<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Cak Imin &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/cak-imin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Feb 2026 08:29:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Cak Imin &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tarung Masa Depan PKB vs PKS?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tarung-masa-depan-pkb-vs-pks/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Almuzammil Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167611</guid>

					<description><![CDATA[Senyapnya PKS tanpa kursi di Kabinet Merah Putih berbanding terbalik dengan manuver PKB yang meraih posisi strategis di pemerintahan Prabowo–Gibran. Dari satu koalisi Pilpres, lahir dua jalan berbeda. Apakah ini awal tarung masa depan dua kutub politik Islam Indonesia?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/tarung-masa-depan.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Senyapnya PKS tanpa kursi di Kabinet Merah Putih berbanding terbalik dengan manuver PKB yang meraih posisi strategis di pemerintahan Prabowo–Gibran. Dari satu koalisi Pilpres, lahir dua jalan berbeda. Apakah ini awal tarung masa depan dua kutub politik Islam Indonesia?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Terdapat kontras yang mencolok di awal pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) relatif senyap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai yang sepanjang kampanye 2024 berada di barisan pendukung Anies Baswedan–Muhaimin Iskandar itu bergabung dalam orbit kekuasaan, tetapi tanpa satu pun kadernya duduk di Kabinet Merah Putih. Yassierli di kursi Menteri Ketenagakerjaan pun hanya disebut <em>endorse</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada kursi menteri, tidak pula posisi strategis yang merepresentasikan partai secara formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tampil kontras. Meski sama-sama bukan pendukung Prabowo–Gibran dalam Pilpres 2024 dan berada dalam koalisi Anies–Imin, PKB justru memperoleh jatah signifikan, yakni satu kursi menteri koordinator dan beberapa kementerian teknis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam satu momentum politik, dua partai Islam yang berangkat dari barisan oposisi Pilpres mengambil posisi berbeda dalam konfigurasi kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kontras ini bukan sekadar soal pembagian kursi kabinet. Ia mencerminkan perbedaan strategi, orientasi, dan kalkulasi jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa PKB mampu bermanuver lebih cepat dan efektif? Mengapa PKS memilih—atau menerima—posisi tanpa representasi eksekutif formal? Dan bagaimana dinamika ini memengaruhi masa depan dua partai Islam terbesar hasil “seleksi alam” Pemilu 2024?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada Pemilu legislatif 2024, PKB meraih lebih dari 16 juta suara dan 68 kursi DPR. PKS mengamankan 12.781.353 suara dan 53 kursi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar keduanya minus PAN yang bertransformasi kian berjarak dengan Muhammadiyah, partai-partai Islam lain tersisih dari parlemen, termasuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang untuk pertama kalinya gagal menembus DPR. Fenomena ini mengerucutkan ceruk politik Islam hanya pada dua entitas dominan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif Duverger’s Law, penyederhanaan ini bukan kebetulan. Dalam ceruk ideologis tertentu, pemilih cenderung mengonsolidasikan suara pada partai yang dianggap paling <em>viable</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai kecil kehilangan insentif berkembang, sementara pemilih enggan menyia-nyiakan suara pada entitas yang tak melampaui ambang batas. Hasilnya adalah bipolarisasi, PKB dan PKS sebagai dua kutub utama representasi politik Islam. Akankah ini jadi pertarungan abadi dua parpol berhaluan Islam?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>PKB-PKS Beda Orientasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan sikap pasca-Pilpres 2024 kiranya dapat dijelaskan melalui teori orientasi partai, <em>office-seeking</em> dan <em>vote-seeking</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PKB menunjukkan kecenderungan <em>office-seeking</em>—memaksimalkan akses pada jabatan eksekutif sebagai instrumen penguatan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masuknya kader PKB ke kabinet bukan hanya simbol partisipasi, melainkan sarana distribusi sumber daya, konsolidasi jaringan, dan penguatan posisi tawar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Strategi ini selaras dengan karakter PKB sebagai partai berbasis organisasi massa, khususnya jaringan Nahdlatul Ulama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan PKB dengan NU mencerminkan organizational linkage: relasi struktural dan kultural yang relatif stabil. Akses kekuasaan berarti akses pada program, anggaran, dan legitimasi yang dapat dikonversi menjadi penguatan basis, terutama di Jawa Timur sebagai lumbung suara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, PKS tampak lebih berhati-hati. Tanpa kursi di kabinet, partai ini berada dalam posisi unik, berada dalam orbit pemerintahan tetapi tanpa beban langsung kebijakan eksekutif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka <em>vote-seeking</em>, ini bisa menjadi strategi jangka menengah. PKS mempertahankan citra konsistensi ideologis dan kedisiplinan kader, sembari tetap memiliki fleksibilitas sikap di parlemen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Militansi kader dan simpatisan PKS menjadi modal utama. Partai ini memiliki tradisi kaderisasi sistematis dan jaringan akar rumput yang solid di kalangan Muslim urban terdidik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsistensi sebagai penyeimbang pemerintah di DPR memperkuat persepsi integritas. Dalam situasi publik yang kerap skeptis terhadap kompromi elite, jarak dari kekuasaan bisa menjadi aset elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pilihan ini juga mengandung risiko. Tanpa akses langsung ke eksekutif, PKS berpotensi kehilangan momentum distribusi sumber daya politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara PKB, dengan posisi di kabinet, dapat mengakumulasi keuntungan pragmatis—meski harus membayar harga berupa potensi erosi identitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan ini menciptakan dua model representasi politik Islam: Islam kultural-pragmatis ala PKB dan Islam ideologis-disipliner ala PKS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, dengan representasi tersebut, keduanya juga tampak bersaing di salah satu ceruk suara determinan, yakni Jawa Timur.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu.png" alt="kader pkb “gak mutu”" class="wp-image-165927" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/kader-pkb-gak-mutu-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jawa Timur dan Jebakan Partai Tengah</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tarung masa depan PKB dan PKS tidak hanya berlangsung di Senayan atau Istana, melainkan di basis sosial. Jawa Timur menjadi arena paling strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Provinsi tersebut adalah pusat NU sekaligus wilayah dengan dinamika urbanisasi dan kelas menengah Muslim yang terus berkembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PKB memiliki dominasi historis di Jawa Timur melalui jaringan pesantren dan kiai. Mulai dari Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Jombang, hingga Nganjuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Basisnya bersifat rural-kultural dan relatif stabil. Akses kabinet memperkuat daya tawar partai ini di hadapan elite lokal dan pemilih tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, PKS tidak tanpa peluang. Dengan pendekatan kaderisasi dan penetrasi isu-isu moral serta pelayanan sosial, PKS memperluas ceruk di kawasan urban Jawa Timur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilih religius kelas menengah yang tidak terikat secara genealogis dengan NU menjadi sasaran potensial. Malang, Mojokerto, Bojonegoro, hingga Tuban pun menjadi medan gerilya politik yang cukup prospektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua partai menghadapi tantangan yang sama, <em>middle party trap</em>. Sebagai partai menengah, mereka kuat di ceruk tertentu tetapi sulit menembus dominasi partai nasionalis besar pada level nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa partai Islam lebih sering menjadi mitra koalisi daripada pemenang tunggal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk keluar dari jebakan ini, PKB dan PKS harus melampaui politik identitas semata. Mereka perlu mengartikulasikan agenda ekonomi, kesejahteraan, dan tata kelola yang konkret.