<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>APBD DKI Jakarta 2018 &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/apbd-dki-jakarta-2018/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Apr 2019 11:29:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>APBD DKI Jakarta 2018 &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jakarta Berani &#8216;Lawan&#8217; Pemerintah Pusat?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jakarta-berani-lawan-pemerintah-pusat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Dec 2017 06:45:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[APBD DKI Jakarta 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Keuangan Sri Mulyani]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani Indrawati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=18896</guid>

					<description><![CDATA[“Ada yang hidup glamour, terkadang lebih besar pasak daripada tiang, apakah bisa nyaman dan tenang dengan keadaan ini?” PinterPolitik.com [dropcap]N[/dropcap]ominal APBD DKI Jakarta memang cukup besar, sampai menyentuh Rp 77 triliun. Tak hanya karena faktor kebutuhan yang banyak, tapi suatu kewajaran karena Jakarta adalah ibukota Indonesia. Sekitar 70 persen perputaran uang nasional terjadi di Jakarta. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Ada yang hidup glamour, terkadang lebih besar pasak daripada tiang, apakah bisa nyaman dan tenang dengan keadaan ini?”</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]N[/dropcap]ominal APBD DKI Jakarta memang cukup besar, sampai menyentuh Rp 77 triliun. Tak hanya karena faktor kebutuhan yang banyak, tapi suatu kewajaran karena Jakarta adalah ibukota Indonesia.</p>
<p>Sekitar 70 persen perputaran uang nasional terjadi di Jakarta. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta juga yang terbesar di Indonesia. Maka, sempat terdengar istilah: semakin banyak pemasukan, semakin banyak juga pengeluaran.</p>
<p><em>Wedeew</em> kalau begitu sih bisa saja karena terbawa hasrat ingin beli ini dan itu. Makanya, agak sulit bicara tentang  penghematan.</p>
<p>Perilaku boros dan menghambur-hamburkan uang memang tak perlu dilakukan, apalagi sekelas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mungkin junlah APBDnya jauh berkali-kali lipat dibandingkan daerah lainnya.</p>
<p>Tapi semenjak rancangan dan pembahasan APBD DKI, aroma pemborosan sudah tercium. Maka, banyak reaksi yang muncul ke permukaan.</p>
<p>Diawali renovasi kolam ikan, tingginya dana untuk partai politik, penghapusan TGUPP oleh Kemendagri dan sampai pada sindiran Menteri Keuangan yang menyoroti perjalanan dinas yang nominalnya tiga kali lipat lebih besar dibandingkan standar nasional.</p>
<p><em>Wadezigggg</em>, ini sih namanya pemborosan. Jangan karena punya potensi dana yang banyak jadi serampangan mengelola uang.</p>
<p>Harus hemat dong, jangan asal-asalan main hamburkan saja <em>weleeeh weleeeeh. </em></p>
<p>Untuk perjalanan dinas standar nasional aja palingan perhari-nya Rp 480 ribu. Sementara, perjalanan dinas Pemprov DKI perharinya dianggarkan sampai Rp 1,5 juta. Hmmm, mending jalan-jalan aja terus daripada di kantor mulu wkwkwk.</p>
<p><em>Demen</em> banget liburan kayanya ya wkwkwk</p>
<p>Entah sensasi apa yang ingin dibuat, setidaknya ada dua mata anggaran yang nilainya lebih besar dari anggaran yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.</p>
<p>Pemprov DKI ingin jadi &#8216;Pemerintah Pusat Tandingan&#8217; kali ya <em>weleeeh weleeeh. </em>Pantesan kalau ada istilah Gubernur DKI  itu RI 3. Hmmm.</p>
<p>Jangan sampai di suatu saat nanti sumber dana menipis dan tak memadai, Pemprov DKI kaget dan ga sanggup menanggung gengsi. <em>Weleeeeh weleeeehhh.</em></p>
<p>Ada sebuah pepatah umum untuk Pemprov DKI, gunakan uang sesuai dengan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan <em>weleeeh weleeeh.</em> (Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/12/Anies-Sri-1024x768.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anies – Sandi, ‘Bawang Putih’ Mendagri</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/anies-sandi-bawang-putih-mendagri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Dec 2017 09:12:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[APBD DKI Jakarta 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kemendagri RI]]></category>
		<category><![CDATA[TGUPP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=18677</guid>

					<description><![CDATA[“Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati.” PinterPolitik.com [dropcap]G[/dropcap]ubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno mendapat perlakuan yang berbeda dari Kementerian Dalam Negeri dibandingkan dengan Gubernur DKI sebelumnya. Padahal langkahnya sama, mau Anies atau Gubernur sebelumnya. Tapi respon Kemendagri justru berlaku berbeda dengan Anies. Apakah karena Mendagrinya dari Banteng yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati.”</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]G[/dropcap]ubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno mendapat perlakuan yang berbeda dari Kementerian Dalam Negeri dibandingkan dengan Gubernur DKI sebelumnya.</p>
<p>Padahal langkahnya sama, mau Anies atau Gubernur sebelumnya. Tapi respon Kemendagri justru berlaku berbeda dengan Anies.</p>
<p>Apakah karena Mendagrinya dari Banteng yang notabene berlawanan politik di Pilgub Jakarta kemarin?</p>
<p>Kalau alasannya karena sentimen politik, tak dewasa dan tak profesional sekali Mendagri. Kalau mau ngutip pernyataan Fahri Hamzah sih, jadi politikus itu jangan baperan ah wkwkwk Kalau masih baperan mending belajar politik dulu jangan asal menjabat wkwkwk <em>weleeeh weleeeeh</em></p>
<p>Perbedaan sikap Kemendagri kepada Gubernur Anies akibat adanya usulan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP).</p>
<p>Padahal, tiga Gubernur sebelumnya Jokowi, Ahok dan Djarot tak dipermasalahkan. <em>Weleeeh weleeeh </em>kalau mau nyinyir sih, ya iyalah tiga-tiganya dibackup habis karena satu partai sama Mendagri wkwkwk</p>
<p>Giliran yang jadi Gubernurnya lawan politik, TGUPP dihapuskan. Yang lebih parahnya lagi sih, kan biasanya anggaran dipangkas atau apalah. Ini bukan cuma anggaran, tapi TGUPPnya dihapuskan. <em>Wadeziggggg ngeri </em>kali wkwkwk</p>
<p>Makanya Anies – Sandi kebingungan, kok programnya sama adanya TGUPP dengan tiga Gubernur yang lalu, tapi sikap Mendagri malah menghapuskannya. <em>Weleeeh weleeeeh</em></p>
<p>Mungkin Anies – Sandi harus bersabar ya, namanya juga kini mereka berperan sebagai bawang putih jadi wajar kalau dapet perlakuan berbeda dari Mendagri.</p>
<p>Biarkanlah tiga Gubernur sebelumnya sebagai bawang merah yang selalu dibela sama orangtuanya. Jangan sedih ya <em>pukpukpuk wkwkwk.</em></p>
<p>Tapi, coba Anies – Sandi evaluasi mungkin ada yang ganjil dari usulan TGUPP di eranya. Contohnya nih, tentang usulan anggaran yang fantastis dan melibatkan banyak orang di TGUPP berpotensi akan membebani APBD DKI.</p>
<p><em>Nah lohhhh</em>, kok malah melambung gitu jumlahnya <em>weleeeeh weleeeh.</em></p>
<p>Kalau biaya TGUPP sangat besar dan jadi beban APBD, sementara tugas dan fungsinya tak terlalu penting sih, wajar dihapuskan. Makanya harus dilihat dari asas manfaatnya dulu ya. <em>Weleeeh weleeeh </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/12/Anies-dan-Sandi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anies Bangun &#8216;Kandang&#8217; Koruptor</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/anies-bangun-kandang-koruptor/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Dec 2017 10:58:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[APBD DKI Jakarta 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Dana RT dan RW DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=17678</guid>

					<description><![CDATA[”Tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas. Yang terakhir adalah mengucapkan terima kasih. Pemimpin adalah pelayan.” PinterPolitik.com [dropcap]J[/dropcap]umlah pelawak di Indonesia sudah banyak jadi para pejabat tak perlu lagi menggarap profesi pelawak yang mempertontonkan dagelan dan kelucuan. Loh kok begitu? Ya iyalah biar nanti masing-masing antar pejabat dan pelawak punya porsinya sendiri. Kalau pelawak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>”Tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas. Yang terakhir adalah mengucapkan terima kasih. Pemimpin adalah pelayan.”</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]J[/dropcap]umlah pelawak di Indonesia sudah banyak jadi para pejabat tak perlu lagi menggarap profesi pelawak yang mempertontonkan dagelan dan kelucuan.</p>
<p>Loh kok begitu? Ya iyalah biar nanti masing-masing antar pejabat dan pelawak punya porsinya sendiri.</p>
<p>Kalau pelawak yang jadi pejabat kan sudah banyak tuh, nah kalau pejabat jadi pelawak tuh yang repot soalnya belom tentu lucu juga tingkahnya. <em>Weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Salah satu tingkah pejabat yang kaya pelawak saat memberikan dana tapi tak meminta laporan pertanggungjawabannya.<em> Etttt</em> ini namanya kekocakan tingkat dewa <em>zzzz</em>.</p>
<p>Gimana mau mempertanggungjawabkan dananya dipake apa kalau laporannya aja ga perlu dibuat. Berapapun nominalnya, namanya dana dari rakyat harus ada pertanggungjawabannya. <em>Weleeeh weleeeh</em> ini sebenernya becandaannya ngelawak atau emang serius begini sih.</p>
<p>Kayanya disaat orang ingin berantas korupsi dan pungutan liar, Gubernur Jakarta bertingkah seperti ikan salmon yang terus melawan arus. Justru kalau maunya begini dengan kata lain memberikan jalan bagi para koruptor untuk menggasak dana dari rakyat.</p>
<p>Baik sekali ya pak gubernur. Baiknya ke koruptor tapi wkwkwk.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Anies Hapus LPJ Dana Ketua RT/RW <a href="https://t.co/oBg3e5Z2ym">https://t.co/oBg3e5Z2ym</a> <a href="https://t.co/cMEgioCvP1">pic.twitter.com/cMEgioCvP1</a></p>
<p>— Media Indonesia (@mediaindonesia) <a href="https://twitter.com/mediaindonesia/status/938402655138930688?ref_src=twsrc%5Etfw">December 6, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>Masa mau jadi peternak calon – calon koruptor, disiapin lahan basahnya dan ga perlu takut buat laporan, lah orang ga perlu pake laporan make duitnya juga.</p>
<p><em>Weleeeeh weleeeh</em> makin rumit aja nih ya. Ya kalau mau nyari yang beda dari kepemimpinan sebelumnya, yang inovatif apa kek gitu jangan justru begini malah <em>ngundang</em> macan lagi tidur kan jadinya wkwkwk.</p>
<p>Kan katanya mau konsultasi ke Kemendagri dan hasilnya juga tetap harus ada laporannya kan, masih aja kan ga nurut?</p>
<p>Malah jadi <em>tambeng</em> gitu sih, tetep aja dana buat RT dan RW ini ga harus pake laporan, Pak. Kaya judul film alangkah lucunya Jakarta ini wkwk (Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/12/anies-baswedan-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jajan Plus Anies – Sandi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jajan-plus-anies-sandi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Nov 2017 08:01:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[APBD DKI Jakarta 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Sandiaga Salahuddin Uno]]></category>
		<category><![CDATA[Sandiaga Uno]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Gubernur DKI Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=16456</guid>

					<description><![CDATA[“Bagaimana kalau uang jajan lebih besar ketimbang uang makan?” – Sujiwo Tejo PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]oal uang jajan besarnya memang relatif, karena kebutuhannya pun beda. Apalagi sudah memakai istilah plus – plus, pasti makin mentereng nominalnya. Anies – Sandi memang pemimpin Jakarta yang muncul dari kolaborasi Akademisi dan Pengusaha, tentu urusan uang jajan pasti dikuasai. Buktinya aja [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Bagaimana kalau uang jajan lebih besar ketimbang uang makan?” – Sujiwo Tejo</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]oal uang jajan besarnya memang relatif, karena kebutuhannya pun beda. Apalagi sudah memakai istilah plus – plus, pasti makin mentereng nominalnya.</p>
<p>Anies – Sandi memang pemimpin Jakarta yang muncul dari kolaborasi Akademisi dan Pengusaha, tentu urusan uang jajan pasti dikuasai.</p>
<p>Buktinya aja nih, jajan DKI Jakarta 2018 sebesar Rp 77 triliun. Wow banyak sekaliiiii. Ga aneh lah ya kan<em> Jegardah</em> memang kota yang selalu <em>hits</em> dengan setiap perkembangan zaman.</p>
<p>Apa bedanya Jakarta kalo dipimpin sama bukan pengusaha?</p>
<p>Ya seengganya kalau pengusaha uang jajannya jadi naik Rp 7 triliun. Karena memang kebutuhannya yang banyak kali ya.</p>
<p>Tapi itu duit banyak ga?</p>
<p><em>Yaiyalaaaaaaahhh</em> dibeliin kerupuk dari orok sampe kakek nenek juga ga akan abis – abis. Wkwkwk.</p>
<p>Tapi kayanya sih kalau pengusaha ngurus beginian pasti punya perhitungan yang jelas. Apalagi cuma urusan <em>ngatur</em> uang jajan doang sih persoalan yang gampang.</p>
<p>Om Sandi kan punya Jurus Bango <em>nih</em>. Nah ternyata dia baru <em>ngeluarin</em> lagi Jurus Bango plus-plus buat ngurusin soal uang jajan Jakarta.</p>
<p>Dari namanya aja plus-plus pasti ada lebihnya nih, <em>aahaaaayyy.</em></p>
<p>Baca juga: <span style="color: #ccdb00;"><a href="https://pinterpolitik.com/rayuan-anies-berbuah-manis/">Rayuan Anies Berbuah Manis</a></span></p>
<p>Jurus ini yang digunakan dalam program aneka plus-plus ala Anies – Sandi. Ini alasannya kenapa uang jajan jadi naik. Contohnya nih ya, misalkan KJP itu kan cuma bisa digunain buat makanan bergizi sama alat sekolah aja kan.</p>
<p>Nah kalo pake plus-plus pasti ada sesuatu yang beda nih. Mungkin uangnya yang nambah, dan peruntukannya juga nambah kali ya? <em>Asyiiiik</em>. Buat para pelajar sih kayanya senyum – senyum nakal aja nih. Hehehehe</p>
<p>Tapi inget ya para pelajar <em>Jegardah</em>, KJP boleh dibeliin alat-alat tulis atau makanan bergizi. Tapi alat tulis itu jangan dijadiin kado buat gebetannya yaa.</p>
<p>Nanti sok sok-an <em>ngasih surprise</em> sama <em>ngasih</em> kado ke gebetannya lagi biar keliatan kaya <em>kids</em> jaman <em>now</em> yang romantis. <em>Preeettttt.</em> Padahal pake KJP wkwkwk</p>
<p>Terus nanti kalo butuh pingin beli pulpen, eh KJPnya udah ga bisa dipake. <em>Hmmm</em> nulis dah tuh tinta cinta lu hehe. (Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/anies-dan-sandi.jpeg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
