<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>iklan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/iklan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Apr 2019 09:57:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>iklan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Iklan Debat Capres, untuk Siapa?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/iklan-debat-capres-untuk-siapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H33]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Mar 2019 05:00:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[debat capres]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=50381</guid>

					<description><![CDATA[Debat capres dan cawapres tak hanya jadi panggung bagi para kandidat yang berlaga, tetapi juga bagi para pengiklan. Pinterpolitik.com [dropcap]D[/dropcap]ebat capres dan cawapres beberapa waktu lalu menyisakan banyak cerita. Umumnya,  performa dan substansi debat kerap menjadi pembicaraan utama. Sajian yang hadir di panggung debat selama lebih kurang dua jam menjadi hal yang lebih banyak dibicarakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Debat capres dan cawapres tak hanya jadi panggung bagi para kandidat yang berlaga, tetapi juga bagi para pengiklan.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>Pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]D[/dropcap]ebat capres dan cawapres beberapa waktu lalu menyisakan banyak cerita. Umumnya,  performa dan substansi debat kerap menjadi pembicaraan utama. Sajian yang hadir di panggung debat selama lebih kurang dua jam menjadi hal yang lebih banyak dibicarakan dari gelaran tersebut.</p>
<p>Tampaknya, sedikit orang yang menyoroti manakala kamera lokasi debat dimatikan dan diisi dengan jeda iklan. Padahal, bagi sebagian orang – terutama di media sosial – tidak sedikit yang membahas penempatan iklan dan beberapa bahkan membuat lelucon dari iklan-iklan komersil tersebut.</p>
<p>Bagi pemerhati Pemilu seperti Perludem atau lembaga negara seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), perkara iklan ini penting disoroti karena sifat dari gelaran debat tersebut yang didanai oleh APBN. Hal ini tentu penting diketahui, tetapi ada juga aspek lain yang menarik dibahas.</p>
<p>Salah satunya adalah terkait penempatan iklan produk tertentu saat jeda debat tersebut. Hal ini terutama karena produk-produk yang hadir di jeda iklan tersebut memiliki pola-pola tersendiri.</p>
<p>Lalu, apakah sebenarnya yang tergambar dari penempatan iklan-iklan tersebut saat kamera tak menyorot kandidat? Apakah iklan-iklan tersebut hanya lewat begitu saja atau menjadi refleksi dari hal spesifik tertentu?</p>
<h4><strong>Waktu Menaruh Iklan</strong></h4>
<p>Debat presiden ternyata menjadi salah satu waktu di mana para pengiklan mau mengeluarkan banyak dana untuk mempromosikan produknya. Jika tidak percaya, tengok saja bagaimana praktik yang terjadi di Amerika Serikat (AS).</p>
<p>Berdasarkan artikel yang ditulis di laman <a href="https://www.washingtonpost.com/news/business/wp/2016/09/27/how-advertisers-turned-the-presidential-debate-into-a-new-super-bowl/">Washington Post</a>, debat presiden yang ditayangkan di televisi merupakan salah satu momen bagi pengiklan untuk menempatkan promosi produk mereka. Layaknya  jeda di kala pertandingan <em>football</em> dalam tajuk Super Bowl, debat capres di AS boleh jadi setara gelaran olahraga spektakuler tersebut dalam konteks politik.</p>
<p>Sebenarnya, debat capres di AS tak serupa dengan yang terjadi di Indonesia. Meski disiarkan secara langsung oleh stasiun-stasiun televisi, panggung tersebut tak menyediakan jeda iklan. Meski demikian, hal ini tak menghentikan para pengiklan untuk mempromosikan produk-produk mereka.</p>
<p>Ada beragam produk yang hadir di iklan-iklan jelang dan pasca pertunjukan debat capres di negeri Paman Sam tersebut. Produk-produk seperti layanan keuangan, mobil, bir, hingga film-film menjadi iklan yang mendominasi di waktu-waktu tersebut.</p>
<p>Tentu ada alasan mengapa para pengiklan tersebut mau berusaha menjual produk-produk mereka di masa debat capres. Pada tahun 1980, misalnya 80 juta pasang mata menjadi saksi debat antara Jimmy Carter dan Ronald Reagan. Selain itu, pada tahun 2012, dua debat pertama antara Barack Obama dan Mitt Romney rata-rata ditonton oleh 66 juta pemirsa.</p>
<p>Jika uang yang menjadi hitungannya, stasiun-stasiun televisi juga meraup cukup banyak uang dari belanja para pengiklan tersebut. Angka yang dipatok untuk menaruh promosi produk sebelum dan sesudah debat tersebut lebih dari US$ 200 ribu (Rp 2,8 miliar) untuk iklan selama 30 detik.</p>
<p>Begitu besarnya belanja iklan di masa debat presiden ini membuat <a href="https://www.adweek.com/tv-video/presidential-debates-could-bring-largest-audience-ever-173640/">Paul Rittenberg</a>, seorang eksekutif iklan untuk Fox News menyebut bahwa ini adalah semacam Super Bowl untuk stasiun televisi seperti mereka. Hal ini merujuk pada potensi penonton debat capres di tahun 2016 yang diprediksi mencapai, 90-100 juta penonton, setara dengan Super Bowl.</p>
<h4><strong>Berlomba Pasang Iklan</strong></h4>
<p>Hal serupa tampak terjadi dalam debat capres dan cawapres di Indonesia. Banyak produk berlomba-lomba untuk mendapatkan slot iklan di gelaran politik lima tahunan tersebut. Satu hal yang membuatnya berbeda dengan kondisi di AS adalah adanya jeda iklan di antara segmen debat capres dan cawapres di Indonesia.</p>
<p>Berdasarkan data dari Adstensity, sebagaimana dikutip oleh <a href="https://www.indotelko.com/read/1550798312/debat-capres-stasiun-tv-iklan">Indotelko</a>, belanja iklan di gelaran debat capres dan cawapres memang cukup tinggi. Pada debat pertama, belanja iklan tersebut mencapai Rp 118,03 miliar pada 7 stasiun televisi nasional.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BvMERRoAa3v/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BvMERRoAa3v/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BvMERRoAa3v/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Tidak hanya kandidat, iklan komersil pun butuh panggung saat acara debat Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #iklandebatcawapres #debatcawapres #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-03-19T11:39:58+00:00">Mar 19, 2019 at 4:39am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Angka tersebut mengalami lonjakan pada gelaran kedua. Di debat yang hanya melibatkan kandidat presiden tersebut, total belanja iklan mencapai Rp 339,14 miliar pada 11 stasiun televisi nasional.</p>
<p>Tak hanya itu, perolehan pendapatan yang diperoleh dari iklan di debat tersebut mencapai Rp 457,17 miliar dari dua kali penyelenggaraan debat. Beberapa televisi bahkan menikmati pendapatan iklan dengan persentase cukup besar melalui hal tersebut.</p>
<p>Jika diperhatikan, ada beberapa produk yang tersaji di layar penonton ketika debat masuk ke jeda iklan. Merujuk pada <a href="https://www.indotelko.com/read/1550798312/debat-capres-stasiun-tv-iklan">Indotelko</a>, pada debat pertama, produk-produk yang memasuki 10 besar jumlah iklan berasal dari KPU, air mineral, cat pelapis bocor, pipa, keuangan, rokok, otomotif, yogurt, zat pembersih, dan kopi.</p>
<p>Hal yang mirip terjadi juga pada debat kedua. Sepuluh besar produk pembelanja iklan di debat capres ini di antaranya popok bayi, KPU, yogurt, obat-obatan, mie instan, cat pelapis bocor, susu, telekomunikasi, mobil, dan rokok.</p>
<p>Merujuk pada temuan tersebut, terlihat bahwa ada beberapa jenis produk yang secara konsisten masuk ke jeda-jeda iklan pada debat capres. Industri-industri yang dua kali masuk 10 besar pembelanja iklan tersebut di antaranya cat pelapis bocor, yogurt, mobil dan juga rokok. Berdasarkan kondisi tersebut, boleh jadi ada hal yang bisa tergambar dari penempatan iklan-iklan tersebut.</p>
<h4><strong>Kelas yang Menjadi Kunci</strong></h4>
<p>Terlihat bahwa produk-produk yang menaruh iklan ketika debat capres dan cawapres seperti mengincar kelompok kelas tertentu. Dalam konteks tersebut, kelas menengah ke atas boleh jadi adalah kelompok yang diincar oleh produk-produk tersebut. Produk seperti olahan susu, jasa keuangan, dan <em>home improvement</em> boleh jadi bukan kebutuhan dari masyarakat bawah kebanyakan.</p>
<p>Tak hanya itu,terlihat bahwa produk mobil juga belanja iklan cukup jor-joran di gelaran tersebut. Jika melihat rentang harganya, kedua produk mobil yang hadir di jeda iklan memang tergolong sulit disentuh masyarakat bawah. Secara pola, para pelaku usaha industri otomotif memang terlihat menjadikan debat sebagai peluang bagi mereka. Hal ini terlihat dari fakta bahwa hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di AS.</p>
<p>Jika melihat pada rating televisi yang dilansir dari laman Tempo, pada etimasi kelas <em>Upper Middle</em>, tayangan debat capres meraup posisi 2 dengan TVR 3,5 dan share 13,9. Memang, ini masih kalah dari televisi yang menayangkan program hiburan. Akan tetapi, rating tersebut menggambarkan bahwa acara debat capres memang menjadi magnet bagi masyarakat kelas menengah.</p>
<hr /><p><em>Debat capres menjadi panggung tersendiri bagi para pengiklan</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fiklan-debat-capres-untuk-siapa%2F&#038;text=Debat%20capres%20menjadi%20panggung%20tersendiri%20bagi%20para%20pengiklan&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, dapat diasumsikan bahwa panggung debat beberapa waktu terakhir ini cenderung disaksikan oleh masyarakat kelas menengah. Para pengiklan tentu sudah melakukan riset tentang segmentasi masyarakat penonton debat dan boleh jadi hasilnya kelas menengahlah yang paling banyak menonton acara tersebut.</p>
<p>Kelas menengah sendiri kerap dianggap sebagai kelas yang menjadi penentu dari hasil Pemilu. Christophe Jaffrelot misalnya menyebut bahwa kemampuan untuk mengkapitalisasi kelas menengah dan kelas menengah baru dapat memberikan kemenangan pada suatu kandidat.</p>
<p>Sementara itu, dalam konteks Indonesia, kelas menengah ini dianggap sebagai kelompok yang menggerakkan aktivisme politik di Tanah Air. Hal ini disebutkan dalam penelitian yang dibuat oleh <a href="https://www.researchgate.net/publication/317366260_Aktivisme_Kelas_Menengah_Berbasis_Media_Sosial_Munculnya_Relawan_dalam_Pemilu_2014">Wasisto Raharjo Jati</a>. Ini misalnya tergambar dari aktivisme kelas tersebut pada Pilpres 2014.</p>
<p>Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat bahwa kelas menengah menjadi kelompok masyarakat yang paling diharapkan memberi pengaruh di Pemilu 2019. Gelaran debat bisa saja diharapkan mampu membuat kelas ini mau memilih dan dalam kadar tertentu menyebarkan pilihannya tersebut.</p>
<p>Lalu, bagaimana suara kelas menengah ini akan berlabuh? Apakah kandidat nomor urut 01 atau 02? Jawabannya mungkin baru akan tersaji di 17 April nanti. (H33)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Ycp-w4NLfmU"><iframe width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Ycp-w4NLfmU?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/03/akhir-debat-capres-2019-antarafoto_ratio-16x9-1024x577.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>TKN Jokowi Nonton Iklan Shampoo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/tkn-jokowi-nonton-iklan-shampoo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G42]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2018 10:21:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[TKN Jokowi Ma'ruf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=40240</guid>

					<description><![CDATA[“Hari ini aku tidak akan memikirkan makna luhur dari tulisanku. Aku hanya akan menulis kalimat berikut, dan berikutnya.” ~ Robert Stone PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]eluruh jajaran tim kampanye Jokowi-Ma&#8217;ruf dilarang melakukan praktik kampanye negatif terhadap kandidat lain. Anggota tim kampanye yang melanggar akan dikenakan sanksi. Hmmm, yakin enggak akan ada kampanye negatif? Iklan shampoo saja melakukan hal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Hari ini aku tidak akan memikirkan makna luhur dari tulisanku. Aku hanya akan menulis kalimat berikut, dan berikutnya.” ~ Robert Stone</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]eluruh jajaran tim kampanye Jokowi-Ma&#8217;ruf dilarang melakukan praktik kampanye negatif terhadap kandidat lain. Anggota tim kampanye yang melanggar akan dikenakan sanksi.</p>
