<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Emil Elestianto Dardak &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/emil-elestianto-dardak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Apr 2019 04:46:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Emil Elestianto Dardak &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Semringah Khofifah di Pilgub Jatim</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/semringah-khofifah-di-pilgub-jatim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2018 07:39:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Elestianto Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Khofifah Indar Parawansa]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgub Jatim 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Serentak 2018]]></category>
		<category><![CDATA[quick count]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=31997</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Menurut quick count, Insya Allah kami menang. Mohon doanya. Mudah-mudahan kemenangan yang kami peroleh menjadi mata rantai untuk menjadikan Jawa Timur lebih baik,&#8221; ~ Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. PinterPolitik.com [dropcap]K[/dropcap]hofifah Indar Parawansa, siapa yang tak kenal nama ini. Mantan Menteri Sosial ini sedang senyum semringah setelah melihat hasil hitung cepat (quick count) [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Menurut quick count, Insya Allah kami menang. Mohon doanya. Mudah-mudahan kemenangan yang kami peroleh menjadi mata rantai untuk menjadikan Jawa Timur lebih baik,&#8221; ~ </em>Calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]hofifah Indar Parawansa, siapa yang tak kenal nama ini. Mantan Menteri Sosial ini sedang senyum semringah setelah melihat hasil hitung cepat (<em>quick count</em>) dari beberapa lembaga survei yang memenangkan dirinya bersamaEmil Elestianto Dardak di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim). <em>Cie cie</em> yang akhirnya jadi Gubernur.</p>
<p>Menjadi Gubernur Jatim merupakan penantian panjang Khofifah. Pasalnya sebelum ini, dirinya juga sempat maju dalam Pilgub 2008 dan 2013 untuk memperebutkan kursi Gubernur Jatim. Tapi ya gitu deh, Khofifah saat itu <em>keok </em>dari Soekarwo-Saifullah Yusuf di dua Pilgub tersebut. Malang nian nasibmu dulu.</p>
<p>Tapi kalau saja dua Pilgub sebelumnya membuat kapok Khofifah, mungkin saat ini dia gak akan menjadi Gubernur Jatim. Meski Cagub pesaingnya pada Pilgub saat ini dahulu merupakan Wakil Gubernur petahana, gak menjadikan Khofifah <em>jiper</em> dan <em>minder</em> tuh. Ini baru namanya <em>Man Jadda WaJadda </em>(siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)<em>. Mastah</em>!</p>
<p>Asal tau aja guys, demi menjadi gubernur, Khofifah rela meninggalkan empuknya kursi menteri. Kalau yang lain kan dicopot dulu baru <em>nyalon</em> jadi gubernur. Kayaknya, Khofifah emang udah <em>ngebet</em>  pingin ngerasain empuknya kursi Jatim-1.</p>
<p>Eike jadi penasaran nih, kemenangan Khofifah ini faktor sebenernya apa ya?Apa gegera faktor sosok pasangan cawagubnya, si Emil Dardak itu? <em>Mmm</em>, bisa jadi sih. Mungkin dia si pembawa <em>hoki. </em>Dulu di Pilgub 2008 saat berpasangan dengan Mudjiono, Khofifah <em>keok</em>. Begitu juga saat berpasangan dengan Herman Surjadi pada Pilgub 2013. Tuh artinya sosok Cawagub ikut berkontribusi banyak tuh.</p>
<p>Padahal menurut eike nih ya, seorang Khofifah belum teruji cakap menjadi pemimpin dalam birokrasi. Saat menjabat menteri pun, Khofifah gak menunjukan prestasi yang <em>outstanding</em>. Pintar, kredibel dan jujur aja gak cukup untuk bisa membuat Jatim maju. Butuh pemimpin yang juga disiplin dan keras pada semua jajarannya di bawahnya agar pelayanan pada masyarakat Jatim bisa optimal.</p>
<p>Masyarakat gak butuh presentasi meningkatnya indikator positif di berbagai aspek. Selama secara nyata masih ada masyarakat Jatim nanti yang berkeluh kesah tentang berbagai hal di lapangan, maka di situ lah soeorang Gubernur Jatim telah gagal menjadi pelayan masyarakat. Jadi apakah kualitas kerja Khofifah nanti akan setinggi hasrat dia ketika ingin menjadi Gubernur? Ya kita liat nanti ya guys. (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Khofifah-Indar-Parawansa.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jatim Ogah Pemimpin Keminter</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jatim-ogah-pemimpin-keminter/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Jun 2018 10:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Elestianto Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Ipul-Puti]]></category>
		<category><![CDATA[Khofifah Indar Parawansa]]></category>
		<category><![CDATA[Khofifah-Emil]]></category>
		<category><![CDATA[Saifullah Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Rismaharini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=30840</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Jawa Timur butuh pemimpin yang komitmen, di situ pemimpin yang mau belajar, tidak perlu yang keminter (sok pintar). Kalau pemimpin yang mekedel (bergaya saja) susah.&#8221; ~ Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. PinterPolitik.com [dropcap]M[/dropcap]encari pemimpin daerah memang gampang-gampang sulit. Kalau salah pilih, bisa-bisa amsyong selama lima tahun. Untuk itu masyarakat sebaiknya jeli dan mewanti-wanti untuk memilih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Jawa Timur butuh pemimpin yang komitmen, di situ pemimpin yang mau belajar, tidak perlu yang keminter (sok pintar). Kalau pemimpin yang mekedel (bergaya saja) susah.&#8221; ~ </em>Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]encari pemimpin daerah memang gampang-gampang sulit. Kalau salah pilih, bisa-bisa <em>amsyong</em> selama lima tahun. Untuk itu masyarakat sebaiknya jeli dan mewanti-wanti untuk memilih calon pemimpin yang terbaik untuk daerahnya. Tapi masalahnya, calon pemimpin kita belakangan keseringan pake topeng<em> loh</em> dalam mempromosikan diri mereka pada masyarakat.</p>
<p>Meminjam istilah Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, biasanya calon pemimpin daerah yang bermuka dua itu mempunyai ciri <em>keminter</em>. Artinya dia suka sok pinter gitu <em>loh</em>. <em>Mmm</em>, kalau dipimpin sama pemimpin yang sok pinter gitu kan bakalan gak asik ya.<em> Eike mah</em> <em>ogah</em> milih pemimpin model begini. <em>Jijay</em>.</p>
<p>Kayaknya nih ya, fenomena munculnya calon pemimpin daerah yang <em>keminter </em>ini gegara mereka menganggap warga daerah gampang ditipu daya, karena gak sepinter orang kota. Ya simpelnya, mereka gampang <em>dikadalin </em>gitu deh. Entah pake janji manis, atau politik uang atau mungkin modal <em>tamvan</em> doang?</p>
<p>Saran<em> eike</em> nih ya, dalam menilai bagus gaknya calon pemimpin daerah, ya bisa dengan melihat <em>track record-</em>nya selama menjabat. Coba kita intip Paslon Gubernur Jawa Timur: Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul-Puti) serta Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elistianto Dardak (Khofifah-Emil).</p>
<p>Kira-kira <em>track record</em> siapa yang relatif memiliki kinerja yang bagus saat menjabat di jabatan sebelumnya? Emang sih agak susah ngeliatnya. Tapi menurut <em>eike,</em> indikator sederhananya adalah mereka gak <em>tercyduck</em> oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Ya <em>so far</em> sih ok semua lah ya.<em> Eike</em> jadi bingung milih siapa nih. <em>Wew</em>.</p>
<p>Tapi kalau merujuk pada calon pemimpin daerah yang <em>keminter, </em>bisa lah kita ngeliatnya dari cara berkampanye mereka. Ayo tebak, siapa di antara Paslon ini yang menggunakan cara culas dengan memanfaatkan ulama mengeluarkan fatwa <em>Fardhu ‘Ain</em> untuk pilih pemimpin tertentu? Ada yang tau?</p>
<p>Ya Paslon Khofifah-Emil lah orangnya. Belum menjabat aja cara kampanyenya udah gak banget. Pake mempolitisasi agama untuk kepentingan segolongan. Apa itu bukan yang namanya menjual ayat Tuhan demi jabatan dan kekuasaan? Sampe di sini ngerti lah ya apa yang <em>eike</em> maksud? Ya yang kayak gini nih yang disebut pemimpin <em>keminter. </em>Masyarakat udah cerdas <em>keles</em>, mereka akan teteap memilih berdasarkan hasil kinerja nyata yang udah ditunjukan, bukan berdasarkan intimidasi atas nama agama. <em>Hadeuh</em>.</p>
<p>Ingin memperdaya pemilih dari kalangan umat Islam dengan fatwa? Kok sungguh culas ya caranya kampanyenya. Harusnya sesama Paslon itu memberikan ruang toleransi untuk saling intropeksi diri akan kekurangan. Dan marilah saling memaafkan atas kebodohan masing-masing agar kedepan lebih baik. Bukan lantas mengancam pemilihnya dengan dosa kalau gak memilih Paslon tertentu. <em>Tuh,</em> camkan kata-kata filsuf Voltaire (1694-1778): “<em>What is tolerance? It is the consequence of humanity. We are all formed of frailty and error; let us pardon reciprocally each other’s folly – that is the first law of nature</em>.” (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Tri-Rismaharini-Gus-Ipul-dan-Puti.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Surat Sakti Khofifah-Emil</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/surat-sakti-khofifah-emil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2018 12:57:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Elestianto Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Khofifah - Emil Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Khofifah Indar Parawansa]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Jawa Timur 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Saifullah Yusuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=30385</guid>

					<description><![CDATA[“Ada hadist yang menganjurkan agar memilih pemimpin muslim yang terbaik di antaranya. Jika sampai salah pilih dan justru memilih yang lebih jelek, sesungguhnya dia telah berkhianat pada Alllah SWT.” ~ Kiai Suyuti, Banyuwangi. PinterPolitik.com [dropcap]I[/dropcap]barat garam, hidangan sayur tak akan terasa sedap untuk dinikmati. Begitu juga dengan politik di Indonesia yang sudah lekat dengan isu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Ada hadist yang menganjurkan agar memilih pemimpin muslim yang terbaik di antaranya. Jika sampai salah pilih dan justru memilih yang lebih jelek, sesungguhnya dia telah berkhianat pada Alllah SWT.” ~ </em>Kiai Suyuti, Banyuwangi.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]I[/dropcap]barat garam, hidangan sayur tak akan terasa sedap untuk dinikmati. Begitu juga dengan politik di Indonesia yang sudah lekat dengan isu sentimen keagamaan. Tanpa adanya bumbu isu agama, rasanya politik Indonesia cuma terasa hambar. Kayak kurang <em>nendang</em> gitu rasanya. Biar lebih <em>greget</em>, boleh lah ada sedikit isu agama.</p>
<p>Jika melihat Pilkada, umumnya isu sentimen agama muncul di kala ada salah satu Pasangan Calon kepala daerah yang memeluk agama yang berbeda dengan Paslon yang lain. Eits, jangan salah, gak selamanya kayak gitu loh. Karena isu ini juga terkadang bisa muncul meskipun semua Paslon beragama yang sama.</p>
<p>Ya seperti pada Pilkada Jawa Timur (Jatim) yang mempertemukan pasangan Cagub dan Cawagub Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak (Khofifah-Emil) dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul-Puti). Pemilih muslim di Jatim pasti lagi bingung nih mau pilih pemimpin yang mana. <em>Ea ea ea</em>.</p>
<p>Meski sama-sama muslim, bukan berarti isu sentimen agama gak berlaku loh ya. Nih buktinya, Tim Pemenangan Khofifah-Emil mengeluarkan surat sakti, yang tidak lain adalah fatwa <em>fardhu’ain</em> dari para masyayikh Madura dan 300 ulama Jatim dari 38 kabupaten/kota. Fatwa di Pilkada itu sesuatu banget ya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-30393" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Surat-Fatwa-Khofifah-Emil-300x175.jpg" alt="Surat Sakti Khofifah-Emil" width="682" height="398" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Surat-Fatwa-Khofifah-Emil-300x175.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Surat-Fatwa-Khofifah-Emil.jpg 575w" sizes="(max-width: 682px) 100vw, 682px" /></p>
<p>Surat sakti ini bertujuan untuk menyerukan dan menfatwakan <em>fardhu’ain</em> bagi seluruh masyarakat Jatim untuk memilih pasangan Khofifah-Emil pada Pilgub Jatim mendatang. Dan yang namanya <em>fardhu’ain, </em>artinya kalau nanti gak melakukan atau memilih Paslon yang lain, maka hukumnya adalah <em>auto dosa</em> tuh.</p>
