<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Jusuf Kalla &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/jusuf-kalla/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Apr 2026 03:11:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Jusuf Kalla &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pintu yang Tidak Selalu Terbuka</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/pintu-yang-tidak-selalu-terbuka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2026 02:57:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169069</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #21PinterPolitik.com Di sebuah rumah di kawasan selatan Jakarta, ada pintu kayu yang tidak selalu terbuka. Pada pertengahan Februari lalu, di balik pintu itu, Jusuf Kalla menyampaikan sembilan pesan untuk Presiden Prabowo Subianto — [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-3-1-p0m2xker-1.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #21</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sebuah rumah di kawasan selatan Jakarta, ada pintu kayu yang tidak selalu terbuka. Pada pertengahan Februari lalu, di balik pintu itu, Jusuf Kalla menyampaikan sembilan pesan untuk Presiden Prabowo Subianto — dengan satu syarat: jangan diumumkan ke publik. Beberapa minggu kemudian, suara dari rumah yang sama terdengar di hampir setiap layar kaca. Kontradiksi itu bukan kontradiksi politik. Ia kontradiksi tentang sifat pengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saluran rahasia dipakai untuk hal yang serius. Saluran publik dipakai untuk hal yang membutuhkan tekanan kolektif. Mencampur keduanya adalah kebingungan struktural — bukan strategi. Hasilnya telah hadir di publik. Dalam hitungan minggu sejak nasihat itu bergulir di awal April, sejumlah pejabat di lingkar pemerintah — dari kabinet hingga parlemen — memilih jalur kebijakan subsidi yang berbeda. Mereka bukan oposisi. Mereka bagian dari koalisi yang seharusnya menjadi pendengar paling siap. Bila pendengar yang paling siap pun tidak terbawa, ada dua kemungkinan. Pertama, masalahnya pada medium. Kedua, dan ini yang lebih sulit dihadapi: masalahnya pada asumsi bahwa setiap suara dari masa lalu masih membawa bobot yang sama di struktur kekuasaan hari ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>“Bila pendengar yang paling siap pun tidak terbawa, masalahnya bukan tentang isi pesan. Masalahnya tentang asumsi bahwa setiap suara dari masa lalu masih membawa bobot yang sama di struktur kekuasaan hari ini.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sesuatu yang jarang diakui dalam literatur kepemimpinan: setiap keberhasilan besar membawa serta beban epistemiknya sendiri. Malino, dengan segala keagungannya, mengandung satu beban yang jarang disadari oleh pembawanya — keyakinan bahwa konteks hari ini masih bisa dijawab dengan refleks dua dekade lalu. Yang menyelamatkan konflik komunal tidak tentu menyelamatkan pemerintahan. Republik bergerak dalam fase. Setiap fase punya pusat gravitasi dan kosakatanya sendiri. Kebijaksanaan seorang mantan tidak diukur dari seberapa lama ia masih bicara — melainkan dari seberapa jeli ia membaca kapan ia sedang berdiri di luar pusat gravitasi yang aktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasca-kekuasaan adalah jabatan yang tidak dilantik. Tidak ada upacara, tidak ada sumpah, tidak ada bingkai konstitusional yang mengaturnya. Ia bukan ruang kosong; ia ruang yang dipenuhi pilihan-pilihan kecil yang akan membentuk bagaimana seseorang dikenang dua dekade ke depan. Milan Kundera pernah menulis bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan kelupaan. Yang jarang dikatakan: perjuangan republik menjaga negarawan tuanya pun adalah perjuangan ingatan — terhadap dirinya sendiri. Republik kita, dalam delapan dekade kemerdekaan, belum pernah mengajarkan jabatan itu kepada siapa pun. Setiap negarawan tua dipaksa menjadi tukang kayu sendiri — membangun pintunya, sering kali terlambat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hannah Arendt menulis tentang dua mode keberadaan: <em>vita activa</em> dan  — dunia tindakan harian, dan dunia jarak tempat seseorang menarik diri bukan untuk hilang, melainkan untuk melihat. Albert Hirschman menambahkan: setiap aktor politik punya tiga mode — keluar, bersuara, atau bertahan setia. Suara yang terus-menerus tanpa modulasi berubah menjadi gangguan. Republik tidak membutuhkan lebih banyak suara. Ia membutuhkan lebih sedikit suara — yang tepat.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>“Kebijaksanaan seorang mantan tidak diukur dari seberapa lama ia masih bicara, melainkan dari seberapa jeli ia membaca kapan ia sedang berdiri di luar pusat gravitasi yang aktif.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bandingkan tiga rumah dalam republik yang sama. Habibie, setelah meninggalkan istana, mendirikan <em>The Habibie Center</em> dan menulis <em>Detik-Detik yang Menentukan </em>— memilih jalan <em>vita contemplativa</em>. Otoritas moralnya bertahan hingga hari kematiannya, dihormati bahkan oleh lawan paling keras. Megawati memilih PDIP sebagai benteng dan Teuku Umar sebagai filter — diam yang panjang, tetapi diam yang berdaya karena memiliki struktur. SBY memilih menjadi pelukis. Kanvas menjadi mediumnya, warna menjadi bahasanya. Sejak masa sekolah menengah ia melukis; kini lukisan menjadi pernyataan publik tanpa pidato. Di Pacitan, museum miliknya bersama Ani Yudhoyono diam-diam mendokumentasikan jejak hidup yang sengaja tidak dikomentari setiap minggu. SBY berbicara tanpa berbicara. Lawan dan teman membaca lukisannya dengan saksama — sebagaimana mereka dulu membaca pidatonya. Tiga rumah, tiga pilihan, tiga bahasa berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lee Kuan Yew, dari negara kota yang tidak lebih besar dari satu provinsi kita, menjelaskan ekonomi pasca-kekuasaannya dalam satu prinsip. Ia menulis buku — tetapi tidak berbicara setiap hari. Ia memilih medium yang membuat setiap kalimatnya dibaca dua kali: sekali oleh teman, sekali oleh lawan. Ia juga jujur tentang sesuatu yang sering disembunyikan: setiap intervensi publik dari masa pasca-kekuasaan tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu membawa serta dimensi <em>positioning</em> — bukan dalam arti pejoratif, melainkan struktural. Ada yang ingin menjaga relevansi. Ada yang ingin membentuk ulang warisan. Negarawan yang cerdik tidak menyangkal motif itu; ia mengelolanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah Presiden Prabowo Subianto sedang membaca sesuatu yang tidak banyak terbaca. Dalam enam bulan pertama pemerintahannya, ia datang ke Cikeas, ke Teuku Umar, ke kediaman Brawijaya. Ia mengirim utusan, mendengarkan tanpa janji yang tergesa, menyimpan banyak yang ia dengar tanpa mengumumkan apa yang ia putuskan. Setiap kunjungan dipikirkan, setiap kalimat ditahan, setiap waktu dipilih dengan presisi yang tidak terlihat. Para pendahulunya tidak melakukan ini — tidak dalam derajat ini, dan tidak dengan sikap ini. Banyak yang membaca isyarat itu sebagai protokol. Mereka keliru. Yang sedang dibangun adalah arsitektur — kontrak baru dengan para negarawan senior republik ini, sebuah <em>template</em> yang belum pernah ditawarkan oleh pendahulunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah <em>template</em> yang tenang. Dan karena ia tenang, ia hampir luput dari liputan. Ada keahlian yang jarang dibicarakan dalam literatur kepemimpinan modern: keahlian membangun arsitektur tanpa pernah menamainya. Sebab nama adalah beban — yang dinamai harus dibela, sementara yang dijaga dalam diam dirasakan sebelum dideklarasikan. Prabowo memahami apa yang tidak semua kepala negara modern memahami: republik tidak dijaga oleh siapa yang paling keras berbicara, melainkan oleh arsitektur yang membuat setiap suara punya tempatnya. Ia menawarkan jalan vertikal kepada para senior — saluran privat yang bermartabat, konsultasi struktural, panggung yang tidak menjebak. Tawaran itu, bagi yang membacanya dengan jeli, adalah pintu yang sedang dibuka dari sisi istana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelajaran trilogi ini berhenti menjadi soal satu orang. Setiap pemimpin di republik ini akan menjadi mantan, suatu hari nanti — Prabowo sendiri suatu hari, generasi yang menjabat hari ini suatu hari. Mereka akan menemukan bahwa kursi pasca-kekuasaan tidak pernah ditata oleh negara. Sebagian akan memilih kanal harian, dan habis dalam kebisingan. Sebagian akan memilih jarak, dan dilupakan. Tetapi sebagian, yang langka, akan belajar membaca tawaran Prabowo seperti membaca puisi — bukan sebagai protokol, melainkan sebagai geometri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke pintu kayu di kawasan selatan itu. Pintu itu tidak ditutup oleh siapa pun; ia menunggu pemiliknya menemukan ritmenya. Apakah Jusuf Kalla masih akan membawa banyak ke depan, akan ditentukan bukan oleh seberapa sering pintunya terbuka — melainkan oleh seberapa jeli ia membaca kapan ia tidak perlu membuka. Yang sedang diuji hari ini bukan kebijaksanaannya — kebijaksanaan itu telah dibuktikan oleh tiga dekade kerja kenegaraan. Yang sedang diuji adalah kemampuannya membaca bahwa percakapan republik telah menemukan ruang baru, dan bahwa rumahnya yang dulu menjadi salah satu pusat utama kini berbagi panggung dengan rumah-rumah lain yang juga sah. Sembilan pesan, kadang, lebih kuat ketika tetap sembilan — daripada ketika ia bertumpuk dengan keramaian harian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Republik bukan rumah yang dijaga oleh suara yang banyak. Republik adalah rumah yang dijaga oleh siapa yang tahu kapan membuka pintu, dan kapan duduk diam di belakangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 1 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/saksi-yang-harus-bersaksi-lagi/">Saksi Yang Harus Bersaksi Lagi</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 2 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/empat-puluh-tujuh-detik/">Empat Puluh Tujuh Detik</a></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-3-1-p0m2xker-1.mp3" length="3237500" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/whatsapp-image-2026-04-29-at-09.51.26-1024x682.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Empat Puluh Tujuh Detik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/empat-puluh-tujuh-detik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 01:15:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[brawijaya]]></category>
		<category><![CDATA[deepfake]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169011</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #20PinterPolitik.com Di sebuah ruang tamu di Brawijaya, sup ikan diangkat ke meja ketika matahari mulai turun di Jakarta. Tiga lelaki yang pernah membantu menghentikan perang komunal makan malam tanpa kamera. Di luar rumah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-ok-1-1b0muao8.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #20</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sebuah ruang tamu di Brawijaya, sup ikan diangkat ke meja ketika matahari mulai turun di Jakarta. Tiga lelaki yang pernah membantu menghentikan perang komunal makan malam tanpa kamera. Di luar rumah itu, dalam empat belas hari, sebuah eksperimen sedang berjalan: bagaimana republik abad kedua puluh satu menghancurkan reputasi yang dibangun selama empat puluh tahun, hanya dengan dua jenis teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Eksperimen itu sedang menang.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hitung dari kalender. Lima Maret, Jusuf Kalla memberi ceramah Ramadhan empat puluh tiga menit di masjid sebuah kampus Yogyakarta. Tiga puluh empat hari kemudian, sebelas April, sebuah video kurang dari satu menit beredar di media sosial — potongan yang dicabut dari konteks teologisnya. Dua belas dan tiga belas April, sembilan belas organisasi lintas-ormas melapor ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penistaan agama. Yang menarik bukan jumlah pelapornya, melainkan komposisinya: sebagian terhubung dengan lingkar politik tertentu, sebagian lagi terhubung dengan kelompok yang dalam peta formal seharusnya bermusuhan dengan lingkar itu. Pertanyaan-pertanyaan yang patut diajukan publik, dan yang belum dijawab media manapun: bagaimana komposisi pelapor yang seharusnya berbeda haluan bisa bertemu di satu target dalam jendela dua belas hari? Mengapa pemberitaan yang menjadi pemicu mulai beredar pada saat yang sama dengan polemik kebijakan publik yang sedang ramai? Siapa yang paling diuntungkan secara politis dari urutan peristiwa itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lapis kedua serangan itu yang lebih meresahkan. Pada tujuh April, sebuah video terpisah menuduh Kalla mendanai pihak tertentu sebesar lima miliar rupiah. Pengunggah video itu sendiri, ketika ditelusuri media, mengakui bahwa video tersebut hasil rekayasa kecerdasan buatan. Pakar telematika Roy Suryo mengonfirmasi temuan yang sama: ciri-ciri sintesis suara dan kompresi visual menunjukkan video tersebut bukan asli. Indonesia, di pertengahan dua ribu dua puluh enam, sedang menyaksikan salah satu kasus <em>deepfake</em> politik paling menonjol yang menyasar tokoh publik nasional. Ini bukan kasus hukum biasa. Ini kasus keamanan informasi nasional. Pertanyaan yang harus dijawab Badan Siber dan Sandi Negara, dan yang belum mereka jawab: siapa yang punya kapasitas teknis untuk membuat <em>deepfake</em> setajam itu di Indonesia? Karena kalau pertanyaan ini tidak bisa&nbsp; di jawab, target berikutnya bukan lagi mantan wakil presiden. Bisa siapa pun, dari kalangan mana pun, yang berani bicara di luar arus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asimetri yang ganjil mulai terlihat dalam kasus ceramah itu. Pada delapan belas Maret di markas Palang Merah Indonesia, duta besar Iran&nbsp; yang negaranya sedang dihujani bom memakai istilah keagamaan yang sama persis dengan yang dipotong dari ceramah Yogyakarta — sebuah istilah dengan muatan teologis yang spesifik — untuk korban sipil di negaranya. Pernyataan itu disiarkan media nasional. Tidak ada satu organisasi pun yang melapor terhadap dubes itu. Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa tidak semua ucapan dinilai dari isinya; banyak yang dinilai dari posisi pengucapnya. Di Indonesia, konteks dihormati ketika pengucapnya warga negara asing, dan diabaikan ketika pengucapnya domestik. Yang membuat asimetri itu menarik bukan ketidakadilannya. Yang menarik adalah apa yang ia bongkar: bahwa standar hukum dan moral di republik ini ternyata bisa dipakai selektif, tergantung siapa yang sedang menjadi target politik pekan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang berlangsung di Indonesia adalah versi domestik dari fenomena global. Pada dua ribu dua puluh dua, sebuah video <em>deepfake</em> menampilkan Presiden Zelensky meminta tentaranya menyerah — tujuh menit setelah video diunggah, ia sudah ditonton ratusan ribu kali sebelum sempat dibantah. Di Ukraina, <em>deepfake</em> dipakai untuk perang militer; di demokrasi seperti kita, ia dipakai untuk perang reputasi. Timothy Snyder pernah mengingatkan: ancaman modern terhadap demokrasi sering tidak datang sebagai larangan berbicara, melainkan sebagai kaburnya batas antara benar dan palsu. Yang sering beredar bukan kebohongan total, melainkan serpihan kebenaran yang dicabut dari tempat asalnya. Inilah kompresi kebenaran. Fakta panjang kalah dari emosi pendek. Biografi kalah dari fragmen. Rekam jejak kalah dari klip. Empat puluh tiga menit ceramah perdamaian tidak akan pernah mengejar kurang dari satu menit potongan kasar — bukan karena yang panjang kurang benar, tetapi karena yang pendek bergerak lebih cepat. Dan di linimasa, kecepatan adalah segalanya. Yang membayar harga atas asimetri kecepatan ini bukan satu pribadi. Yang membayar adalah kemampuan kolektif kita membedakan kebenaran dari penampilan kebenaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, bagaimana reaksi&nbsp; dari Istana? Presiden Prabowo Subianto, sampai pagi terakhir, belum mengucap satu kalimat pun tentang kasus ini. Diam seorang presiden selalu membuka banyak tafsir: kehati-hatian, jarak, atau kalkulasi agar negara tidak masuk ke perang simbolik yang lebih besar. Pada awal dua ribuan, ketika konflik komunal Indonesia paling membara, Prabowo Subianto adalah salah satu purnawirawan yang punya pengalaman langsung dalam jaringan keamanan negara. Generasi yang membantu memadamkan Poso dan Ambon adalah generasi yang ia kenal. Diam dalam situasi seperti ini, bila dibaca dengan sabar, bisa lebih banyak melindungi daripada satu pernyataan yang tergesa. Yang sedang terungkap dalam kasus ini bukan satu nama, melainkan satu kelemahan struktural republik: Malino dahulu efektif, tetapi sangat bergantung pada figur. Indonesia merayakan hasil damainya, namun gagal melembagakan metode damainya. Ketika pengetahuan disimpan di kepala, waktu menjadi ancaman politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang harus diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan. Bila pola dua minggu ini tidak diselidiki secara forensik — bukan oleh polisi semata, melainkan juga oleh BSSN dan Komdigi — Indonesia akan melihat eskalasi. Tokoh-tokoh senior republik ini, yang masih hidup dan masih bersuara, semuanya pernah membuat keputusan yang tidak populer di kalangan tertentu. Bila template potongan kurang dari satu menit dan template <em>deepfake</em> terbukti efektif untuk satu tokoh, barangkali&nbsp; ia akan dipakai ulang untuk tokoh lain. Pertanyaannya&nbsp; bukan barangkali, melainkan kapan. Negara modern tidak boleh menggantungkan ketenangan nasional pada stamina biologis para penengahnya, dan tidak boleh juga menggantungkan integritas informasinya pada kebetulan bahwa pelaku <em>deepfake</em> yang sekarang masih amatir. Republik ini memiliki teknologi distribusi abad kedua puluh satu, tetapi kadang memakai kedewasaan politik abad kesembilan belas. Itu jurang yang harus segera ditutup. Bukan dengan satu undang-undang, melainkan dengan jaringan: lembaga verifikasi forensik digital negara, kurikulum literasi media yang serius di sekolah, ruang dialog lintas kelompok yang aktif sebelum krisis, dan aparat yang dilatih membedakan pelaporan tulus dari pelaporan yang terkoordinasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sup ikan akhirnya habis. Tamu-tamu pamit. Lampu di ruang depan dimatikan satu per satu. Tetapi pertanyaan yang ditinggalkan meja makan itu menggantung di udara Jakarta yang basah. Bukan tentang siapa yang akan menjadi tuan rumah berikutnya. Tentang berapa lama lagi republik ini akan beruntung punya pelaku-pelaku Malino yang masih bersedia datang ke ruang tamu pada Kamis malam, ketika negara seharusnya datang ke ruang publik pada hari kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negeri tidak rapuh ketika kehilangan tokoh besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negeri mulai rapuh ketika kehilangan cara mengingat bagaimana tokoh-tokoh itu dulu menyelamatkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah lembaga? Mungkin. Tetapi itu cerita berikutnya, pada bagian 3 tulisan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 1 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/saksi-yang-harus-bersaksi-lagi/">Saksi Yang Harus Bersaksi Lagi</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 3 Trilogi Jusuf Kalla :</strong> <strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/pintu-yang-tidak-selalu-terbuka/">Pintu yang Tidak Selalu Terbuka</a></strong></p>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-ok-1-1b0muao8.mp3" length="3031004" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jusuf-kalla_62291354.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saksi yang Harus Bersaksi Lagi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/saksi-yang-harus-bersaksi-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 10:27:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[brawijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168972</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #19PinterPolitik.com Proyektor itu menyala di siang hari. Cahayanya harus berebut dengan matahari Jakarta yang menerobos tirai ruang tamu di Brawijaya. Di layar, rekaman yang telah berumur dua puluh empat tahun: jalan-jalan Ambon yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-1-revisi-ap05cc21.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #19</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Proyektor itu menyala di siang hari. Cahayanya harus berebut dengan matahari Jakarta yang menerobos tirai ruang tamu di Brawijaya. Di layar, rekaman yang telah berumur dua puluh empat tahun: jalan-jalan Ambon yang terbakar, kuburan yang belum rapi, orang-orang muda yang memegang parang. Di depan proyektor, seorang pria berumur delapan puluh tiga tahun duduk di kursi. Ia baru turun dari pesawat Tokyo empat jam sebelumnya. Rekaman itu, katanya, adalah saksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Tetapi yang dipertontonkan bukan pertunjukannya.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang dipertontonkan bukan serangan kepada seorang tokoh. Yang diuji adalah apakah sebuah republik modern masih tahu cara memperlakukan mantan negarawannya di zaman algoritma. Dalam empat belas hari, antara awal dan pekan ketiga April, seorang eks-wakil presiden dua periode diserang dari empat arah. Sembilan belas organisasi Kristen dan lintas-ormas melaporkannya ke Polda atas tuduhan penistaan agama. Kata yang ia pakai di masjid kampus pada Maret dipotong menjadi video empat puluh tujuh detik, lalu diedarkan sebagai bukti. Namanya muncul di linimasa dengan angka tiga puluh koma tiga puluh tiga triliun rupiah utang Kalla Group ke bank-bank pelat merah. Rincian per bank sespesifik itu hanya bisa datang dari kebocoran internal. Massa berdemonstrasi di gedung pengawas keuangan menuntut audit pembangkit listrik di Poso. Klaimnya sendiri bahwa presiden ketujuh menjadi presiden karena jasanya — ditolak bahkan oleh Wakil Ketua Umum partai yang pernah ia pimpin — membuka front kelima yang sebenarnya tidak perlu. Seorang negarawan delapan puluh tiga tahun seharusnya tahu bahwa kesenioran tidak memerlukan klaim jasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ini orkestrasi tunggal? Mungkin bukan. Yang lebih mungkin adalah sesuatu yang dalam literatur politik mutakhir disebut <em>opportunity structure</em> — keadaan di mana tiga faksi yang dalam peta formal seharusnya bermusuhan menemukan jendela yang sama pada waktu yang sama. Pelapor ceramah Ramadhan itu adalah organisasi pemuda yang ketua umumnya kader partai dari lingkar politik tertentu. Pengunggah potongan video itu adalah komentator dari lingkar yang sama. Pemicu tagar utang, sebaliknya, barangkali&nbsp; relawan simpatisan pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Moisés Naím pernah menulis bahwa di era ketika kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi melainkan terpecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang saling bisa melukai, konspirasi tidak diperlukan. Yang diperlukan hanyalah lingkungan permisif di mana setiap faksi melihat peluang yang sama. Empat belas hari April memberikan lingkungan itu. Tidak perlu meja bundar untuk menghasilkan pertempuran empat arah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi dari empat vektor itu, satu yang paling patut menjadi berita: kebocoran data pinjaman Himbara. Rincian Rp 16,38 triliun di Bank Mandiri, Rp 7,1 triliun di BNI, Rp 6,08 triliun di BRI, Rp 766,5 miliar di BSI — angka sedetil ini tidak beredar di ruang publik tanpa dugaan pelanggaran kerahasiaan perbankan yang diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang Perbankan. Ancaman pidananya dua hingga empat tahun, denda sepuluh miliar rupiah. Sumbernya hampir pasti orang dalam Himbara atau pengawasnya. Namun sejak angka itu viral pertengahan April, tidak ada pernyataan publik dari Otoritas Jasa Keuangan. Tidak ada permintaan audit forensik dari manajemen Himbara. Tidak ada investigasi internal yang diumumkan. Di negara mana pun yang serius, kebocoran sebesar ini akan memicu audit nasional. Di republik ini, ia justru mati sebagai gosip yang habis dipakai sehari. Skandal sebenarnya mungkin bukan pada angka utangnya — melainkan pada banalitas kebocorannya. Kalau peristiwa semacam ini tidak diselidiki, pembaca cermat akan menyimpulkan sendiri: data nasabah korporat di republik ini bukan semata rahasia bank, melainkan amunisi politik yang menunggu waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu mengapa kepungan ini terjadi justru sekarang? Jawabannya barangkali ada pada dua pekan di Maret. Tiga Maret, malam di Istana Merdeka, tokoh yang dikepung ini hadir sebagai yang pertama tiba dalam pertemuan tiga setengah jam tentang dampak perang AS-Israel terhadap Iran. Ia disambut sebelum kepala negara lain yang diundang. Delapan belas Maret, di markas kemanusiaan yang ia pimpin, ia menerima duta besar Iran untuk kedua kalinya, mengatur bantuan obat-obatan yang Jakarta tidak bisa kirim secara resmi tanpa biaya diplomatik ke Washington. Dua puluh dua April, di rumah sakit di Sorong, Wakil Presiden menyebutnya idola dan mentor. Ini bukan diam yang lalai. Ini konfigurasi statecraft yang lebih tua dari politik — penghormatan yang disalurkan lewat perantara, saluran yang dijaga tetap terbuka, batas yang tidak perlu diucap tetapi dipahami. Presiden Prabowo mengerti apa yang sedang ia lindungi: eks-wapres dua periode yang menjadi jalur diplomasi paralel ketika jalur resmi harus menahan diri. Menutup JK berarti menutup sebuah kanal yang tidak bisa dibuka kembali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di sinilah kepentingan analisis bergeser dari pribadi ke struktur. Siapa yang paling rugi kalau saluran paralel ini tertutup? Presiden kehilangan <em>deniability channel</em> — kemampuan menjangkau Teheran tanpa tercatat di Washington. Diplomasi Indonesia kehilangan perantara Islam-Asia yang sulit direplikasi dalam satu dekade. Samuel Huntington pernah mengingatkan bahwa tatanan politik runtuh bukan hanya karena konflik, melainkan karena institusi kehilangan memori. Henry Kissinger menambahkan bahwa diplomasi sering gagal bukan karena kurang niat, melainkan karena tidak ada lagi orang yang ingat bagaimana krisis lama pernah diselesaikan. Amerika memelihara Carter, Clinton, dan Obama sebagai utusan informal ketika Gedung Putih perlu berbicara tanpa berbicara. Jepang menjaga jaringan <em>elder networks</em>-nya. Singapura merawat memori era Lee sebagai aset institusional. Kita, sebaliknya, kadang memperlakukan mantan pemimpin kita sendiri sebagai <em>trending topic</em>. Beberapa demokrasi di dunia memasuki fase yang barangkali pantas disebut <em>political cannibalism</em>: ketika sistem tak lagi memanfaatkan pengalaman para senior statesmen, melainkan mengunyah reputasi mereka demi siklus kemarahan mingguan. Yang untung dari siklus itu, ironisnya, adalah faksi-faksi kecil yang memperoleh mata uang politik dari skandal. Partai-partai kecil mendapat amunisi mengukur loyalitas basis pendukungnya. Kelompok relawan memperoleh disiplin internal dengan menunjukkan bahwa kritik dari luar akan dihukum. Ini adalah politik penghinaan: murah bagi pelakunya, mahal bagi negara. Ia menghasilkan sorak sehari, tetapi mengikis kepercayaan bertahun-tahun. Habibie wafat tanpa lembaga yang merawat catatan transisi 1998. Abdurrahman Wahid wafat tanpa institusi yang meneruskan diplomasi lintas agamanya. Setiap eks-pemimpin kita nanti akan berhadapan dengan pola yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sore itu di Brawijaya, proyektor padam setelah satu setengah jam. Wartawan berpamitan. Pria delapan puluh tiga tahun itu berdiri perlahan dan masuk ke ruang dalam. Cahaya di layar telah mati. Tetapi cahaya yang mati itu bukan hanya lampu ke tembok. Ia adalah tanda bahwa sebuah bangsa sedang menguji sesuatu yang lebih dalam daripada bersalah atau tidaknya seorang tua. Persoalannya bukan apakah ia masih relevan. Persoalannya adalah apakah republik ini masih tahu cara memakai orang yang relevan. Cahaya proyektor telah padam. Tetapi bangsa yang lupa membaca bayangannya sendiri biasanya berjalan lebih gelap dari malam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi saksi tidak selalu cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan kalau saksi tidak cukup, yang harus dibuka bukan proyektor — melainkan sejarah itu sendiri. Ke Malino, dua puluh empat tahun yang lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 2 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/empat-puluh-tujuh-detik/">Empat Puluh Tujuh Detik</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagian 3 Trilogi Jusuf Kalla :</strong> <strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/pintu-yang-tidak-selalu-terbuka/">Pintu yang Tidak Selalu Terbuka</a></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-1-revisi-ap05cc21.mp3" length="3023228" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/1034175222-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Redup JK, Senjakala Anies?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/redup-jk-senjakala-anies/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[berita politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168934</guid>

