Siapa di Balik Yenny Wahid?

Siapa Dibalik Yenny Wahid
Foto: Tribun News
7 minute read

“Masyarakat terperangkap oleh politisi dan politisi terperangkap oleh pengusaha.”


Pinterpolitik.com

Sejumlah pihak menyambut positif keputusan Yenny Wahid mendukung pasangan capres dan cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Sebelumnya, Yenny dan sejumlah organisasi simpatisan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara resmi menyatakan mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Restu politik keluarga Gus Dur sangat diperebutkan karena bobot politik dan potensi massa yang dihasilkan juga cukup menjanjikan untuk proses pemenangan Pilpres. Click To Tweet

Yenny nampaknya menjadi salah satu tokoh yang cukup diperhitungkan pada Pilpres kali ini. Sosoknya seolah akan menjadi vote getters bagi pasangan yang bisa memikat hatinya. Bukan apa-apa, Yenny adalah putri dari almarhum Gus Dur, tokoh yang diyakini memiliki basis massa banyak, khususnya kelompok Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama (NU).

Jika pada Pilpres 2014 lalu Yenny memilih untuk bersikap netral, namun tidak untuk kali ini. Ia secara resmi sudah memutuskan untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf. Lantas pertanyaannya adalah sejauh mana sosok Yenny bisa memberikan suara kepada pasangan nomor urut satu tersebut? Dan kira-kira apa yang menyebabkan Yenny memutuskan untuk memihak pada Pilpres kali ini?

Pengaruh Yenny Untuk Pemilih

Yenny Wahid merupakan salah satu figur paling berpengaruh di kalangan warga nahdliyin, tak terkecuali kaum Gusdurian atau pengikut Gus Dur.


Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Survei Public Opinion & Policy Research (Populi) Center, Usep Saiful Ahyar, wajar bila dukungan Yenny diharapkan oleh kedua kandidat. Sebab, yenny yang merupakan penerus langsung Gus Dur di ranah politik.

Masuknya Yenny Wahid sebagai nahdliyin sekaligus mendorong Pemilu dan Pilpres 2019 ke suasana yang damai.

Meskipun demikian, putri kedua Gus Dur, menegaskan bahwa NU secara organisasi tidak boleh berpolitik praktis. Namun, warga NU diperbolehkan memilih sikap politik secara individual dan tidak ada paksaan sama sekali untuk memilih salah satu paslon. Yenny menyebut, NU tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana.

Sedangkan, para Gusdurian pun bukan organisasi politik. Gusdurian akan memilih pemimpin berdasarkan proses aqli dan naqli. Dua proses itu yang akan digunakan secara rasional untuk menilai sepak terjang kedua pasangan. Menilai tanggapan Yenny tersebut, sedikit banyak akan mempengaruhi keputusan warga nahdliyin dalam menentukan pilihan terhadap dua kandidat yang ada.

Siapa Dibalik Yenny Wahid

Restu politik keluarga Gus Dur sangat diperebutkan karena bobot politik dan potensi massa yang dihasilkan juga cukup menjanjikan untuk proses pemenangan Pilpres.

Meski Gus Dur telah meninggal sembilan tahun lalu, para pengikut dan pengagum pemikirannya tetap abadi dan banyak, terutama di kalangan kelompok pluralis dan minoritas. Hal itu bisa dilihat dari 9 organisasi Gusdurian yang ikut menyatakan deklarasi dukungan bersama Yenny.

Sembilan anggota konsorsium organisasi itu adalah Barikade Gusdur, Gerakan Kebangkitan Nasional (Gatara), Forum Kyai Kampung Nusantara (FKKNu), Jaringan Perempuan untuk NKRI, Satuan Mahasiswa Nusantara, Profesional Peduli Bangsa, Komunitas Santri Pojokan, Milenial Political Movement dan Garis Politik Mawardi.

Meskipun tidak bisa dikatakan secara mutlak Gusdurian akan memilih Jokowi – karena bagaimanapun mereka adalah kelompok pemikiran yang bersifat kultural – namun besar kemungkinan kelompok ini akan mendengarkan dan mengikuti seruan Yenny.

Selain memiliki darah Wahid, kiprah Yenny dalam aktivitas sosial-politik juga menjadi nilai tersendiri mengapa wanita ini cukup diperhitungkan. Ia kerap diasosiasikan sebagai tokoh yang mengusung ide-ide keberagaman. Ia juga dianggap memiliki pengaruh kuat di antara kaum termarjinalisasi melalui kiprahnya di Wahid Foundation.

Dengan demikian, masuknya Yenny ke kubu Jokowi akan memberikan dampak positif terhadap sang petahana. Setidaknya, NU, baik yang struktural maupun kultural, memiliki referensi yang lebih banyak setelah putri kedua Gus Dur itu menyatakan dukungannya.

Kenapa 2019 Tidak Lagi Netral?

Pada 2014 lalu, keluarga mendiang Gus Dur memilih netral dan tidak mendukung salah satu pasangan calon. Ketika itu, Yenny mengatakan keputusan itu diambil untuk menghindari terjadinya perpecahan di tengah masyarakat. Direktur Eksekutif Wahid Institue itu mengatakan, keluarganya juga ingin menghindari terjadinya kampanye negatif dan kampanye hitam.

Pilpres 2014 diikuti oleh Prabowo Subianto yang menggandeng Hatta Rajasa dan Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla. Ketika itu, dukungan masyarakat NU terpecah untuk dua calon tersebut. Kemudian, pada 2014 juru kampanye dari dua belah pihak mayoritas berasal dari NU. Sehingga Yenny sulit untuk menentukan pilihan. Yenny menjadikan perpecahan dukungan ini sebagai salah satu pertimbangan untuk netral di Pilpres 2014 lalu.

Selain itu, pada saat itu suami Yenny, Dhohir Faris masih aktif sebagai kader Partai Gerindra. Nampaknya Yenny tidak ingin melangkahi suaminya tersebut. Suami Yenny ini juga menjabat sebagai Komisaris Independen dari salah satu perusahaan milik Sandiaga Uno.

Sementara itu, ada sebuah fakta menarik yang mungkin bisa menyebabkan sikap Yenny mendukung Jokowi-Ma’ruf. Dalam bukunya Asian Godfathers: Money and Power in Hong Kong and Souteast Asia, Joe Studwell menulis bahwa ada kedekatan antara Hary Tanoesoedibjo (HT) dengan Gus Dur. HT seperti diketahui saat ini ada dalam barisan pendukung Jokowi.

Kedekatan itu terlihat dari relasi antara posisi Gus Dur saat menjabat sebagai presiden, dengan perusahaan HT yakni PT Bhakti Investama. Joe menulis bahwa selama kepemimpinan Gus Dur, perusahaan HT tersebut mendapatkan banyak izin yang “berharga” dan menguntungkan perusahaan tersebut.

Jika dilihat dari konteks pernyataan Joe, nampaknya memang ada relasi yang cukup kuat dan menguntungkan di antara keduanya, terutama setelah masa krisis ekonomi berakhir di negeri ini.

Fakta bahwa Gus Dur dan HT pernah bernaung dalam satu perusahaan dengan nama PT Adhikarya Sejati Abadi menyuratkan kedekatan tersebut. Selain itu, HT kabarnya juga sering berziarah ke makam Gus Dur di Tebuireng.

Kedekatan antara HT dan keluarga Wahid ini nampaknya sudah terjalin sejak cukup lama. Barangkali persahabatan ini terjadi berangkat dari sejarah keluarga mereka yang sama-sama berasal dari Jawa Timur. Ibu Hary bertetangga dengan Hasyim Muzadi, salah satu tokoh NU. Ayah HT pun merupakan Ketua Persatuan Islam Tionghoa (PITI) Jawa Timur.

Pada Pilpres 2014 lalu, Yenny berlaku netral karena menurutnya ada keterbelahan dari kalangan NU dan waktu itu HT juga berada di kubu Prabowo. Sementara itu, pada Pilpres kali ini selain cukup rapatnya barisan NU, HT juga berada dalam kubu Jokowi. Sehingga ada kemungkinan dorongan bisikan yang meminta agar Yenny melabuhkan pilihannya ke Jokowi.

HT sebagai pelaku bisnis dan politik, memiliki kepentingan untuk meloloskan agendanya. HT adalah sosok yang ulet dalam menggandeng nama-nama kondang, misalnya saja George Soros dan Soedono Salim untuk kepentingan bisnis pada momen krisis 1998. Kepiawaian itu juga dibuktikan dengan kesuksesan HT merangkul Gus Dur dalam bermitra bisnis dan politik.

Maka bukan suatu yang mustahil jika kedekatan HT ini berlanjut kepada keluarga Wahid lainnya, termasuk pada Yenny Wahid. Masukknya HT sebagai pendukung utama Jokowi pada Pilpres kali ini memungkinkan adanya bisikan dari bos MNC Group tersebut kepada Yenny.

Persoalannya adalah apakah hal itu benar? Tentu saja tidak ada yang tahu pasti. Namun, jika menilik garis hubungan kedua pihak, tidak ada hal yang mustahil.

Praktik Political Entrepreneur

Dalam beberapa kajian, disebutkan bahwa ada orang-orang yang disebut sebagai political entrepreneur. Orang atau kelompok itu menggunakan kemampuan dan sumber dayanya untuk mempengaruhi banyak hal yang terjadi di dunia politik.

Profesor ilmu politik dari Wellesley College, Stacie Goddard menyebut political entrepreneur (peternak politik) sebagai orang atau kelompok yang mengunakan kekuasaan dan sumber daya yang melekat pada dirinya untuk mempengaruhi orang lain dalam dunia politik untuk mencapai kepentingan tertentu. Stacie juga menganalisa pendekatan struktural bagaiamana posisi para pengusaha dalam relasi sosial politik tersebut.

Fenomena peternak politik ini dapat ditemui di banyak negara, terutama Amerika Serikat (AS). George Soros dan Koch Brothers sering disebut-sebut sebagai peternak politik. Mereka menggunakan kapasitas bisnisnya dengan memberikan dukungan secara finansial maupun pengaruh kepada tokoh-tokoh politik tertentu.

Soros di permukaan memang terlihat progresif, anti perang, dan pro terhadap hak perempuan. Namun, di balik keberpihakannya itu, tersembunyi kepentingan bisnis hedge fund (bisnis kelas atas) bernama Soros Fund Management, yang membutuhkan iklim politik yang stabil demi keberlangsungan perusahaan tersebut. Tidak heran jika dirinya kerap menjadi “peternak” dari banyak politisi Partai Demokrat AS.

Sebaliknya, Koch Brothers punya banyak usaha yang bergerak di bidang manufaktur, pertambangan dan industri. Hal ini yang membuat mereka dekat dengan politisi Partai Republik, bahkan menjadi salah satu penyumbang dana politik terbesar partai tersebut.

Artinya, jika melihat fenomena Soros dan Koch tersebut, sebenarnya fenomena political entrepreneur di Indonesia cukup banyak. Para pengusaha memainkan perannya dengan mendekati tokoh-tokoh berpengaruh demi kepentingan bisnisnya.

Oleh karena itu, apakah mungkin keberpihakan Yenny Wahid dengan mendukung Jokowi adalah karena adanya bisikan dari peternak politik yang memang sudah memiliki kedekatan dengan keluarganya tersebut? Biarkan waktu yang menjawab. (A37)