<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kebijakan Fiskal &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kebijakan-fiskal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Aug 2023 01:56:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kebijakan Fiskal &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rupiah “Ketiban Sial” Dari AS?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/rupiah-ketiban-sial-dari-as/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S83]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Aug 2023 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[Fiskal]]></category>
		<category><![CDATA[Fitch Ratings]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Fiskal]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Uang]]></category>
		<category><![CDATA[Rupiah]]></category>
		<category><![CDATA[suku bunga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=132643</guid>

					<description><![CDATA[PinterPolitik.com Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali melemah setelah adanya sentimen penurunan peringkat utang jangka panjang AS oleh lembaga Fitch Ratings. Di kawasan Asia Pasifik, mayoritas mata uang bergerak di teritorial negatif dengan penurunan terparah dialami mata uang Korea Selatan. Fitch Ratings menurunkan peringkat&#160;surat utang jangka panjang AS dari sempurna atau &#8216;AAA&#8217;&#160;ke [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali melemah setelah adanya sentimen penurunan peringkat utang jangka panjang AS oleh lembaga Fitch Ratings. Di kawasan Asia Pasifik, mayoritas mata uang bergerak di teritorial negatif dengan penurunan terparah dialami mata uang Korea Selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fitch Ratings menurunkan peringkat&nbsp;surat utang jangka panjang AS dari sempurna atau &#8216;AAA&#8217;&nbsp;ke level &#8216;AA+&#8217;. Fitch Ratings menurunkan peringkat setelah perdebatan panjang anggota parlemen dalam mencapai kesepakatan plafon utang demi menghindari gagal bayar pertama AS awal tahun ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peringkat kredit adalah indikator penting yang digunakan oleh pasar keuangan untuk mengukur kemampuan negara atau lembaga membayar utangnya. Ketika peringkat kredit AS turun, ini menandakan penurunan dalam kepercayaan investor terhadap kemampuan AS untuk membayar utangnya, dan akibatnya, hal ini mempengaruhi sentimen pasar global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Investor cenderung beralih ke aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi yang dapat menyebabkan arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibatnya, permintaan terhadap rupiah menurun, menyebabkan depresiasi nilai tukarnya. Pelemahan terhadap nilai tukar rupiah dapat menyebabkan inflasi karena nilai harga barang impor menjadi lebih mahal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, melemahnya rupiah juga dapat mengakibatkan penurunan nilai saham-saham perusahaan di pasar saham Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penting bagi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat dan mengimplementasikan kebijakan yang tepat untuk mengatasi tantangan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, kolaborasi dengan pelaku pasar dan lembaga keuangan internasional juga penting untuk meredam dampak negatif dan membangun kestabilan ekonomi dalam jangka panjang. (S83)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="_6bi_6K2T0Q"><iframe title="Inilah 5 Legenda Intelijen Indonesia" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/_6bi_6K2T0Q?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/makin-melemah-rupiah-tertekan-ke-level-rp14-725-faSEWNUJ2R-1024x682-1024x682.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hengkangnya Pepsi dan Regulasi Sri Mulyani</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/hengkangnya-pepsi-dan-regulasi-sri-mulyani/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Oct 2019 12:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Amnesti Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan Fiskal]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<category><![CDATA[penerimaan pajak]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani Indrawati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=66538</guid>

					<description><![CDATA[Perusahaan minuman berkarbonasi asal Amerika Serikat (AS), PepsiCo, baru saja memutuskan untuk berhenti menjual produk-produknya di Indonesia. Selain persoalan bisnis, apakah hengkangnya Pepsi ini berkaitan dengan persoalan-persoalan politik? PinterPolitik.com “It&#8217;s time for me to uhhh regulate” – 2Pac, penyanyi rap asal Amerika Serikat Minuman berkarbonasi mungkin telah menjadi bagian dari konsumsi sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Perusahaan minuman berkarbonasi asal Amerika Serikat (AS), PepsiCo, baru saja memutuskan untuk berhenti menjual produk-produknya di Indonesia. Selain persoalan bisnis, apakah hengkangnya Pepsi ini berkaitan dengan persoalan-persoalan politik?</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“It&#8217;s time for me to uhhh regulate” – 2Pac, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>inuman berkarbonasi mungkin telah menjadi bagian dari konsumsi sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa dari kita menyukainya. Beberapa juga menghindarinya.</p>
<p>Terlepas dari selera masing-masing individu, minuman berkarbonasi setidaknya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di khalayak Indonesia. Berbagai merek juga mewarnai pasar minuman jenis ini. Salah satunya adalah PepsiCo.</p>
<p>Bagi sebagian besar generasi milenial, Pepsi juga meninggalkan jejak lain di luar produk minumannya. Memori akan permainan video <a href="https://www.gamespot.com/pepsiman/"><strong><em>Pepsiman</em></strong></a> turut menjadi kenangan yang membekas.</p>
<p>Namun, nama perusahaan minuman tersebut tampaknya akan menjadi sulit dijumpai di Indonesia. Pasalnya, PepsiCo telah sepakat untuk <a href="https://tirto.id/putus-kerja-sama-dengan-pepsi-indofood-karena-alasan-komersial-ejgs"><strong>menghentikan kerja samanya</strong></a> dengan Indofood melalui anak perusahaan PT Anugerah Indofood Beverage Makmur (AIBM) – perusahaan yang ditunjuk untuk memproduksi, menjual, dan mendistribusikan produk-produk PepsiCo secara eksklusif di Indonesia.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">It’s official now, PepsiCo brands (7Up, Mirinda, Mountain Dew, and of course, Pepsi) will no longer be sold in Indonesia as of 10 October as the company has ended its agreement with its Indonesian partner. No more Pepsi in KFC.</p>
<p>&mdash; Nuice Media (@nuicemedia) <a href="https://twitter.com/nuicemedia/status/1179551868143493125?ref_src=twsrc%5Etfw">October 3, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Keputusan untuk menghentikan kerja sama dengan perusahaan di bawah konglomerasi Salim Group tersebut – menurut pihak Indofood – disepakati karena alasan komersial. Minimnya keterangan alasan lebih lanjut pun membuat Kementerian Perindustrian <a href="https://tirto.id/kemenperin-akan-panggil-pepsico-terkait-hengkang-dari-indonesia-ejaT/" rel="nofollow"><strong>ingin bertemu</strong></a> dengan pihak PepsiCo guna membantu persoalan-persoalan bisnis yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.</p>
<p>Meski begitu, kabar akan penyebab hengkangnya Pepsi dari Indonesia masih simpang siur. Pertanyaannya, apakah dinamika politik turut memengaruhi hengkangnya perusahaan minuman berkarbonasi tersebut? Lantas, bagaimana kebijakan pemerintah dapat berdampak pada suatu bisnis?</p>
<h4><strong>Aktivisme Konsumen</strong></h4>
<p>Salah satu dugaan penyebab hengkangnya Pepsi dari Indonesia adalah adanya ketidaksepakatan tertentu dengan Indofood dalam penggunaan bahan-bahan dari kelapa sawit dalam produk minumannya. Pasalnya, perusahaan minuman berkarbonasi asal Amerika Serikat (AS) tersebut menggunakan bahan-bahan sawit dalam produknya di Asia.</p>
<p>PepsiCo dikabarkan <a href="https://tirto.id/benarkah-pepsi-hengkang-dari-indonesia-gara-gara-sawit-ejgh/" rel="nofollow"><strong>tidak sepakat</strong></a> dengan keputusan Indofood untuk tidak melanjutkan keanggotaannya dan sertifikasinya dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). IndoAgri – termasuk dalam konglomerat Salim Group seperti Indofood – memutuskan hanya mengandalkan standar kelapa sawit bersih versi pemerintah Indonesia, yakni Indonesia Sustainable Palm Oil System (ISPO) akibat <a href="https://www.ran.org/press-releases/salim-ivomas-subsidiary-of-palm-oil-giant-indofood-withdraws-from-rspo-over-labor-abuses/" rel="nofollow"><strong>penangguhan RSPO</strong></a> atas dugaan kelapa sawit bermasalah.</p>