					<description><![CDATA[Nasib politik Anies Baswedan kerap tak bisa dilepaskan dari satu nama — dan nama itu kini tampak sedang hadapi ujian berat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-22-2026-5_44pm.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Nasib politik Anies Baswedan kerap tak bisa dilepaskan dari satu nama — dan nama itu kini tampak sedang hadapi ujian berat.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Ada sebuah jenis keheningan politik yang lebih keras dari pernyataan. Bukan sunyi karena tidak ada yang terjadi, melainkan sunyi karena terlalu banyak yang sedang terjadi secara bersamaan — dan semua itu mengarah pada satu nama: Jusuf Kalla. Dalam rentang beberapa pekan di bulan April 2026, lelaki kelahiran Bone yang pernah dijuluki <em>L&#8217;Architetto</em> — si Arsitek — oleh pengamat politik Indonesia itu tiba-tiba menjadi episentrum guncangan yang ia sendiri mungkin tidak antisipasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, ia dituding terlibat dalam polemik ijazah Presiden Jokowi, sebuah tudingan yang ia bantah keras hingga ia melaporkan pencetus tuduhan tersebut ke Bareskrim. Kedua, laporan pidana dugaan penistaan agama dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia atas potongan ceramahnya di Masjid Kampus UGM — ceramah yang berisi narasi perdamaian berbasis pengalaman nyata konflik Poso dan Ambon. Tokoh-tokoh yang pernah menjadi saksi mata mediasi Malino, tempat JK membangun warisan perdamaiannya yang paling monumental, bahkan turun tangan membela reputasinya. Ketiga, pernyataannya yang viral — &#8220;Jokowi jadi presiden karena saya&#8221; — yang oleh banyak pihak dibaca bukan sebagai klaim faktual yang perlu diverifikasi, melainkan sebagai sinyal bahwa sang arsitek sedang kehilangan komposurnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi pengamat yang mengikuti arsitektur kekuasaan informal Indonesia, pertanyaan yang segera muncul bukan sekadar tentang JK sendiri. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: jika sang arsitek sedang retak, apa yang terjadi pada bangunan yang ia dirikan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan bangunan paling ikonik yang pernah ia rancang, dalam dekade terakhir, bernama Anies Baswedan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sang Arsitek dan Monumennya?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah relasi JK dan Anies bukan dimulai dari podium kampanye. Ia bermula jauh lebih dalam, dari ikatan organisasional Himpunan Mahasiswa Islam — di mana JK adalah senior yang pernah membentuk cara generasi aktivis Muslim Indonesia memandang hubungan antara iman, intelektualisme, dan kekuasaan. Dalam logika patronase politik Indonesia yang masih sangat personal dan berjenjang, posisi JK dalam karier Anies bukan sekadar pendukung; ia adalah mentor, <em>door-opener</em>, dan dalam beberapa momen krusial, penyelamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Babak yang paling dramatis terjadi pada dini hari menjelang pendaftaran Pilgub DKI 2017. Zulkifli Hasan mengungkap bahwa pada jam 12 malam hingga pukul 1 pagi, JK meyakinkan PKS dan Gerindra agar mengalihkan perhatiannya ke Anies Baswedan. Tanpa telepon JK kepada Prabowo di tengah malam itu, nama Anies sangat mungkin tidak pernah muncul di kertas suara Jakarta. JK sendiri mengakuinya tanpa ditutup-tutupi, bahwa pengalamannya mengusulkan Anies kala itu berjalan lancar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peran itu tidak berhenti di 2017. Menjelang Pilpres 2024, kuat dugaan JK tengah memasarkan Anies Baswedan untuk menjadi kandidat, termasuk upayanya menduetkan Anies dengan Puan Maharani — sebuah manuver <em>smoke-filled room</em> yang memperlihatkan bahwa pengaruh JK bekerja bukan di depan kamera, melainkan di lorong-lorong yang tidak direkam. JK bahkan mengakui bahwa pertemuannya dengan Anies berlangsung jauh lebih detail dibandingkan pertemuannya dengan yang lain — sebuah sinyal preferensi yang, dalam bahasa JK yang terbiasa berbicara lewat gestur, terdengar nyaring. Ia juga memberikan nasihat yang hanya diberikan kepada seseorang yang benar-benar ia pedulikan: ketika isu utang Rp 50 miliar Anies kepada Sandi viral, JK meminta Anies tidak membantah — &#8220;itu bagus untuk kau, supaya orang tahu bahwa anda tidak punya uang.&#8221; Ini bukan saran politisi kepada figur yang sekadar ia kenal. Ini adalah wejangan seorang mentor kepada murid yang ia ingin selamat.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ketika Modal Simbolik Terkikis?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Namun ada sesuatu yang sedang berubah dalam musim April 2026 ini, dan perubahannya tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari pilihan-pilihan komunikasi yang perlahan-lahan menggerus apa yang oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai <em>capital symbolique</em> — modal simbolik yang memungkinkan seorang aktor politik memengaruhi percaturan kekuasaan bukan melalui jabatan formal, melainkan melalui otoritas moral dan reputasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Modal simbolik JK selama ini berdiri di atas tiga pilar: rekam jejaknya sebagai negosiator perdamaian, statusnya sebagai tokoh bisnis yang independen, dan posisinya sebagai <em>sage</em> — orang tua bangsa yang suaranya didengar lintas kubu. Ketiga pilar ini kini mengalami tekanan bersamaan. Laporan hukum membuat ia harus terlibat dalam pertarungan hukum yang menghabiskan energi dan menarik persepsi publik ke narasi yang tidak ia pilih sendiri. Pernyataan-pernyataan reaktif yang viral membangun citra seorang tokoh yang tersinggung dan merasa perlu membenarkan diri — postur yang sangat berbeda dari otoritas tenang yang selama ini menjadi sumber kekuatannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam teori <em>reputational politics</em> yang dikembangkan Mark Granovetter, pengaruh seorang <em>kingmaker</em> — perantara jaringan elite — sangat bergantung pada kemampuannya menjaga persepsi bahwa ia beroperasi di atas konflik, bukan di dalam konflik. Begitu seorang <em>kingmaker</em> menjadi pihak yang bersengketa, kemampuannya untuk menjembatani pihak-pihak lain secara otomatis menyusut. JK, yang selama bertahun-tahun menjadi jembatan antara berbagai kubu elite, kini tampil sebagai salah satu pihak dalam pertarungan — dan ini adalah pergeseran posisi yang mahal harganya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Relasi yang Belum Putus, tapi Juga Belum Pasti</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu apa artinya semua ini bagi Anies?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan ini harus dijawab dengan kejujuran epistemik: kita belum tahu pasti bagaimana dinamika relasi keduanya akan berkembang. Yang kita ketahui adalah sinyal-sinyal terakhir yang terlihat masih hangat. Pada hari pertama Ramadan 1447 H, JK dan Anies sama-sama hadir dalam buka puasa bersama di NasDem Tower — satu meja, satu ruangan, lintas koalisi. Kehadiran bersama dalam ruang yang sama, di era politik Indonesia yang fragmentasinya semakin dalam, adalah bahasa tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun &#8220;hangat dalam satu meja&#8221; adalah hal yang sangat berbeda dari &#8220;mampu menjadi penyokong yang menentukan.&#8221; Dan di sinilah letak pertanyaan sesungguhnya: apakah JK yang sedang menghadapi badai reputasional ini masih memiliki kapasitas untuk menjalankan fungsi <em>kingmaker</em> yang dulu menjadikan namanya begitu vital bagi karier Anies?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hipotesis yang paling masuk akal, sekarang, adalah bahwa JK masih relevan — tetapi relevansinya sedang bertransisi dari <em>kingmaker</em> aktif menjadi <em>blessing giver</em> pasif. Ia mungkin tidak lagi punya energi dan posisi untuk bergerak di lorong-lorong tengah malam seperti 2017. Tetapi namanya, sejarahnya, dan jaringannya masih merupakan aset yang tidak mudah diabaikan oleh siapapun yang ingin memahami dari mana Anies berasal dan siapa yang pernah memercayainya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tentang Mercusuar yang Redup</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini, ada baiknya kita meminjam kata-kata F. Scott Fitzgerald dalam <em>The Great Gatsby</em>: <em>&#8220;So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past.&#8221;</em> Dalam politik Indonesia, seperti dalam fiksi Amerika itu, masa lalu tidak pernah benar-benar berlalu — ia terus membentuk siapa kita dan ke mana kita bisa pergi. JK adalah masa lalu Anies yang paling konkret dan paling berharga. Tanpanya, Anies mungkin tidak pernah menjadi Gubernur Jakarta. Dan tanpa Jakarta, Anies mungkin tidak pernah menjadi capres.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi ada ironi yang tragis dalam analogi mercusuar: semakin redup cahayanya, semakin berbahaya perairan bagi kapal yang bergantung padanya untuk navigasi. Jika modal simbolik JK terus terkikis oleh pusaran polemik yang mengelilinginya, maka asosiasi dengan JK yang dulu menjadi keuntungan bagi Anies bisa berbalik menjadi liabilitas — sebuah beban reputasional yang harus dikelola, bukan sebuah sayap yang membantu terbang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gabriel García Márquez pernah menulis bahwa kekuasaan sejati bukan pada mereka yang memegang takhta, tetapi pada mereka yang menentukan siapa yang duduk di sana. JK pernah menjadi kekuasaan semacam itu dalam kisah Anies. Pertanyaan yang kini mengambang tanpa jawaban pasti adalah: apakah ia masih bisa — dan bersedia — menjalankan peran itu sekali lagi, dari dalam badai yang sedang menerjangnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawaban atas pertanyaan itu, lebih dari faktor lainnya, mungkin akan menentukan apakah narasi Anies menuju 2029 akan bisa ditulis dengan tinta harapan — atau dengan tinta ketidakpastian. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xO6VtqYYWzY"><iframe title="Kehebatan Uni Emirat Arab, Sosok Menteri Perempuan di Perang Iran" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xO6VtqYYWzY?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-22-2026-5_44pm.wav" length="23539770" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/chatgpt-image-apr-22-2026-05_46_51-pm-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sentil Tumit “Pria Solo Itu”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sentil-tumit-pria-solo-itu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Pria Solo Itu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168891</guid>

					<description><![CDATA[
Polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang “menyeret” Jusuf Kalla membuka pertanyaan lebih dalam, seberapa kokoh pengaruh pasca-kekuasaan? Di balik jejaring luas dan loyalitas yang tampak solid, tersimpan celah-celah rapuh. Seperti Achilles, kekuatan terbesar kerap menyimpan titik lemah, menunggu sentilan waktu dan perubahan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jokowi-1-btdtp6h6-full.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang “menyeret” Jusuf Kalla membuka pertanyaan lebih dalam, seberapa kokoh pengaruh pasca-kekuasaan? Di balik jejaring luas dan loyalitas yang tampak solid, tersimpan celah-celah rapuh. Seperti Achilles, kekuatan terbesar kerap menyimpan titik lemah, menunggu sentilan waktu dan perubahan.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Polemik ijazah yang kembali menyeret nama Joko Widodo bukan sekadar riak kecil dalam ruang publik. Ia telah menjelma menjadi semacam <em>entry point</em> bagi diskursus yang lebih dalam, tentang bagaimana seorang mantan presiden tetap menjadi pusat gravitasi politik nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, ketika nama Jusuf Kalla ikut terseret dalam pusaran perdebatan, kita menyaksikan bahwa isu ini bukan lagi soal verifikasi administratif, melainkan soal legitimasi, persepsi, dan daya tahan pengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik modern, isu-isu simbolik sering kali lebih kuat daripada fakta material. Ijazah, dalam hal ini, bukan sekadar dokumen, melainkan metafora tentang asal-usul, keabsahan, dan narasi “orang biasa” yang selama ini menjadi fondasi populisme Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika fondasi simbolik ini digoyang, yang diuji bukan hanya kebenaran faktual, tetapi juga daya tahan konstruksi citra yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, untuk memahami mengapa polemik ini terasa signifikan, kita perlu melangkah lebih jauh: melihat Jokowi bukan lagi sebagai individu, melainkan sebagai arsitektur kekuasaan pasca-jabatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka Michel Foucault, kekuasaan tidak berhenti ketika jabatan berakhir, ia menyebar, meresap, dan beroperasi melalui jaringan relasi yang sering kali tak kasat mata. Jokowi, dengan demikian, bukan sekadar mantan presiden, tetapi simpul dalam jejaring kekuasaan yang melintasi partai, birokrasi, hingga entitas ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah polemik ijazah menemukan relevansinya: ia menjadi salah satu pintu untuk menguji apakah jaringan kekuasaan tersebut memiliki titik rapuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam mitologi Yunani, Achilles, pahlawan yang nyaris tak terkalahkan, tetap memiliki satu titik lemah, yakni tumitnya. Analogi ini menjadi pisau analisis yang menarik. Pertanyaannya bukan lagi apakah Jokowi kuat, melainkan, di mana letak tumit Achilles-nya?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Anatomi Kekuatan Jokowi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami kemungkinan kelemahan, kita harus terlebih dahulu membedah sumber kekuatan. Jokowi adalah anomali dalam lanskap politik Indonesia, bukan berasal dari militer, bukan pula dari oligarki bisnis. Ia lahir dari populisme lokal, dibesarkan oleh partai, dan kemudian membangun kekuatannya sendiri melalui kekuasaan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama dua periode kepemimpinannya, ia tidak hanya memerintah, tetapi juga merajut jaringan. Dalam perspektif Mark Granovetter, kekuatan sosial tidak terletak pada individu, melainkan pada keterikatan relasional, <em>embeddedness</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jokowi tampaknya memahami ini dengan baik. Ia seolah tidak membangun dominasi ideologis yang kaku, melainkan fleksibilitas relasional, menjalin kedekatan dengan berbagai aktor, dari birokrat hingga pelaku bisnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah paradoks muncul. Jaringan yang luas adalah sumber kekuatan, tetapi juga potensi kerentanan. Loyalitas yang dibangun di atas akses terhadap sumber daya seperti proyek, jabatan, atau kedekatan kekuasaan cenderung bersifat transaksional. Ketika akses itu berkurang, loyalitas pun menjadi cair.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era pemerintahan Prabowo Subianto, dinamika ini menjadi semakin relevan. Jokowi tidak lagi memegang kendali langsung atas distribusi sumber daya negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eks Wali Kota Solo itu mungkin masih memiliki pengaruh, tetapi pengaruh itu kini bergantung pada keselarasan dengan kekuasaan formal yang baru. Dalam kondisi seperti ini, jaringan yang sebelumnya solid dapat mengalami apa yang dalam teori jaringan disebut sebagai fragmentasi internal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, ekspansi pengaruh Jokowi ke berbagai sektor—politik, birokrasi, hingga keluarga melalui figur seperti Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep—menciptakan apa yang bisa disebut sebagai overextension.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sejarah kekuasaan, ekspansi yang terlalu luas sering kali diikuti oleh kesulitan dalam menjaga kohesi. Agen-agen dalam jaringan tidak selalu bergerak dalam satu arah, mereka memiliki kepentingan masing-masing, yang sewaktu-waktu dapat bertabrakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, legitimasi publik yang selama ini menjadi kekuatan utama Jokowi juga tidak bersifat statis. Narasi “orang biasa” yang berhasil menembus puncak kekuasaan adalah aset simbolik yang kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ketika narasi itu mulai dipertanyakan, baik melalui polemik ijazah maupun kritik terhadap dinasti politik, maka yang terancam bukan hanya citra, tetapi juga fondasi moral dari pengaruh tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, kekuatan Jokowi hari ini adalah kombinasi dari jaringan, loyalitas, dan legitimasi. Tetapi ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni mereka bergantung pada kondisi yang dapat berubah.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2.png" alt="paradoks jokowi lebih sejahtera era sby (2)" class="wp-image-167263" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menyentil Tumit Achilles?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kekuasaan Jokowi bersifat jaringan, maka cara melemahkannya tidak bisa melalui konfrontasi langsung. Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan semacam ini tidak runtuh karena diserang dari luar, melainkan karena mengalami erosi dari dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, konsep Achilles’ Heel menjadi relevan bukan sebagai titik lemah tunggal, melainkan sebagai kumpulan kerentanan struktural.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, ketergantungan pada insentif kekuasaan. Tanpa kontrol langsung atas sumber daya negara, kemampuan untuk mempertahankan loyalitas akan menurun.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, fragmentasi internal jaringan, di mana konflik antar-aktor dapat melemahkan kohesi. <em>Ketiga</em>, delegitimasi publik, yang secara perlahan mengikis kepercayaan dan dukungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polemik ijazah, dalam hal ini, bisa dilihat sebagai salah satu bentuk “sentilan” terhadap tumit tersebut. Ia mungkin tidak cukup kuat untuk meruntuhkan, tetapi mampu mengganggu stabilitas narasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalam politik, gangguan kecil yang berulang sering kali lebih efektif daripada serangan besar yang sesaat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, keberadaan rezim baru juga memainkan peran penting. Dalam banyak kasus global, mantan pemimpin yang tetap berpengaruh sering kali menghadapi batas ketika kepentingannya tidak lagi sejalan dengan penguasa aktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara, dengan seluruh instrumennya, memiliki kapasitas untuk merestrukturisasi jaringan kekuasaan lama, baik secara halus maupun terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang paling menentukan adalah waktu. Kekuasaan pascajabatan memiliki siklus, ia naik, menyebar, lalu perlahan menyusut. Bukan karena ia kalah, tetapi karena kondisi yang menopangnya berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka ini, Jokowi tidak harus “dikalahkan”, cukup dengan membiarkan dinamika politik berjalan, maka jaringan yang bergantung pada momentum dan akses akan menemukan batasnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah jaringan yang dibangun, Jokowi mampu bertahan tanpa fondasi kekuasaan formal? Jika jawabannya tidak, maka erosi adalah keniscayaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di situlah makna sesungguhnya dari menyentil tumit Achilles, bukan jatuh seketika, tetapi membuka jalan bagi proses peluruhan yang tak terelakkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebab dalam politik, seperti dalam mitologi, tidak ada yang benar-benar kebal, hanya ada yang belum menemukan titik lemahnya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="_hNA5x7guLo"><iframe title="Kata Pemred: Di Saat Dunia Menarik Diri" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/_hNA5x7guLo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jokowi-1-btdtp6h6-full.mp3" length="2481332" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/jokowi-tegaskan-dukungan-penuh-untuk-psi-03102025-225823-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>JK, the Designated &#8220;Thanos&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jk-the-designated-thanos/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 10:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[JK]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168705</guid>

					<description><![CDATA[Jusuf Kalla (JK) ada di mana-mana: Iran, ijazah, ceramah SARA. Kebetulan, atau skenario?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikek ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-34.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jusuf Kalla (JK) ada di mana-mana: Iran, ijazah, ceramah SARA. Kebetulan, atau skenario?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“If the Avengers were built for anything, it’s for stopping Thanos from completing his goal.” – Anthony Russo, produser film-film Marvel Cinematic Universe</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin menghitung: dalam enam pekan terakhir, Jusuf Kalla sudah muncul di setidaknya empat arena konflik yang sama sekali berbeda. Maret 2026, JK mengkritik keras efektivitas Board of Peace bentukan Donald Trump, mendesak Prabowo menagih janji perdamaian di tengah konflik Iran, bahkan mempertanyakan gunanya Indonesia menjadi anggota jika forum itu tak mampu meredam perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum reda gemanya, April datang membawa babak baru: JK melaporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim atas tuduhan pencemaran nama baik, lalu mendesak Jokowi menunjukkan ijazah asli di depan publik. Cupin mencatat bahwa dalam satu kunjungan ke Bareskrim, JK melakukan dua manuver sekaligus—membersihkan namanya sendiri <em>dan</em> menempatkan mantan atasannya dalam posisi defensif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu muncul episode terbaru: ceramah JK di Masjid Kampus UGM soal konflik Poso dan Ambon viral setelah dipotong konteksnya, memicu GAMKI dan puluhan ormas Kristen melaporkannya ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama. Cupin menggeleng—seorang arsitek Deklarasi Malino yang mendamaikan konflik SARA kini justru dilaporkan karena dianggap menyulut sentimen SARA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin bertanya-tanya: apakah JK memang berniat menjadi pusat gravitasi seluruh kontroversi nasional, ataukah ada tangan-tangan tak terlihat yang sengaja menariknya ke panggung? Idrus Marham dari Golkar bahkan sudah terang-terangan menuding ada kepentingan JK yang terganggu sehingga ia menebarkan isu <em>chaos</em>—lengkap dengan prediksi spesifik soal kekacauan Juli-Agustus 2026 yang, menurut Idrus, &#8220;bukan lagi prediksi, melainkan seperti sudah ada skenario.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua pertanyaan menggantung di kepala Cupin sebelum ia menggulir lebih jauh. Pertama, mengapa satu orang bisa menjadi titik temu begitu banyak konflik dalam waktu sesingkat ini? Kedua, adakah pola yang bisa menjelaskan kemunculan &#8220;villain&#8221; semacam ini dalam lanskap politik—bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lain?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DXF1eE9DNDI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DXF1eE9DNDI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DXF1eE9DNDI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menyoal </strong><strong><em>Designated Villain</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat konsep yang pernah ia baca dari Vladimir Propp dalam <em>Morphology of the Folktale</em>—bahwa setiap narasi membutuhkan fungsi-fungsi tetap, dan salah satu yang paling penting adalah kehadiran <em>villain</em> yang menggerakkan plot. Tanpa antagonis, cerita kehilangan tenaga; tanpa ancaman, hero tidak punya alasan untuk bertindak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks politik, fenomena ini bukan hal baru. Murray Edelman dalam <em>Constructing the Political Spectacle</em> menjelaskan bahwa politik modern bekerja seperti teater: publik membutuhkan karakter-karakter yang bisa diidentifikasi—pahlawan, penjahat, korban—agar bisa memahami dan merespons peristiwa yang sebenarnya sangat kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">JK sedang menjalani apa yang bisa disebut sebagai proses <em>vilifikasi bertahap</em>—sebuah akumulasi narasi yang, satu per satu, membangun persepsi antagonistik. Cupin membandingkannya dengan apa yang terjadi pada John Bolton di era Trump: seorang <em>insider</em> yang perlahan bergeser menjadi kritikus, lalu ditetapkan sebagai pengkhianat oleh narasi dominan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada juga paralel dengan kasus George Soros yang dianalisis oleh Cas Mudde dan lain-lain dalam studi populisme Eropa—seorang aktor bisnis-filantropis yang dinarasikan sebagai <em>puppet master</em> di balik berbagai gejolak politik. Pola ini menunjukkan bahwa <em>designated villain</em> seringkali bukan orang yang paling berkuasa, melainkan orang yang paling mudah di-<em>frame</em> sebagai dalang karena memiliki modal, jaringan, dan ambiguitas posisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Joseph Nye dalam <em>Soft Power</em> mengingatkan bahwa kemampuan membentuk narasi—<em>framing power</em>—sama pentingnya dengan kekuatan material. Siapa pun yang menguasai <em>frame</em>, menguasai cerita; siapa yang menguasai cerita, menguasai persepsi publik tentang siapa yang salah dan siapa yang benar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin melihat hal itu terjadi pada JK. Desakannya kepada Jokowi untuk menunjukkan ijazah—yang secara logis bisa dibaca sebagai saran pragmatis—justru terbaca sebagai ultimatum karena <em>framing</em> yang sudah terbentuk: mantan sekutu yang berbalik arah. Dalam istilah naratologi yang dipaparkan Christopher Booker dalam <em>The Seven Basic Plots</em>, JK sedang menjalani <em>the ally-turned-antagonist arc</em>—pola cerita klasik dari Brutus hingga Harvey Dent.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua pertanyaan kini menyeruak di benak Cupin. Pertama, apakah <em>vilifikasi</em> terhadap JK murni organik—produk dari akumulasi pernyataannya sendiri—ataukah ada desain tertentu yang memanfaatkannya? Kedua, jika memang ada kepentingan di balik keaktifan JK, kepentingan siapa sebenarnya yang sedang dimainkan?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DXGzUczjDRo/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DXGzUczjDRo/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DXGzUczjDRo/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara Bisnis, Politik, dan Bayangan 2029?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membuka spreadsheet dan mulai memetakan. Dari sisi bisnis, Kalla Group adalah gurita korporasi yang membentang dari otomotif (dealer Toyota di Indonesia Timur melalui PT Hadji Kalla) hingga infrastruktur (PT Bumi Karsa, PT Bukaka Teknik Utama), dari energi terbarukan (Poso Energy, Malea Energy) hingga properti (Kalla Inti Karsa, Trans Studio Makassar), dari smelter (PT Bumi Mineral Sulawesi) hingga logistik maritim dan transportasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Idrus Marham dari Golkar tidak main-main ketika menyebut &#8220;ada kepentingan yang terganggu atau tidak tercapai.&#8221; Cupin mencatat setidaknya beberapa titik rawan. Pertama, sektor infrastruktur dan konstruksi Kalla Group sangat bergantung pada proyek-proyek pemerintah—jalan, jembatan, irigasi di Indonesia Timur—yang alokasi anggarannya dipengaruhi oleh hubungan politik dengan rezim berkuasa.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, bisnis energi terbarukan melalui PLTA di Poso memerlukan dukungan regulasi dan pembelian listrik oleh PLN, sebuah arena yang tak pernah bebas dari intervensi politik. Ketiga, ekspansi Bukaka Teknik Utama ke garbarata bandara internasional di India dan Asia Tenggara menuntut dukungan diplomasi ekonomi yang hanya bisa difasilitasi oleh pemerintah yang kooperatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika hubungan JK dengan kekuasaan memburuk—terlebih setelah ia mendukung Anies Baswedan di Pilpres 2024, berseberangan dengan koalisi Prabowo-Gibran—maka setiap akses bisnis yang membutuhkan <em>goodwill</em> pemerintah berpotensi menyempit. Bagi Cupin, ini bukan soal konspirasi, melainkan soal insentif struktural yang bisa menjelaskan mengapa seorang pengusaha-politisi sekaliber JK memilih untuk tetap relevan di panggung publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi politik, koneksi JK-Anies tidak bisa diabaikan. JK secara terbuka menyebut Anies sebagai &#8220;murid politik&#8221;-nya, mendukungnya di Pilpres 2024, dan memiliki hubungan personal yang melintasi zaman sejak era Universitas Paramadina.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam analisis Jeffrey Winters tentang oligarki di Indonesia—<em>Oligarchy</em>—hubungan patron-klien seperti ini tidak pernah bersifat sentimental semata; ia selalu memiliki dimensi kalkulasi kekuasaan jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muncul spekulasi yang tak bisa diabaikan Cupin: apakah keaktifan JK saat ini adalah bagian dari <em>positioning</em> untuk siklus 2029? Dengan melemahkan narasi Jokowi melalui isu ijazah, mengkritisi Prabowo melalui Board of Peace, dan membangun citra sebagai <em>elder statesman</em> yang berani bicara—JK secara simultan membuka ruang bagi figur oposisi yang selama ini terpinggirkan, termasuk Anies.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Cupin juga membaca literatur tentang <em>overexposure</em> dalam politik. Anthony Downs dalam <em>An Economic Theory of Democracy</em> sudah lama mengingatkan bahwa aktor politik yang terlalu sering muncul di terlalu banyak isu berisiko mengalami <em>credibility dilution</em>—penurunan kredibilitas karena publik mulai mempertanyakan motivasi di balik setiap langkahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan inilah yang sedang terjadi. Ketika JK berbicara tentang perdamaian Iran, publik bertanya: apakah ini kepedulian kemanusiaan atau posturing politik? Ketika ia mendesak Jokowi soal ijazah, publik bertanya: apakah ini solusi atau tekanan?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ceramahnya viral, publik bertanya: apakah ini digoreng atau memang problematik? Setiap pertanyaan menggerus sedikit demi sedikit modal sosial yang telah ia bangun selama puluhan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, apakah JK benar-benar &#8220;Thanos&#8221; yang dengan sadar mengumpulkan <em>Infinity Stones</em> kontroversi untuk merombak tatanan politik, ataukah ia sekadar seorang negarawan tua yang terjebak dalam arus narasi yang jauh lebih besar dari dirinya—itu adalah pertanyaan yang hanya waktu bisa menjawab.&nbsp;Yang pasti, dalam setiap drama politik yang baik, <em>villain</em> yang paling efektif selalu adalah orang yang tidak menyadari—atau menolak mengakui—bahwa ia sedang memainkan peran itu. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="CsDgffx79lE"><iframe loading="lazy" title="Politik ala Thanos: dari Deng Xiaoping hingga Soekarno?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/CsDgffx79lE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-34.mp3" length="2998148" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-the-designated-thanos-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bisikan dan Podium</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/bisikan-dan-podium/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2026 03:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168025</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #3PinterPolitik.com “Ada yang lebih keras dari kritik. Yaitu diam yang tahu kapan harus berbicara &#8211; dan kepada siapa.” &#8211; Wim Tangkilisan Sokrates tidak pernah menulis satu baris pun. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia percaya bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/bisikan-dan-podium.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #3</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>“Ada yang lebih keras dari kritik. Yaitu diam yang tahu kapan harus berbicara &#8211;  dan kepada siapa.”</em> <br>&#8211; Wim Tangkilisan</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Sokrates tidak pernah menulis satu baris pun. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia percaya bahwa kebenaran adalah makhluk hidup yang hanya bisa lahir dari pertemuan dua jiwa yang bersedia saling menatap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan dari podium. Bukan dari kerumunan yang sudah sepakat sebelum diskusi dimulai. Ia turun ke jalanan, duduk di teras rumah, menyapa satu demi satu — seperti seorang peladang yang tahu bahwa benih hanya tumbuh jika ditanam di tanah yang tepat, bukan disebarkan ke angin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mati karena kepercayaan itu. Tetapi ajarannya hidup dua setengah ribu tahun, melampaui seluruh nama para penghakimnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya memikirkan Sokrates — dan saya memikirkan Bapak Jusuf Kalla — ketika membaca berita-berita dari kawasan Jakarta Selatan pada pertengahan Maret ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sorotan ke Brawijaya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sebuah rumah di Jalan Brawijaya Raya, dalam rentang waktu yang tidak sampai dua pekan, sebuah panggung telah dibangun berlapis-lapis seperti sedimen sejarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama datang para penjaga gagasan — Feri Amsari, Yanuar Nugroho, Sudirman Said, aktivis dan akademisi yang membawa keresahan intelektual tentang arah bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu para diplomat senior, mantan duta besar yang telah puluhan tahun membawa nama Indonesia di meja-meja dunia. Kemudian para profesor, guru besar yang memikul angka-angka fiskal dan kekhawatiran tentang otonomi daerah yang mulai terasa rapuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara semuanya, tuan rumah menerima pula Duta Besar Iran — membahas bara api di Selat Hormuz, seolah rumah itu telah menjelma menjadi pusat gravitasi geopolitik yang berdetak sejajar dengan kanal-kanal resmi negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuan rumahnya adalah Bapak Jusuf Kalla.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ihwal yang membuat semua ini memiliki bobot tersendiri adalah kenyataan bahwa seluruh rangkaian itu berlangsung di bulan yang sama ketika Bapak JK hadir di Istana Merdeka, duduk semeja dengan Presiden Prabowo atas undangan langsung darinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam yang hangat, lintas generasi, penuh niat baik. Di sana — di dalam keintiman yang langka itu — beliau bertanya langsung kepada Presiden tentang kebijakan dagang dengan Amerika Serikat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu pertanyaan kemudian tidak bisa saya lepaskan, seperti duri yang menempel di kain, jika ada kekhawatiran yang jauh lebih besar dari sekadar kebijakan dagang — tentang geopolitik yang bergeser, tentang fiskal yang mencekik, tentang arah kepemimpinan nasional — mengapa kekhawatiran itu tidak disampaikan di sana? Di meja yang sama. Kepada orang yang sama. Ketika kesempatan itu ada, terbuka, dan hangat.</p>



<pre class="wp-block-verse has-text-align-left"><em>Seneca menulis kepada Lucilius: nasihat yang diberikan di hadapan orang banyak adalah pertunjukan. Nasihat yang sesungguhnya adalah yang dibisikkan langsung — ke telinga yang bisa mengubah sesuatu, dengan keberanian yang tidak membutuhkan penonton untuk menyaksikannya.</em></pre>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>The Space of Appearance</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kahlil Gibran pernah berkata bahwa kita berbicara satu sama lain dalam kata-kata yang tidak mengungkapkan apa-apa, tetapi dalam cara kita memilih diam dan cara kita memilih berbicara — di situlah seluruh jiwa kita terungkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara seorang sosiolog Jerman bernama Max Weber mewariskan pembedaan yang terasa seperti pisau bedah, <em>Gesinnungsethik</em> — etika keyakinan, di mana tanggung jawab selesai di ujung niat; versus <em>Verantwortungsethik</em> — etika tanggung jawab, di mana seseorang menanggung akibat dari cara yang dipilih, bukan hanya dari kehendak baiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Weber wafat 105 tahun silam. Tetapi pembedaan itu berdiri tegak pagi ini, segar seperti tanah setelah hujan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tidak meragukan keprihatinan Bapak JK. Orang yang mendamaikan Poso bukan dengan konferensi pers, melainkan dengan dialog tertutup yang melelahkan — orang yang menengahi Mindanao, duduk di antara dua pihak yang saling membenci, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan — ia tidak bertindak tanpa kepedulian yang berakar dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau pun dua kali merasakan dari dalam betapa rumitnya memimpin negeri ini: keputusan selalu harus diambil dengan informasi yang tidak pernah lengkap, dalam waktu yang tidak pernah cukup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pablo Neruda menulis tentang negarawan yang tubuhnya menyimpan ingatan tentang tanah yang ia jaga — dan ingatan itu, justru karena dalamnya, menuntut cara yang lebih cermat, bukan lebih keras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru karena itu, pertanyaan Weber menjadi mendesak: sudahkah cara ini melewati timbangan yang lebih berat — bukan hanya timbangan niat, melainkan timbangan akibat?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang terjadi kepada kepercayaan publik ketika kebenaran dipilih untuk disampaikan dari panggung ini, kepada audiens yang berulang kali berganti dalam dua pekan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hannah Arendt, yang melarikan diri dari kekejaman abad dua puluh dan menghabiskan hidupnya memikirkan bagaimana manusia hadir di ruang publik, menulis tentang <em>the space of appearance</em> — ruang di mana seseorang tampil dan dengan tampilnya itu membangun siapa dirinya di mata dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika seseorang memasuki ruang publik, ia tidak sekadar menyampaikan pendapat. Ia melakukan sesuatu yang dampaknya tidak bisa ditarik kembali, seperti batu yang dilempar ke dalam telaga — riak-riaknya menjalar jauh melampaui niat si pelempar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kali pintu Brawijaya terbuka untuk gelombang tamu baru, sesuatu bergeser di ruang publik: narasi tentang siapa yang berwenang berbicara atas nama kepentingan nasional, tentang seberapa kokoh pemerintahan yang sedang berjalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arendt mengingatkan bahwa keberanian sejati bukan keberanian tampil di depan kamera — melainkan keberanian berbicara langsung kepada kekuasaan, dari muka ke muka, tanpa penonton yang siap bertepuk tangan jika ditolak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapak JK memiliki keberanian itu. Ia telah membuktikannya berkali-kali. Maka pertanyaannya bukan tentang keberaniannya — melainkan tentang panggung yang dipilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibn Khaldun, sejarawan Islam yang mempelajari naik-turunnya dua ratus dinasti, menemukan pola yang berulang seperti musim: keruntuhan hampir selalu dimulai bukan dari musuh di luar gerbang, melainkan dari dalam — dari para penasihat senior yang mulai bergerak di luar kanal resmi, bukan karena jahat, justru karena merasa paling tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menyebutnya penggerusan <em>&#8216;asabiyyah</em> — ikatan kohesi yang menjadi fondasi otoritas. Fondasi yang retak dari dalam tidak bisa diperkuat dari luar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tidak mengatakan itulah yang sedang terjadi. Tetapi Ibn Khaldun tidak bisa saya usir dari pikiran ketika membaca berita-berita itu.</p>



<pre class="wp-block-verse"><em>Weber, Arendt, Ibnu Khaldun — tiga pemikir dari benua dan abad yang berbeda — berbagi satu keyakinan yang sama: cara adalah bagian dari kebenaran itu sendiri, bukan sekadar kemasannya. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang menggerus kepercayaan publik bukan sepenuhnya kebenaran — ia kebenaran yang bercampur dengan sesuatu yang lain, meski pelakunya sendiri belum tentu menyadarinya.</em></pre>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kearifan Negarawan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Edmund Burke membedakan politikus dari negarawan dengan satu garis yang tegas: politikus berpikir tentang pemilu berikutnya, negarawan berpikir tentang generasi berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politikus bertindak agar terlihat benar. Negarawan bertindak agar sesuatu yang benar benar-benar terjadi — meski tak ada yang menyaksikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan ada bahasa lain yang terasa lebih dekat di dada. Dalam tradisi gamelan Jawa, ada pamurba lagu — pemegang otoritas melodi, yang menentukan arah dan menanggung akibat dari setiap nada yang salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pula pamangku lagu — penopang irama, pengalaman yang menjaga agar keberanian tidak kehilangan pijakannya, agar melodi yang paling tinggi pun tidak kehilangan bumi. Dua peran itu saling membutuhkan seperti napas dan paru-paru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Prabowo adalah pamurba yang memegang mandat. Bapak JK — dengan seluruh kedalaman zamannya — adalah pamangku yang paling berharga yang kita miliki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi pamangku yang bermain melodi sendiri di panggung lain tidak lagi menopang. Ia menciptakan disonansi.</p>



<pre class="wp-block-verse"><em>Dan disonansi tidak diselesaikan dengan bermain lebih keras. Ia diselesaikan dengan kembali ke titik yang sama — duduk bersama, menyamakan nada, menemukan irama yang bisa ditanggung bersama. Itulah rembug. Itulah yang absen dari Brawijaya: bukan keprihatinannya, melainkan kesediaan untuk menyampaikan keprihatinan itu langsung kepada orang yang bisa mengubah sesuatu — tanpa penonton, tanpa siaran pers, tanpa nama-nama besar yang mengangguk di belakang.</em></pre>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Percakapan Negarawan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Masa depan bukan satu garis lurus yang kaku — ia adalah beberapa jalan yang bercabang di persimpangan yang sama, dan yang menentukan bukan angin sejarah, melainkan satu keputusan kecil yang bisa diambil hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada jalan di mana Bapak JK memilih sunyi yang bermartabat — menyampaikan keberatan langsung, menjadi pamangku yang sesungguhnya, berbicara dari hati ke hati di balik pintu tertutup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jalan ini tidak menghasilkan tepuk tangan. Tetapi kebenaran yang disampaikan ke telinga yang bisa menggunakannya selalu lebih dalam bekasnya dari kebenaran yang diserukan ke udara terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Edmund Burke menyebutnya <em>prudence</em> — kearifan yang tidak perlu membuktikan dirinya kepada penonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada jalan lain di mana ketegangan ini menggerus perlahan, seperti arus bawah laut yang tidak terlihat dari permukaan tetapi mengubah bentuk dasar samudra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua pusat gravitasi yang berbicara kepada audiens yang berbeda, sementara Indonesia membutuhkan satu arah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kekaburan itulah para pemain yang lebih kecil — yang lebih oportunistik, yang lebih sedikit terikat oleh cinta kepada negeri ini — menemukan celah. Ibn Khaldun menyaksikan pola ini dalam dua ratus dinasti, dan tidak satu pun berakhir dengan baik bagi siapapun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada juga kemungkinan yang paling ironis dan paling indah sekaligus: bahwa justru Presiden Prabowo yang akan membutuhkan JK — bukan karena kalah, melainkan karena cerdas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Reputasi Bapak JK di dunia Islam, Teheran, hingga OKI, adalah aset yang tidak bisa dibeli atau dibangun dalam semalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemimpin besar tidak menciptakan musuh permanen — ia mengubah pengkritik menjadi kontributor, seperti tanah yang menyerap hujan bahkan dari awan yang paling gelap sekalipun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Marcus Aurelius menulis dalam buku harian yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang lain: “<em>Bila seseorang bisa membuktikan bahwa aku salah, aku akan dengan gembira mengubah pikiranku. Aku mencari kebenaran, yang tidak pernah merugikan siapapun</em>.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya yakin Bapak JK dan Presiden Prabowo sama-sama bisa mengucapkan kalimat itu dengan jujur. Keduanya bukan orang yang takut pada kebenaran. Keduanya pernah berdiri di persimpangan di mana satu keputusan menentukan nasib banyak orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka yang saya rindukan — dengan seluruh hormat kepada Bapak JK, dan seluruh kepercayaan kepada Presiden Prabowo — adalah percakapan yang seharusnya sudah terjadi: dua orang, satu meja, tanpa kamera, tanpa siaran pers.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya dua orang yang mencintai negeri ini, mungkin dengan cara yang berbeda, bicara jujur tentang apa yang mereka lihat dan apa yang mereka takutkan. Seperti yang Kahlil Gibran bayangkan tentang persahabatan sejati: dua jiwa yang tidak bersembunyi di balik topeng kesantunan, melainkan berani saling menatap dalam terang yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sokrates tidak menulis apa-apa. Tetapi setiap percakapannya mengubah seseorang — dan perubahan yang dimulai dari satu ruangan selalu lebih dalam dan lebih abadi dari perubahan yang dimulai dari keramaian.</p>



<pre class="wp-block-verse"><em>Minta waktunya, Pak. Bukan untuk tampil. Bukan untuk didengar publik. Melainkan untuk berbicara — seperti yang pernah Bapak lakukan di Poso, di Mindanao, di setiap ruang sunyi yang akhirnya melahirkan perdamaian. Bisikan yang tepat kepada telinga yang tepat selalu mengubah lebih banyak hal daripada suara yang paling keras di podium manapun. Dari pamangku kepada pamurba. Dari tiga zaman kepada zaman keempat. Cukup setengah jam. Di Istana. Itu jauh lebih bermartabat — dan jauh lebih berdampak — dari podium manapun di Brawijaya.</em></pre>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><em><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/bisikan-dan-podium.mp3" length="3854396" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/prabowo-jk-1024x683.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>The Presidents Club: Prabowo-Jokowi-SBY</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-presidents-club-prabowo-jokowi-sby/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2026 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Alwi Shihab]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Hassan Wirajuda]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'ruf Amin]]></category>
		<category><![CDATA[Marty Natalegawa]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dunia III]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Susilo Bambang Yudhoyono]]></category>
		<category><![CDATA[Timur Tengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167797</guid>

					<description><![CDATA[Tiga presiden dan elite RI berkumpul saat krisis perang Iran memanas. Apakah ini kunci selamatkan Indonesia di tengah dinamika geopolitik ini?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/the-presidents-club-prabowo-jokowi-sby.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tiga presiden dan elite RI berkumpul saat krisis perang Iran memanas. Apakah ini kunci selamatkan Indonesia?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“In anarchy, security is the highest end. Only if survival is assured can states safely seek such other goals as tranquility, profit, and power.” – Kenneth N. Waltz, T<em>heory of International Politics</em> (1979)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin menyeruput kopinya perlahan sambil menatap layar ponsel yang menampilkan sebuah berita mengejutkan di Selasa malam, 3 Maret 2026. Ia sungguh tak menyangka Istana Merdeka akan menjadi saksi berkumpulnya konfigurasi elite paling masif sejak era berjalannya Reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi seorang pengamat politik amatir seperti Cupin, ini jelas bukanlah sekadar agenda silaturahmi biasa menjelang masuknya bulan suci Ramadan. Pertemuan tertutup selama tiga setengah jam itu terjadi tepat ketika dunia sedang berada di tepi jurang krisis militer yang amat mengerikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingatan Cupin langsung melayang pada rentetan laporan berita tentang eskalasi mematikan ketika Amerika Serikat dan Israel menggempur jantung daratan Iran. Serangan bersandi <em>Operation Roaring Lion</em> dan <em>Epic Fury</em> yang dimulai pada tanggal 28 Februari 2026 itu bahkan dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampak balasan dari pihak Iran juga tidak kalah mengerikan di mata Cupin. Korps Garda Revolusi Iran langsung merespons dengan menutup Selat Hormuz serta menghujani 27 pangkalan militer AS di negara-negara Teluk dengan serangan rudal masif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepanikan skala global itu seketika langsung mencekik urat nadi ketahanan energi Indonesia. Dua kapal tanker raksasa kebanggaan nasional, yakni <em>Pertamina Pride</em> dan <em>Gamsunoro</em>, dilaporkan ikut terjebak secara tragis di dalam pusaran perairan Teluk Persia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Krisis ini menjadi semakin menakutkan karena sekitar sembilan belas persen pasokan minyak mentah utama Indonesia sangat bergantung pada jalur laut yang kini tertutup rapat tersebut. Kondisi diperparah dengan gejolak pasar finansial di mana harga emas dunia terpantau telah menembus angka ekstrem 5.400 dolar AS per troy ounce.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, Cupin sempat membaca adanya ancaman mengerikan dari seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran yang mengultimatum bahwa harga minyak mentah bisa menyentuh 200 dolar AS per barel. Rentetan petaka multi-teater inilah yang diyakini memaksa Presiden Prabowo Subianto bertindak sangat cepat dengan mengumpulkan mantan presiden Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah konsolidasi yang mendesak ini juga turut melibatkan kehadiran tiga mantan wakil presiden, tiga mantan menteri luar negeri, dan sejumlah perwakilan sektor riil pengusaha kelas atas. Bagi Cupin, kalkulus strategis dari pemimpin Jakarta ini membuktikan pesan tegas bahwa segala bentuk ego politik faksional harus segera dikubur hidup-hidup saat sebuah krisis eksistensial mengancam negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Cupin hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, apakah pertemuan luar biasa antar-elite ini memiliki sebuah preseden sejarah dalam tradisi ketatanegaraan peradaban global? Mampukah langkah mengumpulkan para tetua bangsa ini benar-benar efektif untuk menavigasi ancaman nyata dari hantu perang dunia?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DVYE5c3iWAp/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DVYE5c3iWAp/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DVYE5c3iWAp/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menyoal </strong><strong><em>Council of Elders</em> </strong><strong>dan Sistem </strong><strong><em>Genro</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah taktis Prabowo dalam mengumpulkan para mantan pemimpin bangsa sesungguhnya mengingatkan kita semua pada tradisi pembentukan sebuah dewan tetua informal di kala negara dilanda krisis. Fenomena <em>statecraft</em> tingkat tinggi semacam ini merupakan sebuah pola berulang dalam sejarah politik internasional untuk meredam kepanikan publik secara terukur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Praktik pengumpulan kebijaksanaan ini sangat lekat dengan lembaran sejarah Kekaisaran Jepang pasca-Restorasi Meiji pada tahun 1868 melalui pelembagaan sistem <em>Genro</em>. Para <em>Genro</em> ini merupakan sekelompok negarawan senior berpengalaman yang beroperasi murni di balik layar demi membimbing negara saat melewati masa transisi dan krisis perang yang besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tokoh sekaliber Itō Hirobumi dan Yamagata Aritomo tidak memegang jabatan eksekutif resmi pemerintahan, pengaruh gagasan mereka terhadap pengambilan keputusan strategis Kekaisaran Jepang bersifat <em>quasi</em>-konstitusional. Mereka mendedikasikan diri sebagai dewan penjaga kelanjutan institusi negara ketika sistem formal yang ada belum cukup tangguh untuk menanggung beban berat krisis zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarawan Paul Schroeder di dalam literatur akademiknya yang bertajuk <em>The Transformation of European Politics 1763-1848</em> juga mengkaji secara tajam mengenai esensi pembentukan sistem tatanan <em>The Concert of Europe</em> pada tahun 1815. Schroeder membedah bagaimana sistem yang tercipta pasca-Perang Napoleon ini berhasil memaksa kekuatan raksasa Eropa untuk mensubordinasikan ambisi politik individual mereka demi menjaga stabilitas keamanan kolektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang sedang kita saksikan di ruang tertutup Istana Merdeka tersebut sesungguhnya adalah bentuk manifestasi domestik dan kontemporer dari sebuah <em>The Concert of Jakarta</em>. Konsensus elite lintas rezim yang diinisiasi ini secara tersirat menyepakati bahwa stabilitas keamanan nasional merupakan harga mati yang tidak boleh dieksploitasi secuil pun demi keuntungan faksional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era tata dunia modern, implementasi cemerlang dari konsep dewan ini terlihat jelas dari pembentukan kelompok <em>The Elders</em> pada tahun 2007 oleh mendiang tokoh perdamaian Nelson Mandela. Tokoh-tokoh dunia paling dihormati seperti Kofi Annan dan Jimmy Carter beroperasi di wadah ini sebagai sebuah kekuatan moral independen yang bertugas memediasi berbagai zona konflik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Logika krusial dalam mengumpulkan kebijaksanaan akumulatif ini juga terlihat gamblang dalam manuver brilian kabinet perang yang dibentuk Winston Churchill pada sekitar tahun 1940 silam. Tepat di saat Inggris terancam eksistensinya oleh cengkeraman Nazi Jerman, Churchill dengan berani membentuk kabinet perang kecil yang melintasi garis batas partai demi mengonsolidasikan elemen buruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Republik Singapura pun tercatat pernah mengadopsi prinsip dewan penasihat yang sama persis ketika sang pendiri bangsa, Lee Kuan Yew, memutuskan untuk mundur dari kursi perdana menteri. Ia tetap sudi memberikan konsultasi strategis tingkat tinggi melalui perannya sebagai <em>Minister Mentor</em> tanpa harus terbebani oleh hiruk-pikuk operasional kabinet harian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, sejauh mana porsi peran spesifik yang diampu oleh tiap-tiap tokoh yang hadir di meja bundar Istana Merdeka pada malam penuh ketegangan itu? Mampukah rajutan kombinasi pengalaman lintas generasi kenegaraan ini menciptakan sebuah sistem pertahanan pertahanan ekonomi yang benar-benar kebal dari hantaman badai?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DVYZwizjMuI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DVYZwizjMuI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DVYZwizjMuI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Orkestrasi Krisis Melalui </strong><strong><em>Council of Elders</em></strong><strong> ala Prabowo</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap figur penting yang diundang oleh Presiden Prabowo Subianto di malam bersejarah itu sejatinya membawa beban peran geopolitik yang sangat spesifik dan tak tergantikan. Mereka semua bukan didudukkan sebagai sekadar pajangan simbolis belaka, melainkan dirancang sebagai para pemegang kunci dari perumusan <em>Grand Strategy</em> negara dalam menghadapi badai eskalasi regional terbesar di Timur Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Susilo Bambang Yudhoyono diplot memainkan perannya sebagai seorang <em>Diplomat-Strategist</em> yang berbekal rekam jejak mumpuni dalam menyelamatkan perahu Indonesia dari ancaman nyata krisis finansial global 2008 tanpa <em>sovereign default</em>. Sentuhan insting strategis dan memori institusional SBY sangat esensial untuk menjaga pendulum diplomasi non-blok agar tetap berada pada titik ekuilibrium di tengah benturan keras poros kekuatan global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sudut lain, Joko Widodo mengemban peran sentral sebagai <em>Pragmatic Shield</em> yang bertugas memastikan ketahanan infrastruktur utama serta urat nadi perekonomian negara tetap berdetak. Insting pragmatis warisan Jokowi mengenai keamanan pangan serta energi seketika menjelma menjadi bantalan pelindung pamungkas ketika rantai pasokan dunia benar-benar terancam lumpuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guna menjinakkan potensi liarnya sentimen sektarian di akar rumput dalam negeri, kehadiran Jusuf Kalla dan Ma&#8217;ruf Amin dioptimalkan guna mengemban fungsi <em>Islamic Backchanneling</em> yang solid. Jaringan lobi informal berskala luas ke berbagai entitas dunia Islam akan memastikan bahwa letupan solidaritas umat Muslim di Indonesia selalu diarahkan secara konstruktif ketimbang bermutasi menjadi gelombang radikalisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ketinggalan pula, eksistensi dari tiga mantan menteri luar negeri secara bersamaan berhasil membentuk sebuah wadah ad-hoc <em>Diplomatic Deep State</em> yang melintasi berbagai epos kebijakan luar negeri. Figur Hassan Wirajuda, Alwi Shihab, dan Marty Natalegawa bersatu-padu menjadi sebuah trisula diplomasi yang menyuplai mekanisme komunikasi, legitimasi pendekatan, dan kerangka keseimbangan dinamis dalam menempatkan kompas posisi Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, turut hadirnya teknokrat senior Boediono bersama barisan elite Kadin, Apindo, dan Hipmi melengkapi formasi pertahanan dengan membangun sebuah <em>Economic War Room</em> yang tangguh. Mereka memikul tanggung jawab krusial untuk mempertahankan arus kas nasional serta memastikan piring makan rakyat jelata tetap terisi di tengah memanasnya temperatur geopolitik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena bersatunya faksi yang berseberangan ini dapat direfleksikan secara paripurna melalui lensa teoretis dalam literatur akademis mengenai Neorealisme Struktural. Sang cendekiawan hubungan internasional Kenneth Waltz melalui karyanya <em>Theory of International Politics</em> menggarisbawahi dalil bahwa negara yang bertindak rasional pasti akan memprioritaskan perilaku penyeimbangan pertahanan kolektif ketika sedang dihimpit oleh ancaman anarkis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sikap unjuk konsensus yang diorkestrasikan Prabowo ini sekaligus sukses memancarkan dua sinyal <em>deterrence</em> kuat untuk mencegah keliaran spekulan domestik dan mengirim pesan ketahanan pada kekuatan hegemonik dunia. Prabowo dengan berani menampilkan kapasitas kepemimpinan krisis tingkat tinggi yang menjauhkan diri dari monopoli keputusan, serta mantap memosisikan dirinya sebagai figur utama di antara rekan sejawatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah dan waktu pulalah yang kelak akan menguji dengan seksama apakah konsensus elite lintas rezim ini mampu diinstitusionalisasikan dan berdiri tegar melampaui kepentingan pragmatis belaka. Kepemimpinan bervisi jauh ke depan dan kolaborasi tulus antargenerasi akan selalu menjadi tumpuan harapan sekaligus kompas terbaik bagi sebuah bangsa besar saat terpaksa menavigasi pusaran kelam krisis global. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="PevHeiO9u7o"><iframe loading="lazy" title="Terbaik! Pasukan Baret Biru TNI Siap OTW Gaza" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/PevHeiO9u7o?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/the-presidents-club-prabowo-jokowi-sby.mp3" length="3715700" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/the-presidents-club-prabowo-jokowi-sby-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Salah Terka Dino-JK?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/salah-terka-dino-jk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2026 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Dino Patti Djalal]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[JK]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Timur Tengah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167782</guid>

					<description><![CDATA[JK dan Dino Patti Djalal ragukan mediasi Prabowo di Iran-AS. Benarkah RI terlalu lemah untuk damaikan dua raksasa?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/salah-terka-dino-jk.mp3"></audio></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>JK dan Dino Patti Djalal ragukan mediasi Prabowo di Iran-AS. Benarkah RI terlalu lemah untuk damaikan dua raksasa?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“The neutral&#8217;s influence depends on its ability to pool information, to invent new options, and to reconfigure the disputants&#8217; interaction.” – Thomas Princen, <em>Intermediaries in International Conflict</em> (1992)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin menyeruput kopi hitamnya perlahan sambil menatap layar ponsel yang menyala terang di atas meja kedai. Matanya tertuju pada sebuah tajuk berita tentang memanasnya kembali konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kabar mengenai rencana Presiden Prabowo Subianto yang berniat menjadi mediator antara Amerika Serikat dan Iran menuai ragam reaksi. Cupin membaca dengan saksama rentetan komentar dari tokoh-tokoh senior diplomasi Indonesia di berbagai portal berita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan pandangan yang sangat pesimistis terhadap manuver diplomatik tersebut. Baginya, ketidaksetaraan kekuatan antara Indonesia dan Amerika Serikat membuat upaya perdamaian ini nyaris mustahil untuk diwujudkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal juga menyuarakan keraguan yang beresonansi serupa. Ia menilai niat baik tersebut sebagai sebuah ambisi diplomasi yang sangat tidak realistis di tengah krisis eksistensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menghela napas panjang melihat bagaimana kedua tokoh kawakan tersebut kompak meragukan kapasitas geopolitik Jakarta. Dalam benak Cupin, keraguan yang dilontarkan ini sangat masuk akal jika diukur menggunakan metrik kacamata konvensional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amerika Serikat adalah raksasa hegemonik dengan proyeksi armada militer terkuat di muka bumi saat ini. Sementara itu, Iran baru saja kehilangan pemimpin tertingginya dan sedang memobilisasi negara dalam mode perang total.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mencoba melerai dua entitas raksasa yang sedang saling mengunci target rudal balistik memang terdengar seperti misi bunuh diri diplomatik. Apalagi, Indonesia tidak memiliki armada tempur atau instrumen sanksi ekonomi yang bisa menekan Washington maupun Teheran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">JK dan Dino pada dasarnya sedang menempatkan posisi Indonesia sebagai negara berkembang yang bermimpi terlalu tinggi di panggung global. Keduanya seolah ingin memberikan pengereman pragmatis agar Jakarta tidak mempermalukan dirinya sendiri di tengah pusaran konflik adidaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para kritikus ini, diplomasi tingkat tinggi membutuhkan lebih dari sekadar niat baik dan retorika kebangsaan. Menengahi konflik yang melibatkan hegemon global menuntut ketersediaan daya ungkit material yang bisa digunakan sebagai alat tawar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menutup layar ponselnya dan mulai merenungkan pola pikir struktural yang dianut oleh para politisi senior tersebut. Ia merasa ada sebuah fondasi teoretis yang mengakar begitu presisi di balik rentetan keraguan itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan pesimistis ini tentu tidak muncul dari ruang hampa tanpa landasan akademik Hubungan Internasional yang jelas. Namun, apakah kacamata pesimisme ini adalah satu-satunya cara valid untuk membaca peta resolusi konflik global saat ini? Apakah JK dan Dino Patti Djalal benar-benar akurat dalam menerka batasan peluang diplomasi Indonesia di Timur Tengah?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DVVOuAVCQ-V/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DVVOuAVCQ-V/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DVVOuAVCQ-V/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Logika Realisme?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat kembali pada masa-masa diskusinya saat membedah buku-buku tebal arsitektur global di perpustakaan. Keraguan yang dilontarkan oleh JK dan Dino sejatinya berakar sangat pekat pada tradisi pemikiran Realisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam paradigma yang dingin ini, tata dunia dilihat sebagai sebuah arena anarki tanpa ada otoritas sentral yang mengatur perilaku aktor. Oleh karena itu, paritas atau kesetaraan kekuatan militer dan ekonomi menjadi mata uang tunggal yang paling menentukan arah sejarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara-negara hanya akan patuh pada sebuah kesepakatan jika ada ancaman kekuatan yang lebih masif yang memaksa mereka tunduk. Logika mekanis ini dijelaskan secara brilian oleh Hans Morgenthau dalam mahakaryanya yang berjudul <em>Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Morgenthau menegaskan bahwa politik internasional, seperti semua ranah interaksi politik lainnya, adalah sebuah perjuangan tiada akhir untuk memperebutkan kekuasaan. Tanpa adanya daya ungkit kekuasaan struktural tersebut, niat tulus seorang pihak ketiga tidak akan memiliki bobot di meja perundingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam narasi sejarah diplomasi global, ketimpangan kekuatan selalu mendikte jalannya sebuah perjanjian antar-negara tanpa kenal ampun. Pihak yang lemah pada akhirnya hanya memiliki satu pilihan, yakni menerima syarat-syarat yang disodorkan oleh pihak yang jauh lebih kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mengingat kembali bagaimana Perjanjian Nanking pada tahun 1842 menjadi contoh sempurna dari brutalnya mekanisme realisme ini. Kerajaan Inggris yang memenangkan Perang Candu Pertama memaksa Kekaisaran Qing Tiongkok untuk menandatangani perjanjian yang sangat meruntuhkan kedaulatan mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inggris menggunakan armada lautnya yang superior untuk memaksa Tiongkok menyerahkan wilayah Hong Kong dan membuka pelabuhan-pelabuhan strategisnya. Tiongkok yang saat itu tidak memiliki kekuatan militer penyeimbang sama sekali tidak memiliki ruang untuk menolak atau bernegosiasi secara setara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah mengapa JK secara pragmatis mempertanyakan posisi tawar fundamental Indonesia saat berhadapan dengan superioritas Amerika Serikat. Jika sebuah negara tidak bisa memberikan insentif geopolitik atau ancaman sanksi, maka suaranya hanya akan menjadi angin lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amerika Serikat tentu tidak akan mau didikte oleh negara yang secara ekonomi masih sangat terintegrasi dengan sistem yang diciptakannya. Teheran pun diprediksi hanya akan mendengarkan pihak yang bisa menggaransi keselamatan rezim mereka dari ancaman invasi sekutu Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Realitas pahit determinisme material inilah yang membuat diplomasi seringkali terasa seperti panggung tertutup bagi negara-negara adidaya semata. Namun, apakah mediasi sebuah konflik bersenjata selalu mensyaratkan otot militer yang lebih besar dari aktor yang sedang bertikai? Lantas, bagaimana sejarah mencatat anomali keberhasilan negara-negara kecil yang tiba-tiba muncul sebagai juru damai yang sangat dihormati?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DVYZwizjMuI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DVYZwizjMuI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DVYZwizjMuI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menguak </strong><strong><em>Weak Mediator Paradox</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin tersenyum tipis saat menyadari bahwa kacamata Realisme ternyata memiliki titik buta yang cukup fatal dalam membedah anatomi mediasi. Menjadi seorang juru penengah konflik sejatinya membutuhkan seperangkat instrumen psikologis yang sama sekali berbeda dari hitung-hitungan amunisi peperangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam studi diplomasi modern, paritas kekuatan justru sering kali menjelma menjadi hambatan besar bagi sebuah negara untuk menjadi mediator yang dipercaya. Sebuah negara adidaya sering dicurigai memiliki agenda tersembunyi atau intensi hegemonik saat mencoba menengahi sebuah krisis regional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah konsep <em>Weak Mediator Paradox Theory</em> atau Teori Paradoks Mediator Lemah mengambil alih panggung analisis utama. Teori ini diuraikan dengan sangat gamblang dan komprehensif oleh Thomas Princen dalam bukunya yang berjudul <em>Intermediaries in International Conflict</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Princen membongkar asumsi lama dengan menyatakan bahwa mediator yang tidak memiliki kekuatan militer atau ekonomi besar justru mengantongi keunggulan komparatif. Mereka dianggap sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk mengancam atau memaksakan kehendak, sehingga kehadirannya jauh lebih mudah diterima oleh pihak-pihak yang sedang bertikai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara penengah ini murni bertindak sebagai fasilitator komunikasi, bukan sebagai hegemon mandor yang membawa cambuk hukuman di balik punggungnya. Kelemahan material mereka secara paradoksal berubah menjadi kekuatan moral yang sanggup menciptakan ruang negosiasi aman dan bebas dari paranoia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin langsung memikirkan peran historis monumental Norwegia dalam merajut Kesepakatan Oslo yang legendaris pada tahun 1993. Norwegia bukanlah sebuah kekuatan militer global, apalagi negara adidaya yang memiliki gugus tugas kapal induk di perairan Timur Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kelemahan struktural Norwegia itulah yang membuat faksi Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) bersedia duduk bersama dalam satu ruangan rahasia. Norwegia berhasil menyediakan saluran diplomasi pintu belakang yang sangat hening tanpa membawa beban kepentingan geopolitik dari negara-negara besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan luar biasa Norwegia membuktikan bahwa akseptabilitas dan posisi non-blok jauh lebih krusial bagi seorang juru damai ketimbang kepemilikan hulu ledak nuklir. Dalam konteks krisis eskalatif AS-Iran saat ini, profil diplomatik Indonesia memiliki kemiripan yang sangat identik dengan posisi historis Norwegia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Status Indonesia sebagai negara non-blok dan episentrum populasi Muslim moderat memberikan modal kepercayaan kultural yang sangat tebal di mata Teheran. Di saat yang bersamaan, kemitraan strategis yang telah terjalin lama membuat utusan Jakarta akan selalu diterima dengan tangan terbuka oleh Washington.