<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kopi &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kopi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 May 2026 04:51:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kopi &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Prabowo&#8217;s Coffee Theory</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/prabowos-coffee-theory/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 May 2026 04:34:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169552</guid>

					<description><![CDATA[Di Rapat Paripurna DPR/MPR, 20 Mei 2026, Prabowo spontan berkelakar mencari kopi saat berpidato – sebuah bahasa politik yang menarik bagi banyak pihak. Bagi seorang presiden, momen itu bukan sekadar kantuk. Itu adalah sinyal politik: bahwa kekuasaan pun butuh jeda, dan kenyamanan tak harus mewah. Kopi adalah simpul sejarah, politik dan kekuasaan Indonesia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-27-2026-11_46am.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di Rapat Paripurna DPR/MPR, 20 Mei 2026, Prabowo spontan berkelakar mencari kopi saat berpidato – sebuah bahasa politik yang menarik bagi banyak pihak. Bagi seorang presiden, momen itu bukan sekadar kantuk. Itu adalah sinyal politik: bahwa kekuasaan pun butuh jeda, dan kenyamanan tak harus mewah. Kopi adalah simpul sejarah, politik dan kekuasaan Indonesia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Pada abad ke-17, kedai kopi di London bukan sekadar tempat minum, melainkan menjadi kantor tanpa atap birokrasi, parlemen tanpa podium, dan universitas tanpa kurikulum. Di sinilah para filsuf, pedagang, jurnalis, dan revolusioner duduk bahu-membahu — berbagi meja, berbagi pikiran, dan tanpa disadari, berbagi masa depan peradaban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benjamin Franklin, salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat, bahkan meminta surat-surat pribadinya dikirim langsung ke kedai kopi langganannya di London. Ini saat dirinya tinggal untuk beberapa waktu di London ya. Baginya, kedai kopi bukan tempat singgah — melainkan pusat gravitasi gagasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari tiga abad berselang, di dalam gedung Senayan yang dingin dan penuh protokoler, Presiden Prabowo Subianto melakukan sesuatu yang sederhana namun bergema jauh: ia berkelakar mencari kopi di tengah Rapat Paripurna DPR/MPR pada 20 Mei 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momen itu terasa kecil. Namun dalam semiotika politik, ia menyimpan muatan yang besar.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kopi sebagai Bahasa Kekuasaan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah mencatat bahwa para pemimpin besar dunia memiliki hubungan yang lebih dari sekadar fungsional dengan kopi. George Washington, setelah Boston Tea Party pada 1773, secara sadar menolak teh sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Inggris dan menggantinya dengan kopi — menjadikan minuman itu sebagai deklarasi identitas nasional yang baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Thomas Jefferson menyebutnya sebagai minuman favorit dunia yang beradab. Theodore Roosevelt, presiden ke-26 Amerika, mengonsumsi kopi dalam jumlah yang oleh putranya digambarkan mendekati ukuran sebuah bak mandi setiap harinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun yang menarik bukan sekadar volume atau selera. Yang menarik adalah fungsi simbolik yang kopi emban dalam narasi kekuasaan mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah Prabowo masuk ke dalam garis sejarah yang panjang itu. Ketika ia menyebut kopi di ruang Paripurna — forum paling formal dalam tata negara Indonesia — ia sedang melakukan apa yang oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai penghancuran distingsi kelas secara performatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam teori <em>distinction</em>-nya, Bourdieu berargumen bahwa selera adalah penanda kelas sosial yang tidak pernah netral. Seorang aristokrat militer dengan akses ke kopi Geisha Panama atau Blue Mountain Jamaica yang memilih menyebut kopi rakyat seperti Kapal Api misalnya — secara sadar atau tidak — sedang meruntuhkan hierarki selera itu di hadapan publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesannya tersirat namun kuat: saya adalah bagian dari kelompok elite, tetapi bahasa kenyamanan saya adalah bahasa kalian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah poin menarik soal relasi Prabowo dan kopi yang seolah menjadi sebuah manuver populis yang tidak membutuhkan panggung kampanye, cukup sebuah seloroh di tengah rapat negara. Kopi, dalam konteks ini, bukan minuman. Ia adalah infrastruktur simbolik yang membangun jembatan antara kekuasaan dan rakyat tanpa perlu satu pun kalimat retorika.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Warung Kopi, Natsir, Aidit, dan Ruang Publik</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami mengapa kopi memiliki daya rekat politik yang begitu dalam di Indonesia, kita perlu mundur ke era paling ideologis dalam sejarah bangsa ini: Demokrasi Parlementer tahun 1950-an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sidang Dewan Konstituante, Mohammad Natsir — Ketua Masyumi, pengusung politik Islam modernis yang taat — dan D.N. Aidit — Ketua PKI, ideolog komunis yang militan — adalah dua kutub yang saling bermusuhan secara frontal. Perdebatan mereka di podium bisa mendidihkan darah. Tidak ada ideologi yang lebih berseberangan dari Islam politik dan komunisme di Indonesia kala itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun ada sebuah anomali yang indah di luar ruang sidang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selepas saling serang argumen, Natsir dan Aidit kerap ditemukan duduk berdua di kantin gedung parlemen, menikmati kopi bersama. Di meja itu, mereka tidak membicarakan ideologi — mereka bicara tentang keluarga, tentang keseharian, tentang hal-hal yang membuat keduanya tetap manusia. Bahkan dalam satu kisah yang terkenal, Aidit yang mengayuh sepeda melintas di Lapangan Banteng dan melihat Natsir berdiri menunggu becak. Ia berhenti dan berteriak: &#8220;Bung Natsir, ayo saya bonceng!