Serangan Kisah Sedih Prabowo

Serangan Kisah Sedih Prabowo
Foto : Kumparan
6 minute read

Postingan berjudul “Kisah Sedih Pak Prabowo : Hatimu Terbuat dari Apa?” mengungkit kembali dosa masa lalu para lawan politik Prabowo


PinterPolitik.com

“Nothing captures human interest more than human tragedy” 
― Dan Brown, Angels & Demons

Media sosial sejatinya masih menjadi tempat sakral untuk membagikan momen-momen untuk tujuan eksistensi. Entah mau pamer atau mengeluh, Instagram, Twitter, dan Facebook masih saja menjadi media yang ampuh untuk membangun narasi pencitraan diri.

Dalam politik, nampaknya hukum tersebut juga berlaku. Kini, menjelang dua bulan pemilu serentak pada April 2019 nanti, para politisi terus berlomba-lomba memenangkan hati para warganet melalui berbagai propaganda dan pesan politik terselubung di sosial media resmi mereka.

Ada yang menarik dari unggahan di akun Instagram Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Melalui akun indonesiaadilmakmur, postingan berjudul “Kisah Sedih Pak Prabowo : Hatimu Terbuat dari Apa?” tersebut mencuri perhatian netizen karena berisi sepenggal puisi yang menyinggung kiprah Prabowo yang sering menjadi “korban politik”.

Dalam video tersebut, digambarkan bahwa tiada kawan atau lawan yang abadi dalam politik. Beberapa politisi yang dulu menjadi partner utama sang jenderal dalam berpolitik, kini justru menjadi lawan politiknya, begitupun sebaliknya.


Dalam video klip Instagram berdurasi sekitar 4 menit tersebut ditampilkan beberapa penggal foto politisi seperti Ahok, Anies Baswedan, Megawati, hingga orang nomor satu di negeri ini, yakni Jokowi.

Secara langsung, mereka dinarasikan sebagai orang-orang yang tak tahu berterimakasih pada Prabowo yang telah berjasa dalam karir politik mereka.

Namun secara lebih luas, tentu menarik untuk memaknai postingan tersebut dalam konteks politik. Mengingat memang dalam perjalanan politik sang jenderal, sedikit banyak apa yang ada dalam postingan tersebut terkesan benar.

Mungkinkah dengan menyerang personalitas beberapa tokoh politik ini menjadi strategi terbaru dari tim BPN demi memuluskan langkah sang jenderal menuju kursi RI 1?

View this post on Instagram

Kisah Sedih Pak @Prabowo: Hatimu Terbuat dari Apa?

A post shared by Prabowo Sandi (@indonesiaadilmakmur) on

Terkuaknya Dosa Masa Lalu

Setelah isu dana kampanye yang menjerat sang petahana menimbulkan atensi publik yang cukup luas, nampaknya ada alasan bagi kubu Prabowo untuk mengungkit “dosa masa lalu” orang-orang yang dianggap berutang jasa pada sosok Prabowo yang kini menjadi pendukung politik petahana.

Dalam video Instagram yang diunggah tersebut, disebut bahwa Prabowo adalah korban pengkhianatan politik Megawati Soekarnoputri yang disebut melanggar perjanjian Batu Tulis.

Perjanjian ini berisi Surat Kesepakatan Bersama PDIP-Gerindra tertanggal 16 Mei 2009 yang memuat tujuh poin perjanjian, dan dua poin diantaranya adalah soal pendanaan kampanye.

Dua poin terakhir inilah yang kemudian dipermasalahkan kubu Prabowo di mana tertulis: “Megawati Soekarnoputri  mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.”

Namun realitas yang terjadi PDIP justru mencalonkan sosok Jokowi-JK dalam Pilpres 2014. Hingga akhirnya kerenggangan hubungan politik kedua kubu pun terjadi.

Dalam video tersebut juga disinggung tentang pilkada DKI 2012 di mana kala itu pasangan Jokowi-Ahok memang didukung oleh koalisi Gerindra-PDIP.

Ada pula sosok Anies Baswedan yang disebut dulunya membenci Prabowo, namun justru dipungut dan dijadikan tokoh oleh Prabowo. Dalam video tersebut juga menyinggung beberapa aktivis HAM yang kini juga mendukung mantan Danjen Kopassus tersebut.

Lalu mengapa video ini dimunculkan di bulan-bulan penting mendekati Pilpres 2019?

