<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>geopolitik &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/geopolitik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Jul 2026 04:33:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>geopolitik &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rame-rame-belah-gunung-gegara-hormuz/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2026 15:32:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=170132</guid>

					<description><![CDATA[Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h1 class="wp-block-heading">Rame-rame Belah Gunung Gegara Hormuz</h1>



<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-28-2026-10_21pm.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://WWW.PINTERPOLITIK.COM" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Ada ironi yang menarik dalam krisis Hormuz 2026. Iran menutup selat selama kurang dari tiga bulan — tapi dalam rentang waktu itu, Thailand mendadak mempercepat Land Bridge, Turki dan Arab Saudi menandatangani MoU rel kereta bersejarah, Meksiko mengoperasikan koridor lintas benua pertamanya, dan China semakin dalam berkomitmen membuka jalur Arktik bersama Rusia. Semua ini terjadi nyaris bersamaan, seperti orkestra yang tiba-tiba menemukan not-nya di saat konduktor lain baru saja memukul mejanya dengan keras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dunia sedang rame-rame belah gunung. Dan yang menarik, bukan karena ada yang memerintahkan — melainkan karena semua orang, secara terpisah, akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama: bergantung pada satu jalur sempit yang bisa ditutup oleh satu aktor tunggal adalah taruhan yang sudah terlalu mahal untuk terus dipertahankan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Selat Dunia Mulai Rapuh</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum Hormuz pun, gejalanya sudah ada. El Niño 2023 memangkas kapasitas transit Terusan Panama hingga separuhnya — dari 38 kapal sehari menjadi 18. Kapal-kapal LNG yang sudah beralih ke Cape of Good Hope lantas tidak kembali ke Panama bahkan setelah level air pulih. Mereka telah menginternalisasi sesuatu yang dulu dianggap biaya tersembunyi: biaya ketidakpastian. Serangan Houthi di Laut Merah sejak akhir 2023 memaksa hampir seluruh carrier besar dunia memutar jauh ke selatan Afrika. Biaya logistik global naik, rantai pasokan Asia-Eropa terganggu lebih dari satu tahun — semua ini sebelum Hormuz menjadi isu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hormuz, dengan kata lain, bukan titik awal krisis chokepoint global. Ia adalah akselerator dari proses yang sudah berjalan. Dan akselerasinya benar-benar dramatis: trafik di selat itu kolaps 95 persen. Federal Reserve memproyeksikan pertumbuhan PDB global bisa terpangkas hampir tiga persen poin. Untuk pertama kali dalam sejarah modern, hampir semua chokepoint maritim strategis dunia — Hormuz, Malaka, Suez, Panama, Bosphorus, hingga Arktik — secara bersamaan memiliki wacana bypass aktif yang didorong oleh krisis berbeda namun berkonvergensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini bukan kebetulan. Ini adalah gejala sistemik.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ratchet yang Tak Bisa Dibalik</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami mengapa tren ini berbeda dari kepanikan-kepanikan sebelumnya, kita perlu meminjam kerangka dari dua ilmuwan politik, James Mahoney dan Kathleen Thelen, yang merumuskan apa yang mereka sebut <em>critical juncture theory</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahoney dan Thelen berargumen bahwa sistem sosial dan politik cenderung terkunci dalam jalur tertentu — kondisi yang mereka sebut <em>path dependency</em>. Jalur ini tidak mudah berubah karena setiap pilihan sebelumnya menciptakan insentif untuk mempertahankan pilihan yang sama. Selat Hormuz bertahan sebagai jalur utama minyak dunia bukan karena tidak ada alternatif, melainkan karena selama tidak ada krisis yang cukup besar, membangun alternatif yang mahal selalu lebih tidak masuk akal daripada mempertahankan status quo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang mengubah itu semua adalah <em>critical juncture</em> — momen ketika krisis eksogen begitu besar sehingga kalkulasi biaya-manfaat dari status quo berubah secara fundamental. Dan inilah yang terjadi di 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Mahoney dan Thelen menambahkan satu elemen penting: tidak semua critical juncture menghasilkan perubahan permanen. Yang menentukan adalah apakah tekanan krisis cukup besar dan cukup lama untuk mengaktifkan apa yang bisa kita sebut <em>ratchet effect</em> — momentum yang, begitu bergerak, sulit untuk diputar balik. Dan di sinilah 2026 berbeda dari krisis Hormuz sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">MoU Hejaz Railway antara Turki dan Arab Saudi sudah ditandatangani. Legislasi Thai Land Bridge sudah masuk parlemen. Koridor Meksiko (CIIT) sudah menyelesaikan uji coba komersial pertamanya. Kapal Istanbul Bridge sudah melintasi rute Arktik dalam 20 hari — Shanghai ke Felixstowe, Inggris. Semua ini bukan sekadar feasibility study. Ini adalah investasi yang sudah dikeluarkan, kontrak yang sudah ditandatangani, preseden yang sudah tercipta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kilometer rel yang dibangun, setiap MoU yang ditandatangani, mengubah komitmen politik menjadi <em>sunk cost</em> — dan sunk cost adalah bentuk komitmen paling tahan lama dalam politik internasional. Bahkan jika Hormuz dibuka kembali besok, premi asuransi perang di selat itu sudah naik ke level yang secara struktural membuat alternatif bypass lebih kompetitif dari sebelum krisis. Psikologi pasar sudah bergeser. Dan psikologi pasar yang sudah bergeser tidak otomatis kembali ke baseline ketika krisis usai — ini sudah dibuktikan Panama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada satu dimensi lagi yang jarang dibahas: preseden. Jika Iran dapat menutup Hormuz tanpa konsekuensi terminal, setiap negara pantai dengan kapasitas angkatan laut dan motivasi yang cukup kini memiliki template. Turki sudah lama memiliki leverage serupa atas Bosphorus melalui Konvensi Montreux. Threshold untuk klaim semacam ini, begitu preseden terbentuk, menjadi jauh lebih rendah. Inilah yang ekonom politik paling khawatirkan: normalisasi diam-diam dari apa yang dulu disebut <em>chokepoint sovereignty</em> — konsep yang sebenarnya bertentangan langsung dengan prinsip <em>freedom of navigation</em> yang menjadi fondasi sistem perdagangan global.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Indonesia di Persimpangan yang Menguntungkan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah analisis ini sampai pada titik yang paling relevan — dan yang mungkin paling mengejutkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah kegaduhan global ini, Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang posisinya justru secara struktural semakin diperkuat. Bukan karena keberuntungan semata, melainkan karena geografi dan sumber daya alam Indonesia kebetulan berada tepat di persimpangan dua krisis sekaligus: krisis jalur maritim dan krisis rantai pasokan energi hijau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia diapit dua samudra, dengan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI I, II, dan III) yang menjadi koridor internasional wajib bagi arus perdagangan Asia-Eropa. Nilai strategis posisi ini bekerja dengan logika yang sederhana: setiap proyek bypass yang gagal terwujud — setiap kali wacana Kra Canal kembali mandek, setiap kali investor mundur dari Thai Land Bridge — secara otomatis memperpanjang dan memperdalam relevansi ALKI. Ketidakberhasilan orang lain adalah penguat posisi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat yang sama, ada dimensi kedua yang bahkan lebih menjanjikan: Indonesia adalah chokepoint baru dari jenis yang belum pernah ada sebelumnya. Cadangan nikel Indonesia mencapai 52 persen cadangan global. Rantai pasokan kendaraan listrik dunia tidak bisa berjalan tanpa melewati Indonesia. Ini bukan chokepoint air yang bisa di-bypass oleh kanal atau diputari oleh kapal. Ini adalah chokepoint mineral yang jauh lebih tahan terhadap upaya substitusi — dan kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah hari ini adalah langkah tepat untuk mengunci leverage itu menjadi nilai tambah nyata, bukan sekadar potensi di atas peta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua keunggulan ini bukan warisan pasif. Keduanya adalah modal aktif yang kini sedang dikelola dengan arah yang semakin jelas, dan momentumnya bertemu tepat dengan momen global yang paling membutuhkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pergeseran yang sedang berlangsung hari ini jauh lebih besar dari sekadar proliferasi proyek infrastruktur. Yang sedang terjadi adalah penulisan ulang filosofi dasar perdagangan global — dari efisiensi sebagai tujuan tertinggi, menuju resiliensi sebagai fondasi yang tidak dapat dikompromikan. Redundansi bukan lagi pemborosan. Redundansi adalah investasi geopolitik. Dan pergeseran paradigma seperti ini tidak terjadi dua kali dalam satu generasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rame-rame belah gunung gegara Hormuz. Semua negara sedang membangun jalan alternatifnya masing-masing, dengan cara dan alasan yang berbeda, tapi dengan satu kesadaran yang sama: bahwa bergantung pada satu titik sempit adalah kemewahan yang tidak lagi bisa ditanggung. Indonesia tidak perlu ikut membelah gunung orang lain. Justru sebaliknya — kita adalah salah satu dari sedikit negara yang, untuk sekali ini, sudah berdiri di tempat yang tepat sebelum dunia menyadari betapa berharganya tempat itu. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="N33FQ-72Wzw"><iframe title="The Three Kingdoms of PSI?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/N33FQ-72Wzw?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-28-2026-10_21pm.wav" length="25212090" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/chatgpt-image-jun-28-2026-10_25_12-pm-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pancho AS-Tiongkok, Siapa Kuat?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2026 04:31:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=170648</guid>

					<description><![CDATA[Dua negara adidaya sedang bertarung — bukan dengan peluru, tapi dengan panel surya, algoritma, chip semikonduktor, dan galangan kapal. Tiongkok menguasai infrastruktur fisik dunia: dari baterai EV hingga 90% pemrosesan mineral kritis. AS masih memegang infrastruktur kognitif: dari model AI hingga 90% peluncuran satelit global. Yang paling jarang disadari: keduanya saling bergantung secara struktural — [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-819x1024.png" alt="pancho as tiongkok, siapa kuat" class="wp-image-170649" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-819x1024.png" alt="pancho as tiongkok, siapa kuat (2)" class="wp-image-170650" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-2.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-819x1024.png" alt="pancho as tiongkok, siapa kuat (3)" class="wp-image-170651" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-819x1024.png" alt="pancho as tiongkok, siapa kuat (4)" class="wp-image-170652" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-4.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dua negara adidaya sedang bertarung — bukan dengan peluru, tapi dengan panel surya, algoritma, chip semikonduktor, dan galangan kapal. Tiongkok menguasai infrastruktur fisik dunia: dari baterai EV hingga 90% pemrosesan mineral kritis. AS masih memegang infrastruktur kognitif: dari model AI hingga 90% peluncuran satelit global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang paling jarang disadari: keduanya saling bergantung secara struktural — dan tidak bisa benar-benar menang tanpa yang lain. Di sinilah Indonesia harus bermain cerdas: bukan memilih kubu, tapi menjadi pihak yang *dibutuhkan* oleh keduanya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">#geopolitik #AS #Tiongkok #teknologi #jaganegeri</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pancho-as-tiongkok-siapa-kuat-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PT PAL &#8220;Kerasukan&#8221; Sriwijaya?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/pt-pal-kerasukan-sriwijaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 04:19:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Alutsista]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[maritim]]></category>
		<category><![CDATA[ptpal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=170619</guid>

					<description><![CDATA[PT PAL bukan lagi sekadar galangan kapal tua di Surabaya. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan yang sempat nyaris kolaps di 2010 ini bangkit menjadi satu-satunya produsen di Asia Tenggara yang mampu membangun fregat dan kapal selam sekaligus — dengan kontrak aktif Rp48 triliun dan laba bersih yang melonjak lebih dari dua kali lipat di 2025. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-819x1024.png" alt="pt pal kerasukan sriwijaya" class="wp-image-170620" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-819x1024.png" alt="pt pal kerasukan sriwijaya (2)" class="wp-image-170621" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-819x1024.png" alt="pt pal kerasukan sriwijaya (3)" class="wp-image-170622" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-819x1024.png" alt="pt pal kerasukan sriwijaya (4)" class="wp-image-170623" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-4.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">PT PAL bukan lagi sekadar galangan kapal tua di Surabaya. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan yang sempat nyaris kolaps di 2010 ini bangkit menjadi satu-satunya produsen di Asia Tenggara yang mampu membangun fregat dan kapal selam sekaligus — dengan kontrak aktif Rp48 triliun dan laba bersih yang melonjak lebih dari dua kali lipat di 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik kebangkitan ini ada misi yang lebih besar: mengembalikan Indonesia sebagai kekuatan maritim sejati, seperti Sriwijaya yang pernah menguasai lautan Nusantara berabad-abad lalu. Kapal perang kini lahir di dalam negeri, diekspor ke luar negeri, dan membuka lapangan kerja bagi insinyur-insinyur muda Indonesia.&nbsp;<img decoding="async" alt="🌊" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/17.0/1f30a/72.png"><img decoding="async" alt="⚓" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/17.0/2693/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">#jaganegeri #ptpal #maritim #alutsista #geopolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/pt-pal-_kerasukan_-sriwijaya-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bukan Palembang, Kapal Selam Moskow?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/bukan-palembang-kapal-selam-moskow/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 09:50:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[kapalselamrusia]]></category>
		<category><![CDATA[Militer]]></category>
		<category><![CDATA[Pertahanan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=170482</guid>

					<description><![CDATA[Kapal selam &#8220;Black Hole&#8221; bukan sekadar julukan — ini adalah salah satu platform bawah air paling senyap yang pernah dibuat manusia, dan Rusia disebut cukup tertarik menawarkannya ke Indonesia. Di tengah persaingan geopolitik yang kian sengit, godaan Jakarta untuk melirik Moskow punya argumen yang lebih kuat dari sekadar nostalgia. #jaganegeri #kapalselamrusia #pertahanan #geopolitik #militer]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-819x1024.png" alt="bukan palembang, kapal selam moskow" class="wp-image-170483" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-819x1024.png" alt="bukan palembang, kapal selam moskow (2)" class="wp-image-170484" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-819x1024.png" alt="bukan palembang, kapal selam moskow (3)" class="wp-image-170485" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kapal selam &#8220;Black Hole&#8221; bukan sekadar julukan — ini adalah salah satu platform bawah air paling senyap yang pernah dibuat manusia, dan Rusia disebut cukup tertarik menawarkannya ke Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah persaingan geopolitik yang kian sengit, godaan Jakarta untuk melirik Moskow punya argumen yang lebih kuat dari sekadar nostalgia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">#jaganegeri #kapalselamrusia #pertahanan #geopolitik #militer</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/bukan-palembang-kapal-selam-moskow-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Xi Jinping, the King of Games?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/xi-jinping-the-king-of-games/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2026 09:34:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Intelijen]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169725</guid>

					<description><![CDATA[Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-04-2026-4_07pm-1.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Coba perhatikan ponsel orang di sekitarmu. Di angkot, di kantin, di ruang tunggu — ada yang main Mobile Legends, ada yang buka Clash of Clans, ada yang sedang dalam antrian ranked di League of Legends. Pertanyaan yang hampir tidak pernah muncul adalah: sebetulnya, punya siapa game-game itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya mengejutkan bukan karena dramatis, tapi justru karena begitu wajar terdengar: semua jalan itu mengarah ke Shenzhen. Di sanalah Tencent berkantor — perusahaan teknologi Tiongkok yang dalam dua dekade terakhir membeli, satu per satu, studio-studio di balik game paling populer di dunia. Riot Games — pembuat League of Legends — kini 100 persen milik mereka. Supercell, kreator Clash of Clans, 84 persen. Moonton, yang membangun Mobile Legends, penuh. Epic Games, rumah Fortnite, sebagian besar saham strategisnya pun ada di tangan yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angkanya tidak bisa diabaikan: dari 15 game mobile berpendapatan tertinggi global per Februari 2026, tujuh dimiliki perusahaan Tiongkok, menghasilkan 668 juta dolar dalam satu bulan saja. Tiga koma enam miliar pemain aktif di seluruh dunia. Kepemilikan ini tidak diumumkan dengan fanfare, tidak terasa seperti penaklukan — dan justru itulah yang membuat ceritanya menarik.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kekuatan yang Tidak Memerlukan Panggung</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada cara yang berguna untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan ia datang dari tiga pemikir yang jarang duduk dalam satu paragraf yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang pertama adalah Joseph Nye. Konsep <em>soft power</em> yang ia perkenalkan pada 1990 sederhana tapi tajam: kekuatan sejati bukan hanya soal siapa yang memiliki senjata paling besar, tapi siapa yang bisa membuat orang lain <em>menginginkan</em> apa yang kamu tawarkan. Hollywood, jazz, Levi&#8217;s — Amerika tidak menyebarkan itu dengan dekrit. Orang memilihnya karena mau. Nye menyebut soft power paling efektif adalah yang tidak terasa seperti pengaruh sama sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari situ, bayangkan seorang remaja di Makassar yang bermain Honor of Kings 15 jam seminggu — menyerap estetika, nama karakter, dan mitologi yang seluruhnya berakar pada peradaban Tiongkok. Tidak ada yang memaksanya. Tidak ada propaganda. Hanya game yang bagus, dengan desain visual yang indah, dan komunitas yang hidup. Inilah soft power dalam bentuknya yang paling murni: ia bekerja persis karena tidak terasa seperti bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Nye baru menjelaskan separuh ceritanya. Separuh lainnya ada pada Shoshana Zuboff, yang dalam bukunya <em>The Age of Surveillance Capitalism</em> (2019) berargumen bahwa platform digital tidak sekadar menjual produk kepada pengguna — mereka mengekstrak perilaku pengguna sebagai bahan baku. Setiap klik, setiap sesi bermain, setiap keputusan in-game adalah titik data. Game mobile adalah mesin ekstraksi yang sempurna karena ia mengumpulkan geolokasi, pola waktu harian, jaringan sosial, bahkan respons psikologis terhadap tekanan — bukan dengan memaksa, tapi dengan membuat penggunanya tidak mau berhenti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah konteks Tiongkok membuat segalanya menjadi berbeda. Revisi Undang-Undang Kontra-Spionase Tiongkok pada 2023 mewajibkan semua perusahaan di bawah yurisdiksi Beijing untuk menyerahkan akses data kepada pemerintah bila diminta — tanpa pengecualian. Artinya, tidak ada pemisahan tegas antara data komersial Tencent dan akses potensial negara. Ini bukan tuduhan; ini teks undang-undang yang bisa dibaca siapa saja. Dan ini pula yang membuat pemerintahan Trump pada awal 2026 mempertimbangkan pemaksaan Tencent melepas kepemilikannya di Riot Games dan Epic Games — bukan karena ada bukti penyalahgunaan, tapi karena <em>potensinya ada secara struktural</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerangka terakhir datang dari Susan Strange, ekonom politik yang memperkenalkan teori <em>structural power</em>: kekuasaan paling tahan lama bukan yang memaksa, melainkan yang menentukan aturan main. Siapa yang menguasai infrastruktur — energi, keuangan, komunikasi, pengetahuan — menentukan kondisi di mana semua orang lain harus bermain. Game, dalam kerangka Strange, adalah infrastruktur kultural abad ke-21. Menguasainya bukan berarti mengontrol apa yang dimainkan orang, melainkan menguasai platform tempat jutaan interaksi sosial, preferensi, dan jejak perilaku manusia terbentuk dan terekam setiap hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gabungkan ketiganya — soft power Nye, surveillance capitalism Zuboff, structural power Strange — dan gambaran yang muncul bukan sekadar kisah sukses bisnis. Ini arsitektur pengaruh yang bekerja di tiga lapisan sekaligus, diam-diam, melalui sesuatu yang orang nikmati.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Naga yang Tidak Lagi Tersembunyi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada ungkapan dalam tradisi strategi Tiongkok kuno: <em>crouching tiger, hidden dragon</em>. Harimau yang berjongkok bukan harimau yang lemah — ia sedang mengatur posisi. Naga yang tersembunyi bukan naga yang tidak ada — ia menunggu momen yang tepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama dua dekade, itulah yang Tiongkok lakukan di industri game. Masuk perlahan, akuisisi bertahap, bangun ketergantungan, dan biarkan ekosistemnya tumbuh. Dunia membacanya sebagai ekspansi bisnis biasa — karena memang, di permukaan, ia terlihat persis seperti itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang berubah sekarang adalah skalanya merembet ke mana-mana. Pola yang sama sedang berulang di industri film, musik streaming, dan platform konten global. Konglomerasi hiburan Tiongkok masuk ke distribusi sinema internasional. Platform streaming asal Tiongkok mulai menyaingi Netflix di pasar Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Apa yang dimulai dari game perlahan memb</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">entuk ekosistem hiburan alternatif berskala planet — yang tidak berpusat di Los Angeles dan tidak tunduk pada asumsi-asumsi kultural Barat yang selama ini dianggap default.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amerika membangun dominasi kulturalnya lewat Hollywood dan Coca-Cola, dan ia berhasil karena orang-orang di seluruh dunia memilihnya secara sukarela. Tiongkok sedang membangun versi barunya melalui layar yang kita pegang setiap malam — melalui game, karakter, dan turnamen yang kita ikuti. Bedanya tipis tapi signifikan: kerangka hukum yang melingkupinya berbeda dari yang melahirkan Hollywood.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Indonesia, ini bukan pertanyaan abstrak. Dengan 155 juta gamer aktif dan lebih dari 70 persen game terpopuler berkapital Tiongkok, Indonesia adalah salah satu arena terbesar dari dinamika ini. Belum ada regulasi yang secara eksplisit mengatur dimensi kedaulatan data dari penguasaan asing atas platform hiburan digital. Pertanyaan-pertanyaan itu — soal data, industri domestik, kerangka kebijakan — sudah seharusnya masuk agenda, bukan sebagai kepanikan, melainkan sebagai bagian dari kecerdasan strategis yang wajar dimiliki negara besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Naga sudah mulai muncul dari persembunyiannya. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini sedang terjadi. Pertanyaannya adalah: apakah kita tahu bahwa kita sedang berada di dalam permainannya? (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xO6VtqYYWzY"><iframe loading="lazy" title="Kehebatan Uni Emirat Arab, Sosok Menteri Perempuan di Perang Iran" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xO6VtqYYWzY?start=2&amp;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-04-2026-4_07pm-1.wav" length="0" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/12-1-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>“Blueprint” Makedonia di Indonesia?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/blueprint-makedonia-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 11:42:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[realisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169004</guid>

					<description><![CDATA[Bagaimana negara yang paling diabaikan kerap menjadi kekuatan yang paling diperhitungkan — dan mengapa dunia sebaiknya mulai memperhatikan Indonesia
 
 ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-26-2026-6_22pm-1.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sejarah buktikan negara yang tak terduga kerap menjadi kekuatan yang paling diperhitungkan — dan mengapa dunia sebaiknya mulai memperhatikan Indonesia</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph">PinterPolitik.com<br><br><strong>Pada 13 April 2026, dua hal terjadi secara bersamaan di dua belahan dunia. </strong>Di Washington, Menhan Indonesia menandatangani Major Defense Cooperation Partnership dengan Amerika Serikat di Pentagon. Di Moskow, pada jam yang nyaris bersamaan, Presiden Prabowo Subianto duduk berhadapan dengan Vladimir Putin di Kremlin, membahas ketahanan energi di tengah krisis Hormuz. Tidak ada pihak yang merasa dikhianati. Dan dunia menyaksikan Indonesia melakukan sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah modern: dipercaya oleh pihak-pihak yang saling tidak mempercayai satu sama lain.<br><br>Namun, momen itu bukan anomali diplomatik, ini adalah cerminan dari sebuah pola yang berulang dalam sejarah kekuatan besar — negara yang “dipandang sebelah mata” oleh sistem internasional pada satu generasi kerap menjadi kekuatan dominan di sistem berikutnya. Makedonia, Roma, Athena — semuanya memulai dari pinggiran, dianggap tidak berbahaya, bahkan berguna sebagai penyangga bagi kekuatan.<br><br>Dan ketika transformasi terjadi, hampir selalu mengejutkan semua orang kecuali mereka yang bisa melihat peta dengan jujur. Para sejarawan strategi menyebut mekanisme ini dengan satu istilah: <strong>Peripheral Ascent Paradox</strong>.<br><br><strong><mark style="background-color:#abb8c3" class="has-inline-color">Tiga Cermin Sejarah</mark></strong><br><br><br>Athena sebelum Perang Persia (490 SM) adalah kota yang dianggap Persia sebagai gangguan minor — terlalu kecil untuk diambil serius, terlalu jauh dari pusat kekaisaran untuk menjadi ancaman eksistensial. Kekuatannya terletak bukan pada ukuran, melainkan pada satu keputusan counter-intuitive: Themistocles meyakinkan rakyatnya untuk menginvestasikan windfall perak dari tambang Laurion ke dalam armada laut, bukan membagi-bagikannya sebagai populisme jangka pendek. Hasilnya adalah kemenangan di Salamis (480 SM) — dan dari satu keputusan fiskal yang awalnya tampak gila, lahirlah dominasi maritim setengah abad.<br><br>Roma adalah kasus yang lebih panjang dan lebih brutal. Kota itu dibakar habis oleh Galia (390 SM) dan nyaris tidak bertahan dari Hannibal dua abad kemudian. Yang membedakannya dari Kartago yang kaya dan polis-polis Yunani yang lebih terdidik adalah kapabilitas yang oleh Polybius disebut kunci keunggulan Roma: kemampuan menyerap kekalahan tanpa kehilangan kohesi institusional. Roma kalah 16 pertempuran melawan Hannibal dan tetap berperang, dan selalu jadi pemenang. Namun, Roma menjadi imperium bukan karena kemenangan militer semata — tapi karena bisa beradaptasi dengan taktik musuhnya.<br><br>Makedonia di bawah Filipus II (359 SM) adalah sintesis keduanya. Ketika naik takhta, Makedonia baru saja kehilangan 4.000 prajuritnya melawan Illyria, Athena mendanai pretender takhta tandingan, dan Persia memandangnya sebagai provinsi kecil yang bisa dibeli. Filipus membalik ini melalui tiga gerakan presisi: inovasi militer asimetris lewat phalanx sarissa yang mengobsoletkan doktrin lama, monetisasi tambang Amphipolis untuk membiayai tentara profesional, dan hedging diplomatik yang memainkan rivalitas Athena-Thebes dan Persia-Yunani tanpa terjebak di salah satunya. Satu benang merah menghubungkan ketiga kasus: transformasi tidak dimulai dari kekuatan yang sudah ada — melainkan dari rekonfigurasi kapabilitas yang diremehkan oleh para rival.<br><br><strong>Peripheral Ascent Paradox</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara pusat sibuk mempertahankan masa lalu. Negara pinggiran bebas mencuri masa depan.<br><br>Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah mekanisme. Sosiolog Randall Collins menyebutnya keunggulan posisi marjinal: aktor di pinggiran sistem rivalitas tidak menanggung biaya langsung dari konflik di pusatnya, tapi mendapat akses ke sumber daya yang mengalir dari vacuum yang diciptakan konflik itu. Ekonom Alexander Gerschenkron menyebutnya advantages of backwardness: negara yang terlambat industrialisasi dapat melompati tahap-tahap mahal yang dilalui pelopor dan langsung mengadopsi teknologi terbukti. Sejarawan Paul Kennedy menambahkan lapisan ketiga: kekuatan besar tidak runtuh karena diserang dari luar — mereka runtuh karena overextension internal, dan vacuum yang mereka tinggalkan selalu diisi oleh aktor pinggiran yang lebih ringan bergerak.<br><br>Digabungkan, ketiganya menjelaskan fenomena yang kami sebut Peripheral Ascent Paradox: kekuatan yang mendefinisikan tatanan baru hampir tidak pernah lahir dari pusat tatanan lama. Kissinger mengobservasi dalam A World Restored bahwa kekuatan mapan selalu bersiap mengulang perang terakhir — dan karenanya selalu terlambat mengenali aktor yang bermain dengan aturan berbeda. Konsekuensinya adalah struktural: selama perhatian tercurah pada rivalitas yang sudah dikenal, aktor di pinggiran bergerak tanpa hambatan.<br><br>Indonesia, pada April 2026, berada persis di tengah paradoks ini. Washington dan Beijing menghabiskan mayoritas kapasitas strategis mereka saling mengawasi. Indonesia, meskipun berada di pusat geografis persaingan itu, tidak masuk dalam biner pengawasan utama mereka. Konsekuensinya: Jakarta mendapat akses ke sumber daya, teknologi, dan kemitraan dari kedua pihak tanpa harus membayar harga yang biasanya diminta dari negara yang sudah dikategorikan dalam satu kubu.<br><br><strong>Indonesia dan Phalanx-nya Sendiri?</strong><br><br><br>Di peta, Indonesia tampak seperti rantai pulau yang tersebar. Dalam praktik strategis, ia adalah sistem pengunci: siapa yang menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda menentukan siapa yang mengontrol pelayaran antara Samudra Hindia dan Pasifik — jalur di mana 40% perdagangan dunia bergerak setiap hari. Ini bukan geografi yang bisa diabaikan, dan ini pula mengapa setiap kekuatan besar secara bersamaan menginginkan Jakarta sebagai mitra tanpa ada yang berani menekannya terlalu keras.<br><br>Indonesia sedang mengisi keunggulan posisi itu dengan kapabilitas yang konkret. Program modernisasi militer Prabowo adalah yang paling ambisius di kawasan dalam dua dekade: 42 jet Rafale, dua kapal selam Scorpène yang dibangun di galangan PT PAL Surabaya dengan transfer teknologi penuh dari Naval Group Prancis, dan sistem artileri CAESAR. Yang penting bukan volumenya: Scorpène akan dibangun di Surabaya, menghadap Laut Jawa dan akses lane ke Pasifik Barat. Indonesia tidak hanya membeli kapabilitas — ia mulai menempa kapabilitasnya sendiri.<br><br>Di luar militer, strategi minerals-for-tech Indonesia memiliki logika yang sama. Menguasai lebih dari 40% cadangan nikel dunia, Jakarta tidak menjual mineralnya — ia menjual akses bersyarat, dengan syarat berupa transfer teknologi dan lokalisasi produksi. Dalam kunjungan ke Washington Februari 2026, Prabowo menawarkan 18 proyek hilirisasi senilai US$38 miliar kepada investor Amerika. Ini bukan angka perdagangan biasa: Indonesia sedang mendefinisikan ulang posisinya dari eksportir bahan mentah menjadi penentu syarat akses ke mineral yang dibutuhkan seluruh dunia.<br><br><strong>Sebuah </strong><strong>Blueprint yang Siap Diaplikasikan</strong><br><br>Sejarah mencatat lebih banyak rencana besar yang kandas dibanding kerajaan yang lahir. Makedonia bisa saja berhenti sebagai eksperimen militer Filipus yang ambisius. Athena bisa saja memilih membagi koin Laurion dan tidak pernah membangun trireme-nya. Setiap transformasi yang kita kenang sebagai keniscayaan, pada zamannya adalah taruhan yang sama sekali tidak pasti.<br><br>Yang membuat Indonesia berbeda dari sekedar &#8216;negara berpotensi besar&#8217; — sebuah kategori yang penuh penghuni tanpa pernah menghasilkan kekuatan nyata — adalah variabel-variabel kritis sudah tidak lagi dalam tahap wacana. Rafale sudah mendarat. Galangan Surabaya sedang menyiapkan diri untuk Scorpène. Nikel sudah dikondisikan sebagai leverage, bukan sekadar komoditas. Dan pada satu hari di April 2026, seorang Presiden Indonesia duduk di Kremlin dan mengirimkan orang kepercayaannya ke Pentagon dalam waktu yang bersamaan, tanpa satupun menganggapnya sebagai kontradiksi.<br><br>Makedonia tidak menjadi superpower karena beruntung berada di persimpangan. Ia menjadi superpower karena ada pemimpin yang memahami bahwa posisi geografis adalah modal awal yang bisa habis — dan bahwa konversinya ke kapabilitas nyata memerlukan urutan yang tepat, konsistensi doktrin, dan kesabaran yang melampaui satu periode kekuasaan. Indonesia sudah memiliki bahan mentah yang jarang bersatu dalam satu generasi: geografi yang mengunci, mineral yang dibutuhkan semua pihak, dan elite yang mulai memahami nilai keduanya.<br><br>Yang tidak pasti justru bukan Indonesia. Yang tidak pasti adalah dunia di sekelilingnya — apakah AS dan Tiongkok akan terus sibuk saling mengawasi cukup lama untuk memberi Jakarta ruang yang dibutuhkan, apakah kekuatan-kekuatan yang sudah mapan akan menyadari apa yang sedang tumbuh di antara dua samudra sebelum terlambat untuk meresponsnya.<br><br>Pertanyaan yang tepat, dengan demikian, bukan apakah Indonesia bisa, tapi siapa yang akan menyesuaikan diri ketika Indonesia tidak menjadi negara yang bisa diabaikan — dan apakah mereka sudah cukup siap untuk itu? (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Khamenei-Israel-AS, Nubuat Geopolitik Akhir Zaman?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/peBmSQjPkoc?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-26-2026-6_22pm-1.wav" length="26746170" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/file_00000000788471fa9e6cd2a560aed08a-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Geopolitik Pangan Dunia di Tangan Prabowo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/geopolitik-pangan-dunia-di-tangan-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ketahanan Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Pupuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168927</guid>

					<description><![CDATA[Enam negara antre impor pupuk dari Indonesia. Apakah ini awal era kebangkitan kekuatan geopolitik "food power" Jakarta?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-22-2026-2-1.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Enam negara antre impor pupuk dari Indonesia. Apakah ini awal era kebangkitan kekuatan geopolitik &#8220;food power&#8221; Jakarta?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Control over food is concentrated in relatively few hands.&#8221; – Jennifer Clapp, <em>Food </em>(2012)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin membaca berita pagi ini sambil menyeruput kopi di warung langganannya. Layar ponselnya menampilkan sebuah judul yang mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang: Indonesia akan mengekspor 250.000 ton pupuk urea ke Australia sebagai tahap pertama, dengan total komitmen ekspor mencapai sekitar satu juta ton ke India, Brasil, Filipina, dan Thailand.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Cupin, berita itu bukan sekadar angka perdagangan. Ia teringat bahwa Presiden Prabowo sendiri yang membahas rencana ini langsung dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese — sebuah sinyal bahwa pupuk kini bukan urusan kementerian teknis semata, melainkan sudah naik kelas menjadi agenda kepala negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mencoba memahami konteksnya lebih dalam. Produksi urea nasional mencapai 7,8 juta ton per tahun sementara kebutuhan domestik hanya sekitar 6,3 juta ton, sehingga tersisa surplus yang cukup signifikan untuk diekspor tanpa mengorbankan ketahanan dalam negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat Cupin semakin penasaran adalah fakta bahwa negara-negara ini tidak sekadar mengirim email permintaan resmi. Perwakilan Australia, India, hingga Polandia datang langsung ke Kantor Kementerian Pertanian di Jakarta untuk menjajaki kerja sama — sebuah pemandangan yang jarang terjadi dalam sejarah diplomasi komoditas Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin meletakkan ponselnya dan berpikir sejenak. Ia tahu bahwa ketegangan di Selat Hormuz telah mengguncang rantai pasok pupuk dunia, membuat harga urea internasional melonjak hampir dua kali lipat dalam hitungan bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam situasi seperti ini, Indonesia yang memiliki cadangan gas alam murah di Kalimantan Timur dan Sumatera sebagai bahan baku amonia tiba-tiba menjadi negara yang sangat dibutuhkan. Cupin mulai bertanya-tanya: apakah ini sekadar peluang dagang sesaat, atau ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di tangan Prabowo? Dan jika pupuk bisa menjadi instrumen kekuatan, apakah Indonesia siap memainkan peran itu di panggung dunia?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DXYZbYVDftd/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DXYZbYVDftd/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DXYZbYVDftd/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Food Power</em></strong><strong>: </strong><strong>Geopolitik Pangan Dunia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membuka laptopnya dan mulai mencari referensi. Ia menemukan konsep yang disebut Jennifer Clapp dalam bukunya <em>Food</em> sebagai &#8220;food power&#8221; — kemampuan sebuah negara menggunakan kendali atas produksi dan distribusi pangan sebagai instrumen diplomasi serta leverage dalam hubungan internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep ini bukan teori kosong, dan Cupin mengetahuinya dari sejarah. Amerika Serikat sudah mempraktikkannya sejak dekade 1950-an melalui program ekspor gandum PL-480, yang secara efektif menjadikan bantuan pangan sebagai alat pengaruh geopolitik selama Perang Dingin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rusia pun melakukan hal serupa dengan menjadi eksportir gandum terbesar dunia sebelum menginvasi Ukraina. Ketika Moskow menghentikan ekspor gandumnya, negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah langsung mengalami krisis pangan yang memperburuk ketidakstabilan politik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin kemudian menemukan kerangka berpikir Michael Porter dalam <em>The Competitive Advantage of Nations</em> tentang apa yang disebut &#8220;diamond of national competitive advantage.&#8221; Menurut Porter, keunggulan kompetitif sejati bukan lahir dari satu faktor tunggal, melainkan dari kluster yang saling mendukung antara sumber daya alam, industri pendukung, dan permintaan domestik yang besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia, menurut pembacaan Cupin, memenuhi semua elemen dalam diamond tersebut secara bersamaan. Negara ini memiliki lahan tropis subur, tenaga kerja pertanian masif, cadangan gas alam untuk produksi amonia murah, serta pasar domestik 282 juta jiwa yang menjamin permintaan tetap tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin juga membaca teori Heckscher-Ohlin yang dikembangkan ekonom Swedia Eli Heckscher dan muridnya Bertil Ohlin dalam <em>Interregional and International Trade</em>, yang menyatakan bahwa sebuah negara akan mengekspor komoditas yang intensif menggunakan faktor produksi paling berlimpah di negara tersebut. Indonesia dengan tiga faktor berlimpah sekaligus — lahan, tenaga kerja, dan gas alam — adalah contoh nyata yang bahkan melampaui prediksi model klasik ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah Prabowo mendirikan Southeast Asia Fertilizer Association bersama Malaysia dan Brunei pada April 2026, dengan Indonesia sebagai Ketua perdana, mengingatkan Cupin pada logika pembentukan OPEC. Bedanya, kali ini yang dikonsolidasikan bukan minyak bumi, melainkan pupuk — komoditas yang kini setara urgensinya dengan energi dalam arsitektur ketahanan pangan global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Cupin tetap realistis dan bertanya pada dirinya sendiri: apakah keunggulan komparatif ini cukup untuk menjadikan Indonesia benar-benar berkuasa di meja pangan dunia? Dan hambatan struktural apa yang masih menghalangi langkah besar ini?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DXWQKb-F59w/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DXWQKb-F59w/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DXWQKb-F59w/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Masa Depan Pangan Dunia di Tangan Prabowo</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin tahu bahwa potensi saja tidak cukup. Jeffrey Sachs dan Andrew Warner dalam studi klasik mereka tentang &#8220;resource curse&#8221; menunjukkan bahwa negara-negara kaya sumber daya justru sering gagal mengoptimalkan keunggulannya karena jebakan <em>rent-seeking</em> dan lemahnya institusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Cupin juga mengingat bahwa Indonesia pernah membantah teori tersebut melalui kebijakan hilirisasi nikel di era sebelumnya. Ketika larangan ekspor bijih nikel mentah diterapkan dan pemrosesan nilai tambah dipaksa dilakukan di dalam negeri, nilai ekspor nikel melonjak dari Rp17 triliun menjadi Rp510 triliun — sebuah preseden yang sangat relevan untuk diterapkan pada sektor pangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin melihat bahwa langkah-langkah awal ke arah yang benar sudah mulai terlihat di era Prabowo. Rencana ekspansi tujuh pabrik pupuk baru senilai Rp50 triliun dalam lima tahun ke depan, kemitraan Pupuk Kaltim dengan perusahaan Denmark untuk membangun pabrik amonia hijau berkapasitas satu juta ton per tahun, serta program biodiesel B40 yang menghemat belasan miliar dolar dari impor BBM adalah fondasi yang sedang diletakkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dani Rodrik dalam <em>The Globalization Paradox</em> mengingatkan bahwa setiap negara berkembang kaya sumber daya menghadapi trilemma antara memaksimalkan pendapatan ekspor, membangun industri hilir yang lebih kompleks, dan menjaga stabilitas politik domestik. Cupin memahami bahwa menavigasi trilemma ini membutuhkan keseimbangan yang sangat cermat, bukan pilihan biner.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menarik bagi Cupin adalah fakta bahwa cadangan beras nasional per April 2026 mencapai 4,5 juta ton — cukup untuk sebelas bulan kebutuhan domestik. Angka ini memberi ruang politik yang luas bagi Prabowo untuk mulai berpikir ofensif, bukan sekadar defensif, dalam strategi pangan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">David Ricardo dalam <em>On the Principles of Political Economy and Taxation</em> mengajarkan bahwa perdagangan menguntungkan semua pihak ketika setiap negara mengkhususkan diri pada barang dengan biaya peluang terendah. Indonesia, dengan keunggulan komparatif berlapis dalam pangan — dari sawit yang menguasai 59 persen produksi dunia hingga pupuk urea terbesar di Asia — memiliki argumen ekonomi yang sangat kuat untuk mengambil peran lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menutup laptopnya dan menyandarkan punggung ke kursi. Ia menyadari bahwa pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia memiliki potensi menjadi kekuatan pangan dunia — data dan teori sudah menjawab itu dengan tegas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan sesungguhnya, pikir Cupin, adalah soal waktu dan kemauan politik. Geopolitik pangan kini memang berada di tangan Prabowo, dan sejarah akan mencatat apakah momentum langka ini — ketika dunia mengetuk pintu Jakarta untuk membeli pupuk — berhasil dikonversi menjadi posisi strategis jangka panjang yang menguntungkan tidak hanya negara, tetapi juga jutaan petani kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan Indonesia. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="peBmSQjPkoc"><iframe loading="lazy" title="Khamenei-Israel-AS, Nubuat Geopolitik Akhir Zaman?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/peBmSQjPkoc?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-22-2026-2-1.mp3" length="2803964" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/geopolitik-pangan-dunia-di-tangan-prabowo-1024x682.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Di Saat Dunia Menarik Diri</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/di-saat-dunia-menarik-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2026 05:58:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[badai]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[hilirisasi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kapal. badai]]></category>
		<category><![CDATA[ketahanan energi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelabuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[strategi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168751</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #18PinterPolitik.com Di sebuah pelabuhan kecil, menjelang musim yang tidak menentu, perahu-perahu kembali lebih awal. Layar diturunkan. Tali-tali diikat ganda. Pedagang menutup lapak sebelum hari benar-benar gelap, dan seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/kapal-1-nifucceo.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #18</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sebuah pelabuhan kecil, menjelang musim yang tidak menentu, perahu-perahu kembali lebih awal. Layar diturunkan. Tali-tali diikat ganda. Pedagang menutup lapak sebelum hari benar-benar gelap, dan seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya mengapa semua orang terburu-buru pulang. Ayahnya tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke ujung dermaga, ke arah satu kapal yang justru sedang memuat — diam-diam, tanpa banyak kata, dengan urutan yang sudah lama direncanakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kapal itu bukan cerita tentang tempat lain. Kapal itu adalah negeri ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Laporan terbaru Bank Dunia menurunkan proyeksi ekonomi Indonesia 2026 ke 4,7 persen — sedikit di atas rata-rata dunia — dan belum setinggi langit yang sedang diukur Jakarta untuk dirinya sendiri. Di hampir semua ibu kota negara berkembang, respons terhadap angka semacam ini sudah baku: rapatkan barisan, potong belanja, tunggu badai berlalu. Jakarta memilih jalan lain. Lebih dari Rp 400 triliun dialokasikan untuk ketahanan energi, hampir Rp 340 triliun untuk pertahanan, dan ratusan triliun lagi untuk hilirisasi yang belum selesai. Bagi mata yang terbiasa membaca neraca, ini terlihat seperti keberanian yang tidak perlu — begitu bisik mereka yang lebih percaya pada spreadsheet daripada pada sejarah. Bagi yang terbiasa membaca sejarah, ini adalah logika yang sudah dipahami oleh setiap pedagang yang pernah membeli gudang di musim paceklik: harga bangunan paling rendah justru ketika dermaga-dermaga masih basah dan langit belum memutuskan warnanya. Ia menjadi paling mahal ketika semua orang sudah kembali berlayar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar belanja besar. Selama setengah abad, dunia hidup di bawah rezim yang tidak tertulis namun rapi disebut petrodollar: simbiosis antara minyak, dolar, dan jaminan keamanan yang dijaga oleh armada bertenaga fosil di selat-selat yang sama. Indonesia pernah berdiri sebentar di panggung itu — sebagai anggota OPEC yang kemudian menjadi importir — sebelum perlahan bergeser ke sayap panggung. Yang dilakukan Prabowo hari ini, jika dilihat dari jarak yang cukup jauh, bukan menambal fiskal atau memperbarui armada. Ia sedang berusaha pindah dari sayap panggung ke kursi pengarah, kali ini bukan dengan minyak, melainkan dengan kombinasi yang lebih baru: nikel, tembaga, dan listrik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia memegang sekitar 40 persen cadangan nikel dunia dan hampir 60 persen produksi globalnya. Chile, yang memegang sepertiga cadangan tembaga dunia, sudah mulai bergerak ke arah yang serupa meski dengan langkah yang lebih pelan. Filipina, dengan cadangan nikel terbesar kedua, masih memilih mengekspor bijih mentah. Pertanyaannya bukan apakah tatanan mineral-listrik akan terbentuk. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi arsiteknya. Di sinilah kesalahan paling umum dalam membaca kebijakan Prabowo terjadi: para analis memperlakukan tiga komitmen besarnya — energi, pertahanan, dan hilirisasi — sebagai tiga proyek yang berdiri sendiri, lalu menjumlahkan biayanya dan mengernyitkan dahi. Mereka bukan tiga proyek. Mereka adalah satu rangkaian. Listrik bersih diperlukan untuk melebur nikel dengan biaya rendah dan emisi yang bisa diterima pasar Eropa; nikel yang diolah menghidupkan industri baterai yang menjadi fondasi kemampuan pertahanan modern; pertahanan yang kredibel menjaga jalur di mana mineral itu mengalir ke dunia. Putuskan satu mata rantai, seluruh sistem kehilangan dayanya — dan justru karena itulah rangkaian ini didesain untuk tidak bisa diputus. Tutup rangkaiannya, Indonesia berhenti menjadi tempat yang dilewati dan mulai menjadi tempat yang harus disinggahi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama lima abad, nasib negeri ini ditentukan oleh apakah selat-selatnya terbuka atau tertutup, oleh apakah kapal-kapal datang atau melintas saja. Untuk pertama kalinya, pertanyaannya sedang dibalik. Bukan lagi apakah dunia mau singgah. Melainkan apakah dunia punya pilihan untuk tidak singgah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah memiliki lebih banyak catatan tentang pemimpin yang berhasil dengan kalkulasi serupa daripada yang biasa kita akui. Park Chung-hee meluncurkan program industri berat Korea di tengah krisis minyak 1973, ketika seluruh dunia mengatakan Seoul terlalu miskin untuk bermimpi — dua dekade kemudian, POSCO dan Hyundai menjadi nama yang diucapkan di setiap ruang rapat industri dunia. Deng Xiaoping membuka zona ekonomi ketika Tiongkok masih termiskin di Asia; justru karena tidak ada yang percaya, ia mendapatkan mitra dan harga yang tidak akan pernah tersedia di masa percaya diri. Mahathir membangun Petronas dan industri manufaktur Malaysia di tengah jatuhnya harga komoditas, dan dikritik sebagai megalomaniak — sampai tetangganya sendiri mulai mengetuk pintu untuk belajar. Hilirisasi Indonesia adalah kelanjutan logika itu — logika yang oleh Albert Hirschman, ekonom pembangunan kelahiran Berlin, disebut sebagai kaitan ke depan: menggenjot satu sektor yang cukup kuat menarik sektor-sektor lain di belakangnya. Cara pembiayaannya — BUMN, konsorsium multinasional, Danantara — adalah versi tropis dari apa yang Alexander Gerschenkron, sejarawan ekonomi yang meneliti industrialisasi Eropa Timur, sebut keistimewaan negara yang datang belakangan: ia tidak mewarisi infrastruktur usang, dan bisa melompat dengan teknologi termutakhir, lewat negara yang berani memikul risiko yang tak berani diambil pasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada negara yang selamat dengan menunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi musuh terbesar setiap kapal besar bukanlah badai di luar. Ia adalah kebocoran kecil di lambung — yang diam-diam mengisi palka dengan air sementara kapten sedang membaca arah angin di haluan. Kebocoran itu datang dari dua arah sekaligus. Yang pertama: lingkaran terdekat presiden — para pembantu, para pemangku jabatan, para penjaga pintu istana yang mengubah kedekatan menjadi transaksi. Beberapa kasus yang menjadi sorotan masyarakat baru-baru ini bukan sekadar skandal anggaran; mereka adalah sinyal bahwa ada orang-orang di ruang kemudi yang sudah mulai menyisipkan muatan pribadi ke dalam kapal negara, sementara kapten sedang membentangkan peta untuk perjalanan berikutnya. Yang kedua: deep state — para pejabat kementerian dan birokrat karir yang sudah berlayar di kapal ini jauh sebelum Prabowo naik, yang tetap di pos ketika presiden berganti, yang menguasai setiap lorong dan setiap kunci cadangan, dan yang tahu persis bagaimana membuat perintah dari atas tiba di bawah dalam bentuk yang sudah berbeda. Kaisar Yang dari Dinasti Sui membangun Kanal Besar Tiongkok pada abad ketujuh — proyek yang masih mengalirkan air empat belas abad kemudian. Tetapi para pejabat yang mengawasi pembangunannya menyisipkan nama sendiri di antara baris-baris anggaran. Kanal itu abadi. Dinasti yang membangunnya tidak bertahan empat puluh tahun. Lee Kuan Yew memahami paradoks ini lebih awal daripada siapa pun di Asia modern — ia membangun biro antikorupsi sebelum membangun bandara, karena ia tahu: yang meruntuhkan prakarsa besar bukanlah mereka yang menentangnya dari luar, melainkan mereka yang diberi kunci gudang dan diam-diam mengubah mandat negara menjadi jalan pintas pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik seluruh kalkulasi fiskal itu, ada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam: sebuah kontrak baru antara pemimpin dan bangsanya. Para populis di banyak negara menjanjikan subsidi dan pajak rendah — janji yang terasa hangat di telapak tangan hari ini tetapi menguap sebelum anak-anak sempat tumbuh. Prabowo memilih membuat janji yang lebih berat dan lebih jujur: kedaulatan energi dan kemampuan pertahanan — sesuatu yang tidak bisa disentuh pemilih besok pagi, tetapi yang akan menentukan apakah cucu mereka masih harus mengantri BBM dari tanker negara lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lima puluh tahun dari sekarang, ketika sejarawan menamai periode ini, mereka mungkin akan menyebutnya Musim Ketika Jakarta Berhenti Menunggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di pelabuhan kecil itu, ketika pagi akhirnya tiba, perahu-perahu lain masih terikat di dermaga. Kapal yang dimuat diam-diam sepanjang malam itu telah jauh di tengah laut. Atau, barangkali, itu bukan cerita yang tepat. Kapal itu tidak sedang meninggalkan pelabuhan. Kapal itu sedang menjadikan dirinya pelabuhan. Anak kecil di dermaga itu mungkin tidak akan pernah tahu nama kapal itu. Tetapi ia akan tumbuh besar di sebuah negeri yang memiliki listriknya sendiri, yang tidak perlu mengantri BBM dari tanker asing, dan yang, ketika dunia memilih menarik diri, justru menjadi tempat di mana dunia terpaksa berlabuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah, barangkali, definisi paling sederhana dari statecraft. Bukan keberanian yang riuh. Bukan retorika yang berbusa. Melainkan disiplin diam-diam untuk memuat ketika yang lain menurunkan layar, dan berlayar justru di saat dunia memilih menarik diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/kapal-1-nifucceo.mp3" length="3554084" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/whatsapp-image-2026-04-17-at-12.30.56-1024x627.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Krisis Buktikan Kalkulasi Prabowo?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ketika-krisis-buktikan-kalkulasi-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 01:22:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertahanan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168683</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sejumlah fokus kebijakan Presiden Prabowo kini semakin signifikan usai gejolak perang di Iran. Bagaimana kita memaknainya? PinterPolitik.com Dalam politik, ada satu ironi yang kerap berulang: gagasan yang terlalu dini sering kali dianggap berlebihan—bahkan ditertawakan—sebelum akhirnya terbukti relevan ketika krisis benar-benar datang. Sejarah menunjukkan bahwa kemampuan membaca [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-6.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sejumlah fokus kebijakan Presiden Prabowo kini semakin signifikan usai gejolak perang di Iran. Bagaimana kita memaknainya?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Dalam politik, ada satu ironi yang kerap berulang: gagasan yang terlalu dini sering kali dianggap berlebihan—bahkan ditertawakan—sebelum akhirnya terbukti relevan ketika krisis benar-benar datang. Sejarah menunjukkan bahwa kemampuan membaca masa depan bukan selalu disambut dengan apresiasi, melainkan kerap bertemu skeptisisme. Baru ketika realitas berubah, penilaian pun ikut bergeser.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Situasi global hari ini, terutama dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan gangguan pada jalur energi strategis seperti Selat Hormuz, kembali mengingatkan kita pada pentingnya kesiapan. Dalam konteks ini, sejumlah kebijakan yang selama ini didorong oleh Prabowo Subianto—mulai dari penguatan pertahanan, ketahanan pangan, hingga dorongan kemandirian energi—tampak memperoleh relevansi baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah kebijakan-kebijakan tersebut tepat atau tidak, melainkan apakah kita selama ini terlalu cepat menilainya dalam kerangka jangka pendek, tanpa melihat kemungkinan skenario yang lebih luas.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-1024x1024.png" alt="image" class="wp-image-168686" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-4-1920x1920.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Refleksi <em>Semmelweis Effect</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena di mana sebuah gagasan ditolak pada awalnya, namun kemudian terbukti relevan, bukanlah hal baru. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, Ignaz Semmelweis mengalami hal ini ketika mengusulkan praktik cuci tangan untuk menekan angka kematian ibu melahirkan. Temuannya ditolak bukan karena kurang bukti, melainkan karena bertentangan dengan keyakinan medis yang sudah mapan. Baru bertahun-tahun kemudian, ketika teori kuman berkembang, gagasannya diakui sebagai terobosan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini dikenal sebagai <strong>Semmelweis Effect</strong>—kecenderungan manusia dan institusi untuk menolak informasi baru yang bertentangan dengan kerangka berpikir yang sudah ada. Penolakan ini sering kali bukan soal benar atau salah, melainkan soal kesiapan. Ketika sebuah gagasan datang “terlalu cepat”, ia kerap dianggap tidak relevan, bahkan mengganggu keseimbangan yang sudah terbentuk. Dalam banyak kasus, resistensi ini bukan semata rasional, tetapi juga psikologis dan institusional: ada kecenderungan mempertahankan apa yang sudah dikenal, meski alternatif baru menawarkan perbaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka yang lebih luas, Thomas Kuhn menjelaskan bahwa perubahan cara pandang—atau <em>paradigm shift</em>—tidak terjadi secara bertahap, melainkan melalui krisis. Sebelum krisis itu tiba, anomali-anomali yang sebenarnya sudah terlihat cenderung diabaikan. Sistem berpikir lama tetap dipertahankan