<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Ragam &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/ragam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Mar 2019 07:12:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Ragam &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PA 212: Jokowers Taubat Nasional!</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/pa-212-jokowers-taubat-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G42]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2018 14:50:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'ruf Amin]]></category>
		<category><![CDATA[PA 212]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=35764</guid>

					<description><![CDATA[“Pemerintah dan agama sama-sama menjadi alat penindasan?” PinterPolitik.com [dropcap]K[/dropcap]eseleo-nya lidah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu berhasil membuat dirinya, Presiden Jokowi, dan juga partai pengusung mendapatkan sebuah gelar baru. Gelar yang didapat Ahok itu adalah sang penista agama, kalau Jokowi beserta partai pendukungnya mendapatkan gelar geng kafir, kelompok sesat, hingga pendukung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Pemerintah dan agama sama-sama menjadi alat penindasan?”</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]eseleo-nya lidah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu berhasil membuat dirinya, Presiden Jokowi, dan juga partai pengusung mendapatkan sebuah gelar baru.</p>
<p>Gelar yang didapat Ahok itu adalah sang penista agama, kalau Jokowi beserta partai pendukungnya mendapatkan gelar <em>geng</em> kafir, kelompok sesat, hingga pendukung penista agama. <em>Weleh-weleh.</em></p>
<p>Sebenarnya, masih banyak lagi gelar-gelar lain yang disandangkan kepada Presiden Jokowi beserta partai pendukungnya <em>gengs.</em> Tapi<em> eyke</em> enggan menyebutkan satu persatu karena<em> eyke</em> takut ditegur sama Jokowers dan Paspampers <em>gengs. Wkwkwk.</em></p>
<p><em>Eh, </em>enggak deng<em> gengs </em>bercanda<em>, eyke </em>enggak beberin satu persatu karena kalimatnya itu tidak sopan. Lagian juga masa sih presiden sebagai simbol negara harus kita ejek dan maki-maki terus menerus. Kasihan dong <em>gengs,</em> mereka sudah capek-capek urus negara masa enggak kita beri apresiasi dengan baik. <em>Ehehehe.</em></p>
<p>Oh iya<em> gengs, </em>kalau bicara apresiasi, menurut kalian apa mungkin yang dikatakan persaudaraan alumni (PA) 212 ini juga termasuk bentuk apresiasi untuk pemerintahan Jokowi?</p>
<p>Jadi gini <em>gengs, </em>baru saja PA 212 mengucapkan harapan atas terpilihnya KH Ma&#8217;ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Harapan PA 212, Ma’ruf bisa membuat calon presiden petahana itu beserta pendukungnya bisa taubat nasional.<em> Waduh ahaha.</em></p>
<p>Kalau menurut Jubir PA 212 Novel Chaidir Hasan, Ma&#8217;ruf diharap bisa mengajak Jokowi dan pengikutnya untuk memahami nilai-nilai agama yang harus dijunjung tinggi. <em>Weleh-weleh.</em></p>
<p>Novel juga mengklaim pemerintah yang kita lihat sekarang ini memiliki banyak masalah, salah satunya adalah masalah keadilan. Novel melihat keadilan tidak bisa dinikmati oleh masyarakat banyak, khususnya umat Islam. <em>Hmmm,</em> masa sih bang<em>?</em></p>
<p>Apa benar <em>gengs</em> hanya umat Islam saja yang hari ini tidak menikmati keadilan dalam hidup bernegara di Indonesia? Kayaknya enggak ya <em>gengs.</em> Kalau bicara keadilan, <em>eyke</em> sepakat. Tapi kalau cuman umat Islam doang, pikir-pikir lagi deh bang.</p>
<p>Oh iya <em>gengs</em>, selain berbicara soal keadilan, Novel juga sempat menduga kalau ada <em>grand design</em> paham komunis yang merekayasa, sehingga bangsa Indonesia menjadi terpecah belah dan saling sikut-sikutan. Sampai-sampai Novel juga bilang kalau TNI dan Polri sedang jadi domba yang enggak berhenti main tubruk-tubrukan. <em>Ckckck. </em></p>
<p>Parah ya Novel, segala pakai nuduh rezim Jokowi komunis, terus juga bilang kalau TNI Polri lagi jadi domba aduan. <em>Uuuu,</em> belum aja nih Bang Novel diseruduk sama kesatuan Polisi dan TNI. Kalau <em>eyke</em> mah ampun deh bang. <em>Wkwkwk.</em></p>
<p>Jadi gimana nih <em>gengs, </em>siapa di antara kalian yang sepakat kalau Jokowi <em>and the gengs </em>itu komunis? Nah siapa juga nih di antara kalian yang sepakat kalau Jokowi <em>end the gengs</em> acara bikin acara taubat nasional?</p>
<p>Kalau <em>eyke </em>sih <em>gengs</em> akan lebih sepakat lagi kalau peserta taubat nasionalnya itu dihadiri oleh seluruh politikus Indonesia karena yang <em>ngaco</em> kayaknya bukan kubu Jokowi doang deh. <em>Hehehe. </em>(G35)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/Video-Firza-Beredar-Luas-Novel-Bamukmin-Sebut-Sudah-Tahu-Penyebarnya.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jakarta Kota PKL</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jakarta-kota-pkl/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2018 05:25:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemda DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[PKL]]></category>
		<category><![CDATA[Sandiaga Uno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=22636</guid>

					<description><![CDATA[Setelah PKL di Benhil yang meluber di trotoar, kini para PKL juga menggelar lapak di beberapa wilayah lainnya. Waduh, Jakarta jadi kota PKL nih? PinterPolitik.com “Semua kebijakan dapat di ukur dengan keadilan.” ~ Aristoteles [dropcap]K[/dropcap]ebijakan Gubernur DKI Jakarta yang memperbolehkan para Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan di jalan raya, membuat para PKL di wilayah lain [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Setelah PKL di Benhil yang meluber di trotoar, kini para PKL juga menggelar lapak di beberapa wilayah lainnya. Waduh, Jakarta jadi kota PKL nih?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Semua kebijakan dapat di ukur dengan keadilan.” ~ Aristoteles</strong></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]ebijakan Gubernur DKI Jakarta yang memperbolehkan para Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan di jalan raya, membuat para PKL di wilayah lain terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Bila di era gubernur sebelumnya, mereka harus kucing-kucingan dengan SatPol PP, kini mereka seperti diberi legitimasi.</p>
<p>Ibarat Jerry si tikus dalam film “Tom &amp; Jerry”, para PKL ini  sudah mampu “menjinakkan” Tom si kucing yang biasanya ganas mengejar-ngejar para PKL. Berkat Anies Baswedan, Jerry kini bisa menggelar lapaknya di sepanjang trotoar Jakarta yang letaknya dekat dengan pusat keramaian.</p>
<p>Lihat saja para PKL di Bendungan Hilir (Benhil) yang saat ini sudah membanjir dipinggiran jalan, bahkan meluber hingga ke trotoar Jalan Sudirman. Para PKL di Kota Tua yang awalnya dialokasikan di Jalan Cengkeh, kini juga ikut balik meluap lagi ke dekat Stasiun Kereta Jakarta Kota. Tak hanya itu, mereka pun berharap bisa menutup sebagian ruas Jalan Lada untuk dijadikan lapak berjualan seperti di Tanah Abang.</p>
<p>Seakan diberi peluang, karena hingga kini belum ada tindakan berarti dari Pemda, para PKL di wilayah Blok M pun ikut ambil bagian dalam meramaikan trotoar jalan. Di sekitar wilayah Melawai hingga depan Gedung Recapital di Jalan Aditiyawarman pun para pedagang sudah menutupi sepanjang jalur trotoar.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="id">
<p dir="ltr" lang="in"><a href="https://twitter.com/OmbudsmanRI137?ref_src=twsrc%5Etfw">@OmbudsmanRI137</a> apa maksudnya Lurah Melawai ini Trotoar untuk PKL dan bukan untuk Pejalan Kaki ? apa benar begitu aturannya ?</p>
<p>— wrahardian (@wrahardian2) <a href="https://twitter.com/wrahardian2/status/968627796128931840?ref_src=twsrc%5Etfw">27 Februari 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Tak tanggung-tanggung, mereka juga sempat menggelar spanduk OKE OCE walau menurut Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno mereka belum terdaftar sebagai anggota. Para pedagang ini mungkin merasa aman berjualan di ruas jalan yang letaknya tidak jauh dari Terminal Blok M, sebab Gedung Recapital sendiri milik Sandiaga Uno.</p>
<p>Lalu bagaimana tanggapan Sandi mengenai tren menjamurnya kembali PKL di Jakarta? Ternyata ia hanya angkat tangan saja, dan menyerahkan seluruh pengurusannya pada Walikota masing-masing wilayah. Hmm, apakah para Walikota di Jakarta bisa mengeluarkan aturan tegas kalau atasannya sendiri tidak tegas?</p>
