Sandi “Paksa” Minum Air Kotor?

Sandi “Paksa” Minum Air Kotor?
Istimewa
2 minute read

“Biasanya (memurnikan air) memakan waktu 7 hari dan menjadi air buangan, (sekarang) dalam waktu setengah jam bisa menjadi air yang bisa diutilitas. Malah saya dikasih tahu layak minum.” ~ Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.


PinterPolitik.com

[dropcap]K[/dropcap]abar gembira bagi warga DKI Jakarta. Saat ini Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno baru saja meresmikan mesin Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang diberi nama PAL-Adrich Tech System di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Katanya Sandi, saking canggihnya alat ini, air yang dijernihkan bisa diminum loh.

Sandi “Paksa” Minum Air Kotor?

Sumpeh loh, mi apa coba? Untuk langkah awal, mesin IPAL ini akan diproyeksikan untuk mengelola limbah tinja di Zona 6 DKI Jakarta. Cie, warga Slipi, Grogol dan Duri Kosambi nanti duluan ngerasain air hasil pemurnian limbah tinja. Itu Wagub kalian loh yang nyuruh, jadi harus nurut, gak boleh membangkang. Di saat warga diminta minum air tinja, masa Bang Sandi tetep minum air infus water sih. Bikin KZL.

Sandi “Paksa” Minum Air Kotor?

Eike jadi penasaran nih sama rasa airnya. Beneran bisa diminum gak ya sesuai kata bang Sandi? Eits, tunggu dulu. Belakangan PD PAL Jaya melakukan klarifikasi kalau sebenarnya air hasil pemurnian dengan mesin IPAL ini gak diperuntukan untuk diminum. Cuma sekedar untuk siram tanaman kota dan cuci mobil.

Jiah, cape deh. Bang Sandi hiperbola banget nih. Lagian nih ya, kalau cuma sekedar memurnikan air sampai sebatas bisa digunakan sekedar untuk mencuci mobil, teknologi IPAL mah kemahalan. Secara per unit mesinnya seharga Rp1,5 miliar. Apalagi kalau Bang Sandi nanti berencana pengadaan sampe 200 unit.

Sandi “Paksa” Minum Air Kotor?

Eike pikir ketimbang cape-cape memproses air limbah tinja menjadi air bersih dan bisa diminum dengan mengeluarkan anggaran sebesar itu, kenapa gak fokus pada pengelolaan tadahan air hujan aja? Toh Indonesia merupakan negara tropis dengan intensitas curah hujan yang tinggi, jadi potensinya besar tuh.

Atau mungkin bisa juga dengan efisiensi penggunaan air di seluruh masjid di DKI Jakarta. Kan umat muslim DKI segabrek tuh. Masjid juga sama banyaknya. Artinya penggunaan air wudhu di masjid masih bisa diefisiensikan lagi.

Jadi setelah air digunakan untuk wudhu, air buangannya bisa disimpan sementara dan digunakan kembali (reuse) untuk kepentingan penyiraman tanaman dll. Jadi ketimbang pemurnian air limbah tinja, meningan Bang Sandi menerapkan Sistem Pemanfaatan Air Hujan (SPAH) atau pengelolaan air buangan wudhu di ribuan masjid DKI untuk digunakan kembali (reuse). (K16)