&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi dan keakraban informal itu tidak menghapus perbedaan ideologi mereka. Tapi ia mencegah permusuhan politik berubah menjadi kebencian personal yang permanen — sesuatu yang sangat langka, bahkan di era demokrasi modern sekalipun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini bukan kebetulan kultural, melainkan punya akar filosofis yang dalam. Jurgen Habermas, filsuf Jerman paling berpengaruh dalam teori demokrasi deliberatif, memperkenalkan konsep <em>The Public Sphere </em>— ruang publik yang berada di luar kendali negara maupun pasar, tempat warga berdialog secara setara. Habermas sendiri menjadikan kedai kopi Eropa abad ke-17 sebagai contoh historis utama konsep ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia, ruang publik itu bernama Warung Kopi. Dan warkop bukan sekadar metafora — ia adalah institusi sosial yang riil. Di sinilah hierarki luruh. Tukang becak dan pensiunan jenderal duduk di bangku kayu yang sama. Mahasiswa dan pedagang pasar berdebat dengan hak berbicara yang setara. Pergerakan kebangsaan seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam tidak lahir dari rapat formal, melainkan dari diskusi-diskusi cair di ruang seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang Prabowo lakukan di Paripurna adalah membawa energi warkop ke dalam ruang kenegaraan yang paling formal. Dan itu — dalam ukuran simbolik — adalah sesuatu yang revolusioner.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kopi sebagai Infrastruktur Diplomasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika lobi meja makan adalah strategi politik yang sudah usang dan terbaca, maka “Lobi Secangkir Kopi” menawarkan sesuatu yang berbeda secara kualitatif: ia tidak terasa seperti strategi. Ia terasa seperti kemanusiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang membuat kopi memiliki keunggulan diplomatik yang tidak dimiliki medium lain. Kopi mengandaikan kesabaran — ia tidak bisa diminum terburu-buru. Ia mengandaikan kehadiran — dua orang yang berbagi satu meja kopi secara alamiah akan saling menatap, bukan menghindari. Dan ia mengandaikan kesetaraan — tidak ada kopi yang secara inheren lebih berkuasa dari kopi lainnya di atas meja yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka ini, momen Prabowo bukan sekadar kelucuan yang viral. Ia adalah <em>data point</em> dalam sebuah pola panjang: bahwa para pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah — dari Franklin yang meracik gagasan brilian di kedai kopi London, hingga Natsir dan Aidit yang menjaga kemanusiaan mereka di kantin parlemen — memahami bahwa kekuasaan yang berkelanjutan tidak hanya dibangun di atas podium, tetapi juga di atas meja kopi yang sederhana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi, dengan demikian, bukan pelengkap rapat. Ia adalah bahasa politik yang paling jujur — karena ia tidak bisa berpura-pura. Anda tidak bisa memesan kopi dengan angkuh dan tetap tampak merakyat. Anda tidak bisa ngopi sambil berpidato. Kopi memaksa Anda untuk berhenti sejenak, duduk, dan menjadi manusia biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan mungkin, itulah justru yang paling dibutuhkan oleh politik Indonesia hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kata Jackie Chan dalam ungkapannya yang sederhana namun tepat: &#8220;Coffee is a language in itself.&#8221; Dan Prabowo, tampaknya, fasih berbicara dalam bahasa itu. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lg5x8PE9rjQ"><iframe title="Misteri PKI di Penculikan Rengasdengklok" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lg5x8PE9rjQ?start=80&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-27-2026-11_46am.mp3" length="1970924" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/chatgpt-image-may-27-2026-11_50_27-am-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kopi Bukan Filosofi tapi Hilirisasi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kopi-bukan-filosofi-tapi-hilirisasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A99]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 14:57:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[hilirisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169340</guid>

					<description><![CDATA[Prabowo berkata kepada Lula bahwa Indonesia memiliki kopi terbaik. Presiden Prabowo melanjutkan legacy hilirisasi kopi Indonesia. Sekarang, Mampukah Indonesia kembali ke filosofi kesejahteraan petaninya?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-16-2026-9_51pm.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Prabowo berkata kepada Lula bahwa Indonesia memiliki kopi terbaik. Presiden Prabowo melanjutkan legacy hilirisasi kopi Indonesia. Sekarang, Mampukah Indonesia kembali ke filosofi kesejahteraan petaninya?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://pinterpolitik.com/" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dua abad lalu, Belanda memaksa orang Jawa menanam kopi untuk membangun kota-kota Eropa. Hari ini, kopi yang sama antre panjang di Taipei dan Amsterdam. Yang berubah bukan kopinya, melainkan siapa yang kini menjual cerita dan menikmati nilai tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 1830, Johannes van den Bosch memperkenalkan kebijakan yang dunia kenang sebagai <em>Cultuurstelsel</em>. Setiap keluarga petani Jawa diwajibkan menyisihkan seperlima lahannya untuk ditanami komoditas ekspor pilihan pemerintah kolonial: tebu, nila, dan kopi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya mengesankan dalam logika akuntansi kolonial. Antara 1831 hingga 1877, kas Belanda menerima pemasukan dari Hindia Belanda senilai hampir 800 juta gulden: cukup untuk melunasi utang perang Napoleon, membangun jaringan kereta api, dan membiayai kanal-kanal indah Amsterdam. Kopi Jawa adalah salah satu mesin raksasa di balik kemakmuran itu. Petani yang menanamnya mati kelaparan karena lahan pangan mereka disita paksa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hampir dua abad kemudian, di Xinyi District Taipei, 350 orang berdiri antre berjam-jam di depan gerai berwarna coklat pada Sabtu pertama April 2026. Di Amsterdam, kota yang sebagian dibangun dari hasil kopi Jawa itu, sebuah kedai sederhana bernama Toko Kopi TUKU menyambut pengunjung Eropa dengan menu Kopi Susu Tetangga dan aroma gula aren Nusantara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada paksaan. Tidak ada kolonial. Hanya antrian panjang yang sukarela.