<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Ketua Umum PKB &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/ketua-umum-pkb/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Feb 2022 07:07:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Ketua Umum PKB &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menuju Yenny Wahid Ketum PKB?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/menuju-yenny-wahid-ketum-pkb/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2021 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PKB]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Yenny Wahid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=89588</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="871" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-871x1024.jpg" alt="" class="wp-image-89594" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-871x1024.jpg 871w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-255x300.jpg 255w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-128x150.jpg 128w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-768x902.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-696x818.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-1068x1255.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-357x420.jpg 357w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB.jpg 1080w" sizes="(max-width: 871px) 100vw, 871px" /><figcaption>Beberapa kelompok dorong Yenny Wahid kembali pimpin PKB</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Menuju-Yenny-Wahid-Ketum-PKB-871x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gus Ami, Metamorfosis Cak Imin?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gus-ami-metamorfosis-cak-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Aug 2019 12:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Ami]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=63677</guid>

					<description><![CDATA[Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar kini tampaknya ingin dipanggil dengan nama baru, yakni Gus Ami. Penggantian nama tersebut bisa jadi merupakan metamorfosis politik sang ketum. PinterPolitik.com “Metamorphosis, this is what I changed to” – Nas, penyanyi rap asal Amerika Serikat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru saja melaksanakan Muktamar kelimanya di Bali. Di gelaran tersebut, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar kini tampaknya ingin dipanggil dengan nama baru, yakni Gus Ami. Penggantian nama tersebut bisa jadi merupakan metamorfosis politik sang ketum.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“Metamorphosis, this is what I changed to” – Nas, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>artai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru saja melaksanakan Muktamar kelimanya di Bali. Di gelaran tersebut, Ketua Umum PKB <a href="https://pinterpolitik.com//tag/muhaimin-iskandar"><strong>Abdul Muhaimin Iskandar</strong></a> (Cak Imin) tampaknya mulai bermanuver. Sang ketum sepertinya telah memutuskan untuk mengganti nama panggilannya dari “Cak Imin” menjadi “<a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190820101710-20-422943/muktamar-pkb-nama-cak-imin-di-baliho-berubah-jadi-gus-ami/" rel="nofollow"><strong>Gus Ami</strong></a>” – singkatan dari nama lengkapnya.</p>
<p>Mungkin, sosok yang terpilih kembali menjadi ketum tersebut tengah bermetamorfosis. Seperti larva yang telah menjadi seekor lebah sepenuhnya, mungkin Cak Imin merasa dirinya telah bertransformasi ke bentuk dan tahapan kehidupan selanjutnya.</p>
<p>Boleh jadi, larva lebah yang sebelumnya tak berkaki kini telah siap melangkah dan mengepakkan sayapnya untuk menjelajahi alam luas. Di tengah-tengah kondisi alam politik yang semakin ganas, sang lebah yang telah bermetamofosis kini memiliki senjata yang bisa saja menyengat pengganggu-pengganggunya kapanpun.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pak Presiden <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> melepaskan peluru ketapel untuk membangunkan para lebah agar bangkit dan bekerja, tanda dimulainya <a href="https://twitter.com/hashtag/muktamarpkb?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#muktamarpkb</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/muktamarpkb2019?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#muktamarpkb2019</a> <a href="https://t.co/eR4k2Zw3k4">pic.twitter.com/eR4k2Zw3k4</a></p>
