Renungan Tentang Buni Yani

vonis buni yani
Buni Yani. (Foto: Detik)
2 minute read

“Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku.” ~Goenawan Mohamad


PinterPolitik.com

Buni Yani Oh Buni Yani…

Mungkin anak, istri dan sanak keluargamu tidak ada yang pernah menyangka nasib dirimu akan seterpuruk ini. Kau yang tadinya seorang akademisi yang dihormati, bisa menjadi seorang terpidana kasus pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hmmm, roda berputar ya. Aku jadi ingin ikut waspada soal hidupku.

Atas semua yang terjadi, sebenarnya adakah rasa penyesalan di dirimu? Ya, kalau kau tetap mau menyangkal seperti biasanya terserah saja. Aku hanya ingin ikut merenungkan saja, barang kali jadi pelajaran untuk lebih hati-hati.

Selalu ada hikmah dari setiap kejadian... Click To Tweet

Buni Yani Oh Buni Yani


Andai saja kau tidak mengedit dan mengunggah video Ahok yang menyitir surat Almaidah ayat 51 di Kepulauan Seribu beberapa tahun lalu, mungkin saat ini kau akan baik-baik saja. Masih bisa studi di kampus bergengsi sekelas Leiden di Belanda. Sedangkan umpatan mungkin hanya akan datang dari mahasiswa-mahasiswamu yang tak puas dengan nilai yang kau berikan. Mungkin yaa…

Sekarang kau akan dieksekusi. Haduhhh, bagaimana ini? Apakah wajah memelasmu itu tidak bisa membuat para alumni 212 terenyuh dan membelamu? Atau paling tidak, bisa menggerakkan hati mereka untuk membeli mug bergambar wajahmu yang kau jual demi menyambung hidup? Setidaknya kalau itu laku, keluargamu akan tetap tercurahkan rezeki saat kau mendekam selama 1,5 tahun kelak.

Tapi beneran deh, aku ini penasaran. Darimu mungkin aku bisa belajar arti persahabatan yang sesungguhnya. Setidaknya tunjukkan orang-orang yang dulu membelamu ketika Ahok terpuruk.

Lalu, bagaimana dengan Rizieq Shihab? Kenapa sejak awal kau tidak minta diajak pergi ngungsi ke negeri gurun pasir sana saja sih? Bukannya enak, bisa makan kurma dan air zam-zam setiap hari? Gaya pakaianmu yang kerap pakai baju koko dan celana cingkrang itu juga sudah cocok kok untuk dipakai di Arab. Tinggal ganti kopiahmu dengan serban agar supaya.

Baca juga :  Di Balik Izin Obat Terawan

Ah, tapi waktu sudah terlanjur bergulir. Bau penjara pun mungkin sudah makin semerbak di lubang hidungmu. Hukuman itu makin terasa nyata saja ya?

Lantas kau memohon kepada kerabat ‘sekaum’ mu, Fadli Zon, agar bisa diperlakukan sama dengan Ahok? Kenapa kau ingin seperti Ahok?

Nasib dia nelangsa, dia dihujat jutaan umat muslim karena video yang kau sebar. Karier politiknya pun terpuruk hampir menuju kerak bumi paling dalam. Hmmm, tapi ku akui dia punya nasib baik juga sih, yakni dibuatkan film layar lebar dan mendapatkan istri baru setelah bebas. Kau ingin nasib Ahok yang mana? (E36)