<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Hari Guru Nasional &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/hari-guru-nasional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Dec 2019 07:19:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Hari Guru Nasional &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Nadiem Siap Berantas Intoleransi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/nadiem-siap-berantas-intoleransi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Dec 2019 10:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Intoleransi Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kemendikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Mendikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Pendidikan dan Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=69873</guid>

					<description><![CDATA[Diangkatnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sebelumnya memang menuai pro dan kontra. Namun, pidatonya pada Hari Guru Nasional lalu membawa angin segar bagi harapan pendidikan Indonesia. Mampukah Nadiem berantas intoleransi yang kini dianggap prevalen di dunia pendidikan? PinterPolitik.com Setiap tanggal 25 November, rakyat Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Namun, pada tahun 2019 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Diangkatnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sebelumnya memang menuai pro dan kontra. Namun, pidatonya pada Hari Guru Nasional lalu membawa angin segar bagi harapan pendidikan Indonesia. Mampukah Nadiem berantas intoleransi yang kini dianggap prevalen di dunia pendidikan?</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">S</span>etiap tanggal 25 November, rakyat Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Namun, pada tahun 2019 ini, ada nafas yang berbeda. Pasalnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah mempublikasikan naskah pidatonya beberapa hari sebelum hari besar itu tiba.</p>
<p>Meski begitu, bukan itu yang membuat rakyat Indonesia ramai-ramai membicarakan naskah pidato Nadiem. Isi pidato Nadiem yang singkat nan substansial lah yang membuat rakyat ramai membicarakan pidato sepanjang dua halaman itu di media sosial. Sebagian besar mendukung langkah progresif kecil yang dilakukan pendiri Gojek itu, sebagian lagi mengkritiknya dengan alasan substansi yang seharusnya bisa dibuat lebih tegas.</p>
<p>Penunjukkan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud memang terbilang keputusan yang melahirkan banyak perdebatan. Di satu sisi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) seolah-olah berupaya keras menunjukkan komitmennya menjadikan generasi muda sebagai ujung tombak kemajuan Indonesia. Di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan keputusan Jokowi ini dengan alasan latar belakang Nadiem yang tak berasal dari dunia pendidikan.</p>
<p>Sebenarnya, kita bisa melihat dipilihnya Nadiem sebagai Mendikbud sebagai sebuah langkah progresif yang berpotensi besar memajukan pendidikan Indonesia. Sepak terjang Nadiem di dunia pendidikan memang masih terbilang minim. Namun, kemajuan pemikiran Nadiem telah terbukti memajukan salah satu perusahaan <em>start-up </em>terbesar di Indonesia, Gojek.</p>
<p>Sudah sepatutnya kita mengharapkan kecermatan Nadiem dalam melihat hal sederhana yang sebenarnya penting ini untuk turut ia terapkan dalam kerjanya sebagai Mendikbud. Hal itu adalah masalah toleransi, sebuah masalah yang beberapa waktu belakangan nampaknya memudar dari benak sebagian rakyat Indonesia.</p>
<p>Sebenarnya, terdapat sebuah celah ketika banyak orang meletakkan tuduhan pada orang-orang dewasa yang tak menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Celah tersebut ada pada diri anak-anak Indonesia, generasi muda yang kelak akan menjadi bagian penting dalam masyarakat.</p>
<p><a href="https://nasional.kompas.com/read/2019/11/15/18195711/komnas-ham-kecenderungan-sikap-intoleransi-menguat-di-kalangan-anak-muda/" rel="nofollow"><strong>Hasil kajian</strong></a> Komnas HAM pada tahun 2012-2018 menunjukkan terdapat kecenderungan sikap intoleransi yang menguat di kalangan anak muda terdidik. Penguatan itu mencapai angka lebih dari 50 persen.</p>
<p>Praktiknya ditunjukkan dengan hasil penelitian itu yang menyatakan sebagian besar anak menolak keberadaan individu dari agama lain yang beribadah di lingkungan tempat tinggalnya. Sementara di pergaulan, terdapat kecenderungan anak hanya ingin bergaul dengan teman-teman yang seagama dengannya.</p>
<p>Kedekatan anak dengan internet dan media sosial turut menyumbang peran dalam lahirnya intoleransi pada anak-anak. Belum matangnya psikis hingga rendahnya literasi media membuat anak yang belum bisa memilah informasi yang benar dan yang tidak untuk memaknai infomrasi secara tidak tepat.</p>
<p>Sementara itu, internet dan media sosial menjadi sarang pembuatan dan persebaran hoaks. Salah satu kajian Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) membuktikan bahwa setiap bulan terdapat 60 sampai 100 hoaks yang <a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4754974/bikin-resah-hoax-kesehatan-terbanyak-ketiga-setelah-hoax-politik-dan-agama/" rel="nofollow"><strong>mengotori ruang publik digital</strong></a>. Sementara, isu agama dan politik menjadi isu yang paling masif menjadi sasaran. Alhasil, paparan hoaks membuat pikiran anak tercemari oleh ujaran-ujaran kebencian dan kebohongan yang memecah belah.</p>
<p>Lingkungan sosial dan pendidikan anak juga memainkan peran yang tak kalah besar. Salah satunya adalah sistem pendidikan Indonesia yang tak banyak memberikan nilai-nilai kehidupan yang penting dan bermakna bagi kehidupan anak.</p>
<p>Kebanyakan pembelajaran dilaksanakan secara berbasis buku pelajaran secara teoretis, jarang memberikan kontekstualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, lingkungan pendidikan berperan penting dalam membangun pemahaman dan perilaku anak yang tepat dalam kehidupan bermasyarakat kelak.</p>
<p>Pola pemikiran utama yang harus tertanam dalam diri para pejabat di bidang pendidikan adalah bahwa Indonesia merupakan negara multikultural. Menurut Ariel Heryanto dalam <em>Pop Culture and Competing Identity, </em>kondisi multikultural ini membuat Indonesia memiliki empat kekuatan utama yang sama besarnya, yaitu budaya, bahasa, kepercayaan agama, dan tradisi. Benturan di antara empat kekuatan ini acap kali terjadi karena ketidakseimbangan pembagian kekuasaan.</p>
<p>Menurut W. Paul Vogt dalam <a href="https://doi.org/10.1080/0098559860120103"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Education and Tolerance in Comparative Perspective</em>, pendidikan dan toleransi memiliki korelasi yang kuat. Individu dengan pendidikan yang baik biasanya lebih mampu untuk berpikir secara terbuka dalam konteks perbedaan politik, kebebasan, dan kelompok minoritas bila dibandingkan dengan mereka yang tingkat pendidikannya kurang baik.</p>
<p>Sekolah menjadi medium yang tepat untuk mengajarkan toleransi karena empat alasan, yaitu hipotesis terhadap besarnya pengaruh kurikulum untuk mengajarkan keberagaman, kemampuan sekolah mewujudkan <em>intellectual maturity </em>yang membuat siswa memiliki kapasitas kognitif untuk menjadi toleran, kontak antar siswa dari berbagai latar belakang yang terjadi di sekolah, dan kemampuan sekolah untuk membentuk kepribadian &#8220;modern&#8221; bagi para siswanya, dalam artian bisa menolerir keberagaman.</p>
<p>Di sinilah Mendikbud baru Nadiem bisa memainkan perannya dalam merumuskan dan memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Mendikbud harus menerapkan pendidikan Indonesia yang berbasis multikultural.</p>
<p>Usaha itu bisa dilakukan dengan sistematika perumusan silabus dan kurikulum. Misalnya, membuat mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan yang berbasis toleransi. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus turut menekankan kebangsaan dari segi persatuan di antara perbedaan, bukan hanya ideologi kebangsaan yang politis.</p>
<p>Mata pelajaran Sejarah juga perlu dirumuskan agar tak hanya mengajarkan sejarah dari satu sisi utama. Misalnya, pembelajaran mengenai sejarah kemerdekaan Indonesia juga perlu memuat bahasan mengenai tokoh-tokoh pahlawan dan pejuang dengan latar belakang agama, suku, dan etnis yang berbeda tapi memiliki semangat juang tinggi untuk bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Mata-mata pelajaran lain juga perlu dibuat sedemikian rupa agar tak mengandung substansi pembelajaran yang memojokkan dan merendahkan keyakinan lain dan meninggikan keyakinan tertentu. Hal itu penting dilakukan untuk sejak dini mengajarkan anak-anak bahwa perbedaan dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Tanpa mengubah identitas diri sendiri, saling menghargai dan tak menyakiti makhluk lain adalah sebuah kewajiban yang dimiliki setiap manusia.</p>
<p>Menurut Zaini dalam <a href="http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/toleransi/article/view/423"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Penguatan Pendidikan Toleransi Sejak Usia Dini, </em>harmoni dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama bisa tercipta bila toleransi antar umat beragama bisa terpenuhi. Memang, setiap agama memiliki nilainya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Namun, pada dasarnya seluruh agama memiliki pandangan yang sama dalam nilai-nilai kebenaran universal.</p>
<p>Terdapat empat nilai penting menurut teori filsafat pendidikan progresivisme yang perlu ditanamkan dalam diri anak sejak dini, yaitu fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), <em>curious</em> (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran, dan <em>open-minded</em> (mempunyai hati terbuka). Empat nilai itu bisa menjadi pedoman bagi pola pengajaran di sekolah.</p>
<p>Selain itu, orang-orang dewasa di sekitar anak juga perlu mengajarkan pentingnya toleransi antarumat beragama dari hal-hal kecil seperti sebutan. Misalnya, menggunakan istilah “mayoritas” dan “minoritas” dalam atribusi agama atau aliran kepercayaan seolah menempatkan agama dalam struktur yang hierarkis.</p>
<p>Nadiem merupakan figur muda cerdas yang memiliki banyak ide dan inovasi. Hal itu bisa menjadi modal sekaligus jaminan yang rakyat Indonesia andalkan dalam jabatannya sebagai Mendikbud.</p>
<p>Tak berlebihan bila kita mengharapkan Nadiem bisa memberi perhatian lebih pada masalah intoleransi di Indonesia. Namun, mengubah sebuah sistem memang tak pernah menjadi pekerjaan mudah.</p>
<p>Mendikbud perlu berkomitmen dalam mewujudkan perubahan-perubahan itu untuk membuat kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia. Mari, kita nantikan ada-tidaknya progresivitas pendidikan Indonesia yang dibawa Nadiem.</p>
<h6 style="text-align: right;"><strong>Tulisan milik Selma Kirana Haryadi, mahasiswi Jurnalistik di Universitas Padjadjaran</strong><strong>.</strong></h6>
<hr>
<h6><em><strong>“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”</strong></em></h6>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/12/Nadiem-Makarim-Nikkei-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menunggu Langkah Radikal Nadiem</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/menunggu-langkah-radikal-nadiem/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Dec 2019 07:30:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Kemendikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Mendikbud]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Pendidikan dan Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=69867</guid>

					<description><![CDATA[Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pada Hari Guru Nasional 2019 lalu bisa jadi merupakan sinyal bahwa akan ada perubahan radikal terhadap sistem pendidikan Indonesia. Bagaimana dampaknya apabila perubahan-perubahan ini diterapkan? PinterPolitik.com Pidato Nadiem Makarim dalam momen Hari Guru Nasional pada 25 November lalu memperjelas visi bahwa ia serius dalam upaya untuk memacu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pada Hari Guru Nasional 2019 lalu bisa jadi merupakan sinyal bahwa akan ada perubahan radikal terhadap sistem pendidikan Indonesia. Bagaimana dampaknya apabila perubahan-perubahan ini diterapkan?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>idato Nadiem Makarim dalam momen Hari Guru Nasional pada 25 November lalu memperjelas visi bahwa ia serius dalam upaya untuk memacu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Dalam pidato singkatnya, Nadiem menyatakan beberapa hal penting yang harus diperhatikan guna mencapai cita-cita besar untuk membangun peradaban maju melalui pendidikan.</p>
<p>Pertama, mengajak kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Gerakan radikal ini merupakan hal utama yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Meminjam filosofi pendidikan Paulo Freire dalam <a href="https://books.google.co.id/books?id=oKQMBAAAQBAJ&amp;source=gbs_navlinks_s"><strong>bukunya</strong></a> berjudul <em>Pendidikan Kaum Tertindas</em>, pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan hadap masalah, bukan pendidikan gaya bank.</p>
<p>Dalam sistem pendidikan di Indonesia, faktanya masih banyak dijumpai sistem pendidikan gaya bank. Guru menjadi kaum penindas yang mengajar para murid (kaum tertindas) dengan menjejali mereka informasi-informasi yang harus dihafalkan saja (seperti menabung/investasi di bank agar mendapatkan keuntungan ekonomi). Jadi, murid menjadi ibarat obyek agar kelak bisa mendatangkan keuntungan bagi kelompok sosial tertentu di masa depan.</p>
<p>Tanpa disadari hal itu adalah “dehumanisasi pendidikan”. Pendidikan menjadi bersifat negatif karena murid menjadi objek teori yang mengalienasi mereka dari realitas empiris atau masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya yang harusnya menjadi pokok diskusi guna memecahkan permasalahannya.</p>
<p>Pendidikan gaya bank inipun hanya menjadi alat untuk mempertahankan <em>status quo </em>bagi para penguasa (lingkaran oligarki) dan menutup ruang-ruang intelektual bagi para murid maupun para guru sehingga nalar kritis, analitis, kreatif, dan inovatif nihil dihasilkan.</p>
<p>Nadiem Makarim tampaknya mengisyaratkan agar guru memakai filosofi pendidikan Freire yaitu pendidikan hadap masalah. Pendekatan ini membuat murid dan guru sama-sama menjadi subyek belajar melalui diskusi.</p>
<p>Mereka melakukan investigasi bersama-sama untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Kurikulum yang dihasilkan lebih kontekstual. Contohnya, dalam konteks masyarakat agraris, kurikulum akan didesain oleh guru dan siswa guna mengungkap realitas permasalahan yang berkaitan dengan pertanian. Jadi, guru dan murid akan menjadi aktor yang memunculkan inovasi demi mengatasi permasalahan yang nyata.</p>
<p>Kedua, adanya upaya memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas ini sebenarnya juga menjadi representasi dari sistem pendidikan hadap masalah. Jika dalam sistem pendidikan gaya bank, guru dan murid berada dalam hubungan yang tidak setara.</p>
<p>Namun, dalam sistem pendidikan hadap masalah, guru dan murid merupakan pembelajar yang setara. Artinya, guru bisa menjalankan peran sebagai murid dan murid berperan sebagai guru.</p>
<p>Tujuannya adalah membangun hubungan tanpa hierarki. Tanpa adanya hierarki maka kemerdekaan belajar dan mengajar akan dapat dicapai secara efektif.</p>
<p>Pembelajaran tidak hanya akan didominasi oleh salah satu pihak, tetapi mereka sama-sama menghasilkan pemikiran kreatif yang akan mengarah pada inovasi. Diskusi akan berjalan dengan baik karena akan ada banyak sudut pandang yang dihasilkan demi mencari jalan keluar untuk memecahkan permasalahan kontekstual.</p>
<p>Ketiga, pendidikan gaya ini bisa saja mencetuskan proyek bakti sosial. Jika menilik urgensinya, mengingat bahwa akhir-akhir ini banyak benih intoleransi antarumat beragama menyusup di sekolah.</p>
<p>Nadiem ingin agar guru berperan menanggulangi potensi intoleransi dengan mencetuskan program kerja bakti yang melibatkan seluruh kelas, artinya seluruh kelompok penganut agama yang berbeda akan ikut serta. Kegiatan bakti sosial merupakan representasi teori <em>Intergroup Contact </em>dari Gordon Allport.</p>
<p>Wang dan tim penulisnya dalam <a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24465648"><strong>artikel ilmiahnya</strong></a> berjudul <em>Perspective-Taking Increases Willingness to Engage in Intergroup Contact </em>menyebutkan bahwa kontak antarpemeluk agama yang berbeda bertujuan mereduksi prasangka dan eksklusivisme. Pelaksanaan <em>intergroup contact </em>juga dapat membuat tiap individu terbiasa memiliki orientasi keagamaan intrinsik.</p>
<p>Orientasi keagamaan tersebut mengimplikasikan agama sebagai motivasi dan sumber yang memberi pengharapan dalam menjalani kehidupan. Pemeluknya cenderung mendambakan kehidupan sosial beragama yang toleran, rukun, dan kooperatif.</p>
<p>Kemudian, program bakti sosial juga efektif untuk mereduksi kasus <em>bullying, </em>mengingat bahwa <em>bullying </em>menjadi kasus pelik yang harus dicarikan solusinya. Dalam <a href="https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/m/index.php?r=tpost/xview&amp;id=249900647"><strong>tulisan saya</strong></a> berjudul <em>Mengatasi Bullying Melalui Semangat Gotong Royong</em>, saya membahas bahwa program bakti sosial akan memperkuat hubungan dan interaksi sosial antar individu. Seluruh warga sekolah akan mampu menunjukkan sikap bekerja sama, interaktif, anti-diskriminasi, memiliki empati dan rasa kemanusiaan yang tinggi, serta tolong-menolong.</p>
<p>Keempat, pendidikan gaya yang berbeda ini dapat memunculkan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Saya menangkap maksud Nadiem melalui pernyataan tersebut adalah untuk membangun konsep diri akademik yang positif bagi murid.</p>
<p>Dramanu &amp; Balarabe dalam <a href="https://eujournal.org/index.php/esj/article/view/2162"><strong>tulisannya</strong></a> berjudul <em>Relationship Between Academic Self Concept and Academic Performance of Junior High School Students in Ghana</em> menyebutkan konsep diri akademik positif adalah kondisi di mana murid memandang dirinya memiliki kemampuan potensial dalam bidang akademiknya. Mereka berkeyakinan penuh bahwa mereka memiliki kemampuan untuk terus diasah.</p>
<p>Lebih lanjut, Marsh dan tim penulisnya dalam <a href="https://psycnet.apa.org/record/2009-04640-013"><strong>tulisan</strong></a> berjudul <em>Earning Its Place as a Pan-Human Theory </em>menyebutkan bahwa konsep diri akademik positif akan membuat murid memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan lebih mudah mencapai prestasi akademik yang bagus karena memiliki motivasi yang kuat untuk terus mengembangkan potensinya.</p>
<p>Kelima, gaya pendidikan ini dapat menwarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan. Darmaningtyas dalam <a href="http://library.fip.uny.ac.id/opac/index.php?p=show_detail&amp;id=3184"><strong>tulisannya</strong></a> berjudul <em>Pendidikan yang Memiskinkan </em>menyebutkan bahwa salah satu hal yang membuat kualitas pendidikan Indonesia stagnan adalah masalah rendahnya gaji guru di Indonesia. Gaji guru (terutama guru honorer) di negara kita masih berada di bawah taraf rata-rata untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan beban kerja mereka sangat tinggi.</p>
<p>Gaji mereka hanya cukup untuk membeli makanan pokok yang mungkin saja masih harus berutang dan bekerja serabutan. Dana untuk membeli buku, mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tidaklah cukup, sehingga mereka mengalami <em>lack of knowledge. </em></p>
<p>Tentu saja, dampaknya juga akan bermuara pada penurunan kualitas peserta didik. Ini tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi guru lain yang telah sejahtera agar membantu rekannya, tetapi juga bagi pihak sekolah, pemerintah kabupaten/kota, maupun pemerintah pusat agar memperhatikan terlebih dahulu kesejahteraan guru.</p>
<p>Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sistem penggajian yang lebih manusiawi, tugas administratif harus dikurangi, beban birokrasi (kepentingan pemangku kepentingan) harus dihilangkan agar guru merdeka untuk mendidik dan mengajar. Hal itu juga akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas peserta didik.</p>
