Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > Pentingnya Literasi Politik dalam Keluarga

Pentingnya Literasi Politik dalam Keluarga

Oleh Liliek Handoko, Guru di SMAN 2 Semarang

Pinter Politik - Monday, September 14, 2020 12:30
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim (tengah) memberikan keterangan pada para pewarta usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Oktober 2019 lalu. (Foto: Setkab)

0 min read

Pandemi Covid-19 membuat kegiatan sekolah beralih secara daring melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di tengah PJJ tersebut, peran keluarga bisa saja menjadi penting dalam menunjang literasi politik.


PinterPolitik.com

Ketika Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meluncurkan program bantuan pulsa Merdeka Belajar, maka di situlah kemerdekaan belajar berpolitik juga dimulai. Apalagi di tengah pandemi seperti ini. Kemerdekaan belajar politik di dalam pendidikan keluarga harus digalakkan.

Urgensinya tentu saja bahwa generasi yang akan datang harus menjadi generasi yang melek politik, memahami hak politik, menjadi pribadi yang tidak terjebak oligarki, dan mampu menandingi buzzer politik.

Momentum untuk belajar politik dalam pendidikan keluarga harus disambut gembira oleh ayah, ibu, anak, dan keluarga besar. Grup-grup WhatsApp keluarga, Facebook yang isinya keluarga besar, maupun obrolan pagi keluarga ketika sarapan yang membahas tentang politik tentu akan menjadi lebih hidup dan jauh dari hoaks karena kemerdekaan berpolitik akan tumbuh sejak di lingkungan keluarga.

Lalu, harus dimulai dari mana ketika kesempatan kemerdekaan berpolitik dalam keluarga itu datang? Kemendikbud selama ini menyebutkan enam literasi dasar yang harus dikuasai oleh siswa Indonesia, yakni literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi digital, literasi sains, literasi finansial, dan literasi budaya. Tidak ada secara eksplisit menyebutkan literasi politik.

Padahal, jika menilik enam literasi tersebut, isu politik belum terwakili oleh salah satu dari literasi-literasi yang ada. Bagaimana dengan pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang sudah berjalan di sekolah-sekolah? Tentu, jawabannya adalah sangat sempit ketika hanya belajar politik melalui pelajaran PPKn.

Literasi politik adalah suatu keniscayaan yang harus diajarkan juga kepada anak-anak Indonesia. Ketika pendidikan keluarga di masa pandemi menjadi sangat intens karena orang tua mempunyai banyak waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah maka seharusnya program Merdeka Belajar juga meluncurkan program literasi politik.

Orang tua harus mendapat panduan agar anaknya tahu bahwa melek politik itu adalah keharusan. Ketika literasi ini akan menjadi bagian dalam pendidikan keluarga, maka orang tua dan anak tidak akan mempercayai sistem dinasti politik.

Keluarga akan mendapatkan pengetahuan bahwa oligarki adalah sesuatu yang harus dicegah dalam sistem pemerintahan. Kebebasan berpendapat dan perbedaan yang akan muncul tidak akan disikapi dengan suasana yang panas, tetapi akan disikapi sebagai khazanah yang akan menambah wawasan bagi keluarga tersebut.

Buzzer-buzzer politik yang tiap hari getol berseliweran di sosial media dapat tersaring dengan baik jika literasi politik sudah mendarah daging dalam keluarga. Demokratisasi dalam keluarga akan muncul.

Dalam jangka panjang, pribadi-pribadi dalam keluarga tersebut akan siap menghadapi pertarungan politik dalam lingkup yang lebih luas, seperti politik dalam masyarakat maupun ikut serta dalam dunia politik nasional.

Patut diduga, selama ini perbedaan yang berujung pertengkaran bahkan sampai permusuhan dan putus hubungan karena perbedaan preferensi politik, perbedaan pilihan partai bahkan sampai pilihan calon presiden yang terjadi dalam keluarga bahkan memanas dalam grup WhatsApp keluarga timbul karena literasi politik dalam keluarga yang rendah.

Belum adanya panduan bagaimana orang tua mengajarkan politik sejak dini membuat anak maupun orang tua akan mudah mempercayai hal-hal yang mereka dapat di telepon pintar mereka. Oleh karena itu, panduan literasi politik harus dibuat dan di-massal-kan kepada orang tua dan anak.

Solusi lain untuk mengembangkan literasi politik dalam pendidikan keluarga yaitu dengan memanfaatkan program bantuan pulsa Mas Nadiem. Pembagian kuota pulsa yang nantinya akan diberikan sejatinya tidak hanya memberikan pulsa kepada nomor HP siswa, tetapi juga diajari bagaimana siswa memanfaatkan pulsa tersebut untuk apa.

Salah satunya digunakan untuk mengakses informasi terkait isu politik yang terjadi. Orang tua harus dipaksa mendampingi anak dalam kegiatan ini. Artinya, literasi politik yang akan berlangsung akan menjadi tepat sasaran dan berdampak ke siswa maupun orang tua.

Kemudahan akses karena bantuan pulsa Mas Nadiem menjadi sangat berarti di tengah skor PISA siswa Indonesia yang rendah. Bukan tidak mungkin, dengan digalakkannya literasi politik akan meningkatkan ragam literasi lainnya, seperti literasi baca tulis misalnya.

Selama ini isu politik yang seksi dan hangat menjadi perbincangan kerap kali menarik perhatian masyarakat untuk menciptakan diskursus. Ketika diskursus tersebut juga sampai ke siswa, bukan tidak mungkin minat membaca dan menulis mereka akan naik signifikan.

Budaya literasi politik yang dimulai dalam pendidikan keluarga akan mampu mengembangkan demokrasi di lingkungan keluarga. Cara pandang keluarga dalam melihat suatu isu baik politik maupun isu lainnya akan terbangun dan spektrumnya akan menjadi lebih luas.

Inilah yang membuat mengapa budaya literasi politik di suatu negara amat penting. Ketika budaya politik terbangun di dalam keluarga, maka perilaku-perilaku demokratis akan tercermin dari setiap anggota keluarga tersebut.

Perilaku-perilaku tersebut yang nantinya akan menjadi penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi dalam sistem politik (Suryo, 2015). Masyarakat akan fokus pada substansi isu politik bukan fokus kepada sentimen politik.

Maraknya hoaks dan ujaran kebencian yang timbul akibat salin tempel kirim ke grup WhatsAppkeluarga juga akan teratasi karena keluarga sudah dibentengi dengan literasi politik yang memadai. Hal ini sangat penting karena literasi politik tidak hanya terkait pemahaman tentang isu politik, tetapi juga bagaimana menggunakan pengetahuan itu untuk membangun persepsi politik yang lebih bertanggung jawab.

Politik adalah seni mendengarkan aspirasi. Literasi politik menjadi penyaring dalam mendengarkan setiap isu. Dan Merdeka Belajar adalah jalan menuju hal tersebut.

Tulisan milik Liliek Handoko, Guru di SMAN 2 Semarang.


“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait