Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Sejarah > Green Day dan Narasi Politik Punk Rock

Green Day dan Narasi Politik Punk Rock


Pinter Politik - Monday, October 18, 2021 13:18
Foto: Grid.ID

0 min read

Dalam perjalanan sejarahnya, musik tidak hanya menjadi penghibur manusia, melainkan juga menjadi sarana dalam mengungkapkan narasi-narasi politik. Band punk rock asal Amerika Serikat (AS) Green Day adalah salah satu yang menunjukkannya.


PinterPolitik.com

Bagi yang lahir tahun 90-an, pasti tidak asing dengan lagu berjudul Boulevard Broken Dreams yang menjadi karya band punk rock asal Amerika Serikat (AS) Green Day. Lagu ini bisa dibilang jadi salah satu tembang-nya generasi milenial.

Green Day adalah band yang berdiri sejak tahun 1987. Digawangi oleh Billie Joe Armstrong, Mike Dirnt, dan Tré Cool, grup musik ini menjadi penghias panggung musik dan populer sejak era 90-an akhir, hingga awal 2000-an. Kiprah mereka tak perlu diragukan. Mereka telah meraih 20 nominasi Grammy Award dan memenangkan 5 di antaranya. Demikian pun dengan segudang penghargaan lainnya.

Adapun lagu Boulevard Broken Dreams berasal dari album American Idiot yang nyatanya merupakan album yang sangat politis. Ini terkait kritik-kritik sosial-politik yang ditampilkan Green Day di dalam lagu-lagu di album tersebut.

Lagu Wake Me Up When September Ends yang merupakan salah satu lagu di album itu,misalnya, ditampilkan dalam video klip dengan narasi anti perang. Pun begitu dengan lagu American Idiot, yang dari judulnya saja sudah berisi kritik.

Bicara soal kritik politik bukanlah hal yang asing untuk Green Day. Banyak lagu yang mereka buat memang menjadi media mereka menampilkan kritik sosial dan politik. Album 21st Century Breakdown, misalnya, juga sarat akan kritik dan sikap anti terhadap perang.

Pengaruh Ideologi Punk

Konteks kritik politik dalam lagu-lagu Green Day sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Sebagai sebuah band bergenre punk rock, jelas Green Day mendapatkan banyak pengaruh dari ideologi punk itu sendiri.

Dikutip dari The Oxford Handbook of Music and Disability Studies, ideologi punk identik dengan nilai-nilai egalitarianisme, humanitarianisme, anti-otoritarianisme, anti-konsumerisme, anti-perang, anti-korporatisme, anti-konservatisme, dan masih banyak yang lainnya.

Ideologi punk ini termanifestasi juga dalam punk subculture. Gerakan ini muncul di Inggris pada pertengahan tahun 1970-an dan bisa dilihat dalam bentuk fashion, visual art, dance, musik, sastra, dan film. Punk juga dianggap sebagai salah satu counterculture.

Counterculture sendiri adalah gerakan budaya yang nilai-nilai dan normanya berbeda secara substansial dari masyarakat umum atau mainstream society. Tidak jarang bahkan perbedaan itu sangat diametral atau berlawanan dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Beberapa contoh counterculture yang lain adalah Levellers, Bohemianism, Beat Generation, dan lain sebagainya.

Nah, punk subculture – atau dalam konteks musik, punk rock itu sendiri – pada dasarnya memiliki banyak turunan. Dari semua turunan itu yang jelas mereka umumnya merepresentasikan nilai anti terhadap mainstream society.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa lagu-lagu Green Day punya narasi-narasi kritik politik dan sosial.

Menariknya, Green Day sendiri juga tidak lepas dari sasaran kritik. Mengingat salah satu akar dari punk subculture adalah anti-korporatisme, keberadaan Green Day dalam industri musik oleh beberapa pihak dianggap berseberangan dengan narasi punk subculture.

Terlepas dari kritik tersebut, dengan ada dalam industri, suara protes dan kritik politik Green Day menjadi lebih didengar dan punya resonansi yang lebih besar.

Musik sebagai Corong Politik

Hal lain yang menarik untuk disoroti adalah kemampuan musik menjadi alat representasi sikap politik. Musik memang untuk waktu yang lama sering kali dianggap sebagai alat ekspresi dalam gerakan perubahan atau revolusi. Musik juga menjadi intisari dari gerakan anti-kemapanan atau antiestablishment.

Sebenarnya, masih sedikit penelitian terkait seberapa besar dampak musik terhadap pandangan politik seseorang. Namun, Mark Pedelty dan Linda Keefe menyebutkan bahwa musik bisa menjadi alat untuk menyatukan komunitas masyarakat berdasarkan kesamaan identitas maupun kepentingan politik.

Dalam konteks Green Day, kesamaan identitas itu adalah dalam narasi punk rock. Sementara dalam nilai kebangsaan, kita bisa melihat lagu Arirang yang menjadi identitas masyarakat Korea. Terkait persoalan kebangsaan itu pula kita mengenal lagu-lagu kebangsaan. Lagu-lagu tersebut menjadi intisari nilai yang dipercaya mewakili kesatuan komunitas masyarakat.

Sebagai tambahan, lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus merupakan lagu kebangsaan tertua di dunia dan telah digunakan sejak tahun 1572. Sementara lirik lagu kebangsaan Jepang Kimigayo adalah yang tertua, dipercaya ditulis antara tahun 794 hingga 1185.

Anyway, pada akhirnya, musik memang punya pertalian dengan idealisme. Beethoven saja bisa marah-marah ketika mengetahui Napoleon Bonaparte yang dibuatkan Symphony No 3 yang begitu merdu akhirnya mengkhianati janji demokrasi setelah mengangkat dirinya menjadi Kaisar Prancis.

Demikian pun dengan Green Day, mereka bisa marah-marah dalam lagu-lagunya, bahkan menyebut masyarakat di negaranya sebagai “idiot”. Apapun itu, yang jelas karya-karya musik memang indah, tetapi juga punya makna politis dalam setiap interpretasinya. Sebab, it is music and it is politic.

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait