<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>DPR MPR &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/dpr-mpr/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Feb 2022 02:40:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>DPR MPR &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kenapa Politisi Mudah Saling Tuduh?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/kenapa-politisi-mudah-saling-tuduh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2022 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[DPR MPR]]></category>
		<category><![CDATA[politisi]]></category>
		<category><![CDATA[Social Trap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=95612</guid>

					<description><![CDATA[Di berbagai isu panas, publik kerap melihat politisi saling tuding dan tuduh]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="851" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-851x1024.jpg" alt="" class="wp-image-95615" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-851x1024.jpg 851w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-249x300.jpg 249w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-125x150.jpg 125w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-696x838.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-1068x1286.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-349x420.jpg 349w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh.jpg 1080w" sizes="(max-width: 851px) 100vw, 851px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di berbagai isu panas, publik kerap melihat politisi saling tuding dan tuduh</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Kenapa-Politisi-Mudah-Saling-Tuduh-851x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Zulkifli Hasan dan Krisis Etika Politik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/zulkifli-hasan-dan-krisis-etika-politik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H57]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jan 2020 11:51:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[budaya permisif]]></category>
		<category><![CDATA[DPR MPR]]></category>
		<category><![CDATA[etika politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua MPR Zulkifli Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[PELANGGARAN ETIK DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Novanto]]></category>
		<category><![CDATA[Zulkifli Hasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=71366</guid>

					<description><![CDATA[Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Zulkifli Hasan alias Zulhas dinilai mengabaikan etika politik. Ia dinilai melanggar etika politik lantaran sampai sekarang masih menempati kantor (ruang kerja) MPR RI yang semestinya sudah ia tanggalkan sejak memasuki masa purna jabatan. Tak heran banyak pihak mulai menyoroti etika para pejabat publik di Indonesia secara keseluruhan yang dianggap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Zulkifli Hasan alias Zulhas dinilai mengabaikan etika politik. Ia dinilai melanggar etika politik lantaran sampai sekarang masih menempati kantor (ruang kerja) MPR RI yang semestinya sudah ia tanggalkan sejak memasuki masa purna jabatan. Tak heran banyak pihak mulai menyoroti etika para pejabat publik di Indonesia secara keseluruhan yang dianggap makin memprihatinkan. Mengapa demikian?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>erawat kepercayaan publik bisa dikatakan merupakan hal paling esensial dalam politik. Sayangnya, kebanyakan para politisi kerap mengabaikan aspek fundamental tersebut bahkan tak jarang terlibat dalam masalah pelanggaran etika politik. Dampaknya, masyarakat kian apatis bahkan perlahan menjurus pada krisis legitimasi.</p>
<p>Sarah Birch &amp; Nicholas Allen dalam <em>Judging politicians: The role of political attentiveness in shaping how people evaluate the ethical behaviour of their leaders,</em> menyebut para politisi semestinya menjaga kepercayaan masyarakat agar tetap mempertahankan legitimasi publik. Akan tetapi, faktanya kebanyakan dari mereka bertindak sebaliknya – tak etis.</p>
