<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Arnold Putra &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/arnold-putra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Jul 2025 07:47:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/cropped-logo-p-32x32.png</url>
	<title>Arnold Putra &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Djojohadikusumo and Sasakawa The Peacelord Story</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/djojohadikusumo-and-sasakawa-the-peacelord-story/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2025 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Arnold Putra]]></category>
		<category><![CDATA[Hashim Djojohadikusumo]]></category>
		<category><![CDATA[Myanmar]]></category>
		<category><![CDATA[Yohei Sasakawa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163657</guid>

					<description><![CDATA[Ketika diplomasi negara bertemu ketulusan individu, lahirlah kisah menyentuh antara Hashim Djojohadikusumo dan dermawan Jepang, Yōhei Sasakawa. Di balik pembebasan Arnold Putra dari Myanmar, tersimpan kekuatan jejaring pribadi dan solidaritas lintas negara yang tak terduga namun menginspirasi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/hashim-1_lfryrf3a.mp3"></audio></figure>



<p>Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Ketika diplomasi negara bertemu ketulusan individu, lahirlah kisah menyentuh antara Hashim Djojohadikusumo dan dermawan Jepang, Yōhei Sasakawa. Di balik pembebasan Arnold Putra dari Myanmar, tersimpan kekuatan jejaring pribadi dan solidaritas lintas negara yang tak terduga namun menginspirasi.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap">Sampel proses diplomasi apik datang saat Hashim Djojohadikusumo <em>spill</em> bahwa pembebasan Arnold Putra dari tahanan militer Myanmar berhasil difasilitasi oleh seorang dermawan dari Jepang, Yohei Sasakawa.</p>



<p>Kasus ini bermula ketika Arnold Putra, seorang selebritas dan influencer Indonesia, ditangkap junta militer Myanmar pada Desember 2024 dengan tuduhan keterlibatan dalam jaringan kelompok bersenjata oposisi seperti Karen National Liberation Army (KNLA) dan People’s Defense Force (PDF).</p>



<p>Penahanan ini menjadi sumber perhatian dan kepedulian publik serta memunculkan kebutuhan akan solusi yang bermartabat.</p>



<p>Dihadapkan dengan pemerintahan junta, upaya penyelamatan diplomatik melalui actor nonnegara yang dilakukan Hashim Djojohadikusumo dan Yohei Sasakawa menunjukkan kolaborasi yang memprioritaskan nilai-nilai yang kiranya ideal untuk menjadi teladan.</p>



<p>Melalui pendekatan yang berbasis kepercayaan dan diplomasi personal, Hashim dan Sasakawa berhasil membuka kanal komunikasi dengan pihak Myanmar secara efektif.</p>



<p>Dengan menyatukan pemahaman lintas budaya dan komitmen pada perdamaian, mereka memastikan pembebasan Arnold Putra berlangsung secara damai, terhormat, dan menunjukkan kekuatan solidaritas antarbangsa.</p>



<p>Saat di-<em>zoom out</em>, peristiwa ini mencerminkan kekuatan diplomasi alternatif, yang tidak hanya bergantung pada institusi resmi, tetapi juga pada kapasitas individu dan organisasi yang memiliki jaringan, komitmen moral, dan visi kemanusiaan yang kuat.</p>



<p>Ihwal yang agaknya sangat layak menjadi pedoman diplomatik saat terjadi krisis. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Diplomasi Alternatif dan Jejaring Asia?</strong></h2>



<p>Untuk memahami kedalaman relasi ini, kiranya perlu ditilik tokoh sentral lain, Soemitro Djojohadikusumo, ayah Hashim dan mantan Menteri Keuangan dan Ekonomi Orde Baru.</p>



<p>Soemitro merupakan seorang teknokrat dan negarawan yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia pasca-1965. Dalam kiprahnya, ia menjalin komunikasi luas dengan berbagai tokoh internasional yang mendorong stabilitas dan kemajuan di kawasan Asia.</p>



