<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kekerasan-dalam-rumah-tangga-kdrt/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Sep 2022 13:11:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kasus Lesti-Billar, Begini Tanggapan Lesti</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/kasus-lesti-billar-begini-tanggapan-lesti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2022 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Berbasis Gender (KBG)]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Lesti Kejora]]></category>
		<category><![CDATA[Rizky Billar]]></category>
		<category><![CDATA[Skandal Perselingkuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=116704</guid>

					<description><![CDATA[Lesti Kejora laporkan suaminya, Rizky Billar, atas kasus KDRT setelah diduga ketahuan selingkuh. Mengapa fenomena ini begitu marak?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Publik dan warganet baru-baru ini dihebohkan dengan kabar pelaporan yang dilakukan oleh penyanyi bernama Lesti Kejora atas suaminya, Rizky Billar, terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena diduga selingkuh. Persoalan ini tunjukkan bagaimana persoalan gender masih jadi masalah besar di masyarakat Indonesia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>“Sisa cinta ‘kan jadi cerita, tersimpan selamanya bersama kejora” – Lesti Kejora, “Kejora” (2014)</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Akhir-akhir ini, media massa dan media sosial (medsos) dipenuhi oleh berita-berita perselingkuhan yang dilakukan oleh figur-figur publik – mulai dari Reza Arap Oktavian, Adam Levine (vokalis Maroon 5), hingga Rizky Billar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ramainya berita-berita seperti ini jadi perbincangan <em>lho</em> di linimasa-linimasa medsos. <em>Nggak</em> sedikit dari mereka pengguna medsos seperti Twitter mengkritik selebriti-selebriti laki-laki yang mengkhianati pasangannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang <em>sih</em>, pengkhianatan apapun bakal terasa sakit. Ini pun berlaku <em>lho</em> bagi pengkhianatan politik. Kalau <em>nggak</em> percaya, coba tanya pada Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Persaudaraan Alumni (PA) 212. <em>Hehe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, terlepas dari persoalan politik, persoalan rumah tangga ini juga penting <em>lho</em>, <em>guys</em>. Apalagi <em>nih</em>, keluarga itu merupakan lingkaran internalisasi pertama bagi siapa pun. Bila mengacu pada filsuf Yunani kuno bernama Aristoteles, justru dari unit keluarga lah semua berangkat menjadi lebih terorganisir ke unit lebih besar – mulai dari desa, polis, hingga negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, <em>gimana </em>jadinya kalau ternyata dari unit terkecil seperti keluarga <em>udah</em> muncul masalah-masalah yang mengganggu harmoni – misalnya perselingkuhan? Belum lagi <em>nih</em>, bila masalahnya malah berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan berbasis gender (KBG). <em>Waduh</em>! Parah <em>sih</em>.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/0eW1ZhUyQYhaMwxn-DivIXufOelvU3dzNj4aOCCzw14QlTyPT5J2YY3_yiQFl57OrYG7vqxXoRoJ3RQmOhkZyG3a3yh80g6iLmUeQQiu4iTP7hbCugBSNN34bqr7DDsbnSeq4HvBMcSVtKGZoSfylTIjXI1R7i1l00AsdHJ9KpO-yAhRFLwz9xqotEXPGQ_DAj1S3g" alt="Tanggapan Lesti Sudah Benar"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yang terbaru <em>nih</em>, <em>guys</em>. Kabarnya, penyanyi dangdut bernama Lesti Kejora mengalami KDRT dari suaminya, Rizky Billar. Kasus ini jelas menambah deretan KGB dan KDRT yang telah jadi <em>problem</em> di masyarakat kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, tapi <em>nih</em>, dari sekian persoalan rumah tangga seperti yang dilakukan oleh Reza Arap, Rizky Billar, hingga Adam Levine ini, ada persoalan apa <em>sih</em> di masyarakat pada umumnya? Mungkin, jawaban paling sering kita dengar adalah budaya patriarkis yang masih