Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

Oleh Muhammad Husni, mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia

Pinter Politik - Monday, May 24, 2021 18:00
Para pengendara melakukan perjalanan ‘mudik’ dengan melintasi Jembatan Suramadu, Jawa Timur, pada Juli 2020 silam. (Foto: Antara)

0 min read

Manusia menjadi makhluk hidup yang mendominasi di planet Bumi. Apa kelanjutan dari makhluk animalia yang juga merupakan animal symbolicum?


PinterPolitik.com

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan” – Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden, 2021)

Sekitar 13.5 miliar hingga 3.8 miliar tahun lalu, alam raya membentuk ruang dan waktu dengan bebasnya tanpa perintah siapapun. Atom-atom, molekul-molekul, hingga organisme-organisme lahir dalam rentetan kisah bernama sains yang terjalin pada bagian bertajuk evolusi (Harari, 2017, hal. 3).

Penulis menafsirkan secara liar kalimat pembuka artikel ini yaitu “tiada satu benda pun di semesta yang selalu seragam, segalanya mengalami perubahan pada porsinya masing-masing. Kebalikannya, satu-satunya yang tetap di dunia ini hanyalah proses perubahan itu sendiri”—sebuah kontradiksi yang sangat tajam.

“Bilamana semua hal berubah, termasuk manusia, apa tepatnya yang membuat kita berbeda dari makhluk hidup lainnya hingga-hingga kita dikatakan mahkluk yang istimewa?” Berangkat dari konsep di atas, penulis ingin menuliskan keresahan terkait makhluk bernama manusia yang pada saat ini berdiri di puncak rantai makanan, rantai penguasaan sumber daya, juga rantai-rantai lainnya.

Manusia sudah ada jauh sebelum masa sejarah. Binatang-binatang yang sangat mirip manusia modern sudah hadir sekitar 2.5 juta tahun lalu (Harari, 2017, hal. 4). Manusia untuk pertama kali terlahir sekitar 2,5 juta tahun lalu di kawasan Afrika Timur, dari genus Australopithecus (Kera Selatan). Setengah juta tahun kemudian, sebagian dari mereka meninggalkan tanah kelahiran mereka, mengembara dan menetap di kawasan Afrika Utara, Eropa, dan Asia (Harari, 2017, hal. 9).

Seorang sejarawan Inggris bernama Arnold Toynbee pernah mengemukakan konsep bernama Challenge and Response yang kurang lebih berusaha untuk menangkap dan menjelaskan bagaimana sebuah peradaban lahir dan mati (Schmandt & Ward, 2000, hal. 1). Tuntutan hidup di satu wilayah berbeda dengan wilayah lainnya, oleh sebab itu manusia-manusia itu berubah ke arah yang berbeda dan mengalami mutasi genetik.

Manusia di Eropa dan Asia Barat berevolusi menjadi Homo neanderthalensis (Neandethals), di Jawa (Indonesia) hidup Homo soloensis, Homo floresiensis (Flores) sedang evolusi di Afrika Timur juga terus berlangsung—hingga muncul spesies baru seperti Homo rudolfensis, Homo ergaster, Homo sapiens (Harari, 2017, hal. 8-9).

Hadirnya Makhluk Pengkhayal

Sebagaimana kita ketahui dari pemaparan di atas bahwa Homo sapiens hanyalah satu dari sekian banyak spesies manusia yang pernah berjalan di muka bumi, mengapa sekarang hanya tersisa satu saja? Pada buku Sapiens (2017), Harari mengetengahkan berbagai teori untuk menjelaskan keberadaan sapiens dari perspektif evolusi seperti Inbreeding Theory ketika menjelaskan kemungkinan penyatuan sapiens dengan neanderthalensis atau sapiens dengan erectus lokal atau Replacement Theory dimana sapiens menggantikan semua makhluk sebelumnya tanpa menyatu dengan mereka dan pada hakekatnya menjadi Pure Sapiens (Harari, 2017, hal. 16-18).

