<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>keamanan nasional &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/keamanan-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Mar 2020 10:56:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>keamanan nasional &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Politik di Balik Virus Corona</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/politik-di-balik-virus-corona/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2020 11:00:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=75474</guid>

					<description><![CDATA[Penanganan virus Corona (Covid-19) cenderung dipusatkan di bawah kendali pemerintah pusat. Apakah pemerintah khawatir wabah ini menjadi ajang pertarungan politik? PinterPolitik.com “My imagination is surely an aggravation of threats. That can come about ’cause the tongue is mighty powerful” – Kendrick Lamar, penyanyi rap asal Amerika Serikat Akhir-akhir ini, publik tengah diramaikan oleh persoalan penyakit [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>P</strong><strong>enanganan virus Corona (Covid-19) </strong><strong>cenderung dipusatkan </strong><strong>di bawah kendali pemerintah pusat. Apakah pemerintah khawatir wabah ini menjadi ajang pertarungan politik?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center">
<p style="text-align: center;">“My imagination is surely an aggravation of threats. That can come about ’cause the tongue is mighty powerful” – Kendrick Lamar, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p>
</blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">A</span>khir-akhir ini, publik tengah diramaikan oleh persoalan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Corona baru, yakni Covid-19. Virus yang bermula di Wuhan, Tiongkok, ini telah menjangkit banyak negara di berbagai benua.</p>
<p>Penyebarannya pun hingga sekarang diprediksi masih jauh dari kata berhenti. Pasalnya, jumlah kasus penyakit menular ini terus meningkat – khususnya di negara-negara yang menjadi pusat penularan baru seperti Italia dan Iran.</p>
<p>World Health Organization (WHO) sendiri telah menetapkan penyakit akibat virus ini sebagai pandemi global – berarti bahwa penularan dan ancamannya telah melampaui batas-batas antarnegara. Kewaspadaan berbagai negara dan masyarakat internasional pun semakin memuncak.</p>
<p>Rasa cemas yang dirasakan masyarakat internasional ini tentunya turut dirasakan oleh publik di Indonesia. Apalagi, dari hari ke hari, jumlah kasus positif Covid-19 terus meningkat – mencapai 69 kasus dan 4 pasien meninggal kala artikel ini ditulis.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Menghadapi wabah global virus korona, kita perlu menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Misalnya, tetap saling menyapa tanpa harus berjabat tangan, rajin mencuci tangan dengan sabun, mengenakan masker bagi yang sakit. <a href="https://t.co/aigic4uEB4">pic.twitter.com/aigic4uEB4</a></p>
<p>&mdash; Joko Widodo (@jokowi) <a href="https://twitter.com/jokowi/status/1238041779980492800?ref_src=twsrc%5Etfw">March 12, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Dengan adanya perkembangan kasus-kasus positif, menjadi wajar apabila publik semakin ingin tahu mengenai seluk beluk dari penyebaran virus ini di Indonesia. Soal lokasi penyebaran misalnya, dianggap perlu agar masyarakat dapat berantisipasi terhadap penularan di daerahnya.</p>
<p>Namun, tampaknya, pemerintah tidak semudah itu untuk menuruti keinginan ini. Sekretaris Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto menyebutkan bahwa publikasi atas lokasi penyebaran tidak perlu dilakukan oleh pemerintah karena dapat menimbulkan respons bermacam-macam.</p>
<p>Keengganan pemerintah untuk membuka data lokasi penyebaran Covid-19 ini tentunya tak terhindar dari beberapa kritik. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono misalnya, <a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200312204818-32-483006/poyuono-soal-info-corona-pemerintah-langgar-uu-kesehatan/" rel="nofollow"><strong>menilai</strong></a> bahwa pemerintah telah melanggar <a href="https://sireka.pom.go.id/requirement/UU-36-2009-Kesehatan.pdf"><strong>Undang-Undang (UU) No. 36 Tahun 2009</strong></a> tentang Kesehatan – tepatnya Pasal 154.</p>
<p>Di sisi lain, pemerintah pusat juga dinilai cenderung membatasi ruang gerak pemerintah daerah dalam menangani Covid-19. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD misalnya, menyatakan bahwa pemerintah daerah tidak dianjurkan untuk berbicara mengenai penyakit ini karena informasi penanganannya dianggap terpusat di Kemenkes.</p>
<p>Tentunya, beberapa upaya pemerintah ini menimbulkan pertanyaan. Apakah benar pemerintah daerah dan masyarakat tak berhak membicarakan dan memperoleh informasi terkait Covid-19 tersebut? Lantas, bagaimana dinamika politik membayangi “perebutan” kewenangan dan informasi ini?</p>
<h4><strong>Informasi Jadi Eksklusif?</strong></h4>
<p>Bisa dibilang bahwa pemerintah pusat berupaya untuk memusatkan informasi penanganan Covid-19 di Kemenkes. Hal ini bisa jadi membuat akses informasi publik dan pihak-pihak lain semakin terbatas.</p>
<p>Padahal, berdasarkan UU Kesehatan yang sempat dikutip oleh Arief Poyuono, pemerintah sebenarnya perlu menyebutkan daerah-daerah yang dapat menjadi sumber penularan penyakit. Selain itu, UU tersebut juga memberikan kewenangan pada pemerintah daerah untuk melakukan hal serupa.</p>
<p>Selain UU Kesehatan, kewenangan pemerintah daerah dalam bidang kesehatan juga diatur dalam <a href="https://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/33.pdf"><strong>UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah</strong></a>. Dalam Pasal 13, disebutkan bahwa penanganan bidang kesehatan termasuk dalam urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.</p>
<p>Dengan adanya fakta ketentuan yang terkandung dalam UU Kesehatan dan UU Pemerintah Daerah, bisa dibilang bahwa penanganan penyakit menular Covid-19 ini seharusnya tidak secara eksklusif berada di bawah kendali pemerintah pusat.</p>
<p>Hal ini tentunya menyisakan pertanyaan baru. Mengapa pemerintah pusat lantas berupaya memusatkan penanganan Covid-19? Bagaimana hal ini dapat dipahami dari dimensi politik?</p>
<p>Apa yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) ini mungkin dapat dipahami melalui hubungan konseptual akan pengetahuan (<em>knowledge</em>) dan kekuatan (<em>power</em>). Hubungan konseptual di antara keduanya ini pernah dikupas oleh beberapa ahli dan pemikir.</p>
<p>Harold Adams Innis – profesor ekonomi politik asal Kanada – misalnya, mencetuskan sebuah istilah atas penguasaan pengetahuan dan informasi, yakni monopoli pengetahuan (<a href="https://books.google.com/books/about/Harold_Innis.html?id=eN3rAAAAMAAJ"><strong><em>monopolies of knowledge</em></strong></a>). Meski Innis lebih banyak menekankan pada penguasaan melalui medium komunikasi, monopoli pengetahuan juga membuat informasi menjadi eksklusif untuk kelompok tertentu.</p>
<p>Implikasi politik yang perlu dipahami adalah adanya konsekuensi <em>knowledge</em> terhadap <em>power</em>. Konsekuensi ini mungkin dapat diamati melalui pemikiran Michel Foucault – filsuf asal Prancis.</p>
<hr /><p><em>Power dan knowledge memiliki hubungan yang saling memberi arti.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fpolitik-di-balik-virus-corona%2F&#038;text=Power%20dan%20knowledge%20memiliki%20hubungan%20yang%20saling%20memberi%20arti.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Berdasarkan pemikiran Foucauldian, <em>power</em> dan <em>knowledge</em> memiliki hubungan yang saling memberi arti. Seseorang yang memiliki <em>power</em> dapat membentuk <em>knowledge</em> – seperti kebenaran yang diyakini – di masyarakat. Begitu juga sebaliknya, <em>knowledge</em> dapat memberikan <em>power</em> pada pemilik pengetahuan.</p>
<p>Mungkin, dengan membuat informasi dan pengetahuan menjadi eksklusif, pemerintah pusat berupaya untuk menjaga <em>power</em> yang dimilikinya. Hal inilah yang disebut-sebut dilakukan oleh pemerintahan Xi Jinping di Tiongkok.</p>
<p>Dalam mengatasi penyebaran Covid-19, Xi disebut berupaya untuk menutupi informasi penularan. Pemerintah Tiongkok juga dikabarkan semakin <a href="https://www.axios.com/china-coronavirus-centralization-3ae5d7e7-1327-476e-93a9-6ea3e27db450.html"><strong>memusatkan kekuatan</strong></a> dan kontrol dalam merespons penyakit ini.</p>
<p>Sinyal <a href="https://edition.cnn.com/2020/03/12/world/coronavirus-russia-china-analysis-nic-robertson-intl/index.html"><strong>politisasi</strong></a> juga terlihat dari kunjungan Xi ke Wuhan, Tiongkok, baru-baru ini. Presiden negeri Tirai Bambu tersebut dianggap berupaya untuk mengirimkan pesan bahwa Tiongkok telah berhasil melalui krisis kesehatan ini dan ingin menjadikan negaranya sebagai percontohan.</p>
<p>Bila kita berkaca pada Tiongkok, bukan tidak mungkin pemerintah pusat di Indonesia juga ingin menjaga citra pemerintahannya melalui pemusatan dan pembatasan <em>knowledge</em> layaknya Xi. Namun, asumsi ini juga menyisakan beberapa pertanyaan.</p>
<p>Pasalnya, publik dan media Indonesia sendiri semakin ragu dengan kapabiltas pemerintah pusat. Apalagi, pemerintah dinilai tidak melakukan koordinasi yang efektif atas penanganan virus ini.</p>
<p>Belum lagi, dugaan-dugaan kapabilitas dari dunia internasional bisa juga membuat pemerintah malah dianggap tidak memiliki <em>knowledge</em> atas penyebaran virus Covid-19. Beberapa pihak di Australia misalnya, sempat menganggap pemerintah Indonesia tidak memiliki peralatan yang cukup untuk mendeteksi penularan.</p>
<p>Bila benar pemerintah justru tak memiliki pengetahuan yang lengkap atas virus ini, mengapa pemerintah malah terkesan membatasi informasi?</p>
<h4><strong><em>Political Insecurity</em></strong><strong>?</strong></h4>
<p>Peningkatan jumlah kasus yang signifikan akhir-akhir ini tentunya membuat publik merasa terancam. Perasaan tidak aman yang dirasakan di masyarakat bukan tidak mungkin dapat memengaruhi dinamika politik di Indonesia.</p>
<p>Alvin Johnson dalam <a href="https://www.jstor.org/stable/40981816"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Economic Security and Political Insecurity</em> mungkin dapat menggambarkan situasi ini. Dalam tulisan itu, Johnson menjelaskan bahwa setiap manusia pasti menginginkan adanya rasa aman (<em>security</em>).</p>
<p>Kecemasan yang dirasakan publik Indonesia kini bisa jadi berakar dari adanya ancaman keamanan dari Covid-19. Pasalnya, berdasarkan <a href="https://books.google.com/books/about/Security.html?id=j4BGr-Elsp8C"><strong>buku</strong></a> milik Barry Buzan, Ole Wæver, dan Jaap De Wilde yang berjudul <em>Security</em>, keamanan di era sekarang bukan lagi hanya meliputi keamanan tradisional seperti militer.</p>