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prabowo tidak sedang terbang ke Timur Tengah untuk menekan Amerika Serikat atau memaksa Iran untuk menyerah tanpa syarat di meja perundingan. Kehadiran Indonesia adalah murni untuk menawarkan jalur keluar darurat agar eskalasi militer buta ini tidak berujung pada kehancuran masif fondasi ekonomi global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, wacana diplomasi internasional selalu menyajikan benturan abadi antara realitas kekuasaan yang keras dan seni kemungkinan yang sangat lentur. Menilai efektivitas langkah perdamaian murni dari kalkulator kapabilitas militer mungkin akan selalu memproduksi proyeksi yang pesimistis, namun sejarah peradaban telah membuktikan bahwa jembatan perdamaian sering kali dibangun oleh mereka yang hanya berbekal keberanian untuk merangkul pihak-pihak yang saling membenci. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="PevHeiO9u7o"><iframe loading="lazy" title="Terbaik! Pasukan Baret Biru TNI Siap OTW Gaza" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/PevHeiO9u7o?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/salah-terka-dino-jk.mp3" length="3458876" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/salah-terka-dino-jk-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anies Butuh “Bapak Ideologis”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-butuh-bapak-ideologis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Nasdem]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2029]]></category>
		<category><![CDATA[Surya Paloh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167624</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah pemanasan dini menuju 2029, Anies Baswedan diuji: aktor otonom atau produk patronase? Antara bayang-bayang Surya Paloh dan Jusuf Kalla, pertarungan sesungguhnya bukan sekadar dukungan elite, melainkan soal siapa menguasai mesin, ideologi, dan masa depan politik 2029.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/anies-jadi-anak-ideologis.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di tengah pemanasan dini menuju 2029, Anies Baswedan diuji: aktor otonom atau produk patronase? Antara bayang-bayang Surya Paloh dan Jusuf Kalla, pertarungan sesungguhnya bukan sekadar dukungan elite, melainkan soal siapa menguasai mesin, ideologi, dan masa depan politik 2029.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Menjelang konsolidasi awal menuju Pemilu dan Pilpres 2029, lanskap politik Indonesia kembali memperlihatkan hukum besinya, siapa yang tak memiliki mesin, akan dilindas oleh mesin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah pemanasan dini partai-partai politik, Anies Baswedan tampak berupaya mempertahankan relevansinya sebagai aktor politik nasional. Ia bukan lagi sekadar mantan kandidat presiden 2024, melainkan figur yang sedang menguji ulang posisinya dalam orbit kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sederhana, dalam kerangka teoretis Pierre Bourdieu, politik adalah arena pertarungan berbagai bentuk capital, modal politik, sosial, simbolik, dan institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anies mungkin saja relatif kaya dalam <em>symbolic capital</em>—narasi intelektual, citra moral, dan kemampuan retorika—serta <em>social capital</em> melalui jejaring relawan “anak abah” yang militan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ia kerap dinilai defisit dalam <em>institutional capital</em>, kepemilikan partai, kendali struktur, dan akses terhadap sumber daya negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keraguan terhadapnya pada Pilpres 2024 sebagian besar berangkat dari premis ini. Seandainya ia menang, mampukah ia mengeksekusi agenda tanpa dukungan mesin partai yang solid?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sistem presidensial multipartai seperti Indonesia, presiden tanpa partai ibarat jenderal tanpa pasukan. Ia mungkin memenangkan pertempuran elektoral, tetapi belum tentu menguasai logistik pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah isu “bapak ideologis” menjadi relevan. Dalam tradisi politik Indonesia yang masih sarat patronase, figur nasional jarang berdiri sepenuhnya otonom.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka kerap beroperasi dalam jejaring patron–klien yang memberi dukungan struktural sekaligus membatasi ruang gerak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya: apakah Anies sedang mencari figur payung yang mampu menyuplai institutional capital sekaligus legitimasi ideologis?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua nama kiranya relevan, terlihat pula dalam momen buka puasa bersama Partai NasDem 19 Februari 2026 kemarin, yakni Surya Paloh dan Jusuf Kalla.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya memiliki historis konstruktif dengan Anies, serta modal sosial-politik untuk meng-<em>endorse</em>—atau bahkan mengarsiteki—langkah menuju 2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, mengapa Anies dikatakan harus menjadi “anak ideologis” dan butuh sosok “bapak”? Serta mengapa dua nama di atas yang kiranya tepat?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menguji Posisi Anies</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konseptual, ada dua model kepemimpinan dalam sistem demokrasi patronal, yakni <em>autonomous political entrepreneur</em> dan <em>elite-dependent actor</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Model pertama adalah figur yang mampu membangun koalisi lintas faksi dengan daya tawar personal yang tinggi. Model kedua adalah figur yang eksistensinya sangat ditentukan oleh patron elite.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anies seolah bergerak di wilayah abu-abu antara keduanya. Di satu sisi, ia menunjukkan kapasitas sebagai <em>political entrepreneur</em>. Kemenangannya dalam Pilgub DKI 2017 memperlihatkan kecakapannya membaca ceruk suara Islam politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mampu bersimbiosis dengan basis yang solid, bahkan ketika dukungan itu mengandung risiko polarisasi. Ia mengelola <em>identity politics</em> bukan sekadar sebagai isu, tetapi sebagai kendaraan mobilisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pasca 2017 hingga Pilpres 2024, Anies memperlihatkan fleksibilitas—atau bagi sebagian pihak, pragmatisme ekstrem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari figur yang lekat dengan dukungan Islam konservatif, bahkan dalam pencapresan, ia kemudian tampil sebagai politisi moderat. Ia tak alergi mendekat pada spektrum nasionalis, bahkan membuka ruang sebarisan dengan PDIP dalam kontestasi Pilkada 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini menunjukkan kemampuan adaptasi, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan, di mana jangkar ideologisnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah figur seperti Surya Paloh menjadi signifikan. Sebagai pendiri dan pengendali NasDem, Paloh pernah menjadi sponsor politik penting bagi Anies pada Pilpres 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paloh memiliki <em>institutional capital</em> berupa partai, jaringan media, dan pengalaman panjang dalam manuver koalisi. Jika Paloh kembali menjadi poros dukungan, maka Anies memperoleh mesin sekaligus narasi restorasi yang selama ini diusung NasDem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, nama Jusuf Kalla mewakili tipe patron berbeda. Ia bukan pemilik partai dominan, tetapi memiliki reputasi sebagai <em>king maker</em>, negosiator ulung, dan figur senior yang dihormati lintas faksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dukungan Kalla bersifat simbolik sekaligus strategis, ia dapat membuka akses pada jejaring elite bisnis dan politik, terutama di luar Jawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun dukungan patron selalu memiliki konsekuensi. Dalam teori patron–klien, hubungan tersebut bersifat timbal balik tetapi asimetris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Patron memberi perlindungan dan sumber daya, klien memberi loyalitas dan kepatuhan. Jika Anies terlalu bergantung pada salah satu figur, maka ruang otonominya menyempit. Ia bisa menjadi representasi kepentingan patron, bukan arsitek agenda sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keraguan publik terhadap kapasitas implementatifnya pada 2024 berakar pada asumsi bahwa tanpa patron kuat, ia tak punya daya eksekusi. Tetapi, dengan patron terlalu dominan, ia kehilangan otonomi. Dilema ini menjadi ujian strategis menuju 2029.</p>



<div><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-819x1024.png" class="td-modal-image"><figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-819x1024.png" alt="anies lupa hapus “chat history” (1)" class="wp-image-165582" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/anies-lupa-hapus-chat-history-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure></a></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ideologi atau Kalkulasi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan “Anies mencari bapak ideologis?” sesungguhnya lebih dalam daripada sekadar siapa mendukung siapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menyentuh problem klasik politik Indonesia: apakah ideologi menjadi fondasi, atau sekadar kemasan elektoral?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika merujuk pada teori kartel partai, partai politik di Indonesia cenderung berperilaku sebagai kartel kekuasaan, lebih fokus pada distribusi sumber daya negara ketimbang diferensiasi ideologis tajam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, figur seperti Anies harus menentukan, apakah ia akan menjadi kendaraan kompromi elite, atau membangun platform yang relatif independen?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pragmatisme Anies bisa dibaca dua cara. <em>Pertama</em>, sebagai kelenturan taktis dalam sistem yang cair.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam demokrasi presidensial multipartai, rigiditas ideologis sering kali berujung marginalisasi. Koalisi dibangun bukan atas kesamaan nilai, melainkan kepentingan jangka pendek.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, pragmatisme itu bisa dibaca sebagai absennya jangkar ideologis yang konsisten—yang membuatnya mudah berpindah orbit sesuai kebutuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun politik elektoral 2029 kemungkinan berbeda dari 2024. Mesin partai mulai dipanaskan lebih dini. Polarisasi identitas mungkin tak lagi menjadi energi dominan; publik bisa lebih sensitif pada isu ekonomi, tata kelola, dan stabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam situasi ini, Anies membutuhkan lebih dari sekadar relawan loyal. Ia membutuhkan arsitektur koalisi yang solid dan sumber daya nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah peran “bapak ideologis” menjadi ambigu. Apakah ia benar-benar membutuhkan figur ideologis—atau justru bapak institusional?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Surya Paloh mungkin memberi mesin; Jusuf Kalla memberi jejaring dan legitimasi senioritas. Tetapi keduanya bukan ideolog dalam arti doktrinal. Mereka adalah operator kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Anies ingin tampil sebagai aktor otonom, ia harus membalik relasi tersebut: bukan menjadi produk patronase, melainkan menjadikan patron sebagai mitra koalisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, ia harus mengonsolidasikan basis sosialnya sendiri, memperkuat aliansi lintas partai, dan merumuskan platform kebijakan yang jelas serta implementatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa itu, ia akan terus dipersepsikan sebagai figur yang kuat dalam retorika, tetapi rapuh dalam eksekusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan menuju 2029 bukan hanya soal siapa yang didukung siapa, tetapi siapa yang menguasai sumber daya institusional. Dalam politik Indonesia, simbol tanpa struktur akan kalah oleh struktur tanpa simbol. Tantangan Anies adalah menyatukan keduanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ia sedang mencari bapak ideologis? Mungkin. Tetapi yang lebih penting: apakah ia mampu menjadi bapak bagi proyek politiknya sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah ia berdiri sebagai negarawan otonom—atau sekadar simpul dalam jaringan patronase elite yang lebih besar darinya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe loading="lazy" title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?start=57&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/anies-jadi-anak-ideologis.mp3" length="2917916" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/anies-paloh-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
