<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Hip Hop &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/hip-hop/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Jan 2026 10:22:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Hip Hop &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Antara Kau dan Tenxi: Soeharto</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/di-antara-kau-dan-tenxi-soeharto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[Hip Hop]]></category>
		<category><![CDATA[Hipdut]]></category>
		<category><![CDATA[Jemsii]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Naykilla]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Tenxi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166443</guid>

					<description><![CDATA[Fenomena hipdut Tenxi guncang media sosial dan musik tanah air. Benarkah ini hanya tren "norak" atau ada dimensi sosial-politik di baliknya?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/di-antara-kau-dan-tenxi-soeharto.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Fenomena hipdut Tenxi mengguncang media sosial dan panggung musik tanah air. Benarkah ini sekadar tren &#8220;norak&#8221; atau ada dimensi sosial-politik di baliknya?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Di antara kau dan aku.. Di antara kau dan a.. Di antara kau dan a..” – Tenxi, “mejikuhibiniu” (2025)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin duduk terpaku di sudut kedai kopi yang riuh, matanya tak lepas dari layar ponsel yang menyala terang. Jempolnya terus menggeser layar, namun algoritma TikTok seolah memaksanya tetap berada di satu orbit yang sama: Tenxi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Musik itu terdengar asing namun akrab, sebuah perpaduan ganjil antara ketukan <em>boom-bap</em> yang berat dengan cengkok dangdut yang meliuk nakal. Orang-orang menyebutnya &#8220;hipdut&#8221;, sebuah hibrida budaya yang kini merajai telinga jutaan anak muda Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mengamati bagaimana Tenxi, sang ikon baru, tampil dengan gaya yang menabrak segala aturan baku estetika. Ia mengenakan topi <em>snapback</em> miring, namun memadukannya dengan kemeja batik yang kancingnya dibuka setengah dada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di layar ponsel Cupin, ribuan video parodi dan <em>dance challenge</em> menggunakan latar lagu Tenxi bermunculan tanpa henti. Fenomena ini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah gelombang pasang yang menenggelamkan konten-konten &#8220;estetik&#8221; ala Jakarta Selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat percakapannya dengan seorang teman yang mengaku jijik, namun diam-diam menghafal setiap lirik lagu Tenxi. Ada daya tarik magnetis dalam ketidaksempurnaan produksi musiknya yang justru terasa jujur dan telanjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di panggung-panggung konser, pemandangannya lebih gila lagi, seperti yang disaksikan Cupin lewat siaran langsung di YouTube. Ribuan manusia melompat serentak, menciptakan lautan energi yang seolah ingin meruntuhkan panggung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak peduli pada <em>pitch</em> yang meleset atau <em>autotune</em> yang terdengar kasar. Bagi mereka, Tenxi adalah nabi baru yang membawakan ayat-ayat kegembiraan di tengah kehampaan makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyeruput kopinya yang mulai dingin, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi pada selera bangsa ini. Ia melihat Tenxi bukan sekadar musisi, melainkan sebuah gejala sosiologis yang berjalan dan bernyanyi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Popularitas Tenxi melampaui sekat-sekat geografis, dari gang sempit di pinggiran kota hingga apartemen mewah di pusat metropolitan. Hipdut telah menjadi bahasa universal yang menyatukan mereka yang lelah dengan kepura-puraan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin tersenyum kecut saat menyadari bahwa fenomena ini sebenarnya menertawakan standar &#8220;keren&#8221; yang selama ini diagungkan media arus utama. Tenxi adalah antitesis dari segala yang rapi, teratur, dan terpoles sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lirik-lirik Tenxi terdengar begitu absurd, jauh dari potret realitas kehidupan sehari-hari atau penderitaan kelas bawah. Kata-kata yang dirangkai seolah hanya permainan bunyi, mantra kosong yang dirancang khusus untuk memicu dopamin tanpa perlu berpikir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada kritik sosial, tidak ada keluhan tentang utang atau cinta yang rumit, hanya repetisi frasa yang <em>catchy</em> dan membius. Justru kekosongan makna inilah yang mungkin menjadi daya tarik utamanya, sebuah pelarian total dari realitas yang penat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin merasa bahwa kita sedang menyaksikan kelahiran sebuah identitas budaya baru yang tidak lagi berkiblat ke Barat maupun ke Timur. Ini adalah murni produk jalanan Indonesia yang bermutasi di era digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Euforia ini murni milik massa, sebuah perayaan hedonisme sederhana yang tidak menuntut pemahaman mendalam. Cupin melihat ini sebagai bentuk nihilisme yang ceria, di mana orang berpesta di atas reruntuhan logika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini memaksa kita untuk meninjau ulang definisi kita tentang seni dan budaya populer. Apakah kita sedang melihat degradasi selera, atau justru sebuah evolusi yang tak terelakkan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah popularitas Tenxi dan genre hipdut ini adalah tanda kebangkitan budaya akar rumput yang selama ini dibungkam? Ataukah ini hanyalah repetisi sejarah di mana kelas elite pada akhirnya akan mengadopsi apa yang mereka benci?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DTNJB-6id4e/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DTNJB-6id4e/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DTNJB-6id4e/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Bronx ke Sidoarjo</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mulai menelusuri jejak digital untuk memahami genealogi musik yang sedang mengguncang gendang telinganya ini. Ia menyadari bahwa apa yang dilakukan Tenxi bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, melainkan sebuah daur ulang kreatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita menarik garis sejarah, evolusi ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan kelahiran hip-hop di Amerika Serikat pada dekade 1970-an. Saat itu, anak-anak muda Afrika-Amerika di Bronx menciptakan bunyi-bunyian baru dari piringan hitam tua dan mesin drum bekas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tricia Rose, dalam bukunya yang sangat berpengaruh berjudul <em>Black Noise</em>, menjelaskan fenomena ini dengan sangat jeli. Rose berargumen bahwa hip-hop adalah bentuk resistensi budaya yang lahir dari kondisi keterasingan sosial dan ekonomi di perkotaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin melihat pola yang sama terjadi pada Tenxi dan gelombang hipdut di Indonesia saat ini. Mereka mengambil elemen-elemen yang tersedia di sekitar mereka—dangdut koplo dan rap internet—lalu meramunya menjadi senjata ekspresi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti halnya hip-hop yang awalnya dianggap sebagai &#8220;bising&#8221; oleh telinga kaum kulit putih mapan, hipdut juga menghadapi resistensi serupa. Namun, sejarah membuktikan bahwa kebisingan dari pinggiran seringkali berubah menjadi arus utama yang mendominasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jeff Chang, dalam narasi epiknya <em>Can&#8217;t Stop Won&#8217;t Stop</em>, menggambarkan bagaimana hip-hop bertransformasi dari pesta blok liar menjadi industri miliaran dolar. Ia menekankan bahwa musik ini memberikan suara bagi mereka yang tidak memiliki akses ke media formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Tenxi, Cupin melihat adanya semangat <em>do-it-yourself</em> yang sangat kental, mirip dengan etos awal hip-hop. Mereka tidak menunggu label besar untuk memproduksi karya; mereka merekamnya di kamar tidur dan menyebarkannya lewat TikTok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teknologi digital telah mendemokratisasi produksi musik, meruntuhkan gerbang yang selama ini dijaga ketat oleh para kurator budaya. Tenxi adalah bukti bahwa validasi tidak lagi datang dari kritikus musik, melainkan dari algoritma dan massa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Evolusi ini juga menunjukkan adaptabilitas luar biasa dari dangdut sebagai genre musik rakyat. Dangdut selalu mampu menyerap elemen asing, mulai dari rock, disko, hingga kini trap dan hip-hop, tanpa kehilangan identitas akarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Andrew Weintraub, dalam studinya yang mendalam tentang dangdut, pernah mencatat kemampuan genre ini untuk menjadi &#8220;musik nasional&#8221; yang sesungguhnya. Hipdut adalah babak terbaru dari kemampuan adaptasi tersebut, sebuah mutasi genetik yang diperlukan untuk bertahan hidup di ekosistem digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin merenung, mungkin inilah yang disebut sebagai globalisasi dari bawah. Elemen budaya global (hip-hop) diadopsi, dikunyah, dan dimuntahkan kembali dengan cita rasa lokal yang pekat (dangdut).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya adalah sebuah produk hibrida yang membuat pendengar asing kebingungan, namun membuat pendengar lokal merasa &#8220;pulang&#8221;. Tenxi berhasil menjembatani jurang antara modernitas global dan tradisi lokal dengan cara yang sangat kasar namun efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Koneksi dengan sejarah hip-hop AS ini memberikan legitimasi intelektual pada apa yang sering dianggap sebagai musik &#8220;sampah&#8221;. Ini adalah teriakan eksistensi dari mereka yang merasa tidak terwakili oleh pop manis Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mulai memahami bahwa setiap ketukan drum mesin dalam lagu Tenxi adalah detak jantung dari demografi yang sedang gelisah. Musik ini berevolusi bukan karena keinginan pasar semata, melainkan karena kebutuhan mendesak untuk berekspresi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, evolusi ini membawa kita pada pertanyaan tentang siklus penerimaan budaya dalam masyarakat yang terstratifikasi. Seberapa jauh kemiripan pola resistensi budaya ini dengan apa yang terjadi di masa lalu bangsa kita sendiri?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah pola penolakan dan penerimaan terhadap musik &#8220;kampungan&#8221; ini memiliki akar sejarah yang lebih dalam, yang mungkin melibatkan penguasa di masa lalu?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DTMmsiIDlWc/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DTMmsiIDlWc/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DTMmsiIDlWc/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Hantu Soeharto dan Perang Selera</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin meletakkan ponselnya, pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke era di mana satu sosok mendominasi segala aspek kehidupan Indonesia: Soeharto. Ada benang merah yang samar namun tegas antara Tenxi hari ini dan politik kebudayaan Orde Baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di masa lalu, musik dan budaya kalangan bawah selalu diposisikan sebagai &#8220;liyan&#8221; yang perlu dibina atau bahkan dibinasakan. Sejarah mencatat bagaimana musik keroncong di era kolonial sempat dipandang sebelah mata oleh elite Eropa dan priyayi lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, represi budaya mencapai puncaknya di bawah rezim Soeharto yang memiliki obsesi pada ketertiban dan harmoni semu. Dangdut, pada masa-masa awal Orde Baru, sering dianggap sebagai musik yang tidak mencerminkan kepribadian bangsa yang &#8220;halus&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rhoma Irama pernah menjadi musuh dalam selimut bagi rezim karena lirik-liriknya yang dianggap terlalu provokatif bagi kestabilan. Soeharto, dengan tangan besinya, berusaha mengkurasi budaya apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh rakyatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah pertempuran klasik antara <em>The Established</em> (kemapanan) melawan <em>The Postmodernist</em> (kekacauan kreatif). Tenxi hari ini adalah representasi dari postmodernisme jalanan yang menolak narasi tunggal tentang apa itu musik yang &#8220;baik&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dick Hebdige, dalam bukunya <em>Subculture: The Meaning of Style</em>, menjelaskan bagaimana subkultur menggunakan gaya sebagai bentuk pembangkangan simbolis. Tenxi dan para penggemarnya melakukan hal ini dengan merayakan apa yang oleh kaum elitE dianggap &#8220;norak&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka memeluk stigma &#8220;kampungan&#8221; itu dan mengubahnya menjadi lencana kehormatan yang dipakai dengan bangga. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap hegemoni selera yang selama puluhan tahun dikuasai oleh Jakarta sentris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat konsep <em>Distinction</em> dari sosiolog Pierre Bourdieu, yang mengatakan bahwa selera adalah alat untuk menegaskan kelas sosial. Kaum elit membenci hipdut bukan karena musiknya jelek, tapi karena musik itu diasosiasikan dengan kelas bawah yang ingin mereka jauhi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era Reformasi, meski Soeharto telah lengser, struktur berpikir yang ia tanamkan tentang hierarki budaya masih bercokol kuat. Banyak dari kita yang tanpa sadar masih menjadi &#8220;Polisi Kebudayaan&#8221; ala Orde Baru saat mencemooh musik seperti Tenxi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita masih mewarisi ketakutan Soeharto terhadap segala sesuatu yang liar, tidak terorganisir, dan berasal dari massa rakyat yang tidak terkendali. Tenxi hadir sebagai hantu yang mengganggu tidur nyenyak kaum mapan yang merasa memiliki monopoli atas kebenaran estetika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hipdut adalah <em>chaos</em> yang merusak tatanan rapi yang dibangun oleh pendidikan formal dan media massa konvensional. Ia adalah pengingat bahwa di bawah permukaan masyarakat yang tampak tenang, ada gejolak yang siap meledak dalam bentuk kreativitas liar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyadari bahwa membenci Tenxi mungkin adalah cara kita untuk menyangkal realitas sosial Indonesia yang sebenarnya. Kita ingin Indonesia terlihat seperti K-Pop atau Hollywood, padahal wajah asli kita adalah Tenxi: campur aduk, bising, dan penuh kontradiksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah mengajarkan bahwa budaya yang direndahkan pada akhirnya sering kali menjadi identitas nasional di masa depan. Keroncong mengalami itu, dangdut mengalami itu, dan kini giliran hipdut yang sedang menapaki jalan terjal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sikap antipati terhadap Tenxi mungkin hanyalah residu dari mentalitas kolonial dan feodal yang belum sepenuhnya hilang. Kita masih terjebak dalam dikotomi &#8220;gedongan&#8221; versus &#8220;kampungan&#8221; yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Cupin menutup perenungannya dengan sebuah kesimpulan yang menohok kesadaran dirinya sendiri. Tenxi bukan sekadar musisi viral; ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah kita—wajah sebuah bangsa yang masih bergulat dengan identitasnya sendiri, terombang-ambing antara memori ketertiban ala Soeharto dan realitas kekacauan yang membebaskan. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="YaaIrgLikXM"><iframe title="Politik Hip Hop: Dari #BlackLivesMatter Hingga #PapuanLivesMatter" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/YaaIrgLikXM?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/di-antara-kau-dan-tenxi-soeharto.mp3" length="1309436" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/di-antara-kau-dan-tenxi-soeharto-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
