<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Komeng &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/komeng/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Dec 2025 09:50:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Komeng &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Komeng: Dari Jester Jadi King?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/komeng-dari-jester-jadi-king/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[banjir Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[DPD]]></category>
		<category><![CDATA[Komeng]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[sumatra barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166017</guid>

					<description><![CDATA[Komeng datang bertemu dengan korban-korban bencana banjir di Sumatra Barat (Sumbar). Mungkinkah ini perjalanan seorang jester menjadi king?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/komeng-dari-jester-jadi-king.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Komeng datang bertemu dengan korban-korban bencana banjir di Sumatra Barat (Sumbar). Mungkinkah ini perjalanan seorang </strong><strong><em>jester</em> </strong><strong>menjadi </strong><strong><em>king</em></strong><strong>?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“The Cynic&#8217;s life is a life of &#8216;militant&#8217; truth&#8230; He makes the truth visible by his own lifestyle, by his own visible body.” – Michel Foucault, filsuf asal Prancis</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Di tengah lumpur yang masih basah dan sisa banjir yang membuat udara Sumatra terasa berat, Cupin berdiri sambil menatap relawan yang sibuk memindahkan logistik. Ia mengangkat alis dan berujar pelan bahwa tamu hari itu bukan sekadar pejabat, tetapi seseorang yang rambutnya sudah terkenal sebelum politik mengenalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua menit kemudian Komeng muncul dengan rompi Palang Merah Indonsia (PMI), celana santai, dan senyuman lebar yang membuat anak-anak berlari seolah sedang menyambut badut favorit di pesta kampung. Kehadirannya memecah suasana muram dan menciptakan ruang yang tidak dibangun oleh pidato, melainkan oleh tawa yang terasa jujur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya kunjungan pejabat ke zona bencana disambut iring-iringan mobil gelap, sepatu yang tampak terlalu bersih, dan wajah prihatin yang seolah sudah disiapkan sejak briefing pagi. Namun Komeng hadir tanpa koreografi itu dan menggantinya dengan obrolan ringan serta candaan yang mendahului salam protokoler.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin yang menyaksikan momen itu berkata bahwa yang dibutuhkan rakyat saat bencana bukan hanya data dan daftar kebutuhan, tetapi jeda sejenak dari duka yang membebani. Humor Komeng memberikan ruang napas yang tidak bisa ditawarkan oleh prosedur resmi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara beberapa pejabat sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto, Komeng justru diseret warga dari satu tenda ke tenda lain untuk sekadar berbincang dan bercanda. Tidak ada garis pembatas antara senator dan pengungsi, tidak ada jarak antara kursi kekuasaan dan tanah becek tempat mereka berdiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Video-video yang tersebar kemudian memperlihatkan bagaimana tawa menjadi bahasa yang lebih kuat daripada daftar instruksi teknis. Cupin melihat seorang nenek menggenggam tangan Komeng sambil tertawa dan berkomentar bahwa politik yang mampu membuka paru-paru rakyat adalah politik yang bekerja melalui empati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian orang, kehadiran Komeng mungkin tampak sederhana, tetapi bagi pengungsi yang hidup dalam ketidakpastian, senyumnya menjadi bentuk politik terapetik yang tidak tercatat dalam laporan kementerian. Ini adalah politik yang memulihkan kelelahan emosional yang sering terabaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini melampaui viralitas kunjungan singkat karena ia menawarkan sesuatu yang tidak mampu diberikan banyak pejabat yaitu kehangatan yang tidak dilapisi agenda. Modal sosial Komeng yang terbentuk sejak Pemilu terasa tumbuh melampaui popularitas menuju bentuk legitimasi baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin berkomentar lirih bahwa sering kali orang yang tidak terlihat politis justru membuat politik terasa paling manusiawi. Dalam tatapan warga yang menyambut Komeng, terlihat harapan kecil yang muncul dari keluwesan seorang komedian yang tidak mencoba tampil sebagai penyelamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di balik tawa itu muncul pertanyaan tentang fondasi yang mendasarinya. Apakah tindakan Komeng merupakan improvisasi belaka atau awal dari pola politik baru yang sedang menunggu momentum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menatap langit mendung dan menggumam bahwa orang yang mampu membuat rakyat tertawa di masa sulit memiliki modal yang lebih kuat daripada baliho setinggi bangunan tiga lantai. Pertanyaan pun bergerak pada masa depan peran Komeng dalam lanskap politik tanah air.</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DR6KFhVifPO/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DR6KFhVifPO/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DR6KFhVifPO/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menyoal </strong><strong><em>Jester Privilege</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membaca fenomena Komeng secara lebih mendalam, Cupin mengajak beberapa relawan duduk di pinggir tenda sambil menceritakan sejarah jester dalam istana kuno. Ia menyebut adanya konsep <em>The Jester Privilege</em> yaitu hak istimewa bagi badut istana untuk menertawakan raja tanpa takut dihukum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam literatur politik, posisi jester memungkinkan seseorang menyampaikan kritik paling jujur karena ia dianggap tidak mengancam kekuasaan secara langsung. Cupin menyebut bahwa sering kali orang yang pura-pura terlihat biasa justru paling memahami dinamika kekuasaan yang sebenarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Filsuf Michel Foucault pernah membahas konsep <em>Parrhesia</em> yaitu keberanian untuk mengatakan kebenaran tanpa perlindungan dan tanpa kepentingan politis yang mengikat. Peran seperti ini sering muncul dari figur yang berada di luar struktur kekuasaan formal dan Komeng tampak memikul fungsi tersebut melalui humornya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin memutar tongkat kayu kecil di tangannya sambil berkata bahwa jester bebas karena tidak berpura-pura hebat. Dalam politik, ketidakpura-puraan seperti ini dapat menjadi kekuatan yang lebih meyakinkan daripada pidato panjang yang disusun konsultan komunikasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa publik tampak lebih percaya pada kekonyolan Komeng daripada keseriusan pejabat bukanlah hal yang sulit jika dilihat melalui teori sosiologi klasik. Erving Goffman dalam <em>The Presentation of Self in Everyday Life</em> menekankan perbedaan antara Front Stage dan Back Stage pada perilaku manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politisi konvensional hidup hampir sepenuhnya di Front Stage sehingga publik melihat mereka sebagai aktor dalam pertunjukan yang telah dikoreografikan. Sementara Komeng secara spontan memperlihatkan Back Stage dirinya sehingga menciptakan nuansa kejujuran yang jarang ditemukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sigmund Freud dalam bukunya <em>Jokes and Their Relation to the Unconscious</em> menjelaskan bahwa humor adalah mekanisme pelepasan tekanan psikis. Tawa yang muncul dari kedekatan dengan Komeng menciptakan rasa lega yang kemudian memperkuat rasa percaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika publik semakin skeptis terhadap jargon dan ritual formal politik, figur seperti Komeng membawa kesegaran melalui otentisitas yang tidak direncanakan. Ini menjadikannya simbol kejujuran tanpa desain strategi pemasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mengingatkan bahwa status populer tidak secara otomatis setara dengan kesiapan memimpin birokrasi atau mengelola administrasi negara. Popularitas adalah tiket masuk ke panggung kekuasaan, tetapi kompetensi adalah bekal untuk tetap bertahan setelah lampu sorot meredup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kini bergerak pada dimensi strategis yaitu apakah Komeng akan terus menjadi jester yang menghibur dari pinggir kekuasaan atau sedang mempersiapkan diri untuk naik ke panggung utama. Cupin berkata perlahan bahwa jester adalah satu-satunya yang bisa menjadi raja tanpa kehilangan humornya jika ia tahu kapan harus berhenti bercanda.</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/reel/DSAN4bDjY_B/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/reel/DSAN4bDjY_B/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/reel/DSAN4bDjY_B/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Komeng Menuju </strong><strong><em>King</em></strong><strong>?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin berdiri sambil memandang jauh ke arah barisan tenda pengungsi dan menyebut bahwa sejarah memiliki banyak contoh komedian yang naik menjadi pemimpin. Salah satu yang paling terkenal adalah Volodymyr Zelenskyy yang sebelumnya merupakan aktor komedi sebelum menjadi Presiden Ukraina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada juga Jón Gnarr komedian Islandia yang terpilih sebagai Wali Kota Reykjavík setelah krisis ekonomi menghancurkan kepercayaan publik terhadap elite lama. Tokoh seperti ini dipilih karena mereka dianggap lebih jujur dibanding politisi yang terlalu rapi dalam menyusun janji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dilihat dari pola yang muncul, perjalanan Komeng memiliki kemiripan tertentu dengan figur-figur tersebut. Kunjungannya ke Sumatra dapat dibaca sebagai pemetaan simpati publik yang terjadi secara organik meski tampak spontan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyebut bahwa ini menyerupai gladi resik untuk melihat apakah rakyat bersedia dipimpin oleh seseorang yang membuat mereka merasa hidup kembali. Ia menekankan bahwa politik bukan hanya soal tabel dan grafik, tetapi tentang perasaan dan kedekatan emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahaya terbesar bagi elite adalah meremehkan fenomena seperti ini. Ketika pejabat sibuk mempertahankan jarak melalui protokol, figur yang datang tanpa protokol justru menciptakan kedekatan yang membangun legitimasi moral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin berkomentar bahwa rakyat tidak selalu mengingat siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling hadir. Ketika kehadiran itu dirasakan secara emosional, legitimasi yang terbentuk menjadi jauh lebih kuat daripada legitimasi administratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika elite terus mempertahankan gaya komunikasi yang kaku, mereka tanpa sadar sedang membuka jalan bagi figur anti establishment. Di era informasi yang serba cepat, wibawa bukan lagi soal jabatan, tetapi tentang keterhubungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyimpulkan bahwa naiknya figur seperti Komeng bukanlah anomali, tetapi refleksi dari kelelahan publik terhadap politik yang terasa jauh dan kering. Komeng menjadi cermin yang menyoroti kekosongan empati dalam struktur kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menutup pandangannya dengan kalimat yang pelan namun menohok bahwa jika suatu hari seorang jester menjadi king, itu bukan karena ia terlalu hebat, tetapi karena para king yang ada terlalu sibuk terlihat hebat sampai lupa cara memimpin. Pada akhirnya rakyat akan memilih pemimpin yang membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah menunjukkan bahwa seseorang yang dianggap badut dapat berubah menjadi sosok yang paling serius ketika panggung kekuasaan benar-benar memanggilnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Komeng mampu, tetapi apakah elite siap menghadapi konsekuensi dari politik yang kembali menjadi manusiawi. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="FalVVRWqRxI"><iframe title="Mongol : Deretan Komedian Yang Sukses di Politik" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/FalVVRWqRxI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/komeng-dari-jester-jadi-king.mp3" length="4288219" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/komeng-dari-jester-jadi-king-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>The Komeng Way?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-komeng-way/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humania]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[DPD]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[Komedi]]></category>
		<category><![CDATA[Komeng]]></category>
		<category><![CDATA[Pejabat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164375</guid>

					<description><![CDATA[“The Komeng Way” menampilkan gaya Komeng di DPD RI yang cair, humoris, tapi tetap mengandung kritik substansial. Dari plesetan “KemenHUT” hingga kijang masuk tol, ia hadirkan warna baru komunikasi politik. Lalu, mungkinkah model ini jadi wajah parlemen masa depan Indonesia dalam berbagai sisi esensi?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/komeng-1_pt8nlnay.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>“The Komeng Way” menampilkan gaya Komeng di DPD RI yang cair, humoris, tapi tetap mengandung kritik substansial. Dari plesetan “KemenHUT” hingga kijang masuk tol, ia hadirkan warna baru komunikasi politik. Lalu, mungkinkah model ini jadi wajah parlemen masa depan Indonesia dalam berbagai sisi esensi?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Awal pekan ini, suasana rapat Komite II DPD RI bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tampak berbeda. Penyebabnya bukan agenda formal yang kaku, melainkan gaya khas seorang anggota DPD, Alfiansyah Bustami—lebih dikenal publik dengan nama panggungnya, Komeng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan enteng, ia melontarkan humor di awal penyampaian gagasannya dengan menyebut kementerian “yang selalu ulang tahun” karena akronim “KemenHUT” yang dahulu dikenal sebagai Kemenhut, sampai berceloteh soal “kijang masuk tol” yang diasosiasikan dengan Kijang Innova.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepintas, gaya ini tampak remeh. Namun, jika ditilik lebih dalam, humor Komeng dalam forum resmi memperlihatkan dua lapisan. <em>Pertama</em>, wajah baru komunikasi politik yang tidak kaku, dan kedua refleksi terhadap fenomena “kerja rasa bercanda” yang selama ini menjadi stigma bagi lembaga legislatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Publik sering mencibir anggota DPR maupun DPD sebagai “panggung lawak politik”, dari kasus anggota dewan yang tidak ikut rapat, tertidur saat rapat, berjoget di forum resmi, hingga pernyataan-pernyataan yang kerap dinilai dangkal di ruang publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah pentingnya menelaah satu istilah “The Komeng Way” sebagai fenomena komunikasi politik kontemporer. Dalam kajian komunikasi politik, humor memiliki peran ambivalen: ia bisa menjadi soft power untuk membuka ruang dialog dengan publik, tetapi juga bisa menimbulkan risiko dianggap menyepelekan isu serius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana aktualisasi simbol, gestur, dan performativitas seringkali lebih berdampak dalam membentuk persepsi publik ketimbang argumen substantif yang disampaikan secara teknis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, latar fenomena ini bukan sekadar soal “lawakan Komeng” di forum DPD, melainkan representasi dari pertarungan gaya komunikasi politik di era demokrasi digital, yakni bagaimana politisi membangun keluwesan komunikasi tanpa kehilangan substansi dan etika.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ngeri-Ngeri Pinggir Jurang?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam literatur komunikasi politik, gaya yang ditempuh Komeng dapat dipahami melalui kerangka <em>performative politics</em>. Politik bukan hanya arena penyusunan regulasi, tetapi juga ruang teater simbolik tempat representasi dipertontonkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era media sosial, performativitas ini semakin menonjol, cuplikan video, meme, hingga potongan pernyataan lebih cepat menyebar ketimbang laporan panjang atau naskah akademik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komeng kiranya memahami logika ini secara intuitif. Sebagai komedian yang kini bertransformasi menjadi senator, ia membawa modal simbolik berupa humor yang akrab dengan khalayak</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Namun, yang menarik, di balik kelakar itu terselip substansi. Misalnya, dengan “kijang masuk tol”—kelakar yang sekaligus menyinggung soal tata kelola lingkungan, ekspansi jalan tol, dan potensi konflik ekologi dengan satwa liar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan ini berbeda dengan politisi yang hanya menghadirkan hiburan kosong, misalnya berjoget tanpa konteks dalam forum resmi. Komeng justru memadukan keluwesan komunikasi dengan substansi kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara teoretis, ia boleh jadi sedang menggeser persepsi publik tentang apa artinya menjadi anggota parlemen, yaitu bukan hanya bicara kaku dengan jargon teknokratis, tetapi menghadirkan kritik dan gagasan melalui medium humor yang <em>relatable</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditarik lebih jauh, fenomena ini juga dapat dipahami dalam kerangka populisme kultural. Menurut Ernesto Laclau, populisme bekerja bukan hanya lewat agenda ekonomi, tetapi juga lewat bahasa, simbol, dan identitas yang mendekatkan elite dengan rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“The Komeng Way” bisa dipandang sebagai varian populisme kultural yang khas Indonesia, dengan menghadirkan bahasa rakyat (humor, guyonan, plesetan) dalam forum resmi negara. Dengan cara ini, rakyat merasa terhubung karena bahasa politik yang biasanya elitis kini diturunkan ke ranah keseharian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tantangan besarnya terletak pada garis tipis “pinggir jurang” antara humor produktif dan humor destruktif. Humor produktif memperkaya diskursus, membuka ruang refleksi, dan tetap membawa isu serius ke meja publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, humor destruktif berisiko mereduksi agenda politik menjadi sekadar tontonan, mengikis wibawa lembaga, dan memicu persepsi “politik hanya panggung lawakan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah, integritas dan konsistensi seorang Komeng dan para pejabat yang suka <em>nge-jokes</em> diuji, apakah gaya komunikasinya sekadar hiburan, atau menjadi metode baru yang membawa substansi kebijakan ke ruang publik dengan cara yang cair dan dekat?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1219" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar.jpg" alt="komeng kalahkah ganjar" class="wp-image-144035" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-266x300.jpg 266w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-907x1024.jpg 907w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-133x150.jpg 133w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-768x867.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-150x169.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-300x339.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-696x786.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-1068x1205.