<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Alissa Wahid &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/alissa-wahid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Sep 2023 03:57:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Alissa Wahid &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cak Imin “Jualan” Gus Dur?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/cak-imin-jualan-gus-dur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S91]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Sep 2023 03:57:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Alissa Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[konflik internal PKB 2008]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=136466</guid>

					<description><![CDATA[Alissa Wahid, putri sulung Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memberikan komentar pedas pada Ketua Umum (Ketum) PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Ia mewanti-wanti agar Cak Imin tidak menggunakan nama ayahnya untuk menjual pamor politik PKB dan juga Cak Imin sendiri. Komentar tersebut dilontarkan Alissa lantaran beberapa hari lalu ketika diwawancara di acara Mata [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="922" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-922x1024.jpg" alt="cak imin jualan gus dur" class="wp-image-136469" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-922x1024.jpg 922w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-270x300.jpg 270w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-135x150.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-768x853.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-1068x1187.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-378x420.jpg 378w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur.jpg 1080w" sizes="(max-width: 922px) 100vw, 922px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Alissa Wahid, putri sulung Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memberikan komentar pedas pada Ketua Umum (Ketum) PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Ia mewanti-wanti agar Cak Imin tidak menggunakan nama ayahnya untuk menjual pamor politik PKB dan juga Cak Imin sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komentar tersebut dilontarkan Alissa lantaran beberapa hari lalu ketika diwawancara di acara Mata Najwa Cak Imin mengklaim bahwa dirinya tidak pernah mengkudeta Gus Dur, tapi kubu Gus Dur-lah yang mengkudetanya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/cak-imin-jualan-gus-dur-922x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Paradoks Toleransi “Lebaran Duluan” Muhammadiyah?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/paradoks-toleransi-lebaran-duluan-muhammadiyah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Apr 2023 00:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Alissa Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Nadir]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Idulfitri]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Nadirsyah Hosen]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlatul Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Salat Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=127734</guid>

					<description><![CDATA[Polemik tidak diberikannya ruang bagi umat Muhammadiyah untuk melaksanakan Salat Idulfitri di sejumlah daerah terus diperbincangkan. Bahkan, debat itu melibatkan diskursus toleransi dan intoleransi yang turut “membelah” tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yakni Alissa Wahid dan Nadirsyah Hosen. Lalu, mengapa perdebatan itu bisa terjadi? Serta apa yang dapat dimaknai dari polemik tersebut?&#160; PinterPolitik.com  Terdapat satu perdebatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Polemik tidak diberikannya ruang bagi umat Muhammadiyah untuk melaksanakan Salat Idulfitri di sejumlah daerah terus diperbincangkan. Bahkan, debat itu melibatkan diskursus toleransi dan intoleransi yang turut “membelah” tokoh Nahdlatul Ulama (NU), yakni Alissa Wahid dan Nadirsyah Hosen. Lalu, mengapa perdebatan itu bisa terjadi? Serta apa yang dapat dimaknai dari polemik tersebut?</strong>&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong> </p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Terdapat satu perdebatan menarik saat “lebaran duluan” Muhammadiyah yang diikuti pelarangan Salat Idulfitri bagi umat Muhammadiyah di tempat tertentu di beberapa daerah membuat dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU) tampak saling bertolak belakang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua tokoh itu adalah putri Presiden ke-4 RI Alissa Qotrunnada atau Alissa Wahid dan kiai sekaligus cendekiawan NU Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir. Mereka terlibat saling balas pendapat di Twitter kemarin tulat mengenai “tenggang rasa” yang kemudian memantik perhatian masif dari netizen lainnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, merespons polemik pelarangan atau tak diizinkannya Salat Idulfitri umat Muhammadiyah, Gus Nadir menyebut Hari Raya Lebaran Idulfitri harus mengikuti keputusan pemerintah jika ditinjau dalam Fiqh. Namun, secara aturan bermasyarakat pemerintah disebutnya juga tidak boleh melarang perbedaan hari raya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, menurut Gus Nadir, mereka yang “berbeda” harus bertenggang rasa dengan tidak menggunakan fasilitas publik maupun pemerintah untuk Salat Idulfitri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bait kicauan Gus Nadir itu lah yang memantik respons Alissa Wahid. Alissa mempertanyakan logika terbalik Gus Nadir bahwa tenggang rasa tidak dapat “ditagih” kepada pihak lain.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Alih-alih meminta kawan-kawan yang merayakan Idulfitri tanggal 21 April 2023 untuk bertenggang rasa kepada yang mengikuti pemerintah, kita justru harus meminta diri kita bertenggang rasa kepada mereka,” begitu petikan twit Alissa.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah.jpg" alt="inifografis ikut nu atau muhammadiyah" class="wp-image-127622" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah-696x837.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah-1068x1285.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah-1920x2311.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/inifografis-Ikut-NU-atau-Muhammadiyah-348x420.jpg 348w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Perdebatan pun terjadi saat Gus Nadir membalasnya dengan salah satu risalah “bertenggang rasa” dari sosok bernama Hadratus Syekh dengan melarang perayaan Lebaran yang demonstratif saat berbeda dengan kelompok lainnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alissa pun membalas bahwa yang dilarang adalah <em>takbiran</em>, sebuah hal demonstratif yang bisa ditafsirkan provokatif, bukan berada dalam ranah substansial ibadah Salat Idulfitri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Balasan itu pun ditutup Alissa dengan ajakan kepada Gus Nadir untuk menghentikan perdebatan yang telah mengundang jutaan impresi pengguna Twitter.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, lini masa memang telah ramai dengan perdebatan serupa saat kebanyakan mempertanyakan larangan yang cenderung memantik interpretasi tendensius, terutama kepada pemerintah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menanggapi polemik tersebut, akhirnya Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta pemerintah daerah tidak melarang dan tetap memberikan fasilitas bagi jamaah Muhammadiyah yang akan menyelenggarakan Salat Idulfitri pada hari Jumat 21 April esok.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perdebatan seputar tenggang rasa, toleransi, dan intoleransi sendiri agaknya tak pernah absen saat satu kelompok keagamaan memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya. Bahkan, kini kembali terjadi di agama yang sama sebagai mayoritas.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu kemudian memantik satu pertanyaan mendasar, yakni mengapa perdebatan dan penolakan itu bisa terjadi?&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Rerpresentasi Paradoks Toleransi?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu kota yang &#8220;melarang&#8221; penggunaan fasilitas untuk Salat Idulfitri umat Muhammadiyah adalah Pekalongan. </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1200" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah.jpg" alt="" class="wp-image-101108" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-270x300.jpg 270w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-922x1024.jpg 922w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-135x150.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-768x853.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-1068x1187.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Menanti-Comeback-Muhammadiyah-378x420.jpg 378w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Meski telah berubah sikap, Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid sebelumnya tidak memberikan izin penggunaan Lapangan Kota Mataram Kota Pekalongan untuk digunakan sebagai lokasi pelaksanaan Salat Idulfitri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sontak, gaung toleransi yang selama ini digemakan Afzan bagi masyarakat Kota Pekalongan pun disebut hanya sebatas slogan dan tak diimplementasikan secara konsisten. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara bersamaan, pihak yang menolak pun tak sedikit yang mendapat predikat intoleran, bahkan dari mereka yang Lebaran Idulfitri mengikuti keputusan pemerintah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menggelitik, satu dari sekian penolakan itu sebenarnya datang berdasarkan penentuan Hari Raya Idulfitri oleh Kementerian Agama (Kemenag) yang saat ini masih belum pasti serta masih sebatas perkiraan akan jatuh pada 22 April 2023.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, tak semua kota atau kabupaten terjadi polemik penolakan pemberian izin semacam itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, semestinya kepala daerah dan masyarakatnya dapat berlomba-lomba menjadikan kota maupun kabupatennya sebagai yang paling toleran, sebagaimana eksistensi pemeringkatan SETARA Institute Indeks Kota Toleran (IKT) setiap tahunnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali, bukan hanya “tenggang rasa”, perdebatan dan pengalaman getir kolektif masyarakat di masa sebelumnya seolah tak dijadikan pelajaran saat diskursus toleran-intoleran dalam kehidupan sosial-politik dan beragama di Indonesia kembali menyeruak.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, polemik pelarangan Salat Idulfitri umat Muhammadiyah seakan kembali menunjukkan bahwa intoleransi masih menjadi persoalan alot di negara +62.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Logika terbalik” dari permintaan tenggang rasa Gus Nadir yang dikritik Alissa, seolah juga menguak bahwa selama ini terdapat paradoks tersendiri dalam memahami dan mengaktualisasikannya, termasuk konteks toleransi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paling tidak, paradoks tersebut telah menjadi persoalan yang eksis sebelum dan menjelang pertengahan abad ke-20.&nbsp;Filsuf Karl Popper kemudian menganalisisnya dalam bingkai sebuah konsep masyhur yang disebut sebagai <em>paradox of tolerance</em> atau paradoks toleransi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam buku yang dipublikasikan pada tahun 1945 berjudul <em>The Open Society and Its Enemies,</em>&nbsp;Popper mengatakan untuk menjaga masyarakat yang toleran diperlukan sikap intoleran kolektif terhadap intoleransi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di samping itu, Popper menyatakan toleransi yang tak terbatas dapat memicu hilangnya toleransi itu sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, jika toleransi juga diberikan kepada kaum intoleran, Popper menyebut bahwa masyarakat yang toleran akan hancur bersama toleransi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu dikarenakan, aktivitas kelompok intoleran yang dibiarkan bebas pada akhirnya dapat menerabas nilai-nilai toleransi dalam konteks dan momentum apa pun.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paradoks toleransi Popper itu kemudian bermuara pada tiga esensi yang setidaknya dapat meminimalisir antitesis toleransi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, memperbesar kelompok-kelompok masyarakat toleran. <em>Kedua</em>, membuka ruang-ruang yang lebih inklusif dengan keberagaman dan identitas. <em>Ketiga</em>, mempersempit kesempatan bagi kelompok-kelompok intoleran untuk memanfaatkan keadaan bagi kepentingannya sendiri.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal menarik yang menjadi kabar baik, perubahan sikap pelarangan Salat Idulfitri umat Muhammadiyah seolah menggambarkan bahwa fenomena <em>the power of netizen</em> Indonesia telah menjadi esensi yang telah diambil dari konsep paradoks toleransi Popper.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jalan tengah, yakni memulai toleransi dari diri/kelompok sendiri menjadi inti sari penting dari kesepahaman positif publik Tanah Air yang muncul di lini masa dalam merespons perdebatan tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, dalam dimensi yang berbeda, kejanggalan agaknya&nbsp;muncul saat terdapat kepala daerah yang melakukan penolakan dengan tendensi intoleran semacam itu. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, sikap yang lebih akomodatif akan sangat menguntungkan bagi mereka secara politik. Benarkah demikian? </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1250" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi.jpg" alt="" class="wp-image-102417" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-259x300.jpg 259w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-885x1024.jpg 885w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-130x150.jpg 130w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-768x889.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-696x806.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-1068x1236.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Infografis-SKB-Menteri-Solusi-Intoleransi-363x420.jpg 363w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Alat Politik Konstruktif?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, keengganan memberikan izin oleh beberapa pihak terhadap ibadah Salat Idulfitri umat Muhammadiyah kiranya memang mengherankan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlebih, restu akhir kebanyakan diputuskan oleh kepala daerah yang <em>notabene</em> merupakan aktor politik dan dipilih karena sebuah proses politik, yakni andil konstituen masyarakat luas. Termasuk dari umat Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tertua dan terbesar di negeri ini.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini, terlepas dari apa sebab utamanya, yang jelas politik rekognisi atau pengakuan tampaknya terabaikan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Charles Taylor dalam <em>The Politics of Recognition</em> menyebut bahwa mengekspos rekognisi eksistensi individu atau kelompok dengan identitas tertentu adalah hal vital dan mendasar bagi kebutuhan manusia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu kemudian telah bertransformasi sebagai sebuah tuntutan dalam kehidupan sosial dan politik kontemporer.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, rekognisi juga memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kekuatan pendorong di belakang berbagai gerakan nasionalis dalam politik di berbagai negara.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan, tuntutan itu lantas mengemuka dalam berbagai praktik dalam politik untuk merangkul kelompok minoritas atau <em>subaltern</em>, yang merefleksikan tiga karakter sekaligus, yakni politik multikulturalisme, politik <em>equal dignity</em> atau persamaan martabat, dan politik universalisme.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Partai Demokrat menjadi aktor yang telah membuktikan bahwa rekognisi terhadap kalangan minoritas dapat berkontribusi positif secara elektoral.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biden dan Demokrat&nbsp;menuai buah manis&nbsp;saat pengakuan bertransformasi menjadi apresiasi, simpati, dan dukungan dari kelompok-kelompok itu. Pada akhirnya, keuntungan elektoral diraih keduanya saat Pilpres AS 2020 lalu dibayangi isu identitas seperti rasialisme.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika pemahaman bahwa rekognisi terhadap minoritas pun menjadi determinan dalam dinamika dan proses politik dengan mengacu pada analisis Taylor tersebut, maka rekognisi terhadap kelompok dengan massa besar pun semestinya wajib dikelola dengan baik oleh para aktor politik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tidak mungkin, impresi polemik semacam ini akan berpengaruh secara elektoral jelang pesta demokrasi 2024. Tidak hanya bagi aktor kepala daerah, melainkan bisa saja berimplikasi pada kesan partai politik (parpol) asal mereka.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali, satu hal yang menjadi hikmah dan catatan penting di balik polemik izin Salat Idulfitri umat Muhammadiyah adalah bagaimana setiap individu dan kelompok dapat mengaktualisasikan toleransi dari diri sendiri terhadap pihak lainnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan dengan menagih toleransi, merasa eksklusif, serta meminta kelompok lain dengan keyakinannya bertenggang rasa. Tak lain, demi kehidupan yang kondusif antarumat beragama di Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. (J61)&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="8zFo6cLZeIo"><iframe loading="lazy" title="Ganjar “Menggali Kuburnya” Sendiri?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/8zFo6cLZeIo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/Sala-Ied-di-JIS-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Oknum &#8220;Palak&#8221; Pekerja Migran?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/siapa-oknum-palak-pekerja-migran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2023 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Alissa Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[Prasetyo Singgih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=126494</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipalak oknum di bandara bermunculan setelah putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid turut buka suara di Twitter. Alissa Wahid awalnya dikira PMI dari Taiwan dan kemudian diperlakukan buruk.&#160; Setelahnya, berbagai cerita langsung dan saksi mata menyebut praktik buruk dan pemalakan kepada PMI seolah bukan hal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1200" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1.jpg" alt="infografis siapa oknum palak pekerja migran 1" class="wp-image-126497" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1-768x853.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1-1068x1186.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1-1920x2133.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1-378x420.jpg 378w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1200" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2.jpg" alt="infografis siapa oknum palak pekerja migran 2" class="wp-image-126498" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2-768x853.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2-1068x1186.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2-1920x2133.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-2-378x420.jpg 378w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipalak oknum di bandara bermunculan setelah putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid turut buka suara di Twitter. Alissa Wahid awalnya dikira PMI dari Taiwan dan kemudian diperlakukan buruk.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelahnya, berbagai cerita langsung dan saksi mata menyebut praktik buruk dan pemalakan kepada PMI seolah bukan hal baru. Imigrasi, Bea dan Cukai, serta aviation security kemudian disorot. Jika benar, ini tentu sangat disayangkan mengingat PMI adalah penyumbang devisa sangat besar bagi pemasukan negara. Pakar sekaligus praktisi hukum Prasetyo Singgih menilai jika cerita itu benar, maka pungutan liar sangat memalukan. Oleh karena itu, reformasi kebijakan di bidang hukum secara total harus segera dilakukan.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Siapa-Oknum-Palak-Pekerja-Migran-1-1024x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Baliho Gus Dur Dilarang?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/baliho-gus-dur-dilarang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M78]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2022 07:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Alissa Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Baliho Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=117689</guid>

					<description><![CDATA[Alissa Wahid minta gambar Gus Dur tidak dijadikan baliho kampanye, ia mengungkapkan kalau cinta kepada Gus Dur tidak harus melalui atribut politik, karena Gusdurian tidak berpolitik. Kalaupun ada instruksi politik, diserahkan ke Yenny Wahid.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="838" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-838x1024.jpg" alt="baliho gusdur dilarang ed." class="wp-image-117694" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-838x1024.jpg 838w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-245x300.jpg 245w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-123x150.jpg 123w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-768x939.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-696x851.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-1068x1305.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-344x420.jpg 344w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed..jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 838px) 100vw, 838px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Alissa Wahid minta gambar Gus Dur tidak dijadikan baliho kampanye, ia mengungkapkan kalau cinta kepada Gus Dur tidak harus melalui atribut politik, karena Gusdurian tidak berpolitik. Kalaupun ada instruksi politik, diserahkan ke Yenny Wahid.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/baliho-gusdur-dilarang-ed.-838x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dahnil vs Alissa, Muhaimin Dicatut</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/dahnil-vs-alissa-muhaimin-dicatut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 May 2019 01:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Alissa Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Dahnil Anzar Simanjuntak]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdlotul umala]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2019]]></category>
		<category><![CDATA[perseteruan Alissa vs Dahnil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=59167</guid>

					<description><![CDATA[“Kamu boleh menulis apa saja, itu hakmu. Sama besarnya dengan hak saya untuk memilih siapa yang saya izinkan mengisi pikiran saya”. – Alissa Wahid Pinterpolitik.com Ditetapkannya Mustofa Nahrawardaya sebagai tersangka kasus ujaran kebencian dan penyebaran hoaks oleh Polri, ternyata tidak hanya memberikan dampak ke pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) ya gengs. Ternyata dampakanya meluas hingga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“</strong><strong>Kamu boleh menulis apa saja, itu hakmu. Sama besarnya dengan hak saya untuk memilih siapa yang saya izinkan mengisi pikiran saya</strong><strong>”. – Alissa Wahid</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>Pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">D</span>itetapkannya Mustofa Nahrawardaya sebagai tersangka kasus ujaran kebencian dan penyebaran hoaks oleh Polri, ternyata tidak hanya memberikan dampak ke pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) ya <em>gengs</em>. Ternyata dampakanya meluas hingga ke toko sebelah loh. <em>Hehehe.</em></p>
<p>Pasalnya nih, salah satu puteri mendiang Gus Dur juga terkena dampak tersendiri juga loh. hayo tebak kenapa? Penasaran gak nih?</p>
<p>Ceritanya gini <em>cuy</em>, awalnya Sekjen PP Muhammadiyah yaitu Abdul Muti membuat <em>statement</em> di cuitannya yang mengatakan bahwa Mustofa Nahra bukanlah pengurus dan tidak aktif lagi di PP Muhammadiyah <em>cuy</em>.</p>
<p><hr /><p><em>Ternyata perdebatan di antara Alissa dan Dahnil terkait Mustofa menjadi melebar cuy. Dahnil sampai mencatut nama Cak Imin dalam perdebatannya dengan Alissa di twitter. Wah ngawur ini Dahnil ya cuy.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Fdahnil-vs-alissa-muhaimin-dicatut%2F&#038;text=Ternyata%20perdebatan%20di%20antara%20Alissa%20dan%20Dahnil%20terkait%20Mustofa%20menjadi%20melebar%20cuy.%20Dahnil%20sampai%20mencatut%20nama%20Cak%20Imin%20dalam%20perdebatannya%20dengan%20Alissa%20di%20twitter.%20Wah%20ngawur%20ini%20Dahnil%20ya%20cuy.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Karena melihat cuitan Abdul Muti, mungkin sebagai teman sesama anggota BPN nih, Dahnil pengen memberikan pembelaan kepada Mustofa yang saat ini terkena kasus. Ahirnya doi membalas cuitan tersebut dan mengatakan kira-kira seperti ini, “pernyataan mas Abdul Muti saya kira sangat tidak bijaksana, setahu saya Mustofa Nahra ini masih aktif sebagai Majelis Pustaka dan Infromasi. Dia masih banyak membantu mewakili kegiatan yang diadakan majelis, sama seperti saya yang masih aktif sebagai Wakil Ketua Majelis”</p>
<p>Waduh, seharusnya para pengurus pusat Muhammadiyah ini sadar ya, secara etika organisasi kan nggak etis kalau urusan dapur dibuka di ruang publik. Apa lagi ini <em>digital space</em> ya <em>cuy</em>? <em>Hadeh</em>, jejak digital itu menyeramkan loh, mungkin lebih seram dari ibu tiri yang marah. <em>Hehehe.</em></p>
<p>Karena cuitan Dahnil ini, Alissa langsung ikut nimbrung dan berkomentar <em>cuy</em>. Doi menyindir Dahnil yang dulu sempat bercerita tentang Mustofa kepadanya. Kira-kira seperti ini “apa mas Dahnil tidak ingat bilang ke saya langsung, betapa kerepotan kalian dengan ulah Mustofa? Bahwa sebenarnya dia tidak benar-benar aktif di Muhammadiyah?”</p>
<p>Eh apa lagi nih, ternyata perdebatan di antara keduanya gak cukup di situ. Dahnil sampai mencatut nama Cak Imin dalam perdebatannya dengan Alissa Wahid di twitter.</p>
<p>Wadadaw, kalau sudah seperti ini sih namanya memperkeruh suasana ya <em>cuy</em>. Ibaratnya, Dahnil mengorek luka lama yang belum mulai mengering. Tau sendiri, gimana tidak sukanya Alissa Wahid dengan Cak Imin.</p>
<p>Wah, wah, wah, hebat juga ya Mustofa ini. Gara-gara dia, semua orang jadi kebawa-bawa, bahkan sampai Cak Imin yang awalnya gak terlibat.</p>
