Siapa Inisiator Kopassus ?

    8 minute read

    Untuk membenahi para pasukan tersebut, Kolonel AE Kawilarang pun mengajak mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL Belanda  yang memutuskan menjadi WNI karena merasa nyaman hidup di Indonesia. Orang tersebut bernama Rokus Bernardus Visser.


    PinterPolitik.com

    [dropcap size=big]K[/dropcap]omando Pasukan Khusus yang disingkat menjadi Kopassus adalah bagian dari Komando Utama (KOTAMA) tempur yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat Indonesia pada hari Minggu (16/4) kemarin genap memasuki usianya yang ke- 65 Tahun. Sebagai pasukan khusus yang menguasai kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror.

    Tugas KOPASSUS Operasi Militer Perang (OMP) diantaranya Direct Action serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh, Combat SAR, Anti Teror, Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus). Selain itu, Tugas KOPASSUS Operasi Militer Selain Perang (OMSP) diantaranya Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan), AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan), perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah, SAR Khusus serta pengamanan VVIP. (Baca: KOPASSUS, PASUKAN ELIT INDONESIA KELAS DUNIA)

    Walaupun pasukan khusus ini mudah sekali dikenali dengan baret merahnya, namun KOPASSUS pun sering melakukan operasi dan tidak diketahui masyarakat luas, seperti penyusupan ke pengungsi Vietnam di Pulau Galang untuk mengumpulkan informasi yang bekerja sama dengan badan intelijen Amerika Serikat CIA, penyusupan perbatasan Malaysia dan Australia, serta operasi patroli jarak jauh (long range recce) di perbatasan Papua Nugini.


    Jika menelisik lebih jauh ke belakang, pasukan khusus ini menjadi saksi dalam setiap peristiwa penting dalam mempertahankan bangsa dan negara, seperti penumpasan Pemberontak DI/TII, PRRI/Permesta, Pembebasan Irian Barat (Operasi Trikora), Operasi Dwikora, penumpasan pemberontakan komunis (G30S/PKI), Operasi Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) Papua Barat, pembebasan sandera di pesawat Garuda di Woyla Don Muang Bangkok, dan masih banyak lagi. Semua itu menunjukkan pengabdian dan pembuktian Korps Baret Merah yang selalu menjunjung tinggi Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Janji Prajurit Komando.

    Namun bukan kehebatan KOPASSUS bukan tanpa cacat, citra negatif masyarakat terhadap KOPASSUS yang dikarenakan akibat ulah prajurit sendiri yang terlibat dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pelanggaran tersebut banyak terjadi di era pemerintahan orde baru, dimana citra pasukan khusus yang mempunyai disiplin tinggi dan semangat nasionalisme yang tinggi ternyata keberadaannya tidak lebih sebagai tangan kanan pemerintahan orde baru yang sangat otoriter.

    Salah satunya adalah pada kasus penculikan aktivis 1997/1998, di mana KOPASSUS diduga terlibat dalam aksi ini. Di tahun yang sama, KOPASSUS sempat tercoreng berkaitan dengan aktivitas Tim Mawar yang dituding bertanggung jawab terhadap penculikan dan penghilangan nyawa beberapa aktivis pro demokrasi.

    Setelah peristiwa Mei 1998, nama KOPASSUS kembali tercoreng ketika hasil penelitian tim pencari fakta independen menemukan adanya organisasi terstruktur rapi dalam militer yang dengan sengaja dan maksud tertentu menyulut kerusuhan massa di Jakarta dan Surakarta.

    Dalam rangka HUT 65 KOPASSUS mari kita juga telisik lebih dalam sejarah tentang asal mula terbentuknya KOPASSUS yang menjadi hasil kerja keras tiga serangkai pemimpin pasukan militer Indonesia yang saat itu bersusah payah mendirikan sebuah pasukan khusus untuk menjaga keutuhan Republik Indonesia dari nol hingga membuat KOPASSUS menjadi elite forces yang disegani dunia.

    Tiga Serangkai: AE Kawilarang, Slamet Rijadi, Idjon Djanbi

    Gagasan pembentukan pasukan khusus lahir dari pemikiran Brigjen Slamet Rijadi. Brigjen Slamet Rijadi adalah pejuang Indonesia yang mengalami langsung jalannya operasi penumpasan pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) atau Republic of the South Moluccas pada tahun 1952.

    Ia menggagas pembentukan  suatu pasukan yang mampu mengatasi segala kesulitan dalam tugas. Sebuah pasukan yang memiliki gerak cepat dan andal dengan personil yang relatif kecil, yaitu sebuah pasukan komando.

    Pengalamannya sebagai komandan operasi militer lah yang membentuk gagasan tersebut, dengan tujuan untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Namun nasib berkata lain, sebelum ide ini menjadi kenyataan, Brigjen Slamet Rijadi harus gugur dalam pertempuran merebut Benteng Victoria.

    Cita-cita luhur Brigjen Slamet Rijadi ini pun diteruskan oleh Panglima Teritorium III/Siliwangi Kolonel Alexander Evert Kawilarang. Pembentukan pasukan khusus tersebut juga didasari oleh pengalaman keduanya saat menghadapi perlawanan RMS yang dibantu oleh dua kompi pasukan Belanda dari KST (Dutch Korps Speciale Tropen).

    Indonesia sangat terkejut dan kesulitan dalam menghadapi kemampuan seorang penembak jitu dari KST, pada saat itu Indonesia belum memiliki senjata  tersebut. Lalu mereka berencana untuk membangun pasukan yang serupa untuk Indonesia.

    Dalam sebuah buku autobiografi AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih (1989), AE Kawilarang menulis: “Untuk melawan gerakan-gerakan gerombolan yang mobil itu, saya perhitungkan, perlu dibentuk suatu kesatuan yang terlatih bertempur, secara kesatuan kecil sampai dengan dua orang saja dan all round. Dan itu harus diciptakan, diadakan.”

    Maka ia pun menciptakan pasukan tersebut yang dimulai dengan membentuk kekuatan pasukannya terlebih dahulu. Pada saat itu juga bertepatan dengan terjadinya pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat. Kecepatan dan pergerakan para pemberontak ini cukup membuat pasukan Indonesia kewalahan sehingga kemampuan dan taktik para Pasukan Siliwangi pun harus segera dibenahi.

    Untuk membenahi para pasukan tersebut, Kolonel AE Kawilarang pun mengajak mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL Belanda  yang memutuskan menjadi WNI karena merasa nyaman hidup di Indonesia. Orang tersebut bernama Rokus Bernardus Visser.

    Idjon Djanbi, Bule Pendiri Kopassus

    Mochammad Idjon Djanbi
    Mochammad Idjon Djanbi

    Tidak banyak yang mengetahui bahwa ada seorang asing yang membantu dibalik lahirnya KOPASSUS. Mochammad Idjon Djanbi, adalah nama yang kramat di kalangan pasukan baret merah Indonesia. Mochammad Idjon Djanbi lahir di desa kecil di Belanda yang bernama Boskoop, 13 Mei 1914 mempunyai nama asli Rokus Bernardus Visser.

    Ia berasal dari lingkungan keluarga petani bunga Tulip yang sukses. Setelah usai kuliah ia memilih membantu ayahnya untuk jualan lampu di London. Ketika Tahun 1939 dan perang dunia kedua dimulai, Ia pun saat itu tidak bisa pulang ke Belanda karena Belanda sudah dikuasai oleh Jerman.

    Siapa Inisiator Kopassus

    Karena ia tidak bisa pulang ke negaranya, maka ia bergabung dengan Militer Belanda yang sedang mengungsi di Inggris pada tahun 1940. Setahun pertama di dinas militer, ia menjadi sopir mobil Ratu Wilhelmina yang ikut mengungsi di Inggris juga dan pangkatnya ketika itu adalah sersan. Pada bulan September 1944 ia mendaftarkan diri sebagai operator radio di Pasukan Belanda ke-2.

    Pasukannya tersebut tergabung ke dalam Divisi Lintas Udara 82 Amerika Serikat dan operasi tempur pertamanya adalah didaratkan dengan glider ke Belanda yang sedang diduduki Jerman dalam Operasi Market Garden. Dua bulan kemudian saat pasukan dikumpulkan kembali, ia digabungkan dengan pasukan sekutu lain untuk operasi pendaratan amfibi di Walcheren, kawasan pantai di bagian selatan Belanda. Kemahiran inilah yang akan membuat dirinya menjadi aset penting bagi KOPASSUS.

    Pada saat menjadi pasukan tempur Belanda, ia mendapat banyak pelatihan di Commando Basic Training di Achnacarry di pantai Skotlandia yang tandus untuk mendapatkan baret hijau dan di Special Air Service (SAS) pasukan komando Kerajaan Inggris yang sangat legendaris.

    Mulai dari pelatihan berkelahi dan membunuh tanpa senjata, membunuh pengawal, penembakan tersembunyi, perkelahian tangan kosong, berkelahi dan membunuh tanpa senjata api. Selain itu, ia juga mengantongi lisensi penerbang PPL-I dan PPL-II. Ia juga menjalani pendidikan spesialisasi Bren, pertempuran hutan, dan belajar bahasa Jepang.

    Karena dianggap berprestasi, setelah mengikuti Sekolah Perwira ia pun bergabung dengan Koninklij Leger untuk memukul Jepang di Indonesia. Setelah Jepang kalah, ia masuk ke Indonesia sebagai pasukan khusus Belanda pada Maret 1946.

    Atas kemampuannya, ia dipercaya memimpin School voor Opleiding van Parachutisten atau Sekolah Penerjun Payung di Jayapura, yang kala itu disebut Hollandia. Ia menempati bangunan bekas rumah sakit Amerika peninggalan pasukan Jenderal Douglas MacArthur.

    Lama tinggal di Indonesia, ternyata ia menyukai hidup di Indonesia meskipun kehidupannya sangat jauh dengan kehidupan di Eropa. Tahun 1949, ia memutuskan keluar dari dunia militer dan memilih menetap di Indonesia sebagai warga sipil dan memutuskan memeluk agama Islam selain itu ia juga menikahi kekasihnya yang asli Sunda. Sejak itu, namanya dikenal dengan Mochammad Idjon Djanbi.

    Pertemuannya dengan A.E Kawilarang pun tidak berjalan mulus, karena ia benar-benar ingin meninggalkan dunia militer. Namun akibat kegigihan A.E Kawilarang dan anggotanya dalam membujuknya akhirnya meluluhkan hati Idjon Djanbi.

    Mantan prajurit komando asal Belanda inilah yang mengasah mental dan fisik para anggota TNI AD yang terpilih di awal pembentukannya dan dilatih menjadi prajurit tangguh berkualifikasi komando. Sayang, walaupun terkenal, namun tidak banyak yang tahu soal masa lalunya, bahkan prajurit KOPASSUS itu sendiri.

    Jatuhnya Idjon Djanbi

    Terhitung 1 April 1952, atas keputusan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, memutuskan bahwa Idjon Djanbi diangkat menjadi Mayor Infanteri TNI AD dengan NRP 17665. Lalu ia lapor diri kepada Kolonel Kawilarang selaku Panglima Komando Tentara & Terirorium III/Siliwangi untuk menerima tugas.

    Mayor (Inf) Idjon Djanbi segera melatih kader perwira dan bintara untuk membentuk pasukan khusus. Tanggal 16 April 1952 dibentuklah pasukan khusus dengan nama Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi disingkat Kesko III di bawah komando Mayor (Inf) Idjon Djanbi. Inilah tanggal yang dijadikan hari jadi Kopassus hingga saat ini.

    Namun, kejayaan Idjon Djanbi tidaklah lama. Seperti yang ditulis oleh Indonesia’s Special Forces yang ditulis oleh Ken Conboy, statusnya sebagai orang kulit putih kerap membuat orang curiga kepadanya dan bahkan berpikir bahwa ia mata-mata Belanda atau asing. Salah satunya yang berusaha mengeluarkan Djanbi adalah Benny Moerdani.

    Akhirnya, Berbeda dengan Kolonel AE Kawilarang, masa aktif Brigjen Slamet Riyadi dan Mayor (Inf) Idjon Djanbi memang terbilang singkat, namun kiprah keduanya meninggalkan kesan mendalam, dan namanya senantiasa abadi. Slamet Rijadi tertembak di Benteng Victoria (Ambon), ia gugur sebelum melihat cita-citanya untuk membentuk pasukan khusus tercapai dan Idjon Djanbi memilih kembali menjadi warga sipil dan bekerja di perkebunan milik asing yang dinasionalisasi.

    Keduanya adalah figur yang luar biasa, meski pangkat relatif tidak tinggi, namun mereka punya kelebihan yang belum tentu dimiliki setiap orang, yaitu kharisma. Satu hal yang paling utama adalah, karena jasa merekalah KOPASSUS terbentuk. Dirgahayu KOPASSUS, jaya di darat, laut dan udara! (Berbagai Sumber/A15)