<p>&mdash; A Muhaimin Iskandar (@cakimiNOW) <a href="https://twitter.com/cakimiNOW/status/1164041245674496001?ref_src=twsrc%5Etfw">August 21, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Terlepas dari <a href="https://pinterpolitik.com/misteri-lebah-cak-imin/"><strong>pengibaratan lebah</strong></a> ala <a href="https://pinterpolitik.com//tag/cak-imin"><strong>Cak Imin</strong></a> dan PeKaBee – istilah yang pernah dicuitkan oleh sang ketum – tersebut, apa arti dan makna di balik nama baru Cak Imin? Lalu, mengapa sang ketum memilih nama tersebut?</p>
<h4><strong>Fungsi Nama dan Gelar</strong></h4>
<p>Penamaan dan pemberian gelar bukanlah hal yang asing dalam kehidupan manusia. Dalam kebanyakan peradaban dan kebudayaan, penamaan dan pemberian gelar memiliki fungsi dan makna tertentu.</p>
<p>Di Mesir misalnya, pemberian nama dan gelar merupakan hal yang lumrah dilakukan sejak zaman kuno. Günter Vittmann dalam <a href="https://escholarship.org/uc/item/7t12z11t/" rel="nofollow"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Personal Names</em> menjelaskan bahwa nama personal bagi seseorang merupakan sebuah instrumen identifikasi dalam kehidupan – bahkan bagi memori sosial setelah orang tersebut meninggal dunia.</p>
<p>Vittmann menjelaskan bahwa, sejak zaman Mesir kuno, penamaan personal yang disertai dengan posisi dan gelar merupakan hal yang biasa dilakukan. Selain posisi dan gelar, penamaan genealogis berdasarkan keturunan juga sudah dilakukan sejak Periode Menengah Ketiga Mesir Kuno (1070-660 SM).</p>
<p>Penamaan genealogis juga digunakan di masyarakat Barat, terutama Inggris. Janet Finch dalam <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0038038508091624"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Naming Names</em> menjelaskan bahwa nama genealogis seseorang juga menunjukkan koneksi kekerabatan yang dimilikinya – menciptakan signifikansi dan status tersendiri atas nama tersebut.</p>
<p>Pada masa modern di Asia, signifikansi nama dan gelar genealogis ini paling terlihat pada klasifikasi sosial yang tercipta di Korea Utara (Korut). Pasalnya, nama genealogis “<a href="https://www.brookings.edu/blog/brookings-now/2018/02/26/kim-jong-uns-mysterious-family-tree/" rel="nofollow"><strong>Kim</strong></a>” selalu menyertai dinasti kepemimpinan di negara tersebut.</p>
<p>Selain nama genealogis, pemimpin-pemimpin Korut pun memiliki sejumlah gelar yang tidak bisa dianggap sedikit. Bahkan, Kim Jong-il – pemimpin Korut kedua – meninggal dunia dengan <a href="http://www.economist.com/node/16423358/" rel="nofollow"><strong>1.200 gelar</strong></a> semasa hidupnya.</p>
<p>Dua pemimpin terakhirnya – Jong-il dan Kim Jong-un – memiliki <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-17686183/" rel="nofollow"><strong>berbagai gelar</strong></a>, seperti Pemimpin Tertinggi (<em>Supreme Leader</em>) dan Sekretaris Jenderal Kekal (<em>Eternal Secretary General</em>). Dengan gelar-gelar tersebut, pemimpin Korut dinilai memiliki kekuasaan yang semakin terpusat.</p>
<p>Terlepas dari fungsi genealogisnya, nama dan gelar turut memberikan signifikansi tertentu bagi pemiliknya. Esther van den Berg dan timnya dalam <a href="https://www.aclweb.org/anthology/papers/W/W19/W19-2101/" rel="nofollow"><strong>tulisan</strong></a> mereka yang berjudul <em>Not My President</em> menjelaskan bahwa penamaan dan pemberian gelar dianggap sebagai penanda bagi status dan solidaritas kelompok dalam kajian sosio-lingustik.</p>
<p>Dalam tulisan van den Berg tersebut, fungsi nama dan gelar sebagai penanda status dan solidaritas tersebut juga berkaitan dengan proses <em>framing</em>. Melalui proses tersebut, terjadi presentasi diri dari entitas politik – baik disengaja maupun tidak disengaja – mendorong terbangunnya cara pandang tertentu terhadap entitas tersebut. Proses ini juga disebut sebagai <em>entity framing</em>.</p>