kita rawat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teni Davoudian dalam tulisannya yang berjudul <em>I Cheat Because I Can: Power, Sexism and Approval of Infidelity</em> menjelaskan bagaimana perselingkuhan sendiri bisa marak terjadi. Davoudian menyebutkan bahwa distribusi kekuatan antara laki-laki dan perempuan bisa mempengaruhi sebuah hubungan percintaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, inilah mengapa kita kerap menjumpai di masyarakat kasus-kasus KGB yang menjadikan perempuan sebagai korban – yakni karena distribusi kekuatan antar-gender yang belum setara. Bisa jadi, dari berbagai kasus seperti yang dialami oleh Lesti Kejora, kita semua perlu belajar bagaimana menghormati dan menjaga martabat antar-gender – apalagi dalam sebuah hubungan pernikahan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanggapan atau reaksi Lesti atas apa yang terjadi padanya bisa jadi adalah tanggapan yang paling sesuai. <em>Gimana </em>pun juga, kekerasan tidaklah benar untuk dilakukan – apapun alasannya. Ini saatnya bagi masyarakat untuk memberi ruang lebih kepada para korban kekerasan untuk memperjuangkan haknya. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="MhkQBIu62p4"><iframe title="Dua Lipa, Perang Bosnia dan Feminisme di Industri Musik" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/MhkQBIu62p4?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/Kasus-Lesti-Billar-Begini-Tanggapan-Lesti-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KDRT &#8216;Sunyi&#8217; Ibuku</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/kdrt-sunyi-ibuku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Jan 2018 10:34:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=20894</guid>

					<description><![CDATA[Pagi itu, seperti pagi biasanya. Ibu menyiapkan kopi dan sarapan untuk Ayah. Tak ada yang aneh, apalagi mencurigakan. Sampai saatnya Ayah berangkat ke kantor. PinterPolitik.com  [dropcap]R[/dropcap]encana ini sudah disusun lama, yakni sejak tiga bulan lalu. Secara sembunyi dan perlahan, saya dan Ibu memindahkan barang-barang ke rumah kakak di daerah Tebet, Jakarta Selatan dari rumah kami [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Pagi itu, seperti pagi biasanya. Ibu menyiapkan kopi dan sarapan untuk Ayah. Tak ada yang aneh, apalagi mencurigakan. Sampai saatnya Ayah berangkat ke kantor.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d1db00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]R[/dropcap]encana ini sudah disusun lama, yakni sejak tiga bulan lalu. Secara sembunyi dan perlahan, saya dan Ibu memindahkan barang-barang ke rumah kakak di daerah Tebet, Jakarta Selatan dari rumah kami di daerah Depok, Jawa Barat.</p>
<p>Bersamaan dengan proses itu, saya dan Ibu mendatangi lembaga yang bergerak dalam perlindungan hukum perempuan dan anak, guna meminta pendampingan untuk melaporkan Ayah. Ya, di pernikahan yang sudah memasuki usia 30 tahun, Ibu memutuskan untuk bercerai dengan Ayah dengan alasan KDRT.</p>
<p>Selintas, tak ada yang salah dengan keluarga kami. Ayah dan Ibu tak pernah kedapatan mata bertengkar, berdebat saja tak pernah. Lantas, apa sebab Ibu bercerai dari Ayah? Delik yang dipakai KDRT pula.</p>
<p>Kekerasan yang dilakukan Ayah awalnya memang sangat sulit saya baca. Tak ada bekas di tubuh dan fisik Ibu. Setelah sadar akan keberadaan kekerasan pun, saya masih saja melakukan penolakan, pembenaran, bahkan berpura-pura tak tahu.</p>
<p>Tetapi, saat mengerjakan skripsi dan memikirkan Ibu yang semakin tua, tiba-tiba saja air mata jatuh, tak berhenti. Saya menangis sejadi-jadinya, memikirkan betapa jahatnya saya mendiamkan Ibu berada lebih lama dalam kondisi yang menyiksa.</p>
<p>Sejak sadar dengan hubungan Ayah dan Ibu, saya masih duduk bangku SD. Ibu tak pernah sekalipun keluar rumah, terlihat menelpon atau berbicara dengan orang lain pun, tidak. Sekalinya membaca koran dan buku, Ayah memintanya dan hanya menatap tajam dengan galak. Ya, ini sudah terjadi selama lebih dari dua dekade dalam keluarga kami.</p>