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuatu yang fundamental telah berbalik.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Tanam Paksa ke Tanam Merek</strong><br><audio src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/piramida.mp3"></audio></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi masuk Indonesia bukan karena kehendak rakyatnya. Ironi sejarah paling keras: tanaman yang datang sebagai alat penindasan itu akhirnya menjadi identitas nasional paling dicintai. Dan kopi Indonesia sudah mendunia jauh sebelum ada media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 1970, seorang eksekutif perusahaan yang kelak menjadi Key Coffee Inc. Jepang menerima segenggam biji mentah Toraja sebagai hadiah dan langsung terpikat. Ia lalu mendirikan PT Toarco Jaya pada 1976, dan sejak 1979 kopi Toraja mulai dikirim ke Jepang dengan promosi besar-besaran. Publik Jepang langsung jatuh cinta dan menyebutnya <em>The Queen of Coffee</em>. Hari ini, 32 persen konsumen Jepang menyebut kopi Toraja sebagai <em>single-origin</em> favorit. Blue Bottle Coffee di Amerika menjual edisi khusus biji Toraja seharga 18 hingga 22 dolar per 250 gram. Di Amazon Jerman, ia masuk kategori <em>luxury goods</em> dengan harga tiga kali lipat rata-rata kopi biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktanya, Jepang lebih dulu memahami nilai simbolik kopi Indonesia dibanding Indonesia sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang selama ini hilang bukan kualitasnya. Yang hilang adalah narasi kepemilikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama puluhan tahun, Indonesia mengekspor keunggulan tanpa mengekspor identitasnya. Kopi Toraja harum di Tokyo, tapi mereknya milik Jepang. Kopi Gayo dikenal di Amsterdam, tapi yang menentukan harganya adalah importir Belanda. Inilah yang dalam teori Prebisch-Singer disebut sebagai jebakan <em>periphery</em>: negara penghasil bahan baku selalu kalah dalam pertukaran nilai dengan negara pengolah produk akhir. Indonesia kaya kualitas, miskin narasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Yang Dijual Bukan Kopi, tapi Indonesia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Masuk 2026, sesuatu bergeser secara mendasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi Kenangan membuka gerai di Taipei dan langsung viral. Antrian 350 orang per hari di akhir pekan untuk mencicipi kopi susu dengan gula aren membuktikan bahwa brand lokal bisa membangun pengalaman yang bersaing di pasar premium Asia. Toko Kopi TUKU memilih Amsterdam sebagai pintu masuk Eropa. Pilihan itu secara tidak sadar memiliki simbol kota yang dibangun di atas modal kopi Jawa kini menerima kedai kopi Indonesia dengan antrian pengunjung yang penasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalannya, yang sedang dijual Indonesia bukan lagi sekadar biji kopi. Dunia membeli sesuatu yang jauh lebih abstrak: suasana Jakarta, bahasa nongkrong kelas menengah urban, aroma gula aren, dan gagasan tentang Indonesia modern yang selama puluhan tahun kalah dominan dari budaya konsumsi Barat. Inilah <em>soft power</em> dalam pengertian Joseph Nye yang sesungguhnya: membuat orang asing mengonsumsi identitas suatu bangsa secara sukarela, tanpa paksaan, bahkan sambil antre panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pertama kalinya sejak era kolonial, Indonesia tidak hanya mengekspor kopi, tetapi mulai mengekspor pengalaman dan citra dirinya sendiri. Di titik inilah negara mulai melihat peluang geopolitik yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah Prabowo Subianto menemukan momentum yang ia butuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di forum internasional Tokyo, 2025, ia berdiri di hadapan para pemimpin dunia termasuk Presiden Brazil Lula da Silva dan berkata:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;<em>&#8220;My coffee is better than yours. I&#8217;m sorry, you&#8217;re my friend, but my coffee is better.&#8221;</em></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Di forum itu, kalimat tersebut terdengar seperti gurauan diplomatik. Tetapi bagi investor dan pelaku bisnis global, pesannya jauh lebih serius: Indonesia tidak lagi ingin sekadar menjual bahan mentah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dari hilirisasi nikel yang berujung sengketa WTO dengan Uni Eropa, hilirisasi kopi era Prabowo memilih jalur konsensual. Swasta memimpin ekspansi, negara memfasilitasi dan mendiplomasi. Antonio Gramsci menyebut model seperti ini sebagai hegemoni konsensual: pengaruh yang dibangun lewat persetujuan, bukan paksaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ratu Kopi dan Ironi yang Belum Selesai</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik keberhasilan itu, ironi paling keras menunggu untuk dihadapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi Toraja sudah menjadi <em>The Queen of Coffee</em> di Jepang selama lebih dari empat dekade. Key Coffee menjualnya sebagai <em>luxury goods</em> di seluruh dunia. Namun petani yang memanen biji-biji itu di pegunungan Tana Toraja masih bergulat dengan harga jual yang tidak mencerminkan kemewahan di etalase Tokyo atau Berlin. Dua puluh persen produk berlabel &#8220;Toraja&#8221; di pasar internasional bahkan diduga campuran biji kualitas rendah yang mencatut nama tanpa memberi satu rupiah pun kepada petani aslinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola yang sama berulang di Kopi Kenangan: 900 gerai, viral di Taipei, dalam persiapan IPO yang bisa membuat para pendiri dan investornya meraih kekayaan berlipat. Sementara biji kopi yang menjadi fondasi semuanya masih dibeli di kisaran Rp25.000 per kilogram. Petani tidak memiliki saham. Mereka tidak akan mendapat bagian dari perayaan itu. Mereka adalah protagonis dalam narasi hilirisasi, tapi bukan pemegang manfaat sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hilirisasi kopi era Prabowo adalah langkah yang benar dan harus didukung. Kopi Kenangan, TUKU, Kopi Toraja via Key Coffee: semua sedang menulis ulang narasi Indonesia di peta global dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya, ada satu pertanyaan yang tidak boleh berhenti diajukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu petani dipaksa menanam kopi agar Amsterdam bisa dibangun. Akan menjadi ironi baru jika, dua abad kemudian, Amsterdam kembali menikmati kopi Indonesia sementara petani yang menanamnya tetap tidak pernah benar-benar naik kelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau petani tetap miskin sementara dunia menikmati <em>premium coffee</em> Indonesia, maka apakah yang berubah hanya bentuk kolonialismenya? Hanya waktu yang tahu.. (A99)<br></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BeAa3I7Oluk"><iframe title="Sejarah Kedai Kopi dan Politik: Kisah Minuman Politik Perlawanan Ottoman Atas Budaya Eropa" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BeAa3I7Oluk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-16-2026-9_51pm.mp3" length="5298333" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/piramida.mp3" length="3539972" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/chatgpt-image-may-16-2026-09_27_27-pm-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Move on dari Sawit ke Kopi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/move-on-dari-sawit-ke-kopi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2026 01:44:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekspor]]></category>
		<category><![CDATA[kelapasawit]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[perdagangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166538</guid>

					<description><![CDATA[Kopi memiliki potensi ekonomi yang tidak kalah dari kelapa sawit, juga lebih ramah lingkungan. Pandangan kalian sendiri gimana nih soal ini? Share di kolom komentar ya.&#160; #infografis #pinterpolitik #politikindonesia #ekspor #kelapasawit #kopi #ekonomi #perdagangan #coffee]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166541" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-819x1024.png" alt="move on dari sawit ke kopi (1)" class="wp-image-166541" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166542" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-819x1024.png" alt="move on dari sawit ke kopi (2)" class="wp-image-166542" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166543" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-819x1024.png" alt="move on dari sawit ke kopi (3)" class="wp-image-166543" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi memiliki potensi ekonomi yang tidak kalah dari kelapa sawit, juga lebih ramah lingkungan. Pandangan kalian sendiri gimana nih soal ini? Share di kolom komentar ya.&nbsp;<img decoding="async" alt="☕️" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/2615_fe0f/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">#infografis #pinterpolitik #politikindonesia #ekspor #kelapasawit #kopi #ekonomi #perdagangan #coffee</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/move-on-dari-sawit-ke-kopi-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Filosofi Kopi Prabowo Subianto?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/filosofi-kopi-prabowo-subianto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2025 04:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[makanan favorit]]></category>
		<category><![CDATA[makanan favorit presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163411</guid>

					<description><![CDATA[Presiden Prabowo Subianto dikenal dengan kebiasaannya meminum kopi hitam. Apa sebenarnya filosofi kopi ala Prabowo?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/filosofi-kopi-prabowo.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><strong>Presiden Prabowo Subianto dikenal dengan kebiasaannya meminum kopi hitam. Apa sebenarnya filosofi kopi ala Prabowo?</strong></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Mereka sudah tahu, kalau Prabowo Subianto ada kopi, dia bicaranya 3,5 jam. Satu cangkir 3,5 jam, kalau dua cangkir 7 jam” – Prabowo Subianto, Presiden ke-8 RI</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin duduk menyimak pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto lewat layar televisi di ruang tamu kecilnya. Di antara kalimat-kalimat tegas dan jeda dramatis, mata Cupin terpaku pada satu detail yang muncul di layar: secangkir kopi hitam yang sesekali diangkat Prabowo sebelum melanjutkan pidatonya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan pertama kalinya Cupin melihat kebiasaan itu. Ia ingat, bahkan saat debat calon presiden atau kunjungan ke markas militer, Prabowo hampir selalu ditemani secangkir kopi hitam, tanpa gula, tanpa susu, hanya pahit dan pekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut ajudan yang pernah diwawancarai media, kopi hitam bukan sekadar minuman bagi Prabowo. Ia menyebutnya sebagai “teman berpikir” yang membantu Presiden tetap fokus dan tahan banting dalam menghadapi tekanan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin memiringkan kepalanya, mencoba membayangkan betapa kopi itu menjadi bagian dari ritme kerja sang presiden. Mungkin di balik keheningan ruang kerja, aroma robusta dari gelas porselen itu jadi saksi bagi keputusan-keputusan besar yang akan memengaruhi jutaan rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kebiasaan itu juga membuat Cupin bertanya-tanya. Mengapa Prabowo begitu suka minum kopi hitam? Mungkinkah ini bukan sekadar soal selera, melainkan simbol dari watak pemerintahannya nanti—pekat, lugas, dan tak diberi pemanis?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DL9qBXtpsbE/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DL9qBXtpsbE/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DL9qBXtpsbE/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Selera Makanan Presiden: Sebuah Idiosinkrasi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyantap mi rebus sembari memperhatikan pidato kenegaraan Presiden Prabowo. Tatapannya sesekali berpindah dari layar ke cangkir kopi hitam yang Prabowo genggam erat—tanpa gula, tanpa susu, hitam dan tegas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sela siaran, Cupin teringat sebuah tulisan akademis yang pernah ia baca. Dalam <em>How What You Eat Reveals Your Personality</em> oleh Ioannis Tsartsapakis dan Aglaia Zafeiroudi, disebutkan bahwa selera makan mencerminkan lima aspek utama kepribadian manusia, termasuk disiplin dan kestabilan emosi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga membaca dalam tulisan Michał Folwarczny berjudul <em>Plate, Glass, and Social Class</em> bahwa orang dengan orientasi dominasi lebih memilih makanan atau minuman yang memberi kesan kuat, seperti daging merah atau kopi pahit. Menurutnya, selera seperti itu menggambarkan pemimpin yang berwatak tegas, ingin menunjukkan otoritas, dan tidak segan tampil keras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak berhenti di situ, Cupin juga teringat tulisan <em>Nutrition and Cognitive Performance in Executive Leadership</em> oleh Anderson dan <em>Protein Intake Patterns and Cognitive Flexibility in Executive Leadership</em> oleh Richardson dan Thompson. Di sana dijelaskan bahwa pola makan sehat dan teratur membantu pemimpin mengambil keputusan secara efektif dan beradaptasi dalam tekanan tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang lebih menarik perhatian Cupin adalah tulisan Andrey Shcherbak berjudul <em>How Food Affects Political Regimes</em>, yang menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan bisa berhubungan dengan kecenderungan nilai demokrasi dan perubahan politik. Bahkan, menurut tulisan dari University of Pennsylvania berjudul <em>Political Appetites</em>, selera makan juga dapat menjadi strategi komunikasi politik dan pencitraan pemimpin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyesap sisa kuah mi-nya dan memandangi Prabowo yang kini menutup pidatonya dengan nada berat. Lantas, bagaimana sifat Presiden Prabowo bila dilihat dari selera makanan dan minumannya? Mungkinkah ini sejalan dengan kebijakan-kebijakannya selama ini?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DL7S3uYpsKZ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DL7S3uYpsKZ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DL7S3uYpsKZ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Filosofi Kopi Prabowo: Tanda Tegas?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin sedang duduk di warung pecel langganannya ketika sebuah video YouTube dari channel PinterPolitik TV diputar di layar televisi kecil di sudut ruangan. Judulnya langsung membuatnya menoleh: <em>“Resep Politik: Turun-temurun dari Soekarno ke Megawati-Jokowi”</em>—dan Cupin pun terpaku sejak detik pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia melihat Soekarno yang gemar makan tempe bacem dan pecel, tampak begitu dekat dengan akar budaya dan rakyat. Tak heran bila kebijakannya menekankan kedaulatan pangan dan budaya sebagai fondasi nasionalisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara, Soeharto lebih memilih tahu, tempe, dan semur lidah—selera yang sederhana namun konservatif. Gaya kepemimpinannya pun mencerminkan stabilitas dan pembangunan ekonomi berorientasi produksi pangan lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BJ Habibie punya selera yang sedikit berbeda, yaitu makanan khas Makassar berbahan dasar ikan dan kue-kue tradisional. Baginya, makanan adalah cermin teknokrasi yang tetap berakar budaya, sebagaimana kebijakan teknologinya yang tetap menghargai nilai-nilai lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Joko Widodo tampil sederhana, dengan menu seperti sate buntel dan soto Solo. Citra kepemimpinan yang merakyat, pragmatis, dan pro-rakyat pun makin kuat berkat kesederhanaan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu muncullah Prabowo Subianto dengan kopi hitam Hambalang, nasi goreng, terong balado, dan gado-gado. Cupin memperhatikan bahwa tak seperti pemimpin lain yang konsisten dalam satu pola, Prabowo memadukan makanan tradisional yang merakyat dengan minuman khas yang kompleks—seolah memadukan kedekatan dengan rakyat dan karakter yang sulit ditebak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah kekhusyukan menatap layar, Cupin membatin. Mungkinkah dari selera makan saja kita bisa menebak arah kebijakan seorang presiden? Atau justru, di balik racikan kopi itu, tersimpan rahasia tentang wajah pemerintahan yang akan datang—tenang, kuat, tapi penuh kejutan? (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Iy1i-x4hNAM"><iframe loading="lazy" title="Resep Politik: Turun-temurun dari Soekarno ke Megawati-Jokowi" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Iy1i-x4hNAM?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/filosofi-kopi-prabowo.mp3" length="2462699" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/filosofi-kopi-prabowo-subianto-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Harga Teman!</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/harga-teman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 May 2025 02:27:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[bistro]]></category>
		<category><![CDATA[cafe]]></category>
		<category><![CDATA[Jaksel]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[WimBistroandCafe]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=161362</guid>

