<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kitab Injil &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kitab-injil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jun 2020 23:58:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kitab Injil &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Balik Polemik Injil Bahasa Minang</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/di-balik-polemik-injil-bahasa-minang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2020 01:00:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Irwan Prayitno]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Injil]]></category>
		<category><![CDATA[Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=79626</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, publik diramaikan dengan isu kitab injil yang diterjemahkan ke bahasa Minang. Namun, bisa saja, terdapat motif politik di balik polemik tersebut. PinterPolitik.com Menyikapi konflik di Amerika Serikat (AS) tantang tragedi yang menimpa George Floyd dan pengiriman surat dari Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengingatkan kita pada untaian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Beberapa waktu lalu, publik diramaikan dengan isu kitab injil yang diterjemahkan ke bahasa Minang. Namun, bisa saja, terdapat motif politik di balik polemik tersebut.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>enyikapi konflik di Amerika Serikat (AS) tantang tragedi yang menimpa George Floyd dan pengiriman surat dari Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengingatkan kita pada untaian kalimat KH. Abdul Wahid Hasyim yang ada pada salah satu tulisannya berjudul <em>Perbaikan Perjalanan Haji</em> yang berbunyi, “Sebenarnya di setiap negeri jajahan, pihak penjajah sering bahkan cenderung menggunakan strategi politik melemahkan golongan terbanyak (mayoritas) dan menghidupkan (bukan menguatkan) golongan kecil (minoritas). Maksudnya supaya kedua belah pihak berselisih terus-menerus. Golongan terbesar didesak dan golongan kecil disokong sekedar dapat menghadapi golongan terbesar. Akhirnya kedua golongan itu perlu pada pemerintah penjajah.”</p>
<p>Penggalan kalimat dari tokoh awal kemerdekaan tersebut memberi pemahaman kepada generasi setelahnya bahwa untuk memahami kondisi sosial tidak bisa melepaskan diri dari <em>setting</em> kolonial. Dalam disiplin ilmu sosial hal ini disebut pos-kolonialisme, yakni pendekatan yang bertujuan untuk membongkar motif-motif, terutama sosial-politik bekas campur tangan penjajah.</p>
<p>Pendekatan pos-kolonial ini sangat bermanfaat terutama untuk menganalisis kondisi negara bekas jajahan, seperti yang ditunjukkan Simon Philpott dalam buku yang berjudul <em>Meruntuhkan Indonesia</em>.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Sudah lama injil berbahasa minang itu ada kenapa baru diributin sekarang? </p>
<p>Ini versi pdf thn 1996, versi cetak yang jauh lebih tua sekitar thn 80an juga sudah banyak. Kok ya pas lagi pandemi corona gini hal ini sengaja diributin? Ajaib pejabat² kita hari ini 😳 <a href="https://t.co/zUCSL9rfra">pic.twitter.com/zUCSL9rfra</a></p>
<p>&mdash; Margie Sandjaya (@margiesandjaya) <a href="https://twitter.com/margiesandjaya/status/1268496520191463430?ref_src=twsrc%5Etfw">June 4, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Philpott secara tegas – dengan mengutip Michel Foucault – mengatakan, bahwa di negara bekas jajahan banyak sekali praktik-praktik sosial yang dianggap warisan budaya leluhur tetapi justru sebenarnya merupakan campur tangan penjajah untuk membelah dan mewarisi kekuasaannya yang mampu beroperasi masif bahkan setelah era penjajahan fisik berakhir.</p>
<p>Bagaimana cara mengetahui tentang apakah suatu praktik sosial tersebut memiliki kaitan dengan campur tangan kolonial? Philpott memberi sebuah pijakan tentang genealogi yang sebenarnya juga mencontoh Foucault. Hanya dengan pelacakan yang mendalam ke belakang tentang suatu praktik sosial tertentu, maka ilmuwan sosial bisa menemukan apa yang berada di belakang praktik tersebut atau <em>beyond reality</em>.</p>
<p>Sebagaimana yang dilakukan oleh Philpott, Gerry van Klinken juga menempuh jalur yang sama. Misal, pada tulisannya dalam buku <em>Perang Kota Kecil</em>, Klinken mencoba menyelami akar konflik di sana antara kelompok beda agama sampai ke belakang di abad-abad penjajahan. Meski Klinken tidak menyebut secara nyata &#8216;genealogis&#8217; dalam tulisannya, namun sebagai peneliti yang kerap menempuh pendekatan &#8216;etnografis&#8217;, genealogis secara praksis akan muncul ke permukaan.</p>