karena masih dianggap cukup menjelaskan realitas. Namun ketika tekanan semakin besar dan realitas tak lagi selaras dengan asumsi lama, perubahan menjadi tak terhindarkan. Dengan kata lain, krisis bukan sekadar gangguan, tetapi mekanisme yang membuka ruang bagi penerimaan gagasan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Logika yang sama juga berlaku dalam politik. Persepsi soal kebijakan publik sangat dipengaruhi persepsi publik, dan momentum saat ia muncul. Namun ketika konteks kondisinya berubah, penilaian terhadap gagasan tersebut ikut bergeser. Di sinilah waktu menjadi variabel penting dalam memahami kebijakan: apa yang tampak tidak mendesak hari ini bisa menjadi krusial esok hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia hari ini, pola ini terlihat dalam sejumlah kebijakan yang didorong oleh Prabowo Subianto. Ambil contoh penguatan sektor pertahanan. Dalam situasi global yang relatif stabil, peningkatan anggaran militer mudah dipersepsikan sebagai langkah yang terlalu jauh. Namun, dalam perspektif strategi, sebagaimana dijelaskan oleh Barry Posen, negara yang tidak membangun kapasitas pertahanannya di masa damai akan cenderung berada dalam posisi reaktif ketika krisis terjadi. Kesiapan bukan dibangun saat ancaman datang, melainkan jauh sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal serupa juga terlihat pada kebijakan ketahanan pangan. Dalam kondisi normal, ketergantungan pada pasar global sering dianggap efisien. Namun, krisis geopolitik menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu sejalan dengan keamanan. Gangguan distribusi global dapat dengan cepat mengubah isu ekonomi menjadi isu stabilitas nasional. Negara yang memiliki cadangan dan sistem distribusi domestik yang kuat akan memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi guncangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sektor energi, dorongan menuju kemandirian mengikuti logika yang sama. Ketika harga energi stabil, ketergantungan impor tidak selalu menjadi perhatian utama. Namun, ketika terjadi guncangan seperti konflik di Timur Tengah, negara dengan kapasitas produksi domestik yang kuat memiliki daya tahan yang jauh lebih besar. Dalam konteks ini, diversifikasi energi dan penguatan sumber daya domestik bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi strategi menghadapi ketidakpastian global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dilihat secara keseluruhan, benang merah dari kebijakan-kebijakan ini adalah pendekatan <strong>anticipatory governance</strong>—upaya membangun kesiapan sebelum krisis terjadi, bukan sekadar merespons setelah krisis muncul. Pendekatan ini sering kali tidak langsung terlihat hasilnya, karena bekerja dalam horizon jangka panjang. Namun justru dalam situasi krisis, fondasi yang dibangun sebelumnya menjadi faktor penentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pemahaman terhadap kebijakan tidak hanya membutuhkan analisis pada satu titik waktu, tetapi juga kemampuan melihat lintasan perubahan yang lebih luas. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, nilai sebuah kebijakan sering kali baru terlihat ketika ia diuji oleh keadaan yang tidak terduga.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-1024x1024.png" alt="image" class="wp-image-168687" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-2048x2048.png 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/image-5-1920x1920.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Memang Tuntutan Zaman?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Krisis memiliki cara tersendiri untuk menguji kebijakan. Ia tidak hanya mengungkap kelemahan, tetapi juga menyoroti keputusan-keputusan yang sebelumnya belum sepenuhnya dipahami. Dalam konteks ini, relevansi sejumlah kebijakan yang didorong oleh Prabowo Subianto membuka ruang refleksi yang lebih luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan soal membenarkan segala hal secara retrospektif, melainkan memahami bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk membaca kemungkinan—bahkan yang belum terjadi—menjadi semakin penting. Sejarah menunjukkan bahwa banyak gagasan besar pada awalnya belum sepenuhnya terlihat urgensinya, sebelum akhirnya diakui sebagai kebutuhan ketika konteks berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia, sebagai negara dengan posisi strategis dan tantangan yang tidak sederhana, membutuhkan pendekatan kebijakan yang tidak hanya responsif, tetapi juga antisipatif. Pendekatan seperti ini menuntut keberanian untuk melangkah lebih awal, sekaligus ketekunan dalam membangun fondasi yang mungkin baru terasa manfaatnya di kemudian hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam prosesnya, pemahaman publik terhadap arah kebijakan juga berkembang seiring perubahan situasi. Ketika realitas global bergerak cepat, cara pandang terhadap prioritas nasional pun ikut bertransformasi. Di titik inilah, kebijakan yang sejak awal dirancang untuk menghadapi ketidakpastian mulai menemukan konteksnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Nassim Nicholas Taleb, yang menekankan bahwa dunia modern dipenuhi oleh ketidakpastian dan kejutan besar. Dalam kondisi seperti itu, kekuatan utama sebuah negara tidak hanya terletak pada kemampuannya memprediksi masa depan, tetapi pada kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh lagi, refleksi ini mengajak kita melihat bahwa kesiapan sering kali tidak selalu tampak mendesak dalam situasi normal. Namun, justru dalam kondisi krisis, fondasi yang telah dibangun sebelumnya menjadi penopang utama stabilitas. Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil jauh sebelum krisis hadir dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan dan ketahanan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, krisis bukan hanya menjadi ujian, tetapi juga momen pembuktian. Ia memperlihatkan bahwa dalam dunia yang tidak pasti, kemampuan untuk melihat lebih jauh dan bertindak lebih awal bukanlah sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Dan dalam konteks itulah, arah kebijakan yang dibangun dengan perspektif jangka panjang menemukan relevansinya. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="peBmSQjPkoc"><iframe loading="lazy" title="Khamenei-Israel-AS, Nubuat Geopolitik Akhir Zaman?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/peBmSQjPkoc?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-6.wav" length="22182330" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/aifaceswap-7aa154c22bf3ddd26ca98560473d9334-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Alamak! Krisis Ganda Bab El-Mandeb?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2026 03:53:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[babelmandeb]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Hormuz]]></category>
		<category><![CDATA[jaganegeri]]></category>
		<category><![CDATA[ketergantunganekonomi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168601</guid>

					<description><![CDATA[Pandangan kalian soal potensi pemblokiran selat Bab El-Mandeb ini bagaimana? Share di kolom komentar ya #jaganegeri #babelmandeb #hormuz #ketergantunganekonomi #geopolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" data-id="168604" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-1024x1024.png" alt="alamak! krisis ganda bab el mandeb" class="wp-image-168604" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2048x2048.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" data-id="168606" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2-1024x1024.png" alt="alamak! krisis ganda bab el mandeb (2)" class="wp-image-168606" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-2-2048x2048.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" data-id="168605" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-3-1024x1024.png" alt="alamak! krisis ganda bab el mandeb (3)" class="wp-image-168605" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-3-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-3-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-3-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-3-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-3-2048x2048.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan kalian soal potensi pemblokiran selat Bab El-Mandeb ini bagaimana? Share di kolom komentar ya</p>



<p class="wp-block-paragraph">#jaganegeri #babelmandeb #hormuz #ketergantunganekonomi #geopolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/alamak-krisis-ganda-bab-el-mandeb-1024x1024.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
