<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Efek Ekor Jas &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/efek-ekor-jas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Feb 2022 03:28:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Efek Ekor Jas &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Adakah Efek Ekor Jas?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/adakah-efek-ekor-jas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2021 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[coattail effect]]></category>
		<category><![CDATA[Efek Ekor Jas]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=82418</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="888" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-888x1024.jpg" alt="" class="wp-image-82402" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-888x1024.jpg 888w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-260x300.jpg 260w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-130x150.jpg 130w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-768x885.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-696x802.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-1068x1231.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-364x420.jpg 364w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas.jpg 1080w" sizes="(max-width: 888px) 100vw, 888px" /><figcaption>Mengenal efek ekor jas (coattail effect)</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Adakah-Efek-Ekor-Jas-888x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Parpol Lawan Mitos “Ekor Jas”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/parpol-lawan-mitos-ekor-jas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[I76]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 03:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Efek Ekor Jas]]></category>
		<category><![CDATA[kaderisasi politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=101534</guid>

					<description><![CDATA[Ramai-ramai parpol memanaskan mesin jelang 2024, pelatihan dan kaderisasi anggota pun digelar. Banyak pihak menilai kaderisasi parpol sebagai upaya melawan fenomena efek ekor jas yang saat ini sedang menjadi hantu bagi partai. Mungkinkah parpol dapat melawan mitos efek ekor jas? PinterPolitik.com Jelang Pilpres 2024, banyak&#160; pengamat melihat tahun 2022 akan menjadi awal tahun politik. Waktu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ramai-ramai parpol memanaskan mesin jelang 2024, pelatihan dan kaderisasi anggota pun digelar. Banyak pihak menilai kaderisasi parpol sebagai upaya melawan fenomena efek ekor jas yang saat ini sedang menjadi hantu bagi partai. Mungkinkah parpol dapat melawan mitos efek ekor jas?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Jelang Pilpres 2024, banyak&nbsp; pengamat melihat tahun 2022 akan menjadi awal tahun politik. Waktu dua tahun menuju pemilu dinilai cukup bagi parpol menyiapkan pemenangan di pemilihan legislatif, dan juga upaya mengusung tokoh internal maupun pejabat publik populer di luar partai untuk Pilpres 2024 mulai dipertunjukkan. Tentunya semua itu untuk mendulang suara bagi partai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai-partai politik mulai memanaskan mesin politiknya untuk menyiapkan diri menghadapi Pemilu 2024. Konsolidasi struktural di internal partai pun dilakukan. Sejumlah partai juga mulai menyiapkan perekrutan calon-calon anggota legislatif yang menjadi ujung tombak untuk mendulang suara bagi partai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Strategi partai melalui kaderisasi juga dijalankan oleh beberapa partai politik. Sebut saja Partai Golkar, melalui Golkar Institute melakukan pelatihan kaderisasi bakal calon legislatif dengan cara&nbsp;<em>workshop</em>&nbsp;dan pendidikan politik. Termasuk juga Partai Demokrat, yang saat ini telah merampungkan 50 persen Musyawarah Daerah untuk seleksi kepemimpinan partai berlambang mercy itu di tiap daerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedangkan PDIP, menggembleng pengurus melalui sekolah partai milik partai yang dilakukan di berbagai tempat. Harapan terbesarnya, proses ini mampu melahirkan tokoh-tokoh baru dari partai banteng tersebut. Hal serupa juga dilakukan oleh PKB, dengan menghadirkan instruktur senior PKB serta sejumlah pakar untuk calon legislatif dari PKB.