<p><hr /><p><em>Presentasi diri dari entitas politik – baik disengaja maupun tidak disengaja – mendorong terbangunnya cara pandang tertentu terhadap entitas tersebut.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fgus-ami-metamorfosis-cak-imin%2F&#038;text=Presentasi%20diri%20dari%20entitas%20politik%20%E2%80%93%20baik%20disengaja%20maupun%20tidak%20disengaja%20%E2%80%93%20mendorong%20terbangunnya%20cara%20pandang%20tertentu%20terhadap%20entitas%20tersebut.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Lantas, bagaimana dengan penggantian nama “Cak Imin” menjadi “Gus Ami?” Apakah Cak Imin tengah melakukan <em>entity framing</em>?</p>
<h4><strong>Gelar “Gus”</strong></h4>
<p>Penggantian nama “Cak Imin” menjadi “Gus Ami” bisa jadi memberikan ujung dan dampak politis. Selain itu, gelar “gus” juga memiliki makna tersendiri bagi kelompok tertentu.</p>
<p>Mungkin, gelar tersebut terdengar tidak asing bagi individu-individu yang menganggap dirinya sebagai bagian dari organisasi dan kelompok Nahdlatul Ulama (NU). Gelar “gus” kerap <a href="https://www.nu.or.id/post/read/79048/mengapa-kita-harus-biasakan-panggil-gus-untuk-kiai-muda/" rel="nofollow"><strong>dilekatkan</strong></a> pada kiai yang berusia muda.</p>
<p>Selain itu, banyak pihak menilai bahwa pemberian gelar “gus” sebenarnya bersifat genealogis – berdasarkan keturunan. Gelar tersebut biasanya diberikan kepada anak laki-laki dari kiai, guru agama, atau pengasuh pondok pesantren.</p>
<p>Seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Jember, Fitri Amalia, dalam <a href="http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/BB/article/view/72"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Sapaan Gelar Keagamaan pada Masyarakat Madura Jember</em> menjelaskan bahwa gelar “gus” – dan “lora” – digunakan untuk menyapa putra kiai. Gelar-gelar tersebut kerap digunakan dalam lingkungan pondok pesantren.</p>
<p>Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Mujiburrahman dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/09596419908721191"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Islam and Politics in Indonesia</em>. Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bahwa gelar “gus” biasanya diberikan kepada putra-putra kiai. Gelar “gus” ini dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas melalui penggunaannya atas pemberitaan Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di banyak media.</p>
<p>Meski sebenarnya Gus Dur bukanlah seorang “gus” lagi karena telah menjadi kiai, Mujiburrahman menilai bahwa nama tersebut menunjukkan signifikansi tertentu. Setidaknya, nama dan gelar tersebut menunjukkan pentingnya latar belakang keluarga Gus Dur yang merupakan putra dari K.H. Hasyim Asy’ari – pendiri organisasi NU – dan Solichah – putri dari Kiai Bisri Syansuri yang juga merupakan salah satu pendiri NU.</p>
<p>Sosok dan latar belakang Gus Dur inilah yang mungkin turut membuat gelar “gus” merefleksikan status tertentu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, nama dan gelar genealogis menunjukkan status dan jaringan keturunan.</p>
<p>Selain itu, gelar “gus” juga identik dengan kelompok NU. Pasalnya, terdapat <a href="https://www.nu.or.id/post/read/79048/mengapa-kita-harus-biasakan-panggil-gus-untuk-kiai-muda/" rel="nofollow"><strong>anggapan</strong></a> di kalangan NU sendiri bahwa panggilan “gus” tersebut secara eksklusif hanya eksis di kalangan organisasi tersebut.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan penggunaan gelar “gus” oleh Cak Imin?</p>
<p>Cak Imin bisa jadi berhak untuk menggunakan panggilan “gus.” Pasalnya, ketum PKB tersebut secara genealogis merupakan putra dari K.H. Muhammad Iskandar yang merupakan seorang guru dan pengasuh di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif di Denanyar, Jombang, Jawa Timur yang didirikan oleh Kiai Bisri Syansuri (kakek Gus Dur).</p>
<p>Dengan begitu, penggantian nama Cak Imin tersebut bisa jadi tengah melakukan <em>entity framing</em> atas status kekerabatan yang dimilikinya. Selain itu, penggunaan gelar tersebut – seperti yang dijelaskan oleh van den Berg dan timnya – boleh jadi juga berkaitan dengan ikatan dan solidaritas Cak imin dengan kelompok NU.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B1de-6hpZxj/" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B1de-6hpZxj/" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B1de-6hpZxj/" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Cak Imin punya nama panggilan baru Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #cakimin #pkb #infografis #infografik #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-08-22T09:08:51+00:00">Aug 22, 2019 at 2:08am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Jika memang Cak Imin menggunakan nama barunya untuk menyatakan status dan solidaritas kelompoknya, apa implikasi lanjutan dari nama tersebut dalam dinamika politik?</p>
<h4><strong>Implikasi Politik?</strong></h4>
<p>Penggunaan nama “Gus Ami” bisa jadi memiliki implikasi politik. Bila dijelaskan melalui konsep <em>entity framing</em>, Cak Imin mungkin tengah berusaha menguatkan posisinya di PKB dan kalangan NU.</p>
<p>Seperti yang dijelaskan oleh van den Berg dan timnya, proses <em>framing</em> tersebut dapat menguatkan status dan posisi pemilik nama atau gelar tersebut. Boleh jadi, penggantian nama tersebut berkaitan dengan faksi-faksi yang terdapat di kalangan PKB dan NU.</p>
<p>Pasalnya, di kelompok NU sendiri, ditengarai terdapat perpecahan di antara Cak Imin dengan faksi Gusdurian – berkaitan juga dengan konflik yang terjadi antara Cak Imin dan Gus Dur di masa lalu. Salah satu figur NU yang disebut-sebut sebagai Gusdurian adalah Yenny Wahid – putri Gus Dur. Perpecahan tersebut disinyalir masih eksis dengan <a href="https://nasional.tempo.co/read/1238470/gusdurian-yenny-wahid-mahfud-md-tidak-datang-ke-muktamar-pkb/" rel="nofollow"><strong>ketidakhadiran</strong></a> Yenny dan Mahfud MD dalam Muktamar PKB V.</p>
<p>Selain itu, penguatan posisi Cak Imin di PKB dan NU ini bisa saja berkaitan dengan pengunduran diri Rusdi Kirana – pengusaha dan pendiri Lion Air – yang sebelumnya <a href="https://www.newmandala.org/nahdlatul-ulama-politics-trap/" rel="nofollow"><strong>disinyalir</strong></a> oleh Greg Fealy menjadi patron dan sumber kekuatan PKB dalam menyalurkan dana dan program bagi jaringan NU.</p>
<p>Mungkin, dengan nama “Gus Ami,” Cak Imin berusaha menunjukkan status dan posisinya sebagai figur yang kuat di PKB dan kalangan NU. Dengan begitu, sang ketum PKB berusaha menunjukkan bahwa dirinya telah bermetamorfosis menjadi lebah sempurna.</p>
<p>Namun, meski terdapat pergejolakan di PKB-NU, gambaran politik tersebut belum tentu benar-benar berkaitan dengan manuver penggantian nama Cak Imin. Yang pasti, pada akhirnya, metamorfosis Cak Imin menjadi “Gus Ami” tersebut depat memberikan identitas baru bagi sang pemimpin lebah tersebut.</p>
<p>Mungkin, transformasi Cak Imin menjadi Gus Ami ini tergambarkan dalam lirik <em>rapper </em>Nas di awal tulisan. Sang ketum kini tengah ingin menjadi sosok yang lebih kuat, entah sekuat apa bila dihadapkan dengan <a href="https://bali.tribunnews.com/2019/08/20/pembukaan-unik-muktamar-v-pkb-jokowi-ketapel-sarang-lebah-sebagai-tanda-acara-dibuka/" rel="nofollow"><strong>ketapel Jokowi</strong></a> ketika membuka Muktamar lalu. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="zSZX1gK-Crg"><iframe title="GUS DUR: Ulama, Intelektual, Presiden" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/zSZX1gK-Crg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-61983" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/08/ECe0zS-U8AAnqbz-1024x682.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cak Imin Tamak Kursi Menteri?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/cak-imin-tamak-kursi-menteri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 May 2019 08:10:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[20 Menteri]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi-PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PKB]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=58513</guid>