<p>Semoga Cak Imin nggak memberikan respon ya <em>cuy</em> di perang twitternya Dahnil dan Alissa Wahid, bisa tambah panjang nanti ini urusan dari Mustofa. <em>Hehehe.</em> (F46)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lt09KhpLcng"><iframe loading="lazy" title="HIKAYAT NU DAN POLITIKNYA" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lt09KhpLcng?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/Alissa-Wahid-dan-Dahnil-Anzar-berseteru-di-twitter-foto-sindonews.com_-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Alissa Wahid Sindir Jualan Cak Imin</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/alissa-wahid-sindir-jualan-cak-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F41]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2018 12:18:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Alissa Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Gusdur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=35857</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.&#8221; ~Abdurrahman Wahid PinterPolitik.com [dropcap]P[/dropcap]utri Sulung presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, menanggapi pertanyaan pemilik akun @miekuotie, yang menanyakan apakah yang mencintai Gus Dur sama dengan mencintai PKB, (haluan politiknya)? Alissa pun tegas mengatakan &#8220;Tidak. Gus Dur saja menyampaikan langsung ke saya &#8216;mereka (PKB Cak Imin) [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>&#8220;Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.&#8221; ~Abdurrahman Wahid</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d5e339;">PinterPolitik.com</span></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]utri Sulung presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, menanggapi pertanyaan pemilik akun @miekuotie, yang menanyakan apakah yang mencintai Gus Dur sama dengan mencintai PKB, (haluan politiknya)?</p>
<p>Alissa pun tegas mengatakan &#8220;Tidak. Gus Dur saja menyampaikan langsung ke saya &#8216;mereka (PKB Cak Imin) gak iso dijarno (dibiarkan), <em>nak</em>&#8216; 3 minggu sebelum beliau wafat. Saya menolak dihasut untuk mengingkari ucapan Bapak saya sendiri, langsung kepada saya.”</p>
<p><em>Wah</em>, emang Cak Imin tuh nggak boleh dibiarkan! <em>Hm</em>, tapi ngomong-ngomong jangan dibiarkan ngapain ya, <em>moon maap</em> <em>nih</em> ada banyak generasi mecin yang <em>nggak</em> terlalu suka baca sejarah. <em>Wkwkwk.</em></p>
<p>Jadi, Cak Imin atau Muhaimin Iskandar tercatat punya sejarah kelam dengan pamannya Gus Dur. <em>Doi</em> pernah diisukan mengkhianati Gus Dur dalam kisruh PKB. Sampai sekarang, internal PKB pun masih terpecah-pecah, antara yang pendukung Gus Dur dan pendukung Cak Imin.</p>
<p><hr /><p><em>Alissa Wahid sindir Cak Imin: Jangan jualan Nama Gusdur demi Kekuasaan....</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Falissa-wahid-sindir-jualan-cak-imin%2F&#038;text=Alissa%20Wahid%20sindir%20Cak%20Imin%3A%20Jangan%20jualan%20Nama%20Gusdur%20demi%20Kekuasaan....&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Tapi sekarang <em>nih Gaes</em>, Cak Imin malah jadi senang sekali memperkenalkan istilah Sudurisme. Apa itu? Yakni sebuah konsep yang menggabungkan antara Sukarnoisme dan Gus Durisme. Soekarno kan memunculkan ajaran Pancasila, marhaenisme, dan kerakyatan, sedangkan Gus Dur berhasil mempribumikan Islam di Indonesia. Cak Imin mengklaim dirinya merupakan penggabungan dari kedua tokoh itu.</p>
<p><em>Weleh-weleh</em>, yang nggak kuat mendengar kenarsisan Cak Imin boleh melambaikan tangan ke kamera ya. <em>Nggak usah</em> sedih. Nanti bisa kok aku sensor demi <em>kamohhh</em>. <em>Hehe.</em></p>
<p>Lagi pula, ternyata banyak juga pendukung Gus Dur yang nggak suka dengan cara Cak Imin menjual Gus Dur, termasuk anak-anaknya Gus Dur.</p>
<p>Menurut Alissa, yang benar-benar mencintai Gusdur pasti tidak akan menjual sosoknya hanya untuk mendulang suara politik. Mereka akan hadir justru saat ada warga yang dilemahkan. Bersama petani Kendeng, warga Ahmadiyah, korban bom, dst. Menurut Gusdur, kemanusiaan lebih penting dari politik.</p>
<p>Yaudahlah, buat Cak Imin, dari pada jualan nama Gus Dur, mending jualan yang lain <em>kek</em>. Capek nggak sih disindir-sindir dan dibilang penjilat mulu? Ketahuan kan kalo misalnya jualan cilor, sehari bisa dapet uang berapa? (E36)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/pjimage-1-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
