<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Juliari Batubara &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/juliari-batubara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Jun 2022 01:40:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Juliari Batubara &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Beda Nasib PDIP dan Demokrat</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/beda-nasib-pdip-dan-demokrat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M78]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2022 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Andi Malarangeng]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrat]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=111312</guid>

					<description><![CDATA[Sekalipun banyak didera kasus korupsi, PDIP masih jadi partai yang paling kuat di tingkat nasional. Performa partai di tingkat akar rumput juga dinilai masih jadi yang terkuat. Padahal, korupsi yang terjadi ada di tingkatan menteri, seperti yang menimpa Mensos Juliari Batubara. Bandingkan dengan Partai Demokrat yang langsung anjlok performanya kala didera korupsi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="959" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-959x1024.jpg" alt="beda nasib pdipdan demokrat ed." class="wp-image-111314" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-959x1024.jpg 959w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-281x300.jpg 281w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-141x150.jpg 141w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-768x820.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-696x743.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-1068x1140.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-393x420.jpg 393w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed..jpg 1080w" sizes="(max-width: 959px) 100vw, 959px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sekalipun banyak didera kasus korupsi, PDIP masih jadi partai yang paling kuat di tingkat nasional. Performa partai di tingkat akar rumput juga dinilai masih jadi yang terkuat. Padahal, korupsi yang terjadi ada di tingkatan menteri, seperti yang menimpa Mensos Juliari Batubara. Bandingkan dengan Partai Demokrat yang langsung anjlok performanya kala didera korupsi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/beda-nasib-pdipdan-demokrat-ed.-959x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bully Ringankan Juliari, Kok Bisa?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bully-ringankan-juliari-kok-bisa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2021 16:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi bansos Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[vonis juliari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=99694</guid>

					<description><![CDATA[Vonis 12 tahun terhadap Juliari Peter Batubara mendapat perhatian luas masyarakat. Namun, ini bukan soal vonis yang jauh dari tuntutan publik, melainkan alasan hakim dalam memberi keringanan, yakni sudah di-bully oleh masyarakat. Mengapa keputusan semacam itu bisa terjadi?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Vonis 12 tahun terhadap Juliari Peter Batubara mendapat perhatian luas masyarakat. Namun, ini bukan soal vonis yang jauh dari tuntutan publik, melainkan alasan hakim dalam memberi keringanan, yakni sudah di-<em>bully</em> oleh masyarakat. Mengapa keputusan semacam itu bisa terjadi?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>“The rules of logic are to mathematics what those of structure are to architecture.” – Bertrand Russell, filsuf Inggris</p></blockquote>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Ketidakpuasan jelas tergambar di benak publik. Betapa tidak, pada 29 Juli 2020 Ketua KPK Firli Bahuri pernah menegaskan bahwa korupsi di tengah pandemi Covid-19 dapat dijerat hukuman mati. Namun, seperti yang diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK justru hanya menuntut eks Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara hukuman 11 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut berbagai pihak, korupsi bantuan sosial (bansos) Covid-19 yang dilakukan Juliari telah memenuhi unsur untuk diberikan hukuman maksimal sesuai Pasal 12 huruf b UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), yaitu hukuman seumur hidup. Pakar hukum dari Legal Talk Society, Petrus Richard Siantury juga menyebutkan bahwa kasus Juliari termasuk dalam waktu kahar, waktu “luar biasa”, atau waktu bencana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam situasi semacam itu, kejahatan yang dilakukan idealnya akan diancam hukuman yang lebih berat dibandingkan ketika situasi normal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari berbagai tuntutan yang ada, vonis sudah diputuskan terhadap kasus Juliari. Pada 23 Agustus, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor mengganjar Juliari dengan vonis 12 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga: <a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tuntutan-rendah-juliari-dan-kontradiksi-kpk">Tuntutan Rendah Juliari, Kontradiksi KPK?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, bukan besaran vonis yang menjadi fokus perhatian berbagai pihak, melainkan pertimbangan hakim dalam memberikan keringanan putusan, yakni telah di-<em>bully</em> oleh masyarakat. &#8220;Keadaan meringankan, terdakwa sudah cukup menderita dicerca, dimaki, dihina oleh masyarakat,” ungkap anggota Majelis Hakim Pengadilan Tipikor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, seperti yang mudah ditebak, pertimbangan tersebut menimbulkan berbagai reaksi minor. Direktur Pusako Fakultas Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, misalnya, menyebut pertimbangan tersebut janggal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Apa alat ukur hakim bahwa publik melakukan penghinaan kepada terdakwa? Seberapa banyak yang mencerca dan berapa yang membela? Kalau hanya berbasis perasaan dan asumsi hakim, itu tidak pas,&#8221; ungkapnya pada 24 Agustus.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/Infografis 2020/infografis Jangan Hina Koruptor.jpg" alt=""/></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sensibilia Keadilan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Selain menyebut janggal, Feri juga melakukan perbandingan. Nyatanya, berbagai kasus pencurian tidak mendapatkan keringanan meskipun mendapatkan hinaan masyarakat, lantas mengapa Juliari diberi keringanan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang dilakukan Feri tersebut disebut dengan <em>argument from analogy</em>. Irving M. Copi, Carl Cohen, dan Kenneth McMahon dalam buku <em>Introduction to Logic</em> menjelaskan, <em>argument from analogy</em> atau <em>argument by analogy</em> adalah argumentasi yang dilakukan dengan cara membandingkan kasus terbaru dengan kasus atau pengalaman sebelumnya yang dinilai sama atau mendekati –mirip.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Fabrizio Macagno dan Douglas Walton dalam tulisannya <em>Argument from Analogy in Law, the Classical Tradition, and Recent Theories</em>, bentuk argumentasi tersebut memang menjadi bentuk argumentasi yang umum dalam penalaran hukum. Untuk menilai suatu keputusan hukum, kerap kali dilakukan perbandingan dengan kasus-kasus sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya menjadi bentuk penalaran, <em>argument from analogy </em>nyatanya menjadi landasan atas diterapkannya yurisprudensi. Ini adalah keputusan-keputusan hakim terdahulu yang dijadikan sebagai pedoman bagi hakim lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, karena cara kerjanya yang sederhana, <em>argument from analogy </em>tidak hanya digunakan oleh mereka yang berkecimpung di bidang hukum, melainkan juga masyarakat umum dalam menilai suatu putusan pengadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga: <a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/memahami-logika-juliari-korupsi-bansos-covid-19">Memahami Logika Juliari Korupsi Bansos Covid-19</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak heran kemudian, pertimbangan keringanan yang diterima Juliari dinilai masyarakat luas “tidak adil” karena tidak terjadi pada kasus-kasus lainnya. Pada kasus Setya Novanto, misalnya, kendati mendapatkan <em>bully</em> tiada henti, bahkan sampai sekarang, nyatanya tidak menjadi pertimbangan untuk memberi keringanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Zaenur Rohman juga memberi kritik tajam. Menurutnya, korupsi yang dilakukan Juliari sehingga masyarakat memberikan hinaan dan cacian seharusnya menjadi alasan memberatkan, bukannya meringankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&#8220;Menurut saya, pertimbangan ini cacat logika,&#8221; ungkapnya pada 25 Agustus.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kekeliruan Penalaran</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip kritik Zaenur Rohman, menjadi pertanyaan sendiri, mengapa sesuatu yang seharusnya memberatkan, justru menjadi alasan untuk meringankan. Mengacu pada Rolf Dobelli dalam bukunya <em>The Art of Thinking Clearly</em>, persoalan tersebut disebut dengan <em>swimmer’s body illusion</em> atau ilusi tubuh perenang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip Nassim Nicholas Taleb, Dobelli menjelaskan bahwa <em>swimmer’s body illusion</em> adalah bias kognitif atau kekeliruan logis yang terjadi ketika seseorang keliru dalam menentukan mana yang menjadi sebab dan akibat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini bertolak dari kesalahan umum dalam menentukan apakah perenang memiliki tubuh yang bagus karena mereka berenang, atau karena memiliki tubuh yang bagus yang membuat mereka menjadi perenang yang handal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Umumnya, akan dijawab berenang membuat tubuh menjadi bagus. Padahal, seseorang dapat menjadi perenang yang handal karena sebelumnya memang telah memiliki tubuh yang bagus.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/Infografis 2020/poster Vonis Hakim.jpg" alt=""/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang disebutkan Zaenur Rohman, besar kemungkinan pertimbangan keringanan terhadap Juliari terjebak dalam ilusi tubuh perenang. Telah keliru ditentukan, mana yang menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hinaan dan cacian publik semestinya dipahami sebagai reaksi publik atas ketidakadilan yang terjadi (dipahami sebagai “akibat”), bukannya sebagai alasan untuk meringankan (dipahami sebagai “sebab”).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika benar demikian, mengapa kekeliruan logis tersebut terjadi dalam pertimbangan vonis Juliari?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruggero J. Aldisert, Stephen Clowney, dan Jeremy D. Peterson dalam tulisannya <em>Logic For Law Students: How to Think Like a Lawyer</em> memberikan penjelasan yang sepertinya cukup memuaskan untuk menjawab pertanyaan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut mereka, sekolah hukum saat ini tidak lagi mengajarkan logika. Padahal, logika sebagai alat bernalar (<em>tool</em>) begitu penting untuk memeriksa valid tidaknya suatu argumentasi. Tidak hanya untuk memeriksa dasar-dasar silogisme deduktif, logika juga berperan vital untuk menghindari kesalahan dalam menggunakan analogi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali mengacu pada buku <em>Introduction to Logic</em>, kendati <em>argument from analogy </em>menjadi praktik yang umum, penggunaan analogi sebagai argumentasi begitu rentan karena sering kali terjebak dalam <em>disanalogy</em> atau <em>false analogy</em> (analogi yang keliru).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga: <a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/juliari-saatnya-bubarkan-parpol">Juliari, Saatnya Bubarkan Parpol?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun konteks tulisan Aldisert, dkk, adalah sekolah hukum di Amerika Serikat (AS), penjelasan yang mereka berikan sekiranya dapat diadopsi di Indonesia. Pasalnya, mata kuliah ilmu logika untuk kepentingan penalaran memang bukanlah mata kuliah wajib di perguruan tinggi di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepengetahuan penulis, mata kuliah tersebut hanya wajib diberikan bagi mereka yang menekuni studi ilmu filsafat. Di program studi ilmu filsafat Universitas Indonesia (UI), misalnya, mata kuliah ilmu logika diberikan selama dua semester di tahun pertama perkuliahan. Itu diberikan untuk menjadi bekal mahasiswa untuk membedah pemikiran para filsuf. &nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kekhawatirannya, pertimbangan keringanan terhadap vonis Juliari dapat menjadi yurisprudensi yang digunakan di kasus-kasus korupsi lainnya. Kembali pada Aldisert, dkk, ini lah alasan mengapa logika penting digunakan untuk memeriksa argumentasi atau penalaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika menggunakan logika yang ketat, <em>swimmer’s body illusion </em>seperti yang ditunjukkan Zaenur Rohman sekiranya tidak akan terjadi. Mestilah dapat dideteksi tengah terjadi kekeliruan dalam menentukan sebab dan akibat, sehingga pertimbangan semacam itu tidak dikeluarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, pada akhirnya, apa pun yang menjadi alasan di balik pertimbangan keringanan vonis Juliari, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor telah mengetuk palu dan kita harus menghormatinya. (R53)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Juliari Batubara: Saatnya Partai Dibiayai Negara?