<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>kewarganegaraan ganda &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kewarganegaraan-ganda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jan 2026 08:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>kewarganegaraan ganda &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>“Reverse Brain Drain” Syifa-Enzo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/reverse-brain-drain-syifa-enzo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2026 08:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Zenz Allie]]></category>
		<category><![CDATA[kewarganegaraan ganda]]></category>
		<category><![CDATA[Kezia Syifa]]></category>
		<category><![CDATA[US Army]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166952</guid>

					<description><![CDATA[Viral Kezia Syifa di US Army National Guard memantik debat nasionalisme, kewarganegaraan, dan diaspora. Dari sejarah TNI hingga wacana dua kewarganegaraan, tajuk nasionalisme baru dan peluang reverse brain drain bagi Indonesia di era global kiranya terbuka.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/nalar-subs.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Viral Kezia Syifa di US Army National Guard memantik debat nasionalisme, kewarganegaraan, dan diaspora. Dari sejarah TNI hingga wacana dua kewarganegaraan, tajuk nasionalisme baru dan peluang reverse brain drain bagi Indonesia di era global kiranya terbuka.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Viralnya Kezia Syifa—diaspora Indonesia yang bergabung dengan United States Army National Guard—bukan sekadar sensasi media sosial. Ia adalah cermin dari perubahan besar dalam cara kita memahami nasionalisme, kewarganegaraan, dan pengabdian di abad ke-21.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Reaksi publik yang terbelah—antara kebanggaan, kecurigaan, hingga kecemasan soal “loyalitas”—menunjukkan bahwa paradigma nasionalisme Indonesia masih bertumpu pada kerangka lama: darah, ras, dan teritori.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, dalam literatur ilmu politik dan sosiologi kontemporer, nasionalisme modern tidak lagi dimaknai secara esensialis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benedict Anderson telah lama menegaskan bahwa bangsa adalah <em>imagined community</em>, sementara pemikir pascanasional seperti Ulrich Beck dan Yasemin Soysal menekankan pergeseran menuju post-national membership, di mana identitas dan pengabdian bersifat lintas batas, berbasis pilihan dan komitmen institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus Kezia Syifa menjadi titik masuk penting untuk membaca militer bukan semata simbol nasionalisme sempit, melainkan sebagai arena kosmopolitanisme disipliner—ruang global tempat individu dari berbagai latar etnis, ras, dan kebangsaan ditempa dalam etos profesionalisme, loyalitas institusional, dan meritokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">US Army, secara historis, adalah contoh ekstrem dari militer multietnis dan multinasional, tempat imigran—dengan syarat kepemilikan Permanent Resident Card (Green Card)—dapat mengabdi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di sinilah problem hukum Indonesia muncul. Menteri Hukum dan HAM sempat menegaskan bahwa WNl otomatis kehilangan kewarganegaraan jika bergabung dengan militer negara lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan ini kemudian dilunakkan oleh Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra, yang menekankan bahwa kehilangan kewarganegaraan tidak otomatis, melainkan melalui proses verifikasi dan keputusan administratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketegangan antarpernyataan ini menyingkap satu hal krusial: politik kewarganegaraan Indonesia mungkin belum siap menghadapi realitas diaspora global. Termasuk, diaspora di bidang lain yang bisa saja berkontribusi untuk negara di kemudian hari. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Diaspora Militer dan Preseden Sejarah</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Kezia Syifa bukan kasus tunggal. Penelusuran jejak digital menunjukkan setidaknya beberapa personel militer Amerika Serikat berdarah Indonesia, antara lain Bill Kadarusman (Letkol US Army Reserve), Rosita Aruan Orchid Baptiste (Letkol US Army), Voga Firandy Warsitoningrat (Letda US Army), serta Zharfan Taftazani (Private US Army).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini mempertegas bahwa diaspora Indonesia tidak hanya berprestasi di sektor sipil, teknologi, atau akademik, tetapi juga di sektor pertahanan global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditarik lebih jauh, Indonesia sejatinya memiliki tradisi panjang menerima keragaman darah dan asal-usul dalam tubuh militernya sendiri. Sejarah TNI mencatat figur seperti Rokus Bernardus Visser alias Muhammad Idjon Djanbi, perwira eks warga Belanda yang menjadi Komandan Pertama Kopassus; Pierre Tendean, Pahlawan Revolusi berdarah Belanda–Prancis–Indonesia; hingga Rui Fernando Guedes Palmeiras Duarte, perwira tinggi berdarah Timor Timur (kini Timor Leste).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan generasi mutakhir TNI, seperti Letda Inf. Enzo Zenz Allie, menunjukkan bahwa identitas hibrida tidak pernah menjadi penghalang loyalitas dan pengabdian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Preseden ini penting karena membongkar mitos bahwa nasionalisme identik dengan kemurnian etnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka teori nasionalisme sipil (civic nationalism), yang utama bukanlah asal-usul biologis, melainkan kesediaan tunduk pada nilai, hukum, dan tujuan kolektif suatu negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, pertanyaan “jadi warga mana?” sesungguhnya terlalu sempit. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: di mana dan bagaimana kapasitas individu itu kelak dapat memberi manfaat strategis bagi Indonesia?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes.png" alt="diaspora the invisible heroes" class="wp-image-166370" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/diaspora_-the-invisible-heroes-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dua Kewarganegaraan, Jalan Tengah?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah kemudian diskursus dua kewarganegaraan dan <em>reverse brain drain</em> menemukan relevansinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Isu Kezia Syifa dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk mengurai kebuntuan lama di DPR dan Kemenko Kumham Imipas terkait kewarganegaraan ganda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia, hingga kini, masih menganut prinsip <em>single nationality</em>, dengan pengecualian terbatas bagi anak hasil perkawinan campuran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, dalam konteks globalisasi talenta, banyak negara berkembang justru memanfaatkan kebijakan kewarganegaraan fleksibel untuk menarik kembali diaspora unggulnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gagasan ini pernah disampaikan secara terbuka oleh Luhut Binsar Pandjaitan saat menjabat Menko Kemaritiman dan Investasi, yang menyebut kewarganegaraan ganda sebagai instrumen strategis pembangunan ekonomi dan teknologi nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah terbaru melalui kebijakan Global Citizenship of Indonesia (GCI) dari Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan patut dibaca sebagai “cek ombak” kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">GCI menawarkan izin tinggal tetap tanpa batas waktu bagi warga negara asing yang memiliki ikatan darah, historis, atau relasi kuat dengan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski belum menyentuh status kewarganegaraan penuh, kebijakan ini membuka ruang partisipasi diaspora—termasuk mereka yang terhalang aturan kewarganegaraan, namun tetap ingin berkontribusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif hipotesa <em>reverse brain drain</em>, GCI dapat menjadi jembatan awal: mengakui bahwa kontribusi tidak selalu mensyaratkan paspor tunggal, dan bahwa loyalitas pada bangsa dapat hadir dalam bentuk transfer pengetahuan, jejaring global, hingga pengabdian strategis di masa depan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alih-alih memaksa diaspora memilih “kami atau mereka”, negara justru perlu merancang arsitektur hukum yang cerdas, adaptif, dan berbasis kepentingan nasional jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, kasus Enzo–Syifa bukan tentang kehilangan atau pengkhianatan nasionalisme, melainkan tentang transformasi maknanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasionalisme Indonesia di era global tak lagi bisa bertahan sebagai tembok, melainkan harus menjadi jembatan—yang menghubungkan diaspora, institusi global, dan proyek kebangsaan. Jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan bukan hanya warga negara, tetapi juga masa depan talenta strategisnya sendiri. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/nalar-subs.mp3" length="2172836" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/nter-1024x536.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Apa Siasat Luhut di Kewarganegaran Ganda?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/apa-siasat-luhut-di-kewarganegaran-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 May 2024 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Diaspora]]></category>
		<category><![CDATA[kewarganegaraan ganda]]></category>
		<category><![CDATA[luhut]]></category>
		<category><![CDATA[Luhut Binsar Pandjaitan]]></category>
		<category><![CDATA[Luhut Pandjaitan]]></category>
		<category><![CDATA[warga negara asing]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=146350</guid>

