Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > ‘Sānguó Shídài’ di Pilkada Tangsel

‘Sānguó Shídài’ di Pilkada Tangsel

Oleh Ilham Shidqi Nurrahmadi, lulusan Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran

Pinter Politik - Monday, October 12, 2020 8:00
Tiga pasangan calon Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) 2020 mendapatkan nomor urut masing-masing dalam sebuah kegiatan yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tangsel. (Foto: Tangerang News)

0 min read

Perebutan oleh tiga dinasti ala Sānguó Shídài di Tiongkok mungkin terjadi kembali di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) 2020. Siapa saja dinasti yang berpartisipasi?


PinterPolitik.com

Sānguó Shídài yang dalam bahasa Mandarin berarti ‘Era Tiga Dinasti’ merupakan era dalam sejarah Tiongkok saat wilayah mereka dikuasai oleh tiga dinasti yakni, Wei, Shu, dan Wu sekitar tahun 220-280M.

Ketiga dinasti sama-sama memiliki ambisi untuk mengembangkan wilayahnya sehingga saling mencoba untuk mencaplok wilayah lawan mereka. Karenanya, periode ini disebut-sebut merupakan salah satu periode paling ‘berdarah’ dalam sejarah Tiongkok.

Lebih dari 18 abad kemudian, ‘Era Tiga Dinasti’ muncul kembali dan siap kembali bertarung satu sama lain. Kali ini bukan di daratan Tiongkok, melainkan sekitar 4,000 kilometer ke selatan, yakni sebuah kota bernama Tangerang Selatan alias Tangsel.

Sebagai sebuah kota yang umurnya lebih muda dari iPhone, Tangsel hanya pernah memiliki satu wali kota yang dipilih, yakni Ibu Airin Rachmi Diany yang masa jabatannya habis tahun depan. Sebagai petahana, Ibu Airin telah menjabat selama dua periode, dan karenanya tidak bisa mencalonkan dirinya kembali.

Hal ini membuat gelanggang perebutan kursi kepemimpinan Tangsel memanas. Terlebih, posisi Tangsel sebagai salah satu kota satelit DKI Jakarta pun membuat kursi tersebut lebih menggiurkan lagi

Di gelanggang tersebut lah, pertarungan bersejarah ‘Tiga Dinasti’ berulang. Meski sempat diisukan akan diramaikan oleh nama-nama baru, pada akhirnya tiga pasangan calon yang maju masih belum keluar dari bayang-bayang kekuasaan yang sudah mengakar sebelumnya.

Benyamin Davnie – Pilar Saga Ichsan

Pasangan ini diusung oleh Golkar, PPP, PBB (Partai Bulan Bintang, bukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta Partai Gelora. Meski begitu, secara de facto,pengusung paling besar dari pasangan ini merupakan dinasti paling kuat di Banten, yakni House of Queen Atut.

Julukan ‘Queen’ disematkan karena selain namanya memang ‘Ratu Atut’. Selama kepemimpinannya sebagai Gubernur Banten, ia juga berkuasa bak seorang ratu yang kekuasaannya menggurita di seantero provinsi Banten.

Dibanding dua dinasti lain yang menjadi lawannya pada pemilihan kali ini, House of Queen Atut memang yang paling kuat, kekuasaannya mengakar di semua lini pemerintahan di Banten, termasuk di Tangsel.

Kini, meski masih mendekam di balik jeruji besi, kekuasaan House of Queen Atut masih langgeng lewat keluarganya. Anaknya, Andika Hazrumy, saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Banten. Adiknya, Ratu Tatu Chasanah, saat ini menjabat sebagai Bupati Serang dan akan maju kembali di Pilkada selanjutnya. Bahkan, Wali Kota Tangsel saat ini merupakan istri dari adik Ratu Atut yang kini mendekam di penjara karena kasus korupsi.

Berhenti di situ? Tentu tidak. Pilar yang menjadi calon wakil wali kota tak lain merupakan keponakan dari Ratu Atut. Selain itu, Benyamin yang saat ini menjabat sebagai wakil wali kota Tangsel membuat Tangsel akan berada pada status quo-nya jika mereka terpilih.

Siti Nur Azizah – Rumahaben

Pasangan ini diusung oleh Partai Demokrat, PKS, dan PKB. Dibanding pasangan sebelumnya, pasangan ini memang mewakili dinasti yang masih terbilang baru, mungkin masih prototipe. Dinasti tersebut adalah House of Ma’ruf yang diwakili oleh anak dari Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah.

Meski House of Ma’ruf belum begitu mentereng, namun dalam sektor keagamaan mereka bukanlah nama asing. Ma’ruf Amin menduduki posisi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sedangkan Azizah – selain mengajar – telah melintang di berbagai posisi di Kementerian Agama (Kemenag).

Kehadiran Azizah di gelanggang politik sekaligus menepis anggapan bahwa Jokowi dan Ma’ruf Amin tidak kompak dalam bekerja. Sebab, mereka sama-sama kompak mengirim anaknya untuk maju di pemilihan kepala daerah. Hal tersebut tentunya merupakan preseden buruk bagi pemerintah Jokowi dan Ma’ruf dan dalam jangka panjang, dapat berakibat buruk pula kepada demokrasi Indonesia.

Tentu, kita ingat saat House of Yudhoyono dinilai mencoba peruntungannya lewat Agus Yudhoyono pada tahun Pilkada DKI 2017 lalu yang kala itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dibanjiri oleh kritik ‘dinasti politik’ dan bahkan dicap haus kekuasaan.

Satu lagi hal yang mungkin bisa dikritisi dari Azizah bagi saya adalah pernah mengajak Raffi Ahmad untuk menjadi wakilnya. Bahkan, ide untuk mengusung Raffi Ahmad saja, bagi saya sudah layak untuk dipertanyakan. Pada akhirnya, Azizah mengajak Rumahaben, tokoh PKS yang pernah menjadi Direktur Keuangan BUMD Tangsel PT PITS.

Muhamad – Rahayu Saraswati

Di atas kertas, pasangan ini agaknya memiliki probabilitas menang paling besar karena diusung oleh banyak partai. Antara lain: PDIP, Gerindra, PSI, PAN, Hanura, Nasdem, Perindo, Garuda, dan Berkarya.

Muhamad merupakan Sekretaris Daerah Tangsel dari tahun 2017 hingga 2020. Sementara, calon wakilnya, Rahayu Saraswati, merupakan kader Gerindra yang juga merupakan keponakan dari Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto – menjadikan pasangan ini sebagai perwakilan dari dinasti ketiga. Dinasti ini lebih tua dibanding dua dinasti sebelumnya, yakni House of Djojohadikusumo.

House of Djojohadikusumo memang bukan pemain baru dalam sejarah bangsa – dari Soemitro yang pernah menjadi menteri di pemerintahan Soekarno dan Orde Baru, Prabowo yang kini menjadi Menhan, hingga ke Soebianto Djojohadikusumo yang gugur dalam Pertempuran Lengkong di Tangerang Selatan, kota yang kini diperebutkan juga oleh House of Djojohadikusumo.

Meski menampilkan semangat kepemudaan lewat Rahayu, tak bisa dipungkiri bahwa pencalonannya tetap berpeluang untuk melahirkan sebuah dinasti politik – terutama karena Prabowo kini masih aktif sebagai Menhan. Publik pun belum lupa kalau ia adalah ‘peserta rutin’ Pilpres sejak tahun 2009 dan tidak menutup kemungkinan ia akan merayakan keterlibatannya di Pemilu untuk keempat kalinya dengan mencalonkan diri pada 2024.

Dinasti politik memungkinkan adanya ruang bagi kelompok tertentu untuk diistimewakan – juga memberikan peluang bagi terbentuknya oligarki-oligarki baru atas nama keluarga. Pilkada akhirnya hanya dilihat sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan alih-alih untuk memenuhi keinginan masyarakat.

Memang, bukan berarti bahwa orang yang diusung oleh dinasti-dinasti tersebut tidak kompeten. Visi dan misi mereka juga harus dilihat tetapi tidak salah juga untuk menaruh waspada. Jangan lupa juga bahwa Tangsel saat ini pun masih berada di genggaman dinasti.

Pilkada di Tangsel kali ini pada akhirnya menjadi saksi Sānguó Shídài kembali. Pertarungan antara tiga dinasti yang saling berebut pengaruhnya. Karenanya, Pilkada ini berpotensi hanya menentukan ke tangan dinasti mana Tangsel akan berlabuh – bukan sejauh mana Tangsel akan tumbuh. Ibarat seekor babi yang disuruh memilih serigala mana yang akan memakannya.

Meski begitu, sebagai pemegang KTP Tangsel, hati kecil saya masih berharap agar pendapat saya ini dapat terbuktikan salah di masa depan. Salam cerdas, modern, dan religius!

Tulisan milik Ilham Shidqi Nurrahmadi, lulusan Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran.


“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait