<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Angkringan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/angkringan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Oct 2023 04:49:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Angkringan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Filosofi di Balik Kesederhanaannya Angkringan</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/filosofi-di-balik-kesederhanaannya-angkringan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A49]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2023 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[socioloop]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=137924</guid>

					<description><![CDATA[socioloop.co Angkringan adalah salah satu ikon khas budaya Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Solo. Saat malam hari, angkringan yang biasanya berbentuk tenda kecil dengan tikar dan kursi panjang kayu bisa kita temui hampir di setiap sudut kota. Sebagai tempat yang menyajikan berbagai makanan khas seperti nasi kucing, sate, dan gorengan, serta minuman seperti kopi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>socioloop.co</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Angkringan adalah salah satu ikon khas budaya Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Solo. Saat malam hari, angkringan yang biasanya berbentuk tenda kecil dengan tikar dan kursi panjang kayu bisa kita temui hampir di setiap sudut kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai tempat yang menyajikan berbagai makanan khas seperti nasi kucing, sate, dan gorengan, serta minuman seperti kopi dan teh, angkringan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat. Sebenarnya, sulit untuk menentukan kapan dan dari mana tepatnya angkringan pertama kali muncul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, menurut sejarawan dan tokoh budaya setempat, angkringan muncul sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat urban yang membutuhkan makanan cepat saji yang murah dan bisa dinikmati kapan saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada masa kolonial, banyak penduduk desa yang ber migrasi ke kota mencari pekerjaan. Mereka membutuhkan makanan murah yang bisa memberi energi setelah berhari-hari bekerja. Dari sinilah angkringan mulai bermunculan sebagai solusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kata &#8220;angkringan&#8221; berasal dari kata &#8220;angkring&#8221; dalam bahasa Jawa, yang berarti duduk santai atau bersandar. Ini mencerminkan suasana angkringan itu sendiri, yaitu tempat untuk duduk bersantai sambil menikmati hidangan dan berbincang dengan teman atau keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik kesederhanaan angkringan, tersembunyi filosofi yang mendalam tentang kehidupan masyarakat Jawa, diantaranya:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kesederhanaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari segi penampilan dan menu yang disajikan, angkringan sangat sederhana. Ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak harus datang dari kemewahan. Kadang, sebuah cangkir teh panas dan gorengan di malam hari sudah cukup untuk membuat hati kita senang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Keterbukaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di angkringan, semua lapisan masyarakat bisa datang dan duduk bersama tanpa memandang status sosial. Ini adalah cerminan dari prinsip egalitarian masyarakat Jawa, di mana semua orang dianggap sama dan saling menghormati.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kebersamaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun banyak pengunjung datang sendiri, mereka sering berakhir dengan berbincang dengan pengunjung lain. Ini menunjukkan bahwa angkringan adalah tempat di mana silaturahmi dibina dan persaudaraan diperkuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketahanan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak penjaja angkringan yang mulai berjualan dari sore hari hingga larut malam, meskipun cuaca tidak mendukung. Ini mencerminkan semangat ketahanan dan kerja keras masyarakat Jawa dalam menghadapi tantangan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup, angkringan bukan sekadar tempat makan. Ia adalah representasi dari budaya, sejarah, dan filosofi masyarakat Jawa yang mendalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kesederhanaannya, angkringan mengajarkan kita tentang arti kebersamaan, kesetaraan, dan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana dalam kehidupan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai bagian dari warisan budaya, kita harus menjaga dan melestarikan keberadaan angkringan agar generasi mendatang juga dapat menikmati kehangatan dan kebersamaan di sana. (A49)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/10/instagram-garing-angkringan_gayeng_7_webp.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>‘Goreng-gorengan’ ala Puan Maharani?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/goreng-gorengan-ala-puan-maharani/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2021 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[Gorengan]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=95336</guid>

					<description><![CDATA[Ketua DPR RI Puan Maharani beli nasi kucing dan gorengan. Mengapa Puan suka makan 'goreng-gorengan'?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Puan Maharani memborong nasi kucing dan gorengan ketika melakukan kunjungan kerja ke Sleman, Yogyakarta. Mengapa Puan sangat suka dengan ‘goreng-gorengan’?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Rani merupakan seorang gadis yang kerap mendobrak batasan-batasan sosial di masyarakat. Bagaimana tidak? Gadis yang hidup di Negara Indonesia dalam&nbsp;<em>alternate universe&nbsp;</em>Bumi-45 ini beberapa kali bersikap berani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat melaksanakan diskusi dengan rekan-rekannya, Rani dengan beraninya membuat diam rekannya yang ingin memberikan pendapat. Alhasil, dengan sikap beraninya itu, diskusi dapat berjalan dengan cepat dan dalam waktu singkat mencapai kata “sepakat”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski bersifat berani, Rani sebenarnya juga merupakan seorang individu yang tidak jauh berbeda dengan kita semua. Ya, namanya manusia Negara Indonesia, pastinya makannya ya juga nasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, tidak hanya nasi, Rani juga suka membeli jajanan di pinggir jalan. Salah satu jajan yang sangat disukainya adalah gorengan. Ini terlihat ketika Rani berkunjung ke Sleman, Jogja, pada November 2021 – saat Rani belajar mengenai bagaimana caranya para petani bercocok tanam demi senantiasa menjaga suplai beras bagi masyarakat Negara Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rani pun suka menceritakan makanan favoritnya ini dengan beberapa teman-temannya. Mereka adalah Joko, Anis, dan Kak Ganjar. Untungnya, dalam sebuah kesempatan, mereka semua pun bisa berkumpul – menjadi sebuah kesempatan bagi Rani untuk menceritakan soal makanan itu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rani</strong>: Eh, ada Mas Joko, Mas Anis, dan Kak Ganjar. Gimana kabarnya kalian semua?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Joko</strong>: Baik. Baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Anis</strong>: Baik kok. Malah saya seneng banget habis syuting di TV kemarin.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kak Ganjar</strong>: Alhamdulillah.&nbsp;<em>Apik-apik</em>&nbsp;<em>wae</em>, Mbak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rani</strong>: Wah, Mas Anis syuting jadi apa di TV?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-angela-merkel-nya-indonesia"><strong>Puan, Angela Merkel-nya Indonesia?</strong></a></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/Infografis%202020/infografis%20Gorengan,%20Makanan%20Favorit%20Puan.jpg" alt="Gorengan Makanan Favorit Puan"/></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Anis</strong>: Jadi sasaran buat di-<em>roasting</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rani</strong>: Hmm. Enak sih wanginya kopi yang udah di-<em>roasting</em>. Ngomong-ngomong soal kopi, saya jadi keinget saya kemarin habis nyobain makanan favorit saya di Jogja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kak Ganjar</strong>: Wah, saya juga pernah lama di Jogja.&nbsp;<em>Masio&nbsp;</em>gitu, saya tetap nggak suka makanan-makanan manisnya. Saya senangnya yang&nbsp;<em>muantep</em>&nbsp;ya yang pedes-pedes.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rani</strong>: Sssst.&nbsp;<em>Durung</em>&nbsp;<em>mari</em>&nbsp;ngomong aku. Jadi, saya kemarin beli nasi kucing di salah satu angkringan gitu. Nah, kebetulan, kok&nbsp;<em>mbok</em>-nya juga jualan goreng-gorengan. Langsung lah saya beli.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Joko</strong>: Hmm, jangan kebanyakan gorengan lho, Mbak Rani. Mending yang sehat-sehat saja. Coba sekali-sekali Mbak Rani minum jamu-jamuan biar senantiasa&nbsp;<em>fit</em>&nbsp;badannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rani</strong>: Lha, kenapa? Mas Anis itu juga suka beli makanan di pinggir jalan. Coba Mas Joko tanya aja. Terus itu, ada juga teman mas-mas sekalian yang namanya Emil, malah makan ulat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Anis</strong>: Kalau saya memang suka sih. Apalagi kalau beli makanan-makanan di warteg, udah enak murah lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Joko</strong>: Ya sudah, ya sudah. Saya kan ndak tau. Untung ada Mas Anis yang bisa ditanyain langsung. Jadi, nggak harus tanya saya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kak Ganjar</strong>: Iya sih. Emang goreng-gorengan paling enak, Mbak Rani. Saya juga sepakat – apalagi kalau itu goreng-gorengan isu tiap menjelang Pemilu.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rani</strong>: Husssh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">(A43)</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca Juga:&nbsp;</strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-antara-ramalan-dan-rasionalitas"><strong>Puan: Antara Ramalan dan Rasionalitas</strong></a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-embed-handler wp-block-embed-embed-handler wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="y2v1GG13zqE"><iframe title="Puan Capres 2024 Tergantung Jokowi?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/y2v1GG13zqE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.youtube.com/c/PinterPolitik/featured"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/ytb%20membership-03.jpg" alt=""/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://linktr.ee/PinterPublishing"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com:8000/photos/shares/2021/3/ebook-promo-web-banner.jpg" alt=""/></a></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Goreng-gorengan-ala-Puan-Maharani.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