					<description><![CDATA[Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan agar kewarganegaraan ganda untuk diaspora Indonesia diperbolehkan. Apa rugi dan untungnya?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/ganda-full.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memunculkan wacana agar kewarganegaraan ganda diperbolehkan di Indonesia. Mengapa?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“I got five passports, I&#8217;m never going to jail” – JAY-Z, “Otis” (2011)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Kehidupan seorang penyanyi rap (<em>rapper</em>) memang kerap kali bergelimang harta. Harta itu bahkan bisa tidak terhitung apabila <em>rapper</em> tersebut adalah bintang dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dunia rap juga bukanlah dunia yang mudah. Subkultur jalanan yang dipenuhi dengan isu rasial dan kemiskinan membuat musik ini juga dekat dengan dunia kriminal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, hal inilah yang dirasakan oleh salah satu <em>rapper</em> populer bernama JAY-Z. Suami dari diva terkenal, Beyoncé, bahkan punya pengalaman masa lalu di dunia kriminal, seperti dengan menjual obat-obatan terlarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, inilah mengapa, dalam lagu yang dirilisnya bersama Kanye West yang berjudul “Otis” (2011), JAY-Z menuliskan satu baris yang berhubungan dengan kehidupan gelapnya ini. <em>Rapper</em> yang berasal dari New York City (NYC) ini mengatakan, “Aku punya lima paspor. Aku tidak akan pernah masuk penjara.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat pertama di baris ini bukan tidak mungkin menimbulkan tanya. Bukankah biasanya setiap individu hanya memiliki satu paspor, yakni paspor yang dikeluarkan oleh negaranya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasalnya, paspor kerap menjadi dokumen kependudukan yang menandakan bahwa individu yang bersangkutan diakui sebagai warga negara. Dengan peraturan yang membatasi kewarganegaraan di Indonesia, sulit bagi JAY-Z untuk memiliki paspor Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, wacana lainpun muncul. Wacana ini datang dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mengusulkan agar para diaspora Indonesia di luar negeri bisa memiliki paspor Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Usulan Luhut ini menjadi menarik. Pasalnya, belum pernah ada aturan di Indonesia yang memperbolehkan warga negaranya untuk memiliki dua paspor atau, dalam arti lain, lebih dari satu kewarganegaraan, kecuali dalam situasi tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tidak mungkin, muncul pertanyaan-pertanyaan di benak. Mengapa Luhut akhirnya mengusulkan wacana untuk memperbolehkan kewarganegaraan ganda bagi warga negara Indonesia (WNI)? Memangnya, mengapa Indonesia mempunyai aturan untuk membatasi kewarganegaraan setiap individu?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/C6grbyLKaQi/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/C6grbyLKaQi/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="noopener nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/C6grbyLKaQi/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="noopener nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p> <script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kewarganegaraan = Kesetiaan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda terkait kewarganegaraan setiap individunya. Inipun bergantung pada kepentingan nasional yang dimiliki oleh negara tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kewarganegaraan biasanya dianggap sebagai bentuk kesetiaan seorang individu terhadap negaranya. Kesetiaan ini juga akhirnya berkaitan dengan isu keamanan, salah satu isu yang paling krusial dan eksistensil bagi sebuah negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam studi Hubungan Internasional (HI), dikenal sebuah konsep yang disebut sebagai anarki. Anarki sendiri merupakan sebuah situasi dunia di mana tidak ada satu kekuatan yang memiliki otoritas penuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, negara-negara hanya bisa saling berinteraksi dan menjalin perjanjian dengan satu sama lain. Namun, komitmen antarnegara juga akan hilang atau tidak diikuti bila salah satu negara tidak memiliki kepentingan yang sama lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, dengan tidak ada otoritas penuh, masing-masing negara akan merasa tidak aman dan saling mencurigai. Isu keamanan akhirnya menjadi salah satu isu eksistensial bagi setiap negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan bila keseimbangan kekuatan antar-negara di sebuah anarki terbagi menjadi dua negara besar, misal saat Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara adidaya di era Perang Dingin. Bukan tidak mungkin, isu kewarganegaraan ganda akan menjadi isu yang sensitif bagi banyak negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini sejalan dengan penjelasan Tomas Faist dalam tulisannya yang berjudul <em>Multiple Citizenship in a Globalising World: The Politics of Dual Citizenship in Comparative Perspective</em>. Faist menyebutkan bahwa dulunya kewarganegaraan dan kesetian politik tidak bisa dipisahkan sama sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu contoh yang paling jelas adalah kewarganegaraan ganda kelompok Tionghoa di Indonesia pada era Soekarno. Sejumlah aturan memperbolehkan warga Tionghoa memiliki kewarganegaraan ganda, yakni Tiongkok dan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tumbuh kecurigaan tertentu dari publik Indonesia terhadap mereka yang berkewarganegaraan ganda. Ada anggapan bahwa pemerintah Tiongkok bisa melakukan intervensi terhadap Indonesia melalui mereka yang berkewarganegaraan ganda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Harapan agar mereka memilih kewarganegaraan Indonesia juga terlihat dari sejumlah regulasi yang dikeluarkan Presiden Soekarno. Salah satunya adalah Undang-Undang (UU) Darurat No. 9 Tahun 1955 tentang Kependudukan Orang Asing yang bahkan bisa memberikan ancaman hukuman penjara bagi warga negara asing yang tidak memiliki dokumen-dokumen kependudukan yang legal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bila kewarganegaraan dahulu adalah isu yang sensitif, bagaimana dengan sekarang? Mengapa Luhut mendorong wacana ini?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/C6iC3qqJl-L/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/C6iC3qqJl-L/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="noopener nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/C6iC3qqJl-L/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="noopener nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p> <script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Siasat Ekonomi dan Politik?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring berjalannya waktu, kondisi dunia telah berubah. Isu keamanan menjadi isu yang lebih bisa ditangani. Sementara, negara-negara semakin saling terhubung satu sama lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterhubungan antarnegara di abad ke-21 ini membuat negara-negara memiliki kepentingan lebih kecil untuk berperang. Alhasil, ancaman keamanan juga ikut menurun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perpindahan individu dari satu negara ke negara lainnya juga terus meningkat. Ekonomi antarnegara akhirnya saling bergantung. Ini mengapa kini mulai banyak negara menerima kewarganegaraan ganda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru, dengan memberikan kewarganegaraan ganda juga membuat negara mendapatkan untung. Tulisan Carnegie yang berjudul <em>Embracing Dual Nationality</em> juga menjelaskan bahwa kewarganegaraan ganda justru membuat integrasi masyarakat imigran menjadi lebih cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang diinginkan oleh Presiden Soekarno kala itu, yakni agar komunitas Tionghoa yang masih menjadi warga negara Tiongkok bisa berintegrasi dengan cepat ke dalam masyarakat Indonesia. Apalagi, Indonesia kala itu membutuhkan dana pembangunan yang mereka bawa dari Tiongkok daratan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, Luhut mewacanakan agar kewarganegaraan ganda kembali diperbolehkan untuk diaspora. Wacana ini sebenarnya menguntungkan bagi pembangunan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia mengalami apa yang disebut sebagai <em>brain drain</em>, yakni berpindahnya warga-warga yang memiliki kemampuan tinggi keluar dari Indonesia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data dari The Global Economy, Indonesia memiliki indeks <em>brain drain</em> sebesar 5,7. Sementara, rata-rata dunia kala itu berkisar pada 5,17.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, dengan adanya kewarganegaraan ganda, ikatan kultural diaspora tidak begitu saja hilang dengan Indonesia. Ikatan ini akhirnya juga menguatkan ikatan mereka dengan keluarga di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini bisa berdampak baik bagi masuknya modal atau uang ke dalam Indonesia. Diaspora yang bekerja di luar negeri akhirnya bisa mengirimkan uangnya ke keluarganya di Indonesia, meningkatkan remitansi ke Indonesia.<em>Well</em>, bukan tidak mungkin, wacana ini bisa menguntungkan Indonesia ke depannya. Lagipula, mereka tetaplah orang Indonesia di benak mereka. Bukan begitu? (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BeAa3I7Oluk"><iframe title="Sejarah Kedai Kopi dan Politik: Kisah Minuman Politik Perlawanan Ottoman Atas Budaya Eropa" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BeAa3I7Oluk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/ganda-full.mp3" length="3028821" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/apa-siasat-luhut-di-kewarganegaraan-ganda-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