<p>Ryōichi Sasakawa, ayah dari Yōhei, adalah tokoh nasionalis Jepang yang pada masa pasca-perang mendedikasikan hidupnya pada kemanusiaan, perdamaian, dan pembangunan melalui yayasan filantropis internasional.</p>



<p>Meskipun tidak ditemukan bukti eksplisit bahwa Soemitro dan Ryōichi, atau keluarga Djojohadikusumo dan Sasakawa berinteraksi secara langsung, mereka tampak berada dalam jalur sejarah yang paralel, yakni sama-sama membangun jejaring Asia yang progresif dan antikomunalitas ekstrem.</p>



<p>Yōhei Sasakawa sebagai penerus visi ayahnya, dan Hashim sebagai tokoh yang melanjutkan dedikasi Soemitro terhadap negara dan masyarakat, menunjukkan kesinambungan generasi yang memperjuangkan nilai-nilai perdamaian dan solidaritas Asia.</p>



<p>Intervensi kemanusiaan mereka dalam kasus Arnold Putra kiranya bukan sekadar tindakan <em>ad hoc</em>, tetapi refleksi dari komitmen jangka panjang terhadap kerja sama regional berbasis rasa saling percaya dan visi kolektif Asia yang stabil dan makmur.</p>



<p>Kehadiran Sasakawa sebagai figur diplomasi sipil yang dihormati di berbagai forum internasional, dan kiprah Hashim sebagai pemimpin bisnis sekaligus penghubung antar bangsa, menjadi contoh sinergi ideal antara kekuatan moral dan kapasitas strategis.</p>



<p>Relasi ini memperlihatkan bahwa diplomasi yang bersumber dari itikad baik, niat tulus, dan rasa tanggung jawab sosial bisa menghasilkan solusi konkret bagi persoalan global.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1080" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2.jpg" alt="hashim, sri mulyani ter smack downartboard 1 2" class="wp-image-157413" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/hashim-sri-mulyani-ter-smack-downartboard-1_2-1068x1068.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Peluang dan Signifikansi Strategis</strong></h2>



<p>Pembebasan Arnold Putra merupakan contoh sukses dari diplomasi kolaboratif yang menggabungkan jalur formal dan informal.</p>



<p>Peristiwa ini menegaskan bahwa dalam era globalisasi dan kompleksitas geopolitik saat ini, kerja sama antar individu lintas negara dapat menjadi pendorong utama tercapainya solusi damai dan manusiawi.</p>



<p>Indonesia melalui peran Hashim Djojohadikusumo telah menunjukkan bahwa nilai gotong royong dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi fondasi kuat dalam bernegara.</p>



<p>Sementara itu, kolaborasi melalui tokoh seperti Yōhei Sasakawa menunjukkan kepemimpinan moral dan kemanusiaan yang luar biasa dalam menangani krisis lintas batas. Ini adalah refleksi dari diplomasi baru yang lebih humanistik, adaptif, dan relevan dengan tantangan kontemporer.</p>



<p>Lebih jauh, kolaborasi Hashim dan Sasakawa mengirimkan pesan positif kepada komunitas internasional bahwa Asia memiliki kapasitas diplomasi yang berbasis pada nilai-nilai luhur, bukan hanya kekuatan formal.</p>



<p>Model kerja sama ini dapat menjadi inspirasi dalam menyelesaikan konflik kemanusiaan lainnya di kawasan, baik melalui intervensi sipil, filantropi, maupun pendekatan budaya. Tentu, tanpa mengesampingkan reputasi masing-masing aktor.</p>



<p>Diplomasi bukan semata urusan protokol atau institusi negara. Seperti yang ditunjukkan dalam kasus ini, diplomasi juga bisa menjadi panggilan nurani, ruang solidaritas, dan ekspresi kasih antarbangsa.</p>



<p>Dengan membangun jembatan antarkomunitas dan memperkuat jejaring lintas sektor, Indonesia dan Jepang menunjukkan bahwa dunia bisa menjadi tempat yang lebih adil, damai, dan penuh harapan melalui langkah nyata yang berani dan berempati.</p>



<p>Oleh karenanya, keberhasilan diplomasi ini tidak hanya menyelamatkan seorang warga negara, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas di Asia.</p>



<p>Hashim Djojohadikusumo dan Yōhei Sasakawa agaknya telah menorehkan bab penting dalam sejarah diplomasi kontemporer, yang layak dikenang sebagai kisah inspiratif tentang kekuatan kebaikan, integritas, dan kerja sama lintas generasi demi masa depan yang lebih harmonis. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BJwCFaaCh-g"><iframe title="Netanyahu, Khomeini, dan Era Perdamaian Panas?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BJwCFaaCh-g?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/hashim-1_lfryrf3a.mp3" length="2631684" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/hashim-djojohadikusumo-kunjungi-redaksi-tribunnewscom_20181018_142948-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Myanmar and Dasco’s Strategic Idea?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/myanmar-and-dascos-strategic-idea/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Arnold Putra]]></category>
		<category><![CDATA[Diplomasi]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Myanmar]]></category>
		<category><![CDATA[Sufmi Dasco Ahmad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163262</guid>

					<description><![CDATA[Pernyataan Sufmi Dasco Ahmad soal operasi militer selain perang dalam konteks isu diplomati terkini di Myanmar kiranya bukan sekadar reaksi spontan. Mengapa berikan?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/dasco-1_6fmpoh98.mp3"></audio></figure>



<p>Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Pernyataan Sufmi Dasco Ahmad soal operasi militer selain perang dalam konteks isu diplomati terkini di Myanmar kiranya bukan sekadar reaksi spontan. Mengapa berikan?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap">Pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengenai kemungkinan mendorong operasi militer selain perang (OMSP) untuk menyikapi penahanan selebgram berinisial AP di Myanmar menuai perhatian luas.</p>



<p>Dasco menyebutkan bahwa apabila jalur diplomasi gagal, pemerintah perlu mempertimbangkan langkah-langkah OMSP sebagai bentuk perlindungan terhadap warga negara Indonesia di luar negeri, termasuk dalam <em>case</em>, dimensi, dan konteks lainnya.</p>



<p>Pernyataan ini, meskipun tampak reaktif terhadap kasus individual, sesungguhnya membuka perbincangan strategis yang jauh lebih luas, yakni posisi Indonesia dalam diplomasi kontemporer dan kebutuhan akan integrasi kekuatan militer sebagai elemen pendukung politik luar negeri.</p>



<p>Dalam konteks konkret, AP ditahan oleh otoritas Myanmar karena melakukan kontak dengan kelompok bersenjata yang dikategorikan sebagai kelompok terlarang.</p>



<p>Namun, yang menjadi sorotan bukan sekadar kasus ini, melainkan bagaimana Indonesia merespons situasi krisis yang menyangkut warga negaranya di luar negeri.</p>



<p>Pertanyaannya, bagaimana diplomasi dan opsi lain relasi antarnegara di era kekinian, termasuk dalam konteks Myanmar, sebenarnya?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Glimpse </em></strong><strong>of Transformasi Diplomasi?</strong></h2>



<p>Secara konseptual, diplomasi dalam tradisi <em>realpolitik </em>tidak pernah berdiri sendiri. Henry Kissinger menulis bahwa diplomasi yang tidak didukung oleh kekuatan hanyalah permohonan.</p>



<p>Dalam kerangka inilah, gagasan Dasco tentang OMSP harus dibaca bukan dalam bingkai konfliktual, melainkan sebagai pengakuan atas pentingnya kapasitas pertahanan sebagai sikap tegas hingga <em>deterrence</em> dalam politik luar negeri Indonesia.</p>



<p>Pernyataan itu sendiri menurut Dasco berlandaskan pada UU TNI versi terbaru yang menegaskan bahwa operasi militer selain perang mencakup misi-misi nonagresif seperti evakuasi WNI, bantuan kemanusiaan, atau pengamanan obyek vital strategis di luar negeri.</p>



<p>Jika ditarik ke ranah strategis, gagasan ini merupakan artikulasi dari bentuk baru <em>coercive diplomacy</em>, opsi diplomasi yang memiliki cadangan kekuatan di belakangnya.</p>



<p>Mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sendiri dalam sebuah kuliah umum sempat menyoroti pentingnya impresi <em>hard-power capability</em> hingga <em>combat readiness</em> sebagai salah satu faktor mengapa posisi Indonesia dalam negosiasi Sipadan-Ligitan menjadi lemah.</p>



<p>Gagasan tersebut agaknya tidak bertentangan dengan hakikat diplomasi, justru memperkuatnya, di mana diplomasi yang bisa menolak, menekan, dan mengarahkan arah perundingan karena didukung postur strategis.</p>



<p>Dan Myanmar adalah kasus menarik karena mencerminkan transformasi kawasan Asia Tenggara dalam bingkai ASEAN yang kini seakan penuh ambiguitas hukum hingga fragmentasi kekuasaan.</p>



<p>Dalam perspektif <em>crisis behavior</em>, negara-negara merespons situasi luar biasa dengan kalkulasi cepat antara <em>gain and cost</em>, yang tidak hanya dilandasi norma tetapi juga persepsi ancaman, tekanan publik, dan posisi strategis.</p>



<p>Dalam hal ini, Myanmar kiranya bukan sekadar mitra bilateral, tetapi juga bagian dari lanskap Indo-Pasifik yang sedang bersaing antara demokrasi dan otoritarianisme, stabilitas dan disrupsi.</p>



<p>Gagasan Dasco pun harus dilihat dalam kerangka <em>norm-building</em> and <em>rule interpretation</em>. Ketika satu negara merasa bahwa norma internasional dilanggar, dalam perspektif subjektivitas suatu negara misalnya, penahanan terhadap WNI tanpa dasar hukum yang kuat atau proses hukum yang transparan, maka negara tersebut agaknya berhak mengaktivasi seluruh instrumen perlindungan warganya.</p>



<p>Pernyataan yang “melampirkan” OMSP dalam hal ini bisa menjadi <em>symbolic move</em> yang memberi sinyal bahwa Indonesia tidak akan pasif jika kepentingan dan warganya terganggu.</p>



<p>Mengapa penting menyebut OMSP bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga strategi komunikasi? Karena dalam praktik <em>statecraft</em> modern, operasi militer tidak selalu bersifat kinetik.</p>



<p><em>Psyops </em>(<em>psychological operations</em>), misi-misi kemanusiaan, latihan bersama, dan <em>issue behavior</em> management menjadi alat utama dalam membentuk persepsi dan pengaruh.</p>



<p>Dengan mengaktivasi wacana OMSP, Dasco mungkin saja sedang melakukan manuver dalam <em>dispute behavior</em>, yakni bagaimana negara membentuk posisi dalam konflik atau krisis tanpa langsung terlibat secara fisik.</p>



<p>Ini adalah bentuk dari <em>strategic ambiguity</em> dan <em>bluff </em>yang agaknya tak keliru dalam diplomasi kekuasaan. Bahkan negara seperti China, AS, dan India kerap menggunakan strategi serupa untuk &#8220;menguji air&#8221; (<em>testing the waters</em>) terhadap respons negara atau entitas lain.</p>



<p>Dalam konteks ini, profesionalisme TNI juga menjadi bagian penting. Wacana OMSP tidak akan kredibel jika tidak dibarengi dengan persepsi bahwa militer Indonesia mampu, terlatih, dan siap untuk melaksanakan misi internasional dengan standar tinggi.</p>



<p>Inilah nilai tambah yang bisa memperkuat posisi diplomasi Indonesia, bahkan tanpa mengangkat senjata sekalipun.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1190" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1.jpg" alt="dasco prime 1" class="wp-image-156851" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-272x300.jpg 272w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-929x1024.jpg 929w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-136x150.jpg 136w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-768x846.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-150x165.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-300x331.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-696x767.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/12/dasco-prime-1-1-1068x1177.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Refleksi Strategis</strong></h2>



<p>Tentu, gagasan OMSP bukan tentang berperang karena selebgram, tetapi tentang menciptakan strategi perlindungan negara berbasis kesiapan dan kehormatan nasional.</p>



<p>Inilah wajah baru diplomasi Indonesia yang agaknya harus mulai menyesuaikan diri dengan dinamika internasional yang semakin keras.</p>



<p>Dunia pasca-pandemi, dengan ancaman baru seperti konflik multipolar, ketegangan di Laut China Selatan, serta tumbuhnya entitas yang seakan dianggap <em>rogue elements</em> di kawasan Asia Tenggara, menuntut Indonesia untuk memperkuat semua <em>tools of statecraft</em>-nya.</p>



<p>Penting untuk menekankan bahwa diplomasi berbasis kekuatan bukan bertentangan dengan prinsip bebas aktif. Justru ini yang boleh jadi memperkuatnya.</p>



<p>Dalam prinsip klasik diplomasi bebas aktif, Indonesia tidak memihak kekuatan besar, tetapi tetap aktif dalam menjaga kepentingannya. Namun, keaktifan ini kini kiranya membutuhkan pendekatan yang lebih taktis, yaitu menyelaraskan diplomasi lunak dengan sinyal keras, memperkuat koherensi antara kebijakan luar negeri dan kemampuan dalam negeri, dan membangun persepsi regional bahwa Indonesia adalah aktor kredibel yang tak hanya pandai bicara tetapi juga siap bertindak.</p>



<p>Yang menjadi tantangan ke depan adalah bagaimana mengelola konsekuensi dan batas dari wacana ini. Menyebut OMSP tanpa kesiapan politis dan militer justru bisa menjadi <em>backfire</em> diplomatik.</p>



<p>Dalam <em>issue management</em>, penggiringan wacana strategis seperti ini harus diikuti oleh komunikasi yang terstruktur kepada mitra internasional, agar tidak dibaca sebagai provokasi, melainkan sebagai penegasan kedaulatan dan tanggung jawab negara terhadap warganya.</p>



<p>Selain itu, Dasco sebagai figur politik juga perlu berhati-hati dalam menempatkan wacana seperti ini.</p>



<p>Publikasi strategi yang belum dibahas secara menyeluruh di dalam forum keamanan nasional bisa memicu persepsi bahwa politik luar negeri Indonesia mulai terfragmentasi oleh suara-suara individual di luar koridor resmi Kemlu atau Kemenhan.</p>



<p>Dalam dunia yang semakin tak menentu, diplomasi tak bisa lagi hanya mengandalkan pertemuan meja bundar. Dunia saat ini lebih mirip papan catur yang kompleks, di mana setiap pion dan langkah harus mencerminkan niat, kekuatan, serta kredibilitas.</p>



<p>Gagasan Dasco tentang OMSP, meski kontroversial, menunjukkan bahwa Indonesia perlahan sedang mengadopsi bentuk baru dari diplomasi aktif dengan kekuatan pendukung.</p>



<p>Tentu dengan catatan, langkah ini harus dikelola dengan profesional, hati-hati, dan dalam kerangka konsensus nasional agar tidak menimbulkan konflik baru di dalam atau di luar negeri. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="m1e4XkuGLsc"><iframe loading="lazy" title="Gibahin Teddy Indra Wijaya, Sang Letkol yang Terus Gaspol" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/m1e4XkuGLsc?start=118&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/dasco-1_6fmpoh98.mp3" length="3432830" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/07/sufmi-dasco-ahmad-1024x660.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