<p>Akibat keputusan IndoAgri itu, sebagian masyarakat internasional pun mendorong berbagai perusahaan – seperti <a href="https://industri.kontan.co.id/news/merunut-konflik-terkait-sawit-antara-indofood-dan-nestle/" rel="nofollow"><strong>Nestlé</strong></a> dan <a href="https://www.thegrocer.co.uk/sourcing/pepsico-urged-to-cut-ties-with-indofood-over-rspo-fiasco/576238.article"><strong>PepsiCo</strong></a> – untuk memutus hubungan kerja sama mereka dengan IndoAgri dan Indofood.</p>
<p>Namun, mengapa perusahaan-perusahaan ini bersedia memutus hubungan kerja sama terkait polemik kelapa sawit? Apa signifikansi yang dimiliki oleh RSPO dan ISPO?</p>
<p>Persoalan sosial dan lingkungan akibat perkebunan kelapa sawit kerap menjadi berita yang menjadi perhatian masyarakat, terutama bagi khalayak Amerika dan Eropa. Keprihatinan ini dapat berujung pada aktivisme masyarakat dengan mengontrol produk yang dikonsumsinya sekaligus perusahaan produsen. Aktivisme ini dikenal sebagai aktivisme konsumen (<a href="https://academic.oup.com/jcr/article-abstract/31/3/691/1800569/?redirectedFrom=fulltext"><strong><em>consumer activism</em></strong></a>).</p>
<p>Aktivisme dan gerakan sosial konsumen ini dapat terjadi dalam banyak isu, seperti isu buruh, isu keagamaan, isu sosial, hingga isu lingkungan. Dalam hal lingkungan, Peter Dauvergne dalam <a href="https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1070496517701249"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Is the Power of Brand-Focused Activism Rising?</em> menjelaskan bahwa aktivisme ini biasanya berfokus pada keberlanjutan (<em>sustainability</em>) rantai produksi merek berskala global.</p>
<p>Melalui sertifikasi ini, perusahaan akhirnya menyesuaikan dengan permintaan konsumen yang berbasis pada lingkungan. Hal ini terlihat dari bagaimana perusahaan-perusahaan mulai secara konsisten beralih pada kelapa sawit yang bersertifikasi RSPO sejak tahun 2010.</p>
<p>RSPO sendiri dinilai <a href="https://www.riauonline.co.id/bisnis/read/2016/02/19/sertifikasi-sawit-ispo-dan-rspo-ini-bedanya/" rel="nofollow"><strong>lebih diakui</strong></a> dalam pasar global dibandingkan ISPO. Sistem sertifikasi dari Indonesia itu bahkan dinilai menjadi salah satu <a href="https://www.foeeurope.org/sites/default/files/eu-us_trade_deal/2018/report_profundo_rspo_ispo_external_concerns_feb2018.pdf"><strong>skema sertifikasi terlemah</strong></a> dengan adanya kegagalan ISPO dalam memastikan keberlanjutan kelapa sawit dalam hal ketenagakerjaan.</p>
<p><hr /><p><em>Aktivisme konsumen dilakukan dengan kontrol masyarakat atas produk yang dikonsumsinya sekaligus perusahaan produsen</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fhengkangnya-pepsi-dan-regulasi-sri-mulyani%2F&#038;text=Aktivisme%20konsumen%20dilakukan%20dengan%20kontrol%20masyarakat%20atas%20produk%20yang%20dikonsumsinya%20sekaligus%20perusahaan%20produsen&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Namun, RSPO beberapa tahun terakhir juga harus menghadapi <a href="https://www.reuters.com/article/us-palmoil-sustainable/palm-oils-green-body-comes-under-fire-from-activists-idUSKBN13213S"><strong><em>backlash </em></strong><strong>dari kalangan aktivis lingkungan</strong></a>. Pasalnya, sistem sertifikasi ini dianggap cenderung pro-perusahaan dan tidak mampu sepenuhnya memberlakukan peraturan-peraturannya kepada perusahaan-perusahaan yang melanggar.</p>
<p>Lantas, apa penyebab lain di balik hengkangnya Pepsi dari Indonesia?</p>
<h4><strong>Nasionalisme Ekonomi</strong></h4>
<p>Bisa jadi, hengkangnya Pepsi dari Indonesia ini berkaitan dengan regulasi pemerintah. Setidaknya, asumsi itulah yang diungkapkan oleh Thomas Darmawan – ketua Komite Tetap Industri Pengolahan Makanan dan Protein Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia – yang menyatakan bahwa terdapat <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20191005062809-4-104612/pepsi-hengkang-dari-ri-kadin-beberkan-masalah-industri/" rel="nofollow"><strong>berbagai regulasi dan wacana kebijakan pajak</strong></a> yang turut memengaruhi keputusan PepsiCo untuk hengkang.</p>