<p>Saya baru menyadari jika apa yang dilakukan Ayah adalah bentuk kekerasan psikis, sejak saya kuliah di semester akhir. Isolasi, melarang bersosialisasi, dan protektif ekstrem, merupakan bentuk-bentuk kekerasan yang sama berbahayanya dengan tamparan atau tendangan seseorang. Rasa tak karuan menggelayuti. Hingga akhirnya saya bicara dengan Ibu. Apakah Ibu sadar jika dirinya menjadi korban KDRT selama ini?</p>
<p>Saat saya utarakan, Ibu menangis dan kami hanya bisa berpelukan. Ibu sudah tak tahan dengan keadaan pernikahannya. Tetapi bagaimana dirinya mau lepas, jika ia masih sangat bergantung secara ekonomi pada Ayah?</p>
<p>Sejak menikah 30 tahun lalu, Ibu tak lagi dibolehkan bekerja oleh Ayah. Ia diwajibkan mengurus anak dan rumah. Tapi apa daya, rumah ternyata selama ini menjadi sangkar buat Ibu. Tak hanya memaksa berhenti bekerja, Ayah sama sekali tak membolehkannya bersosialisasi dengan tetangga dan teman-temannya, mengabari keluarganya, mendirikan usaha sendri, bahkan tak boleh membaca dan menulis!</p>
<p>Menghadapi kondisi yang bahkan lebih buruk dari penjara tersebut, siapa yang tak terguncang jiwanya? Ibu harus berkonsultasi pula dengan psikolog selama beberapa bulan, hingga sang konselor memasukkan kondisi psikis ibu sebagai bukti kekerasan Ayah terhadapnya.</p>
<p>Dokumen dan bukti sudah dimasukkan ke pangadilan. Dan di pagi itu, di pagi yang menurut Ayah adalah pagi-pagi yang sama, Ibu menyelipkan sebuah surat berisi undangan sidang berbunyi, “sampai jumpa di pengadilan” dan surat resmi dari pengadilan agama. Setelah Ayah pergi bekerja, Ibu pun turut keluar dari rumah menuju Tebet dan tak kembali.</p>
<p>Sejak pagi itu, Ayah dan Ibu kembali bertatap muka di pengadilan sebagai terlapor dan pelapor. Ayah bingung luar biasa. Apa salahnya? Mengapa tiba-tiba begini? Setelah tahu anak-anaknya berada di sisi Ibu alih-alih di pihaknya, ia mulai gusar dan marah. Saat mediasi gagal, di pertemuan berikutnya, Ayah membawa Pak RT sebagai saksi yang meringankan dugaan KDRT dan perselingkuhan. Tunggu, ada perselingkuhan?</p>
<p>Yang tidak kusangka, ternyata selain KDRT, Ayah juga melakukan perseligkuhan.Ibu membongkarnya saat merapikan dokumen-dokumen, dan menemukan sebuah transaksi asing atas nama perempuan yang tak pernah didengarnya. Bukan keluarga maupun kolega, siapa dia?</p>
<p>Setelah didalami, ternyata sudah 5 tahun Ayah menikah diam-diam dengan perempuan lain. Bahkan punya anak dari pernikahan tersebut. Bukti pembelian mobil dan rumah jadi bukti.</p>
<p>Dua bulan proses sidang berjalan, akhirnya mereka berpisah. Tak ada yang disesali apalagi dibuat menjadi duka dalam perpisahan. Sebaliknya, justru kelegaan, rasa haru bahagia, dan kemenangan membuncah dalam dada.</p>
<p>Kini saya tinggal dengan Ibu di rumah yang baru. Rumah yang dibeli Ayah atas nama saya, anak perempuan bontotnya, beberapa tahun lalu. Di rumah ini, Ibu menjalani hari-hari barunya dengan lebih optimis dan bercahaya. Perjalanan ini pula makin merapatkan hubungan saya dengan Ibu di harinya yang makin senja. (Berbagai sumber/ A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/73215-mengapa-ibu-rumah-tangga-lebih-rentan-jadi-korban-kdrt.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Korban KDRT &#8216;Diam&#8217;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/mengapa-korban-kdrt-diam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2018 13:08:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=20836</guid>

					<description><![CDATA[“Tugas menjaga rumah tangga itu ada di pundak istri. Kalau suami berbuat maksiat, itu salah istri!” begitu kata seorang keluarga padanya. Yah, bagaimana bisa melarang, jika sekali mengeluarkan suara, tamparan mendarat di wajahnya? Mengapa pula istri tak melapor? PinterPolitik.com  [dropcap]A[/dropcap]ni baru saja ditinggal suaminya. Bukan rahasia umum jika laki-laki itu meninggal karena overdosis narkoba. Selain [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Tugas menjaga rumah tangga itu ada di pundak istri. Kalau suami berbuat maksiat, itu salah istri!” begitu kata seorang keluarga padanya. Yah, bagaimana bisa melarang, jika sekali mengeluarkan suara, tamparan mendarat di wajahnya? Mengapa pula istri tak melapor?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d1db00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]A[/dropcap]ni baru saja ditinggal suaminya. Bukan rahasia umum jika laki-laki itu meninggal karena overdosis narkoba. Selain pemakai dan pecandu, suami Ani juga terkenal memiliki perangai kasar. Tamparan, tendangan, dan makian kerap melayang kepada Ani saat menjalani bahtera rumah tangga dengan alm. suaminya.</p>
<p>Suami Ani bekerja sebagai pengusaha. Saat usahanya meroket dan sukses, Ani diminta untuk tak lagi bekerja dan tinggal di rumah oleh suaminya. Ani, yang tadinya ikut terlibat dalam usaha sang suami, juga dicegah ‘ikut campur’ mengurus perusahaan bersama.</p>
<p>Bayangkan saja, sudah harus menerima kekerasan fisik dari suami, kini Ani harus menanggung pula kekerasan psikis berupa pembatasan ruang gerak dan keuangan oleh suami.</p>
<p>Ani pikir, meninggalnya sang suami, walau dengan keadaan mengenaskan, akan membawa sebuah ketenangan dan setidaknya, sedikit kebebasan baginya. Tapi sayang, tidak. Keluarga suami menyalahkan dirinya karena Ani dianggap tidak bisa mengatur dan melarang suami.</p>
<p>Ani hanya bisa menjawab, “bagaimana saya melarang dia, ketika ditanya ‘kok malam pulangnya?’, saya langsung mendapat tamparan di pipi dan dibilang cerewet banyak ngatur?”</p>
<p>Namun apa daya, respon yang diterima Ani malah membuatnya makin sedih saja. “Tanggung jawab keluarga itu ada d pundak istri. Bila suami melakukan kesalahan sampai terjerumus dalam kemaksiatan, itu karena salah sang istri!”</p>
<p>Wah, sungguh betapa berat menjadi seorang istri ideal yang dibangun oleh masyarakat patriarkis. Sudah patuh dan menurut pada suami, masih saja salah. Tengok saja, istri diminta untk patuh dan menurut kepada suami. Suami digadang-gadang dalam kitab suci sebagai seorang pemimpin keluarga dan istri yang yang baik ada mereka yang tak pernah menentang kehendak suaminya. Bahkan, saat terjadi kekerasan terhadap istri, masyarakat masih saja cenderung menyalahkan istri.</p>
<h4><strong>Keengganan Melapor ke Polisi</strong></h4>
<p>Saat seorang istri mengalami kekerasan dari suami, mereka jarang melaporkan suaminya ke polisi. Bahkan ketika peraturan mengenai KDRT yang termaktub dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekeran Dalam Rumah Tangga, Ani, beserta sebagian besar perempuan lainnya, lebih memilih untuk menempuh jalan damai atau mediasi. Mengapa? Karena para perempuan ini masih memiliki ketergantungan ekonomi dan psikis pada pelaku (pasangan).</p>
<p>Keterbatasan ekonomi dan kebutuhan untuk dilindungi serta disayang orang lain (pasangan), adalah penyebab utama keengganan para korban melaporkan pelaku KDRT. Meskipun kekerasan yang dialami terkadang tergolong dalam KDRT berat, korban tidak ingin pelaku dihukum atau dipenjara. Mereka hanya berharap pelau dapat mengubah perilakunya tersebut. Dari sini, tak jarang korban baru menempuh proses pidana saat kekerasan benar-benar sudah berat dan berulangkali terjadi.</p>
<p>Catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2014 menunjukan, kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 293.220. dari angka tersebut, sekitar 96% atau 280. 710 adalah kasus KDRT. Data ini didapat Komnas Perempuan ‘hanya’ dari Pengadilan Agama, artinya hanya yang tercatat atau diselesaikan secara hukum perdata saja yang terekam. Sedangkan bagi korban yang mengalami KDRT dan memperkarakannya ke hukum pidana, jumlahnya lebih kecil lagi.</p>
<p>Dengan demikian, perempuan sebagai pihak yang hampir selalu menjadi korban KDRT, menemui beban berlapis yang datang dari luar dan diri sendiri. Yakni kerap dilempar kesalahan oleh masyarakat atau keluarga, serta masih sangat bergantung secara ekonomi dan psikis terhadap pelaku KDRT.</p>
<p>(Disadur dari Konde.co/ A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/87-880x480.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Marlina Hancur ‘Diperkosa’ Polisi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/marlina-hancur-diperkosa-polisi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R17]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2018 12:36:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Women Justice]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=20794</guid>

					<description><![CDATA[Marlina hanya paham memasak sop ayam. Dia tidak paham memenuhi nafsu bejat peternak sapi. PinterPolitik.com Marlina, ibu muda di gubuk terpencil Sumba. Hidup bagai terpaku di dapur gubuknya, dipaksa menghidangkan sop ayam untuk para tamu suaminya. Bukan apa-apa, memang tamu-tamu ini sangat menyukai sop ayam buatannya. Mereka bisa datang beberapa kali dalam seminggu, hanya untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Marlina hanya paham memasak sop ayam. Dia tidak paham memenuhi nafsu bejat peternak sapi.</strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #ccdb00;">PinterPolitik.com</span></strong></p>
<p><span class="dropcap dropcap3">M</span>arlina, ibu muda di gubuk terpencil Sumba. Hidup bagai terpaku di dapur gubuknya, dipaksa menghidangkan sop ayam untuk para tamu suaminya. Bukan apa-apa, memang tamu-tamu ini sangat menyukai sop ayam buatannya. Mereka bisa datang beberapa kali dalam seminggu, hanya untuk meminta jatah sop ayam racikan tangan lembut Marlina.</p>
<p>Para tamu itu adalah juragan-juragan sapi perah rekanan suaminya. Mereka punya akses langsung ke dapur. Ya, mereka tak hanya bersautan dari ruang tengah gubuknya, tapi juga bisa masuk ke ruang penyajian. Mereka pun leluasa memaki Marlina tiada ampun, bila ibu muda ini sesekali berani menyajikan sop ayam yang hambar.</p>
<p>“Apa ini Marlina?! Sop ayam kali ini seperti air kobokan!” ujar Markus.</p>
<p>Si Markus, juragan dengan kepala terbesar, adalah yang paling menikmati dan paling kecewa kalau tidak mampu dipuaskan. Tak hanya sop ayamnya, tapi juga Marlinanya. Markus paling suka menjahili Marlina kala dirinya sedang memasak. Sambil mencicipi sop Marlina, Markus juga suka memijat bahu dan mengelus tangan lembut Marlina.</p>
<p>“Jangan Markus…!!” jerit Marlina. Walau didengarkan oleh suaminya yang terhuyung lemas di ruang tengah. Markus tak bergeming. Ia malah menyeret Marlina ke kamar dan menghabisi hasrat seksualnya malam itu. Marlina geram. Dengan sekali tebas, ia pun menghabisi Markus dengan golok yang ada di bawah kasurnya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-20846 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/2017-11-30-15-18-47-MarlinasiPembunuhdalamEmpatBabak.png" alt="" width="800" height="401" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/2017-11-30-15-18-47-MarlinasiPembunuhdalamEmpatBabak.png 800w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/2017-11-30-15-18-47-MarlinasiPembunuhdalamEmpatBabak-300x150.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/2017-11-30-15-18-47-MarlinasiPembunuhdalamEmpatBabak-768x385.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/2017-11-30-15-18-47-MarlinasiPembunuhdalamEmpatBabak-696x349.png 696w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></p>
<p>Apa sekarang? Apa yang harus dilakukan Marlina setelah ini? Dengan penggalan kepala Markus di tangannya?</p>
<p>Sempat ia ingin berlari, menjauh, sembunyi.</p>
<p>Tapi tidak, ia tahu harus apa. Berlari, mencari keadilan. Dia berjalan lemas, sempoyongan keluar rumah dan mencari tumpangan ke pusat kota. Hanya ada satu tempat yang ia dambakan hari itu, kantor polisi.</p>
<p>Sejauh yang ia tahu, hanya kantor polisi tempatnya mencari keadilan. Di sekolah dasar yang ia kecap dahulu, polisi adalah pahlawan masyarakat. Mereka adalah penggebuk orang-orang jahat. Marlina meyakini itu, lalu ia rengkuh keyakinan itu dengan berjalan puluhan kilometer menuju kantor polisi.</p>