<p>Fatwa model kayak gini mah sifatnya subyektif. <em>Aya aya wae ah</em>. Lagian nih ya, emangnya kurang Islami apa coba Gus Ipul-Puti? Gus Ipul sendiri adalah cicit dari KH Bisri Syansuri, pendiri Nahdlatul Ulama. Dan Puti adalah cucu Soekarno sang proklamator pendiri bangsa yang terkenal akan keislamannya di dunia.</p>
<p>Kok rasanya surat sakti Khofifah-Emil ini lebih mirip kayak respon reaktif tim sukses mereka yang mulai gerah dengan berbagai hasil survei karena lebih banyak mengunggulkan Gus Ipul-Puti. Hadeuh, fatwa kok dijadikan alat politisasi sih. Masyarakat pemilih udah pada cerdas <em>keles</em>, gak bisa digiring dengan fatwa ala-ala model gini! (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Khofifah-Emil.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Banteng Terluka Karena Emil?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/banteng-terluka-karena-emil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K32]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Nov 2017 08:59:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Azwar Anas]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Elestianto Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Ipul]]></category>
		<category><![CDATA[Khofifah Indar Parawansa]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgub Jatim 2018]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=16825</guid>

					<description><![CDATA[Emil disuruh mundur dari PDIP karena telah join dengan Khofifah untuk bertarung di Pilgub Jatim 2018. Mungkinkah PDIP terluka dengan ulah Emil ini?   PinterPolitik.com [dropcap]N[/dropcap]ama Emil Elistianto Dardak seketika menjadi buah bibir, setelah memutuskan untuk mendampingi Khofifah Indar Parawansa bertarung di Pilgub Jatim nanti. Bahkan ada yang bilang bahwa ini adalah bentuk ‘penyelewengan’ Emil terhadap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Emil disuruh mundur dari PDIP karena telah <em>join </em>dengan Khofifah untuk bertarung di Pilgub Jatim 2018. Mungkinkah PDIP terluka dengan ulah Emil ini?   </strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb31;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]N[/dropcap]ama Emil Elistianto Dardak seketika menjadi buah bibir, setelah memutuskan untuk mendampingi Khofifah Indar Parawansa bertarung di Pilgub Jatim nanti. Bahkan ada yang bilang bahwa ini adalah bentuk <em>‘penyelewengan’ </em>Emil terhadap PDIP.</p>
<p>Emil Dardak memang salah satu kader Partai Banteng di Jatim karena memiliki kartu tanda anggota. Bahkan, ia juga pernah ikut sekolah kader sebelum menjadi Bupati Trenggalek. Kubu Partai Banteng sendiri memang telah mengeluarkan ultimatum agar Emil segera mundur, setelah ia memutuskan untuk maju mendampingin Khofifah yang <em>nota bene </em>diusung oleh Demokrat.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">PDIP Minta Emil Dardak Mundur dari Partai <a href="https://t.co/KlmaODpNMv">https://t.co/KlmaODpNMv</a> <a href="https://t.co/6fl0qu0MMW">pic.twitter.com/6fl0qu0MMW</a></p>
<p>&mdash; CNN Indonesia (@CNNIndonesia) <a href="https://twitter.com/CNNIndonesia/status/933195510134947840?ref_src=twsrc%5Etfw">November 22, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Sikap Emil ini dinilai oleh politikus Partai Banteng Eva Kusuma Sundari, bertentangan dengan kebijakan partai dalam Pilkada Jatim. Ia mengatakan bahwa Emil tidak konsisten dengan sikapnya dahulu yang telah menyatakan diri ingin tetap fokus menjabat sebagai Bupati Trenggalek. Jangan-jangan ini mau menunjukkan Partai Banteng sakit hati dengan ulah Emil?</p>
<p>Di satu sisi, Emil bisa disalahkan terkait keputusannya itu. Padahal sebelumnya, Partai Banteng sendiri telah mengusung Azwar Anas untuk berduet dengan Gus Ipul. Sebagai seorang kader, seharusnya Emil mendukung kebijakan tersebut, bukan?</p>
<p>Akan tetapi di sisi lain, kalau kita merujuk pada hak pribadi setiap warga negara untuk memilih dan dipilih dalam Pemilu, Emil <em>nggak </em>bisa dipersalahkan begitu saja.</p>
<p>Langkahnya untuk merapat ke kubu Khofifah adalah <em>sah-sah aja.</em> Itu haknya, tak ada yang bisa melarang atau menyalahkannya, termasuk Partai Banteng. Asalkan ia harus <em>gentle </em>menerima konsekuensi untuk dikeluarkan dari Partai Banteng.</p>
<p>Melihat keadaan ini, tak bisa dipungkiri pertarungan Pilgub Jatim bakal menarik untuk disimak. Mengapa demikian? Sebab pasti akan merebak aroma persaingan nan ketat di sana lantaran dibumbui oleh dendam. Ini bakal menjadi pertarungan antara “Sosok yang diusung Partai sendiri (Gus Ipul-Anas) <em>versus</em> Sosok yang diusung Partai lain (Khofifah-Emil)”. Siapakah yang bakal menang? Tunggu<em> aja </em>tanggal mainnya. <strong>(K-32)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/Emil-1024x684.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bingung Nasib Mas Mail</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/bingung-nasib-mas-mail/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2017 04:55:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Emil Elestianto Dardak]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Golkar]]></category>
		<category><![CDATA[PDI Perjuangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=16050</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Mas Mail, tentukan jalan hidup terbaikmu dan miliki restu kedua orangtuamu&#8221; PinterPolitik.com [dropcap]P[/dropcap]asangan suami istri memang kerap bersilang pendapat. Apalagi tentang aktivitas dan pilihan jalan hidup anaknya. Karena itu diperlukan ayah yang berkarakter tegas dan ibu yang lebih terbuka serta mengedepankan toleransi. Saat ini, pasangan tersebut tengah bingung dengan langkah yang ingin dijalani Mas Mail. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>&#8220;Mas Mail, tentukan jalan hidup terbaikmu dan miliki restu kedua orangtuamu&#8221;</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb28;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]asangan suami istri memang kerap bersilang pendapat. Apalagi tentang aktivitas dan pilihan jalan hidup anaknya. Karena itu diperlukan ayah yang berkarakter tegas dan ibu yang lebih terbuka serta mengedepankan toleransi.</p>
<p>Saat ini, pasangan tersebut tengah bingung dengan langkah yang ingin dijalani Mas Mail. Tapi, Mas Mail ini bukan Kang Mail yang dijodohkan seperti cerita Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih ya, tapi ini Mas Mail pemuda pemimpin milenial asal Trenggalek, Jawa Timur.</p>
<p>Perbedaan sikap Ayah dan Ibunya itu membuat Mas Mail menjadi anak yang serba salah. Maju kena, mundur juga kena.</p>
<p>Walau Mas Mail ini telah menikah dengan artis cantik Arumi Bachsin, ia tetap kerap kebingungan menghadapi sikap dari Ayah dan Ibunya. Mungkin masih labil ya hehe</p>
<p>Ia kini menjadi pemimpin di kota yang didirikan oleh Menak Sopal dan rencananya ingin melanjutkan karir di Jawa Timur.</p>
<p>Saat ini, Ayah Mas Mail bernama PDIP dengan tegas melarang Mas Mail bepergian memperebutkan kursi kedua di Jawa Timur. Dengan berbagai pertimbangan, ayahnya dengan tegas dan keras melarangnya.</p>
<p>Namun, Mas Mail masih saja berdiam diri dan bungkam saat Ayahnya melarang. Keinginan Mas Mail ini sebelumnya sempat dibicarakan dengan Ibunya, Golkar dan izin Ibunya ini pun telah dikantongi. Akhrinya, keinginan Mas Mail ini dibela ibunya.</p>
<p>Ibunya pun berujar pada suaminya yang melarang anaknya itu. “Anaknya aja mau maju kok, jangan malah dilarang,” ujar Ibunya Mas Mail.</p>
<p>Dan akhirnya, Mas Mail hanya bisa terdiam saat Ibu dan Ayahnya saling adu argumentasi dan bersilang pendapat. Percekcokan pun terjadi dan tak bisa dihindari dikeluarga ini.</p>
<p>Mas Mail memang disadari memiliki potensi dan itu yang menjadi alasan kuat Ibunya untuk mendukung berbagai peluang bagi anaknya.</p>
<p>Percekcokan antara Ibu dan Ayahnya menjadi berkepanjangan, hal ini membuat Mas Mail berlari mengurung diri di kamarnya merenungkan jalan terbaik baginya menentukan pilihan hidup.</p>
<p>Dalam kondisi gelap dan gundah, Mas Mail merenung. Bagaimana nasibku? Akankah mengikuti apa mau PDIP? Atau Golkar?</p>
<p>Hmmm. Mas Mail, nasibmu kini ada dipersimpangan jalan. (Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/Bupati-Trenggalek-Emil-Elestianto-Dardak.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