<p>Bisa jadi, ancaman kesehatan yang disebabkan oleh Covid-19 turut menghantui negara-negara. Ancaman kesehatan seperti ini digolongkan oleh Buzan dan tim penulisnya ke dalam ancaman sektor lingkungan (<em>environmental</em>).</p>
<p>Lantas, bagaimana ancaman kesehatan bisa memengaruhi dinamika politik?</p>
<p>Buzan dan tim penulisnya mengenalkan sebuah konsep yang disebut sebagai sekuritisasi (<em>securitization</em>) – upaya untuk memunculkan isu keamanan di masyarakat. Konsep ini sebenarnya lebih banyak berbicara soal keamanan dalam hubungan internasional.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B9quzMCJT2u/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9quzMCJT2u/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9quzMCJT2u/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Keengganan pemerintah untuk buka data lokasi penularan Covid-19 dipertanyakan. #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-03-13T08:48:20+00:00">Mar 13, 2020 at 1:48am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Namun, Buzan dan tim penulisnya tidak memungkiri bahwa sekuritisasi juga dapat meliputi politik domestik. Apalagi, konsep ini dapat melibatkan sintesis antarsektor yang disebutkan dalam tulisan itu – militer, lingkungan, ekonomi, <em>societal</em>, dan politik.</p>
<p>Dari lima sektor tersebut, sekuritisasi yang terjadi terkait Covid-19 di Indonesia mungkin adalah sekuritisasi di sektor politik. Pasalnya, sekuritisasi di sektor ini bisa menjadi ancaman bagi entitas politiknya seperti pemerintah.</p>
<p>Mungkin, pembatasan kewenangan yang dilakukan oleh pemerintah pusat adalah bentuk kekhawatiran (<em>insecurity</em>) atas ancaman sekuritisasi yang bisa saja dilakukan oleh pemerintah daerah.</p>
<p>Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang kerap berseberangan dengan pemerintahan Jokowi misalnya, dianggap menjadi salah satu pemerintah daerah yang tanggap dalam penanganan Covid-19. Bukan tidak mungkin upayanya ini menyebabkan sekuritisasi di sektor politik – menimbulkan ancaman untuk pemerintahan Jokowi.</p>
<p>Mungkin, sekuritisasi di sektor politik yang bermula dari ancaman kesehatan Covid-19 ini dapat tercermin pada situasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) kini. Partai Demokrat AS akhir-akhir ini dianggap melakukan politisasi atas virus itu guna <a href="https://www.aljazeera.com/news/2020/03/democratic-rivals-attack-donald-trump-coronavirus-responses-200312203749252.html"><strong>menyerang pemerintahan</strong></a> Presiden Donald Trump.</p>
<p>Bila berkaca pada apa yang terjadi di AS, bukan tidak mungkin hal serupa dapat terpikirkan di benak pemerintah pusat. Maka dari itu, pemusatan penanganan dan informasi terkait Covid-19 bisa menjadi jawaban bagi pemerintahan Jokowi.</p>
<p>Namun, penjelasan ini belum tentu benar menggambarkan motif pemerintah pusat untuk mengontrol penanganan agar terkontrol. Hal yang jelas adalah ancaman Covid-19 ini bisa jadi sasaran empuk sebagai sumber sekuritisasi bagi banyak pihak. Mari kita nantikan saja langkah “antisipasi” pemerintah selanjutnya. (A43)</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B9gEXR4FLqD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9gEXR4FLqD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9gEXR4FLqD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Angka kekerasan terhadap #perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari #KomnasPerempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki di #Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: http://bit.ly/TalkShowPinterPolitik ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #EventPinterPolitik #TalkShowPinterPolitik #komnasperempuan #rockygerung</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-03-09T05:25:07+00:00">Mar 8, 2020 at 10:25pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>► Ingin lihat video-video menarik? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/03/ccf7f435acfabe6d26be2a7fb842bbcfcd875d27-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi, Insecurity dan Pengaruh Asing</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-insecurity-dan-pengaruh-asing/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Aug 2019 11:20:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[dilema]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan internasional]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi asing]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=62575</guid>

					<description><![CDATA[Janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan ekonomi reformatif – seperti infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) – disertai dengan retorika yang tegas. Janji tersebut bisa jadi merupakan bentuk dilema ketidakamanan (insecurity) yang tengah dihadapinya. PinterPolitik.com “It&#8217;s the way that you prey. Prey on my insecurities” – Daniel Caesar, penyanyi asal AS, dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan ekonomi reformatif </strong><strong>– </strong><strong>seperti infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) </strong><strong>–</strong><strong> disertai dengan </strong><strong>retorika yang tegas. Janji tersebut bisa jadi merupakan bentuk dilema ketidakamanan (<em>insecurity</em>) yang tengah dihadapinya.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“It&#8217;s the way that you prey. Prey on my insecurities” – Daniel Caesar, penyanyi asal AS, dalam “Blessed”</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>residen Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu tampak tegas dengan berbagai pidato dan retorika yang diungkapkannya. Mungkin, mantan Wali Kota Solo tersebut kini merasa lebih memegang kendali setelah diumumkan sebagai presiden terpilih.</p>
