<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Atut Chosiyah &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/atut-chosiyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2019 06:52:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Atut Chosiyah &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dinasti Politik Masih Marak</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/data-politik/dinasti-politik-masih-marak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A15]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Mar 2017 04:00:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Data Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik & Figure]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Atut Chosiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Serentak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=5372</guid>

					<description><![CDATA[Peserta Pilkada serentak tahun ini mencapai 337 pasangan calon yang bertarung memperebutkan kursi bupati, walikota, hingga gubernur. Di beberapa daerah, masih ditemui kerabat, istri, dan anak kepala daerah yang juga ikut bertarung dalam Pilkada. Fakta ini menunjukan, praktik dinasti politik masih berjalan di Indonesia. pinterpolitik.com BANTEN &#8211; Dinasti politik rentan dengan praktik korupsi, Indonesia Corruption [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Peserta Pilkada serentak tahun ini mencapai 337 pasangan calon yang bertarung memperebutkan kursi bupati, walikota, hingga gubernur. Di beberapa daerah, masih ditemui kerabat, istri, dan anak kepala daerah yang juga ikut bertarung dalam Pilkada. Fakta ini menunjukan, praktik dinasti politik masih berjalan di Indonesia.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p><strong>BANTEN </strong>&#8211; Dinasti politik rentan dengan praktik korupsi<em>, Indonesia Corruption Watch</em> (ICW) mencatat ada 58 dinasti politik yang berkembang subur di Indonesia, salah satu yang paling fenomenal adalah dinasti Atut Chosiyah di Provinsi Banten.</p>
<p>Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Andika Hazrumy yang tak lain merupakan putra sulung Atut Chosiyah, maju sebagai calon wakil gubernur Banten. Selain anaknya, saudara Atut juga menguasai sejumlah wilayah di Banten. Misalnya, Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany merupakan ipar Atut, sedangkan Bupati Serang Tatu Chasanah adalah adik Atut.</p>
<p>Sementara itu Jawa Tengah juga mengenal keluarga yang menerapkan dinasti politik, yaitu dinasti Sri Hartini dari Klaten yang kini juga tengah hangat diperbincangkan. Sri Hartini adalah Bupati Klaten periode 2015-2020, ia adalah istri dari Haryanto Wibowo yang sebelumnya juga menjadi Bupati Klaten periode 2000-2005.</p>
<p>Berikut ini daftar dinasti politik peserta Pilkada 2017 yang menyebar di seluruh daerah di Indonesia:</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-5373 aligncenter" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/unnamed-240x300.jpg" alt="" width="452" height="566" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/unnamed-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/unnamed-336x420.jpg 336w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/unnamed.jpg 530w" sizes="(max-width: 452px) 100vw, 452px" /></p>
<p>Menanggapi suburnya dinasti politik di Indonesia, Pemerintah sempat mengatur pencegahan berdirinya dinasti politik melalui Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah, yaitu <a href="http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/1627.pdf">Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015</a> Pasal 7 huruf r yang menyatakan, <em>seseorang yang mempunyai hubungan darah atau ikatan perkawinan dengan petahana tidak boleh maju menjadi kepala daerah kecuali telah melewati jeda 1 (satu) kali masa jabatan atau lima tahun</em>.</p>
<p>Namun, ketentuan yang mengatur soal mencegah berkembangnya dinasti politik tersebut kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Inilah yang sakhirnya dimanfaatkan oleh para kepala daerah untuk berlomba-lomba menyiapkan keluarganya sebagai pengganti dan mempertahankan dinastinya tetap berkuasa.&nbsp;(Berbagai sumber/A15)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/catur-1024x684.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pilkada Banten Terbelit Dinasti Politik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pilkada-banten-terbelit-dinasti-politik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A15]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2017 12:15:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Atut Chosiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dinasti politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[KPUD Banten]]></category>
		<category><![CDATA[pencucian uang]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada 2017]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Serentak]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Rano Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Atut]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=5327</guid>

					<description><![CDATA[Banten merupakan salah satu provinsi yang ikut menyelenggarakan Pilkada Serentak, Rabu (15/2) lalu. Provinsi ini juga sebenarnya menyimpan masalah yang tak kalah peliknya dengan DKI Jakarta, terutama belitan isu dinasti politik yang terkesan sulit dihapuskan pada provinsi pecahan Jawa Barat ini. pinterpolitik.com BANTEN &#8211; Berdasarkan data KPU, Banten merupakan provinsi dengan jumlah pemilih yang terbanyak dibanding seluruh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banten merupakan salah satu provinsi yang ikut menyelenggarakan Pilkada Serentak, Rabu (15/2) lalu. Provinsi ini juga sebenarnya menyimpan masalah yang tak kalah peliknya dengan DKI Jakarta, terutama belitan isu dinasti politik yang terkesan sulit dihapuskan pada provinsi pecahan Jawa Barat ini.</strong></p>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p><strong>BANTEN</strong> &#8211; Berdasarkan data KPU, Banten merupakan provinsi dengan jumlah pemilih yang terbanyak dibanding seluruh provinsi yang ikut dalam Pilkada Serentak tahun ini. Dengan jumlah warga yang mencapai 7.734.485 jiwa, provinsi ini hanya mengusung  dua pasangan calon (paslon) saja, yaitu nomor urut satu Wahidin Halim dan Andika Hazrumy serta nomor urut dua Rano Karno dan Embay Mulya Syarief.</p>
<p>Isu adanya dinasti politik merebak saat diketahui kalau Andika Hazrumy ternyata putra sulung dari Atut Chosiyah &#8211; mantan Gubernur Banten yang kini tengah mendekam di penjara karena terjerat kasus korupsi. Adanya dinasti politik ini, konon, karena keluarga besar Atut menguasai hampir seluruh wilayah Banten.</p>
<p>Koordinator <em>Indonesia Corruption Watch</em> (ICW) Ade Irawan mengingatkan dampak buruk korupsi dinasti politik di Banten yang akan merugikan warga Banten, salah satunya karena memanfaatkan kekuasaan untuk praktek pencucian uang dan korupsi. Padahal, wilayah Banten dikenal belum merata dalam pembangunan wilayahnya, sehingga banyak warga yang akan dirugikan.</p>
<p>Namun yang mengejutkan, ternyata isu dinasti politik ini tidak mempengaruhi elektabilitas Andika Hazrumy. Ini dibuktikan dari hasil <em>quick </em>count yang mana Wahidin Halim dan Andika Hazrumy menduduki peringkat pertama dari hasil pemungutan suara.</p>
<p>Berdasarkan hasil poling yang dikeluarkan Indo Barometer, WH-Andika mendapat suara 50,53% dan Rano-Embay 49,47%. Hasil yang sama juga diperlihatkan dari survei Indikator Politik Indonesia, yaitu paslon WH-Andika meraih suara 50,32% dan Rano-Embay 49,68%. Selisih suara kedua paslon ini sangat tipis sekali, yaitu hanya 0,64% dan 1,20%.</p>
<p>Melihat selisih tipis dari hasil perhitungan suara tersebut, membuat masing-masing calon mengklaim kemenangannya. Menanggapi persoalan ini, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla memprediksi hasil Pilkada Banten nantinya berpotensi digugat ke MA untuk menentukan siapa yang berhak menyatakan diri sebagai pemenang. (Berbagai sumber/A15)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/02/Pilkada-Banten-Terbelit-Dinasti-Politikcrp.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