<p>Masalah pelanggaran etika politik memang lumrah ditemui dalam laku politik para politisi maupun para pejabat publik. Hal itu tercermin dari kebiasaan mereka yang kerap melanggar kode etik baik yang tertulis ataupun yang tak tertulis demi mengejar apa yang mereka inginkan.</p>
<p>Sebut saja salah satu kasus yang belakangan diduga dilakukan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023, Komjen Firli Bahuri, ketika masih menjabat Deputi Bidang Penindakan KPK. Firli disebut melakukan <strong><a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190911190308-12-429630/kpk-firli-bahuri-lakukan-dugaan-pelanggaran-etik-berat">pelanggaran</a> </strong>kode etik lantaran bertemu dengan Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang yang saat itu masih menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB).</p>
<p>Sebagai salah satu unsur pimpinan di lembaga antirasuah yang menangani masalah korupsi, Firli dinyatakan melanggar kode etik lantaran menemui orang yang diduga <strong><a href="https://nasional.tempo.co/read/1127273/tgb-diduga-terima-gratifikasi-ini-duit-keluar-masuk-rekeningnya">terlibat</a></strong> kasus korupsi. Padahal, secara etik, setiap unsur pimpinan di wadah KPK tidak diperbolehkan memiliki afiliasi politik guna menghindari terjadinya konflik kepentingan.</p>
<p>Selain itu, dugaan kasus pelanggaran etik juga belakangan dilakukan mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI), Zulkifli Hasan alias Zulhas. Ia dinilai melanggar etika politik lantaran sampai sekarang masih menempati kantor (ruang kerja) MPR RI yang semestinya sudah ia tinggalkan sejak memasuki masa purna jabatan.</p>
<p>Diketahui, masa menjabat Zulhas selaku Ketua MPR RI semestinya sudah berakhir sejak pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan MPR masa bakti 2019-2024 yang digelar pada 1 Oktober 2019 lalu. Dengan demikian, sejak 1 Oktober secara etik para pejabat sebelumnya sudah harus mulai menanggalkan fasilitas publik yang digunakan, termasuk ruang kantor dan lainnya.</p>
<p>Menariknya, Zulhas juga ternyata sampai sekarang masih menempati rumah dinasnya di Widya Chandra IV nomor 16, Jakarta Selatan.  Jadi, dalam konteks ini, Zulhas sedang <strong><a href="https://politik.rmol.id/read/2020/01/02/415898/Masih-Tempati-Ruang-Kerja-Ketua-MPR,-Pengamat:-Zulhas-Langgar-Etika-">menikmati</a></strong> sesuatu yang bukan lagi menjadi haknya. Sebagai seorang mantan pejabat negara dan politisi, sikap Zulhas jelas tak pantas ditiru.</p>
<p>Dari kasus tersebut muncul pertanyaan, mengapa pelanggaran etika politik masih lazim ditemui pada para pejabat publik dan politisi di Indonesia?</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B62yXUlHHZK/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B62yXUlHHZK/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B62yXUlHHZK/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Etika politik sering dilanggar pejabat publik, kapan akan membaik?⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-01-03T11:36:13+00:00">Jan 3, 2020 at 3:36am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<h4><strong>Problem Etika Politik</strong></h4>
<p>Terkait kasus Zulhas yang masih belum mengembalikan fasilitas negara, sempat dikritik oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, yang menyebut sikap tersebut mencerminkan miskinnya suri tauladan sebagai elite politik.</p>
<p>Meskipun tidak ada aturan yang melarang, secara etika, apa yang diperlihatkan Zulhas mencederai etika politik. Fenomena pelanggaran etika politik ini jika ditelusuri lebih jauh hampir melanda sejumlah elite politik di tanah air.</p>
<p>Lord Paul Bew dalam <em>Public Ethics and Political Judgment</em> mengatakan, masalah etika memang kerap mendera para politisi. Bew mendefinisikan etika politik sebagai perangkat normatif yang meliputi standar-standar, norma, atau tata aturan yang melekat pada peran dan fungsi yang seharusnya dipatuhi setiap pejabat maupun elite politik.</p>
<p>Bew mencoba memisahkan antara etika politik dan etika personal. Menurutnya, perbedaan antara keduanya terletak pada derajat kepatutan. Etika personal, menurutnya hanya terbatas pada soal integritas pribadi atau moral seorang pejabat atau politisi. Sedangkan, etika politik bersinggungan dengan perkara moralitas publik yang di dalamnya terdapat sejumlah standar-standar normatif yang menjadi acuan perilaku elite politik.</p>
<p>Jika ditarik dalam kasus Zulhas, maka apa yang tengah dilakukannya mengandung makna pelanggaran terhadap etika politik dan etika personal sekaligus. Bahwa di satu sisi Zulhas memang bermasalah secara personal (integritas diri) sebab sudah pasti tahu apa yang dilakukannya secara moral tidak dibenarkan,  namun dalam waktu bersamaan ia juga melakukan pelanggaran secara etika politik.</p>
<p>Seperti dinyatakan Angel Rodríguez Luño dalam <em>Personal Ethics and Political Ethics,</em> bahwa etika personal lebih condong pada kualitas pribadi yang dimiliki masing-masing orang dalam laku politiknya. Sementara, etika politik adalah apa yang dilakukan seseorang menurut kerangka normatif yang ada, baik itu mengacu pada konstitusi, hukum, adminsitrasi dan sebagainya.</p>
<p>Jika ditelisik, kasus seputar pelanggaran etika politik juga sempat dialami sejumlah pejabat tanah air. Ambil contoh kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019, Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla oleh mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto terkiat masalah PT Freeport.</p>
<p>Diduga, Setya Novanto ketika itu <strong><a href="https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151117_indonesia_freeport_setyanovanto">meminta</a></strong> jatah saham dan proyek pembangkit listrik dari PT Freeport Indonesia yang menyebut saham tersebut akan diberikan kepada presiden dan wakil presiden. Akibat kejadian ini, mulailah muncul istilah “papa minta saham”.</p>
<p>Pertanyaannya, mengapa fenomena ini seringkali terjadi di Indonesia? Apalagi kalau dirunut, kejadian serupa banyak menyeret sejumlah pejabat dan elite politik mulai dari pusat hingga aras lokal. Artinya, ada problem yang cukup serius dalam konteks perpolitikan kita.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B52IqOwgovS/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B52IqOwgovS/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B52IqOwgovS/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Rakernas PAN berakhir ricuh.⠀ ⠀ Simak artikel selengkapnya di https://pinterpolitik.com/⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-12-09T09:00:22+00:00">Dec 9, 2019 at 1:00am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<h4><strong>Budaya Permisif</strong></h4>
<p>Fenomena pelanggaran etika politik atau etika publik di Indonesia dapat dikaji dalam beberapa aspek. <em>Pertama</em>, hal itu terjadi akibat kurangnya kesadaran pejabat atau politisi terhadap norma-norma yang berlaku. <em>Kedua</em>, hal tersebut bisa juga dipicu oleh faktor permisivisme masyarakat sendiri.</p>
<p>Bahwa ketidakpatuhan terhadap kaidah-kaidah yang ada menjadi penyebab utama terjadinya pelanggaran etika publik, boleh jadi hal itu dilakukan karena alasan tertentu. Namun, jika merujuk pada apa yang ditulis Robert Seidman dalam <em>The State Law and Development</em>, hampir dapat ditebak kalau alasannya lebih pada soal ongkos dan ganjaran. Atau, bisa dibilang, seseorang melanggar aturan tidak lain karena keuntungan dari ketidakpatuhannya melebihi kerugian atas kepatuhannya terhadap hukum.</p>
<p>Artinya, si pelaku paham betul bahwa pelanggarannya memiliki insentif lebih besar dibandingkan kepatuhannya. Dengan demikian, seorang pejabat sudah pasti menimbang manfaatnya terlebih dahulu sebelum ia benar-benar memutuskan untuk melabrak standar etik yang ada.</p>
<p>Kalkulasi pragmatis ini jika dihubungkan dengan kasus Zulhas tentu memiliki relevansi cukup kuat. Bahwa masih tetap menempati fasilitas negara meski sudah bukan haknya lagi adalah perhitungan pragmatis Zulhas, terlepas, ia sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah tindakan yang sangat tak etis. Boleh jadi publik tidak begitu mempersoalkan tindakannya, namun secara moral dan etik, perbuatannya tergolong pelanggaran serius terhadap etika politik seorang politisi.</p>
<p>Selain masalah kealpaan penghormatan elite politik terhadap standar etik, faktor lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata – yang juga berkontribusi pada kian maraknya perilaku non etis pejabat –  adalah soal budaya permisif masyarakat.</p>
<p>Kondisi ini sebagian besar dipicu oleh rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi politik, politisi serta politik itu sendiri. Dari sinilah muncul yang namanya apatisme politik yang kemudian menjurus pada sikap permisif.</p>
<p>Budaya permisif dapat digambarkan sebagai suatu gejala di mana masyarakat tidak lagi peduli terhadap suatu hal tertentu. Dalam konteks politik, situasi ini bisa dimaknai sebagai suatu gejala di mana masyarakat tidak begitu konsen terhadap isu sosial politik ataupun yang berkaitan dengan perilaku elite.</p>
<p>Dengan demikian, tingkah laku politik yang justru merugikan masyarakat kurang mendapat tanggapan serius di masyarakat.</p>
<p>Kasus Zulhas misalnya, masyarakat akan berpikir “masa bodoh” mau ia tempati sampai kapan pun tidak ada dampaknya bagi mereka. Fenomena <strong><a href="https://sosialpolitik.filsafat.ugm.ac.id/2017/07/28/fenomena-apatisme-masyarakat-terhadap-politik-di-indonesia/">apatisme politik</a></strong> masyarakat Indonesia dinilai tidak hanya didasari oleh tindakan personal, melainkan sudah menjadi sikap umum.</p>
<p>Gejala serupa memang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan terdapat di sejumlah negara dengan berbagai penyebabnya. Seperti diungkapkan David S. Mason dalam <em>Political Apathy in Poland</em>, bahwa kasus apatisme politik juga terjadi di Polandia. Kebanyakan dari mereka menjadi apatis dikarenakan adanya perasaan pesimisme yang dipicu oleh masalah ekonomi.</p>
<p>Selain Polandia, masalah yang sama juga terjadi di Nigeria. Sebagaimana diulas Adeline Nenna dalam <em>Political Parties, Political Apathy And Democracy In Nigeria: Contending Issues And The Way Forward,</em> bahwa fenomena apatisme politik di Nigeria menjadi masalah tersendiri bagi proses demokrasi di negara itu. Dia juga menyayangkan sikap sejumlah elite partai yang seolah mengabaikan fakta tersebut.</p>
<p>Kembali pada kasus pelanggaran etika yang dilakukan Zulhas serta sejumlah pejabat negara lainnya, bisa dibilang permasalahan tersebut merupakan buah dari apatisme politik yang membuat masyarakat menjadi permisif terhadap urusan sosio-politik.</p>
<p>Faktor permisivisme masyarakat ini diakui Azyumardi Azra sebagai salah satu <strong><a href="http://indonews.id/artikel/11918/Ada-5-Faktor-Penyebab-Pelanggaran-Etika/">penyebab</a> </strong>maraknya pelanggaran etika yang dilakukan para pejabat negara. Dengan demikian, bisa dikatakan fenomena pelanggaran etika politik di kalangan pejabat dan elite politik, selain karena rendahnya penghormatan terhadap hukum juga disebabkan faktor permisivisme masyarakat itu sendiri. (H57)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="ebKMgMMbYaE"><iframe title="Sejarah Tan Malaka, Bapak Bangsa Yang Dilupakan?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ebKMgMMbYaE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Zulhas-1024x768.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rakyat Sipil Bisa Bergerak?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/rakyat-sipil-bisa-bergerak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2018 08:27:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[DPR MPR]]></category>
		<category><![CDATA[Mk]]></category>
		<category><![CDATA[UU MD3]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=21836</guid>