					<description><![CDATA[Ini udah HARGA TEMAN banget-nget-nget-nget!&#160; Di situasi ekonomi yang makin syulit, harga-hargapun terus naik. Dari Tebet, Senopati, Blok M, Panglima Polim, hingga wilayah-wilayah kawasan khusus per-kafe-an lainnya, imbas sosio-ekonomi ini mulai terasa.&#160; Apakah kita HARUS BERDEMO?! Tenang, wahai teman-teman. Sebagai bentuk SOLIDITAS kami untuk masyarakat, Wim Bistro &#38; Cafe tetap menyediakan HARGA TEMAN!&#160; Buruan cek [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-819x1024.png" alt="harga teman 1" class="wp-image-161364" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-819x1024.png" alt="harga teman 2" class="wp-image-161365" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-819x1024.png" alt="harga teman 3" class="wp-image-161367" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ini udah HARGA TEMAN banget-nget-nget-nget!&nbsp;<img decoding="async" alt="☕" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/2615/72.png"><img decoding="async" alt="🍵" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f375/72.png"><img decoding="async" alt="🍴" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f374/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di situasi ekonomi yang makin syulit, harga-hargapun terus naik. Dari Tebet, Senopati, Blok M, Panglima Polim, hingga wilayah-wilayah kawasan khusus per-kafe-an lainnya, imbas sosio-ekonomi ini mulai terasa.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah kita HARUS BERDEMO?! Tenang, wahai teman-teman. Sebagai bentuk SOLIDITAS kami untuk masyarakat, Wim Bistro &amp; Cafe tetap menyediakan HARGA TEMAN!&nbsp;<img decoding="async" alt="✨" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/2728/72.png"><img decoding="async" alt="🫶🏼" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1faf6_1f3fc/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Buruan cek HARGA TEMAN kami dengan langsung datang aja ke Aditiyawarman atau Kebayoran Lama ya! :3&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">#WimBistroandCafe #WimBistro #Jaksel #kopi #cafe #bistro #BlokM #infografis #politikindonesia #beritapolitik #beritapolitikterkini</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/harga-teman-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kedai Kopi dan Politik: Kisah Minuman Politik Perlawanan Ottoman Atas Budaya Eropa</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinpol-tv/sejarah-kedai-kopi-dan-politik-kisah-minuman-politik-perlawanan-ottoman-atas-budaya-eropa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[B62]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2024 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[PinPol TV]]></category>
		<category><![CDATA[kedai kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kopi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=145193</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Sejarah Kedai Kopi dan Politik: Kisah Minuman Politik Perlawanan Ottoman Atas Budaya Eropa" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BeAa3I7Oluk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption class="wp-element-caption">Tahun 1400-an menandai periode penting di wilayah Kekaisaran Ottoman.Ini adalah periode ketika imperium Islam besar ini makin meluaskan pengaruhnya, salah satunya dengan menundukkan Konstantinopel.Ottoman kemudian menguasai jalur sutera perdagangan dari Eropa ke Asia.</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/maxresdefault-1-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mau Promo Pemilu? Jangan Golput!</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/mau-promo-pemilu-jangan-golput/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2024 11:51:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[coffee]]></category>
		<category><![CDATA[diskon pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Guma Coffee Shop Aditiawarman]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres2024]]></category>
		<category><![CDATA[promo pemilu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=143780</guid>

					<description><![CDATA[Nggak dapat diskon karena nggak nyoblos? Yang bener aja, rugi dong!&#160; Sektor swasta-pun mendukung agar para pemilih menyalurkan hak suaranya di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Banyak&#160;brand&#160;– mulai dari pasar swalayan, kafe, restoran, hingga merek fesyen – menawarkan berbagai diskon untuk mereka yang telah memilih. Nah, bagi yang sudah memilih pada 14 Februari 2024 besok, kalian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1013" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-1013x1024.jpg" alt="1 mau promo pemilu jangan golput" class="wp-image-143783" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-1013x1024.jpg 1013w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-297x300.jpg 297w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-148x150.jpg 148w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-768x777.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-150x152.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-300x303.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-696x704.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-1068x1080.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1013px) 100vw, 1013px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Nggak dapat diskon karena nggak nyoblos? Yang bener aja, rugi dong!&nbsp;<img decoding="async" alt="👀" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f440/32.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sektor swasta-pun mendukung agar para pemilih menyalurkan hak suaranya di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Banyak&nbsp;<em>brand</em>&nbsp;– mulai dari pasar swalayan, kafe, restoran, hingga merek fesyen – menawarkan berbagai diskon untuk mereka yang telah memilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, bagi yang sudah memilih pada 14 Februari 2024 besok, kalian bisa mendapatkan diskon sebesar 50% di Guma Coffee Shop Aditiawarman!&nbsp;<img decoding="async" alt="🎉" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f389/32.png"><img decoding="async" alt="☕" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/2615/32.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Caranya mudah, hanya dengan menunjukkan jari kelingking kalian yang bertinta biru sebagai tanda telah memilih.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">So, tunggu apa lagi? Buruan salurkan hak suaramu untuk secangkir demokrasi at Guma Coffee Shop Aditiawarman!&nbsp;<img decoding="async" alt="☕" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/2615/32.png"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/1-mau-promo-pemilu-jangan-golput-1013x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nasib Kopi Indonesia di Eropa</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/nasib-kopi-indonesia-di-eropa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Dec 2023 09:42:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[ekspor]]></category>
		<category><![CDATA[EU]]></category>
		<category><![CDATA[europeanunion]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[kopi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[UniEropa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=141754</guid>

					<description><![CDATA[Kopi kopi apa yang dilarang? Kopikir aku deforestasi.&#160; Uni Eropa (UE) telah menerapkan European Union Deforestation-free Regulation (EUDR) pada tahun 2023. Aturan ini akan meminta para pelaku usaha pertanian dan perkebunan – mulai dari kelapa sawit, kakao, hingga kopi – untuk melakukan uji tuntas (due diligence) sebagai bukti bisnisnya bebas dari penggundulan hutan. Masalahnya, para [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="929" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-929x1024.jpg" alt="nasib kopi indonesia di eropa" class="wp-image-141757" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-929x1024.jpg 929w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-272x300.jpg 272w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-136x150.jpg 136w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-768x847.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-150x165.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-300x331.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-696x768.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-1068x1178.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 929px) 100vw, 929px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi kopi apa yang dilarang? Kopikir aku deforestasi.&nbsp;<img decoding="async" alt="🙁" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f641/32.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Uni Eropa (UE) telah menerapkan European Union Deforestation-free Regulation (EUDR) pada tahun 2023. Aturan ini akan meminta para pelaku usaha pertanian dan perkebunan – mulai dari kelapa sawit, kakao, hingga kopi – untuk melakukan uji tuntas (<em>due diligence</em>) sebagai bukti bisnisnya bebas dari penggundulan hutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya, para petani kopi Indonesia dinilai belum siap mengikuti standar dari UE. Alhasil, aturan ini dinilai bisa berdampak terhadap ekspor kopi Indonesia ke Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>,&nbsp;<em>gimana&nbsp;</em>menurut kalian?&nbsp;<img decoding="async" alt="🤔" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f914/32.png"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/nasib-kopi-indonesia-di-eropa-929x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hikayat Kopitiam</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/hikayat-kopitiam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A49]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Oct 2023 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[kopitiam]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[socioloop]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=138733</guid>

					<description><![CDATA[socioloop.co Koptiam, atau kopitiam, adalah istilah yang merujuk kepada kedai kopi tradisional yang populer di Asia Tenggara, khususnya di Malaysia, Singapura, dan beberapa negara tetangga seperti Indonesia dan Brunei. Istilah ini berasal dari kata &#8220;kopi&#8221; dalam bahasa Hokkien, bahasa yang umumnya digunakan oleh komunitas Tionghoa di wilayah tersebut. Artikel ini akan membahas sejarah, asal-usul, hal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>socioloop.co</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Koptiam, atau kopitiam, adalah istilah yang merujuk kepada kedai kopi tradisional yang populer di Asia Tenggara, khususnya di Malaysia, Singapura, dan beberapa negara tetangga seperti Indonesia dan Brunei. Istilah ini berasal dari kata &#8220;kopi&#8221; dalam bahasa Hokkien, bahasa yang umumnya digunakan oleh komunitas Tionghoa di wilayah tersebut. Artikel ini akan membahas sejarah, asal-usul, hal menarik, dan perkembangan koptiam hingga saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Koptiam pertama kali muncul di pertengahan abad ke-19, saat banyak imigran Tionghoa datang ke wilayah tersebut untuk bekerja di tambang dan perkebunan. Mereka membawa tradisi minum teh dan kopi dari Tiongkok, yang kemudian menggabungkan unsur-unsur lokal dan budaya setempat dalam bisnis kopi mereka. Awalnya, koptiam adalah kedai kopi yang sederhana, dengan penjual kopi dan teh yang dikenal sebagai &#8220;Ah Pek&#8221; atau &#8220;Ah Ma.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Koptiam dikenal dengan dekorasi yang sederhana dan meja kayu, serta karya seni lama di dinding yang menciptakan nuansa nostalgis. Ini adalah tempat yang ramah, yang menyatukan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat. Koptiam juga terkenal dengan kopi tradisionalnya yang kuat dan aromatik. Kopi koptiam diseduh dengan menggunakan metode &#8220;sock&#8221; atau kantung kopi kain yang digantung di atas gelas. Teh juga merupakan minuman yang populer di koptiam, dengan teh tarik dan teh O yang menjadi favorit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain minuman, koptiam juga menyajikan berbagai hidangan jalanan, seperti roti bakar dengan mentega dan selai kaya, nasi lemak, mee goreng (mie goreng), dan lainnya. Hidangan ini menjadi favorit di kalangan penduduk setempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring berjalannya waktu, koptiam telah mengalami banyak perubahan. Sebagian besar koptiam modern telah mengadaptasi menu mereka untuk mencakup berbagai hidangan lokal dan internasional, seperti mi ayam, roti lapis, dan hidangan Tionghoa seperti<em> wantan mee</em> dan <em>char kway teow.