<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Bubur &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/bubur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Oct 2023 03:15:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Bubur &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sejarah dan Filosofi Bubur</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/sejarah-dan-filosofi-bubur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A49]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Oct 2023 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur]]></category>
		<category><![CDATA[folosofi]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=138366</guid>

					<description><![CDATA[socioloop.co Bubur, sebuah sajian yang dikenal di berbagai belahan dunia dengan berbagai versi dan nama, memiliki akar sejarah yang mendalam dan filosofi kultural yang menarik. Namun, sebelum memahami kekayaan di balik semangkuk bubur, mari kita telusuri asal-usul dan sejarah singkat dari makanan sederhana ini. Bubur, dalam berbagai bentuknya, telah ada sejak zaman prasejarah. Buktinya, bebatuan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>socioloop.co</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Bubur, sebuah sajian yang dikenal di berbagai belahan dunia dengan berbagai versi dan nama, memiliki akar sejarah yang mendalam dan filosofi kultural yang menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sebelum memahami kekayaan di balik semangkuk bubur, mari kita telusuri asal-usul dan sejarah singkat dari makanan sederhana ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur, dalam berbagai bentuknya, telah ada sejak zaman prasejarah. Buktinya, bebatuan prasejarah menunjukkan adanya penggilingan biji-bijian yang digunakan untuk membuat bubur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika manusia pertama kali belajar menanam biji-bijian, bubur mungkin menjadi salah satu makanan pertama yang mereka buat. Ini karena bubur mudah dibuat dan tidak memerlukan peralatan masak yang canggih. Hanya dengan air dan biji-bijian yang digiling, bubur bisa disajikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Asia, khususnya di Tiongkok, bubur nasi atau &#8216;congee&#8217; telah lama menjadi bagian dari makanan pokok. Tradisinya yang kuat dalam pengobatan tradisional Tiongkok menjadikannya lebih dari sekadar makanan, yakni sebagai obat bagi berbagai penyakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia, bubur ayam dan bubur kacang hijau adalah dua dari berbagai varian bubur yang populer di kalangan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari sekadar makanan, bubur memiliki makna simbolis dan filosofis yang mendalam di berbagai budaya. Di banyak masyarakat, bubur sering dihubungkan dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan pemulihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur, dengan komposisi dasarnya yang sederhana, mengingatkan kita pada kehidupan tanpa hiasan. Dalam banyak tradisi, bubur dihidangkan saat upacara keagamaan atau meditasi untuk mengingatkan diri tentang pentingnya hidup sederhana dan kembali ke esensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai makanan yang umumnya mudah diakses oleh semua kalangan, bubur mengajarkan kerendahan hati. Bahkan di saat pesta atau perayaan, bubur kadang disajikan untuk mengingatkan para peserta tentang asal-usul mereka dan pentingnya tetap rendah hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di banyak budaya, bubur dianggap sebagai makanan yang memulihkan. Orang-orang yang sakit atau dalam masa pemulihan sering diberi bubur karena kandungan nutrisinya dan mudah dicerna. Ini juga mencerminkan filosofi tentang kembali ke keadaan alami dan dasar saat kita lemah atau sakit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur, meskipun sederhana, mengandung kekayaan sejarah dan filosofis yang mengejutkan. Ia adalah saksi bisu dari perjalanan umat manusia, dari zaman prasejarah hingga modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari itu, bubur mengajarkan kita tentang nilai-nilai luhur seperti kesederhanaan, kerendahan hati, dan arti pemulihan. Di balik setiap semangkuk bubur, terkandung cerita dan filosofi yang mendalam tentang kehidupan itu sendiri. (A49)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/10/istock-1.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Filosofi “Mewahnya” Kesederhanaan Bubur Ayam</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/filosofi-mewahnya-kesederhanaan-bubur-ayam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A49]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Sep 2023 01:07:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur]]></category>
		<category><![CDATA[bubur ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=136300</guid>

					<description><![CDATA[Bubur ayam, sebuah panganan yang sederhana namun mengandung sejarah yang mendalam, menjadi salah satu makanan favorit bagi banyak orang di Indonesia. Tidak hanya lezat, bubur ayam juga melambangkan sejarah budaya dan filosofi yang kaya. Sejarah bubur sendiri telah dimulai sejak zaman kuno. Bubur beras sudah dikenal di berbagai kebudayaan di Asia, termasuk Tiongkok, India, dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Bubur ayam, sebuah panganan yang sederhana namun mengandung sejarah yang mendalam, menjadi salah satu makanan favorit bagi banyak orang di Indonesia. Tidak hanya lezat, bubur ayam juga melambangkan sejarah budaya dan filosofi yang kaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah bubur sendiri telah dimulai sejak zaman kuno. Bubur beras sudah dikenal di berbagai kebudayaan di Asia, termasuk Tiongkok, India, dan tentunya, Indonesia. Bubur ayam khususnya, mungkin memiliki akar dari pengaruh percampuran antara tradisi lokal dengan pengaruh budaya luar, terutama dari Tiongkok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi Tiongkok, bubur nasi atau yang sering disebut sebagai <em>congee</em> telah lama menjadi makanan pokok. <em>Congee</em> ini bisa disajikan dengan berbagai variasi, ada yang dengan daging babi, ikan bahkan kodok, termasuk dengan daging ayam. Ketika pedagang-pedagang dan imigran Tiongkok datang ke Nusantara, mereka membawa serta tradisi masak dan adaptasi bahan-bahan lokal, termasuk menggabungkan bubur nasi dengan ayam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kita tidak bisa mengesampingkan inovasi dan kreativitas masyarakat lokal. Bubur ayam di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari <em>congee</em> Tiongkok. Mulai dari bumbu, pelengkap, hingga teknik memasaknya. Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dibalik segala keunikannya, bubur ayam mengandung filosofi mendalam yang terkait erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kesederhanaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur, dengan teksturnya yang halus, melambangkan kesederhanaan. Dalam banyak tradisi, bubur sering disajikan saat ada yang sakit atau saat ritual keagamaan. Kesederhanaan ini mengajarkan kita untuk kembali kepada esensi kehidupan, mengesampingkan hiruk-pikuk dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kekayaan rasa</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tampak sederhana, bubur ayam memiliki kekayaan rasa dari bumbu-bumbu dan pelengkapnya. Ini menggambarkan bagaimana kehidupan yang tampak sederhana bisa kaya akan makna jika kita menambahkan &#8220;bumbu&#8221; yang tepat dalam hidup kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Persatuan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur ayam bukan hanya tentang bubur atau ayam, tapi juga tentang kerupuk, sambal, irisan daun bawang, dan lainnya. Semua komponen ini bekerja bersama untuk menciptakan rasa yang sempurna. Ini mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Indonesia tentang pentingnya kerjasama dan persatuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kehangatan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur ayam biasanya disajikan hangat, memberikan kehangatan bagi yang menyantapnya. Ini adalah simbol dari kehangatan hubungan antar manusia dan bagaimana makanan bisa menjadi alat yang menghubungkan orang-orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bubur ayam, meskipun tampak sederhana, adalah cerminan dari sejarah dan filosofi masyarakat Indonesia. Dari sejarahnya yang kaya akan percampuran budaya, hingga filosofinya tentang kesederhanaan, kekayaan rasa, persatuan, dan kehangatan, bubur ayam mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam era modern saat ini, di mana makanan cepat saji semakin mendominasi, bubur ayam menjadi pengingat bagi kita untuk kembali kepada akar tradisi, merenung, dan menikmati setiap momen dengan kesederhanaan namun penuh makna. Bubur ayam bukan hanya makanan, tetapi juga sebuah filosofi yang mengajarkan kita tentang kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir, kalian tim bubur aduk atau tim bubur tidak diaduk nih? <em>He he..</em> (A49)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/shutterstock_1927030937-780x440-1.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ridwan Kamil Penuhi Syarat Kaesang?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/ridwan-kamil-penuhi-syarat-kaesang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2022 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur]]></category>
		<category><![CDATA[Istana]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaesang]]></category>
		<category><![CDATA[Kang Emil]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Ridwan Kamil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=116554</guid>

					<description><![CDATA[Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) komentari studi soal bubur diaduk vs tidak diaduk. Bagaimana dengan di Istana menurut Kaesang?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Setelah viral sebuah studi yang menyebutkan bahwa tim makan bubur tidak diaduk lebih memiliki kecerdasan emosional, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil langsung memberikan tanggapannya. Bagaimana tim bubur diaduk vs tim bubur tidak diaduk ini juga mengisi diskursus politik?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>“Sometimes I long to forget… It is painful to be conscious of two worlds” – Eva Hoffman, <em>Lost in Translation: A Life in a New Language</em> (1989)</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sebuah konflik, biasanya akan selalu ada dua pihak besar yang saling bertarung. Dalam Perang Dunia II pada paruh abad ke-20 dulu, misalnya, terjadi antara dua kubu besar, yakni Blok Sekutu dan Blok Poros.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal yang sama ternyata juga terjadi dalam serial anime Naruto, yakni <em>Naruto: Shippuden</em>. <em>Gimana nggak</em>? Dalam Perang Dunia Ninja ke-4, dua kubu juga ikut berperang, yakni antara Blok Ninja Sekutu dan Akatsuki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya di Naruto dan Perang Dunia II, pertempuran besar antara dua kubu juga terjadi di <em>franchise</em> Marvel bernama Avengers. Seperti yang banyak diketahui, dua film Avengers yang terakhir – yakni <em>Avengers: Infinity War</em> (2018) dan <em>Avengers: Endgame</em> (2019) – juga menceritakan pertempuran antara pahlawan-pahlawan super (<em>superheroes</em>) melawan Thanos.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikotomi dua kubu ini memang kerap terjadi. Dan, dalam persaingan, konflik, dan perseteruan seperti ini, selalu ada hal yang diperebutkan. <em>Beuh</em>, memang, dunia ini isinya selalu soal politik – apa pun aspek kehidupan yang dijalankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila diamati kembali, Perang Dunia II merupakan perang untuk memperebutkan wilayah dan sumber daya alam. Sementara, Perang Dunia Ninja ke-4 bertujuan untuk memperebutkan para <em>bijuu</em>. Dan, terakhir, <em>Infinity War</em> bertujuan untuk memperebutkan <em>infinity stones</em>.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/p/Ci4qYFZh5OZ/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/wr3b_Uu-c-XD8WztetKXpQKip8tOFU39oeYGbVqCNmopvRkFDmBjR6oXsiCtMwcLFRuH-vGxkENnLTzEsVXDLATUq8yaN_6b19pRkdZWuaJD8_wI59JXz5Xct9p4dPcJtA-1Hhr2_fwB_iMh_vcrCSTgkTa0UYvQ1QN-2z8D-whce9If6v9akrRTzB_Nl5QE1FJb-Q" alt="Ridwan Kamil RK Sebaiknya Maju DKI-1"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Perang dua kubu semacam ini ternyata juga terjadi di Indonesia <em>lho</em>. Perang lama yang tidak kunjung usai ini terjadi antara tim bubur diaduk vs tim bubur tidak diaduk. Terakhir, beredar sebuah studi yang menyebutkan bahwa mereka yang makan bubur dengan tidak diaduk dianggap memiliki kecerdasan emosional lebih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menanggapi studi tersebut, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) alias Kang Emil langsung angkat bicara <em>lho</em> – via sebuah unggahan di akun Instagram-nya. Katanya <em>sih</em>, studi itu belum mempertimbangkan variabel-variabel lainnya, seperti bagaimana kecap yang dituangkan ke dalam bubur dilakukan – entah zigzag atau lurus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, Kang Emil merasa tidak terima karena dirinya merupakan bagian dari tim bubur diaduk. Selain Kang Emil, banyak politisi lain juga bagian dari tim bubur diaduk – seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya lagi, berdasarkan informasi dari Kaesang Pangarep – putra dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), penghuni Istana seluruhnya merupakan bagian dari tim bubur diaduk. <em>Hmm</em>, apakah ini sebuah syarat agar seseorang bisa jadi penghuni Istana? <em>Hehe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wajar <em>sih</em>, dalam dinamika politik eksekutif di Indonesia, presiden memang harus pandai-pandai “mengaduk” koalisi pemerintahannya. Kalau kata Dan Slater dalam tulisannya berjudul <em>Party Cartelization, Indonesian Style</em>, inilah yang disebut sebagai <em>power-sharing</em> untuk mengonsolidasi kekuatan terhadap oposisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, <em>gimana</em> <em>nih</em>, Kang Emil dan Pak Anies? Ternyata, Pak Jokowi juga tim bubur diaduk – mungkin apa pun itu yang bisa “diaduk” jadi satu kesatuan. Bukan begitu? <em>Hehe</em> (A43).&nbsp;&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="DBMggdcgaa8"><iframe title="Dampak Politik Jika Kita Menemukan Alien" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/DBMggdcgaa8?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/09/Ridwan-Kamil-Penuhi-Syarat-Kaesang-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tim Bubur ala Anies-RK</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/tim-bubur-ala-anies-rk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2022 00:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur]]></category>
		<category><![CDATA[Ridwan Kamil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=106241</guid>

