<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Aktivis terduga Makar &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/aktivis-terduga-makar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 May 2023 02:29:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Aktivis terduga Makar &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Titiek: Jokowi Kalahkan Soeharto!</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/titiek-jokowi-kalahkan-soeharto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 May 2019 11:30:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Aktivis terduga Makar]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Titiek Soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=58618</guid>

					<description><![CDATA[“Berbicara politik sebagai debat kebijakan, bukan kasak-kusuk elite berebut kekuasaan”. – Najwa Shihab Pinterpolitik.com Pemilu serentak 2019 kali ini meninggalkan kesan yang amat mendalam buat kita ya gengs. Dari penggunaan narasi yang berbau SARA, hingga berujung pada penangkapan banyak oknum yang diduga berpotensi melakukan tindakan makar. Dari hal ini, kita dapat memberikan evalusasi terkait bagaimana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“</strong><strong>Berbicara politik sebagai debat kebijakan, bukan kasak-kusuk elite berebut kekuasaan</strong><strong>”. – Najwa Shihab</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>Pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>emilu serentak 2019 kali ini meninggalkan kesan yang amat mendalam buat kita ya <em>gengs</em>. Dari penggunaan narasi yang berbau SARA, hingga berujung pada penangkapan banyak oknum yang diduga berpotensi melakukan tindakan makar.</p>
<p>Dari hal ini, kita dapat memberikan evalusasi terkait bagaimana sebenarnya kondisi di Indonesia. Apakah negeri ini masuk dalam kategori <em>police state</em>, oligarki, otokrasi, atau memang masih dalam taraf demokrasi yang sehat?</p>
<p>Apalagi nih <em>gengs</em>, kalau kita lihat selama beberapa hari ke belakang sebelum KPU mengumumkan hasil rekapitulasi, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah cenderung represif ya <em>cuy</em> terhadap kebebasan hak berpendapat rakyat. Apalagi kalau kita ingat kebijakan yang dibuat oleh Menko Polhukam Wiranto terkait tim asistensi hukum untuk presiden dan keinginannya untuk menutup media. <em>Beeh</em>, ingin rasanya berkata kasar ya <em>cuy</em>. <em>Uppss.</em></p>
<hr /><p><em>Kalau dipikir-pikir nih, emang bener sih katanya Titiek, bahwa kasus penangkapan terkait makar selama kepemimpinan seorang presiden di Indonesia, baru kali ini gencar banget.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Ftitiek-jokowi-kalahkan-soeharto%2F&#038;text=Kalau%20dipikir-pikir%20nih%2C%20emang%20bener%20sih%20katanya%20Titiek%2C%20bahwa%20kasus%20penangkapan%20terkait%20makar%20selama%20kepemimpinan%20seorang%20presiden%20di%20Indonesia%2C%20baru%20kali%20ini%20gencar%20banget.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Dengan banyaknya orang yang ditersangkakan karena tuduhan “makar”, jadi teringat dengan Titiek Soeharto ya <em>gengs</em>. Doi kan sempat dua kali membandingkan kepemimpinan Presiden Jokowi dengan ayahnya, Soeharto.</p>
<p>Yang pertama, doi mengatakan bahwa Pemilu kali ini lebih curang dari era Pak Harto. Nah yang kedua nih <em>cuy</em>, doi membandingkan bahwa pemerintah saat ini sedikit-sedikit dituduh makar. Dia menilai bahwa di zaman Pak Harto tidak seperti saat ini. Kondisi di era Jokowi ini menurutnya lebih gila.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir nih, emang bener sih katanya Titiek, bahwa kasus penangkapan terkait makar selama kepemimpinan seorang presiden di Indonesia, baru kali ini gencar banget. Bahkan nih, kalau dibandingkan, sejak era Soekarno hingga SBY, tindakan makar memang ada, tapi jumlah orang yang jadi tersangkanya tidak lebih banyak daripada sekarang.</p>