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai yang mampu mengonversi basis ideologis menjadi platform kebijakan inklusif akan memiliki peluang lebih besar menjadi arus utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kontras awal pemerintahan Prabowo–Gibran memperlihatkan dua jalan berbeda. PKB memilih integrasi kekuasaan dengan imbal hasil langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PKS memilih posisi lebih sunyi, menjaga jarak dari kursi kabinet. Keduanya lahir dari barisan oposisi Pilpres yang sama, tetapi kini menapaki strategi berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tarung masa depan PKB vs PKS pada akhirnya bukan soal siapa yang mendapat kursi menteri lebih banyak. Ia adalah pertarungan tentang model politik Islam mana yang lebih adaptif dalam demokrasi Indonesia kontemporer: pragmatis-inklusif atau ideologis-konsisten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seleksi alam 2024 telah menyisakan dua kutub. Kini, 2029 dan seterusnya, sejarah berikutnya akan ditentukan oleh siapa yang mampu mengelola kekuasaan—atau jarak dari kekuasaan—menjadi modal elektoral yang berkelanjutan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?start=57&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/tarung-masa-depan.mp3" length="2627156" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/10-2kampanyeakbaramin-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Politik Santri Nggak Kalah Ngeri?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/politik-santri-nggak-kalah-ngeri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Ipul]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Santri]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164980</guid>

					<description><![CDATA[Dari asrama pesantren ke lembaga negara, para santri kini menapaki politik dengan strategi dan kecerdasan taktis sebagai menteri. Bukan sekadar penjaga moral, mereka menjadi pengendali arah kebijakan. Namun, mereka memiliki tantangan sangat besar untuk dapat memijakkan kaki di level tertinggi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/santri-1_7hvgnt0c.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari asrama pesantren ke lembaga negara, para santri kini menapaki politik dengan strategi dan kecerdasan taktis sebagai menteri. Bukan sekadar penjaga moral, mereka menjadi pengendali arah kebijakan. Namun, mereka memiliki tantangan sangat besar untuk dapat memijakkan kaki di level tertinggi.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni untuk meneguhkan peran kultural pesantren dalam sejarah bangsa. Melainkan, hari di mana momentum reflektif terjadi, bagaimana warisan spiritual dan intelektual pesantren bertransformasi menjadi kekuatan sosial-politik di tingkat negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, santri tak lagi berhenti di langgar atau madrasah saat mereka menempati posisi strategis dalam pemerintahan, memengaruhi kebijakan publik, dan menavigasi realitas politik yang kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Kabinet Merah Putih saat ini, setidaknya ada empat figur yang menjadi representasi nyata “politik santri” dalam praktik kekuasaan kontemporer. <em>Pertama</em>, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, alumni Pondok Pesantren Mambaul Maarif Jombang, kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum PKB.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, Nasaruddin Umar, alumnus Pesantren As’adiyah Sengkang, menempati posisi Menteri Agama dengan reputasi sebagai salah satu cendekiawan Muslim paling mumpuni.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), alumni Tebuireng dan Krapyak, menjabat Menteri Sosial sekaligus Sekjen PBNU. <em>Keempat</em>, Raja Juli Antoni, jebolan Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, kini Menteri Kehutanan serta Sekjen PSI—figur progresif dari kalangan santri modernis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai catatan kecil, para santri dalam daftar tersebut adalah mereka yang mengenyam pendidikan pondok pesantren dan tinggal di asrama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali, kempatnya merepresentasikan spektrum politik santri yang luas: dari tradisionalisme Nahdlatul Ulama hingga rasionalisme dan pragmatisme Muhammadiyah, dari politik berbasis jaringan kultural hingga yang bersandar pada logika elektoral modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran mereka seolah menandai transformasi penting, bahwa politik santri kini bukan hanya fenomena moral, tetapi juga realitas strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pola sejarah mencatat bahwa basic latar belakang tersebut cukup sulit menembus level tertinggi. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara Etika, Kekuasaan, dan Adaptasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Secara teoretis, politik santri dapat dibaca melalui dua pendekatan konseptual. <em>Pertama</em>, <em>cultural politics</em>, yaitu politik yang berakar pada nilai, tradisi, dan identitas kultural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks pesantren, ini berarti politik yang berlandaskan etika keislaman, keadaban sosial, dan solidaritas komunitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, <em>political adaptation theory</em>, yang menjelaskan bagaimana aktor-aktor dengan basis budaya tertentu beradaptasi dengan sistem politik modern untuk mempertahankan relevansi dan kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua kerangka ini kiranya dapat membantu &nbsp;memahami paradoks menarik: santri yang dididik dalam lingkungan normatif, penuh adab dan moralitas, justru mampu memainkan politik yang keras dan pragmatis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muhaimin Iskandar, misalnya, adalah figur yang menggabungkan kearifan pesantren dengan kelihaian taktis dalam menghadapi friksi internal partai maupun dinamika kekuasaan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah retorika “politik kebangsaan”, Cak Imin seakan menunjukkan bahwa “anak pondok” pun bisa berpolitik dengan kalkulasi yang matang, bahkan, bagi sebagian pengamat, dengan kelihaian setara politisi sekuler.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Saifullah Yusuf menampilkan sisi lain, santri yang memadukan jaringan kultural NU dengan administrasi pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai Sekjen PBNU dan Menteri Sosial, ia merepresentasikan <em>bridging leadership</em>, kepemimpinan yang menjembatani antara basis kultural dan struktur negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara Nasaruddin Umar memposisikan dirinya sebagai <em>moral statesman</em>, sosok yang menekankan dimensi etika dan spiritualitas di ruang birokrasi. Ia memodernisasi citra Kementerian Agama tanpa meninggalkan nilai dasar pesantren: tawadhu’, moderasi, dan keilmuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Raja Juli Antoni, di sisi lain, mencerminkan wajah baru santri modernis: progresif, akademis, dan terbuka terhadap pluralisme, namun cenderung pragmatis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia seolah mengartikulasikan nilai-nilai Islam melalui diskursus kebangsaan yang rasional dan egaliter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberadaannya dalam kabinet menandai bahwa “politik santri” kini juga melampaui batas tradisi NU atau kultural Jawa saat ia menjangkau dimensi nasional yang lebih luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik keberhasilan ini, politik santri juga menyimpan ketegangan laten. Secara historis, alumni pesantren menghadapi kelemahan struktural dalam politik hukum, keamanan, dan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Basis sosial pesantren yang kuat di akar rumput tidak selalu berbanding lurus dengan penguasaan terhadap jejaring ekonomi-politik atau birokrasi militer, misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini menciptakan asimetri kekuasaan, di mana santri memiliki legitimasi moral, tetapi seringkali kurang modal struktural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi pengecualian monumental. Sebagai Presiden ke-4 RI, ia membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren dapat beroperasi dalam puncak kekuasaan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pengalamannya juga menunjukkan kerasnya medan politik nasional bagi kaum santri, bahwa idealisme moral kerap berbenturan dengan <em>realpolitik</em> kekuasaan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan.jpg" alt="" class="wp-image-83677" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Kiprah-Santri-Perjuangkan-Kemerdekaan-336x420.jpg 336w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Reposisi dan Tantangan Baru</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka <em>sociopolitical transformation</em>, politik santri hari ini berada di fase reposisi. Ia bukan lagi politik identitas, melainkan politik kompetensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Santri kini kiranya tampil bukan sekadar “representasi religiusitas”, tetapi juga “aktor rasional” yang mampu mengelola negara. Fenomena ini dapat dilihat dalam tiga arah transformasi utama: ideologis, struktural, dan generasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, transformasi ideologis. Politik santri tidak lagi mengusung agenda teokratis, tetapi menekankan nilai-nilai universal seperti keadilan sosial, kemanusiaan, dan keberlanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini tercermin dalam kebijakan inklusif yang diusung Nasaruddin Umar atau Raja Juli Antoni, yang berupaya menghubungkan spiritualitas dengan rasionalitas kebijakan publik dan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian kalangan santri kini lebih dan mulai nyaman berbicara tentang <em>good governance</em> daripada dogma; tentang ekologi dan pemberdayaan daripada semata dakwah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, transformasi struktural. Akses politik santri kini diperkuat oleh dua faktor: institusionalisasi partai (seperti PKB) dan akomodasi negara terhadap representasi keagamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tantangan muncul ketika politik pesantren bersinggungan dengan logika pragmatisme elektoral. Ketergantungan pada patronase, fragmentasi internal, dan lemahnya penguasaan terhadap sektor ekonomi masih menjadi batu sandungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para santri politisi perlu membangun <em>infrastructural power</em>, basis ekonomi, teknologi, dan komunikasi agar tidak hanya menjadi “penjaga moral”, tetapi juga “pengendali arah”.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, transformasi generasional. Politik santri kini memasuki fase regenerasi intelektual. Generasi baru pesantren, lulusan universitas, terlatih dalam teknologi dan wacana global, mulai mengisi ruang publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak hanya membawa kitab, tetapi juga gagasan progresif. Namun, generasi ini juga menghadapi dilema, yakni tentang bagaimana menyeimbangkan antara “ijtihad moral” dan <em>realpolitik</em> kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, adagium lama pesantren— memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik —mendapat makna politik baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Santri ditantang untuk menjaga nilai etis pesantren sembari berinovasi dalam strategi kekuasaan. Politik santri yang “nggak kalah ngeri” bukan berarti kehilangan adab, tetapi menunjukkan bahwa moralitas bisa berjalan beriringan dengan kecerdasan taktis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, politik santri adalah dialektika antara spiritualitas dan strategi, antara moralitas dan modernitas. Ia bukan sekadar “politik orang baik”, tetapi juga “politik orang cerdas”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dulu santri adalah penjaga akidah, kini mereka juga penentu arah kebijakan. Dari langgar ke lembaga negara, perjalanan santri menegaskan satu hal: kekuasaan tidak harus menodai kesalehan, dan kesalehan pun bisa menjadi sumber kekuasaan yang beradab. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lg5x8PE9rjQ"><iframe loading="lazy" title="Misteri PKI di Penculikan Rengasdengklok" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lg5x8PE9rjQ?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/santri-1_7hvgnt0c.mp3" length="3478509" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/08/ECe0zS-U8AAnqbz-1024x682.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Audit Pesantren, Eternal Rivalry Imin?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/audit-pesantren-eternal-rivalry-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Al Khoziny]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164817</guid>

					<description><![CDATA[Penunjukan Cak Imin memimpin perbaikan pesantren membuka irisan babak baru rivalitas abadi dengan PBNU. Di balik langkah tersebut, tersimpan drama “takdir struktural”, antara kehendak politik dan sistem kekuasaan yang terus mengulang pertarungan lama dalam wajah baru.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/imin-1_abf6ajby.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penunjukan Cak Imin memimpin perbaikan pesantren membuka irisan babak baru rivalitas abadi dengan PBNU. Di balik langkah tersebut, tersimpan drama “takdir struktural”, antara kehendak politik dan sistem kekuasaan yang terus mengulang pertarungan lama dalam wajah baru.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Penunjukan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin untuk memimpin audit dan perbaikan infrastruktur pesantren di seluruh Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto seolah menandai babak baru dalam peta kekuasaan politik keislaman dalam dimensi tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di permukaan, ini tampak sebagai langkah teknokratik: memperkuat aspek keselamatan dan mitigasi bencana di lembaga pendidikan berbasis agama. Namun, di bawahnya seolah tersimpan gelombang politik yang lebih dalam, irisan antara struktur kekuasaan negara, jaringan keagamaan tradisional, dan rivalitas ideologis yang sudah berlangsung dua dekade lebih: Cak Imin versus Nahdlatul Ulama (NU).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, pesantren tidak semata ruang pendidikan, melainkan arena kekuasaan yang berlapis. Ia menjadi simpul ekonomi sosial, basis legitimasi moral, dan titik temu antara kekuasaan religius dan politik elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Cak Imin memegang mandat memperbaiki ribuan pesantren, termasuk yang dapat dipastikan berada di bawah koordinasi struktural PBNU, maka yang terjadi bukan sekadar proyek infrastruktur dan refleksi dari sebuah tragedi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan Cak Imin dengan PBNU sendiri adalah sejarah panjang yang tak pernah benar-benar damai. Sejak konflik internal PKB pasca-Gus Dur, relasi keduanya selalu berada dalam orbit tarik-menarik antara representasi politik dan otoritas moral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PKB kerap menilai PBNU kerap melenceng dari khittah, sementara PBNU menilai Cak Imin menggunakan “NU politik” untuk kepentingan elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Friksi ini pernah mengeras dalam momen politik tertentu, seperti ketika Cak Imin memimpin Pansus Haji di DPR, yang kemudian menyeret nama-nama dekat PBNU termasuk Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, adik Ketua Umum PBNU saat ini yang telah beberapa kali diperiksa KPK.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, mengapa <em>jobdesk </em>terbaru Cak Imin tampak memiliki makna tertentu?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara <em>Fatum</em> dan <em>Freedom</em> Imin?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami posisi Cak Imin dalam lanskap politik keislaman Indonesia, kita dapat meminjam pisau analisis filosofis tentang “takdir struktural”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi klasik, dari Stoikisme hingga Nietzsche, <em>fatum</em> (takdir) adalah sesuatu yang tak dapat dihindari, sementara kebebasan (<em>freedom</em>) adalah ruang kecil yang masih dapat diisi oleh tindakan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik modern, <em>fatum </em>tidak lagi bersifat metafisik, di mana dapat pula termanifestasi dalam sistem kekuasaan, patronase, dan struktur sosial yang membentuk pilihan seseorang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cak Imin adalah representasi paling khas dari dialektika antara fatum dan freedom ini. Ia adalah produk dari struktur patronase NU-Gusdurian yang membesarkannya, tetapi sekaligus “tawanan” dari struktur yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia lahir dari rahim tradisi NU, namun dalam upayanya menjadi otonom secara politik, ia menciptakan sistem kekuasaan yang justru “menjerat” dirinya kembali dalam siklus persaingan dengan PBNU.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rivalitas Imin–PBNU kiranya bukan sekadar konflik personal, tetapi reproduksi logika struktural yang mengikat dua entitas dalam hubungan antagonistik namun tak terpisahkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa sosiologi Pierre Bourdieu, ini adalah bentuk “habitus politik” yang lahir dari sejarah panjang dominasi simbolik, yakni NU sebagai pemegang otoritas kultural, dan PKB sebagai kanal representasi politiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cak Imin mungkin saja berusaha merebut otonomi dari struktur kultural itu, tetapi setiap upaya pembebasan justru memperdalam ketergantungan, ia membutuhkan NU sebagai basis legitimasi moral, sebagaimana NU membutuhkan figur seperti dirinya untuk menerjemahkan pengaruh ke dalam kebijakan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi lain, analisis Heideggerian memperkaya pemahaman ini. Heidegger menyebut manusia sebagai makhluk yang “dilemparkan” (Geworfenheit) ke dalam dunia yang sudah memiliki struktur makna tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cak Imin, dalam konteks kekuasaan saat ini, juga seakan “dilemparkan” ke dalam arsitektur politik yang telah ditentukan, sebuah rezim yang berupaya memadukan legitimasi kekinian dengan basis keagamaan tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program audit dan perbaikan pesantren yang dipimpinnya mungkin adalah bagian dari <em>thrownness of power</em>, di mana individu tidak sepenuhnya bebas menentukan konteksnya, tetapi berusaha tampil otentik di dalam sistem yang telah menentukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, “takdir struktural” Cak Imin bukan sekadar nasib politik, melainkan hasil logis dari posisi sosial yang ia bentuk sendiri melalui jaringan kekuasaan, kompromi politik, dan kalkulasi jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam struktur ini, kebebasan menjadi paradoks, semakin ia mencoba membebaskan diri dari bayang-bayang PBNU, semakin kuat gravitasi sosial yang menariknya kembali.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pesantren, Rekonsiliasi, dan Repetisi Takdir?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan krusial kini adalah, apakah penugasan Cak Imin ini akan membuka ruang rekonsiliasi dengan PBNU, atau justru mengulang siklus rivalitas lama dalam format baru?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks pemerintahan Prabowo, isu pesantren bukan sekadar urusan kesejahteraan santri. Ia juga merupakan simbol integrasi politik antara negara dan umat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah membutuhkan pesantren sebagai legitimasi moral kebijakan pembangunan, sementara elit politik seperti Cak Imin memerlukan proyek ini sebagai arena memperluas jaringan patronase.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan lebih dari 26.000 pesantren di bawah naungan PBNU, proyek ini adalah panggung strategis, siapa yang menguasai narasi “pemberdayaan” atau perbaikan pesantren, dialah yang mungkin akan menguasai bahasa moral Islam tradisional di ruang publik. Terlebih dengan isu nasional dalam kasus Pondok Pesantren Al Khoziny.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah paradoks politik Cak Imin tampak menemukan bentuk paling subtilnya. Dalam upaya membangun infrastruktur fisik pesantren, ia juga tengah mengaudit infrastruktur sosial yang selama ini membatasi kebebasannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski diharapkan tidak terjadi dan tentu akan dilakukan secara profesional, audit pesantren bisa menjadi audit simbolik atas NU sendiri, sejauh mana ormas ini bersedia berbagi ruang kekuasaan dengan politisi yang dulu mereka anggap “anak bandel”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara teoretis, situasi ini dapat dibaca melalui konsep “repetisi takdir” (Nietzschean <em>eternal recurrence</em>). Rivalitas Cak Imin–PBNU tampak berulang dalam bentuk berbeda di setiap fase politik, dari perebutan legitimasi pasca-Gus Dur, konflik internal dan beririsan PBNU-PKB, hingga kini dalam bentuk proyek pembangunan pesantren.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap fase menjanjikan perubahan, namun justru memperlihatkan pola pengulangan, di mana kebebasan individu selalu dibatasi oleh struktur sosial yang telah membentuknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada pula kemungkinan lain: bahwa siklus ini dapat ditransendensi melalui bentuk rekonsiliasi baru yang lebih pragmatis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah pemerintahan Prabowo, ruang mediasi politik terbuka lebar, dan isu kesejahteraan pesantren bisa menjadi jembatan. Jika Cak Imin berhasil menavigasi proyek ini tanpa memperkeras friksi lama, ia berpotensi mengubah “takdir struktural” menjadi momentum transformatif, yaitu dari rivalitas menuju sinergi, dari antagonisme menuju kolaborasi kekuasaan yang lebih matang. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lg5x8PE9rjQ"><iframe loading="lazy" title="Misteri PKI di Penculikan Rengasdengklok" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lg5x8PE9rjQ?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/imin-1_abf6ajby.mp3" length="3279315" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/cak-imin-gus-dur.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Duduk di DPR Jangan Kelamaan?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2025 02:54:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[DPD]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[legislatif]]></category>
		<category><![CDATA[Puan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164440</guid>

					<description><![CDATA[Menurut kalian lebih baik dibatasi atau dibikin biar gaji dan tunjangan masuk akal? Atau ada opsi lain?&#160; #dpr #dpd #dprd #legislatif #puanmaharani #cakimin #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-819x1024.png" alt="duduk di dpr jangan kelamaan 1" class="wp-image-164443" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-819x1024.png" alt="duduk di dpr jangan kelamaan 2" class="wp-image-164444" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-819x1024.png" alt="duduk di dpr jangan kelamaan 3" class="wp-image-164445" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut kalian lebih baik dibatasi atau dibikin biar gaji dan tunjangan masuk akal? Atau ada opsi lain?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#dpr #dpd #dprd #legislatif #puanmaharani #cakimin #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/duduk-di-dpr-jangan-kelamaan-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Misteri Kekuatan Tersembunyi Cak Imin</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/misteri-kekuatan-tersembunyi-cak-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2025 11:31:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164078</guid>

					<description><![CDATA[Di balik citranya yang kerap diremehkan, Cak Imin justru berhasil membawa PKB jadi kekuatan besar. Apa rahasia jaringan politik dan ekonominya yang jarang tersorot publik?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/terdapat-satu-fenomena.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik citranya yang kerap diremehkan, Cak Imin justru berhasil membawa PKB jadi kekuatan besar. Apa rahasia jaringan politik dan ekonominya yang jarang tersorot publik?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://Www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Di tengah konstelasi politik Indonesia saat ini, terdapat satu fenomena menarik yang patut diamati. Ketika partai-partai politik berbasis Islam mengalami tren penurunan elektoral, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) justru menunjukkan arah yang berbeda. Pada Pemilu Legislatif 2024, PKB mencatatkan kejutan besar dengan menempati urutan keempat perolehan suara nasional—sebuah capaian yang jarang diperkirakan sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian analisis publik mengaitkan hal ini dengan efek ekor jas (coattail effect) dari keputusan PKB mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden. Logikanya sederhana: popularitas Anies dianggap memberikan limpahan suara kepada PKB. Namun, jika ditilik lebih dalam, narasi ini tidak sepenuhnya memadai untuk menjelaskan konsistensi PKB dalam menjaga bahkan meningkatkan basis dukungan elektoralnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan pun mengemuka: apakah benar capaian PKB hanya sebatas efek temporer dari figur capres yang diusungnya? Atau, jangan-jangan PKB dan Muhaimin Iskandar—sosok yang akrab disapa Cak Imin—menyimpan “kekuatan tersembunyi” yang membuat partai ini lebih tangguh daripada perkiraan banyak pihak, serta mampu menjadikannya modal politik yang signifikan dalam menyongsong kontestasi berikutnya?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-819x1024.jpg" alt="17554297292324934058033347950353" class="wp-image-164083" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554297292324934058033347950353.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><br><strong>Diam-diam Powerful?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Muhaimin Iskandar sering muncul di ruang publik sebagai figur politisi yang tampak apa adanya, terkadang bahkan menyajikan guyonan dalam jagat media sosial. Akan tetapi, di balik kesan tersebut, ia justru bisa dikategorikan sebagai salah satu politisi paling lihai saat ini. Beberapa bukti historis memperlihatkan bagaimana PKB di bawah kepemimpinannya mampu bangkit dan bertahan, bahkan ketika partai lain dengan basis serupa mengalami kemunduran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Pemilu 2014 mendekat, PKB sedang berada dalam posisi sulit. Fragmentasi internal dan basis dukungan yang tergerus membuat partai ini diprediksi akan terpuruk. Namun, hasilnya berbeda. PKB justru bangkit dan berhasil mencatat perolehan suara signifikan, menempatkannya sebagai salah satu partai Islam dengan raihan kursi terbesar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarawan politik Greg Fealy, dalam tulisannya Nahdlatul Ulama and the Politics Trap, menyinggung bahwa salah satu faktor kunci keberhasilan ini adalah kemampuan Cak Imin merangkul Rusdi Kirana—pendiri Lion Air—ke dalam struktur partai. Kehadiran seorang pengusaha besar seperti Rusdi, kata Greg, dipandang memperkuat aspek logistik dan sumber daya kampanye di berbagai daerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepuluh tahun kemudian, pada Pemilu 2024, pola serupa kembali terlihat. Saat partai-partai Islam lain cenderung kehilangan suara, PKB justru melaju hingga ke posisi keempat secara nasional. Analisis sejumlah pengamat menggarisbawahi bahwa selain faktor politik elektoral murni, ada pula peran pengusaha yang semakin dekat dengan lingkaran Cak Imin. Salah satu nama yang mencolok adalah Leontinus Alpha Edison, co-founder Tokopedia, yang menjadi bagian dari tim pencapresan Anies-Muhaimin. Kehadiran figur dari sektor ekonomi digital memberi warna baru pada jaringan politik-ekonomi Cak Imin itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak berhenti di tingkat nasional, pada level daerah PKB juga disebut menjalin relasi erat dengan sejumlah pengusaha lokal. Jaringan-jaringan seperti ini—yang tidak selalu tampak di permukaan—menjadi salah satu penopang utama kapasitas PKB dalam menggalang dukungan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena kedekatan antara partai politik dan kalangan pengusaha sejatinya bukan hal baru. Teori dalam ilmu politik, seperti resource mobilization theory, menjelaskan bahwa kekuatan politik modern tidak hanya bertumpu pada basis ideologi atau massa, tetapi juga pada kemampuan mengakses sumber daya—baik finansial, logistik, maupun teknologi. Pengusaha dapat menjadi kanal penting dalam memperkuat kapasitas tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di berbagai negara, dukungan logistik terbukti integral dalam mempermudah perjuangan politik partai. Misalnya, Partai Demokrat di Amerika Serikat kerap mendapat sokongan dari pengusaha teknologi Silicon Valley untuk mendorong isu progresif, sementara Partai Republik sering mendapat dukungan dari industri energi dan pertahanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Inggris, Partai Konservatif sejak lama dikenal dekat dengan kalangan bisnis dan perbankan di City of London, misalnya dukungan dari taipan media Rupert Murdoch atau donatur besar seperti Lord Bamford (industri konstruksi). Sementara itu, Partai Buruh kerap mendapat dukungan finansial dari serikat pekerja besar seperti Unite the Union yang membantu mengonsolidasikan basis politik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks PKB, kedekatan Cak Imin dengan berbagai aktor bisnis—baik yang berskala nasional maupun lokal—menjadi semacam “kekuatan tersembunyi”. Kekuatan ini tidak muncul dalam bentuk pencitraan publik yang bombastis, tetapi diasumsikan bekerja secara sistematis di balik layar untuk menopang keberlanjutan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-819x1024.jpg" alt="17554298105935786536508473737163" class="wp-image-164084" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/17554298105935786536508473737163.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menuju 2029?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditarik benang merah dari pengalaman Pemilu 2014 hingga 2024, terlihat bahwa Muhaimin Iskandar mampu memainkan peran strategis dalam menjaga posisi PKB tetap relevan, bahkan di tengah menurunnya pamor partai-partai Islam lain. Keberhasilan ini tampaknya bukan sekadar hasil coattail effect, melainkan buah dari konsistensi membangun jaringan sosial, kultural, dan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan berikutnya adalah: ke mana arah kekuatan tersembunyi ini akan membawa Cak Imin? Pada Pemilu 2024, ia maju sebagai calon wakil presiden. Meskipun pasangan yang diusung tidak berhasil menang, kiprah Cak Imin dalam menjaga PKB tetap solid menegaskan bahwa ia masih merupakan figur penting dalam lanskap politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan bekal jaringan yang semakin luas—dari ulama pesantren, basis NU, hingga pengusaha lokal dan nasional—tidak tertutup kemungkinan Cak Imin akan melangkah lebih jauh pada 2029. Apakah ia akan kembali memosisikan diri sebagai calon wakil presiden, ataukah berani mengambil risiko lebih besar?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin sulit memprediksi dengan tepat. Namun, jika ada satu pelajaran dari kiprahnya selama dua dekade terakhir, itu adalah bahwa Muhaimin Iskandar kerap mampu muncul sebagai pemain penting ketika banyak orang justru meremehkannya. Misteri kekuatan tersembunyinya mungkin justru terletak pada kemampuan membangun relasi lintas sektor yang membuatnya tetap relevan, kapan pun kontestasi politik digelar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, pemilu berikutnya akan menjawab: apakah kekuatan tersembunyi ini akan mengantarkan Cak Imin naik satu level lebih tinggi, atau justru membuatnya tetap menjadi “kingmaker” yang menentukan arah politik Indonesia dari balik layar? (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ayK_2GAVT7I"><iframe loading="lazy" title="Soeharto dan Era Keemasan Sains Fiksi" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ayK_2GAVT7I?start=4&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/terdapat-satu-fenomena.mp3" length="2940634" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/20250817_1829_muhaimin-iskandar-di-podium_remix_01k2vwkjjmffz8yej6y8hseb35.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Imin &#038; El Clasico HMI-PMII?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/imin-el-clasico-hmi-pmii/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2025 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[PMII]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163456</guid>

					<description><![CDATA[Pernyataan "pinggir jurang" Cak Imin soal HMI dan PMII memantik kembali rivalitas lama dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di balik candaan politik itu, tersembunyi pertarungan simbol, kelas sosial, dan identitas yang berpotensi memperdalam polarisasi tokoh muda Islam di kalangan kampus dan turunannya jika tak dibingkai secara dewasa.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/imin-el-1_o64ohybo.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pernyataan &#8220;pinggir jurang&#8221; Cak Imin soal HMI dan PMII memantik kembali rivalitas lama dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di balik candaan politik itu, tersembunyi pertarungan simbol, kelas sosial, dan identitas yang berpotensi memperdalam polarisasi tokoh muda Islam di kalangan kampus dan turunannya jika tak dibingkai secara dewasa.