					<description><![CDATA[Setelah bermain tendangan penalti, kini Anies Baswedan dan Ridwan Kamil habiskan waktu bersama dengan makan bubur ayam. Apakah mereka masuk tim bubur diaduk atau tidak diaduk?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Setelah sebelumnya bermain sepak bola dengan saling melakukan tendangan penalti, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) alias Kang Emil kembali menghabiskan waktu bersama dengan makan bubur bersama di Bandung, Jabar, pada 24 Februari 2022 lalu.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Hai, para pembaca yang budiman. Di pembahasan kali ini, <em>admin</em> @RabaRabaKepribadian bakal bahas bagaimana membaca kepribadian seseorang berdasarkan cara dia mengkonsumsi bubur ayam. Bisa dibilang, ini adalah cara membaca kepribadian yang jauh – dan paling – <em>ultimate</em> dibandingkan dengan <em>zodiac</em> maupun <em>shio</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagipula, sebagai masyarakat negeri Nusantara dalam <em>alternate universe</em> Bumi-45, bubur ayam merupakan salah satu unsur budaya yang ada di banyak adat kita. Bila <em>zodiac</em> dan <em>shio</em> berasal dari kebudayaan-kebudayaan Kulon dan Sino, bubur ayam adalah cara yang khas dan serba penuh kearifan lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak jarang, cara makan bubur ayam ini pun menimbulkan perdebatan di ruang dunia maya. Para warganet biasanya menjagokan tim mereka masing-masing sebagai tim yang lebih baik – dengan membandingkan keuntungan yang diperoleh bila bubur diaduk atau tidak diaduk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hmm, kira-kira, bagaimana ya cara makan bubur bisa menunjukkan sifat seseorang? Tim @RabaRabaKepribadian pun mewawancarai ahlinya yang cukup dikenal juga oleh masyarakat negeri Nusantara, yakni <a href="https://www.instagram.com/p/CJPgVF3hyRs/"><strong>Madam Khofifah</strong></a>.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>1. Tim Bubur Diaduk</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, tim bubur diaduk merupakan tim yang memiliki jumlah anggota yang banyak. Kebanyakan dari mereka <em>sih</em> bilang kalau rasa bubur menjadi lebih merata apabila diaduk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, pemerataan rasa bubur ini tidak sesulit pemerataan ekonomi di negeri Nusantara. Namun, konsekuensi-konsekuensi pemerataan inilah yang nyatanya membuat para pendukung tim ini merasa lebih unggul.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh4.googleusercontent.com/RabRQgbMg0JOP_iEzYunXbyb9_nECKRMcNfznTnJzoNubujwNPFUpzTYl6ghgkKKb7wpBHjdUqfPy-lKfBFWTBIntLAjEQ6ngiHkzxgVwRphExIzrLuLbZIpnXerp5OWPuCgSAud" alt=""/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Khofifah, mereka yang mengaduk bubur mereka sebelum dimakan biasanya memiliki sifat yang ramah, mudah bergaul, cuek, dan suka bertualang. Namun, ingat. Ramah dan mudah bergaul jangan dijadikan alasan kalian mudah baper (bawa perasaan) sama orang-orang di tim ini ya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari itu, ada beberapa <em>lho</em> tokoh-tokoh populer yang mengaku sebagai bagian dari tim ini, yakni Pak Jakawi dan keluarga, Aniz Baswedan, serta Riduan Kemil (alias Kang Emil). Kalau kalian, masuk tim ini juga nggak?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>2. Tim Bubur Tidak Diaduk</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tim yang kedua ini juga tidak kalah dalam memperdebatkan keunggulan tim mereka. Bagi tim ini, bubur yang tidak diaduk merupakan wujud menghargai kesempurnaan dari bubur itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kesempurnaan bukanlah milik kita yang merupakan hanya makhluk biasa, kesempurnaan tetaplah hal yang dicari oleh banyak orang. Mungkin, kesempurnaan ini juga yang dicari oleh Rizky Febian dalam lagunya – yang tentu saja mungkin hanya ada di film-film drama. <em>Huhu</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari itu, menurut Khofifah, orang-orang yang ada di tim ini memiliki sifat perfeksionis, bijaksana, rapi, dan teratur. Apakah orang-orang yang ada di tim ini bisa memberi kepastian juga? Tidak ada yang tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, gimana, <em>guys</em>? Kira-kira, kalian lebih suka orang yang makannya bubur diaduk atau tidak diaduk? Siapa tahu, dengan mengetahui sifat dan kepribadian melalui tim bubur, kita semakin tahu bagaimana caranya jodoh yang pas – misal jodoh untuk di tahun-tahun mendatang seperti 2024?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ingat ya, <em>gengs</em>. Tim bubur ini bukanlah faktor penentu utama yang bisa menjadikan kalian jodoh – bahkan meski berada di satu tim yang sama seperti Aniz dan Kang Emil. Ada banyak faktor lain yang turut memengaruhi, seperti partai politik dan cara pandang. Bukan begitu? (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="zmfj0837za8"><iframe title="Politik, Arsitektur dan Ibu Kota Baru | One Step Closer with Ridwan Kamil (Episode #1)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/zmfj0837za8?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/03/Tim-Bubur-ala-Anies-RK-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