					<description><![CDATA[Walau koalisi masyarakat sipil berniat untuk menggugat pasal-pasal terkait imunitas dan antikritik UU MD3, apakah ini saatnya masyarakat bergerak? PinterPolitik.com “Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membeda-bedakan.” ~ Gus Dur [dropcap]K[/dropcap]etika masyarakat memilih wakilnya dan ternyata wakil yang diberi amanat malah bersikap sok kuasa, apakah rakyat tidak bisa menggugat? Ketika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Walau koalisi masyarakat sipil berniat untuk menggugat pasal-pasal terkait imunitas dan antikritik UU MD3, apakah ini saatnya masyarakat bergerak?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tanpa membeda-bedakan.” ~ Gus Dur</strong></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]etika masyarakat memilih wakilnya dan ternyata wakil yang diberi amanat malah bersikap sok kuasa, apakah rakyat tidak bisa menggugat? Ketika sebuah lembaga peradilan yang menjadi tempat mencari keadilan, dikuasai oleh seorang yang cacat secara etis, kemana lagi warga negara akan berkeluh kesah?</p>
<p>Apakah sudah tak ada lagi pejabat negara yang bisa dipercaya? Undang-undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) yang baru disahkan oleh para wakil rakyat, ternyata hanya menjadi kedok bagi mereka untuk mengangkangi kemerdekaan berdemokrasi. Kini para anggota parlemen yang di Pemilu lalu mengemis-ngemis minta suara, kini bergaya layaknya raja dari segala raja di Senayan sana.</p>
<p>Lembaga legislatif yang selama ini jadi sarang tikus, tiba-tiba berubah menjadi sebuah kerajaan tikus yang tidak diperkenankan bagi siapapun untuk menggugatnya secara hukum. Bahkan oleh KPK, komisi anti rasuah yang selama ini paling ditakuti oleh para tikus berdasi tersebut. Mau <em>cyduk</em>, harus izin presiden dulu. Huh!</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Sebuah pesimistis yg tjadi &#8230;<br />
Ayo Rakyat bsatu, bangkit &amp; bgerak optimis lawan Arogansi Dewan &#8230;<a href="https://twitter.com/Syarman59?ref_src=twsrc%5Etfw">@Syarman59</a><a href="https://twitter.com/mohmahfudmd?ref_src=twsrc%5Etfw">@mohmahfudmd</a><a href="https://twitter.com/ruhutsitompul?ref_src=twsrc%5Etfw">@ruhutsitompul</a><br />
Mau ke mana lg klu MK sbg Palang terakhir Hukum &amp; Keadilan sdh disangsikan &#8230;?!<br />
54 Guru Besarpun turut bereaksi &#8230;<a href="https://t.co/CU2r9l0XTa">https://t.co/CU2r9l0XTa</a></p>
<p>— Predie Amara (@4M4R4_gen2) <a href="https://twitter.com/4M4R4_gen2/status/963604552682323968?ref_src=twsrc%5Etfw">February 14, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Kini para penghuni Senayan itu, bisa bersenang-senang dengan semua uang proyek negara tanpa harus ketakutan ditangkap KPK. Mereka juga bisa <em>ngorok</em> sepuasnya dan menonton film <em>biru</em> di saat sidang, tanpa takut direkam, difoto, dan dikritik oleh media dan masyarakat luas. Karena siapapun yang melakukannya, akan langsung di <em>cyduk</em>.</p>
<p>Sebagai warga yang berpikiran normal, tentu Koalisi Masyarakat Sipil merasa resah dengan keadaan ini. Bagaimana jadinya kalau masyarakat malah dikangkangi oleh perwakilannya sendiri? Mau jadi apa negara ini? Negara para tikus, dengan kekuasaan penuh ada di Senayan? Aah sungguh mengerikan!</p>
<p>Oleh karena itulah, Koalisi Masyarakat Sipil mengajak masyarakat untuk melakukan pembangkangan terhadap DPR. Apakah bisa? Lho, negara ini kan yang berkuasa bukan hanya DPR dan MK saja toh? Apakah kita hanya akan diam saja dikangkangi oleh orang yang seharusnya mengabdi masyarakat? Lalu bagaimana cara membangkangnya? Ya, bagaimana? Itulah yang belum ketahuan caranya. <em>Hadeeuh</em>! (R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/02/DPR.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Freeport Ancam Arbitrase, Pemerintah Jangan Takut</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/freeport-ancam-arbitrase-pemerintah-jangan-takut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2017 12:18:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[arbitrase Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[DPR MPR]]></category>
