Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > Perlukah Manusia Hentikan AI?

Perlukah Manusia Hentikan AI?

Oleh Yukaristia, Lulusan S1 Pendidikan Akuntansi dari Universitas Negeri Malang.

Pinter Politik - Wednesday, January 6, 2021 15:00
Mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf bersama sebuah robot artificial intelligence (AI) yang bernama Sophia ketika berkunjung ke Indonesia. (Foto: Istimewa)

0 min read

Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI) akan membawa banyak perubahan bagi umat manusia – baik manfaat maupun dampak buruk. Lantas, perlukah umat manusia hentikan pengembangan AI?


PinterPolitik.com

Tiga bulan terakhir ini, saya membaca dan menyelami sebuah buku yang sangat profetik dari seorang nabi post-modernisme dan sejarahwan, Yuval Noah Harari, yang berjudul Homo Deus. Dalam buku tersebut, Yuval memberikan ramalannya tentang masa depan umat manusia ketika mereka kelak akan menuju manusia ilahi, imortal, dan bahagia melalui inovasi-inovasi pesat di bidang teknologi.

Homo Deus, begitulah ia menyebutnya, akan menciptakan dunia baru yang berbasis data dan algoritma, sebuah agama baru yang menggantikan humanisme. Manusia-manusia unggul ini akan menggunakan teknologi yang mereka ciptakan untuk menguasai dunia.

Kelak, akan muncul berbagai Artificial Intelligence (AI) yang lebih mengenal pikiran dan emosi manusia lebih dari dirinya sendiri, mengetahui preferensi, hingga menjadi penguasa untuk menentukan keputusan manusia. Bahkan AI inilah yang kemudian menggeser fitur biologis dan psikologis manusia.

Inovasi pesat akan memunculkan berbagai terobosan di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik, dan kehidupan sosial manusia. Revolusi teknologi yang pesat akan membantu manusia mengenali gejala dan potensi penyakit mematikan yang mengintainya serta merekomendasikan ramuan yang tepat untuk membuat manusia menjadi immortal.

Teknologi menjadi teman belajar maha tahu bagi manusia di bidang pendidikan, menjadi alat politisi untuk membaca preferensi politik masyarakat guna mengakumulasi suara elektoral, menjadikan proses produksi lebih efisien demi mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, hingga menjadi biro jodoh untuk membantu manusia menentukan kecocokan intim dengan lawan jenisnya melalui pembacaan preferensi seksual dan kecenderungan perilaku sosial antar manusia. Teknologi adalah juru selamat umat manusia dan akan menata dunia menjadi lebih paripurna.

Dari ramalan Yuval, saya ikut membayangkan bagaimana jika ke depan kita ada di masa itu. Seharusnya akan sangat membahagiakan jika kita ada di dunia yang futuristik dan bisa menjawab seluruh persoalan pelik kemanusiaan kita yang lemah dan penuh derita ini.

Namun, saya juga bertanya-tanya, berapa besar biaya yang harus dibayar untuk mencapai dunia baru tersebut? Jawabannya mungkin akan membuat kita terbelalak. Dalam misi profetik tersebut, manusia-manusia lama harus rela menjadi manusia-manusia tak berguna (useless class) demi mencapai dunia baru yang diramalkan oleh Yuval.

Manusia-manusia lama harus rela kehilangan eksistensi diri dan makna kehidupannya. Namun, mengapa itu bisa terjadi? Padahal, misi profetik tersebut membawa narasi kolektivisme demi mencapai kebahagiaan bersama. Benarkah demikian? Jawabannya adalah ya dan tidak.

Pertama, kabar baiknya adalah teknologi akan membantu manusia keluar dari penjara pekerjaan repetitif yang membosankan dan menyiksa. Idealnya teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang rumit dan berat.

Prinsipnya, teknologi membuat manusia tidak perlu mencurahkan waktu terlalu lama untuk bekerja dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin yang mungkin saja membosankan. Berarti, akan tersisa banyak waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti berfilsafat, menulis, membaca buku, traveling, berdiskusi, melukis, dan kegiatan memuaskan lainnya.

Dalam kabar baik konsep useless class, seharusnya dengan berkembang pesatnyaAI, masyarakat yang pekerjaannya digantikan oleh mesin atau robot tidak perlu khawatir bagaimana harus memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika kita percaya pada negara, maka kita berasumsi bahwa pemerintah yang akan mengatur seluruh kehidupan perekonomian kita sehingga kita bisa fokus menikmati hidup.

Salah satunya adalah program Universal Basic Income (UBI), di mana seluruh masyarakat tanpa terkecuali memperoleh hak atas pendapatan dasar yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa perlu bersusah-susah untuk bekerja terlalu berat. Tidak ada lagi pendapatan yang di bawah standar kehidupan, tidak ada lagi kemiskinan.

Meskipun saya pribadi tidak cukup yakin utopia ini akan terwujud di masa depan – mengingat bahwa perjanjian modern umat manusia adalah menyepakati liberalisme dan kapitalisme sebagai tuntunan hidup, saya tidak sedang mendiskreditkan ideologi-ideologi tersebut. Toh, saya juga hidup dan mewarisi perjanjian modern umat manusia itu.

Saya akan membahas dalam narasi yang lebih realistis bahwa sebenarnya banyak umat manusia tidak pernah siap dengan revolusi teknologi yang terlampau cepat itu. Implikasi ini dinarasikan dengan sangat baik dalam drama asal Korea Selatan (Korsel) berjudul Start-Up yang jadi tontonan hype semenjak pertama kali rilis.

Saya tidak akan membahas perdebatan tiada henti penonton Team Han Ji-pyeong maupun Team Nam Do-san. Saya ingin memaparkan sedikit tentang salah satu scene yang menjadi gambaran nyata bagaimana sebenarnya masyarakat belum siap dengan munculnya AI.

Singkatnya, dalam salah satu scene tersebut, ayah dari lakon pria (Nam Do-san) mengkritik keras revolusi teknologi yang dilakukan oleh tim pengembang Injae Company. Pria tua tersebut dengan nada tegas namun penuh kesedihan menyatakan bahwa dunia memang butuh manusia-manusia inovatif yang merancang future tech untuk memudahkan pekerjaan manusia dan membawa efisiensi bagi perusahaan.

Namun, jika perubahan itu terlalu cepat, ada manusia lain yang menjadi korban karena mereka tidak pernah siap bersaing secara kompetitif dengan AI. Mereka akan kehilangan pekerjaannya, kehilangan penghidupannya, hingga kehilangan seluruh hidupnya. Secara dramatis, pria tua tersebut menyatakan bahwa harus ada orang-orang yang menjaga zaman dan memperlambat revolusi teknologi agar tidak ada korban berjatuhan.

Menurut saya, pernyataan itu bukan main-main. Pernyataan tersebut benar adanya, tidak dibuat-buat, tidak untuk kepentingan pribadi, tidak untuk keuntungan dirinya sendiri. Saya justru menginterpretasikan maksud pria tua tersebut sebagai bagian dari kritik implisitnya terhadap kesalahan filosofi sistem pendidikan modern.

Percaya atau tidak, sistem pendidikan kita justru menjadi akar utama dari munculnya kabar buruk konsep useless class. Ben Laksana dalam tulisannya berjudul Merdeka Belajar ala Menteri Nadiem: Apanya yang Merdeka? memaparkan secara jelas bahwa pendidikan kita terlalu rigid berpedoman pada modernisme – suatu paham yang memuat cara pandang linear dalam membingkai pendidikan – bahwa pendidikan merupakan suatu sistem yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar, menjadikan pendidikan sebagai anak adopsi dari kapitalisme dan korporasi.

Semua itu terpatri dalam model pendidikan kita yang menekankan pada spesialisasi kemampuan yang tersekat-sekat, rigid, dan senjang. Yuval juga menyebutkan bahwa faktanya semakin mudah dan semakin mudah menggantikan manusia dengan teknologi, bukan semata-mata karena teknologi lebih unggul daripada manusia, melainkan karena manusia mengalami spesialisasi dan profesionalisasi.

Filosofi pendidikan yang berorientasi pasar menyempitkan proses pembelajaran melalui kurikulum yang terkotak-kotak agar manusia bisa mencapai tujuan untuk menjadi profesional maupun spesialis di bidangnya. Dengan begitu, misi profetik revolusi teknologi bisa dengan mudah mempelajari apa saja kelemahan-kelemahan spesifik manusia yang spesialis di bidangnya dan kelak menggantikan mereka di pasar kerja. Teknologi yang berbasiskan algoritme komputer bisa mengerjakan tugas-tugas spesifik dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan mengeliminasi human error.

Kesalahan filosofi pendidikan yang hanya berfokus pada spesialisasi ini juga dikritik oleh penulis filsafat, Martin Suryajaya, dalam videonya berjudul Pendidikan yang Membebaskan. Ia menyatakan bahwa linearitas dalam pendidikan membatasi manusia mengembangkan kemampuan holistiknya, dalam bidang pemikiran sosial, alam, seni, dan seluruh sains kehidupan. Artinya, manusia secara komprehensif tidak bisa memahami berbagai macam persoalan dari berbagai macam sudut pandang serta tidak tahu bagaimana cara mengatasi berbagai problematika tersebut.

Kemudian, pernyataan senada diungkapkan oleh Anto Mohsin, seorang Assistant Professor of Science and Technology Studies in Liberal Arts Program, Northwestern University dalam tulisannya berjudul Belajar dari Amerika, kurikulum lintas disiplin bisa dongkrak kualitas universitas dan sarjana Indonesia. Ia mengkritik bahwa kurikulum pendidikan di perguruan tinggi yang terkotak-kotak justru memiskinkan wawasan dan potensi para calon sarjana. Praktik pendidikan seperti itu menutup kemungkinan eksplorasi dan kreativitas yang bisa dihasilkan oleh pendidikan lintas disiplin.

Saya akan memberi contoh sederhana, bayangkan misalnya mahasiswa teknik yang hanya fokus mempelajari sains dan teknologi, tetapi tidak mendapatkan kesempatan mempelajari sejarah, sosiologi, ataupun ekonomi politik. Bisa jadi ia hanya akan menghasilkan produk atau prototipe AI yang kelak menimbulkan masalah sosial baru, seperti pengangguran, dan bahkan useless class di bawah panji-panji kapitalisme. Hal tersebut sejalan dengan apa yang terjadi dalam cerita pengembangan AI dalam seri drama Start-Up yang dikritik oleh pria tua yang saya ceritakan di atas.

Jika demikian, apakah sebenarnya kita bisa mendekonstruksi filosofi pendidikan kita? Jawabannya adalah bisa, namun kapitalisme tidak akan mengizinkannya. Kita telah terjebak dalam perjanjian modern bahwa manusia akan terus mengejar pertumbuhan ekonomi tiada henti. Demi mencapai akumulasi kapital yang tinggi, manusia akan melakukan langkah-langkah pesat, termasuk di bidang teknologi.

Sederhananya, untuk mencapai inovasi yang menunjang pertumbuhan ekonomi, maka diperlukan orang-orang yang spesialis di bidangnya dan punya nilai keahlian yang tinggi. Dengan begitu, manusia bisa mengerti secara spesifik inovasi-inovasi apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan produktivitas yang tinggi melalui penciptaan AI di bidang-bidang spesifik yang ada. Itulah mengapa pendidikan sains dan teknologi berkembang sangat pesat di masa sekarang ini.

Para elite tidak butuh lulusan-lulusan yang retoris. Mereka membutuhkan lulusan yang menguasai algoritma, big data, coding, dan sejenisnya. Mereka butuh lulusan yang bergerak di laboratorium guna menguji bioteknologi, mesin, dan robot unggul untuk masa depan.

Para elite mengejar dunia baru yang lebih menjanjikan dan mendatangkan keuntungan berlipat-lipat ganda. Riset dalam bioteknologi di bidang kesehatan didanai (investasi) untuk menghasilkan produk demi memperbarui orang sehat agar imortal.

Riset dalam bidang permesinan didanai demi menghasilkan teknologi canggih yang bisa mengeruk sumber daya alam setinggi-tingginya untuk pertumbuhan ekonomi. Riset pengembangan robot (AI) didanai demi menghasilkan generasi pekerja baru yang lebih efisien, efektif, dan produktif.

Lantas, pertanyaannya adalah, bagaimana nasib manusia-manusia lama? Apakah mereka akan bisa bertahan? Mungkin masih bisa, dengan sisa-sisa kekuatannya. Negara akan tetap menjamin fasilitas kesehatan bagi masyarakatnya, supaya mereka bisa mencapai tingkat kesehatan standar, bukan untuk dipersiapkan mencapai misi profetik di masa depan.

Negara tetap mendukung kehidupan sosio-kultural masyarakatnya, tapi tidak dalam kondisi ekologis yang maksimal, karena pengerukan sumber daya alam terus terjadi dalam obsesi pertumbuhan ekonomi. Negara tetap mengusahakan pembukaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja, tapi secara perlahan manusia-manusia lama akan tersisihkan dengan sendirinya.

Kemudian, apa yang terjadi setelah manusia-manusia lama itu tersisihkan? Bukankah mereka tidak lagi potensial bagi pasar? Kita lihat saja apa yang terjadi 10 hingga 20 tahun ke depan. Kita akan lihat apakah masih ada manusia-manusia lama yang hidup, dan jika pun ada, nasib seperti apa yang mereka hidupi dan hidup seperti apa yang mereka perjuangkan. Untuk saat ini, kita hanya perlu bertanya pada umat manusia, perlukah kita memperlambat misi profetik revolusi teknologi?


Tulisan milik Yukaristia, Lulusan S1 Pendidikan Akuntansi dari Universitas Negeri Malang.


Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait