<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>infid &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/infid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Dec 2019 12:31:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>infid &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menakar Ketimpangan Ekonomi Indonesia</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menakar-ketimpangan-ekonomi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H57]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Dec 2019 01:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[infid]]></category>
		<category><![CDATA[ketimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[ketimpangan sosial-ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[land grabbing]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Oxfam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=71178</guid>

					<description><![CDATA[Kondisi ketimpangan ekonomi di Indonesia kian memprihatinkan. Selama hampir setengah abad, ketimpangan selalu menjadi momok paling menakutkan di republik Ini. PinterPolitik.com Tajamnya disparitas ekonomi di Indonesia bukan sekadar isapan jempol. Kondisi memprihatinkan ini pernah dikemukakan organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris, Oxfam International, dan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid), bahwa kesenjangan ekonomi Indonesia [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Kondisi ketimpangan ekonomi di Indonesia kian memprihatinkan. Selama hampir setengah abad, ketimpangan selalu menjadi momok paling menakutkan di republik Ini.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">T</span>ajamnya disparitas ekonomi di Indonesia bukan sekadar isapan jempol. Kondisi memprihatinkan ini pernah dikemukakan organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris, Oxfam International, dan International NGO Forum on Indonesian Development (Infid), bahwa kesenjangan ekonomi Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Rusia, India, dan Thailand.</p>
<p>Oxfam pernah mengeluarkan rilis tentang konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang super kaya di Indonesia, yakni kekayaan empat orang terkaya setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin.</p>
<p>Selain itu, <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20180414181336-4-11035/daftar-negara-dengan-ketimpangan-ekonomi-terbesar-di-dunia">Tim Riset CNCB Indonesia</a> juga sempat mengeluarkan rilis tentang indeks ketimpangan global yang mana Indonesia menempati urutan ke-62 dari 139 negara yang disurvei Bank Dunia. Di antara negara-negara tersebut, posisi 10 besar negara dengan tingkat ketimpangan ekstrem ditempati negara-negara dari Amerika Selatan dan Afrika.</p>
<p>Untuk skala regional <a href="https://tirto.id/ketimpangan-kekayaan-di-asean-indonesia-nomor-dua-cgEc">ASEAN</a>, kondisi ketimpangan ekonomi Indonesia bahkan berada di peringkat ke-2 di bawah Thailand. Sedangkan, Brunei merupakan negara dengan tingkat ketimpangan paling rendah.</p>
<p>Sementara jika dilihat dari indeks Komitmen Mengurangi Ketimpangan <a href="https://www.channelnewsasia.com/news/singapore/singapore-inequality-oxfam-index-10806026">(CRI) Oxfam 2018</a>, Indonesia menduduki peringkat ke-90, masih di bawah Thailand (74) dan Malaysia (75). Posisi teratas ditempati Denmark di urutan 1, menyusul Jerman (2), Finlandia (3), Austria (4), Norwegia (5). Satu-satunya negara Asia yang meraih poin tertinggi hanya Jepang di urutan ke-11.</p>
<p>Lalu mengapa hal itu dapat terjadi?</p>
<p>https://www.instagram.com/p/B6sNUfKgsf0/</p>
<h4><strong><em>Land Grabbing</em></strong></h4>
<p>Ketimpangan ekonomi Indonesia boleh jadi berkaitan erat dengan aksi perampasan tanah (<em>land grabbing</em>) yang berdampak pada kehilangan faktor produksi sekaligus sumber kehidupan dan penghidupan warga di kawasan perdesaan. Akibat dari fenomena ini, jumlah kemiskinan kian bertambah disertai jurang ketimpangan yang semakin melebar dari waktu ke waktu.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana menghubungkan fenomena <em>land grabbing </em>terhadap realitas ketimpangan ekonomi di Indonesia?</p>
<p>Fenomena perampasan tanah (<em>land grabbing</em>) yang terus meningkat dari waktu ke waktu seiring laju ekspansi kapital berdampak pada akuisisi lahan secara besar-besaran – yang dalam tulisan ini menyebutnya sebagai fenomena perampasan tanah.</p>
<p>Fenomena tersebut ditandai pelepasan ruang hidup masyarakat, khususnya di daerah perdesaan – para petani – dalam rangka memenuhi sirkulasi kapital yang terus berekspansi hingga ke berbagai pelosok guna menjaga mata rantai kapitalisme global terus bertahan hidup.</p>