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/obI5JwZGA4M?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/1630025918_ktifwu805hmbsxtcoyaljpg.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Permintaan Bebas Juliari</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/permintaan-bebas-juliari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi bansos Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=85832</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-819x1024.jpg" alt="" class="wp-image-85827" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-336x420.jpg 336w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari.jpg 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /><figcaption>Perkembangan kasus bansos yang menjerat eks Mensos Juliari mendapat sorotan luas</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Permintaan-Bebas-Juliari-819x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Korupsi Bansos Masa Gitu?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/korupsi-bansos-masa-gitu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2021 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi bansos Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=86504</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="903" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-903x1024.jpg" alt="" class="wp-image-86490" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-903x1024.jpg 903w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-264x300.jpg 264w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-132x150.jpg 132w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-768x871.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-696x789.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-1068x1211.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-370x420.jpg 370w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 903px) 100vw, 903px" /><figcaption>Tuntutan Jaksa KPK atas kasus Juliari Batubara disorot</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Korupsi-Bansos-Masa-Gitu-903x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PDIP Hilang Dari Bansos?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/pdip-hilang-dari-bansos/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2021 12:52:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Bansos Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=95070</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;ICW mempertanyakan kenapa dalam dakwaan Juliari kembali dihilangkan nama-nama politisi yang diduga memperoleh paket besar dalam pengadaan bansos sembako di Kemensos, seperti Herman Hery dan Ihsan Yunus&#8221;. &#8211; Kurnia Ramadhana, Peneliti ICW PinterPolitik.com Tahun-tahun 1990-an hingga 2000-an adalah masa ketika film dan series kolosal merajai televisi serta bioskop di Indonesia. Kisah-kisah yang diambil dari sejarah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;ICW mempertanyakan kenapa dalam dakwaan Juliari kembali dihilangkan nama-nama politisi yang diduga memperoleh paket besar dalam pengadaan bansos sembako di Kemensos, seperti Herman Hery dan Ihsan Yunus&#8221;. &#8211; Kurnia Ramadhana, Peneliti ICW</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Tahun-tahun 1990-an hingga 2000-an adalah masa ketika film dan series kolosal merajai televisi serta bioskop di Indonesia. Kisah-kisah yang diambil dari sejarah maupun mitologi Indonesia menjadi penghias utamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angling Dharma, Mahabharata, Karmaphala, dan masih banyak yang lainnya lagi adalah beberapa contoh di antaranya. Naik daunnya series-series yang demikian ini juga membuat masyarakat Indonesia familiar dengan istilah-istilah mitologi, salah satunya siluman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siluman&nbsp;memang dikisahkan sebagai&nbsp;makhluk halus&nbsp;yang tinggal dalam komunitas dan menempati suatu tempat. Mereka bisa terlihat sebagai manusia biasa, namun punya wujud asli yang berupa hewan tertentu atau makhluk lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;<a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ada-agenda-penenggelaman-maruf-amin-1">Ada Agenda Penenggelaman Ma’ruf Amin?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu ciri khas siluman adalah kemampuan mereka untuk menghilang atau pergi dengan cepat. Mungkin nggak mirip dengan jurus&nbsp;<em>Kamui&nbsp;</em>milik Obito di serial Naruto, tapi prinsip kerjanya sama kayak gitulah kira-kira.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, ngomongin soal berpindah tempat atau hilang-menghilang, ternyata ini juga disoroti oleh Indonesian Corruption Watch alias ICW loh. Ini terkait kasus korupsi bantuan sosisal yang emang lagi ditangani KPK.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sorotan ICW ini terkait hilangnya nama 2 politikus PDIP, Herman Hery dan Ihsan Yunus, di dakwaan jaksa KPK terhadap mantan Mensos Juliari Batubara. Padahal, nama Herman dan Ihsan sempat muncul dalam persidangan dengan terdakwa 2 penyuap Juliari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun Herman Hery merupakan Ketua Komisi III DPR. Sementara Ihsan Yunus merupakan mantan Wakil Ketua Komisi VIII DPR yang kini menjadi anggota Komisi II DPR usai kasus bansos terungkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perkara ini, Ihsan Yunus pernah diperiksa KPK. Kediamannya pun sempat digeledah meski penyidik tak menemukan bukti. Sementara Herman Hery belum pernah diperiksa dalam kasus bansos ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">KPK sendiri udah buka suara mengenai tak adanya nama Herman dan Ihsan di dakwaan Juliari. KPK menyebutkan bahwa surat dakwaan sudah disusun berdasarkan pemeriksaan saksi pada tahap penyidikan. Artinya, kalau namanya tidak ada, berarti buktinya belum cukup kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wih, hilang-menghilang berasa siluman atau gimana nih? Uppps. Padahal, seperti diulas oleh Tempo, perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Herman misalnya, disebut-sebut mendapat kuota pengadaan bansos sebanyak 7,6 juta paket senilai Rp 2,1 triliun. Iyess, Rp 2,1 triliun cuy. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hmm, apa emang tradisi “hilang-menghilang” ini udah jadi bagian dari sejarah PDIP ya? Lha, ada tuh kasus Harun Masiku yang sampai sekarang belum jelas masih hidup atau udah mati. Uppps.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga nggak makin parah. Tau-tau nanti malah nama Juliari yang tiba-tiba hilang dari kasus ini. Kan bakal ribut kita nanti. Ah, syudahlah, mungkin kita terlalu banyak nonton series tentang siluman. Uppps. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="c5vpmV6AuRI"><iframe loading="lazy" title="PAN Bukan Partai Islam?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/c5vpmV6AuRI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/1619485840_pdip-hilang-dari-bansosjpg.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Madam Bansos, Juliari Siap Harakiri?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/madam-bansos-juliari-siap-harakiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2021 12:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Bansos]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=104065</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Kedua mantan menteri ini (Edhy Prabowo dan Juliari Batubara) melakukan perbuatan korupsi yang kemudian terkena OTT KPK. Bagi saya mereka layak dituntut Pasal 2 Ayat 2 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang mana pemberatannya sampai pidana mati&#8221;. &#8211; Eddy Hiariej, Wamenkumham PinterPolitik.com Jika kamu loyal pada seseorang, kematian bisa jadi jaminan tingkat tertinggi loyalitas itu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>&#8220;Kedua mantan menteri ini (Edhy Prabowo dan Juliari Batubara) melakukan perbuatan korupsi yang kemudian terkena OTT KPK. Bagi saya mereka layak dituntut Pasal 2 Ayat 2 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang mana pemberatannya sampai pidana mati&#8221;. &#8211; Eddy Hiariej, Wamenkumham</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Jika kamu loyal pada seseorang, kematian bisa jadi jaminan tingkat tertinggi loyalitas itu dihargai. Mungkin itulah kata-kata yang biasanya kita jumpai di film-film&nbsp;<em>action.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di beberapa negara – misalnya di Jepang – loyalitas adalah keutamaan. Misalnya dalam kisah tentang para samurai yang kehilangan tuannya karena meninggal atau karena sebab yang lainnya. Para samurai ini secara&nbsp;<em>code of conduct-</em>nya seharusnya melakukan&nbsp;<em>seppuku&nbsp;</em>alias&nbsp;<em>harakiri&nbsp;</em>atau bunuh diri dengan menikam perutnya sendiri sampai meninggal. Itu adalah cara untuk menunjukkan loyalitas mereka kepada tuannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wih, ngeri juga ya kisahnya. Loyalitas tanpa batas. Berasa kayak iklan merek rokok tertentu. Uppps.