		<category><![CDATA[Freeport Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Freeport McMoran Inc.]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ignasius Jonan]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri ESDM]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan tambang]]></category>
		<category><![CDATA[wakil ketua DPR]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=5644</guid>

					<description><![CDATA[Kisruh perubahan status PT Freeport Indonesia (PTFI) yang masih belum disepakati kedua belah pihak, kemungkinan ujungnya harus diselesaikan melalui arbitrase Internasional. Bila itu terjadi, pemerintah Indonesia mengaku siap menghadapinya. pinterpolitik.com DKI JAKARTA – Guna membahas polemik antara pemerintah dengan PT Freeport Indonesia yang menolak perubahan status kontrak, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Kisruh perubahan status PT Freeport Indonesia (PTFI) yang masih belum disepakati kedua belah pihak, kemungkinan ujungnya harus diselesaikan melalui arbitrase Internasional. Bila itu terjadi, pemerintah Indonesia mengaku siap menghadapinya.</h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p><strong>DKI JAKARTA</strong> – Guna membahas polemik antara pemerintah dengan PT Freeport Indonesia yang menolak perubahan status kontrak, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melakukan pertemuan tertutup dengan Wakil Ketua DPR Agus Hermanto, didampingi Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu dan Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widhya Yudha di Kompleks DPR MPR Senayan, Senin (20/2).</p>
<p>Pertemuan tersebut, menurut Agus, menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan pemerintah menanggapi ancaman PTFI yang akan membawa persoalan ini melalui Arbitrase Internasional. Arbitrase Internasional adalah pengajuan sengketa Internasional ke arbitrator yang dipilih dan keputusannya tidak terlalu terikat pada hukum, karena intinya untuk mendapatkan kesepakatan semua pihak yang bersengketa.</p>
<p>Sebelumnya, Jonan selaku Menteri ESDM telah menunjukkan ketegasannya dengan mengatakan pemerintah tetap berharap ada upaya negosiasi antara Freeport dan pemerintah Indonesia, sehingga tidak perlu ada langkah arbitrase. Namun Jonan juga menilai kalau arbitrase akan jauh lebih baik dilakukan, daripada menggunakan isu pemecatan karyawan untuk menekan pemerintah.</p>
<p>Wakil Ketua DPR Agus Hermanto meminta pemerintah tak takut menghadapi ancaman Freeport McMoran Inc yang berniat menggugat Pemerintah Indonesia ke arbitrase Internasional. “Memang kita sangat menghormati kerjasama dengan negara manapun, namun kita juga tetap menghormati Undang-undang yang ada,” kata Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/2).</p>
<p>“Kalau freeport ingin ekspor harus melalui permen (peraturan menteri) yang sudah ada izin khusus itu,” lanjut Agus yang juga yakin kalau Pemerintah Indonesia akan menang jika perkara tersebut di bawa ke arbitrase internasional.</p>
<p>Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Ia mengatakan dalam menjalin kemitraan dengan pihak negara lain, pemerintah sudah seharusnya tetap mengacu pada undang-undang. Apalagi Fadli melihat pemerintah selama ini telah memberikan berbagai keringanan kepada Freeport. Misalnya izin membangun smelter di Gresik yang sampai saat ini pun masih belum selesai pembangunannya.</p>
<p>Menurutnya, Pemerintah Indonesia harus berani menghadapi rencana arbitrase Iinternasional yang akan dilakukan Freeport. “Kita ini negara berdaulat, jangan ada keistimewaan. Saya kira ini tantangan buat pemerintah, mau ikut undang-undang atau kepentingan lain,” papar Fadli di Kompleks Parlemen.</p>
<p>Terlepas dari konflik yang membelit Pemerintah Indonesia dengan PTFI ini, dukungan penuh parlemen pada keputusan pemerintah, memperlihatkan kekuatan bersama dan kesatuan dalam mengatasi permasalahan. Andai setiap permasalahan yang dihadapi pemerintah dapat diatasi secara bersama-sama seperti ini, Indonesia pasti akan memiliki pemerintahan kuat dan stabil. (Berbagai sumber/R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/Freeport-ancam-arbitrase-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