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, beberapa koptiam telah menjalani transformasi menjadi kedai kopi yang lebih modern, menyajikan kopi spesialis dengan bijaksana. Namun, banyak koptiam tradisional masih bertahan dengan tetap mempertahankan suasana klasik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan teknologi juga telah memengaruhi koptiam. Banyak koptiam modern menerima pesanan melalui aplikasi ponsel dan bahkan memiliki layanan antar. Hal ini memungkinkan koptiam untuk tetap bersaing dalam era digital yang berkembang pesat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Koptiam adalah bagian integral dari budaya kopi di Asia Tenggara. Dengan sejarah yang kaya dan unik, serta menu yang beragam, koptiam menarik baik bagi wisatawan maupun penduduk setempat. Meskipun telah mengalami perubahan dan perkembangan, koptiam tetap menjadi tempat yang istimewa untuk menikmati kopi, teh, dan makanan lezat sambil merasakan sepotong sejarah dan tradisi yang melekat padanya. Dalam lingkungan yang semakin modern, koptiam tetap menjadi tempat yang menghangatkan hati dan mengingatkan kita pada keindahan sederhana dari minum kopi dan menikmati hidangan bersama teman dan keluarga. (A49)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/10/ilustrasi-kopitiam-kontan-dot-id.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Sejarah di Tanah Kelahiran Kopi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/menelusuri-jejak-sejarah-di-tanah-kelahiran-kopi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A49]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Oct 2023 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Ethiopia]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=138512</guid>

					<description><![CDATA[socioloop.co Ketika kita menyeduh secangkir kopi di pagi hari, sedikit di antara kita yang menyadari bahwa biji kopi yang kita nikmati memiliki akar sejarah yang mendalam di Etiopia, tanah kelahiran kopi. Etiopia tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi terbaik di dunia tetapi juga memiliki tradisi dan ritual kopi yang kaya dan bersejarah. Mari kita jelajahi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>socioloop.co</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Ketika kita menyeduh secangkir kopi di pagi hari, sedikit di antara kita yang menyadari bahwa biji kopi yang kita nikmati memiliki akar sejarah yang mendalam di Etiopia, tanah kelahiran kopi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Etiopia tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi terbaik di dunia tetapi juga memiliki tradisi dan ritual kopi yang kaya dan bersejarah. Mari kita jelajahi perjalanan kopi di tanah ini, dari sejarah awalnya hingga cara tradisional penyajiannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Legenda populer mengenai asal-usul kopi berasal dari Etiopia, dengan cerita tentang seorang gembala bernama Kaldi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikisahkan, Kaldi menemukan kopi setelah melihat kambing-kambingnya menjadi lebih berenergi setelah memakan buah dari pohon tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penemuan ini akhirnya menyebar ke biarawan di biara lokal, yang mulai merebus buah-buah tersebut untuk membuat minuman yang membantu mereka tetap terjaga semalaman saat beribadah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari momen inilah, kopi mulai dikenal dan menyebar ke berbagai wilayah di Etiopia dan akhirnya ke seluruh dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyajian kopi di Etiopia adalah proses yang rumit dan ritualistik. Proses ini dikenal sebagai &#8220;Buna&#8221;, dan melibatkan beberapa Langkah. Biji kopi yang belum dipanggang akan dipanggang di atas kompor atau api terbuka hingga berwarna gelap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama proses ini, biji kopi akan terus diaduk untuk memastikan pemanggangan merata. Setelah dipanggang, biji kopi digiling menggunakan alat penggiling tradisional atau lesung batu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biji kopi yang sudah digiling kemudian diseduh dengan air panas dalam sebuah teko khusus yang disebut &#8220;jebena&#8221;. Penyeduhan membutuhkan waktu sekitar 10 menit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ritual minum kopi di Etiopia adalah kegiatan sosial yang mendalam. Bukan hanya sekedar aktivitas mengonsumsi kafein, tetapi juga saat di mana teman dan keluarga berkumpul untuk berbagi cerita dan berkomunikasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah sesi Buna biasanya melibatkan tiga putaran penyajian kopi: Abol (putaran pertama), Tona (putaran kedua), dan Baraka (putaran ketiga).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan setiap putaran, kopi menjadi semakin ringan. Dipercayai bahwa Baraka, atau putaran terakhir, memberkati peminum dengan keberuntungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi biasanya disajikan dengan gula atau kadang-kadang dengan garam atau mentega di beberapa wilayah Etiopia. Untuk menemani kopi, mungkin juga disajikan camilan seperti <em>popcorn</em> atau roti tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kopi, bagi Etiopia, bukan hanya produk ekspor atau minuman. Ini adalah bagian integral dari budaya dan sejarah mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ritual Buna menunjukkan betapa mendalamnya penghargaan masyarakat Etiopia terhadap kopi dan betapa pentingnya momen berbagi dengan komunitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat kita menikmati secangkir kopi Etiopia, kita tidak hanya menikmati rasa dan aroma, tetapi juga sejarah dan tradisi panjang dari tanah kelahiran kopi. (A49)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/10/ottencoffee-co-id-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