<p>Kita tentu sangat berharap bahwa perubahan-perubahan radikal yang akan dilakukan oleh Nadiem tidak diganggu oleh kepentingan politis tertentu, terutama oknum yang tidak ingin <em>status quo</em>-nya terancam. Sebagai masyarakat yang menginginkan perubahan, kita harus ikut mengawal dan mendukungnya.</p>
<h6 style="text-align: right;"><strong>Tulisan milik Yukaristia, Sarjana Pendidikan Akuntasi dari Universitas Negeri Malang.</strong></h6>
<hr />
<h6><strong><em>“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”</em></strong></h6>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/12/2019_10_21-10_50_2_e850d547d4fed6d69299efda6e3e61c1_620x413_thumb-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pidato Nadiem Untuk Para Guru</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/pidato-nadiem-untuk-para-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Nov 2019 12:35:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=69554</guid>

					<description><![CDATA[Naskah pidato Mendikbud Nadiem Makarin untuk Hari Guru jadi bahan perbincangan.Sampaikan simpati karena tugas guru diikuti oleh aturan-aturan menyulitkan dan memandang tugas administratif para guru menghambat mereka untuk bantu murid]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-69555" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01.jpg" alt="" width="768" height="925" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01-249x300.jpg 249w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01-696x838.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01-349x420.jpg 349w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></a></p>
<p>Naskah pidato Mendikbud Nadiem Makarin untuk Hari Guru jadi bahan perbincangan.Sampaikan simpati karena tugas guru diikuti oleh aturan-aturan menyulitkan dan memandang tugas administratif para guru menghambat mereka untuk bantu murid</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Pidato-Nadiem-untuk-Para-Guru-01.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nadiem Selamatkan Nasib Anak Guru?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/nadiem-selamatkan-nasib-anak-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H33]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Nov 2019 05:00:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Guru Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=69515</guid>

					<description><![CDATA[“Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri?” – Iwan Fals, Guru Oemar Bakrie PinterPolitik.com Selamat Hari Guru! Wah, apa kabar ya nasib para pahlawan tanda jasa ini di hari mereka saat ini? Apakah sudah sejahtera semua? Apakah masih harus berkutat dengan murid-murid bandel tapi tak boleh ditegasi? Apakah masih menerima penghasilan yang serba pas-pasan? [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri?” – Iwan Fals, Guru Oemar Bakrie</strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></strong></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">S</span>elamat Hari Guru!</p>
<p>Wah, apa kabar ya nasib para pahlawan tanda jasa ini di hari mereka saat ini? Apakah sudah sejahtera semua? Apakah masih harus berkutat dengan murid-murid bandel tapi tak boleh ditegasi? Apakah masih menerima penghasilan yang serba pas-pasan? Semoga aja nasib guru bisa terus membaik ya dengan adanya perayaan hari guru tersebut.</p>
<p>Nah, di tengah perayaan harinya para pendidik tersebut, ada sebuah naskah viral yang ditulis oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Sedianya, naskah itu baru akan dibacakan di hari-H perayaan hari guru, tetapi ternyata pidato itu sudah ramai duluan di media sosial.</p>
<p>Di dalam <a href="https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/24/084450565/viral-pidato-nadiem-makarim-soal-hari-guru-nasional-ini-isinya?page=all">naskah pidato</a> tersebut, Pak Nadiem menyampaikan rasa simpatinya kepada para guru karena tugas mulia mereka terkendala oleh perkara administratif dan aturan-aturan lain. Selain itu, mantan CEO perusahaan transportasi daring ini juga menyoroti kurikulum yang juga menjadi hambatan para guru.</p>
<p>Pak Nadiem sih tidak menyebut akalu dia tidak akan memberikan janji-janji kosong dalam pidatonya itu. Meski demikian, ia berharap para pengajar itu bisa melakukan perubahan tanpa perlu diberikan perintah terlebih dahulu.</p>
<p>Naskah pidato itu sendiri kemudian menuai banyak pujian di media sosial. Banyak yang menganggap bahwa masyarakat tuh jadi bisa punya <a href="https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/twitter-in-indonesia-abuzz-about-speech-by-education-minister-who-was-ex-gojeks-head">harapan</a> lagi karena punya Mendikbud dengan pemikiran cukup berbeda.</p>
<p>Dari naskah pidato itu, buat beberapa orang tampak bahwa Pak Nadiem ini cukup <em>concern</em> dengan perkara administratif yang menyulitkan para guru. Iya sih, gimana guru bisa fokus meningkatkan kualitas para peserta didiknya kalau harus direpotkan dengan berbagai aturan dan urusan administratif.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr"><a href="https://twitter.com/hashtag/SahabatDikbud?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#SahabatDikbud</a>, berikut pidato Mendikbud Nadiem Makarim pada upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional 2019. Naskah pidato dapat diunduh di laman <a href="https://t.co/7Cp0fjWeWK">https://t.co/7Cp0fjWeWK</a>.<a href="https://twitter.com/hashtag/HariGuruNasional?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#HariGuruNasional</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/HGN2019?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#HGN2019</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/MerdekaBelajar?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#MerdekaBelajar</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/GuruPenggerak?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#GuruPenggerak</a> <a href="https://t.co/Yu6ZVv1i6l">pic.twitter.com/Yu6ZVv1i6l</a></p>
<p>&mdash; Kemendikbud (@Kemdikbud_RI) <a href="https://twitter.com/Kemdikbud_RI/status/1198056156440121345?ref_src=twsrc%5Etfw">November 23, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Selain itu, Pak Nadiem juga sepertinya memang fokus pada inovasi, sesuai dengan yang dibayangkan banyak orang akan jadi jalannya Pak Nadiem. Ya, untuk urusan yang seperti ini kayaknya Pak Nadiem cukup layak untuk diacungi jempol.</p>
<p>Terlepas dari itu semua, sepertinya ada satu kelompok yang menyambut sangat baik pidato Pak Nadiem tersebut. Ialah anak-anak dari para guru, yang kemungkinan akan menangguk sambil berteriak setuju saat membaca naskah pidato itu. Kok bisa?</p>
<p>Kan disebutkan kalau para guru itu direpotkan sama urusan administratif, nah dalam praktiknya, banyak anak guru yang diminta bantuan oleh orang tua mereka untuk menyelesaikan hal itu. Dari perkara silabus sampai hal-hal lain, anak-anak para pendidik itu kerap dimintai tolong karena orang tua mereka juga harus fokus mengajar.</p>
<p>Jadi ya, sebenarnya naskah pidato Pak Nadiem ini memang akan disambut banyak pihak, apalagi oleh para anak guru. Setidaknya, kalau hal itu terjadi, para anak guru itu bisa terbebas dari permintaan tolong untuk mengetik silabus yang panjangnya ampun-ampunan.</p>
<p>Semoga aja Pak Nadiem serius ya menangani berbagai urusan administratif, aturan, dan kurikulum ini, biar cita-cita Indonesia yang lebih inovatif dapat terwujud.</p>
<p>Oh iya satu lagi, tolong titip penghasilan para pendidik ini ya Pak Nadiem, masa sudah harus mengetik banyak urusan administratif, menghadapi murid-murid bandel, gajinya masih banyak yang pas-pasan? Semoga Pak Nadiem serius ya memperhatikan nasib para pendidik ini. (H33)</p>
<p><iframe loading="lazy" title="Layakkah Soeharto jadi Pahlawan Nasional?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/znLSgDqfStA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/nadiem-minister-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