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Etika Tak Boleh Hilang</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Komeng perlu dibaca dalam lanskap politik era media sosial. Publik kini tidak hanya menilai apa isi kebijakan, tetapi juga bagaimana politisi menyampaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah banjir informasi, gaya komunikasi yang kaku seringkali tenggelam, sementara yang unik, lucu, atau emosional cepat viral. Dalam konteks ini, humor bisa menjadi jembatan demokratisasi komunikasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, demokrasi tidak boleh jatuh pada jebakan performativitas kosong. Kritik publik terhadap anggota dewan yang berjoget-joget di forum resmi adalah cermin bahwa rakyat tidak menolak ekspresi kultural, tetapi menuntut proporsionalitas antara gaya dan substansi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Joget, bercanda, atau melucu bukan masalah selama tidak melupakan tanggung jawab utama, yakni menghadirkan kebijakan yang berdampak pada kehidupan rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, “The Komeng Way” bisa menjadi model komunikasi politik alternatif: fleksibel, penuh humor, namun tetap substansial. Komeng memperlihatkan bahwa politik tidak harus kaku, tetapi juga tidak boleh jatuh ke ruang hiburan murahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika gaya ini bisa dijaga, humor sebagai pintu masuk, substansi sebagai isi, dan etika sebagai pagar, maka ia berpotensi menjadi <em>style</em> baru yang merepresentasikan wajah parlemen yang lebih dekat dengan rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era digital, bentuk deliberasi ini tidak hanya lewat forum resmi, tetapi juga lewat representasi simbolik di media sosial. Humor Komeng, jika diarahkan pada penyadaran publik terhadap isu nyata, bisa memperluas ruang deliberasi, , rakyat yang biasanya enggan mengikuti rapat-rapat dewan kini ikut terhubung karena ada pintu masuk humor yang familiar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, syaratnya jelas. Sekali lagi, substansi dan etika tidak boleh dikorbankan. Humor harus menjadi medium, bukan tujuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerja politik harus tetap konkret dan berdampak nyata, khususnya pada kondisi sosial-ekonomi rakyat. Sebab, di balik tawa publik, terdapat kegelisahan mendalam, harga pangan yang naik, lapangan kerja yang terbatas, hingga krisis lingkungan yang terus mengancam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anggota parlemen, baik DPR maupun DPD, tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap “batin rakyat” yang sedang berjuang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, “The Komeng Way” mengajarkan bahwa gaya politik bercanda bukanlah antitesis dari politik serius, melainkan bisa menjadi jalan tengah, yaitu politik yang komunikatif, dekat dengan rakyat, namun tetap berlandaskan substansi dan etika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika berhasil, ia bisa menjadi prototipe komunikasi politik Indonesia di era baru—era ketika kehangatan dan kejenakaan dipadukan dengan tanggung jawab kebijakan yang nyata. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ghLEjsLRKYg"><iframe title="DIKIT-DIKIT BLOK M… APA-APA BLOK M… PRAMONO KENAPA SIH?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ghLEjsLRKYg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/komeng-1_pt8nlnay.mp3" length="3224339" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/komeng-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Republik Rakyat Komeng</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/republik-rakyat-komeng/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2024 23:42:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Komeng]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=143900</guid>

					<description><![CDATA[Nama Komeng jadi trending topic yang dibicarakan semua orang. Sebabnya karena suara pelawak kondang yang maju di Pemilu 2024 untuk tingkatan DPD ini tembus hingga 1,9 juta di hitung suara KPU dengan posisi data masuk baru 60 persen. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan Artikel Ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-full-1.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Nama Komeng jadi trending topic yang dibicarakan semua orang. Sebabnya karena suara pelawak kondang yang maju di Pemilu 2024 untuk tingkatan DPD ini tembus hingga 1,9 juta di hitung suara KPU dengan posisi data masuk baru 60 persen. Posisi ini jadi yang tertinggi untuk seorang caleg di level nasional, bahkan mengungguli perolehan suara paslon capres-cawapres Ganjar-Mahfud di Jawa Barat yang baru menyentuh angka 1,7 juta.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Pencapaian Alfiansyah Komeng dalam Pemilu 2024 memang mengejutkan banyak orang.&nbsp;Komeng, seorang komedian terkenal, berhasil meraih suara terbesar dalam pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Barat.&nbsp;Berdasarkan hasil perhitungan suara sementara di situs Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komeng meraup 1,9 juta suara, angka yang jauh melebihi calon-calon lain pada surat suara DPD Jawa Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang paling menarik adalah Komeng menggunakan foto “nyeleneh” di surat suara, sehingga mencuri perhatian banyak pemilih.&nbsp;Pengamat politik dari Badan Riset dan lnovasi Nasional (BRIN), Devi Darmawan, mengatakan bahwa politik di Indonesia masih sangat ditentukan oleh sosok dan figuritas, ketimbang pengalaman dan gagasan.&nbsp;Hal inilah yang menyebabkan figur seperti Komeng bisa dilirik oleh publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat merasa sosok Komeng bisa dianggap sebagai sosok yang fresh untuk dipercaya sebagai perwakilan dari daerah Jawa Barat ini untuk bisa masuk ke parlemen. Apalagi, Komeng berjuang lewat jalur DPD yang notabene tidak terikat partai politik tertentu. Ia bahkan mengakui bahwa tak menggunakan kampanye, tak jor-joran memasang baliho, dan bahkan awalnya tak memberitahu orang-orang terdekatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Komeng ini tentu kontras dengan figur publik macam artis atau penyanyi atau pelawak lain yang tidak mendapatkan suara seperti Komeng. Pertanyaannya tentu saja adalah mengapa hal ini bisa terjadi?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Faktor Penyebab Komeng Melejit</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita analisis secara lebih dalam, sebetulnya ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab kesuksesan Komeng meraih dukungan masyarakat dengan luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama adalah soal popularitas dan kredibilitas. Komeng adalah seorang pelawak yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Popularitasnya sebagai pelawak membuatnya memiliki basis penggemar yang besar. Selain itu, kredibilitasnya sebagai seorang pelawak yang sering menyampaikan pesan-pesan kritis dan humoris tentang politik dan sosial juga membuatnya dikenal sebagai sosok yang memiliki pemahaman yang baik tentang isu-isu penting di masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor kedua adalah soal karakter dan personalitas. Karakter dan personalitas Komeng yang ramah, humoris, dan mudah didekati juga bisa menjadi faktor yang membuatnya menarik bagi para pemilih. Sifatnya yang tidak terlalu serius dan bisa berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum bisa membuatnya lebih dekat dengan pemilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, kampanye tidak konvensional. Meskipun Komeng tidak melakukan kampanye yang konvensional, seperti memasang baliho atau melakukan pertemuan-pertemuan besar, namun ia tetap aktif di media sosial dan melakukan kampanye yang lebih personal, seperti berbicara langsung dengan para pemilih di berbagai tempat. Pendekatan yang lebih personal ini bisa membuatnya lebih dekat dengan pemilih dan membuat mereka merasa lebih terhubung dengan Komeng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komeng juga dekat dengan sosok politisi kondang macam Fadli Zon. Sama-sama menjadi orang yang berkecimpung di bidang budaya dan mengagumi seni, Komeng mengakui bahwa Fadli sangat membantunya dan menjadi semacam mentor politik untuk strategi dan kiprahnya di dunia yang baru digelutinya ini. Komeng kenal cukup lama dengan Fadli dan mereka bersekolah di SMP yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor berikutnya adalah soal dukungan dari masyarakat. Dukungan dari masyarakat yang sudah mengenal Komeng sebagai seorang pelawak yang kritis dan peduli terhadap isu-isu sosial dan politik juga bisa menjadi faktor yang membuatnya berhasil dalam pemilihan tersebut. Dukungan ini bisa datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga tokoh-tokoh politik dan publik yang juga menghargai kritik-kritik yang disampaikan oleh Komeng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor lainnya adalah soal kesempatan dan konteks. Konteks dan situasi politik yang sedang terjadi pada saat pemilihan juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi kesuksesan Komeng dalam pemilihan tersebut. Mungkin pada saat itu masyarakat sedang mencari sosok yang berbeda dari politisi-politisi konvensional, dan Komeng bisa menjadi alternatif yang menarik bagi mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Kepribadian Hingga Pengaruh Struktur Sosial</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, setidaknya ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena Komeng dalam pemilihan tersebut. Teori kepribadian misalnya menyebutkan bahwa kepribadian seseorang mempengaruhi perilaku politik mereka. Dalam hal ini, karakter dan personalitas Komeng yang ramah, humoris, dan mudah didekati bisa menjadi faktor yang membuatnya menarik bagi para pemilih. Salah satu tokoh yang terkait dengan teori kepribadian adalah Carl Jung, seorang psikolog Swiss.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teori lain adalah soal pemilihan rasional. Teori ini menyatakan bahwa pemilih memilih kandidat yang dianggap akan memberikan manfaat terbesar bagi mereka. Dalam hal ini, popularitas dan kredibilitas Komeng sebagai seorang pelawak yang sering menyampaikan pesan-pesan kritis dan humoris tentang politik dan sosial bisa menjadi faktor yang membuatnya menarik bagi para pemilih. Salah satu tokoh yang terkait dengan teori ini adalah Anthony Downs, seorang ekonom dan politikus Amerika Serikat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pencapaian Komeng ini juga bisa dilihat dari kacamata teori sosial struktural. Teori ini menyatakan bahwa struktur sosial mempengaruhi perilaku politik seseorang. Dalam hal ini, konteks dan situasi politik yang sedang terjadi pada saat pemilihan juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi kesuksesan Komeng dalam pemilihan tersebut. Salah satu tokoh yang terkait dengan teori sosial struktural adalah Karl Marx, seorang filsuf dan ekonom Jerman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komeng bisa dibilang sangat mungkin dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, sehingga membuatnya bisa mensintesa pengetahuan atau informasi yang ia dapatkan terkait politik dan menggunakannya sebagai poin kampanye.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimanapun juga fenomena Komeng ini hal yang sangat menarik. Kini publik tinggal menunggu finalisasi perhitungan yang dilakukan oleh KPU, sembari menanti langkah-langkah dan kebijakan politik seperti apa yang akan dilakukan Komeng saat menjabat nantinya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="CCZhu3IXcUU"><iframe loading="lazy" title="Sejarah dan Teori: Siapa Dalang Gerakan 30 September 1965?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/CCZhu3IXcUU?start=103&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-full-1.mp3" length="2772425" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/20240219_080606-2919445624.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Komeng Kalahkah Ganjar?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/komeng-kalahkah-ganjar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Feb 2024 01:51:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[caleg]]></category>
		<category><![CDATA[DPD]]></category>
		<category><![CDATA[Komeng]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Pileg2024]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=144032</guid>

					<description><![CDATA[Pasti pada spontan &#8211; uhuy! &#8211; pilih Komeng&#160; Komedian Alfiansyah Bustami atau Komeng menjadi sorotan setelah viral di media sosial karena mengikuti Pileg DPD RI 2024 dapil Jawa Barat. Perolehan suara Komeng sendiri cukup fantastis, yakni 684.521 suara. Bahkan, torehan sementara itu melampaui suara Ganjar-Mahfud di DKI Jakarta. Fenomena Komeng sendiri cukup unik karena selain [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="907" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-907x1024.jpg" alt="komeng kalahkah ganjar" class="wp-image-144035" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-907x1024.jpg 907w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-266x300.jpg 266w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-133x150.jpg 133w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-768x867.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-150x169.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-300x339.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-696x786.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-1068x1205.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 907px) 100vw, 907px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pasti pada spontan &#8211; uhuy! &#8211; pilih Komeng&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image is-resized"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f617/72.png" alt="😗" style="width:20px;height:auto" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Komedian Alfiansyah Bustami atau Komeng menjadi sorotan setelah viral di media sosial karena mengikuti Pileg DPD RI 2024 dapil Jawa Barat. Perolehan suara Komeng sendiri cukup fantastis, yakni 684.521 suara. Bahkan, torehan sementara itu melampaui suara Ganjar-Mahfud di DKI Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Komeng sendiri cukup unik karena selain memilih DPD sebagai medium berpolitik dengan &#8220;jarak&#8221; terhadap kepentingan parpol, reputasinya sebagai sosok yang disukai membuat komedian itu digadang akan sukses lolos ke Parlemen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gimana komentarnya gais soal torehan suara fantastis Komeng di Pileg DPD RI 2024? Berikan pendapatmu yaa!&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image is-resized"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f64c_1f3fb/72.png" alt="🙌🏻" style="width:20px;height:auto" /></figure>



<figure class="wp-block-image is-resized"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f4ac/72.png" alt="💬" style="width:20px;height:auto" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#komeng #dpd #pemilu2024 #pileg2024 #caleg #infografis #pinterpolitik #politikindonesia #beritapolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/komeng-kalahkah-ganjar-907x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
