Siasat Politik Lingkungan PDIP

Siasat Lengkara Politik Lingkungan PDIP
Megawati Soekarnoputri. (Foto: Istimewa)
2 minute read

“Apakah jika pohon terakhir akan ditebang dan mata air terakhir berhenti mengalir, baru saat itulah manusia sadar bahwa uang tidak dapat dimakan dan diminum.”


PinterPolitik.com

[dropcap]U[/dropcap]sang dan tak laku rasanya bila isu lingkungan menjadi bahan untuk mengkampanyekan diri dalam kontestasi politik. Sekali lagi, tak laku. Mengapa tak laku?

Ya iyalah, mungkin bisa menarik perhatian masyarakat yang terdampak limbah atau yang lainnya agar memilih, tapi saat bersinggungan dengan pengusaha? Ah elah, penguasa tak ada taringnya, weleeeeh weleeeeeh.

Tapi kenapa Mama masih mau memilih kepala daerah yang direstui Partai Banteng karena urusan cinta lingkungan dan alam. Emang Banteng siap melawan para perusak lingkungan?

Mau balik lagi jadi partai wong cilik? Kemarin kemana ya? Weleeeeh weleeeeh. Syukurlah kalau begitu, asal benar begitu aja motivasinya tak ada yang lain.


Empat calon kepala daerah akhirnya direstui Mama untuk bertarung di NTT, Riau, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Hmm ada beberapa daerah yang sudah terkenal punya masalah akut persoalan lingkungan.

Alasan Mama sih empat calon itu punya kecintaan terhadap lingkungan dan alam. Nah supaya ga jadi lipstick aja, yuk mari kita buktikan kecintaan mereka. Hmmmm weeeeeww.

Pernah dengar fenomena asap di Riau? Nah bagi calon yang sudah direstui Mama, buktikan rasa cintamu dengan menghentikan kebiasaan ekspor asap ke negeri tetangga, weleeeeh weleeeh. Punya solusi dan jejak perjuangan seperti apa sih yang bisa membuktikan bahwa semua harapan itu benar adanya?

Ini baru satu contoh saja, hehehe.

Tapi kalau bicara tentang lingkungan, memang tak jadi isu yang laku, kecuali kalau suatu daerah pemilihan itu merupakan daerah terdampak kerusakan lingkungan.

Mungkin berpotensi ‘dimanfaatkan’ pihak tertentu untuk menebar janji manisnya. Manisnya semanis apa coba, weleeeh weeleeeeh.

Kalaupun empat calon ini punya kecintaan kepada lingkungan dan alam, lalu ada pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan nyata.

Maukah? Relakah? Kapankah?

Dan bagaimana cara membenahi, merevitalisasi lingkungan atau menelusuri, membongkar dan menindak tegas pelaku atau korporasi yang kerap merupakan dalam yang merusak lingkungan?

Gimana, bisa jawab? Weleeeh weleeeeh, hebat deh. Tapi kalau tidak? Mending pulang ajalah. (Z19)