<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>ijazah &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/ijazah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Apr 2026 08:37:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>ijazah &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sentil Tumit “Pria Solo Itu”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sentil-tumit-pria-solo-itu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Pria Solo Itu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168891</guid>

					<description><![CDATA[
Polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang “menyeret” Jusuf Kalla membuka pertanyaan lebih dalam, seberapa kokoh pengaruh pasca-kekuasaan? Di balik jejaring luas dan loyalitas yang tampak solid, tersimpan celah-celah rapuh. Seperti Achilles, kekuatan terbesar kerap menyimpan titik lemah, menunggu sentilan waktu dan perubahan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jokowi-1-btdtp6h6-full.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang “menyeret” Jusuf Kalla membuka pertanyaan lebih dalam, seberapa kokoh pengaruh pasca-kekuasaan? Di balik jejaring luas dan loyalitas yang tampak solid, tersimpan celah-celah rapuh. Seperti Achilles, kekuatan terbesar kerap menyimpan titik lemah, menunggu sentilan waktu dan perubahan.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Polemik ijazah yang kembali menyeret nama Joko Widodo bukan sekadar riak kecil dalam ruang publik. Ia telah menjelma menjadi semacam <em>entry point</em> bagi diskursus yang lebih dalam, tentang bagaimana seorang mantan presiden tetap menjadi pusat gravitasi politik nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, ketika nama Jusuf Kalla ikut terseret dalam pusaran perdebatan, kita menyaksikan bahwa isu ini bukan lagi soal verifikasi administratif, melainkan soal legitimasi, persepsi, dan daya tahan pengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik modern, isu-isu simbolik sering kali lebih kuat daripada fakta material. Ijazah, dalam hal ini, bukan sekadar dokumen, melainkan metafora tentang asal-usul, keabsahan, dan narasi “orang biasa” yang selama ini menjadi fondasi populisme Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika fondasi simbolik ini digoyang, yang diuji bukan hanya kebenaran faktual, tetapi juga daya tahan konstruksi citra yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, untuk memahami mengapa polemik ini terasa signifikan, kita perlu melangkah lebih jauh: melihat Jokowi bukan lagi sebagai individu, melainkan sebagai arsitektur kekuasaan pasca-jabatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka Michel Foucault, kekuasaan tidak berhenti ketika jabatan berakhir, ia menyebar, meresap, dan beroperasi melalui jaringan relasi yang sering kali tak kasat mata. Jokowi, dengan demikian, bukan sekadar mantan presiden, tetapi simpul dalam jejaring kekuasaan yang melintasi partai, birokrasi, hingga entitas ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah polemik ijazah menemukan relevansinya: ia menjadi salah satu pintu untuk menguji apakah jaringan kekuasaan tersebut memiliki titik rapuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam mitologi Yunani, Achilles, pahlawan yang nyaris tak terkalahkan, tetap memiliki satu titik lemah, yakni tumitnya. Analogi ini menjadi pisau analisis yang menarik. Pertanyaannya bukan lagi apakah Jokowi kuat, melainkan, di mana letak tumit Achilles-nya?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Anatomi Kekuatan Jokowi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami kemungkinan kelemahan, kita harus terlebih dahulu membedah sumber kekuatan. Jokowi adalah anomali dalam lanskap politik Indonesia, bukan berasal dari militer, bukan pula dari oligarki bisnis. Ia lahir dari populisme lokal, dibesarkan oleh partai, dan kemudian membangun kekuatannya sendiri melalui kekuasaan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama dua periode kepemimpinannya, ia tidak hanya memerintah, tetapi juga merajut jaringan. Dalam perspektif Mark Granovetter, kekuatan sosial tidak terletak pada individu, melainkan pada keterikatan relasional, <em>embeddedness</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jokowi tampaknya memahami ini dengan baik. Ia seolah tidak membangun dominasi ideologis yang kaku, melainkan fleksibilitas relasional, menjalin kedekatan dengan berbagai aktor, dari birokrat hingga pelaku bisnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah paradoks muncul. Jaringan yang luas adalah sumber kekuatan, tetapi juga potensi kerentanan. Loyalitas yang dibangun di atas akses terhadap sumber daya seperti proyek, jabatan, atau kedekatan kekuasaan cenderung bersifat transaksional. Ketika akses itu berkurang, loyalitas pun menjadi cair.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era pemerintahan Prabowo Subianto, dinamika ini menjadi semakin relevan. Jokowi tidak lagi memegang kendali langsung atas distribusi sumber daya negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eks Wali Kota Solo itu mungkin masih memiliki pengaruh, tetapi pengaruh itu kini bergantung pada keselarasan dengan kekuasaan formal yang baru. Dalam kondisi seperti ini, jaringan yang sebelumnya solid dapat mengalami apa yang dalam teori jaringan disebut sebagai fragmentasi internal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, ekspansi pengaruh Jokowi ke berbagai sektor—politik, birokrasi, hingga keluarga melalui figur seperti Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep—menciptakan apa yang bisa disebut sebagai overextension.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sejarah kekuasaan, ekspansi yang terlalu luas sering kali diikuti oleh kesulitan dalam menjaga kohesi. Agen-agen dalam jaringan tidak selalu bergerak dalam satu arah, mereka memiliki kepentingan masing-masing, yang sewaktu-waktu dapat bertabrakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, legitimasi publik yang selama ini menjadi kekuatan utama Jokowi juga tidak bersifat statis. Narasi “orang biasa” yang berhasil menembus puncak kekuasaan adalah aset simbolik yang kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ketika narasi itu mulai dipertanyakan, baik melalui polemik ijazah maupun kritik terhadap dinasti politik, maka yang terancam bukan hanya citra, tetapi juga fondasi moral dari pengaruh tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, kekuatan Jokowi hari ini adalah kombinasi dari jaringan, loyalitas, dan legitimasi. Tetapi ketiganya memiliki satu kesamaan, yakni mereka bergantung pada kondisi yang dapat berubah.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2.png" alt="paradoks jokowi lebih sejahtera era sby (2)" class="wp-image-167263" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/paradoks-jokowi_-lebih-sejahtera-era-sby-2-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menyentil Tumit Achilles?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kekuasaan Jokowi bersifat jaringan, maka cara melemahkannya tidak bisa melalui konfrontasi langsung. Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan semacam ini tidak runtuh karena diserang dari luar, melainkan karena mengalami erosi dari dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, konsep Achilles’ Heel menjadi relevan bukan sebagai titik lemah tunggal, melainkan sebagai kumpulan kerentanan struktural.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, ketergantungan pada insentif kekuasaan. Tanpa kontrol langsung atas sumber daya negara, kemampuan untuk mempertahankan loyalitas akan menurun.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, fragmentasi internal jaringan, di mana konflik antar-aktor dapat melemahkan kohesi. <em>Ketiga</em>, delegitimasi publik, yang secara perlahan mengikis kepercayaan dan dukungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polemik ijazah, dalam hal ini, bisa dilihat sebagai salah satu bentuk “sentilan” terhadap tumit tersebut. Ia mungkin tidak cukup kuat untuk meruntuhkan, tetapi mampu mengganggu stabilitas narasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalam politik, gangguan kecil yang berulang sering kali lebih efektif daripada serangan besar yang sesaat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, keberadaan rezim baru juga memainkan peran penting. Dalam banyak kasus global, mantan pemimpin yang tetap berpengaruh sering kali menghadapi batas ketika kepentingannya tidak lagi sejalan dengan penguasa aktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara, dengan seluruh instrumennya, memiliki kapasitas untuk merestrukturisasi jaringan kekuasaan lama, baik secara halus maupun terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang paling menentukan adalah waktu. Kekuasaan pascajabatan memiliki siklus, ia naik, menyebar, lalu perlahan menyusut. Bukan karena ia kalah, tetapi karena kondisi yang menopangnya berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka ini, Jokowi tidak harus “dikalahkan”, cukup dengan membiarkan dinamika politik berjalan, maka jaringan yang bergantung pada momentum dan akses akan menemukan batasnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih tepat adalah, apakah jaringan yang dibangun, Jokowi mampu bertahan tanpa fondasi kekuasaan formal? Jika jawabannya tidak, maka erosi adalah keniscayaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di situlah makna sesungguhnya dari menyentil tumit Achilles, bukan jatuh seketika, tetapi membuka jalan bagi proses peluruhan yang tak terelakkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebab dalam politik, seperti dalam mitologi, tidak ada yang benar-benar kebal, hanya ada yang belum menemukan titik lemahnya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="_hNA5x7guLo"><iframe title="Kata Pemred: Di Saat Dunia Menarik Diri" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/_hNA5x7guLo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jokowi-1-btdtp6h6-full.mp3" length="2481332" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/jokowi-tegaskan-dukungan-penuh-untuk-psi-03102025-225823-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Chill! Jangan Benturkan SBY-Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 02:35:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrat]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166675</guid>