<p>Di era Soekarno misalnya, hanya ada Daniel Alexander Maukar yang dituduh makar pada tahun 1960. Sedangkan era Soeharto yang berkuasa selama lebih 32 tahun, tindakan makar terjadi pada tahun 1976, 1986, 1991, dan 1998. Era Gus Dur terjadi satu kali pada 2001. Sedangkan di era SBY terjadi pada tahun 2007 yang dilakukan oleh Daniel Malawaw dan Hermanus Dasera.</p>
<p>Dari sisi jumlah kasus, emang zaman itu lebih banyak. Tapi kalau dari jumlah pelaku yang ditangkap, era Jokowi lebih banyak. Dalam 5 tahun ini sudah 18 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka makar. <em>Hadeh.</em></p>
<p>Jadi, di satu sisi Titiek emang benar sih. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa di era Soeharto, kalau ada orang yang sekali saja protes, <em>be</em><em>e</em><em>h</em> besoknya sudah hilang alias lenyap gak tau ke mana. Mungkin sudah dimasukkan karung dan dibuang ke laut kali. <em>Upppss, </em>itu kata banyak buku dan majalah yang membahas era itu loh. <em>Hehehe.</em></p>
<p>Kalau kondisinya seperti itu, kira-kira lebih suka mana nih, dituduh makar atau tiba-tiba dihilangkan? <em>Upppsss,</em> mending makaryo alias bekerja aja ya gengsZaman sekarang kalau nggak ada duit mah susah mau ngapa-ngapain. <em>Hehehe.</em> (F46).</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lt09KhpLcng"><iframe title="HIKAYAT NU DAN POLITIKNYA" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lt09KhpLcng?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/Titiek-menuding-pemerintahan-Jokowi-lebih-buruk-dari-Pak-Harto-foto-Arrahman.com_.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KAPOLRI UNGKAP ALASAN PENANGKAPAN AKTIVIS TERDUGA MAKAR</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/belajar-politik/kapolri-ungkap-alasan-penangkapan-aktivis-terduga-makar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S21]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2016 04:36:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Belajar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Aktivis terduga Makar]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolri]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolri Jenderal Tito Karnavian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=722</guid>

					<description><![CDATA[Sebelum aksi super-damai 2 Desember 2016 lalu digulirkan, banyak pihak menarik Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) untuk ikut dalam upaya makar, seperti yang dilansir dari pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar. Senada dengan Irjen Pol Boy Rafli Amar, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pun menyebut ada pihak yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sebelum aksi super-damai 2 Desember 2016 lalu digulirkan, banyak pihak menarik Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) untuk ikut dalam upaya makar, seperti yang dilansir dari pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Senada dengan Irjen Pol Boy Rafli Amar, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian pun menyebut ada pihak yang ingin mendompleng aksi super-damai 2 Desember 2016 untuk kepentingan politik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Tito, ada dua latar belakang utama mengapa penangkapan tersebut dilakukan. Pertama, sudah ada permintaan dari pihak Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) sebagai penyelenggara aksi, agar kegiatan ibadah tersebut tak disusupi kepentingan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan kedua, Polri memang sudah selayaknya mengambil langkah antisipasi terhadap indikasi dugaan makar ini, karena rencana mengerahkan massa menduduki DPR itu sebagai upaya inkonstitusional yang wajib dihalangi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenai upaya makar itu, kata Boy, tim provokator sudah disiapkan untuk mengalihkan massa aksi ke Gedung DPR. Namun, sebelum hal itu terjadi, Polri lebih dulu menangkap para oknum aktivis tersebut pada Jumat pagi sebelum aksi dilakukan. Polisi sudah mengamankan 11 oknum aktivis terduga pelaku makar dan Polri masih memburu provokator makar di lapangan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2016/12/Tito-Karnavian-Apel-Siaga-Monas-1024x646.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