<p><figure id="attachment_20796" aria-describedby="caption-attachment-20796" style="width: 1024px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-20796" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Marlina_the_murdere_in_four_acts-5-2000-2000-1125-1125-crop-fill.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Marlina_the_murdere_in_four_acts-5-2000-2000-1125-1125-crop-fill.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Marlina_the_murdere_in_four_acts-5-2000-2000-1125-1125-crop-fill-300x169.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Marlina_the_murdere_in_four_acts-5-2000-2000-1125-1125-crop-fill-768x432.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Marlina_the_murdere_in_four_acts-5-2000-2000-1125-1125-crop-fill-696x392.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Marlina_the_murdere_in_four_acts-5-2000-2000-1125-1125-crop-fill-747x420.jpg 747w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-20796" class="wp-caption-text">Marlina sulit mendapatkan keadilan</figcaption></figure></p>
<p>Tapi setelah peluh dan tetesan darah yang ia korbankan, apa yang dia dapatkan dari polisi?</p>
<p>“Pak, saya diperkosa teman-teman suami saya. Suami saya tidak bisa apa-apa karena dia berutang ke teman-temannya itu,” ujar Marlina</p>
<p>“Baik Bu, kami sudah mencatat laporan Ibu. Silahkan kembali dua minggu lagi. Alat visumnya belum ada sekarang,” ujar Pak Polisi.</p>
<p>“Lalu, saya harus apa sekarang? Bisa bapak ke rumah saya mengecek TKP?” tanya Marlina resah.</p>
<p>“Tidak bisa Bu, Personil kami sedang leha-leha main bola pingpong.”</p>
<p>“Silahkan pulang sana Bu,” pungkas Pak Polisi mengusir Marlina.</p>
<p>Marlina diam. Dia sekali lagi dihancurkan oleh polisi-polisi gendut itu. Padahal, waktu sekolah kepolisian di Jakarta, mereka belajar hukum. Seharusnya mereka baca UU Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan KDRT, di Pasal 18 dan 19, di mana polisi wajib mengedukasi korban KDRT dan dilarang menolak permintaan tolong seorang korban KDRT.</p>
<p>Ada pula aturan lain yang harusnya polisi juga tahu. Dalam UU yang sama di Pasal 8, tindak pidana KDRT seharusnya dihukum lebih berat apabila ada pemaksaan hubungan seksual untuk tujuan komersial/finansial. Pasal ini, setidaknya bisa menjerat suami Marlina, yang diam saja melihat istrinya diperkosa.</p>
<p>Polisi sebagai penegak hukum masa tidak tahu hukum, sih!</p>
<p>Tapi untuk Marlina, karena ia hanya lulusan SD, wajar lah tidak mengerti hukum. Mungkin begitu pikiran polisi-polisi gendut melihat Marlina, seonggok tubuh wanita tak berpendidikan. Tak ada hukum yang mampu melindunginya.</p>
<p>Marlina yang rapuh sudah tak bisa lagi menangis. Air matanya sudah habis sejak berhari-hari yang lalu. Dia ingin berteriak di Sumba yang sepi, namun pasti tak ada yang mendengar.</p>
<p>Tak hanya habis ‘diperkosa’ sepi, Marlina juga hancur ‘diperkosa’ polisi.  <strong>(R17)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>(Disadur dengan modifikasi dari film Marlina The Murderer in Four Acts)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/marlina5.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Hardik Istri Terdidik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jangan-hardik-istri-terdidik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2018 09:59:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)]]></category>
		<category><![CDATA[Women Justice]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=20548</guid>

					<description><![CDATA[“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”  ~ Tere Liye PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]emua manusia memiliki hak untuk mendapatkan layanan pendidikan. Hasrat untuk menuntaskan pendidikannya tak terbatai oleh sekat-sekat apapun. &#8220;Aku ingin menjadi istrimu. Aku percaya pada apa yang kulakukan dan tak peduli bila terkesan aku yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><em><strong>“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”</strong></em>  ~ <strong><em>Tere Liye</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb28;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]emua manusia memiliki hak untuk mendapatkan layanan pendidikan. Hasrat untuk menuntaskan pendidikannya tak terbatai oleh sekat-sekat apapun.</p>
<p><em>&#8220;Aku ingin menjadi istrimu. Aku percaya pada apa yang kulakukan dan tak peduli bila terkesan aku yang melamarmu. Lagi pula apa salahnya meminta pria berbudi menjadi suami?”</em></p>
<p>Bahkan ada sebuah adagium yang menyatakan “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”. Hal ini merepresentasikan sebuah gairah belajar yang takkan berhenti dan tidak ada halangan yang dapat membatasi keinginan untuk belajar, bahkan sampai ke liang lahat sekalipun.</p>
<p><em>“Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal.&#8221; ~ RA Kartini</em></p>
<p>Dalam sebuah jalinan pernikahan terkadang latar belakang pendidikan antara suami dan istri kerap menjadi batu ganjalan. Gengsi diantara satu sama lain. Terlebih, bila pendidikan suami lebih rendah dibandingkan istrinya.</p>
<p>Bukan hanya sekadar gengsi saja, namun terkadang dalam saat – saat tertentu sang suami merasa seperti terkucilkan atau bahkan merasa martabatnya dihancurkan.</p>
<p>Terjadi sebuah dialog yang akhirnya sangat tak terduga antara suami – istri yang masih terbilang muda. Tragedi yang akan terjadi ini berawal dari keinginan sang istri untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas.</p>
<p>Namun, karena sang suami menganggap pendidikan itu sebuah ancaman, secara perlahan ia pun menyatakan ketidaksetujuannya dengan bahasa yang halus. Tetapi, sang istri yang begitu bergairah untuk terus menuntut ilmu, berupaya keras membujuk suaminya agar restu bisa didapatkannya.</p>
<p>Bujukan yang tak henti ini, pada akhirnya membuat sang suami merasa terganggu  Sekali waktu, sang suami pun terpaksa membentak istrinya yang terus menerus bertanya mengenai alasan ia tak direstui untuk belajar lagi.</p>
<p>Cekcek diantara keduanya pun tak terhindarkan, istri yang merasa dikekang hak-haknya mulai berani memberontak. Akibatnya, suaminya pun kerap terpancing. Apalagi, ketika istrinya kembali mengungkit pendidikan dirinya yang lebih rendah.</p>
<p>Suatu malam, pasangan ini kembali bersilang pendapat sampai-sampai kemarahan sang suami tidak lagi bisa dibendung. Emosi ini tersulut akibat rasa jemu dengan kengototan istrinya yang tak kunjung reda. Maka tanpa pikir panjang, suaminya pun melakukan suatu tindakan yang tidak terduga.</p>
<p>Dengan pikiran yang tak jernih lagi, sang suami mengambil sebilah golok lalu menarik paksa tangan istrinya. Di tebasnya golok itu pada tangan istrinya, sehingga kelima jari tangan kanan istrinya putus.</p>
<p>Jerit kesakitan diiringi tangis pilu sang istri, seakan tak diindahkan oleh suaminya. Apalagi saat istrinya yang berlumuran darah itu menerjangnya hingga tersungkur. Bukan rasa iba yang ada di hati suaminya, terjangan ini malah membuat amarahnya semakin membara.</p>
<p>Dengan kasar sang suami pun bangkit dan menjambak rambut istrinya. Dengan penuh amarah, ia berkata, <em>“Masih mau belajar hah? Sekarang mau menulis pakai apa kau? Jadi istri tak tahu diuntung, jarimu putus semua. Masih mau belajaaaaar hah??”</em></p>
<p>Malam itu, dua impian sang istri melayang sudah. Pernikahannya tidak akan pernah sama lagi seperti dahulu, begitu pun hasratnya untuk meneruskan pendidikan ikut musnah.</p>
<p>Niatnya untuk menjadi ibu dan istri yang terpelajar dan bermanfaat bagi keluarga, berbuah nestapa. Belum lagi trauma psikologis yang ia terima malam itu, membuatnya terus merasa ketakutan dan kepedihan yang mendalam.</p>
<p><em>“Demikian kisahnya berakhir di tengah – tengah manusia.”</em></p>
<p>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/Ilustrasi-KDRT--1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