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin melontarkan pernyataan yang dinilai cukup kontroversial yang menyulut perdebatan tajam di ranah politik dan gerakan mahasiswa Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pidatonya, ia menyatakan, “Kalau ada yang tidak tumbuh dari bawah pasti bukan PMII, pasti itu HMI.” Pernyataan ini, yang awalnya ditafsirkan sebagai candaan politik, justru memperjelas dan memperuncing dikotomi dua organisasi mahasiswa Islam terbesar, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikotomi HMI–PMII bukan hanya soal sejarah pendirian dan orientasi ideologis, melainkan juga menyangkut jejaring sosial-politik yang mengakar dalam tubuh negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak era Orde Lama, hingga Reformasi dan kini, dua organisasi ini menjadi lumbung kader bagi elite-elite nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, ketika Cak Imin menjadikan rivalitas ini sebagai materi retorika, ia tidak hanya berbicara atas nama dirinya atau PKB, tetapi seolah membangkitkan narasi &#8220;kelas sosial&#8221; dan asal-usul perjuangan politik yang memiliki resonansi luas, termasuk potensi fragmentasi horizontal di basis pemilih Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa hal ini menjadi krusial?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Rivalitas Elite dan Akar Sosiologis?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">HMI lahir di Yogyakarta pada 5 Februari 1947 dalam semangat menjembatani keislaman dan keindonesiaan. Ia berdiri dalam konteks awal kemerdekaan ketika kaum muda Islam merasakan urgensi untuk memposisikan diri sebagai pelaku utama dalam pembangunan bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbasis intelektualisme kampus dan jaringan masjid di kota-kota besar, HMI kerap diasosiasikan sebagai gerakan Islam modern yang inklusif, kosmopolit, dan elite. Tokoh-tokoh HMI seperti Nurcholish Madjid, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, hingga Mahfud MD mencerminkan profil intelektual yang mendominasi wacana kebangsaan dari berbagai spektrum ideologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">HMI juga memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Dalam kerangka teori Field Theory dari Pierre Bourdieu, HMI menempati posisi dominan dalam <em>field</em> politik-intelektual Indonesia karena memiliki “modal simbolik” tinggi—yakni reputasi sebagai penyumbang pemikiran dan kebijakan publik, dari era Orde Baru hingga masa Reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sudut lain, PMII lahir pada 17 April 1960 sebagai respons terhadap hegemoni ideologis kelompok-kelompok Islam modernis di kalangan mahasiswa. Berasal dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), PMII menjadi representasi dari Islam tradisionalis yang lebih membumi, dengan orientasi sosial ke-basis yang kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila HMI berafiliasi dengan kampus-kampus sekuler terkemuka, PMII lebih banyak berkembang di kawasan pesantren dan universitas berbasis NU.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif subaltern studies, PMII dapat dilihat sebagai representasi kelompok yang selama ini berada di pinggiran narasi “intelektualisme nasional”, namun justru memiliki koneksi akar rumput yang lebih solid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tokoh-tokoh seperti Muhaimin Iskandar, Abdul Halim Iskandar, dan Khofifah Indar Parawansa merupakan cerminan politikus dengan akar sosiologis kuat di komunitas tradisional NU yang tersebar luas, terutama di wilayah Jawa Timur dan sebagian besar Indonesia timur.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1080" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1.jpg" alt="ke mana imin berayun (1)" class="wp-image-151817" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/ke-mana-imin-berayun-1-1068x1068.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Politik Simbolik dan &#8220;Bahaya Pinggir Jurang&#8221;</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Secara teoretis, pernyataan Cak Imin kiranya tidak bisa dilepaskan dari strategi <em>identity politics</em>. Dalam politik modern, identitas menjadi instrumen legitimasi, terutama saat kekuatan programatik melemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pendekatan <em>populist articulation</em> muncul saat identitas-idenitas kolektif (dalam hal ini PMII) dirangkai untuk menegaskan klaim <em>moral superiority</em> atas kelompok lain (HMI).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menyatakan bahwa “yang tidak tumbuh dari bawah itu HMI,” Cak Imin sedang membangun klaim bahwa PMII lebih otentik, organik, dan representatif terhadap rakyat kecil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi ini agaknya diperuntukkan untuk memperkuat <em>positioning</em> politiknya di tengah dinamika pencapresan dan pilkada, ketika pertempuran ideologis bergeser menjadi pertempuran simbol dan asal-usul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun pendekatan ini menyimpan risiko. Ia memperkeras sekat simbolik antara dua kelompok besar umat Islam yang sebenarnya memiliki sejarah kontribusi bersama bagi bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika terulang dan digunakan terus-menerus, strategi ini justru menjadi bumerang yang menciptakan <em>fragmented public sphere</em>, di mana diskursus Islam tidak lagi satu, tetapi terpecah oleh afiliasi simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah “pinggir jurang” dalam wacana ini bukan hanya retoris. Ia mencerminkan bahaya dari pembelahan identitas—terutama saat identitas kultural, ideologis, dan geografis dilekatkan pada loyalitas politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PMII direpresentasikan sebagai “<em>grassroots authenticity</em>” dan HMI sebagai “<em>eliteisme steril</em>”, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baik PMII maupun HMI telah melahirkan tokoh-tokoh dari spektrum sosial yang beragam. Misalnya, Anies Baswedan dan Abraham Samad dari HMI, atau Khofifah dan Abdul Kadir Karding dari PMII, menunjukkan bahwa mobilitas sosial bukan hak eksklusif kelompok tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teori meritokrasi sosial yang dikembangkan Michael Young justru memperlihatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata ditentukan oleh asal organisasi, tetapi oleh sinergi antara kapasitas, jejaring, dan konteks politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politik Indonesia pasca-2014 ditandai oleh polarisasi berbasis agama dan identitas yang akut. Pernyataan seperti yang dilontarkan Cak Imin berpotensi membuka kembali luka-luka yang mulai mereda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk itu, elite-elite dari kedua organisasi perlu memikirkan narasi baru, bukan lagi siapa lebih otentik, tetapi bagaimana keduanya bisa co-create masa depan Islam Indonesia yang progresif dan inklusif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam teori agonistik demokrasi dari Chantal Mouffe, konflik dalam demokrasi adalah hal wajar dan produktif jika diolah dalam bingkai agonisme (rivalitas sehat), bukan antagonisme (permusuhan). Rivalitas HMI–PMII seyogianya menjadi “El Clasico” yang penuh kompetisi dalam ide, bukan dalam penghinaan simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan Cak Imin telah membuka ruang diskusi—namun sekaligus mengingatkan akan bahaya eksploitasi identitas dalam politik elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam banyak hal, HMI dan PMII adalah dua wajah dari Islam Indonesia, satu berakar pada modernisme-kritis, lainnya pada tradisionalisme-transformasional. Keduanya punya peran dalam merajut kebangsaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana dalam sepak bola, El Clasico hanya indah jika dimainkan dengan sportivitas. Di luar lapangan, para pemainnya tetap bersalaman dan menyadari bahwa mereka bagian dari sistem yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cak Imin mungkin sedang mencari panggung, tapi para kader HMI dan PMII perlu menunjukkan panggilan sejarah: menjadi garda depan Islam yang tidak terjebak pada retorika “pinggir jurang,” tetapi berjalan bersama menapaki jalan ke depan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="m1e4XkuGLsc"><iframe loading="lazy" title="Gibahin Teddy Indra Wijaya, Sang Letkol yang Terus Gaspol" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/m1e4XkuGLsc?start=118&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/imin-el-1_o64ohybo.mp3" length="3223234" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/cak-imin-1024x682.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Misteri 10-12 Jam APH</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/misteri-10-12-jam-aph/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2025 11:53:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Arie]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Dito AryoTedjo]]></category>
		<category><![CDATA[Idrus Marham]]></category>
		<category><![CDATA[Johnny Plate]]></category>
		<category><![CDATA[Nadiem Makarim]]></category>
		<category><![CDATA[Rini Soemarno]]></category>
		<category><![CDATA[Syahrul Yasin Limpo]]></category>
		<category><![CDATA[Yasonna Laoly]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=162860</guid>

					<description><![CDATA[Apakah ini hanya teori semata bahwa menteri/eks menteri yang diperiksa 10 jam atau lebih berpeluang lebih besar jadi tersangka? Share pendapat kalian ya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-819x1024.png" alt="misteri 10 12 jam aph 1" class="wp-image-162861" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-819x1024.png" alt="misteri 10 12 jam aph 2" class="wp-image-162864" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-819x1024.png" alt="misteri 10 12 jam aph 3" class="wp-image-162865" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ini hanya teori semata bahwa menteri/eks menteri yang diperiksa 10 jam atau lebih berpeluang lebih besar jadi tersangka? Share pendapat kalian ya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/misteri-10-12-jam-aph-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>“Bom Waktu” Cak Imin?  </title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/bom-waktu-cak-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S91]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2025 02:18:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[dugaan korupsi kuota haji 2024]]></category>
		<category><![CDATA[eks-Menag Yaqut Qoumas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163037</guid>

					<description><![CDATA[Kasus dugaan pengalihan kuota haji khusus kembali jadi sorotan. Kalau menurut kalian gimana? Share di kolom komentar ya!]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-819x1024.jpg" alt="“bom waktu” cak iminartboard 1 1" class="wp-image-163040" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_1.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-819x1024.jpg" alt="“bom waktu” cak iminartboard 1 2" class="wp-image-163041" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/bom-waktu-cak-iminartboard-1_2.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus dugaan pengalihan kuota haji khusus kembali jadi sorotan. Kalau menurut kalian gimana? Share di kolom komentar ya!</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cak Imin-Zulhas “Gabut Berhadiah”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cak-imin-zulhas-gabut-berhadiah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2025 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[PAN]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2029]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Zulhas]]></category>
		<category><![CDATA[Zulkifli Hasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=160183</guid>

					<description><![CDATA[Memiliki similaritas sebagai ketua umum partai politik dan menteri koordinator, namun dengan jalan takdir berbeda, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Zulkifli Hasan (Zulhas) agaknya menampilkan motivasi baru dalam dinamika politik Indonesia. Walau kiprah dan jabatan mereka dinilai “gabut”, manuver keduanya dinilai akan sangat memengaruhi pasang-surut pemerintahan saat ini, menuju kontestasi elektoral berikutnya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/cakzul-1_3kgfp7j7.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memiliki similaritas sebagai ketua umum partai politik dan menteri koordinator, namun dengan jalan takdir berbeda, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Zulkifli Hasan (Zulhas) agaknya menampilkan motivasi baru dalam dinamika politik Indonesia. Walau kiprah dan jabatan mereka dinilai “gabut”, manuver keduanya dinilai akan sangat memengaruhi pasang-surut pemerintahan saat ini, menuju kontestasi elektoral berikutnya.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Peta politik Indonesia pasca-Pilpres 2024 dan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka telah menampakkan wajah baru, namun bukan tanpa benang merah dari masa lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua sosok menarik dalam konfigurasi pemerintahan terkini adalah Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Zulkifli Hasan (Zulhas), Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya ditempatkan di posisi strategis sebagai menteri coordinator. Cak Imin di bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Zulhas di bidang Pangan. Namun, perbincangan publik tidak hanya menyoal posisi mereka, melainkan efektivitas serta makna dan bagaimana jabatan tersebut menjadi bagian yang sukar dilepaskan dari manuver politik keduanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak yang menganggap posisi tersebut ibarat &#8220;gaji buta&#8221;, atau dalam bahasa populernya, jabatan <em>gabut</em>, tupoksi dengan pekerjaan yang seolah sangat simbolis, bukan teknis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dalam politik, jarang ada hal yang benar-benar tanpa tujuan. Sebuah jabatan public atau politik, “sekosong” atau “seaneh” apapun terlihat dari luar, agaknya selalu menyimpan potensi makna strategis dalam konteks politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai dua ketua umum partai politik yang diakomodasi Prabowo-Gibran, keduanya tampak berupaya memaksimalkan posisi mereka dan partainya saat ini menuju 2029</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ihwal yang jadi menarik dan memiliki benang merah masa lalu, keduanya memiliki kisah berbeda. Zulhas dan PAN memang sejak awal mendukung duet Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Cak Imin-PKB sempat pula mendukung Prabowo sebagai capres, tetapi kemudian berpaling saat Cak Imin didapuk sebagai cawapres Anies Baswedan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski pada akhirnya, Cak Imin-PKB dirangkul kembali ke kubu Prabowo dan mendapat jatah di kabinet</p>



<p class="wp-block-paragraph">Isu terkininya, kendati pemerintahan Prabowo-Gibran baru berjalan enam bulan, saat PAN menyatakan siap mendukung kembali Prabowo di Pilpres 2029, Cak Imin tak demikian dan justru merespons dengan dingin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlalu dini memang untuk berbicara 2029. Tetapi, PAN telah memiliki target tembus empat besar di Pileg 2029. Sementara, itu PKB dengan kekuatannya, dinilai cukup memiliki daya tawar untuk berada di kubu manapun di 2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, mengapa Cak Imin dan Zulhas seolah akan menjadi dua variabel menarik di politik-pemerintahan ke depan?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Terlihat Bertahan Namun Menyerang?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami posisi Cak Imin dan Zulhas dalam kabinet Prabowo-Gibran, konsep <em>political survival </em>kiranya relevan untuk menjadi pisau analisis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Bruce Bueno de Mesquita dkk. dalam <em>The Logic of Political Survival</em>, pemimpin politik bertindak untuk menjaga koalisi kemenangan mereka (<em>winning coalition</em>) tetap solid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sistem demokrasi patronase seperti Indonesia, jabatan kabinet sering kali bukan semata demi efektivitas birokrasi, melainkan alat distribusi sumber daya dan loyalitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari kerangka ini dan kiranya dapat dianalisis secara umum bahwa penempatan Cak Imin dan Zulhas di posisi menko bisa dibaca sebagai langkah Prabowo untuk menjaga dua segmen basis politik penting, yakni massa Islam tradisional dan moderat (melalui PKB) dan segmen pemilih perkotaan (melalui PAN dengan kekuatan kader artis mereka).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan lagi rahasia kiranya, kendati jabatan mereka tampak tanpa portofolio kuat, keberadaan mereka di struktur kementerian memberi akses ke <em>policy influence</em> serta jaringan sumber daya negara yang bisa dikapitalisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Zulhas, yang sejak awal mendukung Prabowo-Gibran, sukar tak dikatakan bahwa menerima jabatan tersebut sebagai bentuk <em>reward</em> politik. Ia dan PAN bahkan telah mendeklarasikan kesiapan mendukung Prabowo kembali di 2029 dan ini melampaui partai manapun, kecuali Partai Gerindra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sejalan dengan teori <em>office-seeking</em> yang dikemukakan oleh Kaare Strøm, bahwa partai-partai politik kerap memprioritaskan akses pada jabatan eksekutif karena dari sanalah mereka bisa memperkuat kelembagaan partai, mengisi struktur politik lokal, hingga menggalang kekuatan untuk keberlangsungan organisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Cak Imin justru menempuh jalan zig-zag. Sebagai sosok yang sempat membelot ke koalisi Anies Baswedan demi posisi cawapres, kembalinya ia ke kubu Prabowo adalah buah dari <em>strategic repositioning</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prabowo, yang dikenal memiliki naluri rekonsiliatif, merangkul kembali PKB memang tampak sebagai bentuk kooptasi kekuatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, posisi Menko bagi Cak Imin agaknya bukan sekadar “hadiah”, melainkan juga “tali tambang”. Ia diberikan tempat, tetapi bukan peran utama. Ini membuatnya <em>in the system but not at the center</em> atau cukup dekat untuk dikontrol, tapi cukup jauh untuk dibatasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari kacamata ini, jabatan menko yang tampak “gabut” sejatinya adalah medium <em>strategic containment</em> dari pihak eksekutif terhadap elite partai yang memiliki potensi <em>bargaining</em> tinggi.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1080" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan.jpg" alt="infografis cak imin dapat jatah mantan" class="wp-image-146074" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/infografis-cak-imin-dapat-jatah-mantan-1068x1068.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menakar Daya Tawar PAN-PKB?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Secara otomatis, lanskap politik pasca-2024 menyimpan dinamika yang akan terus bergerak menuju 2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PAN, melalui Zulhas, tampak ingin mengonsolidasikan diri lebih awal. Target empat besar di Pemilu Legislatif 2029 adalah langkah yang berani, namun rasional jika dilihat dari sisi manuver institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Posisi Menko Pangan bisa digunakan sebagai narasi keberpihakan pada sektor strategis nasional, mulai dari ketahanan pangan, harga bahan pokok, dan kesejahteraan petani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Isu-isu ini bersifat <em>mass-based</em> dan <em>cross-cutting</em>, memungkinkan PAN memperluas basis elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kerja politik tidak cukup hanya dengan retorika. Jika Zulhas gagal menunjukkan pencapaian konkret atau inovasi kebijakan yang menyentuh masyarakat luas, maka jabatan menko bukan tidak mungkin hanya akan menjadi simbol kosong, termasuk kader PAN lain di jajaran kabinet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangan Zulhas dan PAN kiranya mentransformasikan <em>access to office</em> menjadi <em>policy output</em> dan <em>electoral gains</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan Zulhas, Cak Imin justru terlihat lebih berhati-hati namun tetap dengan gayanya. Respons yang dingin terhadap wacana 2029 bukanlah tanda ketidaksiapan, melainkan strategi <em>wait and see</em> yang khas dalam tradisi politik yang pernah dilakukan Cak Imin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eks Wakil Ketua DPR itu tampak memahami bahwa posisi PKB cukup fleksibel, mengingat bisa menjadi penentu krusial dalam koalisi manapun. Dengan basis massa NU yang cair dan tersebar, PKB tidak harus mengunci diri di satu poros. Inilah bentuk <em>institutionalized flexibility</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, fleksibilitas ini juga mengandung risiko, terutama <em>over-calculation</em>. Jika Cak Imin terlalu berfokus pada manuver dan kurang menunjukkan performa di jabatan Menko Pemberdayaan Masyarakat, ia bisa kehilangan legitimasi publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka <em>new institutionalism</em>, jabatan publik bukan hanya instrumen kekuasaan, tapi juga arena performatif. Masyarakat menilai, media mencatat, dan elite lain mengamati. Dalam politik modern, persepsi kinerja tak kalah penting dari manuver politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut, posisi keduanya juga bisa dibaca dalam kerangka <em>co-optation versus autonomy</em>. Zulhas tampak bersedia dikooptasi demi kesinambungan partai dan perlindungan institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara Cak Imin seolah masih mempertahankan otonomi manuver politik, tanpa berjarak dengan potensi perubahan narasi resmi pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua pendekatan ini mencerminkan watak partai dan kepemimpinan yang berbeda: PAN sebagai partai oportunistik yang pragmatis, PKB sebagai partai berbasis jaringan sosial-keagamaan yang lebih kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan mendasarnya, apakah jabatan &#8220;gabut&#8221; ini benar-benar akan menjadi “berhadiah”?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya akan bergantung pada tiga hal. <em>Pertama</em>, tentu terkait apakah keduanya mampu mengartikulasikan peran menko secara konkret di mata publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, apakah partai mereka bisa menggunakan jabatan ini untuk memperkuat infrastruktur politik dan elektoral. <em>Ketiga</em>, apakah mereka mampu mengelola relasi internal dengan Prabowo dan partai koalisi lainnya menjelang 2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika semua syarat ini terpenuhi, maka jabatan yang semula dikritik sebagai “gabut” bisa menjadi investasi politis yang sangat strategis—bahkan “berhadiah.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik, tidak ada yang benar-benar kosong. Bahkan jabatan yang tampak <em>gabut</em> sekalipun bisa dimaknai sebagai bentuk konsolidasi, kooptasi, atau bahkan persiapan perang jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kasus Cak Imin dan Zulhas, kita melihat dua strategi berbeda dalam mengarungi politik-pemerintahan baru dan persiapan sejak dini menuju 2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya seakan sedang bertaruh, antara mengandalkan kedekatan dengan kekuasaan dan menjaga jarak untuk ruang manuver yang lebih besar. Siapa yang akan unggul atau paling tidak manuvernya membuahkan hasil lebih besar? Sejarah, elektabilitas, dan kecerdasan membaca angin tentu akan menjawabnya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="VMHu_ZnuT9I"><iframe loading="lazy" title="Brand Story: Dari Gudang Garam dan PKI, Hingga Indomie dan KFC" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/VMHu_ZnuT9I?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/cakzul-1_3kgfp7j7.mp3" length="6229476" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/zulhas-cak-imin-1024x576.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nge-Audit Kerjaan Para Menko Santuy</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2025 08:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[AHY]]></category>
		<category><![CDATA[Airlangga Hartarto]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[hattara jasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[luhut]]></category>
		<category><![CDATA[menko]]></category>
		<category><![CDATA[menteri koordinator]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Pratikno]]></category>
		<category><![CDATA[Zulhas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=159470</guid>

					<description><![CDATA[Para-para menko&#160; #menko #menterikoordinator #budigunawan #ahy #pratikno #airlanggahartarto #cakimin #zulhas #prabowo #jokowi #hattarajasa #luhut #infografis #politikindonesia #beritapolitik #beritapolitikterkini]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-819x1024.png" alt="nge audit kerjaan para menko santuy" class="wp-image-159471" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-819x1024.png" alt="nge audit kerjaan para menko santuy (2)" class="wp-image-159472" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-819x1024.png" alt="nge audit kerjaan para menko santuy (3)" class="wp-image-159473" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-819x1024.png" alt="nge audit kerjaan para menko santuy (4)" class="wp-image-159474" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-4.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-819x1024.png" alt="nge audit kerjaan para menko santuy (5)" class="wp-image-159476" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-5.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Para-para menko&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f914/32.png" alt="🤔" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#menko #menterikoordinator #budigunawan #ahy #pratikno #airlanggahartarto #cakimin #zulhas #prabowo #jokowi #hattarajasa #luhut #infografis #politikindonesia #beritapolitik #beritapolitikterkini</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/03/nge-audit-kerjaan-para-menko-santuy-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