					<description><![CDATA[“Imin gak iso dijarno (Imin tidak bisa dibiarkan)”. &#8211; Gus Dur, 3 minggu sebelum meninggal  Pinterpolitik.com Pasca pengumuman hasil Pemilu yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jokowi langsung kebanjiran ucapan selamat, baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu loh, banyak juga portal berita online luar negeri yang menulis tentang kemenangan doi. Tidak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Imin gak iso dijarno (<em>Imin tidak bisa dibiarkan</em>)”. &#8211; Gus Dur, 3 minggu sebelum meninggal</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong> Pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>asca pengumuman hasil Pemilu yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jokowi langsung kebanjiran ucapan selamat<em>, </em>baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak hanya itu loh, banyak juga portal berita <em>online</em> luar negeri yang menulis tentang kemenangan doi.</p>
<p>Tidak hanya dari luar negeri, pasca pengumuman kemenangan yang ditetapkan oleh KPU ini, tentu rekan koalisi partai silih berganti mengucapkan selamat juga ya tanpa terkecuali.</p>
<hr /><p><em>Cak Imin menyodorkan 20 nama untuk mengisi jajaran kementerian di kabinet Jokowi ke depannya. Weeewww, gokil ya, yang bener aja nih sebegitu banyak?</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Fcak-imin-tamak-kursi-menteri%2F&#038;text=Cak%20Imin%20menyodorkan%2020%20nama%20untuk%20mengisi%20jajaran%20kementerian%20di%20kabinet%20Jokowi%20ke%20depannya.%20Weeewww%2C%20gokil%20ya%2C%20yang%20bener%20aja%20nih%20sebegitu%20banyak%3F&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Nah, hal tersebut juga dilakukan oleh PKB sebagai anggota Koalisi Indonesia Kerja <em>gengs</em>. Di sela-sela proses pemberian ucapan selamat yang dilakukan oleh Muhaimin Iskandar atau yang sering disebut Cak Imin selaku Ketua Umum PKB, ada hal yang menarik dan menggelitik <em>cuy</em>. Tapi hal menarik ini bakal bikin partai koalisi Jokowi yang lain panas dingin. <em>Hayo</em> tebak apa?</p>
<p>Bener banget <em>cuy</em>, bayangin nih, Cak Imin menyodorkan 20 nama untuk mengisi jajaran kementerian di kabinet Jokowi ke depannya. <em>Weeewww</em>, gokil ya, yang bener aja nih sebegitu banyak? Ini maksudnya doi meminta jatah kursi atau hanya sebatas menyodorkan nama saja yang kalau dipilih nggak apa-apa?</p>
<p>Kalaupun doi hanya menyodorkan nama nih <em>cuy</em>, kelihatannya nggak harus sebanyak itu juga ya. Soalnya tidak menutup kemungkinan, partai koalisi yang lain juga bakal menilai secara berlebihan. Masak sih mau retak dulu sebelum pembahasan kabinet?</p>
<p>Bayangin nih, andai di antara 20 nama itu Cak Imin meminta separuh untuk dipilih menjadi menteri, kan itu jumlahnya udah 30 persen dari kabinet yang totalnya ada 34 kementerian. Apalagi nih, koalisi yang terbentuk bisa dibilang udah gemuk pakai banget lagi. Terus partai koalisi yang lain mau dibagiin apa nih? Lemper ayam? <em>Uppss. Hehehe.</em></p>
<p>Kan nanti banyak masyarakat yang bakal menilai Cak Imin ini tamak jabatan ya <em>gengs</em>. Padahal PKB kan sudah mendapatkan jatah kursi Wakil Presiden. Apalagi, denger-denger nih Cak Imin juga lagi ngincer kursi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). <em>Hadeh</em>, emang PKB udah ngerasa diri jadi partai pemenang atau gimana nih?</p>
<p>Apa jangan-jangan Cak Imin juga bakal memberikan bisikan kepada Jokowi agar menambah jumlah komposisi menteri disesuaikan dengan total partai koalisi? Kalan sampai dilakuin ama doi nih, wah, bakal <em>trendin</em>g dan rame nih.</p>
<p>Belum lagi Partai Demokrat dan PAN juga sudah bikin sinyal kuat untuk merapat ke Jokowi. Kalau Jokowi menghendaki, siap-siap aja ya <em>cuy</em>, bakal muncul nama-nama kementerian aneh yang sebelumnya belum kita dengar. Siapa tau nanti ada Kementerian Stand-Up Comedy, Kementerian Pengerukan Sungai, atau bahkan Kementerian Urusan Ibu-Ibu Sen Kiri Belok Kanan. <em>Upppss. </em><em>Hehehe.</em> (F46)</p>