<p>Istilah <em>Land grabbing</em> (perampasan tanah) pertama kali diperkenalkan oleh sebuah lembaga pertanian GRAIN di Spanyol pada tahun 2008. Hal itu merujuk pada pengambilan tanah-tanah pertanian oleh perusahaan besar lewat investasi agribisnis.</p>
<p><em>Land grabbing </em>termasuk sebuah peristiwa global, yang tidak hanya terjadi di Indonesia. Wilayah seperti Afrika, sebagaimana disebutkan Syahyuti dalam <em>Global Phenomena of Land Grabbing and the Impact of the Local Farmers Welfare</em> merupakan target utama bagi investasi skala besar ini.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, fenomena <em>land grabbing</em> memiliki sejarah cukup panjang, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun, dalam perkembangannya, fenomena perampasan lahan di Indonesia bertemali dengan pelaksanaan mandat UU no 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA).</p>
<p>Memasuki era reformasi, kebijakan agraria bahkan belum juga mengalami kemajuan berarti. Hal ini sempat disentil peneliti dari the Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, yang menilai pelaksanaan reforma agraria pascareformasi belum ada kemajuan.</p>
<p>Hal ini sebagaimana mengacu pada <a href="https://transisi.org/land-grabbing-dan-pembangunan-alternatif/">Laporan akhir Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) 2016</a>, bahwa sepanjang tahun 2016 sedikitnya telah terjadi 450 konflik agraria dengan luasan wilayah 1.265.027 hektar dan melibatkan 86.745 KK yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.</p>
<p>Jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 252 konflik agraria. Jika ditotal, setiap hari terjadi satu konflik agraria dan 7.756 hektar lahan terlibat dalam konflik.</p>
<p>Kasus seputar konflik agraria tidak berhenti di situ. KPA mencatat, sepanjang 2015-2018, sebanyak 642 kasus terkait <a href="https://nasional.tempo.co/read/1264185/ada-642-konflik-agraria-konsorsium-jokowi-hanya-bagi-sertifikat/full&amp;view=ok">konflik agraria</a> kembali terjadi di seluruh wilayah Indonesia.</p>
<p>Lalu, apa yang bisa dimaknai di balik gejala tersebut?</p>
<p>Annelies Zoomers dalam <em>Globalisation and the foreignisation of space: seven processes driving the current global land grab</em> menyebut fenomena <em>land grabbing</em> belakangan terjadi akibat maraknya globalisasi, liberalisasi pasar tanah dan investasi asing.</p>
<p>Ketiga faktor tersebut berpengaruh luas dalam konteks percepatan <em>land grabbing </em>di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus <em>land grabbing</em> melalui modus investasi juga disinggung Zoomers dengan mengambil contoh kasus di Kalimantan, di mana penggunaan lahan bagi ekspansi kelapa sawit meningkat tajam. Pada awal 1990an dari luas lahan 500.000 hektar meningkat mencapai lebih dari 3.2 juta hektar.</p>
<p>Seperti diketahui, dampak dari perampasan lahan kebanyakan para petani kehilangan faktor produksi sekaligus sumber penghidupan mereka. Dari sini lah sumber kemiskinan beranak pinak. Seperti diteliti Tania Murray Li dalam <em>Exit from agriculture: a step forward or a step backward for the rural poor?</em> bahwa sesudah pekerja keluar dari tanah miliknya – akibat masifnya aksi penjarahan ruang hidup petani – dia malah semakin miskin dan terpuruk.</p>
<p>Yang harus dicatat, saat petani kehilangan alat produksi dan sumber penghidupan (tanah), mereka mengalami fase transisi, antara menjadi buruh (<em>labour</em>), pedagang (skala mikro dan menengah) atau tidak memiliki pekerjaan sama sekali (<em>unemployment</em>).</p>
<p>Kebanyakan dari petani yang alih profesi tergolong dalam <a href="https://www.kabar-banten.com/pekerja-rentan-layak-dapatkan-jaminan-sosial-ketenagakerjaan/">pekerja informal</a> alias mereka yang sangat rentan mengalami krisis finansial dan jauh dari jaminan perlindungan sosial.</p>
<p>Kondisi kemiskinan yang disumbang oleh kehilangan faktor produksi para petani yang berakibat pada penurunan jumlah petani berkorelasi dengan data <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20180730124139-4-26008/duh-bps-sebut-kalangan-petani-menderita-kemiskinan-parah">Badan Pusat Statistik (BPS</a>) yang menyebut banyak penduduk miskin berasal dari para petani. Mereka termasuk para petani yang hanya memiliki secuil lahan, ataupun yang sudah kehilangan tanah garapannya.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B5tccflj-3U/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B5tccflj-3U/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B5tccflj-3U/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Majalah Forbes Indonesia rilis nama orang terkaya Indonesia 2019.⠀ ⠀ Simak artikel selengkapnya di https://pinterpolitik.com/⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-12-06T00:00:06+00:00">Dec 5, 2019 at 4:00pm PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<h4><strong>Membongkar Modus Operandi </strong></h4>
<p>Di awal telah disinggung terkait bagaimana sirkulasi kapital bergerak dalam rangka mempertahankan mata rantai kapitalisme global yang belakangan semakin masif menggempur teritori pinggiran. Ibarat aliran darah, sirkulasi kapital terus-menerus memburu ruang-ruang baru bagi ekspansi kapital demi menjaga kelangsungannya.</p>
<p>Tanpa menemukan ruang baru, kapitalisme dipastikan bakal menemui azalnya. ‘Ruang’ bagi kapitalisme ibarat darah bagi tubuh manusia. Tanpa aliran darah yang normal, seseorang dipastikan tak akan lama hidup. Demikian halnya dengan cara kerja kapitalisme mutakhir.</p>
<p>Studi mengenai geo-kapital belakangan banyak disumbang oleh David Harvey. Melalui pembacaan <em>accumulation by dispossession</em> (akumulasi melalui penjarahan), Harvey mengungkapkan adanya sentralisasi kekayaan dan kekuasaan di tangan segelintir orang – produk dari kebijakan neoliberal – memungkinkan mereka terus melakukan perampasan kekayaan dan tanah milik warga.</p>
<p>Hal serupa kembali dipertegas oleh murid Harvey, Neil Smith dalam <em>Uneven Development: Nature, Capital and the Production of Space,</em> yang menyebut dengan proses penjarahan dan pembentukan ruang bagi akumulasi (lebih lanjut), modus kapitalisme mutakhir melalui fenomena <em>land grabbing</em> dapat dipahami dalam konteks bagaimana alam diproduksi.</p>
<p>Perdana Putri dalam <em>Penjarahan Ruang dalam Kapitalisme</em> menggunakan pendekatan Smith, menulis, kapitalisme melakukan proses diferensiasi-penyeragaman yang inheren dalam ketimpangan pembangunan untuk mencari ruang yang tetap (<em>spatial fix</em>) dan keseimbangan ruang (<em>spatial equilibrium</em>). Dalam artian, kapitalisme senantiasa memerlukan ruang agar menjaga nafasnya tetap hidup.</p>
<p>Dengan demikian, ‘ruang’ menjadi prasyarat mutlak bagi kelangsungan kapitalisme. Hal ini pula yang menjadi kerangka pembacaan untuk memahami fenomena perampasan tanah di satu sisi, dan pemiskinan warga lokal di sisi lain di Indonesia.</p>
<p>Ketimpangan dan kemiskinan yang terjadi di Indonesia tidak terlepas dari sejarah perampasan tanah yang juga berarti penjarahan ruang hidup masyarakat lokal. Meningkatnya konflik agraria menjadi penanda kuatnya aksi penjarahan ruang hidup warga lokal dari waktu ke waktu.</p>
<p>Soal ketimpangan kepemilikan lahan pernah dipaparkan <a href="https://cekfakta.tempo.co/fakta/28/fakta-atau-hoax-ketua-dewan-kehormatan-partai-amanat-nasional-pan-amien-rais-menyebut-74-persen-tanah-di-indonesia-dikuasai-segelintir-orang">Transformasi untuk Keadilan (TuK)</a>, bahwa sebagian besar tanah di Indonesia terkonsentrasi di tangan kelompok korporasi besar di Indonesia. Disebutkan, rata-rata petani kecil hanya menguasai seperempat hektar lahan, yang hampir tak mampu memenuhi kebutuhan pangan untuk kebutuhan keluarga mereka sendiri.</p>
<p>Sebaliknya, ada sebanyak 25 grup perusahaan kelapa sawit yang menguasai lahan seluas 5,1 juta hektare atau hampir setengah Pulau Jawa yang luasnya 128.297 kilometer persegi. Dari 5,1 juta hektare (51.000 kilometer persegi), sebanyak 3,1 juta hektare telah ditanami sawit dan sisanya belum ditanami. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini sekitar 10 juta hektare. Kelompok perusahaan itu dikendalikan 29 taipan yang perusahaan induknya terdaftar di bursa efek, baik di Indonesia dan luar negeri.</p>
<p>Merespons kondisi ketimpangan tersebut, pemerintah di bawah eks Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Darmin Nasution, kala itu menyebut pemerintah terus berkomitmen mengatasi masalah ketimpangan melalui kebijakan reforma agraria, yang salah satu poinnya adalah memberikan modal kepada para petani (kecil) selain membagi-bagikan tanah.</p>
<p>Pemerintah saat itu beranggapan, membagi-bagikan tanah saja tidaklah cukup, jika tidak disertai dengan pemberian modal dan pembentukan kelompok tani. Sekilas, ide tersebut terbilang menarik. Namun, bagaimana realisasinya kini?</p>
<p>Dilansir dari Liputan6, kebanyakan para petani mengaku kesulitan menadapatkan akses modal. Hal itu berdampak pada banyaknya petani yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka terpaksa mencari modal dengan cara lain.</p>
<p>Melihat kenyataan ini, patut mempertanyakan komitmen pemerintah dalam mengurai masalah ketimpangan. Akankah komitmen tersebut dapat diwujudkan di era pemerintahan saat ini? Kita tunggu saja bagaimana kisah selanjutnya. (H57)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="ebKMgMMbYaE"><iframe title="Sejarah Tan Malaka, Bapak Bangsa Yang Dilupakan?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ebKMgMMbYaE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/12/ketimpangan.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
