<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Kades Suhartono &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kades-suhartono/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Dec 2018 06:38:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Kades Suhartono &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gamesmanship, Cara Jokowi Menangkan Pilpres?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gamesmanship-cara-jokowi-menangkan-pilpres/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2018 18:12:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Dhani]]></category>
		<category><![CDATA[Bahar bin Smith]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kades Suhartono]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=45702</guid>

					<description><![CDATA[Atas kasus-kasus hukum yang menimpa banyak pendukungnya, kubu Prabowo Subianto menuduh Jokowi menggunakan hukum sebagai alat politik kekuasaan. Dengan konteks Pilpres yang sudah di depan mata, penggunaan cara-cara yang menekan psikologi lawan adalah strategi untuk memenangkan pertarungan, sekalipun harus mengorbankan sportivitas. Semuanya bergantung pada kecerdikan memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa melanggar aturan yang berlaku [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Atas kasus-kasus hukum yang menimpa banyak pendukungnya, kubu Prabowo Subianto menuduh Jokowi menggunakan hukum sebagai alat politik kekuasaan. Dengan konteks Pilpres yang sudah di depan mata, penggunaan cara-cara yang menekan psikologi lawan adalah strategi untuk memenangkan pertarungan, sekalipun harus mengorbankan sportivitas. Semuanya bergantung pada kecerdikan memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa melanggar aturan yang berlaku – fenomena yang bisa disebut sebagai <em>gamesmanship.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p><strong>“It is not wisdom but authority that makes a law.”</strong></p>
<p><strong>:: Thomas Hobbes ::</strong></p></blockquote>
<p>[dropcap]K[/dropcap]asus-kasus hukum yang menyerang beberapa simpatisan dan pendukung kelompok oposisi beberapa waktu terakhir memang menjadi salah satu sorotan utama penegakan hukum di Indoneia – setidaknya dalam kacamata lawan politik Presiden Joko Widodo (Jokowi).</p>
<p>Kasus hukum yang menimpa Ahmad Dhani dan Habib Bahar bin Smith misalnya, dianggap sebagai bentuk ketidakadilan hukum karena cenderung menjerat kelompok-kelompok yang mendukung oposisi.</p>
<p>Yang terbaru adalah kasus Suhartono, Kepala Desa Sampangagung, Kabupaten Mojokerto, yang dilaporkan ke polisi karena mengajak warganya menyambut cawapres pasangan Prabowo Subianto, Sandiaga Uno saat mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu berkunjung ke wilayahnya.</p>
<hr /><p><em>Sosok Suhartono dan Ahmad Dhani mungkin tidak akan banyak berpengaruh. Namun, Bahar bin Smith punya massa kuat. Apalagi sosoknya dipandang sebagai pendakwah yang punya pengaruh.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fgamesmanship-cara-jokowi-menangkan-pilpres%2F&#038;text=Sosok%20Suhartono%20dan%20Ahmad%20Dhani%20mungkin%20tidak%20akan%20banyak%20berpengaruh.%20Namun%2C%20Bahar%20bin%20Smith%20punya%20massa%20kuat.%20Apalagi%20sosoknya%20dipandang%20sebagai%20pendakwah%20yang%20punya%20pengaruh.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Tak tanggung-tanggung, ancaman hukuman yang ditimpakan pada sang kades adalah kurungan 6 bulan dengan masa percobaan 1 tahun dan denda Rp 12 juta.</p>
<p>Suhartono akhirnya divonis hukuman 2 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Mojokerto, hal yang lagi-lagi disorot oleh oposisi. Salah satunya adalah politisi Partai Gerindra, Muhammad Syafi’i yang dalam sebuah kesempatan memprotes kasus-kasus tersebut.</p>
<p>Pria yang menjabat sebagai anggota Dewan Penasehat Partai Gerindra itu menyebutkan bahwa hukum terlihat sedang dijadikan sebagai alat politik kekuasaan oleh rezim Jokowi yang saat ini berkuasa. Menurut Syafi’i, ketegasan hukum kini terlihat tidak adil bagi pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Sementara, untuk orang-orang yang dekat dengan lingkaran kekuasaan, justru mendapatkan keringanan hukuman.</p>
<p>Tuduhan Syafi’i ini memang menjadi bahasa serangan politik yang dalam beberapa tahun terakhir sering digunakan untuk menyerang Jokowi.</p>
<p>Apa yang dikatakan oleh Syafi’i ini kemudian membawa kembali perdebatan tentang posisi hukum dan kekuasaan yang pertaliannya telah didefinisikan ulang sejak konsepsi negara bangsa (<em>nation state</em>) mengambil tempat dalam peradaban manusia di abad ke-17 lalu.</p>
<p>Tentu pertanyaanya adalah apakah strategi politik yang demikian sah-sah saja digunakan dalam kontestasi elektoral dan bisa menguntungkan bagi kubu tertentu?</p>
<h4><strong><em>Gamesmanship</em>, Sebuah Strategi Politik</strong></h4>
<p>Pada tahun 1644, Samuel Rutherford – seorang teolog Presbiterian Skotlandia – menulis <a href="https://www.constitution.org/sr/lexrex.htm"><strong>buku</strong></a> berjudul <em>Lex, Rex </em>yang dianggap sebagai dasar pemahaman peradaban modern tentang supremasi hukum di atas kekuasaan.</p>
<p>Buku yang terbit 4 tahun sebelum perjanjian damai Westphalia yang menjadi akhir dari perang agama 30 tahun antara Katolik dan Protestan di Eropa ini, menjadi pembalikan konsep kekuasaan dan hukum. Konsep yang semulanya percaya bahwa “the king is law” – raja adalah hukum – diubah menjadi “law is the king” – hukum adalah raja.</p>
<p>Konteks tulisan Rutherford tersebut kemudian menjadi jalan masuk pemahaman bahwa kekuasaan sebesar apa pun harus tetap tunduk pada prinsip-prinsip hukum yang berlaku. Walaupun kelahiran prinsip ini sebetulnya sudah terlihat ketika Raja Henry II <a href="http://www.bbc.co.uk/history/british/middle_ages/henryii_law_01.shtml"><strong>mendirikan</strong> </a>pengadilan profesional pertama di Westminster, Inggris pada tahun 1230-an, namun garis tulisan Rutherford menjadi penunjuk arah yang lebih jelas terkait konteks kekuasaan kontemporer.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BrWtng2AAx1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BrWtng2AAx1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BrWtng2AAx1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Hukum jadi alat politik petahana? Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #hukum #gamesmanship #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2018-12-14T04:48:06+00:00">Dec 13, 2018 at 8:48pm PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Memang, tentu saja dalam pelaksanaannya, kekuasaan seringkali membuat orang membalikkan prinsip-prinsip yang sudah dibentuk sejarah itu dengan sesukanya. Hukum kemudian digunakan sebagai alat kekuasaan dan menjadi bagian dari upaya untuk mempertahankan kekuasaan tersebut.</p>
<p>Bahkan, <strong><a href="https://scholars.law.unlv.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1890&amp;context=facpub">menurut</a></strong> Lynne Henderson dari University of Nevada, karena hukum adalah alat kekuasaan sosial dan politik dan menjadi instrumen utama bagi pemerintah untuk menunjukkan legitimasinya di hadapan masyarakat, seringkali keberadaannya menjadi “rawan” digunakan untuk tujuan-tujuan pembentukan kekuasaan otoritarian. Hukum sebagai instrumen negara yang “memaksa” rakyat kemudian menjadi alat pemaksaan kepentingan kekuasaan.</p>
<p>Lalu, apakah hal itulah yang sedang terjadi pada rezim Jokowi saat ini dalam konteks penggunaan hukum yang oleh oposisi disebut menjadi alat politik kekuasaan?</p>
<p>Jawabannya mungkin benar, tetapi pada titik tertentu saja. Konteks pemerintahan Jokowi belum sampai pada level membalikkan kembali konteks <em>Lex, Rex </em>Rutherford. Namun, karena konteks politik saat ini menjelang Pemilu, maka persepsi yang terbentuk atas hal ini tidak bisa dihindari.</p>
<p>Pasalnya, kondisi jelang Pilpres 2019 membuat irisan antara penegakan hukum dengan konteks penggunaan hukum sebagai alat kekuasaan menjadi sangat tipis. Irisan itu pun tergantung dari sudut pandang mana persoalan ini dilihat.</p>
<p>Yang jelas, bagi kubu oposisi, kasus-kasus yang menjerat Ahmad Dhani, Habib Bahar bin Smith dan Suhartono dianggap sebagai bagian dari politik kekuasaan, sekalipun jika dilihat secara spesifik, tentu saja ada aturan hukum dan Undang-Undang yang mereka langgar.</p>
<p>Ahmad Dhani didakwa melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Bahar melanggar UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis serta UU ITE, sementara Suhartono melanggar UU Pemilu. Namun, seringkali pemikiran manusia sulit membedakan mana kebenaran dan mana persepsi – hal yang disebutkan oleh pemilik lembaga konsultan Trout &amp; Partners, Jack Trout dalam salah satu <a href="https://www.forbes.com/2007/01/15/jack-trout-on-marketing-oped-cx_jt_0116reality.html#6b1af48b77ef"><strong>tulisannya</strong></a> di Forbes.</p>
<p>Hal inilah yang membuat kasus-kasus hukum tersebut dinilai berdasarkan persepsi yang timbul dan sudut pandang yang dipakai, tanpa mempertimbangkan lagi konteks kebenarannya.</p>
