemilu 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rival Anies di Pilpres 2024 sendiri sebenarnya telah hadir dan merespons dengan format konten yang serupa. Ganjar, misalnya, yang memiliki akun “alter” di Instagram bernama @jajang_genjar. Karakteristik kontennya pun ringan dan dinilai cukup menghibur.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1189" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama.jpg" alt="anies imin punya nakama" class="wp-image-141280" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-272x300.jpg 272w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-930x1024.jpg 930w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-136x150.jpg 136w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-768x846.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-696x766.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-1068x1176.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/anies-imin-punya-nakama-381x420.jpg 381w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Mahfud MD pun demikian. Dirinya turut mengikuti tren dengan melakukan live TikTok pada malam tahun baru kemarin lusa. Namun, dengan tema yang lebih serius, yakni seputar hukum yang menjadi spesialisasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, Prabowo telah meramaikan TikTok dan Instagram dengan narasi <em>gemoy </em>yang diamplifikasi para simpatisan dan relawan. Kemunculan “Prabowo <em>gemoy</em>” pun awalnya cukup mendapat sambutan positif dari netizen atas <em>branding</em> segar sosok Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, Anies Bubble seolah menjadi amunisi politik efektif dan cukup menjanjikan bagi progresivitas kampanye AMIN di media sosial. Ini sekaligus menjadi ancaman besar bagi kubu Prabowo-Gibran dan Ganjar Mahfud yang harus segera melakukan reaksi tandingan yang cepat dan tepat jika tak ingin tertinggal. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>“Hipnotis” Perubahan Anies?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Efektivitas penyajian konten segar dan baru yang disukai secara instan dalam kampanye politik di media sosial, termasuk Anies Bubble dapat dipahami melalui aspek psikologis. Khususnya yang terkait dengan <em>swing</em> dan <em>undecided voters</em> yang memiliki populasi cukup signifikan di media sosial. Salah tiga konsep relevan yang menjelaskan fenomena ini adalah <em>novelty bias</em>, <em>curiosity gap</em>, dan mere exposure effect.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Novelty bias</em> atau bias kebaruan mengacu pada kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan rangsangan baru. Dalam konteks kampanye politik, <em>swing</em> dan <em>undecided voters</em> seringkali “dibombardir” dengan informasi dari berbagai kandidat dengan bermacam narasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyajikan sesuatu yang segar atau baru akan menarik perhatian para pemilih, karena memicu respons psikologis yang mendorong mereka untuk mengeksplorasi dan terlibat dengan konten tersebut. Terlebih, terhadap konten-konten yang berhubungan atau <em>relate</em> dengan <em>interest</em> mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, <em>curiosity gap</em> atau kesenjangan keingintahuan berasal dari teori kesenjangan informasi, yang menyatakan bahwa orang lebih cenderung ingin tahu dan terlibat dengan informasi ketika ada kesenjangan antara apa yang mereka ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika konten politik memperkenalkan sesuatu yang baru atau mengadopsi sesuatu di luar politik, seperti budaya pop, hal ini menciptakan kesenjangan informasi, sehingga mendorong para pemilih yang ragu-ragu untuk mencari lebih banyak informasi dan, pada gilirannya, menjadi lebih terlibat dalam kampanye.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1081" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar.jpg" alt="branding abu abu ganjar" class="wp-image-141313" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-768x769.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-696x697.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-1068x1069.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/branding-abu-abu-ganjar-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilih yang masih belum menentukan pilihan atau belum memutuskan sering kali mengalami disonansi kognitif ketika dihadapkan pada informasi atau pilihan yang saling bertentangan, sebuah kondisi lumrah di media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karenanya, penyajian bentuk konten yang segar dan inovatif dapat mengatasi disonansi kognitif dengan memberikan perspektif atau solusi baru. Hal ini membantu menyelaraskan keyakinan atau preferensi pemilih dengan konten yang disajikan, sehingga membuat mereka lebih mungkin terpengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, terdapat pula apa yang disebut sebagai <em>mere exposure effect</em>. Ihwal yang menunjukkan bahwa orang cenderung mengembangkan preferensi terhadap sesuatu hanya karena mereka mengenalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mempertunjukkan sesuatu yang baru namun <em>relate </em>dalam kampanye politik dapat menciptakan efek keterpaparan yang positif, karena para pemilih yang belum menentukan pilihan (<em>swing voter</em>) dan mereka yang masih ragu-ragu menjadi lebih familiar dengan gagasan dan perspektif kandidat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, secara reaktansi psikologis, pemilih yang belum menentukan pilihan (<em>swing voters</em>) dan yang belum memutuskan (<em>undecided voters</em>) kemungkinan mengalami reaksi psikologis ketika mereka merasa kebebasan memilih mereka terbatas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menghadirkan sesuatu yang baru, segar, dan <em>relate</em>, kampanye politik dapat menghindari timbulnya reaksi balik dan menciptakan lingkungan yang terbuka dan akomodatif terhadap beragam perspektif, sehingga lebih menarik bagi pemilih yang belum menentukan pilihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejumlah variabel di atas kiranya dapat menjelaskan mengapa tanggapan positif menghampiri Anies atas eksistensi Anies Bubble.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, tantangan besar dihadapi kubu Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud. Reaksi kilat untuk merespons Anies Bubble berupa strategi kampanye digital yang jitu mutlak dibutuhkan jika tak ingin mimpi buruk hasil Pilpres 2024 terjadi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Invasi Twitter di Menit Akhir?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Resonansi Anies Bubble yang ramai di <em>platform</em> Twitter atau X agaknya merupakan eksploitasi celah yang tak dimiliki kubu Prabowo-Gibran maupun Ganjar-Mahfud.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kendati Gibran, Ganjar, maupun Mahfud cukup aktif di media sosial kepunyaan Elon Musk itu, namun narasi mereka kiranya tak se-menggugah dan se-inovatif gebrakan Anies Bubble, termasuk reaksi Anies sendiri di <em>platform</em> yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelemahan itu sendiri telah disadari, salah satunya oleh Wakil Komandan Bravo Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Cheryl Tanzil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di acara Relawan Prabowo-Gibran Digital Team (PRIDE) pada 20 Oktober 2023 lalu, Cheryl menyiratkan Twitter atau X merupakan medan terjal bagi para relawan untuk mengampanyekan kandidat mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Twitter atau X sendiri merupakan alat yang cukup ampuh bagi kampanye politik karena memungkinkan mereka menjangkau konstituennya secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Platform ini memungkinkan para aktor politik dan simpatisan mereka membangun basis, terlibat dalam dialog dengan pemilih, dan meningkatkan visibilitas mereka secara <em>real-time</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Twitter atau X berperan sebagai wadah bagi orang-orang dari semua lapisan masyarakat untuk menyuarakan pendapat mengenai perdebatan dan isu-isu terkini, serta menciptakan percakapan yang lebih bermakna antara individu-individu dengan pemikiran sama yang mungkin belum pernah terhubung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Twitter atau X sendiri telah menjadi ruang gema diskursus politik di Indonesia sejak Pemilu 2012, khususnya di DKI Jakarta. Periode itu adalah saat di mana <em>platform</em> lain seperti Instagram maupun TikTok belum begitu populer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain bertujuan menyebarkan <em>awareness</em> terhadap kandidat dan program kerjanya dalam kampanye, praktik ofensif juga diaktualisasikan dan terus terjadi hingga saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali, Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud kiranya wajib mengimplementasikan kontra strategi bentuk konten di media sosial, khususnya di Twitter atau X yang jauh lebih baik, relate, dan disukai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum terlambat bagi kedua pasangan calon (paslon) untuk memperbarui strategi media sosial yang lebih jitu sebelum masa tenang dan pencoblosan pada 14 Februari nanti, sebagaimana frasa <em>October Surprise</em> yang tenar di Amerika Serikat (AS).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>October Surprise</em> merupakan teori informal mengenai manuver politik strategis dalam skala kecil namun signifikan dampaknya yang dikeluarkan sebagai senjata pamungkas. Aktualisasinya dilakukan berdekatan atau tepat sebelum pemilihan dimulai atau satu bulan sebelum pemilihan di AS pada bulan November.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuannya adalah untuk menciptakan perubahan opini publik pada menit-menit terakhir, yang lebih memihak pada satu kandidat dibandingkan kandidat lainnya. Hal ini lebih menekankan mengenai waktu penyampaian informasi dibandingkan isi spesifiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain berbicara mengenai <em>platform</em> dan bentuk narasi maupun konten, <em>October Surprise</em> mencerminkan pendekatan strategis yang memanfaatkan momentum, elemen kejutan, dan urgensi untuk mencapai keuntungan signifikan dalam kampanye politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun konotasinya kerap bermakna taktik negatif atau kontroversial, praktik yang lebih etis dan benar-benar menggugah simpati politik positif bukan tidak mungkin untuk dilakukan, baik oleh Prabowo-Gibran maupun Ganjar-Mahfud. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xIbE-2jI-s4"><iframe title="Sejarah Freeport di Indonesia: Dibantu CIA Gulingkan Soekarno dan Pengaruhi Setiap Pemilu?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xIbE-2jI-s4?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/anies-desak-1024x681.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lagi-lagi Antre di McD?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/lagi-lagi-antre-di-mcd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M78]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jul 2023 08:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Poltiik]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[kpop]]></category>
		<category><![CDATA[McD]]></category>
		<category><![CDATA[New Jeans]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=131864</guid>

					<description><![CDATA[Oh, my, oh, my God! McDonald’s – berkolaborasi dengan NewJeans – merilis paket dengan kemasan khusus di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Dengan kolaborasi itu, sejumlah penggemar NewJeans (Bunnies) mulai menyerbu paket ini. Kolaborasi ini bukan sekali saja dilakukan oleh McDonald’s. Sebelumnya, perusahaan makanan cepat saji asal Amerika Serikat (AS) itu juga pernah berkolaborasi dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="913" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-913x1024.jpg" alt="lagi lagi antre di mcd" class="wp-image-131872" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-913x1024.jpg 913w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-268x300.jpg 268w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-134x150.jpg 134w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-768x861.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-696x780.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-1068x1198.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-375x420.jpg 375w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 913px) 100vw, 913px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Oh, my, oh, my God! <img decoding="async" alt="🐰" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f430/32.png"><img decoding="async" alt="🐰" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f430/32.png"><img decoding="async" alt="🐰" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f430/32.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">McDonald’s – berkolaborasi dengan NewJeans – merilis paket dengan kemasan khusus di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Dengan kolaborasi itu, sejumlah penggemar NewJeans (Bunnies) mulai menyerbu paket ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kolaborasi ini bukan sekali saja dilakukan oleh McDonald’s. Sebelumnya, perusahaan makanan cepat saji asal Amerika Serikat (AS) itu juga pernah berkolaborasi dengan grup musik terkenal lainnya asal Korea Selatan (Korsel), yakni BTS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, <em>chains </em>asal AS – seperti McD dan Starbucks –erat dianggap jadi simbol kapitalisme. Selain itu, perusahaan-perusahaan itu dianggap menyeragamkan budaya – seperti dengan “mendikte” cara mengonsumsi produk-produk budaya populer.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, apakah ini semacam homogenisasi budaya ala McD? Mengapa McD kerap dianggap sebagai simbol universalisasi budaya ala Barat – khususnya Amerika?</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/lagi-lagi-antre-di-mcd-913x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BLACKPINK dan Sisi Kelam Budaya FOMO</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/blackpink-dan-sisi-kelam-budaya-fomo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S91]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Mar 2023 00:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[BLACKPINK]]></category>
		<category><![CDATA[FOMO]]></category>
		<category><![CDATA[Girlband]]></category>
		<category><![CDATA[Korea]]></category>
		<category><![CDATA[kpop]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=126104</guid>

					<description><![CDATA[Baca selengkapnya artikel “BLACKPINK dan Sisi Kelam Budaya FOMO” di website PinterPolitik.com]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-1024x1024.png" alt="blackpink 1 1" class="wp-image-126107" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-1024x1024.png" alt="blackpink 2 1" class="wp-image-126108" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-2-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-1024x1024.png" alt="blackpink 3 1" class="wp-image-126110" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-3-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-1024x1024.png" alt="blackpink 4" class="wp-image-126109" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-4.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-1024x1024.png" alt="blackpink 5" class="wp-image-126111" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-5.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-1024x1024.png" alt="blackpink 6" class="wp-image-126112" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-6.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-1024x1024.png" alt="blackpink 7" class="wp-image-126113" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-7.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-1024x1024.png" alt="blackpink 8" class="wp-image-126114" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-1920x1920.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-8.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Baca selengkapnya artikel “BLACKPINK dan Sisi Kelam Budaya FOMO” di website PinterPolitik.com</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Blackpink-1-1024x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BLACKPINK dan Sisi Kelam Budaya FOMO</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/blackpink-dan-sisi-kelam-fomo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Mar 2023 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[BLACKPINK]]></category>
		<category><![CDATA[Blink]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[konsumerisme]]></category>
		<category><![CDATA[kpop]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=126010</guid>

					<description><![CDATA[Konser BLACKPINK yang diselenggarakan tanggal 11 dan 12 Maret silam memunculkan diskursus tentang budaya Fear of Missing Out (FOMO). Mungkinkah kita terlepas dari budaya konsumtif tersebut?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Konser BLACKPINK yang diselenggarakan tanggal 11 dan 12 Maret silam memunculkan diskursus tentang budaya <em>Fear of Missing Out</em> (FOMO). Mungkinkah kita terlepas dari budaya konsumtif tersebut?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<h2 class="wp-block-heading">“<em>Taste that pink venom, taste that pink venom</em>!” – BLACKPINK, “Pink Venom” (2022)</h2>
</blockquote>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Buat kalian para penggemar berat <em>girlband</em> asal Korea Selatan (Korsel) BLACKPINK, kalian pasti lagi merasa senang-senangnya. Bagaimana tidak, tanggal 11 dan 12 Maret lalu Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa akhirnya datang ke Indonesia dan menggelar konser musik yang begitu heboh di Stadion Gelora Bung Karno (GBK).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Yess</em>, untuk sebagian orang, konser kemarin mungkin bisa dianggap sebagai <em>once-in-a-lifetime moment</em> atau momen sekali dalam seumur hidup, karena itu adalah pertama kalinya mereka menggelar konser besar di negara kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik sejumlah kegirangan dalam konser BLACKPINK, ternyata tersimpan satu fenomena menarik yang beberapa hari belakangan ini cukup menjadi sorotan di media sosial, yaitu perkara <em>Fear of Missing Out </em>(FOMO). Istilah ini singkatnya menjelaskan perilaku seseorang yang melakukan sesuatu bukan karena menggemari atau mengikutinya, tetapi hanya karena tidak ingin merasa ketinggalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, banyak warganet yang mengklaim bahwa di konser BLACKPINK kemarin itu dipenuhi oleh orang-orang yang FOMO, terutama para <em>public figure</em> seperti Rachel Venya misalnya, yang disebut sebenarnya tidak pernah terlihat menggemari <em>girlband</em> nomor satu di Korsel tersebut. Hal ini menjadi masalah karena banyak yang melihat orang-orang FOMO ini “menghabiskan jatah” dari para penggemar yang kehabisan tiket karena mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perdebatannya kemudian dibawa ke persoalan <em>self-control</em> atau kendali diri sendiri. Para warganet menilai bahwa seharusnya para orang-orang FOMO itu bisa mengendalikan diri untuk tidak ikut-ikutan tren. Banyak yang lalu beropini kurang lebih seperti ini: “jangan salahkan kapitalisme, kamu saja yang tidak bisa menjaga hasrat konsumtifmu sendiri”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, perlu kemudian untuk kita pertanyakan, benarkah persoalan <em>self-control </em>dan FOMO hanya bisa kita salahkan pada diri sendiri? Atau jangan-jangan fenomena ini sebenarnya menyimpan pelik ekonomi-sosial-politik yang penting untuk kita refleksikan bersama?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1280" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18.png" alt="image 18" class="wp-image-126013" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18-768x910.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18-696x824.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18-1068x1265.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18-1920x2275.