Sejatinya, terlepas dari drama konflik yang tercipta, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dalam kesempatan perayaan ulang tahun PDIP beberapa waktu lalu sebenarnya sempat menyangkal bahwa dirinya memiliki masalah dengan sosok sang mantan jenderal.

Megawati mengaku tak pernah saling ejek dengan bekas Danjen Kopassus itu meski pendukung keduanya sering berseteru.

Setelah keduanya kalah dalam Pilpres 2009 dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, hubungan keduanya bahkan tetap terjalin setidaknya ketika sama-sama mengusung Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama pada Pilkada DKI Jakarta 2012.

Sehingga, postingan yang diunggah di akun Instagram BPN tersebut mungkin saja adalah respon tim BPN terhadap isu dana kampanye yang akhir-akhir ini kembali mencuat di media-media mainstream.

Isu dana kampanye yang dilontarkan oleh sosok sang petahana sendiri memang membuat adik Prabowo, yakni Hashim Djojohadikusumo geram.

Politik Angels Versus Demons

Dalam konteks munculnya video yang menyinggung “dosa masa lalu” para lawan politik Prabowo ini, secara etika politik, nampaknya isu moralitas yang terbalut dalam narasi utang budi politik memang sengaja dikapitalisasi kembali oleh kubu oposisi.

Seolah menarasikan bahwa kini orang-orang yang di kubu Jokowi telah menjadi evil man yang jahat. Sementara Prabowo dinarasikan sebagai sosok yang pemaaf dan tak pendendam.

Bak adegan dalam  film Angels and Demon, dalam politik perebutan kekuasaan, nampaknya seseorang harus berperan sebagai iblis berjubah malaikat, jika ia ingin mencapai tujuan yang di inginkan.

Bagi penggemar film yang disadur dari novel karya Dan Brown ini tentu tidak lupa bagaimana Pastur Patrick McKenna yang diperankan oleh actor Ewan McGregor, berlindung dibalik jubah kepastorannya untuk meraih takhta suci Vatikan sepeninggal sang Sri Paus secara illegal.

Ketika Sang Camerlengo, dengan intrik memunculkan kembali musuh bersama gereja, yakni The Illuminati, berusaha menggagalkan prosesi konklaf demi ditasbihkan menjadi pengganti sang Sri Paus.

Mungkin begitulah yang sedang dimainkan oleh kubu oposisi. Dalam merebut kekuasaan RI 1, Prabowo harus mampu berperan sebagai malaikat dan iblis sekaligus.

Moralitas memang sebuah perkara pelik dalam politik. Moralitas kerap kali digunakan sebagai senjata menyerang yang cukup ampuh, melalui jalan Politics of Blame. Jika politisi telah terserang secara moral, maka konsekuensinya cukup berat. Bisa saja ia kalah dalam pertarungan politik.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Kevin Hearty dalam artikelnya berjudul Moral Emotions and the Politics of Blame yang menjelaskan bagaimana moral secara intrinsik dapat membangkitkan emosi terkait dengan proses kesalahan dan penghargaan dalam masyarakat.

Politics of Blame ini bekerja melalui mekanisme membangkitkan emosi dengan membawa nama moralitas dengan menentukan ‘target’ untuk dijadikan objek yang disalahkan atau dihargai.

Jika ditelisik, nampaknya narasi itulah yang yang kini tengah dimainkan oleh kubu oposisi yang memang sepintas strategi tersebut memiliki kemiripan dengan dengan strategi playing victim.

Pada Pilpres di tahun 2004, penggambaran publik tentang politik terzalimi ini juga sempat membuat kandidat presiden kala itu yakni SBY mendapat simpati publik yang begitu luas, bahkan hingga memenangkan pertarungan pilpres.

Seperti dikutip CNN, SBY yang kala itu menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) tidak melakukan perlawanan atas pernyataan Taufik tersebut.

Dalam kasus ini, eksploitasi media terhadap posisi terzalimi yang dialami SBY pada saat itu nyatanya sukses mengantarkan sang jenderal bintang empat tersebut keluar sebagai pemenang di Pilpres 2004 bahkan mengalahkan petahana kala itu, yakni Megawati sendiri.

Kini menjelang Pilpres 2019, momentum menyerang dengan strategi playing victim kini nampaknya berpihak pada kubu Prabowo-Sandi. Mungkinkah kali ini petahana akan tumbang dengan serangan-serangan tersebut?. (M39)