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga:&nbsp;<a href="https://www.pinterpolitik.com/celoteh/hanya-pks-teman-setia-anies">Hanya PKS Teman Setia Anies?</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, mungkin konteks&nbsp;<em>harakiri&nbsp;</em>itu tengah jadi pertimbangan mantan Menteri Sosial Juliari Batubara yang tersandung kasus korupsi bantuan sosial. Bukannya gimana-gimana, doi kini tengah menghadapi kemungkinan mendapatkan tuntutan pidana mati atas kasus tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya hal ini langsung disampaikan oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkum HAM)&nbsp;Edward Omar Sharif Hiariej. Nggak tanggung-tanggung, Prof Eddy – demikian ia biasa disapa – menilai Juliari layak dituntut dengan hukuman mati karena korupsi yang dilakukan berkaitan dengan kebencanaan dan terjadi di saat pandemi Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beh, kalau yang menyebutkan ini adalah Guru Besar Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada sekelas Prof Eddy, udah pasti itu nggak main-main cuy pendapatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cuma, yang kini jadi permasalahan adalah kelihatan bahwa Juliari enggan “buka mulut” terkait kemungkinan kasus korupsi ini melibatkan pihak-pihak lain katakanlah yang berasal dari lingkaran partainya sendiri, maupun dari unsur posisi yang lain. Buat yang belum tahu, doi berasal dari si banteng PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, banyak spekulasi yang beredar, misalnya terkait Madam Bansos yang digambarkan beberapa pihak sebagai orang yang ikut bertanggungjawab dalam korupsi bansos ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hmm, kalau Juliari nggak mau dihukum mati sendiri, maka mungkin doi bisa mempertimbangkan membuka nama sosok-sosok yang terlibat. Tapi, kalau doi udah bertekad sama loyalitas dan ingin&nbsp;<em>harakiri,&nbsp;</em>maka nggak ada pilihan lain selain tetap bungkam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Minimal nggak kayak Harun Masiku kali ya. Uppps. Maksudnya nggak kabur atau hilang tanpa jejak loh ya. Jangan dipelintir. Hehehe. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="wp6uCbeC7PI"><iframe loading="lazy" title="Operasi Intelijen di Awal Kekuasaan Megawati" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/wp6uCbeC7PI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/1613930742_madam-bansos-juliari-siap-harakirijpeg.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mensos Diciduk, Jokowi Bersih-Bersih?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mensos-diciduk-jokowi-bersih-bersih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2020 12:57:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Juliari Batubara]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi bansos Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=96873</guid>

					<description><![CDATA[Masih hangat terasa kasus penangkapan MenKP Edhy Prabowo, kini giliran Mensos Juliari Batubara yang harus berurusan dengan KPK karena mengorupsi bansos Covid-19. Mungkinkah penangkapan menteri dari PDIP tersebut menjadi momen Presiden Jokowi untuk meniru langkah Xi Jinping dalam melawan korupsi? PinterPolitik.com Terdapat beberapa perbedaan menarik yang dapat dilihat dari kasus korupsi Menteri Kelautan dan Perikanan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading"><strong>Masih hangat terasa kasus penangkapan MenKP Edhy Prabowo, kini giliran Mensos Juliari Batubara yang harus berurusan dengan KPK karena mengorupsi bansos Covid-19. Mungkinkah penangkapan menteri dari PDIP tersebut menjadi momen Presiden Jokowi untuk meniru langkah Xi Jinping dalam melawan korupsi?</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/a"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Terdapat beberapa perbedaan menarik yang dapat dilihat dari kasus korupsi Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Edhy Prabowo dan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara. Ini bukan tentang perbandingan jumlah kekayaan mereka yang berbanding hampir tujuh kali lipat ataupun perbedaan nominal korupsinya, melainkan pada cara pengamat politik dan Istana dalam merespons kedua kasus tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kasus Edhy, para pengamat justru memberikan analisis bertendensi politis. Mulai dari membandingkannya dengan penangkapan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq pada 2013 silam, indikasi hubungan PDIP dengan Gerindra, hingga dikaitkan dengan kontestasi Pilpres 2024 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara pada kasus Juliari, tanggapan yang ada lebih berfokus pada tindakan korupsi yang terjadi, menyerang kredibilitas PDIP, hingga mengungkit kembali pembubaran Kementerian Sosial seperti yang pernah dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan yang lebih menarik terlihat dari respons Istana. Pada penangkapan Edhy, Presiden Jokowi memberikan tanggapan netral dengan menyebut pemerintah mendukung usaha Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apalagi, tidak lama berselang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau agar KPK tidak berlebihan dalam mengusut kasus Edhy. Sedangkan pada kasus Juliari, Presiden Jokowi justru menggunakan kalimat tegas dengan menyebut tidak akan memberikan perlindungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konteks perbedaan respons Istana mungkin dilihat sebagai perbedaan kasus semata. Pasalnya, korupsi Juliari dinilai jauh lebih tidak bermoral karena menyangkut dana bansos Covid-19. Itu jelas bertolak belakang dari penegasan berulang Presiden Jokowi agar para menteri memiliki&nbsp;<em>sense of crisis</em>&nbsp;di tengah pandemi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, jika perbedaan respons tersebut menunjukkan sinyal politik tertentu, mungkinkah itu menjadi momen Presiden Jokowi untuk melakukan bersih-bersih kabinet seperti yang dilakukan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kampanye Anti-Korupsi Xi Jinping</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kongres Nasional ke-18 Partai Komunis Tiongkok (CPC) pada 2012 adalah awal dari kampanye anti-korupsi terorganisir terbesar dalam sejarah pemerintahan Komunis di Tiongkok. Saat itu, Xi Jinping masih menjabat Sekretaris Umum CPC.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menjabat sebagai Presiden pada Maret 2013, Xi benar-benar menepati janjinya untuk menindak mereka yang disebut sebagai harimau dan lalat. Harimau merujuk pada pejabat tingkat, sedangkan lalat dimaksudkan kepada pegawai negeri sipil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alexandra Fiol-Mahon dalam tulisannya&nbsp;<em>Xi Jinping’s Anti-Corruption Campaign: The Hidden Motives of a Modern-Day Mao</em>&nbsp;(2018) menyebut sejak kampanye dimulai, telah terdapat 1,5 juta pejabat pemerintahan yang terjaring, termasuk rival politik Xi, Bo Xilai dan Zhou Yongkang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Fiol-Mahon membandingkan kampanye Xi dengan apa yang dilakukan oleh Mao Zedong. Menurutnya, kendati disebut sebagai langkah besar untuk melawan praktik korupsi, kampanye Xi ataupun Mao sebenarnya adalah langkah politik untuk membasmi lawan politiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, berbeda dengan Mao yang menargetkan siapa pun yang memiliki perbedaan pendapat dengannya, Xi lebih berfokus untuk menghapus semua saingan politik, terutama calon penerus atau pemimpin potensial. Jika Mao tidak membeda-bedakan antara teman dan musuh, Xi dinilai masih memiliki kompromi terhadap pejabat yang tidak mengancam dan setia kepadanya secara pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Farida Chawala dalam tulisannya&nbsp;<em>Xi Jinping’s Anti-Corruption Campaign: Party Strategy or Way Forward to Corruption-free China</em>&nbsp;menyebutkan, kendati kampanye anti-korupsi jamak dinilai sebagai upaya konsolidasi kekuasaan politik Xi, namun pada hasilnya, kampanye tersebut memang berhasil menurunkan tingkat korupsi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Chawala misalnya mengutip laporan Bank Dunia yang berjudul <em>Ease of Doing Business</em>. Dalam laporan tersebut, posisi Tiongkok meningkat secara signifikan sejak kampanye dilakukan. Dari posisi ke-99 di 2012, menjadi ke-78 pada 2017, dan ke posisi ke-46 di 2018.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Momen bagi Jokowi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada respons berbeda Presiden Jokowi pada kasus Mensos Juliari, serta berbagai kemarahannya atas belum melandainya kurva Covid-19, boleh jadi itu menjadi momentum mantan Wali Kota Solo tersebut untuk melakukan bersih-bersih kabinet melalui KPK.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, konteks tersebut dinilai pernah dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di periode kedua kepemimpinannya. Seperti yang diketahui, saat itu banyak kader Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 5 Agustus 2012, sebuah komentar menarik diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana. Menurutnya, SBY bisa jadi tengah meminjam atau memanfaatkan tangan KPK untuk melakukan “bersih-bersih” kader.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menimbang pada masa jabatan SBY yang masih dua tahun lagi, alias masih memiliki pengaruh yang cukup untuk melindungi kadernya, spekulasi Ari tampaknya memiliki pembenaran tersendiri. Apalagi, kader Demokrat yang terjerat saat itu adalah kader-kader utama, seperti Anas Urbaningrum, Nazaruddin, hingga Andi Mallarangeng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali pada respons berbeda pada kasus Juliari, jika benar itu menunjukkan gejolak emosi khusus, maka boleh jadi konsep&nbsp;<em>mysterium&nbsp;tremendum&nbsp;et fascinans</em>&nbsp;dari teolog Jerman, Rudolf Otto tengah dirasakan oleh Presiden Jokowi.&nbsp;<em>Mysterium&nbsp;tremendum&nbsp;et fascinans</em>&nbsp;adalah konsep teologi Otto untuk menjelaskan pengalaman manusia dalam memahami Tuhan, yakni Tuhan adalah misteri yang menggentarkan sekaligus memesona.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep tersebut kemudian diadopsi oleh dosen Filsafat Budaya Universitas Indonesia (UI) Tommy F. Awuy untuk menjelaskan fenomena kebudayaan. Menurutnya, manusia kerap mengalami peristiwa atau momen&nbsp;<em>tramendum</em>, yakni momen kekaguman atau menggentarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momen tersebut kemudian menjadi kenangan yang tidak terlupakan, dan bahkan menjadi preseden atas perubahan luar biasa. Ini juga bisa disebut sebagai&nbsp;<em>eureka moment</em>. Kendati masih menjadi perdebatan,&nbsp;<em>eureka moment</em>&nbsp;jamak dirujuk kepada polymath Yunani kuno, Archimedes ketika berhasil menemukan Hukum Archimedes.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, jika kasus Juliari menjadi <em>tramendum </em>atau <em>eureka moment, </em>maka besar kemungkinan itu menjadi alasan bagi Presiden Jokowi untuk mengambil langkah tegas, khususnya untuk menyaring pembantunya yang terindikasi melakukan korupsi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Law&nbsp;as a&nbsp;Tool of Political Engineering</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kasus Juliari nantinya benar menjadi&nbsp;<em>tramendum&nbsp;</em>bagi Presiden Jokowi untuk melakukan bersih-bersih, secara tidak langsung itu dapat pula menjadi&nbsp;<em>political tool</em>&nbsp;atau alat politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konteksnya bisa dilihat pada kasus Mao dan Xi di Tiongkok. Namun, menimbang pada perbedaan vital bentuk pemerintahan, di mana Indonesia bukanlah negara otoriter, pengertian alat politiknya tentu berbeda. Di sini, pengertiannya seperti kasus SBY, yakni tangan KPK digunakan untuk melakukan bersih-bersih.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, apabila kita merujuk pada tulisan Tom Power yang berjudul&nbsp;<em>Jokowi’s Authoritarian Turn</em>, terdapat satu lembaga yang dapat digunakan sebagai senjata politik (<em>political weapon</em>) karena kewenangannya sama dengan KPK, yakni Kejaksaan Agung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tom Power misalnya mencontohkan kasus mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau yang sering dipanggil Tuan Guru Bajang (TGB). Menurutnya, TGB yang sebelumnya mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2014, ikut dalam protes anti-Ahok dan terlibat dalam gerakan 212, justru berbalik mendukung Jokowi setelah KPK mengumumkan akan menyelidiki dugaan keterlibatannya dalam korupsi terkait penjualan saham Newmont.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tulisannya, Tom Power menyebut bertolak dari testimoni seorang politisi PDIP yang menggambarkan Kejaksaan Agung seperti senjata politik yang digunakan oleh pemerintah untuk mengontrol politisi oposisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Tom Power benar, &nbsp;maka kita mungkin dapat mengadopsi konsep&nbsp;<em>law&nbsp;is a&nbsp;tool of social engineering</em>&nbsp;(hukum adalah alat rekayasa sosial) dari Roscoe Pound menjadi&nbsp;<em>law&nbsp;as a&nbsp;tool of political engineering</em>&nbsp;(hukum sebagai alat rekayasa politik).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, ihwal apakah yang paling mungkin? Yang jelas, apa pun itu, kasus korupsi Edhy dan Juliari harus menjadi evaluasi, terlebih saat ini kita tengah mengalami situasi sulit akibat pandemi Covid-19. (R53)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/1607442374_buka-suara-terkait-penetapan-menteri-sosial-juliari-peter-batubara-sebagai-tersangkajpg.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