<p>Dalam berbagai kesempatan, sang presiden tampak optimis untuk menerapkan rencana-rencana kebijakannya yang reformatif. <a href="https://nasional.kompas.com/read/2019/07/15/06204541/pidato-lengkap-visi-indonesia-jokowi/" rel="nofollow"><strong>Visi Indonesia</strong></a> yang disampaikannya beberapa waktu lalu rencananya akan dituangkan dalam lanjutan pembangunan infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) guna menyongsong periode kepresidenannya yang kedua.</p>
<p>Tak main-main, Jokowi juga menyatakan akan bertindak tegas terhadap siapa-siapa saja yang dapat mengganggu visi tersebut. Bahkan, retorika sang presiden dianggap otoritatif dan mengkhawatirkan bagi perlindungan hak asasi manusia (HAM).</p>
<p>Selain kebijakan yang reformatif, Jokowi juga menekankan pada pentingnya untuk melindungi ideologi Pancasila. Bahkan, mantan Wali Kota Solo tersebut menyatakan bahwa dirinya tidak akan mentolerir pengganggu Pancasila – termasuk sinyalir bahwa ormas Front Pembela Islam (FPI) yang bisa saja tidak diperpanjang izinnya apabila bertentangan secara ideologis.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Disimak dgn cermat, ini Sabda Imam Besar FPI Rizieq Shihab, bahwa tujuan FPI menegakkan Khilafah &amp; sdah ditetapkan ada 10 langkah menegakkan Khilafah, apa <a href="https://twitter.com/kemendagri?ref_src=twsrc%5Etfw">@kemendagri</a> masih mau perpanjangan izin FPI? Sama saja dgn mengizinkan NKRI dirongrong FPI dgn tujuan Khilafahnya <a href="https://t.co/E56kdY6PWE">https://t.co/E56kdY6PWE</a></p>
<p>&mdash; Mohamad Guntur Romli (@GunRomli) <a href="https://twitter.com/GunRomli/status/1156046032381177856?ref_src=twsrc%5Etfw">July 30, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Ketegasannya tersebut bisa jadi pertanda bahwa sang presiden kini memang telah melepas bebannya. Kabar bahwa lawan-lawan politiknya yang akan bergabung dalam koalisi pemerintahan bisa saja turut menguatkan posisinya.</p>
<p>Namun, keberanian tersebut mungkin dapat diragukan di tengah-tengah situasi politik yang bisa saja dapat memanas – seperti kehadiran kelompok Persaudaraan Alumni (PA) 212. Apakah benar posisi Jokowi telah aman? Jika tidak, apakah implikasinya terhadap periode keduanya sebagai presiden?</p>
<h4><strong>Dilema Ketidakamanan</strong></h4>
<p>Rencana-rencana kebijakan Jokowi yang berfokus pada pembangunan ekonomi bisa jadi merefleksikan dilema ketidakamanan yang mungkin tengah dihadapinya. Selain itu, dilema tersebut juga terlihat dari tendensi otoritatif pemerintah.</p>
<p>Teori mengenai dilema ketidakamanan (<em>insecurity dilemma</em>) ini datang dari seorang profesor Hubungan Internasional di Michigan State University, Mohammed Ayoob, ketika menulis sebuah <a href="https://books.google.co.id/books/about/The_Third_World_Security_Predicament.html?id=IDNoQgAACAAJ&amp;redir_esc=y"><strong>buku</strong></a> yang berjudul <em>The Third World Security Predicament</em> yang berfokus pada permasalahan keamanan yang dialami oleh negara-negara dunia ketiga.</p>
<p>Penjelasan mengenai konsep ini berasal dari konsep dilema keamanan (<em>security dilemma</em>) yang menjelaskan bahwa peningkatan kapabilitas militer oleh suatu negara akan berujung pada peningkatan intensitas konflik dengan negara lain.</p>
<p>Berbeda dengan dilema keamanan yang dianggap berfokus pada negara dunia pertama, dalam buku tersebut, Ayoob menjelaskan bahwa negara-negara dunia ketiga menghadapi persoalan domestik sebelum dapat meningkatkan kapabilitas pertahanannya. Negara-negara berkembang yang baru lahir biasanya akan berfokus pada <em>state-building</em> yang disertai dengan persoalan-persoalan internal, seperti ancaman perpecahan, perbedaan pendapat (<em>dissent</em>), dan gesekan antar-kelompok.</p>
<p>Salah satu ciri dilema ketidakamanan yang terjadi di negara dunia ketiga adalah politisasi perbedaan etnis, ras, dan agama. Selain itu, ancaman kewilayahan – seperti gerakan separatis – dan kesenjangan sosial dan ekonomi turut memperburuk kondisi suatu negara dunia ketiga.</p>
<hr /><p><em>Negara-negara berkembang yang baru lahir biasanya akan berfokus pada state-building.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fjokowi-insecurity-dan-pengaruh-asing%2F&#038;text=Negara-negara%20berkembang%20yang%20baru%20lahir%20biasanya%20akan%20berfokus%20pada%20state-building.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Akibat persoalan-persoalan tersebut, negara-negara berkembang dapat menjadi rapuh dan lemah. Kehadiran persoalan domestik tersebut bisa saja mengancam legitimasi, struktur, dan eksistensi negara tersebut sendiri – memunculkan dilema ketidakamanan.</p>