Secara fisik sapiens yang hadir 150.000 tahun silam di kawasan Afrika Timur tidak jauh berbeda dengan manusia modern. Tidak ada keunggulan apa-apa atas manusia spesies lainnya bahkan sempat menemui kegagalan ketika imigrasi pertama mereka ke Timur Tengah pada 100.000 tahun lalu (Harari, 2017, hal. 22).

Kira-kira pada 70.000 tahun lalu terjadi sesuatu menimpa sapiens sehingga mereka berhasil meninggalkan Afrika Timur dan menetap di berbagai penjuru dunia. Babak baru bagi mereka dimulai, hingga sekarang anak keturunan mereka menjadi penguasa dunia dan memuncaki berbagai jenis rantai. Bagaimana itu bisa terjadi?

Jawaban yang ditemukan dari semua perdebatan—bagaimana Homo sapiens menaklukkan dunia—adalah karena perkembangan bahasa unik mereka. Masa antara 70.000 dan 30.000 tahun yang lalu ditandai dengan revolusi kemampuan kognitif sapiens, yang oleh para ahli disebut sebagai akibat terjadinya mutasi genetik dalam susunan otak sapiens yang memungkinkan mereka untuk berpikir dan berkomunikasi dengan menggunakan tipe bahasa baru atau disebut “Pohon Pengetahuan” (Harari, 2017, hal. 23).

Bahasa yang unik ini menjadi sarana untuk berbagi informasi mengenai dunia—terutama mengenai manusia—sebagai cara bergosip. Intinya menurut teori gosip ini Homo sapiens adalah makhluk sosial dan kerja sama sosial merupakan kunci untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Penting bagi mereka untuk mengetahui siapa dalam kelompok membenci siapa, siapa yang jujur, siapa yang akrab berteman dan sebagainya.

Lebih lagi, kemampuan sapiens untuk berbicara mengenai fiksi (sesuatu yang tidak eksis secara nyata) tidak hanya memungkinkan Sapiens untuk berimajinasi namun juga untuk bekerja secara kolektif dalam jumlah besar. Mitos seperti cerita Injil, mitos dalam masyarakat Aborigin bahkan mitos yang bersifat nasionalistis dalam negara modern merupakan kunci penjelasan mengapa sapiens dapat menguasai dunia.

Infinity in Finity

“Semut mampu bekerja sama dalam jumlah besar, tetapi mereka melakukannya dalam cara yang sangat kaku dan hanya dengan kerabat terdekatnya. Simpanse bekerja sama jauh lebih fleksibel ketimbang semut, tetapi mereka melakukannya hanya dengan individu dalam jumlah kecil yang mereka kenal sangat akrab.

Sapiens bisa bekerja sama dalam cara yang jauh lebih fleksibel secara ekstrim dengan orang asing dalam jumlah tak terbatas. Itulah mengapa sapiens menguasai dunia, sementara semut makan sisa-sisa kita, dan simpanse terkunci di kebun-kebun binatang dan laboratorium riset. (Harari, 2017, hal. 28)”.

Harari dalam Sapiens (2017) tidak hanya membahas mengenai revolusi kognitif, melainkan juga membahas revolusi pertanian, revolusi sosial (unifikasi), revolusi ilmiah, dan revolusi infinit (permanen). Setelah mengetahui bahwa yang membuat kita—manusia—berbeda dengan makhluk lain serta memuncaki dunia saat ini ialah kemampuan kerja kolektif dan berbahasa, muncul pertanyaan lain yang tiba-tiba mendatangi kepala saya yakni “apa yang hadir setelah bahasa? apa yang akan terjadi pada manusia?”

Mencoba menjawab pertanyaan tersebut, penulis menemukan sebuah frasa yang sangat mampu menjadi respons daripada kegelisahan tersebut yaitu animal symbolicum. Frasa tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Ernst Cassirer (Suria, 1982, hal. 171), menurutnya, manusia adalah binatang yang menghidupi dan dihidupi simbol.

