<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Bocil &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/bocil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Aug 2023 03:56:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Bocil &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Telolet &#8220;Bangkit Dari Kubur&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/telolet-bangkit-dari-kubur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Aug 2023 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Bismania]]></category>
		<category><![CDATA[Bocil]]></category>
		<category><![CDATA[Bus AKAP]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomena Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Hobi]]></category>
		<category><![CDATA[Telolet]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=133144</guid>

					<description><![CDATA[PinterPolitik.com Jika diperhatikan, fenomena &#8220;telolet&#8221; kembali muncul di beberapa titik tepi jalan kota. Berdasarkan pantauan PinterBiz di Jakarta dan Bandung, sebagian besar penggemar telolet merupakan anak-anak yang rutin menanti bus antar kota antar provinsi (AKAP) untuk meminta sang supir membunyikan klakson uniknya. Meskipun awalnya terdengar seperti hal yang sederhana, &#8220;Telolet&#8221; telah menjadi semacam budaya populer [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Jika diperhatikan, fenomena &#8220;telolet&#8221; kembali muncul di beberapa titik tepi jalan kota. Berdasarkan pantauan PinterBiz di Jakarta dan Bandung, sebagian besar penggemar telolet merupakan anak-anak yang rutin menanti bus antar kota antar provinsi (AKAP) untuk meminta sang supir membunyikan klakson uniknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun awalnya terdengar seperti hal yang sederhana, &#8220;Telolet&#8221; telah menjadi semacam budaya populer di beberapa kota besar di Indonsia yang mencerminkan kreativitas, kegembiraan, dan solidaritas di tengah kesibukan kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awal mula &#8220;Telolet&#8221; dapat ditelusuri kembali ke tahun 2016. Saat itu, beberapa anak muda di daerah Jawa Tengah menyadari bahwa klakson bus memiliki bunyi yang berbeda-beda, dan mereka mulai meminta supir bus untuk menggabungkan klakson tersebut menjadi untaian bunyi yang unik dan menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nada-nada seperti &#8220;telolet&#8221; atau &#8220;telolet-telolet&#8221; pun dihasilkan dari bunyi klakson yang berulang-ulang. Fenomena ini cepat menyebar melalui media sosial dan mendapat perhatian dari masyarakat Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena &#8220;telolet&#8221; pun tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga memiliki dampak sosial dan komersial. Industri kreatif dan bisnis melihat peluang untuk mendekati penggemar &#8220;telolet&#8221; dan bismania yang telah ada sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun awalnya mungkin dianggap sebagai tren sementara, &#8220;Telolet&#8221; telah bertahan selama beberapa tahun dan terus menjadi bagian dari budaya kota Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, fenomena telolet sempat meredup beberapa waktu sebelum kembali hype belakangan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, terdapat potensi bahaya lalu lintas yang mengintai di balik fenomena &#8220;telolet&#8221;. Oleh karena itu, kembali naik daunnya fenomena itu membuat aparat kepolisian dan pemerintah daerah mulai memberikan perhatian lebih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terbaru, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Perhubungan bekerja sama dengan kepolisian mengeluarkan imbauan larangan penggunaan klakson &#8220;telolet&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor keamanan dan ketertiban kota menjadi poin utama yang membuat imbauan itu diterbitkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Well, bagaimana menurut kalian mengenai fenomena &#8220;telolet&#8221;? Apakah memang penggunaan klakson unik itu harus dilarang? (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="rFJ0OLhWads"><iframe title="Westerling vs Idjon Janbi: Prajurit Pasukan Khusus Belanda, Si Brutal dan Si Insaf" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/rFJ0OLhWads?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/08/om-telolet-1024x768.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