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Geliat partai politik dalam memanaskan mesin politik dengan cara melakukan kaderisasi dan pelatihan anggota partai menjadi fenomena yang menarik untuk disorot. Seperti apa sebenarnya kaderisasi di tubuh partai politik?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Upaya Modernisasi Parpol</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika kita runut dari sejarah partai politik di Indonesia, maka kita akan menemukan cara mengidentifikasi partai politik dengan dua kategori.&nbsp;<em>Pertama</em>, kategori ideologisasi partai politik, partai dapat dibedakan dengan cara melihat ideologi antara satu partai dengan partai lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, dengan cara melihat model partai politik, yaitu partai diidentifikasi sebagai partai kader atau sebagai partai massa. Sebagai contoh, pada Pemilu 1955, partai kader biasanya disematkan untuk Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang tidak punya massa banyak tapi memiliki kader yang potensial dalam kabinet, Sjahrir misalnya. Kemudian partai massa kita bisa sematkan kepada Partai Komunisme Indonesia (PKI). Partai ini memiliki sedikit kader yang potensial, tetapi memiliki massa yang banyak di berbagai daerah, khususnya di Jawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan berjalanannya waktu, partai politik di Indonesia mulai berubah dari setiap rezim ke rezim lainnya. Sempat berada pada rezim otoriter, partai politik di era Orde Baru tidaklah begitu berkembang diakibatkan fusi partai politik yang membatasi ruang gerak partai itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini, partai mulai mencari jalan baru dalam merubah dirinya untuk menyesuaikan dengan zaman. Partai politik mulai menjelma menjadi partai politik modern, di mana partai politik ingin berkembang dan berjangka panjang sebagai alat perjuangan masyarakat yang mendukungnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, partai bertipe&nbsp;<em>elite party</em>, yang secara konvensional masih dianut oleh partai-partai politik kita, memperlihatkan tidak ada demokrasi di dalamnya. Kekuasaan dalam pengambilan kebijakan partai tersentralisasi di tangan tokoh sentral partai, yakni pendiri partai atau ketua umum partai. Tokoh sentral inilah yang sangat dominan dalam menentukan berbagai langkah politik dan kebijakan partai, seperti pengajuan kandidat untuk jabatan politik (legislatif dan eksekutif), penentuan koalisi politik, dan sikap politik partai. Pendek kata, setiap keputusan atau kebijakan partai mesti mendapat ‘restu’ dari tokoh sentral partai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan modernisasi partai politik sebenarnya sederhana, partai ingin membuat pola baru dalam mempertahankan eksistensinya pada kanca politik, agar partai dapat bertahan secara permanen. Cara ini dianggap efektif karena mampu merubah peran figur yang dominan dalam partai menjadi peran organisasi yang akan jadi lebih dominan. Dalam istilah ilmu politik, perubahan ini disebut dengan perubahan&nbsp;<em>personal appeals</em>&nbsp;menjadi&nbsp;<em>institutional appeals.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu upaya untuk memodernisasi partai politik, yaitu dengan cara menjalankan fungsi kaderisasi partai politik. Kaderisasi diharapkan akan melahirkan anggota-anggota partai yang potensial untuk menjalankan roda organisasi partai dan juga menjadi calon pejabat publik dalam politik elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Burhanuddin Muhtadi dalam bukunya&nbsp;<em>Perang Bintang Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres</em>, mengatakan, manajemen kelembagaan partai politik secara internal strukturan melihat kaderisasi sebagai instrumen penting partai politik untuk melahirkan pejabat publik dari internal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan utamanya, fungsi kaderisasi akan mencegah fenomena baru yang muncul dalam perpolitikan kita hari-hari ini, yaitu deparpolisasi. Fenomena deparpolisasi secara sederhana adalah upaya masyarakat yang ingin lepas dari partai politik, tentunya dikarenakan kesan partai politik buruk di mata publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena deparpolisasi ini juga yang menjelaskan munculnya fenomena-fenomena pejabat publik yang hadir dan tidak berafiliasi dari sebuah partai politik. Fenomena ini menarik, karena masyarakat justru merespons positif tokoh non-partai ini, karena dianggap lebih bersih dan tidak terkontaminasi dengan asosiasi buruk yang telah hinggap pada partai politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, fenomena popularitas pejabat publik non-partai ini menjadi permasalahan baru yang sejauh ini dianggap menghantui partai politik. Pejabat publik yang populer dianggap menjadi magnet politik, sehingga partai seolah harus mengikuti tren popularitas pejabat publik itu agar mendapatkan efek yang sama. Gejala ini kita sebut dengan&nbsp;<em>coattail effect&nbsp;</em>atau efek ekor jas. Lantas, masih adakah&nbsp; gejala efek ekor jas pada politik elektoral saat ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ilusi Efek Ekor Jas</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Djayadi Hanan dalam tulisannya&nbsp;<em>Efek Ekor Jas,</em>&nbsp;mengatakan kajian ilmiah mengenai efek ekor jas umumnya didasarkan pada penelitian pemilu serentak dalam sistem presidensial dua partai seperti di Amerika Serikat (AS). Kesimpulan umumnya, terdapat hubungan yang positif antara kekuatan elektoral seorang calon presiden dan partai yang mengusungnya. Artinya, seorang calon presiden atau presiden yang populer dengan tingkat elektabilitas yang tinggi akan memberikan keuntungan positif secara elektoral kepada partai yang mengusungnya sebagai calon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gejala efek ekor jas, melahirkan fenomena yang terkesan permanen dalam perjalanan politik elektoral kita saat ini. Banyak partai politik dihipnotis oleh tokoh politik altenatif non-partai&nbsp; yang membuka ruang agar dipinang oleh partai politik, karena modal politik populernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan AS, di Indonesia awalnya banyak peneliti dan pengamat yang melihat fenomena efek ekor jas juga hadir karena munculnya&nbsp;<em>Jokowi effect</em>&nbsp;saat pencalonan Jokowi di periode pertama. Tapi saat ini, dengan berbagai upaya ilmuwan politik&nbsp; melihat terdapat indikasi baru yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ramlan Surbakti dalam tulisannya&nbsp;<em>Efek Ekor Jas yang Tak Berpengaruh</em>, mengatakan, ternyata efek ekor jas yang selama ini manjadi momok menakutkan partai tidak berpengaruh secara signifikan. Diduga terdapat dua faktor penyebab.&nbsp;<em>Pertama</em>, sistem pemilu proporsional terbuka yang berpusat pada calon (<em>candidate-centered</em>) yang digunakan untuk memilih anggota DPR.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, partai politik peserta pemilu tidak berperan sebagai peserta pemilu dalam arti melakukan kampanye pemilu untuk menyampaikan rencana kebijakan publik yang akan diperjuangkan, dan melakukan kampanye pemilu untuk mendukung pasangan capres dan cawapres yang diusulkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tesis Surbakti mengandaikan bahwa partai politik harus berbenah untuk melahirkan kader potensial yang dapat mendorong dari dalam agar partai mampu berkompetisi secara kompetitif tanpa tepengaruh efek ekor jas. Argumentasi Surbakti tegas membantah bahwa efek ekor jas itu permanen. Dengan kata lain efek ekor jas bisa berubah dan hanya bersifat sementara, bahkan juga ilusif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karenanya, apa yang dilakukan oleh partai politik saat ini, yaitu fokus dalam melaksanakan kaderisasi anggota secara masif perlu diapresisasi. Harapannya, dengan terbentukya kaderisasi partai, maka manajemen kepartaian akan berubah dan memodernisasi partai politik. (I76)</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Jika Prabowo vs Andika di Pilpres 2024: Tarung 2 Baret Merah" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/15b-2IFBU9g?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/1640019502_1f275006-af8c-4a42-bf05-4f1195b5c885-43jpeg.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Di Balik Dukungan PSI atas Gibran</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/di-balik-dukungan-psi-atas-gibran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2019 13:43:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Efek Ekor Jas]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabuming]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilwakot Solo]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Juli Antoni]]></category>
		<category><![CDATA[Tsamara Amany]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=70777</guid>

					<description><![CDATA[Citra PSI sebagai partai yang selalu mendukung Presiden Jokowi semakin jelas akhir-akhir ini. Tidak hanya perihal tidak pernahnya partai ini melayangkan kritik kepada sang presiden, melainkan juga pada perubahan sikap politik PSI yang mendukung majunya Gibran, anak Presiden Jokowi dalam Pilwakot Solo. Padahal, sebelumnya PSI telah menegaskan penolakan terhadap politik dinasti, seperti pada kritiknya terhadap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Citra PSI sebagai partai yang selalu mendukung Presiden Jokowi semakin jelas akhir-akhir ini. Tidak hanya perihal tidak pernahnya partai ini melayangkan kritik kepada sang presiden, melainkan juga pada perubahan sikap politik PSI yang mendukung majunya Gibran, anak Presiden Jokowi dalam Pilwakot Solo. Padahal, sebelumnya PSI telah menegaskan penolakan terhadap politik dinasti, seperti pada kritiknya terhadap AHY yang merupakan putra dari Ketum Demokrat, SBY.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">“S</span>aya juga penasaran dan ingin berkenalan, karena menurut saya, dia ini pasar milenial.”</p>
<p>Begitulah pernyataan Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gelora, <strong><a href="https://www.youtube.com/watch?v=3KcQZbRsjxc">Fahri Hamzah</a></strong> terhadap Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TvOne pada 11 Juli 2017.</p>
<p>Munculnya Tsamara pada acara ikonik yang telah menjadi standar publik dalam melakukan perdebatan politik tersebut, turut melambungkan namanya dan juga menjadi penanda hadirnya PSI meramaikan diskursus politik nasional.</p>
<p>Seperti pernyataan Fahri, alumnus Universitas Paramadina ini semenjak saat itu telah bertransformasi menjadi magnet PSI dalam menggaet kaum milenial untuk ikut membisingkan diskursus politik.</p>
<p>PSI lantas menasbihkan diri sebagai sebuah partai baru yang menjawab kejenuhan dan apatisme publik atas laku berbagai partai politik yang disebutnya <strong><a href="https://psi.id/berita/content/cita-cita-psi/">sangat bertumpu pada preferensi tokoh tunggal</a></strong>.</p>
<p>Mengklaim diri sebagai partai terobosan yang merangkul jiwa-jiwa muda guna mendobrak feodalisme partai-partai lama, nyatanya visi PSI tersebut tampaknya hanya menjadi semacam jargon yang tertulis di atas kertas semata.</p>
<p>Alih-alih menjadi partai yang menggoyang dominasi partai yang kerap menjunjung suatu tokoh tunggal berpengaruh, PSI justru dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan diri sebagai suatu “benteng kokoh” yang selalu mendukung ataupun membalas berbagai kritik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).</p>
<p>Atas perannya sebagai benteng kokoh itulah PSI kerap kali memainkan berbagai manuver, termasuk dengan melawan pernyataannya sendiri agar sesuai dengan kebijakan sang presiden.</p>
<p>Kasus paling kentara mungkin adalah pernyataan PSI yang <strong><a href="https://nasional.tempo.co/read/1244992/psi-setuju-ada-sp3-dan-dewan-pengawas-dalam-draf-revisi-uu-kpk/full&amp;view=ok">menyetujui</a></strong> Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dan Dewan Pengawas yang menjadi salah satu poin dalam revisi UU KPK. Padahal berbagai pihak menyebut poin tersebut sebagai upaya pelemahan lembaga antirasuah tersebut.</p>