<p>Andrej Krickovic dalam <a href="https://pdfs.semanticscholar.org/9ffc/1c5ba4f65a0e4ebf3533e1bd9398238c393d.pdf"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>From the Security to Insecurity Dilemma</em> menjelaskan bahwa teori milik Ayoob ini tidak hanya berfokus pada ancaman-ancaman keamanan tradisional, melainkan juga ancaman-ancaman ekonomi, seperti kesejahteraan masyarakat dan ekonomi.</p>
<p>Oleh sebab itu, menjadi wajar apabila negara dunia ketiga akan lebih berfokus pada pembangunan ekonomi guna memperkecil dampak dari ancaman kemanan lainnya terhadap legitimasi negara. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana pemerintahan Jokowi memfokuskan sumber-sumber yang ada terhadap pembangunan ekonomi – terutama dalam hal infrastruktur dan SDM.</p>
<p>Selain itu, teori ini menjelaskan bahwa dilema ketidakamanan turut mendorong negara menerapkan kooptasi dan cara-cara koersif guna menghindari dampak ancaman-ancaman internal tersebut – yaitu dengan mengeliminasi pengaruh pihak-pihak yang mengancam legitimasi negara untuk mendapatkan loyalitas dan menciptakan identitas bersama di masyarakat.</p>
<p>Mungkin, cara-cara inilah yang terlihat pada pemerintahan Jokowi yang kini dinilai semakin otoritatif. Pemerintah juga mulai <a href="https://pinterpolitik.com/hegemoni-jokowi-genggam-izin-fpi/"><strong>mendorong</strong></a> masyarakat untuk menjunjung nilai-nilai utama bersama, yaitu Pancasila.</p>
<h4><strong>Rentan Dipengaruhi</strong></h4>
<p>Buruknya, lemahnya negara akibat dilema ketidakamanan ini membuat negara dunia ketiga rentan terhadap tekanan dan pengaruh asing – baik dalam hal politik, ekonomi, militer, maupun teknologi. Negara-negara yang lebih maju, institusi-institusi internasional, dan perusahaan-perusahaan multinasional dapat memengaruhi tatanan politik domestik.</p>
<p>Indonesia misalnya, disebut-sebut masih banyak dipengaruhi oleh kekuatan asing. John McBeth dalam <a href="https://www.asiatimes.com/2019/05/article/to-pacify-trump-indonesia-seeks-american-arms/" rel="nofollow"><strong>tulisannya</strong></a> di Asia Times menjelaskan bahwa Jokowi – guna menghindari sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) – perlu menegosiasikan <a href="https://pinterpolitik.com/beli-pesawat-jokowi-as-rujuk/"><strong>pembelian pesawat</strong></a> militer milik negara yang dipimpin oleh Donald Trump tersebut.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/Bxt9y8gJ31_/" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bxt9y8gJ31_/" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bxt9y8gJ31_/" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Pemerintah dikabarkan akan beli senjata tempur Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #pesawattempur #jokowi #as #amerikaserikat #jettempur #pesawatkargo #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-05-21T08:40:22+00:00">May 21, 2019 at 1:40am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Pengaruh asing yang dapat menekan ini membuat negara dunia ketiga perlu menyiapkan opsi-opsi yang sulit. Negara dinilai perlu menguatkan posisinya dalam politik internasional guna menghalau pengaruh asing – seperti dengan meningkatkan kekuatan militer – meski dilema ketidakamanan membuat negara perlu membangun perekonomiannya.</p>
<p>Yuen Foong Khong dari National University of Singapore (NUS) dalam <a href="https://academic.oup.com/ia/article-abstract/95/1/119/5273583?redirectedFrom=fulltext#129568956"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Power as Prestige in World Politics</em> menjelaskan bahwa kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara dapat memengaruhi persepsi negara lain terhadap negara pemilik kekuatan tersebut. Salah satu kekuatan yang diperhitungkan adalah kekuatan militer.</p>
<p>Dengan kekuatan militer, posisi suatu negara dapat meningkat di mata negara-negara lain. Alhasil, gagasan untuk memberi perhatian pada <a href="https://pinterpolitik.com/prabowo-dan-sembilu-pertahanan-indonesia/"><strong>anggaran pertahanan</strong></a> dalam diskursus Pilpres 2019 lalu menjadi lebih menjanjikan.</p>
<p>Mungkin, Korea Utara menjadi salah satu negara yang lebih memilih untuk meningkatkan kekuatan militernya daripada berfokus pada ekonomi dalam <em>state-building</em>. Pasalnya, meski memiliki teknologi senjata nuklir, penduduk negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un tersebut disebut-sebut masih <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-39349726/" rel="nofollow"><strong>dilanda</strong></a> kelaparan.</p>
<p>Bisa jadi, pemerintahan Jokowi juga perlu meningkatkan kapabilitas dan kekuatan militer selain berfokus pada pembangunan infrastruktur dan SDM guna menghalau pengaruh asing.</p>
<p>Uniknya, pilihan Jokowi untuk menggenjot pembangunan ekonomi Indonesia bukan berarti tidak tepat. Michael Beckley dari Columbia University dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/01402391003603581"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Economic Development and Military Effectiveness</em> menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi berjalan berdampingan dengan kemampuan militer suatu negara.</p>
<p>Beckley menjelaskan bahwa ekonomi yang telah terbangun menjamin jumlah dan kualitas aset militer yang dimiliki oleh suatu negara. Salah satu negara dunia ketiga yang berhasil berfokus pada pembangunan ekonomi yang berujung pada peningkatan kekuatan militer adalah Singapura.</p>
<p><a href="https://www.cfr.org/backgrounder/singapore-small-asian-heavyweight/" rel="nofollow"><strong>Singapura</strong></a> yang baru berdiri pada tahun 1965 – di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Lee Kuan Yew – mampu memanfaatkan dilema ketidakamanan yang dialaminya dengan menerapkan pembangunan ekonomi yang disertai dengan cara-cara otoritatif. Kini, Singapura menjadi salah satu negara yang memiliki salah satu jet tercanggih produksi AS.</p>
<p>Namun, untuk mencapai titik tersebut, Singapura tetap mempertahankan hubungan erat dengan dua kekuatan besar, yakni AS dan Tiongkok. Upaya yang dilakukan negara pulau ini dapat disebut sebagai <a href="https://mearsheimer.uchicago.edu/pdfs/A0048.pdf"><strong><em>balancing</em></strong></a> – sebuah strategi yang digunakan untuk menyeimbangkan dua pengaruh besar tersebut. Penyeimbangan ini pula yang disebut-sebut membuat Singapura <a href="https://www.cfr.org/blog/why-singapore-right-place-trump-kim-summit/" rel="nofollow"><strong>dipilih</strong></a> sebagai tempat pertemuan antara Trump dan Kim.</p>
<p>Mungkin, Jokowi mulai mencontoh apa yang dilakukan Singapura dalam memanfaatkan dilema ketidakamanannya. Sang presiden yang sebelumnya disebut-sebut banyak dipengaruhi oleh Tiongkok kini juga mulai mengundang pengaruh AS di Indonesia – seperti dengan <a href="https://www.apnews.com/344ac90f27ff4058a9b84b94a64c5d3a/" rel="nofollow"><strong>mengundang</strong></a> Trump ke Indonesia.</p>
<p>Pada akhirnya, pengaruh asing yang menghantui negara-negara dunia ketiga yang <em>insecure</em> ini mungkin dapat tergambarkan melalui lirik penyanyi Daniel Caesar. Namun, semua itu kembali lagi pada bagaimana caranya membuat perasaan <em>insecure</em> tersebut menjadi sebuah <em>blessing</em> – seperti yang dinyanyikan Daniel Caesar dalam lirik lagu tersebut. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Ycp-w4NLfmU"><iframe title="JOKOWI, PRABOWO, DAN MACHIAVELLI" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Ycp-w4NLfmU?start=330&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Mari lawan polusi udara Jakarta melalui tulisanmu. Klik di&nbsp;<strong><a href="https://pinterpolitik.com/luhut-masih-kokoh-atau-tergusur/bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-62319" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_polusi-udara-jakarta-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/08/WhatsApp-Image-2019-08-02-at-16.24.51.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nyanyian Koes Plus Sang Jenderal</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nyanyian-koes-plus-sang-jenderal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Apr 2017 04:51:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman luar]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Gatot Nurmantyo]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Hoax]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[koes plus]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<category><![CDATA[Militer]]></category>
		<category><![CDATA[NKRI]]></category>
		<category><![CDATA[nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Panglima TNI]]></category>
		<category><![CDATA[pertahanan dalam negeri]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=8414</guid>

					<description><![CDATA[Melalui lagu “Nusantara” milik Koes Plus, Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengajak generasi muda untuk tidak lengah dengan ancaman global yang menghantui Indonesia. PinterPolitik.com “Kuharap kau tidak akan cemburu melihat hidupku… Di Nusantara yang indah rumahku, kamu harus tahu, tanah permata tak kenal kecewa di khatulistiwa.” ~ Koes Plus, Nusantara I [dropcap size=big]G[/dropcap]enerasi muda sekarang mungkin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Melalui lagu “Nusantara” milik Koes Plus, Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengajak generasi muda untuk tidak lengah dengan ancaman global yang menghantui Indonesia.</h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2e;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote><p><em>“Kuharap kau tidak akan cemburu melihat hidupku… Di Nusantara yang indah rumahku, kamu harus tahu, tanah permata tak kenal kecewa di khatulistiwa.” ~ Koes Plus, Nusantara I</em></p></blockquote>
<p>[dropcap size=big]G[/dropcap]enerasi muda sekarang mungkin kurang mengenal Koes Plus, band musik yang lahir di tahun 1969 dan lagu-lagunya begitu popular di era 70-80an. Salah satu lagu fenomenalnya, ‘Nusantara’ ternyata masih dianggap relevan dengan situasi dan kondisi Indonesia masa kini.</p>
<p>“Kita sebenarnya sudah sejak lama diingatkan oleh Koes Plus, ia mengatakan ‘<em>ku harap kau tak cemburu’</em>, karena saat ini, banyak negara lain yang cemburu dengan kekayaan milik Indonesia,” jelasnya, saat memberi kuliah di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Rabu (5/4).</p>
<p>Menurutnya, syair lagu ciptaan Tonny Koeswoyo yang menyebutkan kalau hutan kita luar biasa lebat, lautan luas, dan alamnya yang ramah, sebenarnya juga bisa berubah menjadi ancaman dari bangsa lain untuk menguasai negara ini. “Tapi negara lain sudah cemburu, dan ini adalah peringatan bagi anak muda kita agar jangan terlena,” lanjutnya lagi.</p>