<p><em>Hmmm, </em>yakin enggak akan ada kampanye negatif? Iklan <em>shampoo</em> saja melakukan hal demikian dan nyinggung produk lain, masa sih kampanye buat jadi presiden terhindar dari isu negatif? <em>Ahahaha.</em></p>
<p>Kalau kata Anggun ‘melambung jauh terbang tinggi’ dalam satu iklan <em>shampoo-</em>nya:</p>
<p>“Aku diminta jadi duta shampoo lain? Hah! <em>Wkwkwk! </em>Nanti ketombe balik lagi dong? <em>Uppss…</em>&#8221;</p>
<p>Nah, mungkin ini perkataan dari tim sukses Jokowi di Pilpres 2019 saat diminta untuk kampanye positif tentang Prabowo:</p>
<p>“Aku diminta baik-baikin Prabowo? Hah! <em>Wkwkwk! </em>Nanti malah dibilang mendukung Indonesia makin otoriter dan kapitalis lagi. <em>Uppss…</em>”</p>
<p>Bercanda ya <em>ehehehe.</em> <em> </em></p>
<p>Intinya menurut Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf, Hasto Kristiyanto jajaran timnya dilarang berbicara negatif tentang Prabowo-Sandi. Jadi bicaranya yang positif-positif saja. Begini ya contohnya:</p>
<p>Projo: “Jangan sampai kalian menyebarkan isu kalau Prabowo diktaktor dan <em>gak</em> becus jadi pemimpin ya! Begitupun dengan Sandi, jangan sampai kita bilang kalau doi pemimpin gagal di Jakarta dan tidak amanah. Apalagi kalau kita sampai bilang Sandi kapitalis, terus sebarin fakta kalau Sandi itu banyak bicara, tapi kerja enggak ada! Awas ya enggak boleh loh!”</p>
<p>Agen Projo: “Ok siap<em>,</em> jadi intinya saya sebarin kalau Prabowo itu enggak diktaktor, tapi kurang demokratis. Terus untuk Sandi, orangnya pro rakyat tapi sedikit kapitalis, abis itu Sandi juga orangnya bukan pendiam, kerjanya bagus, tapi belum terbukti. Gitu ya kira-kira <em>cuy</em>?” <em>Wkwkwkwk.</em></p>
<p>Oh iya, Hasto juga bilang pemikiran dan tindakan negatif hanya menghasilkan efek destruktif pada masa depan bangsa, termasuk juga penyebaran hoaks yang akan menjadi racun peradaban bangsa dan mematikan alam pikir demokrasi Pancasila. <em>Widih.</em></p>
<p>Bukannya ideologi Pancasila zaman partai <em>wong cilik </em>berkuasa ini enggak kelihatan juga realisasinya pak? Berani-beraninya singgung Pancasila, dimarahin ayahnya ketum loh! Katanya Marhaenisme sayap kiri, kok sistem yang dibangun neolib abis pak? <em>Uppsss..</em></p>
<p>Gimana menurut kalian<em>?</em> Apakah yakin rezim sekarang Pancasila banget? Atau rezim sekarang Pancasila aja?</p>
<p><em>Ah bodo</em> <em>amat</em> deh, mau Pancasila kek, mau neolib kek, mau Demokrasi Pancasila kek, apaan aja deh terserah elite politik. Kita mah apa <em>atuh,</em> cuman rumput kering yang biasa terhempas angin sorga doang! <em>Ckckck.</em></p>
<p>Yang penting mah 2019 enggak ada kampanye hitam, hoaks, dan fitnah aja udah seneng. Pendukung masing-masing calon emang kudu nonton iklan <em>shampoo, </em>biar membahana kayak Anggun. Betul apa betul?</p>
<hr /><p><em>Eh jangan betul-betul aja cuy, kalian juga jangan ikutan jadi fanatik yang fatalis ya! Inget nih ungkapannya Nelson Mandela:</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Ftkn-jokowi-nonton-iklan-shampoo%2F&#038;text=Eh%20jangan%20betul-betul%20aja%20cuy%2C%20kalian%20juga%20jangan%20ikutan%20jadi%20fanatik%20yang%20fatalis%20ya%21%20Inget%20nih%20ungkapannya%20Nelson%20Mandela%3A&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>“Untuk bebas tidak hanya membuang satu rantai, tetapi untuk hidup dalam rasa saling menghargai dan memperbesar kebebasan orang lain.” (G35)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/2092cba9-dd3f-4186-91c4-7eb814ffcc0f_169.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
