<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>17 Agustus 1945 &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/17-agustus-1945/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Aug 2023 02:20:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>17 Agustus 1945 &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Indonesia Merdeka Karena Radio?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/indonesia-merdeka-karena-radio/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S83]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2023 05:21:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus 1945]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kemerdekaan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-78]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamasi]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamasi Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[radio]]></category>
		<category><![CDATA[radio era kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sutan Sjahrir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=133840</guid>

					<description><![CDATA[Pada era kemerdekaan, radio menjadi salah satu media komunikasi yang sering digunakan untuk penyebaran sebuah informasi secara luas. Bahkan, radio juga disebut mempunyai peran penting terhadap kemerdekaan Indonesia. PinterPolitik.com Kecepatan penyampaian informasi pada era kemerdekaan tidak bisa semudah akses terhadap sebuah informasi di era digital seperti sekarang ini. Sebagai salah satu media komunikasi massa yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pada era kemerdekaan, radio menjadi salah satu media komunikasi yang sering digunakan untuk penyebaran sebuah informasi secara luas. Bahkan, radio juga disebut mempunyai peran penting terhadap kemerdekaan Indonesia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Kecepatan penyampaian informasi pada era kemerdekaan tidak bisa semudah akses terhadap sebuah informasi di era digital seperti sekarang ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai salah satu media komunikasi massa yang paling efektif pada masa itu, radio memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi, memotivasi massa, dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan perlawanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan adanya radio, mempermudah seluruh masyarakat pada saat itu untuk mengakses informasi secara tepat dan cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain lewat radio, biasanya penyampaian informasi secara luas pada era itu juga biasa dilakukan melalui surat kabar. Namun, efektivitas penyampaian informasi melalui surat kabar berbeda ketika dilakukan melalui radio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Radio kemudian pada akhirnya menjadi salah satu alat utama dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat luas mengenai perkembangan perjuangan kemerdekaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada masa itu Indonesia menggunakan radio sebagai sarana untuk menyampaikan pidato-pidato penting, pengumuman, dan berita terkini kepada rakyat.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus.jpg" alt="akhirnya belanda akui kemerdekaan 17 agustus" class="wp-image-130736" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-696x837.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-1068x1285.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-1920x2311.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-348x420.jpg 348w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini memungkinkan informasi penting dapat tersebar dengan cepat dan akurat kepada masyarakat, membangkitkan semangat nasionalisme, dan merangsang partisipasi aktif dalam perjuangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Radio pada masa itu juga digunakan untuk memotivasi dan membangkitkan semangat perjuangan rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program-program radio yang berisi ceramah, lagu-lagu perjuangan, dan pidato-pidato nasionalis menjadi sarana untuk menginspirasi rakyat dalam menghadapi tantangan penjajahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, selain digunakan untuk kepentingan perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan, radio juga tak jarang digunakan para penjajah seperti Belanda dan Jepang untuk menyebarkan propaganda mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Radio kiranya juga berperan penting dalam mengoordinasikan pergerakan perlawanan melawan penjajah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesan rahasia dan kode-kode tertentu disampaikan melalui siaran radio, memungkinkan kelompok-kelompok perlawanan untuk berkomunikasi dan mengatur strategi tanpa mudah terdeteksi oleh penjajah.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tempat Munculnya Nasionalisme?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Radio telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, menandai kekuatan media massa dalam membentuk opini publik dan mempengaruhi perjalanan sejarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang Indonesianis dari Cornell University Benedict Anderson yang memang secara khusus meneliti nasionalisme di Indonesia sebagai suatu konsep, mengakui jika Indonesia mempunyai konsep nasionalisme yang unik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat slogan <em>Bhinneka Tunggal Ika </em>Indonesia dapat bersatu meski berbeda suku bangsa, regional, dan agama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Anderson berpandangan jika nasionalisme di Indonesia tidak terbentuk begitu saja tanpa adanya contoh dari apa yang terjadi di Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih tepatnya, Anderson meyakini jika nasionalisme di Indonesia adalah duplikasi dari nasionalisme Amerika Serikat (AS) dan Revolusi Prancis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bukunya yang berjudul <em>Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism</em> Anderson menjelaskan jika nasionalisme adalah proses <em>top-down </em>yang dijalankan oleh elit politik dan bersatu dengan kapitalisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, nasionalisme dan persatuan suatu bangsa merupakan hasil khayalan atau imajinasi yang di konstruksi sesuai kepentingan elite.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sebuah konstruksi imajinasi tentang nasionalisme itu kemudian menghasilkan kelompok-kelompok revolusi yang terdiri dari para pemuda pada zaman itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bukunya yang lain berjudul <em>Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan Di Jawa 1944-1946,</em> Benedict Anderson menjelaskan munculnya generasi dengan kesadaran baru itu juga tak lepas dari peran Jepang yang saat itu menggalang kaum muda di Jawa untuk melawan sekutu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui kelompok-kelompok pemuda itu, muncul bibit semangat revolusi yang diberikan dalam berbagai bentuk, salah satunya stasiun radio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Radio kemudian semacam menjadi “senjata makan tuan” bagi Jepang. Berbagai semangat revolusi para pemuda kemudian muncul kembali dalam bentuk dan tujuan yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasca kekalahan Jepang dari sekutu, radio kemudian menjadi media para pemuda Indonesia untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan kemerdekaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Propaganda anti-imperialisme juga disiarkan melalui radio sehingga membantu memperkuat rasa persatuan dan nasionalisme di kalangan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, lewat radio pula masyarakat Indonesia saat itu mengetahui akan kemerdekaan bangsanya setelah pembacaan teks proklamasi disiarkan lewat radio ke seluruh penjuru Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, tak berlebihan rasanya jika radio jamak dinilai mempunyai peran penting terhadap konstruksi imajinasi nasionalisme yang tumbuh di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat radio, konstruksi imajinasi para tokoh bangsa Indonesia tentang sebuah kemerdekaan dapat disampaikan dan dikemas dengan bumbu nasionalisme atau kebanggaan sebagai bangsa yang besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Radio juga membantu mengatasi kendala geografis yang ada di Indonesia. Seiring dengan luasnya wilayah Indonesia, radio memungkinkan pesan-pesan kemerdekaan dapat diakses oleh seluruh penjuru tanah air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal Ini menjadi sangat penting dalam membangun rasa kesatuan dan kesadaran nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa radio, informasi akan konstruksi imajinasi para tokoh bangsa itu boleh jadi tidak akan sampai secara efektif pada masyarakat.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia.jpg" alt="10 negara pertama akui kemerdekaan indonesia" class="wp-image-114710" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/10-Negara-pertama-akui-kemerdekaan-Indonesia-336x420.jpg 336w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bagian dari Alat Perjuangan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, radio memainkan peran yang sangat vital dalam menyebarkan informasi, membangkitkan semangat, mengoordinasikan pergerakan, dan mengatasi kendala geografis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kemampuannya dalam mencapai massa yang luas, radio membantu memperkuat semangat nasionalisme dan persatuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan perspektif penjajah, radio justru dipandang sebagai sesuatu yang dapat membahayakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rosihan Anwar dalam bukunya <em>Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya </em>menjelaskan bahwa ketika Jepang pertama kali tiba di Indonesia, hal pertama yang mereka lakukan adalah menyegel stasiun radio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jepang memutuskan untuk memusatkan otoritas radio-radio di Indonesia di bawah pengawasan <em>Nippon Hoso Kyokai </em>(NHK).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siaran-siaran yang mengudara di Indonesia diawasi secara ketat, sementara siaran dari luar negeri diputus oleh pemerintah Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu sosok penggerak kemerdekaan Indonesia Sutan Sjahrir berhasil lolos dari sensor dari pemerintah Jepang. Sjahrir saat itu memang mempunyai sebuah radio kesayangan yang disembunyikan di kamar tidurnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Radio itu dapat menangkap saluran siaran dari luar negeri yang tidak terkena sensor pemerintah Jepang. Memiliki radio ilegal semacam itu adalah hal yang sangat berisiko tinggi pada zaman itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu siaran yang kiranya menjadi titik balik bagi kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari peran Sjahrir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat masa pengasingannya, Sjahrir mendengar informasi siaran radio dari Brisbane jika Jepang telah menyerah pada sekutu setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah mendengar kabar itu, Sjahrir lantas memberitahu teman-temanya seperti Wikana, Chaerul Saleh dan Darwis untuk mendesak golongan tua segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, kemudian terjadilah peristiwa Rengasdengklok yang menjadi salah satu rangkaian peristiwa bersejarah sebelum kemerdekaan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain berperan dalam proses menuju kemerdekaan, radio juga memiliki peran setelah pembacaan teks proklamasi. Berita tentang Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal saat itu pemimpin tentara Jepang di Indonesia, Jenderal Yamamoto telah memerintahkan untuk tidak menyebarkan berita proklamasi. Kantor Berita Domei dan Harian Asia Raya pun dilarang memuat berita itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi, larangan itu tidak digubris oleh para pemuda yang kemudian menyerahkan teks proklamasi untuk disiarkan secara langsung oleh stasiun radio Domei hingga tiga kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rangkaian kejadian diatas mencerminkan betapa pentingnya peran radio pada sebelum, saat, dan pasca pembacaan teks proklamasi. Jadi tak berlebihan kiranya jika kita menyebutkan Indonesia dapat merdeka karena radio. (S83)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="DQ9axCJAn88"><iframe title="Kuasa Starlink di Ukraina: Bicara Teknologi AI bersama Jenderal Andika Perkasa | One Step Closer" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/DQ9axCJAn88?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/08/indonesia-radio-sejarah-1024x512.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi Mutakhir Perantara Kemerdekaan RI</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/teknologi-mutakhir-perantara-kemerdekaan-ri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Aug 2023 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[17 agustus]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus 1945]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamasi]]></category>
		<category><![CDATA[Proklamasi Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=133763</guid>

					<description><![CDATA[PinterPolitik.com Perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan suatu periode bersejarah yang penuh dengan semangat juang dan pengorbanan. Dalam menghadapi penjajah, bangsa Indonesia tidak hanya mengandalkan semangat patriotisme dan keberanian, tetapi juga memanfaatkan teknologi yang ada pada masa itu untuk mendukung perjuangan mereka. Meskipun belum sekompleks teknologi modern saat ini, namun berbagai bentuk teknologi tetap memberikan kontribusi penting [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan suatu periode bersejarah yang penuh dengan semangat juang dan pengorbanan. Dalam menghadapi penjajah, bangsa Indonesia tidak hanya mengandalkan semangat patriotisme dan keberanian, tetapi juga memanfaatkan teknologi yang ada pada masa itu untuk mendukung perjuangan mereka. Meskipun belum sekompleks teknologi modern saat ini, namun berbagai bentuk teknologi tetap memberikan kontribusi penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Komunikasi Telegraf</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu teknologi yang digunakan pada era perjuangan kemerdekaan adalah komunikasi telegraf. Meskipun masih terbatas dan tidak secepat teknologi komunikasi saat ini, telegraf membantu dalam mengirimkan pesan penting antar wilayah secara cepat. Penggunaan telegraf membantu koordinasi antara para pemimpin perjuangan di berbagai wilayah Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Pencetakan dan Penerbitan Surat Kabar</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Meskipun tidak sehebat teknologi cetak modern, surat kabar berperan penting dalam menyebarkan informasi mengenai perjuangan kemerdekaan. Berita tentang peristiwa, pemimpin perjuangan, dan ideologi nasionalisme tersebar melalui surat kabar, membantu menggalang dukungan rakyat dan membangun kesadaran nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Siaran Radio</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Teknologi radio menjadi alat vital dalam menyampaikan pesan-pesan perjuangan kepada masyarakat luas. Pemimpin perjuangan menggunakan radio untuk memberikan arahan, menyebarkan semangat juang, dan menginformasikan perkembangan terbaru kepada penduduk di seluruh pelosok Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>4. Senjata Sederhana</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun senjata yang digunakan belum setara dengan senjata modern, teknologi senjata tetap memberikan andil dalam perjuangan. Senjata sederhana seperti bambu runcing, keris, dan senapan angin digunakan oleh pejuang untuk melawan penjajah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>5. Perangkat Tulis-Membaca</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tampak sederhana, perangkat tulis-membaca seperti pena, kertas, dan buku berperan penting dalam menyebarkan ideologi kemerdekaan dan mencatat sejarah perjuangan. Dokumen-dokumen penting, pidato, dan literatur nasionalis dikembangkan menggunakan teknologi ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>6. Pertanian dan Perkebunan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun tidak terlihat sebagai teknologi canggih, pertanian dan perkebunan juga berperan penting dalam mendukung perjuangan kemerdekaan. Pangan dan sumber daya alam lokal menjadi sumber vital bagi perjuangan dan kemandirian nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun teknologi pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak sebanding dengan teknologi modern, namun penggunaannya tetap memiliki dampak signifikan dalam mendukung perjuangan bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemampuan untuk berkomunikasi, menyebarkan informasi, dan memobilisasi rakyat adalah hal yang penting dalam menggalang dukungan dan memperkuat semangat perjuangan. Keberanian dan semangat juang pejuang Indonesia yang didukung oleh berbagai bentuk teknologi tersebut menjadi pondasi sekaligus perantara dalam meraih kemerdekaan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="DQ9axCJAn88"><iframe loading="lazy" title="Kuasa Starlink di Ukraina: Bicara Teknologi AI bersama Jenderal Andika Perkasa | One Step Closer" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/DQ9axCJAn88?start=234&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/08/indonesia-radio-sejarah-1024x512.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Kemerdekaan dari Belanda Percuma?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pengakuan-kemerdekaan-dari-belanda-percuma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F92]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jun 2023 07:11:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus 1945]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Exceptionalism]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan Perang]]></category>
		<category><![CDATA[mark rutte]]></category>
		<category><![CDATA[Pengakuan Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[PM Belanda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=130913</guid>

					<description><![CDATA[Pemerintah Belanda melalui Perdana menteri (PM) Mark Rutte resmi mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Di satu sisi, Pemerintah Belanda masih tidak mengakui apa yang telah diperbuatnya di masa lalu sebagai kejahatan perang. Lantas, apa yang membuat Belanda seolah setengah-setengah dalam menyelesaikan “dosa masa lalu” dengan Indonesia?&#160; PinterPolitik.com Perdebatan panjang selama 78 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pemerintah Belanda melalui </strong><strong>P</strong><strong>erdana </strong><strong><s>m</s></strong><strong>enteri </strong><strong>(PM) </strong><strong>Mark Rutte resmi mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Di</strong><strong> </strong><strong>satu sisi</strong><strong>,</strong><strong> Pemerintah Belanda masih tidak mengakui apa yang telah diperbuatnya di masa lalu sebagai kejahatan perang. Lantas</strong><strong>,</strong><strong> apa yang membuat Belanda seolah setengah-setengah dalam menyelesaikan “dosa masa lalu” dengan Indonesia?</strong>&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Perdebatan panjang selama 78 tahun antara pemerintah Indonesia dengan Belanda mengenai tanggal proklamasi kemerdekaan RI tampaknya akan segera berakhir.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini setelah pada tanggal 14 Juni 2023 lalu tepatnya di Parlemen Belanda (<em>Tweede Kamer</em>) pemerintah Belanda lewat Perdana Menteri (PM) Mark Rutte secara resmi mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama ini, Belanda mengakui tanggal kemerdekaan Indonesia sesuai dengan tanggal penyerahan kedaulatan Konferensi Meja Bundar yaitu 27 Desember 1949.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI telah menjadi perseteruan panjang antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Tidak diakuinya tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia mengakibatkan periode perang selama tahun 1945-1949 tidak dianggap sebagai bentuk agresi militer terhadap sebuah negara berdaulat.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut perspektif Indonesia, periode 1945-1949 dikenal sebagai &#8220;Perang Kemerdekaan&#8221; yang ditandai dengan serangkaian kekerasan oleh tentara Belanda terhadap masyarakat sipil. Sementara itu, Belanda menyebut tahun 1945-1949 sebagai periode “bersiap”.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lambat laun, di tahun 2022 Belanda mulai mengakui apa yang dilakukannya, namun hanya dengan frasa  &#8220;kekerasan ekstrem&#8221; setelah terbitnya hasil penelitian yang berjudul <em>Kemerdekaan, dekolonisasi, kekerasan, dan perang di Indonesia, 1945-1950</em>.  </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus.jpg" alt="akhirnya belanda akui kemerdekaan 17 agustus" class="wp-image-130736" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-768x924.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-696x837.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-1068x1285.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-1920x2311.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/akhirnya-belanda-akui-kemerdekaan-17-agustus-348x420.jpg 348w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penelitian ini dilakukan oleh tiga lembaga <em>think tank</em> asal Belanda yaitu Netherlands Institute for War, Holocaust, and Genocide Studies, Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, dan Netherlands Institute of Military History.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perdebatan mengenai dugaan kekerasan yang dilakukan tentara Belanda selama perang kemerdekaan pertama kali muncul di tahun 1969 setelah media Belanda mewawancarai seorang veteran bernama Johan Engelbert (Joop) Heuting.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam wawancara tersebut, Heuting secara gamblang mengakui adanya praktik eksekusi dan kekerasan yang dilakukan tentara Belanda terhadap masyarakat sipil selama melakukan penyerangan ke Yogyakarta pada bulan Desember 1948.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Balik pengakuan adanya kekerasan dan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia muncul ketidakpuasan dari kalangan akademisi Indonesia. Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Margana menganggap Pemerintah Belanda masih setengah hati mengakui kesalahannya di masa lalu.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Sri Margana sikap pemerintah Belanda masih abu-abu lantaran tidak menyetujui tindakan yang telah mereka lakukan di masa lalu sebagai &#8220;kejahatan perang&#8221;.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Artinya, secara yuridis mereka masih mengakui kemerdekaan itu adalah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949 itu,&#8221; ujar Margana yang seolah menyayangkan pengakuan setengah hati Belanda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justifikasi Belanda untuk tidak menyetujui istilah kejahatan perang dikarenakan pada waktu itu Konvensi Jenewa 1949 belum disepakati.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Masa kekerasan itu terjadi sebelum Konvensi Jenewa. Kesimpulannya kami tidak setuju itu kejahatan perang secara yuridis. Secara moral, ya, tapi tidak secara yuridis,&#8221; begitu terjemahan penyataan  Rutte di Parlemen Belanda pada tanggal 14 Juni 2023 lalu. </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1200" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi….jpg" alt="infografis belanda minta maaf tapi…" class="wp-image-120945" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi….jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi…-768x853.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi…-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi…-1068x1186.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi…-1920x2133.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/infografis-Belanda-Minta-Maaf-Tapi…-378x420.jpg 378w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sikap Pemerintah Belanda yang tidak mengakui kejahatan perang selama masa pendudukannya di Indonesia menimbulkan kekecewaan di pihak Indonesia dan memunculkan pertanyaan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kira-kira apa yang membuat Belanda seolah masih setengah hati untuk mengakui perbuatannya di masa lalu? Apakah ada maksud lain dari diakuinya tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia?&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bukan Berfokus Pada Indonesia?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan PM Mark Rutte untuk mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari tekanan politik di dalam negeri Belanda itu sendiri.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai-partai progresif selama ini memberikan perhatian terhadap masalah keterlibatan Belanda dalam melakukan kolonialisme di masa lalu. Misalnya, partai hijau Belanda GroenLinks yang selama ini aktif menekan pemerintah Belanda untuk bertanggung jawab atas penjajahan yang dilakukan di Indonesia dan Suriname. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, kelompok intelektual dan kaum muda juga seringkali menekan Pemerintah Belanda agar mengakui apa yang telah mereka perbuat di masa lalu sebagai sebuah kejahatan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila melihat tekanan politik dari dalam negeri sebagai faktor pendorong pemerintah Belanda mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia, tampaknya pengakuan ini bukan berfokus pada Indonesia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan PM Mark Rutte untuk mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia boleh jadi hanya sekedar strategi <em>political bridging</em> untuk menarik dukungan dari kelompok yang berseberangan dengan ideologi partainya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini mengingat bahwa PM Mark Rutte berasal dari partai&nbsp; People&#8217;s Party for Freedom and Democracy yang berhaluan konservatif liberal sehingga minim dukungan dari kelompok progresif.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut ilmuwan politik asal Amerika Serikat Jane Mansbridge, melalui <em>political bridging</em> seorang politisi mampu memperluas basis dukungan dari kelompok yang memiliki ideologi berbeda dengannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegunaan <em>political bridging </em>sendiri sudah menjadi hal lumrah di dalam dunia perpolitikan. Hal ini misalnya dilakukan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron yang berusaha menarik suara dari kelompok Islam dengan tujuan mengalahkan lawan politiknya Marine Le Pen.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Macron memanfaatkan wacana Islamophobia yang digunakan oleh Le Pen untuk menarik simpati dari kalangan umat Muslim Perancis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di satu sisi, selama masa kepresidenannya, Macron juga beberapa kali mendapatkan kritik. Misalnya, keputusan Macron yang tidak memenjarakan jurnalis Charlie Hebdo setelah menghina Islam.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, sikap pemerintah Belanda menolak istilah kejahatan perang memiliki kemiripan dengan apa yang dilakukan Amerika Serikat (AS) ketika melakukan intervensi militer di negara luar melalui apa yang kemudian dikenal sebagai <em>exceptionalism</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Robert Patman dalam jurnalnya berjudul <em>Globalisation, The New US Exceptionalism and The War on Terror</em> menilai <em>exceptionalism </em>telah dijadikan justifikasi bagi AS atas keterlibatannya dalam berbagai kasus pelanggaran HAM dan pelanggaran hukum internasional. Hal ini kemudian berujung pada kebijakan dan langkah politik luar negeri yang secara kasat mata menjadi berstandar ganda<em>.</em>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, melihat adanya maksud terselubung dari pengakuan tanggal proklamasi kemerdekaan RI tampaknya akan semakin menghambat usaha rekonsiliasi antara Belanda dengan Indonesia terutama terhadap para keturunan korban perang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, jika sampai pada interpretasi ini, apakah bangsa Indonesia akan semakin sulit untuk memaafkan apa yang telah diperbuat Belanda di masa lalu? </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1329" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed..jpg" alt="" class="wp-image-95020" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed..jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-244x300.jpg 244w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-832x1024.jpg 832w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-122x150.jpg 122w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-768x945.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-324x400.jpg 324w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-696x856.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-1068x1314.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Belanda-minta-maaf-ke-indonesia-ed.-341x420.jpg 341w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Alat Politik, Mustahil Dimaafkan?</strong> </h2>



<p class="wp-block-paragraph">Banyaknya korban di kalangan sipil tampaknya akan menjadi hambatan bagi masyarakat Indonesia untuk menerima permintaan maaf dari pemerintah belanda meskipun telah mengakui adanya kekerasan ekstrem dan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam jurnal yang ditulis oleh Benedict Anderson berjudul <em>Indonesian Nationalism Today and in The Future, </em>pengalaman bangsa Indonesia menjadi negara jajahan dan mempertahankan kemerdekaan telah menjadi bagian dari identitas budaya nasional.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, seringkali beberapa tokoh populis di Indonesia memanfaat sejarah penjajahan Belanda dan perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk menciptakan polarisasi di masyarakat.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya saja penyebutan atau <em>Londo ireng</em> (Belanda hitam) terhadap kelompok atau individu yang memiliki pandangan politik berbeda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amos Sukamto dan Rudy Pramono dalam jurnalnya berjudul <em>The Roots of Conflicts between Muslims and Christians in Indonesia in 1995–1997</em> menyebut selama era kolonial, penganut agama kristen di Indonesia sering dicap sebagai <em>Londo ireng</em> (Belanda hitam) atau pengkhianat karena dianggap memiliki kedekatan dengan penjajah Belanda.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amos dan Rudy juga menyebut hingga saat ini penggunaan frasa <em>Londo ireng</em> masih sering digunakan oleh para tokoh populis untuk menarik dukungan dari kelompok konservatif untuk menggambarkan kelompok yang dianggap sebagai “pengkhianat negara” karena latar belakang identitasnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang dilakukan oleh sejumlah politisi di Indonesia itu dapat disebut sebagai <em>Dog Whistle Politics</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Matthew A. Baum dan Phil Gussin dalam bukunya berjudul<em> Dog Whistle Politics: Multivocal Communication and the Politics of Disgust </em>mendefinisikan <em>Dog Whistle Politics</em> sebagai penggunaan sinyal yang disamarkan dalam komunikasi politik untuk merangsang perasaan negatif terhadap kelompok tertentu tanpa secara eksplisit menyebutkan kelompok tersebut.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alih-alih memperkuat persatuan, sejarah perjuangan kemerdekaan justru digunakan untuk tujuan politis. Hal ini kemudian mengakibatkan masyarakat Indonesia tidak bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, tentunya secara relevan dan objektif di masa kini.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampak dari Perang Kemerdekaan tidak hanya menjadi persoalan bagi Belanda tetapi juga Indonesia sebagai negara yang terjajah.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, apa yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini tampaknya menunjukan ada hal yang lebih penting dari hanya sekedar pengakuan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia. (F92)&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="OLPa-IqAnT8"><iframe loading="lazy" title="Koes Plus Jadi Intel Soekarno?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/OLPa-IqAnT8?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/06/mark-rutte-jokowi-1024x567.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