<p>Peringatan mengenai ancaman ini juga sebenarnya sudah diingatkan oleh dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Joko Widodo. Apalagi saat ini, Indonesia juga sedang menghadapi kompetisi global. Negara-negara yang kalah, umumnya adalah negara miskin dengan penduduk besar. Kesenjangan ekonomi akan berujung pada depresi ekonomi, kejahatan, dan konflik yang meningkat.</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/3l6AuE9VWC4" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>Bumi Sudah Terlalu Penuh</strong></h4>
<p>Bagi penggemar novelis Dan Brown, pasti belum lupa dengan petualangan Robert Langdon dalam ‘Inferno’. Di novel yang juga telah difilmkan ini, diceritakan kalau profesor dan pakar simbologis tersebut, harus memburu waktu dalam memecahkan sebuah sandi dari seorang jenius bernama Zobrist.</p>
<p>Bila Langdon gagal menemukan virus tersebut, maka bisa dipastikan seluruh populasi dunia akan musnah terkena wabah virus yang mematikan. Zobrist adalah penganut paham ‘Jebakan Populasi’ (<em>Population Traps</em>) yang diperkenalkan oleh Robert Malthus, seorang pakar demografi Inggris dan ekonom politik yang terkenal pesimistik namun sangat berpengaruh, tentang pertambahan penduduk.</p>
<blockquote><p><em>“Hanya satu bentuk penularan yang melaju lebih cepat dari virus, yaitu rasa takut.” ~ Dan Brown, Inferno.</em></p></blockquote>
<p>Zobrist yakin, dengan memusnahkan populasi dunia, maka bumi akan mampu merehabilitasi diri dari kerusakan-kerusakan yang dilakukan manusia. Sebab menurut Malthus, jumlah populasi manusia akan mengalahkan pasokan makanan yang dapat disediakan oleh bumi, sehingga setiap hari jumlah makanan bagi setiap orang akan berkurang. Sehingga kesengsaraan dan penderitaan di masa datang, tidak terhindarkan.</p>
<p>Ia juga meramalkan secara spesifik bahwa hal ini pasti akan terjadi pada pertengahan abad ke-19. Walau banyak pakar yang mengatakan kalau ramalan Malthus salah, namun Gatot memperlihatkan bahwa pertumbuhan manusia saat ini, memang dua kali lebih cepat dibanding kesediaan pangan dunia. “Di beberapa negara, ada ribuan anak-anak yang meninggal akibat kelaparan dan kekurangan nutrisi setiap harinya.”</p>
<p>Menurut Gatot, diperkirakan 27 tahun dari sekarang, akan terjadi krisis pangan dan energi di negara-negara yang berada di luar ekuator. “Di dunia ini hanya ada tiga kawasan yang masuk dalam ekuator, yaitu ASEAN – Indonesia paling besar, Afrika Tengah, dan Amerika Latin.” Akibatnya suatu hari nanti, Indonesia akan menjadi salah satu negara tujuan perpindahan manusia yang mencari penghidupan lebih baik.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-8415 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Malthus.jpg" alt="" width="850" height="400" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Malthus.jpg 850w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Malthus-696x328.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Malthus-300x141.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Malthus-768x361.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 850px) 100vw, 850px" /></p>
<h4><strong>Pengaruh Kompetisi Global</strong></h4>
<p>Selain pangan, kebutuhan manusia akan energi, tambang, dan mineral, juga terus bertambah seiring meningkatnya populasi. “Sementara energi fosil yang dimiliki bumi jumlahnya terbatas. Bahkan British Petroleum saja, belum lama ini mengeluarkan laporan kalau energi bumi diperkirakan akan habis di tahun 2056. Bila habis, tentu penggantinya adalah energi hayati. Dan Indonesia, memiliki kedua sumber energi tersebut,” paparnya.</p>
<p>Walau kondisi itu menguntungkan, namun juga bisa menjadi ancaman, karena negara-negara maju yang tidak memiliki atau terbatas sumber energinya, akan menjadikan Indonesia sebagai rebutan. “Contohnya Timor Timur. Dukungan Australia agar TimTim lepas dari Indonesia, sebenarnya karena ladang minyak di Celah Timor. Sehingga saat merdeka, Celah Timor langsung dikuasai Australia dan TimTim tidak dapat apa-apa.”</p>
<blockquote><p><em>“O Nusantara, hasil lautnya, hasil buminya, hasil muntahnya, hasil tambangnya, semua, semua pemuda nusantara memilikinya, nusantara, taman indah, nusantara&#8230;” ~ Koes Plus, Nusantara VIII</em></p></blockquote>
<p>Tingginya kebutuhan yang tidak diimbangi dengan produksi dan ketersediaan kebutuhan, menyebabkan terjadinya kompetisi global. Indonesia, lanjutnya, ikut masuk ke kompetisi tersebut karena memiliki kondisi geografis sekaligus posisi yang strategis. “Kompetisi global ini, kalau kita simak benar, berkaitan dengan kondisi geografi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memegang posisi strategis,” jelasnya.</p>
<p>Posisi geografis Indonesia yang berada di ekuator dan berada di persimpangan perdagangan internasional, otomatis menjadikan Nusantara sebagai salah satu negara penting bagi perekonomian dunia. “Kita juga sudah masuk dalam Indo Pasific Region dan One Road One Belt Tiongkok yang tujuannya meningkatkan pembangunan ekonomi negara-negara di kawasan tersebut.”</p>
<p>Namun bila tidak hati-hati, kompetisi global ini bisa berubah menjadi konspirasi yang dapat menjadi ancaman luar biasa. Presiden AS Donald Trump misalnya, pernah mengatakan, kalau saja AS mengambil minyak Irak, mungkin ISIS tidak akan ada dan ia berharap ada kesempatan lain untuk mendapat minyak itu. “Jadi konflik dan perang kini bergeser bukan lagi akibat perbedaan agama, suku, dan bahasa, melainkan untuk memperebutkan energi dari suatu negara oleh negara lain.”</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/cOsWcEoKfp4" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4><strong>Bahaya Laten Modernisasi</strong></h4>