<p>Salah satu regulasi yang dianggap Thomas memberatkan industri makanan dan minuman adalah <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20190723103456-4-86814/serius-nih-menteri-pu-uu-sumber-daya-air-besok-diundangkan/" rel="nofollow"><strong>UU Sumber Daya Air</strong></a> yang baru saja disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). UU tersebut dinilai dapat memberatkan dunia usaha dengan adanya upaya untuk mewajibkan perusahaan-perusahaan yang menggunakan bahan baku air untuk menyerahkan 10 persen keuntungannya pada pemerintah dengan dalih konservasi.</p>
<p>Belum lagi, pemerintah dan DPR memiliki <a href="https://analisis.kontan.co.id/news/menggagas-cukai-minuman-berkarbonasi/" rel="nofollow"><strong>wacana untuk menerapkan bea cukai</strong></a> terhadap produk-produk minuman berkarbonasi. Cukai sendiri dapat didefinisikan sebagai pungutan negara yang dibebankan pada produk-produk yang memiliki sifat konsumsinya perlu diatur, diawasi, serta dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan hidup guna mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.</p>
<p>Regulasi-regulasi semacam ini sejalan dengan prinsip-prinsip nasionalisme ekonomi (<em>economic nationalism</em>). Ben Clift dan Cornelia Woll dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13501763.2011.638117"><strong>tulisan</strong></a> mereka yang berjudul <em>Economic Patriotism</em> menjelaskan bahwa pemanfaatan kegiatan ekonomi dalam prinsip ini dinilai perlu diperuntukkan bagi kesejahteraan pihak-pihak yang berada di dalam wilayah kedaulatan suatu negara (<em>territorial insiders</em>).</p>
<p>Hal senada juga diungkapkan oleh Jeffrey D. Wilson dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10357718.2011.563779"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Resource Nationalism vs Resource Liberalism</em> yang menjelaskan bahwa nasionalisme sumber – seperti melalui UU Sumber Daya – dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan negara melalui regulasi dan kontrol atas sumber-sumber ekonomi negara.</p>
<p>Pemikiran nasionalisme ekonomi yang merkantilistik tersebut tentunya tidak sejalan dengan pemikiran ekonomi klasik yang cenderung percaya pada mekanisme pasar. Dengan adanya campur tangan pemerintah dan politik – termasuk kepentingan kelompok dan kelas – dalam ekonomi, mekanisme pasar dinilai tidak dapat bekerja.</p>
<p>James A. Caporaso dan David P. Levine dalam <a href="https://www.cambridge.org/id/academic/subjects/politics-international-relations/comparative-politics/theories-political-economy"><strong>bukunya</strong></a> yang berjudul <em>Theories of Political Economy</em> menjelaskan bahwa pemikiran ekonomi klasik lebih menekankan pada <em>laissez-faire</em> yang menjalankan mekanisme pasar. Pasar dinilai dapat memperbaiki dirinya sendiri dengan sifatnya yang <em>self-regulatory</em>.</p>
<p>Terhambatnya mekanisme pasar ini bisa saja terlihat dari hengkangnya perusahaan-perusahaan asing dari Indonesia akibat rumitnya regulasi yang dibutuhkan. Hal ini terlihat dari keputusan perusahaan ponsel pintar <a href="https://www.liputan6.com/tekno/read/2617583/deretan-perusahaan-teknologi-yang-angkat-kaki-dari-indonesia/" rel="nofollow"><strong>OnePlus</strong></a> asal Tiongkok untuk hengkang dari Indonesia pada tahun 2016 lalu. Keputusan hengkang itu didasarkan pada adanya regulasi pemerintah yang baru terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang memang cenderung nasionalistik.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan Pepsi yang akhirnya juga memutuskan untuk hengkang?</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B3Q6TUGJBmq/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B3Q6TUGJBmq/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B3Q6TUGJBmq/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Pepsi hengkang karena regulasi? Baca artikel selengkapnya di pinterpolitik.com #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-10-06T05:00:13+00:00">Oct 5, 2019 at 10:00pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Hengkangnya Pepsi dari Indonesia bisa jadi berkaitan dengan meningkatnya regulasi pemerintah terhadap industri makanan dan minuman. Namun, hengkangnya Pepsi ini menimbulkan pertanyaan lain. Mengapa pemerintah kini perlu meningkatkan regulasi atas pasarnya? Apa alasan di balik regulasi-regulasi tersebut?</p>