<p>Ironisnya, pada 2017 lalu, PSI justru terlihat sebagai salah satu pihak yang paling keras mengkritik ataupun menolak segala bentuk upaya pelemahan KPK seperti dalam kasus <strong><a href="https://psi.id/berita/2017/06/09/psi-tegas-tolak-hak-angket-kpk/">Hak Angket KPK</a></strong>.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B6NTyfnA7DL/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B6NTyfnA7DL/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B6NTyfnA7DL/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">PSI sebelumnya kritik politik dinasti.⠀ ⠀ Simak artikel selengkapnya di https://pinterpolitik.com/⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-12-18T09:00:09+00:00">Dec 18, 2019 at 1:00am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Kasus terbaru tentunya adalah terkait dukungan PSI kepada Gibran Rakabuming Raka, anak Presiden Jokowi dalam Pilwakot Solo. Bahkan Sekjen PSI, Raja Juli Antoni turut melihat terjunnya Gibran tersebut sebagai suatu hal yang <strong><a href="https://news.detik.com/berita/d-4641761/psi-siap-dukung-gibran-atau-kaesang-maju-pilwakot-solo-2020">sangat baik</a></strong>.</p>
<p>Anehnya, pada Juni 2015 lalu, Toni justru menyorot negatif praktik politik dinasti yang disebutnya <strong><a href="https://psi.id/berita/2015/06/25/psi-saatnya-bergerak-tolak-politik-dinasti-yang-membunuh-demokrasi/">mengingkari makna demokrasi</a></strong>, sehingga menyarankan untuk memerangi praktik politik tersebut.</p>
<p>Tidak hanya Toni, pada Agustus 2018 lalu, Tsamara juga melayangkan kritik serupa yang kala itu menyasar Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang merupakan putra Ketum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, yang disebutnya sebagai pihak yang <strong><a href="https://www.tribunnews.com/nasional/2018/08/06/tsamara-amany-sindir-politik-dinasti-ahy-andi-arief-dan-ferdinand-hutahaean-beri-tanggapan">mewarisi sebuah dinasti politik</a></strong>.</p>
<p>Melihat pada kasus manuver PSI yang kerap menyesuaikan diri dengan suara presiden atau memberikan pernyataan yang inkonsisten, lantas apakah yang dapat dimaknai dari fenomena ini?</p>
<h4><strong>Efek Ekor Jas</strong></h4>
<p>Partai politik berperan sebagai salah satu instrumen penjaga demokrasi, sehingga membuat banyak pihak mendorongnya untuk dapat menyuarakan pernyataan yang benar. Akan tetapi, dalam politik kontemporer, partai politik tidak lagi menempatkan diri sebagai entitas normatif semacam itu.</p>
<p>Mark Schmitt dalam <em>Political Opportunity: A New Framework for Democratic Reform,</em> menyebutkan bahwa politik oportunis telah menjadi suatu <strong><a href="https://www.newamerica.org/political-reform/policy-papers/political-opportunity/">bentuk baru dalam realitas politik</a></strong>. Oportunisme sendiri adalah istilah yang lumrah digunakan dalam kehidupan politik Amerika Serikat (AS), baik bagi kelompok kiri maupun kanan, yang mengambil posisi sesuai dengan keuntungan politik yang bisa didapatkan.</p>
<p>Dalam kasus PSI yang terus menunjukkan manuver untuk mendekati Presiden Jokowi, boleh jadi itu adalah bentuk politik oportunis. Pilihan PSI yang cenderung menjadi oportunis memang terbilang cukup realitistis guna untuk selalu mendekatkan diri ke lingkar kekuasaan.</p>
<p>Merujuk pada “logika politik”, meraih kekuasaan telah menjadi <em>raison d’etre</em> atau “alasan keberadan” dari suatu partai politik saat ini.</p>
<p>Melihat pada fenomena PSI yang selalu membuntuti Presiden Jokowi sejak masa kampanye Pilpres 2019 lalu, besar kemungkinan itu diakibatkan oleh <em>coat-tail effect</em> atau “efek ekor jas”. Efek ekor jas dapat dimaknai sebagai pengaruh figur dalam meningkatkan suara partai di Pemilu, yang mana figur tersebut berasal dari capres ataupun cawapres yang diusung.</p>
<p>Menurut Nur Rohim Yunus, efek ekor jas pernah mengalami <strong><a href="http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/adalah/article/view/8844/4655">kesuksesan besar</a> </strong>di Indonesia pada Pilpres 2004 dan 2009. Pada saat itu Partai Demokrat yang baru berdiri pada 2001 benar-benar memberikan efek kejut hebat karena memperoleh suara yang begitu signifikan pada Pemilu 2004, dan bahkan menjadi pemenang Pemilu 2009.</p>
<p>Menurut Yunus, tingginya suara Demokrat tersebut diakibatkan karena tingginya elektabilitas SBY yang telah menjadi ikon partai ataupun magnet pendulang suara.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B6NhoS4D8TD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B6NhoS4D8TD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B6NhoS4D8TD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Pihak rektorat UGM dikabarkan menunda peraturan soal kekerasan seksual.⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-12-18T11:01:05+00:00">Dec 18, 2019 at 3:01am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Setelah SBY, pada Pemilu 2014 dan 2019 terdapat sosok Jokowi yang turut disebut mendongkrak suara PDIP, yang bahkan mengantarkan partai tersebut meraih suara tertinggi di Pemilu 2019.</p>
<p>Untuk kasus PSI, efek ekor jas ini memang mungkin tidak berhasil karena partai tersebut tak lolos ke parlemen pusat. Akan tetapi, dengan masihnya PSI membuntuti Jokowi selaku presiden, tentunya ini dapat membuat partai tersebut mendapat percikan kekuasaan tersendiri.</p>
<h4><strong>Inkonsistensi dalam Politik</strong></h4>
<p>Filsuf Romawi, Boethius pernah berujar: “<em>It&#8217;s my belief that history is a wheel. Inconsistency is my very essence</em>&#8220;, yang sekurang-kurangnya berarti: “Itu adalah kepercayaanku bahwa sejarah itu seperti roda. Inkonsistensi adalah esensi terbesarku.”</p>
<p>Senada dengan pernyataan bijak Boethius, John Hood dalam <em>Inconsistency is Common in Politics,</em> turut menyimpulkan bahwa inkonsistensi adalah suatu hal yang <strong><a href="https://www.carolinajournal.com/opinion-article/inconsistency-is-common-in-politics/">lumrah dalam politik</a></strong>.</p>
<p>Menurutnya, dengan adanya bias kognitif dan determinasi emosi manusia, memiliki pemikiran yang inkonsisten merupakan suatu konsekuensi yang tidak terhindarkan.</p>
<p>Melihat pada kasus PSI yang turut menyesuaikan suara partainya untuk mendukung Presiden Jokowi, mungkin dapat disimpulkan bahwa hal itu adalah imbas dari determinasi emosional yang diakibatkan dari putusan untuk selalu mendekatkan diri pada sang presiden.</p>
<p>Akan tetapi, di luar persoalan bias kognitif tersebut, apakah itu lantas membuat kita memandang lumrah inkonsistensi pernyataan PSI?</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B6NarDWgWUZ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B6NarDWgWUZ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B6NarDWgWUZ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Penyelundupan mobil dan motor mewah lewat Tanjung Priok makin marak.⠀ ⠀ Simak artikel selengkapnya di https://pinterpolitik.com/⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-12-18T10:00:18+00:00">Dec 18, 2019 at 2:00am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Perry R. Hinton dalam <em>The Perception of People: Integrating Cognition and Culture</em>, menyebutkan bahwa inkonsistensi dapat <strong><a href="https://books.google.co.id/books?id=p-qPCgAAQBAJ&amp;pg=PA108&amp;lpg=PA108&amp;dq=people+don%27t+like+inconsistency+party&amp;source=bl&amp;ots=CItGftNKUm&amp;sig=ACfU3U21AzC5FDOLCgGXU0FJsshbtlXb3w&amp;hl=en&amp;sa=X&amp;ved=2ahUKEwiS4O-i_L7mAhUuwzgGHa8iC2cQ6AEwAHoECAYQAQ#v=onepage&amp;q=people%20don't%20like%20inconsistency%20party&amp;f=false">menciptakan masalah potensial</a></strong> karena hal tersebut akan mengakibatkan kebingungan bagi orang lain.</p>
<p>Menurutnya, manusia memiliki motivasi inheren untuk mendapatkan informasi yang konsisten karena hal itu dapat menyediakan jaminan untuk memahami sesuatu secara valid.</p>
<p>Dengan kata lain, mengorbankan konsistensi pernyataan karena harus membela Presiden Jokowi membuat PSI sebenarnya tengah bertaruh dengan citranya di mata publik.</p>
<p>Menimbang pada gagalnya partai milenial ini di Pemilu 2019, sepatutnya menjadi pelajaran tersendiri agar PSI melakukan koreksi internal terkait apakah strateginya selama ini sudah tepat atau tidak.</p>
<p>Pada akhirnya, mungkin dapat dipahami bahwa berbagai pernyataan PSI yang terlihat menyesuaikan diri dengan suara Presiden Jokowi, boleh jadi karena partai tersebut telah memutuskan untuk selalu membuntuti sang presiden guna mengamankan percikan kekuasaan.</p>
<p>Akan tetapi, selaku partai politik yang tentu ingin lolos ke parlemen pusat, sepertinya PSI harus segera mengganti strateginya guna mengamankan masa depannya di Pemilu 2024. (R53)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="s1qI7EMYLeM"><iframe title="Rian Ernest Siap Bersusah Susah di Batam" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/s1qI7EMYLeM?start=51&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/12/tsamara.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