<p>Apa yang menarik dari Klinken adalah pemilihan teorinya yang sering kali efektif dan jitu. Dalam penelitian di Ambon, misalnya, Klinken secara nyata mengaplikasikan apa yang disebut teori sosial dengan <em>contentious politics</em> atau ‘politik seteru&#8217;.</p>
<p>Apabila Philpott hanya berkutat pada persoalan <em>the knowing subject</em> (subjek berpengetahuan) yang berperan sebagai motor pencipta pikiran dan praktik kolonial, Klinken bergerak lebih maju dengan menjelaskan secara sistematis aktor-aktor, warisan masa lalu, proses dan motif ketegangan konflik.</p>
<p>Menilik penjelasan di atas, hal yang sama tampaknya sedang kita hadapi meski eskalasi konfliknya tidak semengerikan seperti di Ambon sebelumnya. Namun, apabila dibiarkan lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan akan membawa kepada pikiran-pikiran menakutkan yang lain, seperti rasisme yang terinstitusionalisasi. Seperti kejadian di Amerika Serikat, percikan isu rasisme dan xenofobia yang tidak segera ditangani dan justru terkesan ada pembiaran dari pemerintah, akhirnya berujung konflik yang meluas.</p>
<p>Ketakutan seperti yang menimpa George Floyd tersebut diunggah oleh suarapapua.com ditambah dengan ulasan perbandingan saat kejadian yang menimpa saudara Papua di Yogyakarta, Obby Kogoya. Ulasan yang ditulis oleh Made Supriatma berjudul<em><strong> <a href="https://suarapapua.com/2020/06/03/rasisme-tidak-hanya-ada-di-amerika-disini-pun-ada/">Rasisme</a></strong> Tidak Hanya Ada di Amerika, Di Sini pun Ada</em> tersebut secara tersirat mengandung pesan, bahwa negara masih menganggap rasisme sebagai hal yang tidak masuk dalam program rekonsiliasi nasional.</p>
<p>Dari kedua kejadian tersebut, rasisme yang berdasar warna kulit (<em>genetic</em>) sangat mudah diidentifikasi. Lantas, apakah rasisme tidak bersarang di dimensi lain, seperti agama?</p>
<hr /><p><em>Rasisme tidak bisa dipisahkan dari orientasi politik (political orientation) yang dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kultur.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fdi-balik-polemik-injil-bahasa-minang%2F&#038;text=Rasisme%20tidak%20bisa%20dipisahkan%20dari%20orientasi%20politik%20%28political%20orientation%29%20yang%20dipengaruhi%20oleh%20banyak%20hal%2C%20termasuk%20kultur.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Tentu kemungkinannya cukup besar, bahwa politik identitas menyelinap dalam interaksi antar agama. Mudahnya, perilaku apa pun yang menampilkan akumulasi kekuasaan oleh satu pihak atas penundukan pihak lain – mirip sebagaimana pandangan Edward Said dalam buku <em>Orientalisme </em>yang menghadapkan Barat vs Timur <em>– </em>sangat rawan adanya perilaku rasis.</p>
<h4><strong>Mobilisasi Sikap Rasis</strong></h4>
<p>Gubernur Sumbar secara mengejutkan mengirimkan surat kepada Menkominfo agar bersedia menghapus aplikasi Alkitab berbahasa Minang. Saat dikonfirmasi, melalui <strong><a href="https://news.detik.com/berita/d-5040736/gubernur-sumbar-surati-menkominfo-minta-aplikasi-injil-bahasa-minang-dihapus">Plt Kepala Biro Humas</a></strong>, Zardi Syahrir, pemerintah provinsi Sumbar mengatakan, &#8220;Kan, di Sumatera Barat, kita tahu juga di sini ada budaya. Jadi memang kultur Islam lebih dekat dengan Sumbar.&#8221;</p>
<p>Benarkah budaya yang dianggap determinan atas agama itu tidak menerima dialog plural? Apakah ini murni alasan kebudayaan atau jangan-jangan ada agenda politik ke depan? Mengingat Sumbar merupakan wilayah dengan segmentasi pemilih mayoritas Islam yang sangat ketat.</p>
<p>Hal ini bisa disimak melalui pernyataan Badan Pengawas Pemilu (<a href="https://www.antaranews.com/berita/822601/bawaslu-ada-16-provinsi-rawan-pada-pemilu-2019"><strong>Bawaslu</strong>)</a> menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang mengkategorikan Sumbar sebagai wilayah dengan indeks kerawanan tinggi. Ada empat dimensi yang digunakan Bawaslu untuk menentukan indeks tersebut.</p>
<p>Salah satunya adalah dimensi sosial politik (sospol). Dan, di antara unsur dimensi sospol, tampaknya mobilisasi dengan kekerasan merupakan hal yang mudah dicium untuk konteks sekarang menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak ke depan.</p>
<p>Pernyataan Humas Pemprov Sumbar barang kali juga bisa disebut memungkinkan munculnya &#8216;narasi yang bergerak&#8217; atau <em>shifting narratives</em> – seperti yang diulas oleh Eickelman dan Anderson dalam <em>New Media in The Muslim World </em>– agar Islam selalu dilihat inheren dalam budaya Sumbar. Kalau begitu, bila dilacak secara genealogis, apakah benar hal demikian?</p>
<p>Nyatanya, dalam beberapa pustaka, seperti karya Jeffrey Hadler yang berjudul <em>Sengketa Tiada Putus</em>, pelibatan peran birokrasi ke dalam kultur adat dan agama tidak terlepas dari sejarah kolonial dan purifikasi di Minang.</p>
<p>Pemerintah kolonial sudah menerka bahwa konflik antara agama dan adat bisa dijadikan ekses masuk yang sangat menguntungkan sehingga akan dilanggengkan agar pemerintah kolonial mudah menciptakan politik &#8216;pecah-belah&#8217;, atau dalam bahasan Wahid Hasyim di awal yakni &#8216;politik mayoritas-minoritas&#8217; berbasis agama. Proses itu pula yang menyebabkan Minangkabau sering melakukan <em>invention of tradition </em>(penciptaan tradisi) berdasar setting sosial yang telah terbentuk pada masa penjajahan ketika dialami.</p>
<h4><strong>Apa Motifnya?</strong></h4>
<p>Sebenarnya, pertanyaan menarik dalam melihat fenomena ini adalah-untuk apa Gubernur Sumbar melakukan itu semua? Bisa jadi, ini terkait dengan motif politis tertentu.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CBSG3Fghx0z/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CBSG3Fghx0z/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CBSG3Fghx0z/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Dulu dilarang, kini diperbolehkan. Awas nanti ditenggelamkan! Eh, itu juga sudah tidak ada #posterpinterpolitik #posterpinpol #ironiman #ironman #kkp #menterikkp #kementriankkp #edhyprabowo #susipudjiastuti #jokowidodo #corona #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #cucitangan #tetapsehat #pakemasker #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-06-11T05:23:09+00:00">Jun 10, 2020 at 10:23pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Argumentasinya jelas, seperti pernyataan Oxendine dalam <em>The Relationship between Political Orientation and Race on Modern Racism</em> yang menjelaskan bahwa kemunculan praktik rasisme tidak bisa dipisahkan dari orientasi politik (<em>political orientation</em>) yang dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kultur. Namun, ada perbedaan bentuk rasisme seiring dengan perkembangan dunia.</p>
<p>Rasisme klasik (<em>blatant overt radical prejudice</em>) sangat mudah terlihat atau. Sementara, rasisme modern bersifat tersembunyi. Bahkan, pelaku rasis menganggap bahwa pernyataannya yang menurut orang lain rasis tersebut dianggapnya sekadar penggambaran fakta, seperti dalam kasus Gubernur Sumbar ini.</p>
<p>Mungkin, ini perlu dilihat dengan saksama bahwa apakah pernyataan ini merupakan awal dari adanya mobilisasi yang digerakkan oleh bahasa rasis yang sangat tersembunyi seperti yang dibicarakan oleh Klinken kala menyoroti konflik Ambon yang melihat aktor sangat berperan besar dalam proses mobilisasi ini.</p>
<p>Barang kali, jelas berbeda antara Sumbar dan Ambon masa dulu, yakni konflik tidak melibatkan kekerasan fisik. Namun,apa yang perlu menjadi <em>blue-print </em>adalah kalimat yang terucap di mana terdapat unsur pembelahan antar kelompok sangat berpotensi menjurus kepada mobilisasi politik tertentu.</p>
<p>Terlebih, menurut Klinken, mobilisasi di Ambon memiliki motif untuk menguasai kedudukan birokratis. Dan, secara bertepatan, pada tahun 2020 ini, Sumbar akan menghadapi momentum Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.</p>
<p>Melacak peta politik di Sumbar, fakta sosial memperlihatkan bahwa bahwa Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno merupakan sosok gubernur yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebagai sebuah partai yang dalam sejarahnya berhasil menduduki kursi Sumbar satu selama dua periode berturut-turut tentu tidak ingin kehilangan posisi tersebut sehingga melalui Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Bidang Wilayah PKS <strong><a href="https://sumbar.antaranews.com/berita/318604/membaca-peta-pertarungan-pilkada-gubernur-sumbar-2020">Tifatul Sembiring</a></strong> mengungkapkan bahwa partainya siap bertarung kembali.</p>
<p>Hal ini diungkapkan kala pembekalan anggota DPRD terpilih PKS di wilayah Sumbar. Terlebih, PKS telah menyiapkan dua nama – yaitu Wali Kota Padang, Mahyedi dan Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi.</p>
<p>Jika melihat kondisi di atas, meski tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menduduki posisi Gubernur Sumatera Barat, bukankah sebagai kader PKS, Irwan Prayitno mempunyai keinginan untuk menjaga suara konstituen loyal yang selama ini mendukung mereka? Mungkin, penjelasan van Klinken layak dipikirkan kembali. (F46)</p>
<p><iframe title="One Piece: Politik dalam Anime &amp; Manga" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/duzqhV8V_Jo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/06/Gubernur-Sumatera-Barat-Sumbar-Irwan-Prayitno.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
