Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > Covid-19 dan Realita Overpopulasi Global

Covid-19 dan Realita Overpopulasi Global

Oleh Daniel Elifansyah, lulusan Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT)

Pinter Politik - Tuesday, January 12, 2021 15:00
Sejumlah warga memadati kawasan Shibuya di Tokyo, Jepang, kala pandemi Covid-19 membayangi pada Oktober 2020 lalu. (Foto: Kyodo)

0 min read

Di masa depan, bumi diprediksi tidak akan mampu lagi tampung seluruh umat manusia karena realita overpopulasi global. Lantas, apa hubungannya dengan pandemi Covid-19?


PinterPolitik.com

Bayangkan, kita sedang berada di sebuah pulau bernama Highgarden dengan rumah pribadi kecil di atas bukit. Di sebelah rumah, terdapat greenhouse yang memasok oksigen alami, roti gandum, sayuran, dan air minum.

Highgarden juga diberkahi dengan pantai yang menyediakan kebutuhan protein bagi penduduk. Kekayaan sebanyak itu menjadikan Highgarden sebagai tempat paling sejahtera, khususnya dalam situasi paceklik yang menimpa seluruh negeri.

Cerita tentang berlimpahnya sumber daya di Highgarden mulai tersebar dari mulut ke mulut. Orang-orang pun mulai berdatangan untuk sekedar meminta makan atau bertempat tinggal. Kita tidak bisa menolak kedatangan mereka karena adalah kodrat manusia untuk berbagi dan hidup bersosial dengan yang lain.

Pada mulanya, kehidupan berjalan dengan semestinya. Setiap penduduk mendapat jatah makan dengan vitamin dan protein yang cukup. Penduduk juga bebas untuk membangun tempat tinggal di atas tanah kosong di luar rumah dan greenhouse kita.

Namun, seiring berjalannya waktu, pendatang-pendatang baru mulai resah karena tidak ada lagi lahan kosong yang bisa digunakan untuk membangun rumah. Maka untuk meredam kerusuhan antar penduduk atas lahan kosong, kita mereduksi kapasitas greenhouse yang sedianya berukuran 40% dari total luas pulau Highgarden. Tidak berhenti sampai di situ, ekspansi lahan untuk tempat tinggal bagi para pendatang baru juga dilakukan dengan mencaplok luas pantai.

Kebijakan tersebut memang berhasil mengatasi konflik antar warga atas lahan, namun kebijakan yang sama memunculkan masalah baru; yaitu krisis sumber daya. Reduksi lahan greenhouse untuk tempat tinggal warga berbanding lurus dengan berkurangnya kuantitas oksigen, roti gandum, sayur, dan air minum yang dapat diproduksi.

Senada dengan itu, pelebaran lahan untuk tempat tinggal hingga menyentuh pantai berbanding lurus dengan rusaknya ekosistem bawah laut yang menyebabkan hilangnya sumber protein warga dalam pulau. Padahal, oksigen, pangan, dan mineral adalah beberapa komponen yang membuat manusia mampu untuk berdiri.

Kendati demikian, manusia pula lah yang merusak sumber dari komponen-komponen tersebut. Manusia membutuhkan asupan dengan jumlah yang tumbuh seiring dengan perkembangan populasi, sedangkan pulau Highgarden tidak lagi memiliki daya untuk menyediakannya.

Itulah realita dunia yang kita tempati saat ini.

Realita Overpopulasi

Sama halnya dengan pulau Highgarden, bumi, sebagai satu-satunya planet yang terbukti dapat ditempati oleh manusia hingga saat ini, juga menghadapi permasalahan yang identik. Masalah tersebut dikenal sebagai overpopulasi.

Overpopulasi pada dasarnya mengacu pada kondisi dimana kuantitas penduduk melebihi kapasitas yang dapat ditampung. Kapasitas yang dimaksud tidak hanya mengacu pada luas bidang secara aritmatika, namun juga mengacu pada ketersediaan sumber daya untuk memastikan ketahanan hidup manusia.

Melihat pada angka riil, setiap hari, ada sekitar 390.000 anak yang lahir di muka bumi dengan angka kematian hanya 166.000 orang. Dengan angka pertumbuhan manusia mencapai sekitar 80 juta/tahun, di tahun 2020, populasi dunia telah mencapai 7,8 miliar.

Bahkan, menurut Rosamund McDougall, co-chair di Optimum Operation Trust, populasi dunia diprediksi akan tumbuh menjadi 9.2 miliar di tahun 2050 – sama halnya dengan menambah 2x populasi Tiongkok atau 8x populasi Amerika Serikat.

Padahal, mengacu pada laporan UNEP Global Environmental Alert Service, mayoritas studi mengestimasikan bahwa kapasitas penduduk yang bisa ditampung oleh planet bumi adalah kurang dari 8 miliar manusia. Hal ini berarti di tahun 2050, akan ada 1,2 miliar manusia yang terlantar, ditambah dengan angka yang sudah ada saat ini akibat tidak meratanya akses terhadap sumber daya.

Menilik data UNICEF tahun 2019, terdapat 820 juta orang kelaparan setiap tahunnya. Seiring dengan berkurangnya sumber daya alam akibat tumbuhnya populasi manusia, UN Water Scarcity Report mengindikasikan bahwa pada 2025, akan ada 1,8 miliar orang yang hidup kekurangan air, serta sepertiga penduduk dunia akan hidup di area dengan ketersediaan air minimum.

Mereka juga memprediksikan bahwa di tahun 2040, 600 juta anak akan hidup di area dengan tingkat kelangkaan air yang tinggi. Angka-angka tersebut menggambarkan situasi yang akan terjadi ketika tidak ada perubahan positif nan radikal yang dilakukan.

Relasi Bumi dan Manusia

Karakter antagonis dalam film fiksi Kingsman: The Secret Service, Richmond Valentine, pernah menganalogikan bumi sebagai inang dan manusia sebagai virus. Ia menilai bahwa, jika overpopulasi sebagai akar masalah utama krisis global tidak segera direduksi, maka akan ada dua kemungkinan alami, yaitu inang membunuh virus atau virus membunuh inangnya.

Relasi antara inang dan virus adalah perjalanan seumur hidup bagi alam semesta. Sejak generasi pertama lahir, manusia secara impulsif mengeksploitasi bumi untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Hutan yang sedianya berfungsi sebagai pemasok oksigen, ditebas demi memperluas lahan pemukiman dan perkebunan. Pantai yang sedianya terbuka bagi semua, direklamasi demi eksklusivitas industri pariwisata.

Tata letak kota yang sedianya turut mempertimbangkan aspek lingkungan, direlokasi demi estetika belaka. Manusia adalah sebenar-benarnya virus, dan manusia telah membuat bumi jatuh sakit.

Thomas Malthus, seorang ekonom asal Inggris, menyatakan bahwa ada hubungan erat antara populasi dan kapasitas bumi. Dari teorinya, ia menyimpulkan jika pertumbuhan populasi melebihi kapasitas ekologi bumi, maka wabah atau pandemi akan menjadi salah satu mekanisme natural bumi untuk mengembalikan keseimbangan alamnya.

Sebagai virus dengan jangkauan paling luas pada periode 2000an, pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) adalah manifestasi sempurna daripada mekanisme natural bumi tersebut. COVID-19 yang diklasifikasikan sebagai zoonosis, adalah virus yang dibawa oleh hewan kepada manusia dan bertransmisi dari individu satu ke individu lainnya berkat interaksi sosial yang tidak steril.

COVID-19 adalah virus yang sangat mematikan sebab gejalanya seringkali tidak terdeteksi serta belum ada vaksin atau obat yang terbukti ampuh untuk menangkalnya. Tercatat hingga 14 Desember 2020, total kematian akibat COVID-19 menyentuh angka 1,62 juta.

Tidak hanya membunuh manusia, namun COVID-19 juga membunuh laju industri dunia. Sektor industri, yang setiap harinya berkontribusi besar terhadap pemanasan global, sebagian besar mangkrak akibat pandemi.

Sektor transportasi, yang berkaitan langsung dengan peningkatan emisi karbon, juga dihentikan seiring dengan adanya larangan bepergian baik domestik hingga lintas negara. Manusia sedang terpukul telak, tapi siapa yang menyangka bahwa pada momen seperti inilah bumi mulai menemukan titik keseimbangannya kembali.

COVID-19 adalah pembunuh, ia telah membunuh berbagai sendi kehidupan manusia. Namun COVID-19 tidak lebih buruk daripada manusia. Manusia merusak, menjarah, dan mengeksploitasi bumi dengan hanya meninggalkan sedikit untuk dinikmati generasi yang akan datang. COVID-19 hanyalah organisme serdadu bumi untuk mestabilisasi ekosistem di dalamnya.

Manusia harus menyadari jika alam sudah mengeluarkan mekanisme serupa, hal itu mengindikasikan bahwa ada yang salah dari relasi bumi-manusia. Bagi bumi, manusia seharusnya menjadi imun yang menguatkan, bukan menjadi virus yang menghancurkan. Kita tentunya tidak menginginkan adanya pandemi COVID-20, COVID-21, atau bentuk pandemi lainnya yang dapat menyapu populasi manusia dalam periode singkat.

Untuk itu, manusia harus mengeksplorasi bumi seproporsional mungkin sesuai dengan kebutuhan secara komunal. Bukan atas kepentingan pribadi atau atas kepentingan yang bersifat sementara seperti yang terjadi di Highgarden karena sejatinya, mengingat ungkapan dari Mahatma Ghandi, the world is enough for everyone’s need, but not enough for everyone’s greed.


Tulisan milik Daniel Elifansyah, lulusan Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT).


Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait