Soal Perempuan, Mahfud ‘Mirip’ Trump?

Soal Perempuan Mahfud Mirip Trump
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. (Foto: Media Indonesia)
4 minute read

We teach girls that they cannot be sexual beings in the way that boys are” – Chimamanda Ngozi Adichie, penulis asal Nigeria


PinterPolitik.com

Hai, gengs. Sebelum lebih lanjut menikmati sajian tulisan ini, coba dibaca beberapa kalimat berikut, “Seperti Corona ini, saya kemarin mendapat meme dari teman, dari Pak Luhut Pandjaitan tuh begini. Dalam bahasa Inggris, ‘Corona is like your wife, is easily you try to control it then you realize that you can’t, then you learn to live with it‘. Corona itu seperti istrimu ketika engkau mau mengawini, kamu berpikir kamu bisa menaklukkan dia. Tapi, sudah jadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu. Sesudah itu apa? Then you learn to live with it. Kemudian kamu berdamai dengan dia,” kata Pak Mahfud MD saat halal bi halal virtual bersama keluarga besar Universitas Sebelas Maret (UNS).

Apa yang terlintas di pikiran kalian, gengs, saat membaca pesan itu? Hayo, jangan malu-malu. Lha, wong Pak Mahfud aja los tanpa teding aling-aling begitu kok. Pasti kalian kaget ya? Merasa “kok seksis sih sekelas Pak Mahfud”? Atau jangan-jangan bingung dengan terjemahan kalimat try to control yang diartikan mengawini, kan?

Sama, mimin juga aslinya bingung. Gini lho, cuy, terlepas dari kita mau suka atau tidak sama Pak Mahfud, jujur saja dehperkataan beliau agak seksis sih menurut mimin. Hadeuh.

Mimin jadi ingat dua kisah deh. Pertama, kisah guru bela dirinya Sun Goku yang hidup di pulau kecil bernama Kame-sennin. Kakek genit ini sangat lihai memainkan jurus kamehameha, sekaligus lihai menggoda dengan bahasa lugu. Bagusnya, si Kakek tidak pernah mengeluarkan bahasa menghina lawan jenis secara seksis. Keren deh pokoknya.

Juga, selain itu, ada kisah saat Donald Trump berperilaku seksis ke salah satu pembawa acara Debat Calon Presiden Partai Republik. Saat itu, acara dipandu Megyn Kelly, presenter perempuan yang terkenal itu, cuy.

Nah, Trump ini merasa tidak mendapatkan perlakuan adil dari Kelly saat si moderator menanyakan tentang Trump yang kerap menggunakan bahasa seksis ke perempuan di Twitter-nya. Setelah debat, beberapa waktu berselang, Trump ditanya oleh CNN tentang kejadian itu, dan doi menjawab, “Anda dapat melihat, ada darah keluar dari matanya, darah keluar dari dia (Kelly) di manapun.”

Nah, dari kedua kisah itu, paham kan betapa penting bahasa itu. Barangkali, oleh karena kebebasan yang ditawarkan oleh dunia media sosial (medsos) serta suguhan yang banyak, pemangku jabatan juga punya minat untuk saling berkirim meme yang tersebar di dunia maya. Jadi, kita anggap wajar ya kirim-kiriman meme antar kedua tokoh andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini. Yang agak kurang wajar itu, saat meme yang ada, diterjemahkan secara pribadi kemudian diperdengarkan ke publik dengan makna yang sedikit vulgar.

Gini, lho, cuy, dalam memanfaatkan media sosial, para masyarakat yang berada di dalamnya memang membentuk semacam bahasa kebersamaan yang bisa dipahami antar orang-orang yang berinteraksi di dalamnya. Ya, mimin mungkin dipaksa harus berpikir begitu, bahwa Pak Luhut dan Pak Mahfud punya bahasa sendiri, di mana maksud pembicaraancuma mereka berdua yang tahu.

Mimin berusaha berpikir begitu sih, tapi gak bisa. Naluri mimin masih berpikir bahwa secanggih-canggihnya bahasa isyarat sekalipun, kalau sudah di bawah ke ranah publik, kudu menyesuaikan sama etika kan.

Jadi, mohon ini jadi perhatian bagi para pemimpin ke depannya, ya. Kan kasihan mimin nih masih anak kecil sudah harus dengar kata “mengawi**”. Sensor saja, mimin takut pembaca ada yang masih lugu, kayak akyu. Hehehe.

Ini bukan berarti kita nyolek Pak Mahfud secara personal ya, cuy. Kami tetap menghormati beliau, tapi kita hanya berniat mengingatkan bahwa, ketika seorang pejabat publik berbicara, itu akan disorot oleh banyak pihak. Jadi ke depannya mungkin harus lebih ditahan ya pak. Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.