<h4><strong>Kebutuhan Fiskal Sri Mulyani?</strong></h4>
<p>Adanya peningkatan regulasi dari pemerintah ini bisa jadi berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan fiskal pemerintah. Pasalnya, di tengah kebijakan-kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang reformatif, keadaan fiskal pemerintah dinilai juga perlu disesuaikan.</p>
<p>Situasi ini pernah digambarkan oleh Robert J. Shiller dalam <a href="https://www.nytimes.com/2012/05/20/business/economy/how-national-belt-tightening-goes-awry-economic-view.html"><strong>tulisannya</strong></a> di New York Times. Shiller menggunakan istilah pengetatan ikat pinggang (<em>belt-tightening</em>) guna menggambarkan situasi pemerintah yang melakukan penghematan fiskal (<em>fiscal austerity</em>) akibat penggunaan pendapatan negara yang berlebihan.</p>
<p>Setidaknya, situasi semacam ini pernah terjadi pada tahun 2017 lalu. Anggaran pemerintah pada tahun tersebut dinilai dihantui oleh ketidakpastian ekonomi. <a href="https://www.iseas.edu.sg/images/pdf/ISEAS_Perspective_2016_51.pdf"><strong>Studi</strong></a> milik Siwage Dharma Negara di ISEAS-Yusof Ishak Institute menyebutkan bahwa kondisi ini setidaknya disebabkan oleh beberapa hal, yakni program-program prioritas nasional seperti infrastruktur dan bantuan sosial dan target pendapatan pajak yang tidak terpenuhi.</p>
<p>Akibatnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani harus melakukan beberapa upaya <a href="https://www.thejakartapost.com/news/2017/07/19/austerity-saving-ri-economy-sri-mulyani-says.html"><strong>penghematan fiskal</strong></a> guna mendukung jalannya kebijakan-kebijakan pemerintah. Beberapa upaya penghematan fiskal ini dilakukan dengan meningkatkan pendapatan pajak.</p>
<p>Salah satu upaya yang dilakukan oleh Menkeu adalah rencana penerapan amnesti pajak (<em>tax amnesty</em>) jilid II. Selain itu, upaya peningkatan pendapatan pajak ini bisa jadi tengah dilakukan melalui pemberlakuan regulasi-regulasi yang mendorong pendapatan pemerintah.</p>
<p>Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya, pemberlakuan regulasi-regulasi pasar seperti UU Sumber Daya Air bisa saja malah menghambat mekanisme pasar. Dari sini, hengkangnya Pepsi dari Indonesia bisa saja turut menjadi dampak dari kebijakan fiskal pemerintah.</p>
<p>Kebijakan fiskal semacam ini bisa jadi akan tetap dilaksanakan oleh pemerintah – mengingat Presiden Jokowi sendiri berjanji akan tetap melanjutkan kebijakan-kebijakan reformatifnya seperti pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Meski begitu, pemerintah kini mulai <a href="https://nasional.kontan.co.id/news/sri-mulyani-investasi-penting-untuk-percepatan-pertumbuhan-ekonomi-1/" rel="nofollow"><strong>beralih pada investasi</strong></a> guna memenuhi target pertumbuhan ekonomi.</p>
<p>Uniknya, adanya regulasi pasar boleh jadi malah menghambat masuknya investasi. Bukan tidak mungkin kedua kebijakan ini saling kontradiktif. Belum lagi, rumitnya birokrasi investasi turut menurunkan minat perusahaan-perusahaan asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.</p>
<p>Terlepas dari ada tidaknya tantangan bagi investasi tersebut, pemerintah tampaknya tetap ingin memberlakukan kebijakan-kebijakan yang berupaya mengkontrol pasar dan ekonomi. Mungkin, seperti lirik <em>rapper</em> 2Pac, pemerintah tetap merasa ini waktu yang tepat untuk meregulasi pasar di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi, baik domestik maupun global. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="KRaUGclaF6c"><iframe title="Asal Usul Nama Daerah Di Jakarta Part 2" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/KRaUGclaF6c?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-61983" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/10/sri-mulyani-cover-1280x720-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