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-18-354x420.png 354w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sisi Kelam Konsumerisme-Kapitalisme</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita ingin bicara tentang kebiasaan FOMO dan kemampuannya untuk membuat orang merasa perlu membayar sesuatu hanya agar tidak merasa tidak ketinggalan, maka tentu kita pun perlu membahas tentang fenomena konsumerisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsumerisme sendiri adalah fenomena sosial yang mendorong masyarakat untuk membeli lebih banyak barang daripada yang sebenarnya mereka butuhkan. Meski tidak bisa dijelaskan dalam penjelasan yang paralel, konsumerisme sesuai perkembangannya di masyarakat sangat berhubungan dengan sistem yang mungkin kalian pernah dengar, yakni kapitalisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, kalau konsumerisme ini adalah fenomena sosial, kapitalisme di sisi lain – kalau kita berkaca pada pandangan Adam Smith di buku <em>The Wealth of Nations –</em> adalah sistem ekonomi yang mendorong semua elemen masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melibatkan diri dalam pasar. Dan seperti kata Smith, esensi utama dari kapitalisme adalah murni untuk menciptakan keuntungan finansial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana budaya FOMO bisa tercipta melalui perkawinan antara konsumerisme dan kapitalisme?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, Nimet Harmanci dalam tulisannya <em>Consumerism is the Core Ideology of the Capitalism</em>, menyebutkan bahwa agar kapitalisme bisa terus berjalan di masyarakat, maka ia membutuhkan suatu mesin motor yang kuat, seperti ideologi dalam suatu negara. <em>Nah</em>, dalam kapitalisme, ideologi yang sangat cocok untuk membuatnya tetap kuat tidak lain adalah fenomena sosial konsumerisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Harmanci melihat bahwa konsumerisme mampu menjadi semacam <em>invisible hand </em>atau tangan tak terlihat dalam sistem kapitalis yang mampu mengatur hampir segala kehidupan masyarakat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Media sosial yang sangat dipengaruhi rekayasa algoritme contohnya, adalah bukti nyata <em>invisible hand </em>konsumerisme dalam bentuk modern yang ternyata bisa membuat orang merasa begitu tertinggal jika mereka tidak memiliki barang baru -produk kapitalisme- yang saat ini sedang ramai dibicarakan orang-orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan memunculkan sensasi seperti tayangan iklan  menarik yang berintensitas tinggi misalnya, publik mampu dimanipulasi sehingga dapat berpikir produk yang sedang diiklankan memang benar-benar harus didapatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Solusi yang otomatis terlintas di orang-orang yang terpapar “modus” konsumerisme-kapitalisme ini tentu adalah ikut membeli barang yang sedang jadi sorotan publik tersebut. Hal ini tentu berlaku juga pada produk yang tidak bisa kita pegang, seperti kesempatan untuk menonton konser BLACKPINK, misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau memang konsumerisme sudah memiliki peran yang sekuat itu, maka Harmanci menilai bahwa masyarakat yang demikian telah terserap ke dalam “lingkaran setan konsumsi”. Mereka akan membeli produk baru, menggunakannya, membuangnya, lalu membeli barang baru lagi yang mungkin sebenarnya tidak terlalu berguna untuk kehidupan mereka. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, pola seperti inilah yang membuat adanya tren FOMO di masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, maka kita pun bisa simpulkan bahwa fenomena sosial modern seperti budaya FOMO sesungguhnya bukanlah sebuah fenomena organik yang muncul begitu saja, tetapi merupakan hasil rekayasa sosial-ekonomi yang muncul akibat adanya motif-motif konsumerisme dan kapitalisme. Tentunya, aktor-aktor tertinggi dalam industri yang terlibat dalam produk yang kita beli pantas kita salahkan atas budaya konsumtif yang mulai meresahkan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Eits</em>, tentunya bukan <em>member-member</em> BLACKPINK ya yang kita salahkan, tapi mungkin rumah produksi mereka dan para sponsor yang memberi napas hidup pada mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, meskipun konsumerisme dan kapitalisme telah menjadi sebuah desain yang mengatur kehidupan sosial ekonomi kita, masih adakah kesempatan bagi kita agar terselamatkan dari godaan FOMO?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1210" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19.png" alt="image 19" class="wp-image-126014" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19-768x860.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19-696x779.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19-1068x1196.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19-1920x2151.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-19-374x420.png 374w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tidak Semudah itu Melepas FOMO?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Orang-orang mungkin akan mengatakan bahwa kalau mental kita kuat, maka kita bisa aman dari godaan sistem yang kapitalistik. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Selain mampu “memanipulasi” masyarakat secara makro, konsumerisme dan kapitalisme juga dapat mengatur mental seseorang dari level mikro atau individual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jerzy Eisenberg-Guyot dan Seth J. Prins dalam jurnal mereka <em>The impact of capitalism on mental health: An epidemiological perspective</em>, menilai bahwa pola konsumtif dalam sistem ekonomi yang kapitalistik memiliki pengaruh yang begitu besar bagi kesehatan mental orang-orang. Hal ini bisa terjadi karena dari perspektif psikologis, konsumerisme dan kapitalisme mampu merusak mental seseorang melalui tiga mekanisme, yakni alienasi, eksploitasi, dan dominasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alienasi di sini adalah pengasingan, dan pengasingan sosial bisa terjadi pada siapa saja ketika seseorang dalam sistem yang konsumtif dan kapitalistik tersebut tidak dapat merasa relevan dengan apa yang sedang diperbincangkan orang banyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks BLACKPINK sebagai produk kapitalisme yang dipromosikan konsumerisme, alienasi dapat terjadi karena manusia secara dasarnya selalu merasa nyaman hanya jika berhubungan dengan orang-orang yang dianggap sepaham dengan mereka. Jadi, kalau pun memang tidak disengaja, orang yang tidak bisa mengikuti perbincangan BLACKPINK secara alamiah akan terasingkan dari kelompok teman-temannya di media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, eksploitasi. Orang-orang yang telah terjebak dalam “lingkaran setan konsumsi” akan terus menjadi sumber daya yang sangat menarik bagi para kapitalis. Oleh karena itu, bagaimana pun caranya, industri hiburan yang mengelola BLACKPINK akan membuat agar hasrat untuk meminta produk baru selalu dalam benak masyarakat, contohnya dengan membuat produk yang &#8220;dijual&#8221; memiliki kuantitas yang terbatas, atau hanya terjadi dalam waktu yang sangat jarang, contohnya seperti konser musik BLACKPINK.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mirisnya, meskipun mungkin masyarakat tahu bahwa membeli tiket BLACKPINK adalah sesuatu yang tidak akan berguna secara signifikan pada kehidupan mereka, mereka tetap akan merasa ada dorongan untuk membeli tiketnya karena tidak bisa menemukan alternatif dari hiburan tersebut. <em>Girlband-girlband</em> lain tidak akan “terasa” serupa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan yang terakhir, adalah dominasi. Karena industri di atas BLACKPINK secara prinsipnya menyadari mereka mampu mengatur hasrat seseorang untuk membeli “produknya”, mereka pun secara tidak langsung menguasai kebebasan para penggemarnya. Masyarakat yang terjebak dalam belas kasih industri hiburan akan mendedikasikan kehidupan mereka untuk mengejar kesempatan hadir di konser BLACKPINK atau setidaknya pernah melihat mereka secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, karena adanya tiga faktor yang mampu mempengaruhi mental seseorang tersebut, bisa kita katakan secara tegas bahwa dari level individual pun kita tidak akan terlepas dari budaya konsumtif seperti FOMO. Pilihan untuk terlepas darinya mungkin hanya dua, pertama, adalah dengan mengorbankan kesehatan mental kita, dan kedua, adalah dengan melepaskan diri dari kehidupan bermasyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan jelas, tentu dua pilihan itu adalah pilihan-pilihan yang sulit, bukan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, lain kali bila kalian ingin mengatakan pada seseorang untuk melepaskan kapitalisme jika tidak ingin terjebak budaya FOMO, sepertinya kalian harus berhati-hati karena bisa jadi mereka pun sebenarnya ingin, tapi tidak mampu melakukannya. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="lADpXyWuMvo"><iframe loading="lazy" title="Belanda Ingin Pindahkan Ibu Kota dari Jakarta?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/lADpXyWuMvo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/BLACKPINK-DAN-SISI-KELAM-FOMO-1024x576.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>K-Pop Jadi Komoditas Politik?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/k-pop-jadi-komoditas-politik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2022 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[BTS]]></category>
		<category><![CDATA[Korean Wave]]></category>
		<category><![CDATA[kpop]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=97067</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="881" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--881x1024.jpg" alt="" class="wp-image-97050" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--881x1024.jpg 881w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--258x300.jpg 258w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--129x150.jpg 129w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--768x892.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--696x809.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--1068x1241.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--361x420.jpg 361w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik-.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 881px) 100vw, 881px" /><figcaption>Kandidat potensial Pilpres 2024 tunjukkan gestur menyukai K-Pop</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/K-Pop-Jadi-Komoditas-Politik--881x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