<p><div class="youtube-embed" data-video_id="ZA_x-a0ezXI"><iframe loading="lazy" title="WNI KETURUNAN ARAB PROVOKATOR, BENARKAH???" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ZA_x-a0ezXI?start=3&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div></p>
<p> </p>
<p>                                                                                                                                                                      </p>


<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/Cak-Imin-memberikan-20-nam-acalon-menteri-Jokowi-Foto-Viva.co_.id_.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cak Imin ‘Main Licik’</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/cak-imin-main-licik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2018 08:32:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin cawapres Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=24923</guid>

					<description><![CDATA[“Siapa yang berbuat curang maka akan dibalas dengan kecurangan. Berlakulah jujur, karena kejujuran akan membawa keberkahan.” PinterPolitik.com [dropcap]P[/dropcap]emilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 sudah di depan mata, tapi gembar – gembornya masih belum begitu terasa kecuali kabar tentang sang petahana yang akan bertarung lagi. Tapi kabar tentang sang penantang belum jelas terdengar, hmmm, Jokowi semakin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Siapa yang berbuat curang maka akan dibalas dengan kecurangan. Berlakulah jujur, karena kejujuran akan membawa keberkahan.”</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]emilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 sudah di depan mata, tapi gembar – gembornya masih belum begitu terasa kecuali kabar tentang sang petahana yang akan bertarung lagi.</p>
<p>Tapi kabar tentang sang penantang belum jelas terdengar, <em>hmmm, </em>Jokowi semakin di atas angin dong, pantesan partai politik dan tokoh – tokoh pada merapat ke Jokowi, <em>woailaaaahh, </em>cari aman aja.</p>
<p>Masa politikus ga dididik untuk jadi petarung sih, malah merasa nyaman dengan gaya cari aman begitu. Kalau keputusannya gampang sih ga usah jadi politikus, ya setidaknya politikus itu kan yang seharusnya memunculkan dinamika politik. Kalau dominasi partai politik merapat ke Jokowi, <em>yailaaaah cemen </em>banget <em>dah</em> ah.</p>
<p>Lebih baik kayak Partai Bulan Bintang (PBB) dong, walaupun baru terdaftar lagi jadi peserta Pemilu, tapi PBB lebih baik milih kotak kosong dibandingkan Jokowi, ini baru ga cari aman.</p>
<p>PBB tahu sendiri kan gimana susahnya jadi peserta Pemilu, tapi giliran udah dapet malah ga mau nebeng kekuasaan sama Jokowi. Pokoknya, segala macam cara dia harus di seberang sang petahana, <em>wadidaawwww.</em></p>
<p>Padahal sih harusnya nebeng aja kan? Tapi Yusril sang Ketua Umum ga mau begitu. Nah kalau politikus itu harus punya sikap begini, biar ada dinamikanya. Kalau asal nebeng, <em>etttt </em>gimana ya? <em>Ahhhh cemen </em>aja gitu, <em>weleeeeh weleeeh.</em></p>
<p>Sikap Yusril ternyata bertolak belakang banget sama Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar a.k.a Cak Imin. Keduanya sih sama – sama melakukan segala cara, tapi kalau Cak Imin itu sedang berusaha dengan segala macam cara nebeng ke Jokowi.</p>
<p>Sedari jauh – jauh hari Cak Imin sudah mendeklarasikan menjadi Cawapres melalui spanduk – spanduk yang dipajang di jalan raya. <em>Hadeuuhh, </em>menuhin pandangan aja ya, belum tentu dipilih juga kan? <em>Upssss.</em></p>
<p><em>Woailaaahh </em>sampe segitunya mau jadi Cawapres. Bahkan PDIP sempat menyindir Cak Imin, kalau Cawapres itu ditentukan lewat dialog bukan spanduk, masa mau jadi Cawapres spanduk, <em>weleeeeh weleeh.</em></p>
<p>Terlebih kini Cak Imin sudah dilantik jadi Wakil Ketua MPR. Nah loh, mau jadi Cawapres tapi malah<em> ngegarap</em> Wakil Ketua MPR, gimana sih?</p>
<p>Usut punya usut, kata Sekjen PKB, Cak Imin jadi pimpinan MPR itu sekalian mau nebeng program MPR untuk sosialisasi dirinya untuk jadi Cawapres. <em>Hadeuuuhhh, </em>ampun dah ah. Nebeng mulu, <em>weleeeeh weleeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/muhaimin-1-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