					<description><![CDATA[Yuk adem yuk&#160; #sby #jokowi #ijazah #demokrat #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166678" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-819x1024.png" alt="chill! jangan benturkan sby jokowi" class="wp-image-166678" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166679" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-819x1024.png" alt="chill! jangan benturkan sby jokowi (2)" class="wp-image-166679" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166680" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-819x1024.png" alt="chill! jangan benturkan sby jokowi (3)" class="wp-image-166680" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yuk adem yuk&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f343/72.png" alt="🍃" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f1ee_1f1e9/72.png" alt="🇮🇩" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#sby #jokowi #ijazah #demokrat #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/chill-jangan-benturkan-sby-jokowi-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Roy Suryo, dr Tifa cs Tersangka</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 04:22:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[drtifa]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[roysuryo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165572</guid>

					<description><![CDATA[Semakin menarik drama per-ijazah-an ini?&#160; #breakingnews #roysuryo #drtifa #polri #gibran #ijazah #jokowi #reels #shorts #fyp #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-819x1024.png" alt="roy suryo, dr tifa cs tersangka 1" class="wp-image-165575" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-819x1024.png" alt="roy suryo, dr tifa cs tersangka 2" class="wp-image-165576" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-819x1024.png" alt="roy suryo, dr tifa cs tersangka 3" class="wp-image-165577" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Semakin menarik drama per-ijazah-an ini?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f914/72.png" alt="🤔" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#breakingnews #roysuryo #drtifa #polri #gibran #ijazah #jokowi #reels #shorts #fyp #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi &#038; UGM Political Lab?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-ugm-political-lab/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2025 12:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjar Pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=160052</guid>

					<description><![CDATA[Gaduh ijazah UGM Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang selalu timbul-tenggelam membuka interpretasi bahwa isu tersebut adalah "kuncian" tertentu dalam sebuah setting manajemen isu. Akan tetapi, variabel UGM sendiri juga sangat menarik, mengingat sebuah kampus nyatanya dapat menjadi inkubator bagi aktor politik di masa depan mengaktualisasikan idenya mengenai negara.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/ugm-1-cpaxw0kn.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Gaduh ijazah UGM Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang selalu timbul-tenggelam membuka interpretasi bahwa isu tersebut adalah &#8220;kuncian&#8221; tertentu dalam sebuah setting manajemen isu. Akan tetapi, variabel UGM sendiri juga sangat menarik, mengingat sebuah kampus nyatanya dapat menjadi inkubator bagi aktor politik di masa depan mengaktualisasikan idenya mengenai negara.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Polemik seputar keabsahan ijazah sarjana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tampaknya menjadi fenomena sosial-politik yang menarik untuk ditelaah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun UGM secara resmi telah mengonfirmasi keabsahan ijazah tersebut, narasi minor yang mempertanyakan keotentikan dokumen akademik itu terus bermunculan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rekan-rekan semasa kuliah Jokowi, baik dosen maupun teman seangkatan, telah memberikan kesaksian yang menegaskan keberadaannya sebagai mahasiswa UGM. Namun demikian, gelombang keraguan tak kunjung surut—didukung oleh investigasi mandiri netizen yang sering kali lemah secara metodologis namun kuat dalam efek viral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini memperlihatkan kompleksitas ruang publik Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh budaya digital dan dinamika politik elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tuduhan-tuduhan tersebut, meskipun seringkali tidak berdasar, tetap memiliki efek disrupsi terhadap opini publik. Dalam wacana komunikasi politik, ini dapat dilihat sebagai strategi <em>agenda setting</em> atau <em>issue management</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini, isu akademik menjadi kendaraan untuk menggiring perhatian publik pada narasi yang lebih besar: kredibilitas dan integritas seorang tokoh politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedikit berbeda konteks, di balik narasi ini, muncul pertanyaan yang lebih tak kalah menarik dan mendalam, yakni mengapa UGM, sebagai sebuah institusi pendidikan, mampu menghasilkan tokoh-tokoh penting dalam lanskap politik nasional?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Inkubator &#8220;<em>Angles</em>&#8221; and &#8220;<em>Demons</em>&#8220;?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya Jokowi, UGM juga merupakan almamater dari beberapa kandidat presiden dan pejabat tinggi lain seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Pratikno, Mahfud MD, dan lain-lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ini semata kebetulan? Ataukah UGM memiliki struktur, budaya, atau ekosistem tertentu yang melahirkan pemimpin nasional? Bagaimana dengan komparasinya di negara lain?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk menjawab pertanyaan ini, pendekatan <em>Institutional Reproduction Theory</em> dari Pierre Bourdieu, khususnya konsep <em>habitus</em>, <em>field</em>, dan <em>capital </em>agaknya tepat untuk digunakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bourdieu melihat institusi pendidikan tinggi sebagai arena (<em>field</em>) di mana nilai-nilai, pengetahuan, dan jejaring sosial terbentuk dan direproduksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa tidak hanya menerima pengetahuan akademik, tetapi juga menginternalisasi norma, nilai, dan logika kekuasaan yang beroperasi di dalam institusi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">UGM, sebagai salah satu universitas tertua dan paling prestisius di Indonesia, memainkan peran penting dalam membentuk <em>habitus</em> politik para mahasiswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai universitas negeri yang kuat dalam bidang sosial-politik dan hukum, UGM menyediakan ruang diskursus politik yang dinamis, baik secara formal melalui perkuliahan dan organisasi mahasiswa, maupun secara informal melalui dinamika sosial antarindividu dan kelompok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konseptual, pendekatan <em>Political Socialization</em> juga relevan. Proses sosialisasi politik di kalangan mahasiswa menjadi titik krusial dalam pembentukan orientasi politik yang kelak akan dibawa ke dalam kehidupan profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lingkungan kampus yang plural, wacana politik yang terbuka, serta kultur intelektual yang kritis memberikan landasan kuat bagi tumbuhnya kader-kader pemimpin bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">UGM juga dikenal memiliki tradisi kuat dalam aktivisme mahasiswa, baik melalui gerakan ekstra kampus seperti HMI, GMNI, dan PMII, maupun lewat forum-forum diskusi internal kampus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tokoh-tokoh seperti Jokowi, Anies, maupun Ganjar menempuh masa kuliah dalam atmosfer yang sarat dengan pergolakan politik dan dinamika sosial. Inilah yang menjadikan UGM bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga <em>laboratorium politik</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, konsep <em>political opportunity structure</em> yang dalam kajian gerakan sosial juga bisa digunakan sebagai basis perspektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">UGM sebagai institusi memiliki posisi strategis dalam lanskap politik nasional, yakni dekat dengan pusat kekuasaan &#8220;tradisional&#8221; Yogyakarta, memiliki akses ke elite pemerintahan, serta berada dalam ekosistem jaringan akademik yang kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keseluruhan kondisi ini menciptakan peluang politik bagi para mahasiswa dan alumninya untuk menapaki tangga kekuasaan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1281" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi.jpg" alt="pratikno menteri super jokowi" class="wp-image-142621" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-253x300.jpg 253w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-863x1024.jpg 863w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-126x150.jpg 126w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-768x911.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-150x178.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-300x356.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-696x826.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/pratikno-menteri-super-jokowi-1068x1267.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Alumni <em>Matters</em>?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks global, UGM dapat dibandingkan dengan universitas-universitas elite di negara demokrasi maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Di AS, Harvard University, Yale, Princeton, dan Stanford merupakan contoh utama dari universitas yang berperan sebagai produsen elite politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barack Obama (Harvard Law School), George W. Bush (Yale), Bill Clinton (Georgetown dan Oxford), serta John F. Kennedy (Harvard) adalah contoh bagaimana universitas tersebut menjadi semacam “jalur cepat” menuju posisi puncak dalam pemerintahan. Tentu, ditopang dengan variabel lain yang lebih kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam studi berjudul <em>Pedigree: How Elite Students Get Elite Jobs</em>, menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi elite di Amerika tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menawarkan jejaring sosial (<em>social capital</em>) dan kredensial (<em>symbolic capital</em>) yang sangat dihargai dalam politik dan bisnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini menunjukkan paralel yang jelas dengan peran UGM di Indonesia, yaitu sebagai institusi yang tidak hanya membentuk kompetensi teknis, tetapi juga menyediakan “<em>platform</em> reputasi” dan jejaring strategis bagi alumni untuk masuk ke dunia politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Inggris, Oxford dan Cambridge (Oxbridge) dikenal sebagai <em>nursery of prime ministers</em>. Tokoh seperti Tony Blair, David Cameron, Theresa May, dan Boris Johnson adalah alumni dari universitas tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya debat, eksistensi klub-klub diskusi seperti Oxford Union, dan tradisi panjang keterlibatan mahasiswa dalam urusan kenegaraan menjadikan universitas sebagai wahana politisasi yang efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke konteks Indonesia, pola seperti itu juga tampak. Tokoh-tokoh dari UGM tidak hanya memiliki latar akademik yang kuat, tetapi juga keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, serta diskusi-diskusi yang kritis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, banyak dari mereka memiliki koneksi personal dengan dosen atau sesama mahasiswa yang kelak menduduki posisi penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini menguatkan argumen bahwa kampus bukan hanya “sekolah akademik”, tetapi juga <em>school of power</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang membedakan konteks Indonesia dengan negara-negara maju adalah tingginya tingkat politisasi pendidikan tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di AS dan Inggris, meskipun ada elitisme institusional, proses rekrutmen politik cenderung lebih meritokratis dan transparan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara di Indonesia, proses tersebut sering kali dibungkus dengan dinamika pragmatisme, oligarki, dan kooptasi institusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, UGM sebagai “political lab” Indonesia masih berhadapan dengan tantangan struktural. Terutama, seputar bagaimana menjaga integritas akademik sembari tetap relevan dalam dinamika kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika tidak hati-hati, reputasi sebagai penghasil elite politik justru bisa menjadi beban moral dan reputasional, terutama bila alumni yang naik ke puncak kekuasaan justru mengabaikan nilai-nilai luhur yang ditanamkan UGM, seperti kerakyatan, integritas, dan nalar kritis. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="KOPASSUS DALAM POLITIK-PEMERINTAHAN PRABOWO, KORSA-LOYALITAS HARGA MATI?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/2ISqE6qNFn4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/ugm-1-cpaxw0kn.mp3" length="5088555" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/jokowi-pratikno-1024x538.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi dan Setelah Sekian Wacana</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/jokowi-dan-setelah-sekian-wacana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2022 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah Palsu Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Reuni]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=117805</guid>

					<description><![CDATA[Presiden Jokowi akhirnya bertemu dengan teman-teman semasa kuliah di UGM. Apakah ini rencana reuni setelah sekian wacana?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengadakan sebuah reuni kecil dan bertemu dengan teman-teman semasa kuliahnya di kawasan Ambarukmo, Sleman, DI Yogyakarta. Apakah ini sebuah reuni yang biasa terjadi setelah sekian wacana? Ataukah ini sebuah reuni yang spesial?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa <em>sih</em> yang <em>nggak</em> rindu dan kangen dengan masa-masa saat masih sekolah atau kuliah dulu? Hampir semua dari kita yang kini sudah masuk ke generasi jompo pasti merindukan masa-masa yang lebih sederhana dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Gimana nggak</em>? Dulu, kita bisa lebih muda bertemu dengan teman-teman. Masa sekolah dan kuliah juga merupakan waktu yang tampaknya lebih sering kita habiskan bersama teman-teman kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehidupan kampus secara khusus, misalnya, menjadi wadah yang lebih luas di mana kita bisa membangun kapasitas diri yang sejalan dengan tujuan hidup kita. Ada beberapa dari kita yang akhirnya menjadi aktivis. Ada juga yang menempuh jalur untuk menjadi akademisi. Dan, ada juga yang akhirnya menempuh jalur karier – baik di pemerintahan atau swasta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, terlepas apa pun pilihan yang diambil, semua itu bisa ditanggalkan ketika semua kembali berkumpul mengenang masa lalu – mulai dari drama-drama kecil antara senior dan junior hingga kisah percintaan yang tidak jarang melibatkan banyak teman lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang <em>sih</em>, urusan “ditanggalkan” menjadi mudah bila pernah punya memori kecil bersama. Namun, tetap saja, semua menjadi susah ketika sudah sibuk masing-masing. Sederhananya, mudah untuk ditanggalkan ketika bertemu tetapi sulit untuk di-tanggal-kan guna bertemu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, coba bayangkan <em>aja</em>. Meski hati sudah rindu untuk bertemu, jadwal masing-masing kerap susah untuk dipertemukan. Alhasil, koar-koar untuk reuni biasanya hanya menjadi wacana dan angin lalu saja.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/w2B8floIgfs3SYRGu2_SYfHxEyvF4D84V2AuTWxEnwODMstW-1CAgj_c2lxjMep_EqzxVfbv6lL978eM036o5Rpsjn4OBdR1wU0IYGAYSjI13p8C3FoqpUz86Yx-egTwojH-eb5jqP4Hp3wDCPN4aY1r3WuLtQwE69xRy3tDX3AZAFHKzvYXupXQTxIR0Xtf_e5yeA" alt="Akhirnya Jokowi Reuni Ijazah Kuliah UGM Juga"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi, pernah <em>nggak sih</em> kalian tiba-tiba bertemu dengan teman lama tanpa direncanakan dari jauh-jauh hari? <em>Kayak</em>, rencana yang biasanya sudah lama dibuat malah gagal terlaksana. Justru, rencana yang dibuat mendadak alias <em>last minutes</em> malah terwujud <em>beneran</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, mungkin <em>nih</em>, kasus yang sama terjadi pada Presiden <strong><a href="http://pinterpolitik.com/tag/joko-widodo/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Joko Widodo</a></strong> (Jokowi) dan teman-teman semasa kuliahnya di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebagai presiden, sudah pasti jadwal Pak Jokowi sangat padat. Jelas, untuk menyamakan jadwal, kompleksitas untuk bisa bertemu makin menjadi-jadi <em>tuh</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, siapa sangka kalau ternyata Pak <strong><a href="http://pinterpolitik.com/tag/jokowi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Jokowi </a></strong>akhirnya bisa bertemu dengan mereka pada Minggu, 16 Oktober 2022 kemarin di kawasan Ambarukmo, Sleman, DI Yogyakarta – ya meskipun Pak Jokowi hanya bisa hadir sebentar. Langsung<em> dah</em>, sesi foto bersama akhirnya di-<em>upload</em> di akun Instagram.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Eits</em>, tapi <em>nih</em>, layaknya reuni pada umumnya, apakah ini semacam rencana mendadak yang akhirnya terwujud – dibandingkan dengan rencana yang sudah lama tapi malah gagal? Ataukah ada semacam alasan mendadak di baliknya? <em>Hmm</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, kita <em>sih</em> <em>nggak</em> tahu secara pasti ya – <em>wong</em> kita bukan teman-teman kuliahnya Pak Jokowi. Namun, akhir-akhir ini, ramai <em>tuh</em> isu soal gugatan atas ijazah palsu Pak Jokowi yang dilayangkan oleh Bambang Tri Mulyono di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari kemungkinan keterkaitan di reuni tersebut, bukan <em>nggak </em>mungkin <em>sih</em> kalau isu gugatan itu menimbulkan diskursus di masyarakat. Mengacu pada tulisan The Aspen Institute yang berjudul <em>Questions of Legitimacy</em>, pertanyaan-pertanyaan ini bisa berujung pada keraguan atas legitimasi pemimpin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, kunci utama dari sebuah pemerintahan adalah legitimasi karena, dari legitimasi itulah, timbul kredibilitas dan kepercayaan masyarakat pada pemerintahnya. Bukan begitu, <em>guys</em>? (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="0CYzY9vJMZA"><iframe loading="lazy" title="Ini Kenapa Minyak Bumi Tak Akan Tergantikan" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/0CYzY9vJMZA?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/Jokowi-dan-Setelah-Sekian-Wacana-1024x682.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
