Soal Banjir, Anies Butuh Avatar?

Soal Banjir Anies Butuh Avatar
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ketika meninjau lokasi banjir di Jakarta Barat. (Foto: Istimewa)
3 minute read

“There’s a choice we’re making. We’re saving our own lives” – Artists for Haiti


PinterPolitik.com

Bencana banjir pada awal tahun 2020 boleh jadi menyisakan kerugian dan duka mendalam bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Berbagai wilayah di Jakarta, Tangerang, hingga Bekasi terendam air banjir setinggi 5 sentimeter (cm) hingga 5 meter (m).

Tragedi awal tahun ini tentu membuat masyarakat mengeluh. Tak jarang para warganet melontarkan kritik-kritiknya terhadap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada akhirnya menjadi bulan-bulanan di media sosial. Lini masa dan berita-berita di media massa juga diwarnai perdebatan-perdebatan mengenai kinerja mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Perbandingan kondisi banjir antara ketika Anies menjabat dan ketika Basuki Tjahaja Purnama (BTP atau Ahok) menjadi gubernur misalnya, mewarnai beberapa situs media daring. Bahkan, meski Ahok akhir-akhir ini tak berkomentar banyak mengenai banjir Jakarta, beberapa warganet mengunggah video ketika beliau mengkritik Anies di masa lampau.


Selain warganet, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono juga mengkritik kinerja Anies. Beliau menilai pemerintahan Jakarta lambat dalam melakukan normalisasi Sungai Ciliwung.

Mendengar pendapat Pak Basuki, Pak Anies menanggapi dengan menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah air yang datang dari selatan Jakarta. Maka dari itu, Pak Gubernur menyebutkan bahwa wilayah-wilayah yang ada di selatan Jakarta – seperti Bogor – perlu mengendalikan air dari hulu.

­Perdebatan itu ternyata nggak berhenti di Pak Basuki dan Pak Anies, malah berlanjut nih ke Bupati Bogor Ade Yasin. Beliau menyanggah pernyataan Anies dan bilang kalau Bu Ade sendiri bukanlah seorang avatar yang bisa mengendalikan air dengan kekuatannya.

Waduh, pakai ngelibatin avatar juga nih. Keren juga sih kalau misalnya nanti ada avatar yang bisa mengendalikan air banjir. Tapi ya, masa harus nungguin avatar biar masalahnya selesai? Kehadiran Aang sebagai Avatar aja harus nunggu ratusan tahun lho.

Ya, daripada saling menyalahkan begini, mungkin, masing-masing pihak perlu saling bekerja sama guna mengatasai masalah ini. Apalagi nih ya, bencana banjir lalu menimpa tidak hanya  Jakarta, melainkan juga Tangerang dan Bekasi.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga udah bilang kok kalau persoalan banjir ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta karena terdapat faktor-faktor lain, seperti minimnya serapan air di dataran-dataran tinggi.

Selama hanya saling menyalahkan dan minim koordinasi antarpemerintah daerah, bukan nggak mungkin nih bencana banjir akan datang kembali dan merugikan banyak pihak. Mungkin, masing-masing pihak perlu menurunkan ego dan bekerja sama untuk kebaikan masyarakat. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.