Manusia modern sebagai animal symbolicum memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari Homo sapiens, wujud nyatanya ialah penggunaan simbol (bahasa tulisan) dalam berbahasa dan berkomunikasi. Tanpa bahasa tulisan, aktivitas manusia yang terstruktur serta teratur tidak mungkin dilaksanakan. Lebih lagi, manusia akan kehilangan kemampuan untuk meneruskan suatu nilai ke generasi selanjutnya.

Akan tetapi, pada titik yang tidak kalah ekstrimnya akibat manusia berbahasa dan hidup dengan ketergantungan pada simbol, kita tak jarang dihadapkan pada situasi doublespeak. Doublespeak adalah hasil kawin silang dua konsep bernama newspeak dan double-think yang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai bahasa yang digunakan untuk menghindari atau melemparkan tanggung jawab (Lutz, 1989, hal. 3-4).

Kegiatan mudik yang telah terinternalisasi menjadi budaya kembali ke kampung halaman oleh berbagai etnis beragama Islam di Indonesia menjelang Idul Fitri pernah menjadi sebuah polemik. Presiden Joko Widodo menyatakan mudik dan pulang kampung adalah dua aktivitas yang berbeda, “Kalau yang namanya pulang kampung itu bekerja di Jakarta, tetapi anak-istrinya ada di kampung”, dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7 pada Rabu, 23 April 2020 (Tempo.co, 2020). Dalam hal ini, ucapan tersebut memiliki koridor yang sama dengan “pemerintah bukannya tidak terbuka, melainkan tidak ingin membuat rakyat panik.”

Foucault pernah mengemukakan pendapat mengenai kekuasaan yakni “kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan, kekuasaan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan dibentuk oleh kekuasaan (Pohan, 2018, hal. 21-23)”. Pada animal symbolicum, bahasa dapat membentuk dan mempengaruhi pikiran, maka mereka yang menguasai bahasa dapat menguasai pikiran masyarakat.

Doublespeak apabila dilakukan oleh orang yang tidak memangku jabatan besar mungkin hanya akan terlihat sebagai hal sepele. Bagaimana jika hal tersebut dilakukan oleh pejabat pemerintahan?

Perlu diingat, satu-satunya hal yang tetap di dunia ini adalah proses perubahan itu sendiri. Sebagaimana manusia modern yang melangkah lebih jauh daripada Homo sapiens dengan menyempurnakan Pohon Pengetahuan melalui bahasa tulisan. Manusia di masa depan akan menemukan hal-hal baru untuk menambah khazanah manusia saat ini, namun, untuk mencapai hal tersebut masihlah panjang dan akan menjadi sebuah revolusi permanen (perdebatan tanpa henti).

Menerka Post-Animal Symbolicum

Manusia modern sebagai animal symbolicum tidak jarang dibuat menormalisasi realitas yang kabur melalui kegiatan doublespeak—terutama oleh pemerintah yang juga tidak jarang mereka angkat sendiri. Praktik ini akan menjadi sangat berbahaya ketika kita memandangnya sebagai jenis komunikasi yang normal. Bayangkan bilamana pemberitaan di berbagai media kelak menggunakan frasa “pengamanan” dibanding “penangkapan”; interogasi” dibanding “penyiksaan”; dan “korban sipil” dibanding “korban pembunuhan negara”.

Apa yang menanti setelah animal symbolicum? Hingga artikel ini selesai ditulis pun, penulis masih belum mampu menjawab dan masih di tahap meraba-raba kemungkinan apa yang akan terjadi. Entah manusia nantinya meninggalkan kegiatan menulis atau bahkan bertutur lisan sebab telah menemukan teknologi telepati di masa depan, atau tenggelam dalam normalisasi serta regulasi pemerintah animal symbolicum dan mengamini kekuasaan beroperasi di tiap kata yang kita dengar dan baca. Jika kemungkinan yang terakhir yang terjadi, izinkan saya mengutip George Orwell dalam Novel 1984,

“Perang adalah damai, kebebasan adalah perbudakan, kebodohan adalah kekuatan.”


Tulisan milik Muhammad Husni, mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia.


Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait