<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>HM &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/hm/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Mar 2018 11:34:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>HM &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cadar di Simpang Budaya</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cadar-di-simpang-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2018 11:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[cadar]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[HM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=23554</guid>

					<description><![CDATA[Mengapa harus ribut mengurus cadar? PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]iapapun pasti bakal resisten atau mencoba mempertahankan diri bila dikenai suatu larangan. Begitu pula yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswi bercadar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu (7/3) lalu. Beberapa waktu sebelumnya, pihak UIN Sunan Kalijaga mengeluarkan surat edaran yang melarang mahasiswinya memakai cadar atas alasan pencegahan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><b>Mengapa harus ribut mengurus cadar?</b></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d1db00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[dropcap]S[/dropcap]iapapun pasti bakal resisten atau mencoba mempertahankan diri bila dikenai suatu larangan. Begitu pula yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswi bercadar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Rabu (7/3) lalu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa waktu sebelumnya, pihak UIN Sunan Kalijaga mengeluarkan surat edaran yang melarang mahasiswinya memakai cadar atas alasan pencegahan ideologi anti Pancasila. Jika ada pihak yang menolak berubah dan mengikuti peraturan, maka pihak universitas tak sungkan mengeluarkannya dari kampus. Kontan saja edaran itu melahirkan pro dan kontra, baik di kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga sendiri maupun masyarakat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga langsung melakukan aksi protes, sambil tak lupa meminta pihak kampus turut membina dan menertibkan pakaian mahasiswa yang tidak bercadar. Permintaan itu, bagi para mahasiswi bercadar, adalah bentuk ganti diskriminasi yang menimpa mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bila ditelisik kembali, alasan pihak kampus melarang cadar hanyalah karena kekhawatiran berkembangnya aliran radikalisme dan kesulitan mengenali mahasiswinya saat ujian. Tindakan ini bisa dikatakan gegabah bila tak mau disebut sembrono. Bagaimana tidak? Saat mengeluarkan kebijakan, pihak kampus tidak melakukan perundingan terlebih dahulu yang melibatkan seluruh sivitas akademika. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kampus atau universitas, seyogyanya menjadi tempat di mana ilmu dan ideologi yang ada dipelajari dan didiskusikan secara intelektual. Siapapun bisa menuntut ilmu, terlepas dari apa yang dikenakan, ideologi yang dianut, orientasi seksual, bahkan kelas sosialnya. Dengan demikian, pelarangan cadar  – begitu pula mewajibkan bercadar – merupakan bentuk diskriminasi dan melanggar UUD 1945 pasal 28E ayat 1 dan 2. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun begitu, perlu pula kembali mempertanyakan dan menelusuri bagaimana fenomena serta polemik pemakaian cadar di Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan penganut Islam terbesar di dunia, apakah adopsi pemakaian cadar juga harus dilakukan begitu saja? Lantas bagaimana pula seharusnya kementerian keilmuan di Indonesia menyikapi polemik ini?</span></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-23556 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-1024x1024.jpg" alt="" width="696" height="696" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1-420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Larangan-Cadar-di-Kampus-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></p>
<p><b>Cadar: Versi Berbagai Mazhab</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bila membicarakan cadar, mustahil bila tidak mengaitkannya dengan ‘tabrakan’ budaya Timur Tengah dan Indonesia. Untuk mengawalinya, maka memahami peraturan pemakaian cadar dari beberapa </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab </span></i><span style="font-weight: 400;">(aliran atau pendapat intelektual Islam) tak bisa dihindarkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Islam mengenal empat </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang utama, yakni </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Di antara keempatnya, perintah yang mewajibkan atau menyuarakan dengan ‘keras’ pemakaian cadar adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> Hambali. Sementara </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> Syafi’i dan Maliki, memberi hukum </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (dikerjakan dapat pahala, ditinggalkan tak berdosa), bahkan </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> Maliki berpendapat bahwa menutup wajah hingga tersisa mata, merupakan perbuatan berlebihan (</span><i><span style="font-weight: 400;">ghuluw). </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Portal NU menyebutkan kalau perbedaan pandangan antar </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> tersebut, dipengaruhi oleh cara penerjemahan teks ayat dan </span><i><span style="font-weight: 400;">hadist</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dibandingkan dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> lainnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> Hambali memang memiliki hukum penerjemahan yang skriptual, ketat, dan konservatif. Ini pula disebutkan dalam buku </span><i><span style="font-weight: 400;">Zaadul Maasir </span></i><span style="font-weight: 400;">yang ditulis oleh Imam Abdul Faroj Al-Jauzi. Maka tak heran, pemakaian cadar dalam pandangan </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> Hambali diwajibkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Islam sendiri memerintahkan muslimah menutup auratnya, selain wajah dan telapak tangan (selain keduanya, dianggap aurat). Perintah tersebut terdapat dalam surat Annur ayat 31, Al Araf ayat 31, Al Ahzab ayat 59. Namun begitu, penggunaan cadar, hukumnya lebih banyak diatur oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan hingga saat ini, masih banyak <a href="http://nomosjournal.org/2012/01/the-hijab-as-cultural-edict-not-islamic-obligation/">diperdebatkan</a> oleh pakar Islam. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain masih diperdebatkan, penggunaan cadar yang hanya menyisakan kedua mata saja, oleh beberapa kalangan dianggap sebagai bentuk infiltrasi budaya Timur Tengah. Sumanto Al Qurtuby, pengajar Antropologi di Universitas King Fahd Arab Saudi, termasuk salah satu yang meyakininya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurutnya, penggunaan cadar (</span><i><span style="font-weight: 400;">niqab</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">burqa</span></i><span style="font-weight: 400;">) lahir dari budaya dan kondisi sosial Timur Tengah, jauh sebelum kelahiran Islam. Di Arab sendiri, misalnya, penggunaan cadar dipakai oleh berbagai umat agama tak hanya Islam. <a href="https://www.thenational.ae/uae/heritage/history-project-the-burqa-1.303584">Agama lain</a> juga menggunakannya, seperti Kristen Koptik, Katolik, Yahudi, hingga Buddha. Dengan demikian, cadar atau penutup wajah, tidak bisa begitu saja diartikan mewakili moralitas yang baik, kedewasaan, atau kualitas iman seseorang.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara itu, <a href="http://www.nu.or.id/post/read/18550/trend-mahasiswi-bercadar-ala-039ayat-ayat-cinta039">Abdul Mun’im Kholil</a>, jurnalis Indonesia yang bekerja di Mesir, bercerita bila muslimah yang ditemuinya di Mesir memakai cadar karena fungsinya, yakni melindungi dari debu dan supaya tak diganggu oleh lelaki. Abdul jarang menemukan perempuan Mesir bercadar atas alasan ideologi atau seperti yang diwajibkan oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">mazhab </span></i><span style="font-weight: 400;">Hambali.</span></p>
<h4><b>Usaha Memulihkan Nama? </b></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Terlepas dari fakta sejarah dan budaya yang ada, keputusan mengenakan cadar bagi sebagian perempuan muslim Indonesia, juga dianggap sebagai salah satu <a href="http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39442220">ekspresi spiritualitas</a> dalam beragama yang haknya dilindungi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tetapi sayangnya, cadar sudah lekat dengan stigma radikalisme. Kampus UIN Sunan Kalijaga sendiri sebetulnya sudah pernah membubarkan organisasi HTI yang diklaim berideologi radikal, bahkan sebelum negara melakukannya. Sang rektor, Yudian Wahyudi, merupakan salah satu saksi yang menguatkan pembubaran HTI di Pengadilan Tata Usaha (PTUN). Tak hanya itu, salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga, baru-baru ini juga resmi menjadi tersangka pendiri Muslim Cyber Army (MCA).</span></p>
<figure id="attachment_23558" aria-describedby="caption-attachment-23558" style="width: 480px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-23558 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Aksi-HTI-di-UIN-Sunan-Kalijaga-Yogyakar.jpg" alt="" width="480" height="360" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Aksi-HTI-di-UIN-Sunan-Kalijaga-Yogyakar.jpg 480w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Aksi-HTI-di-UIN-Sunan-Kalijaga-Yogyakar-300x225.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Aksi-HTI-di-UIN-Sunan-Kalijaga-Yogyakar-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Aksi-HTI-di-UIN-Sunan-Kalijaga-Yogyakar-265x198.jpg 265w" sizes="(max-width: 480px) 100vw, 480px" /><figcaption id="caption-attachment-23558" class="wp-caption-text">HTI di UIN Sunan Kalijaga (sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Bila melihat fakta di atas, sulit untuk tak mengaitkan keputusan kampus selaras dengan upaya membersihkan nama dari stigma kampus radikal. Hal ini sangat bisa dipahami, mengingat </span><i><span style="font-weight: 400;">branding</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang disuarakan oleh UIN Sunan Kalijaga adalah kampus islam toleran dan moderat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tetapi dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">branding</span></i><span style="font-weight: 400;"> demikian, tidakkah kesan kampus UIN Sunan Kalijaga malah menjadi paradoks? Jika toleran mengapa harus mendiskriminasi kelompok bercadar? Apakah tidak ada langkah lebih bijaksana untuk mengatur mahasiswa dan kegiatan di kampus?</span></p>
<h4><b>Tak Ada yang Berhak Larang</b></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Michel Foucault dalam bukunya berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Discipline and Punish, </span></i><span style="font-weight: 400;">pernah berkata</span> <span style="font-weight: 400;">bahwa kebebasan tubuh tidak diberikan begitu saja secara alamiah. Tubuh adalah arena kontestasi politik, ideologi, institusi, dan sosial yang terus tarik menarik dan mempengaruhi. Secara sederhana, Foucault berkata bahwa tubuh sebenarnya bisa dikekang dan dikontrol. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bila mengaitkan dengan kebijakan pelarangan cadar, apa yang disebutkan Foucault menjadi relevan. Kebijakan institusi pendidikan (UIN Sunan Kalijaga) yang mengeluarkan larangan bercadar, adalah upaya mengontrol tubuh para mahasiswi. Alasan kampus UIN Sunan Kalijaga yang berkiblat pada kekhawatiran radikalisme dan anti Pancasila, juga bisa saja terpengaruh oleh stigma cadar.</span></p>
<figure id="attachment_23559" aria-describedby="caption-attachment-23559" style="width: 960px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-23559 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10.jpg" alt="" width="960" height="720" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10.jpg 960w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10-300x225.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10-768x576.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10-265x198.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10-696x522.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wib10-560x420.jpg 560w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption id="caption-attachment-23559" class="wp-caption-text">(sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti yang dikatakan oleh Masruchah dari Komnas Perempuan, “Belum tentu orang yang menggunakan cadar itu pikirannya tertutup atau masuk dalam kategori orang-orang yang fundamentalis atau radikal,” ujarnya. Apa yang diungkapkan Masruchah, sama sekali tak salah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, langkah UIN Sunan Kalijaga mencabut pelarangan cadar pada Minggu (11/3) merupakan langkah ‘maju’ bagi akal sehat. Mengapa? sebab siapapun tak pantas diputus akses pendidikannya hanya karena memakai cadar di kampus. Seperti yang disebutkan sebelumnya, memakai cadar bukan jaminan berpikiran radikal. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cadar, atau apapun jenis kain yang menutup wajah, adalah bentuk ekspresi spiritualitas individu. Karena spiritualitas bersifat pribadi, seharusnya tak ada otoritas yang mengendalikan ekspresi spiritualitas itu diwujudkan, sekalipun itu adalah otoritas negara. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Najib Azca, dosen sosiologi UGM berkata, salah satu langkah yang bisa diambil kampus UIN menghalau ideologi radikalisme adalah dengan diskusi akademik. Selain menghalau, diskusi akademik adalah salah satu jawaban atas berkembangnya berbagai pemikiran di kampus. “Tantangan universitas adalah riset dan edukasi untuk membuat siapa pun mendapat perspektif yang lain,” lanjut Najib. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan begini, apakah drama ‘cadar’ lantas berakhir? Tak ada yang bisa menjamin. Tetapi hal pasti yang bisa disepakati adalah, kementerian pendidikan Indonesia masih gagap memahami persoalan cadar dan radikalisme, atau setidaknya menyebut hal itu adalah dua hal yang berbeda.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini terlihat dari aksi saling lempar ‘tanggung jawab’ dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti), hingga Kementerian Agama (Kemenag).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemenag yang membawahi semua UIN di Indonesia – PTN dibawahi oleh Kemenristek – memiliki wewenang untuk mengintervensi kebijakan kampus yang dinilai menghambat aktivitas akademis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, saat Kemenag dimintai keterangannya, lembaga ini malah balik menyebut semua keputusan adalah otonomi UIN Sunan Kalijaga. Ketiga lembaga di atas juga tak ‘mampu’ menyuarakan bahwa kebijakan yang dikeluarkan UIN Sunan Kalijaga sembrono, bila tak mau disebut melanggar HAM. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Radikalisme memang berbahaya – semua pun tahu hal itu dengan baik – tetapi sekali lagi, melarang pemakaian cadar bukanlah solusi ampuh untuk menghalaunya. Alih-alih hilang yang ada paham tersebut makin ‘liar’ berkembang diam-diam. (A27) </span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/wanita-bercadar-wanita-memakai-cadar-ilustrasi-_140523142554-808.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PDIP Galau Nyari Pengganti Anas?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pdip-galau-nyari-pengganti-anas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K32]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jan 2018 03:52:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[abdullah azwar anas]]></category>
		<category><![CDATA[HM]]></category>
		<category><![CDATA[MUNDUR]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgub Jatim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=19487</guid>

					<description><![CDATA[Azwar Anas sudah dipastikan mundur dari Pilgub Jatim. Kira-kira siapa penggantinya? PinterPolitik.com [dropcap]A[/dropcap]bdullah Azwar Anas adalah bupati Banyuwangi. Kinerjanya dalam membangun daerah tersebut patut diancungi jempol. Di bawah kepemimpinannya, perekonomian di Banyuwangi berkembang pesat. Azwar Anas juga merupakan salah satu kader Partai Banteng yang cukup potensial di Jawa Timur (Jatim). Ia sempat maju sebagai sebagai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Azwar Anas sudah dipastikan mundur dari Pilgub Jatim. Kira-kira siapa penggantinya?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb31;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]A[/dropcap]bdullah Azwar Anas adalah bupati Banyuwangi. Kinerjanya dalam membangun daerah tersebut patut diancungi jempol. Di bawah kepemimpinannya, perekonomian di Banyuwangi berkembang pesat.</p>
<p>Azwar Anas juga merupakan salah satu kader Partai Banteng yang cukup potensial di Jawa Timur (Jatim). Ia sempat maju sebagai sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jatim, bersanding dengan Saifulah Yusuf alias Gus Ipul.</p>
<p>Mereka berdua digadang-gadang sebagai kandidat terfavorit, sekaligus menjadi <em>rival </em>yang tangguh bagi pasangan Khofifah dan Emil Dardak. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu peta Pilgub Jatim ternyata mengalami perubahan alur.</p>
<p>Tak ada angin, tak ada hujan, secara mengejutkan Azwar Anas mundur dari posisinya sebagai Cawagub Jatim, meninggalkan Gus Ipul sendirian. Dengan demikian, kandidat yang murni dari kubu Banteng habis tak bersisa. Hal ini menjadi pukulan telak bagi Partai Banteng dan para pendukung kedua kandidat ini.</p>
<p><em>Hm, </em>Anas kamu sungguh <em>terlaluuu. </em>Teganya kamu membiarkan Mama Mega, Pak Hasto Kristiyanto dan para Kiai menitikkan air mata. Ada apa Anas, apakah kamu baik-baik <em>aja</em>?</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Sekjen PDIP bocorkan sosok pengganti Azwar Anas di Pilgub Jatim <a href="https://t.co/lx5RMPIBCt">https://t.co/lx5RMPIBCt</a></p>
<p>&mdash; PDIP Online (@PDIP_Online) <a href="https://twitter.com/PDIP_Online/status/950296854406852608?ref_src=twsrc%5Etfw">January 8, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Partai Banteng pun kini kelimpungan mencari penggantinya. Kira-kira siapa yang <em>bakal </em>menjadi suksesornya Anas? Semuanya belum pasti.</p>
<p>Keputusan yang dibuat oleh Azwar Anas memang di luar dugaan. Salah satu alasan yang mencuat karena beredar sejumlah foto <em>syur </em>mirip dirinya ke media sosial. Konon, peredaran foto tersebut adalah ulah dari sejumlah oknum untuk merusak nama baiknya. <em>Waduh, kasian </em>sekali <em>ya</em>?</p>
<p><em>Yah, </em>mau <em>gimana </em>lagi? Kejadian yang menimpa Azwar Anas ini menjadi bukti bahwa fenomena ‘kampanye bongkar‘ masih laku keras dalam dunia politik tanah air.</p>
<p>Secara tak langsung, ini menjadi salah satu upaya untuk menjegal Partai Banteng untuk mendulang suara di Jatim. Maka, Partai Banteng perlu bergerak cepat, jika tak ingin pulang dengan tangan hampa.</p>
<p>Bukankah masih ada kader potensial lainnya yang bisa diangkat menjadi pengganti Azwar Anas? Misalnya ada nama Ibu Tri Rismaharini, lalu ada  Bupati Ngawi Budi &#8216;Kanang’ Sulistyono dan anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Said Abdullah. Tapi, semua tergantung Partai Banteng <em>sih, </em>mau <em>ngusung </em>yang mana. <strong>(K-32)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/01/ASWAR-ANAZ-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