<p>Konflik melalui berbagai isu SARA, terkadang sengaja dihembuskan pihak tertentu dengan maksud memecah belah bangsa. Salah satunya dengan menggunakan media sosial. “Kekuatan media sosial luar biasa, bahkan sudah masuk ke wilayah rumah tangga,” tukas pria berusia 57 tahun ini. Sehingga sangat mudah bagi pihak tertentu untuk memecahbelah warga, cukup dengan menyebarkan kabar bohong atau <em>hoax</em>.</p>
<p>Selain dengan memecah belah dan mengadu domba suatu bangsa, penjajahan modern juga bisa dilakukan dengan melumpuhkan generasi muda bangsa itu. Maraknya peredaran Narkoba saat ini, menurut Gatot, adalah salah satu caranya. Ia kemudian merujuk Perang Candu yang pernah terjadi antara Tiongkok dengan Inggris yang mengakibatkan Tiongkok kehilangan Hong Kong (selengkapnya baca <a href="http://wawasansejarah.com/perang-candu-di-cina/">di sini</a>).</p>
<blockquote><p><em>“Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot.” ~ Albert Einstein</em></p></blockquote>
<p>Kedua upaya pelemahan persatuan Indonesia di atas, sudah mulai terjadi di Indonesia. Dari mulai pertikaian yang muncul hanya karena perbedaan pilihan calon kandidat Pilkada, hingga tingginya jumlah pengguna Narkoba saat ini. “Setiap harinya, ada sekitar 11 ribu orang yang meninggal akibat Narkoba,” jelas Gatot. Bahkan Badan Narkotika Nasional saja, mengaku hanya mampu menyita 15 persen peredarannya saja.</p>
<p>Gatot mengatakan, upaya pelemahan lainnya juga dilakukan melalui perekonomian, yaitu dengan pemberian hutang, penguasaan aset ekonomi dan kekayaan alam. Bila Indonesia saat ini belum memiliki ketahanan pangan yang kuat, menurutnya, juga karena dikondisikan agar terus ketergantungan. Industri fashion dan film yang berisi kekerasan, pornografi, dan ideologi tertentu,  juga bisa disusupi upaya tersebut.</p>
<p>Begitu juga dengan pelemahan pada keyakinan generasi muda, misalnya dengan menggoyahkan fungsi keluarga, serta sendi-sendi kehidupan dan bernegara. “Pelemahan dalam keluarga ini juga menyangkut moral. Kalau kita lihat, sekarang ini pun sudah mulai banyak kasus anak yang melaporkan orangtuanya ke kepolisian, begitu juga sebaliknya. Ini yang harus kita cegah dan kembalikan ke norma kebangsaan kita.”</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-8416 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bahan-panglima-tni-7-nov-2016-53-638.jpg" alt="Nyanyian Koes Plus Sang Jenderal" width="638" height="479" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bahan-panglima-tni-7-nov-2016-53-638.jpg 638w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bahan-panglima-tni-7-nov-2016-53-638-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bahan-panglima-tni-7-nov-2016-53-638-265x198.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bahan-panglima-tni-7-nov-2016-53-638-559x420.jpg 559w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bahan-panglima-tni-7-nov-2016-53-638-300x225.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 638px) 100vw, 638px" /></p>
<h4><strong>Pancasila Pemersatu Bangsa</strong></h4>
<blockquote><p><em>“Dihadapanku, berdiri kokoh seorang lelaki dengan mata berwarna gelap. Tatapan matanya tajam, mencerminkan keteguhan batu karang. Apapun yang dilakukan dalam hidup kesehariannya, diperhitungkan dengan teliti dan didasarkan pada satu tujuan yang jelas: mencari kemerdekaan.”</em></p></blockquote>
<p>Kata-kata di atas, merupakan kutipan dari seorang perwira federal Amerika yang bertugas sebagai negosiator antara pemerintah federal dengan suku Apache. Salah satu suku Indian ini dipimpin seorang pejuang kharismatik dan pemberani, bernama Geronimo. Legenda terbesar Indian yang melawan penindasan serta pengambilalihan tanah secara paksa oleh para pendatang Eropa, di awal berdirinya Amerika Serikat.</p>
<p>Kisah bangsa Indian dan juga suku Aborigin di Australia, menurut Gatot, adalah salah satu contoh dari penjajahan suatu bangsa atas tanah milik bangsa lainnya. “Dan ini bisa saja terjadi pada Indonesia, bila kita tidak selalu waspada. Masih bagus kalau hanya terjajah, karena bisa saja kita juga dimusnahkan seperti yang terjadi pada suku Indian tersebut,” jelasnya.</p>
<p>Oleh karena itu, ia berharap generasi muda Indonesia sebaiknya bersikap kritis pada paham radikalisme dan separatisme yang banyak berhembus saat ini, karena bisa saja merupakan upaya penggembosan rasa kebangsaan masyarakat. “Jangan pernah meragukan Pancasila,” tegasnya, karena berkat Pancasila, Indonesia saat ini masih berdiri kuat dan tidak terpecah belah.</p>
<p>Seperti kata Koes Plus, <em>tanah kita adalah tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.</em> “Bahkan Bung Karno pun sudah mengatakan, bahwa suatu hari Indonesia akan membuat iri banyak bangsa karena kekayaannya. Jadi, saya juga ingin menitipkan keberlangsungan negeri ini pada kalian semua, generasi muda Indonesia,” kata Gatot yang diiringi tepukan para peserta kuliah umum tersebut. Mampukah kalian menjaga Indonesia dan Pancasila?</p>
<p>(Berbagai sumber/R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Panglima-TNI-Gatot-1024x768.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