<p>Sementara, dalam hal mencari celah untuk kepentingan kekuasaan seperti yang dituduhkan oleh oposisi, Jokowi memang bisa disebut menjalankan apa yang disebut sebagai <em>political gamesmanship. </em>Terminologi ini diadopsi dari bidang olahraga untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang menggunakan segala cara untuk memenangkan pertandingan tanpa benar-benar berbuat curang.</p>
<p>Strategi yang umumnya terjadi adalah mem-<em>push </em>atau mendorong permainan sampai pada titik paling mepet dengan batas kecurangan atau pelanggaran. Artinya, tidak ada pelanggaran yang terjadi, namun sebetulnya juga menyalahi prinsip-prinsip dasar sportivitas.</p>
<p><em>Gamesmanship </em>memang menjadi lawan dari <em>sportsmanship, </em>di mana istilah yang terakhir dicirikan dengan nilai-nilai sportivitas, menghormati lawan, dan menjunjung nilai-nilai yang dianggap harus dihormati.</p>
<p>Tujuan <em>gamesmanship </em>tentu saja adalah untuk meraih kemenangan sekaligus juga merusak psikologi lawan.</p>
<p>Contohnya seperti yang sering dilakukan oleh atlet badminton, Kevin Sanjaya Sukamuljo yang kerap memprovokasi lawan di lapangan dengan aksi-aksi “tengil”, atau yang umum dilakukan oleh pemain sepak bola dan olahraga lainnya untuk memprovokasi lawan secara psikologis, yang pada titik tertentu berhasil menghancurkan mental bertanding lawan dan merusak permainannya.</p>
<p>Dalam konteks politik, <em>gamesmanship </em>memang sangat umum dilakukan oleh para politisi lewat pernyataan-pernyataan yang menggertak lawan, atau menyerang tanpa melanggar aturan, dan lain sebagainya. Artinya, bukan hanya Jokowi yang bisa melakukan hal ini, tetapi kubu Prabowo pun bisa melakukan hal yang sama.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BqzAYYdgSdj/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BqzAYYdgSdj/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BqzAYYdgSdj/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Isi ceramah mengina presiden, Bahar terancam dipolisikan Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #hatespeech #habibbharbinsmith #habibbahar #uuite #infografik #infografis #infographic #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2018-11-30T07:59:24+00:00">Nov 29, 2018 at 11:59pm PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<h4><strong>Untungkan Petahana?</strong></h4>
<p>Jokowi memang belum bisa dikatakan benar-benar melakukan pembalikan prinsip <em>Lex, Rex. </em>Namun, konteks kekuasaannya sebagai petahana dan aksesnya kepada lembaga-lembaga hukum memang membuat dirinya punya sumber daya yang lebih besar untuk memenangkan pertarungan politik – hal yang oleh banyak ahli politik disebut sebagai <em>incumbent advantages </em>atau keunggulan petahana.</p>
<p>Jokowi sangat mungkin menerapkan <em>gamesmanship </em>dan mem-<em>push </em>strategi kampanye politiknya sampai pada batas mepet dengan kecurangan atau pelanggaran. Persoalannya adalah ketika strategi yang dipakai adalah dengan menggunakan hukum.</p>
<p>Pasalnya, instrumen hukum adalah alat untuk menjamin ketertiban masyarakat. Ketika hukum digunakan oleh pemerintah untuk membentuk persepsi publik atau mencapai kepentingan tertentu, maka suatu saat ada ancaman kehilangan legitimasi yang menghantui. Masyarakat sangat mungkin kehilangan kepercayaan kepada pemerintahan yang berkuasa, bahkan terhadap hukum yang berlaku.</p>
<p>Konteks tersebut tidak akan terjadi jika pemerintahan yang berkuasa benar-benar kuat. Pertanyaannya adalah apakah pemerintahan Jokowi kuat? Jawabannya memang kuat, namun tidak benar-benar kuat. Jokowi masih mungkin digoyang oleh isu-isu berbasis identitas.</p>
<p>Dalam kasus-kasus hukum itu misalnya, sosok Suhartono dan Ahmad Dhani mungkin tidak akan banyak berpengaruh. Namun, hal yang berbeda jika kita berbicara mengenai Bahar bin Smith yang punya massa kuat. Apalagi sosoknya dipandang sebagai pendakwah yang punya pengaruh.</p>
<p>Pada akhirnya semua akan kembali pada pendekatan yang dipakai oleh Jokowi. Jika berhasil memanfaatkan <em>gamesmanship </em>dengan baik, maka kemenangan sudah ada di depan mata. Tidak ada yang adil dan sportif dalam politik, jenderal! (S13)</p>
<p><iframe type="text/html" width="853" height="480" src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/_Sa0kP0tu-g?showinfo=0&#038;modestbranding=1&#038;autoplay=1&#038;mute=1&#038;loop=1&#038;autohide=1&#038;rel=0&#038;fs=0" frameborder="0" allow="autoplay" ></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/12/sdsdsds-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