<p>Ya gitu deh, paling-paling dalam lima tahun ke depan, Jakarta akan mendapatkan julukan baru, yaitu Kota PKL. Sebab bisa jadi nanti para PKL di wilayah-wilayah lain juga akan muncul dan menjamur hingga ke berbagai jalan. Kalau begini, gimana mau mengurangi macet di Jakarta ya? Yang ada nanti malah bertambah macet dong. <em>Hadeeeuh</em>. (R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/02/sandiaga-pkl.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nurul, Batman Buat Bandung?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/nurul-batman-buat-bandung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2017 04:51:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[nurul arifin]]></category>
		<category><![CDATA[Ridwan Kamil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=16058</guid>

					<description><![CDATA[Gotham, eh Bandung, butuh Batmannya lagi, lho. PinterPolitik.com  [dropcap]R[/dropcap]idwan Kamil (RK) sudah jauh hari bilang mau ikut peruntungan dalam Pilgub Jawa Barat 2018 mendatang. Sejak saat itu, banyak ‘calon-calon pasangan’ langsung pasang badan mau menggantikan walikota gaul nan tersohor tersebut. Mbak Nurul Arifin salah satunya. Buat orang yang awam sama dunia pulitik nasional, mendengar nama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Gotham, eh Bandung, butuh Batmannya lagi, <em>lho</em>.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]R[/dropcap]idwan Kamil (RK) sudah jauh hari bilang mau ikut peruntungan dalam Pilgub Jawa Barat 2018 mendatang. Sejak saat itu, banyak ‘calon-calon pasangan’ langsung pasang badan mau menggantikan walikota gaul nan tersohor tersebut. Mbak Nurul Arifin salah satunya.</p>
<p>Buat orang yang awam sama dunia <em>pulitik</em> nasional, mendengar nama Mbak Nurul Arifin, pasti bakal lebih familiar dengan kiprah <em>bliyo</em> di film lawas Nagabonar (1980) dan Catatan Si Emon (1991). Sebagai pengingat saja nih, Mbak Nurul sudah hijrah dari dunia keartisan dan berenang di dunia politik. Dia sudah duduk di Golkar bahkan sejak 2009, <em>lho.</em></p>
<p>Nah, kira-kira Mbak Nurul dan <em>partner</em>-nya, yang juga cicit dari pahlawan H.O.S Tjokroaminoto itu, punya terobosan apa buat kota yang sempat dijuluki ‘Gotham tanpa Batman’ ini? Jangan salah, <em>lho.</em> Biar kelihatan adem ayem, <em>woles</em>, dan santai, Bandung pernah sangat mencekam.</p>
<p>Ingat tidak, waktu ada kisruh antara dua klub sepak bola antara Jakarta – Bandung yang sempat santer di tahun 2013 dulu? Pertikaian dari negeri <em>lo-gue </em>dengan <em>urang-</em>maneh itu berhasil bikin jalanan angker. Bahkan untuk warga Bandung sendiri. Tak lama dari kejadian itu, geng motor mulai merasuk ke sisi-sisi daerah Bandung. Akibatnya, Bandung dikenai jam malam.</p>
<figure id="attachment_16059" aria-describedby="caption-attachment-16059" style="width: 620px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-16059 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/265775_620.jpg" alt="" width="620" height="355" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/265775_620.jpg 620w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/265775_620-300x172.jpg 300w" sizes="(max-width: 620px) 100vw, 620px" /><figcaption id="caption-attachment-16059" class="wp-caption-text">Kota Bandung di mlam hari (sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Semua toko dan seisi warga Bandung, harus pulang seperti <em>Cinderella</em>, tengah malam pokoknya harus sudah ada di rumah! Titik. Aparat kepolisian tak tanggung-tanggung turun semua. Eh, tapi apa daya, ini malah bikin anak-anak mudanya <em>ngamuk</em>, karena pemerintah dianggap mengekang. Wah, bumi Pasundan gonjang-ganjing saat itu.</p>
<p>Nah, apa yang Kang Emil lakukan? Hm, sebetulnya tak tahu pasti apa yang dilakukannya waktu itu, <em>sih</em>. Kang Emil hanya pernah bilang kalau kebijakan menurunkan aparat bukan darinya. Sudah itu, <em>cling</em>! Kota tiba-tiba jadi aman lagi. Sakti betul.</p>
<p>Mbak Nurul dan Chairul Yaqin Hidayat, pastinya harus bisa lebih sakti dibandingkan dengan RK. Sebab, gonjang-gonjing Bandung mustahil berhenti untuk waktu yang lama. Sudah galau ditinggal walikotanya yang <em>famous,</em> warganya perlu perhatian peningkatan kesejahteraan. Kalau semua orang dapat kerja dan gaji cukup, pasti mereka <em>nggak </em>ada waktu nongkrong bareng geng motor apalagi <em>ngrampok</em> sana-sini.</p>
<p>Ah, jadi teringat <em>quotes</em> M.A.W Brower yang <em>nempel</em> di tembok lorong Braga. Dia bilang, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum’. Semoga saja Mbak Nurul nanti tak hanya mampu mempertahankan senyum Tuhan, tapi juga <em>rakjat ketjil </em>Bandung. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/df96f8d3-0c7a-489e-bc22-a932f633c12e_169.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gus Dur Gagal Jadi Pahlawan</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/gus-dur-gagal-jadi-pahlawan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Nov 2017 07:39:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pahlawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15958</guid>

					<description><![CDATA[Jadi pahlawan atau ndak, Gus Dur tetaplah menjadi kuncian hati. PinterPolitik.com  [dropcap]H[/dropcap]ari Pahlawan yang jatuh di Jumat (10/11) ini, ada empat nama yang akhirnya dikalungi gelar Pahlawan. Bliyo-bliyo ini adalah, Malahayati, Lafran Pane, Mahmud Marzuki, dan Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Mbahas nama-nama di atas, rasanya kurang afdol jika tak bertanya-tanya, kenapa tahun ini Tim Peneliti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Jadi pahlawan atau <em>ndak, </em>Gus Dur tetaplah menjadi kuncian hati.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]H[/dropcap]ari Pahlawan yang jatuh di Jumat (10/11) ini, ada empat nama yang akhirnya dikalungi gelar Pahlawan. <em>Bliyo-bliyo</em> ini adalah, Malahayati, Lafran Pane, Mahmud Marzuki, dan Muhammad Zainuddin Abdul Majid.</p>
<p><em>Mbahas </em>nama-nama di atas, rasanya kurang afdol jika tak bertanya-tanya, kenapa tahun ini Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) kok ya <em>ndak </em>juga mengajukan nama Gus Dur kepada Pak Jokowi? Jangan salah <em>lho</em>, Gus Dur punya kualitas dan layak jadi pahlawan. Jelas.</p>
<p>Bu Yenny Wahid, putri keempat Gus Dur memang berkata bahwa ia bosan ditanya hal sama tiap tahun. Saking seringnya, Bu Yen merasa gelar itu tak lagi penting. Walah, jangan salah, ini masih layak dibahas kok, Bu. Kalau ada sebagian pihak yang mau mengangkat Pak Harto jadi Pahlawan, kenapa Gus Dur <em>ndak? </em>Memang hanya orang-orang yang lulus penataran P4 saja yang bisa bilang Pak Harto layak jadi pahlawan? Mereka yang peduli dengan toleransi agama juga bisa, kan?</p>
<figure id="attachment_15959" aria-describedby="caption-attachment-15959" style="width: 909px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-15959 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gus-dur-soeharto.jpg" alt="" width="909" height="600" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gus-dur-soeharto.jpg 909w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gus-dur-soeharto-300x198.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gus-dur-soeharto-768x507.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gus-dur-soeharto-696x459.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gus-dur-soeharto-636x420.jpg 636w" sizes="(max-width: 909px) 100vw, 909px" /><figcaption id="caption-attachment-15959" class="wp-caption-text">Gus Dur dan Soeharto (sumber: Tribun)</figcaption></figure>
<p>Celetukan-celetukan kritis nan ceplas ceplos Gus Dur terus diingat sampai sekarang sebab <em>bliyo</em> begitu menghargai perbedaan, terutama masalah suku, ras, dan agama. Masih ingat <em>ndak?</em> Gus Dur adalah presiden pertama yang berani memanggil pesakitan-pesakitan Tionghoa yang jadi bulan-bulanan Tragedi 1998 lalu. Gus Dur juga yang berani lawan arus untuk mengangkat Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional. Dari sana, mantan santri ini dijuluki Bapak Pluralisme Indonesia.</p>
<p>Langkah Gus Dur ini bukan berarti tak mendapat halang rintang sama sekali dari berbagai kalangan dan bahkan golongannya sendiri. Dia juga dianggap terlalu berpihak pada kelompok minoritas. Hmm, walaupun <em>nggak</em> ngerti juga apa hal yang buruk dari membela orang-orang minoritas dari kelompok yang selalu dimarjinalkan. Ya, sebab siapa lagi yang mau membela kelompok orang yang selalu ‘dibuat’ <em>siyal</em> secara sistematis, terstruktur, dan masif? <em>Ya, tho?</em></p>
<p>Ya, mungkin penolakan (atau ketidakmampuan kita untuk menalar) ide-ide Gus Dur yang dibilang kelewat permisif itu, yang bikin TP2GP belum juga menganugerahi Gus Dur dengan gelar pahlawan. Kalau mereka punya kriteria, siapa yang meninggal lebih lama, sebagai syarat penganugerahan gelar pahlawan, kita bisa apa selain <em>nrimo</em>?</p>
<p>Lagipula, kalau Bu Yen, selaku anak,  sudah anggap tak penting gelar pahlawan untuk Gus Dur, mungkin itu adalah sinyal kalau ada hal yang jauh lebih penting untuk dilakukan. Dan yang pasti hal itu lebih dari sekedar gelar dan status pahlawan belaka. Mau dianugerahi atau <em>ndak,</em> kontribusi dan peran besar Gus Dur yang diberikan kepada bangsa dan negara tak berkurang seujung kuku pun.</p>
<p>Nah, mungkin saja dibalik pernyataan bosan Bu Yen, <em>bliyo</em> menyimpan harap kalau menyebar nilai-nilai positif yang dicontohkan Gus Dur lebih penting ketimbang gelar. Ya, habis mau bagaimana? Selain pulsa dan tubir (re: ribut), generasi milenial juga perlu toleransi, keberagaman, dan demokrasi di masa kini dan masa depan, <em>kan</em>. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/gusdur2-077c78098db63012e3bc9aa3987889e2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sri Pede Daya Beli</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/sri-pede-daya-beli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Nov 2017 08:34:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[daya beli]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15873</guid>

					<description><![CDATA[Bu, akuilah kalau daya beli rakjat memang sedang lesu. PinterPolitik.com   [dropcap]K[/dropcap]ata Bu Sri, tutupnya beberapa gerai ritel yang sempat menghebohkan Jakarta, ternyata bukan disebabkan daya beli turun, tapi karena banyak yang memilih nabung. Bu Sri lihat tabungan orang kaya makin bertambah soalnya. Nah, kalau untuk orang-orang jelata macam kita ini, bagaimana Bu? Jangankan nabung, bisa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Bu, akuilah kalau daya beli <em>rakjat</em> memang sedang lesu.</strong></h3>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com  </strong></span></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]ata Bu Sri, tutupnya beberapa gerai ritel yang sempat menghebohkan Jakarta, ternyata bukan disebabkan daya beli turun, tapi karena banyak yang memilih nabung. Bu Sri lihat tabungan orang kaya makin bertambah soalnya. Nah, kalau untuk orang-orang jelata macam kita ini, bagaimana Bu? Jangankan nabung, bisa bayar hutang saja sudah untung.</p>
<p>Saat minimarket tutup dan buka suara soal penurunan laba, kini alasan baru dipakai, <em>rakjat</em> beralih ke lapak <em>online</em>. Lucunya, waktu yang punya lapak bersuara, mereka bilang: omzet kita turun, <em>bosque</em>. Nah loh.</p>
<p>Ya, gimana <em>nggak</em> mau turun omzetnya. Barang nggak ada, impor borongan sudah berbulan-bulan tersendat, malah sempat <em>red light.</em> Belum lagi bea impor yang makin nggak keru-keruan. Makanya kalau yang jual barang, harganya pasti mahal. Kalau sudah begitu, siapa yang mau beli?</p>
<p>Lesu! Ohya, ini bukan celotehan saya lho, tapi dari AC Nielsen dan Badan Pusat Statistika (BPS). Artinya daya beli memang turun, baik dengan data statistika atau tidak. Kalau kesehatan ekonomi negeri diukur dari tabungan <em>horang-horang khayah</em> yang minimal punya tabungan  Rp. 5 miliar. Dibandingkan nilai itu, <em>rakjat</em> <em>ketjil </em>hanya seperti lipatan ketek Papa.</p>
<figure id="attachment_15875" aria-describedby="caption-attachment-15875" style="width: 670px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-15875 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/tak-tepat-salahkan-online-shop-atas-lesunya-ritel_c_158449.jpeg" alt="" width="670" height="421" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/tak-tepat-salahkan-online-shop-atas-lesunya-ritel_c_158449.jpeg 670w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/tak-tepat-salahkan-online-shop-atas-lesunya-ritel_c_158449-300x189.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/tak-tepat-salahkan-online-shop-atas-lesunya-ritel_c_158449-668x420.jpeg 668w" sizes="(max-width: 670px) 100vw, 670px" /><figcaption id="caption-attachment-15875" class="wp-caption-text">Pembersihan gudang (sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Mengakui kalau bisnis ritel bertumbangan karena adanya pelemahan daya beli <em>rakjat</em> tak berdosa, kok. Justru sikap yang lapang dada. Kalau terus-terusan menepisnya, yang ada, Bu Sri yang mantan <em>jawara</em> Bank Dunia ini sudah bukan <em>pede </em>lagi, tapi kepedean. Ingat Bu Sri, biasanya orang yang kepedean, berakhir malu-maluin.</p>
<p>Kita juga perlu <em>ngaku</em>, kalau memang penggerak ekonomi kita adalah <em>hedon-hedonan</em>. Jadi keinginan jajan untuk kelihatan gaya, gaul, dan asyik sebetulnya masih jadi impian masyarakat kelas menengah kita yang terhormat. Tapi sayangnya, industri kita tidak tumbuh, <em>lho</em>. Bahkan minus. Di sini juga lah sebetulnya para <em>horang-horang khayah</em> ndak tahu mau belanja kemana.</p>
<p>Yah, mau bagaimana lagi? Di Indonesia, sektor paling subur memang cuma konsumsi saja, <em>lho</em>. Inilah <em>miracle of Indonesia</em> alias keajaiban perekonomian: hedonisme. Di tengah ancaman krisis seperti saat ini, lebih baik Bu Sri tak perlu kembali menghantam industri, apalagi <em>rakjat</em> dengan berbagai macam regulasi dan birokrasi yang njelimet dan aneh-aneh. Kalau tidak ya, <em>good bye. </em></p>
<p>Nah, itu buat kalangan pemilik tabungan minimal Rp. 5 milyar. Untuk kelompok <em>rakjat</em> lain gimana? Haruskah kita mulai tanam ubi? Wah, ubi rebus dikasih gula pasir, lalu tiwul dengan ikan asin sepertinya bisa asyik juga!</p>
<p>Eh, tapi tunggu dulu, penghasil ikan asin sudah benar-benar sehati dari kelangkaan garam belum, ya? Mereka sudah pede belum, ya? Kasih pede-nya buat mereka sedikit dong, Bu Sri (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/sri-mulyani-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nyinyir Politik di Nikahan Ayang</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/nyinyir-politik-di-nikahan-ayang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Nov 2017 07:44:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kahiyang Ayu]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15822</guid>

					<description><![CDATA[Namanya Presiden, urusan rabi bisa sepolitis itu, lho. PinterPolitik.com  [dropcap]D[/dropcap]i manapun, siapapun, dan mau kapanpun itu, pernikahan pasti rumit. Tak terkecuali bagi Presiden Jokowi. Malah, untuk sang Presiden, kerumitannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan kita-kita ini, rakyat jelata. Apa sebab? Ya, karena acara manten saja bisa jadi sumbu debat, komentar, bahkan juga nyinyir, baik dari para [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Namanya Presiden, urusan <em>rabi</em> bisa sepolitis itu, <em>lho.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]D[/dropcap]i manapun, siapapun, dan mau kapanpun itu, pernikahan pasti rumit. Tak terkecuali bagi Presiden Jokowi. Malah, untuk sang Presiden, kerumitannya bisa berkali-kali lipat dibandingkan kita-kita ini, rakyat jelata.</p>
<p>Apa sebab? Ya, karena acara <em>manten</em> saja bisa jadi sumbu debat, komentar, bahkan juga <em>nyinyir, </em>baik dari para <em>haters</em> maupun pendukungnya. Mau bagaimana pun upacara perkawinan putri Jokowi, berlangsung, ia bisa jadi serangan politis.</p>
<p>Dimulai dari tamu-tamu undangannya yang sebagian diisi oleh klan dan pejabat-pejabat royal. Sebut saja Anies Baswedan, pendekar alias Gubernur DKI Jakarta baru, Klan Yudhoyono mantan Presiden RI beserta anak dan handai taulan, hingga Cak Imin yang tebar senyum sana -sini. Dari kehadiran mereka saja, penonton sudah <em>sok</em> menerjemahkan adanya taktik strategi koalisi antik. Padahal, siapa tahu tamu-tamu agung ini datang ya memang untuk icip-icip kudapan pesta dan silaturahmi.</p>
<p>Nah, <em>nyinyiran</em> <em>nyelekit</em> ala <em>haters</em> kali ini datang dari duo <span style="text-decoration: line-through;">silet</span> Wakil Ketua DPR, Pak Fadli dan Fahri Hamzah. Ya, bisa jadi mereka iri sebab tak sampai undangannya. Ya, barangkali <em>lho</em>, ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Dlm 3 thn Pak <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> menikahkan 2 anaknya, tinggal 1 lg. Semua Presiden RI lain kalah dlm soal ini. Kerja kerja kerja.</p>
<p>— Fadli Zon (@fadlizon) <a href="https://twitter.com/fadlizon/status/927745486550851584?ref_src=twsrc%5Etfw">November 7, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Twit Pak Fadli memang terkesan biasa saja, tidak mendalam sama sekali. Tapi di sana terkandung makna jika seolah-olah, prestasi Jokowi ini adalah perkara menikahkan anak saja. <em>Ndilalah..</em></p>
<p>Itu baru komentar dari Pak Fadli Zon, wakil ketua DPR lainnya, <em>lord</em> Fahri Hamzah, juga tak ketinggalan ikut komentar dan <em>nyinyir</em>. Menurut <em>bliyo</em>, pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution harusnya dilakukan sederhana dan pesta kecil saja. Cukup diumumkan lewat Twitter atau vlog (<em>video blog).</em></p>
<p>Komentar ngawurnya ini, ternyata dinotis langsung oleh yang punya hajat, Presiden Jokowi. Menurutnya, hajatan pernikahan putrinya adalah hajatan ala orang kampung yang tidak mewah. Ehem Pak, orang kampung mana sih yang menyebar undangan sampai 8000 tamu plus relawan-relawannya pula?</p>
<p>Yah, bagaimana pun itu, pernikahan putri Pak Jokowi adalah sebuah bukti sahih, kalau dalam politik, semua bisa dijadikan serangan. Termasuk ya pernikahan Kahiyang, anaknya. Tapi ada yang paling penting lagi, pernikahan Kahiyang ini, bisa kita lihat juga sebagai alarm, betapa DPR kita itu sudah sangat memprihatinkan, kalau tak mau dibilang malu-maluin.</p>
<figure id="attachment_15823" aria-describedby="caption-attachment-15823" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-15823 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/setnov_20171108_101303.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/setnov_20171108_101303.jpg 700w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/setnov_20171108_101303-300x168.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/setnov_20171108_101303-696x391.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px" /><figcaption id="caption-attachment-15823" class="wp-caption-text">#PapaMintaBantal Setya Novanto (sumber: NET TV)</figcaption></figure>
<p>Sebab, selain duo <span style="text-decoration: line-through;">silet</span> Wakil Ketua DPR yang ngawur <em>cocotnya </em>ngurusin nikahan, ketua DPR-nya sibuk memenuhi panggilan KPK sampai ketiduran di nikahan orang #PapaMintaBantal. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/keluarga-joko-widodo_20171107_212403.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Guru Apa Tukang Gebuk?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/guru-apa-tukang-gebuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2017 09:14:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Oknum Guru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15791</guid>

					<description><![CDATA[Kalau menghajar murid sampai babak belur berakhir damai, lantas apa guna RUU Perlindungan Anak, dong? PinterPolitik.com  [dropcap]B[/dropcap]eberapa hari belakangan, video oknum guru main gebuk murid sedang ramai sekali dibahas. Menurut keterangan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), oknum guru itu kesal, sebab si murid memanggil namanya tanpa sapaan, ‘Pak’. Singkat cerita, kasus ini berakhir damai. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Kalau menghajar murid sampai babak belur berakhir damai, lantas apa guna RUU Perlindungan Anak, dong?</strong></h3>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]B[/dropcap]eberapa hari belakangan, video oknum guru main <em>gebuk</em> murid sedang ramai sekali dibahas. Menurut keterangan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), oknum guru itu kesal, sebab si murid memanggil namanya tanpa sapaan, ‘Pak’.</p>
<p>Singkat cerita, kasus ini berakhir damai. Apa masalah ikutan selesai dan tiap orang bisa tidur nyenyak? Hm, belum tentu. Kalau kasus berakhir begitu saja, lalu keadilan buat pelaku aniaya dan perlindungan buat murid yang babak belur, dimana?</p>
<p>Bagi para netizen budiman dan sholeh sholehah, kekerasan yang dilakukan oknum guru itu tak bisa dipandang benar apalagi diwajarkan, <em>lho.</em> Ya, anak muridnya memang <em>songong</em>, tapi apakah dia pantas dihajar bertubi-tubi seperti sak tinju karena <em>songongnya</em>? Tentu saja tidak. Mendidik itu bukan berarti bebas main <em>gebak gebuk</em>, kalau begitu <em>mah </em>namanya sudah kekerasan.</p>
<figure id="attachment_15792" aria-describedby="caption-attachment-15792" style="width: 624px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-15792 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628841_gettyimages-485067013.jpg" alt="" width="624" height="351" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628841_gettyimages-485067013.jpg 624w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628841_gettyimages-485067013-300x169.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 624px) 100vw, 624px" /><figcaption id="caption-attachment-15792" class="wp-caption-text">para siswa (sumber: BBC Indonesia)</figcaption></figure>
<p>Tapi, aksi Pak Guru mungkin baru benar kalau <em>bliyo </em>mengajar di Perguruan Silat Tapak Putih atau Perguruan Hokage. Sebab memang tugasnya mengajar trik cantik bela diri. <em>Lha,</em> tapi kan ini si Pak Guru adalah pengajar matematik.</p>
<p>Si anak murid yang kena bogem itu <em>boro-boro</em> punya kesempatan membela dirinya, belum sempat kedip dia dihujani tamparan, tinju, bahkan diseret kakinya. Ini <em>mah</em>, sudah pas masuk salah satu episode <em>pilot</em> untuk <em>Smackdown</em>.</p>
<p>Asal saudara-saudara sekalian tahu, nieh. Kasus kekerasan di sekolah itu lumayan tinggi, <em>lho</em>. Bahkan ada bahasa gaulnya, <em>hidden case</em>. Tapi sayang, kasusnya tak pernah lanjut ke proses hukum dan selalu damai. Damai ini tak selalu selaras dengan keindahan, saudara-saudara. Kenyataan memang berbeda dengan lagu-lagu Anang. Kalau kasus <em>bak,buk,bak,buk</em> dalam dunia pendidikan diakhiri perdamaian, tanpa ada hukuman apalagi evaluasi bagi pelaku, namanya bukan kedamaian, tapi pemakluman. Percayalah, saudara, memaklumi kekerasan tak ada faedahnya.</p>
<p>Pak Guru perlu dapat penilaian ulang, masih pantaskah <em>bliyo</em> mengajar. Kalau Pak Guru tak menderita gangguan jiwa apapun, berarti perlakuannya itu sudah termasuk pelanggaran hukum. Nah, muridnya yang <em>songong</em> ini, juga patut dapat perlindungan. Habis, kalau damai, lantas apa gunanya menteri dan Pemerintah capek-capek bikin RUU Perlindungan Anak?</p>
<p>Bagi para saudara-saudara dan generasi jaman <em>now</em> yang masih mempersoalkan <em>songong</em> dan norma si murid, sekarang yuk mari kita merenung sebentar. Apa sih gunanya bergerak ke arah pembangunan yang lebih baik, kalau metode tinju ala Naruto masih saja dipakai di dunia pendidikan? Ada lho cara yang lebih <em>enteng</em> dan tak perlu keluar tenaga. Yaitu, tanya si murid kenapa dia melanggar etika dan norma.</p>
<p>Wah, berarti harus berani buka hati dan pikiran, dong? Nah, itulah. Tak gampang memang, saudara. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628777_gettyimages-484756455.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dokumen Surga yang Tak Dirindukan</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/dokumen-surga-yang-tak-dirindukan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2017 02:44:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Mamiek Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Paradise Papers]]></category>
		<category><![CDATA[Tommy Soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15755</guid>

					<description><![CDATA[Tenang saja, masuk Daftar Surga (Paradise Papers) bukan jaminan masuk surga betulan kok, my love. PinterPolitik.com  [dropcap]M[/dropcap]ulai dari artis India kebanggaan para Mama, hingga mantan Letnan serta anak-anaknya disebut-sebut dalam Dokumen Surga alias Paradise Papers. Mereka ini adalah Pak Prabowo, Tommy Soeharto, dan saudara perempuannya Mamiek Soeharto. Tenang saja, Dokumen Surga ini bukan daftar calon [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Tenang saja, masuk Daftar Surga (Paradise Papers) bukan jaminan masuk surga betulan kok, <em>my love</em>.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]ulai dari artis India kebanggaan para Mama, hingga mantan Letnan serta anak-anaknya disebut-sebut dalam Dokumen Surga alias <em>Paradise Papers</em>. Mereka ini adalah Pak Prabowo, Tommy Soeharto, dan saudara perempuannya Mamiek Soeharto.</p>
<p>Tenang saja, Dokumen Surga ini bukan daftar calon pasti penghuni surga, kok. Ini adalah daftar <em>horang-horang syuper dyuper kayah</em> yang (diduga) punya investasi <em>offshore.</em> Ya, kalau kamu punya uang terlalu banyak sampai bingung mau diapain, tapi <em>gemes</em> sama pajak dalam negeri, kamu bisa menaruh uangmu di negara yang bebas pajak. Jadi keuntungan bisnis tetap lancar direguk, tanpa pajak yang menghantui. Asyik, kan.</p>
<p>Namun begitu, bukan berarti orang-orang yang tercantum dalam Dokumen Surga ini tercela alias melanggar hukum. Si <em>empunya </em>dokumen, Appleby yang berlokasi di Bermuda sana, berkata kalau transaksi para <em>milyunir</em> ini tak melanggar peraturan.</p>
<p>Tak melanggar peraturan, bukan berarti tak melahirkan <em>dongkol</em> apalagi iri dengki, ya. Habisnya, di saat rakyat jelata pahit dihajar gempuran ekonomi dalam negeri yang <em>madesu</em>, daya beli merosot, biaya hidup yang meningkat, dan <em>ehem</em>, <span style="text-decoration: line-through;">dipalak</span> bayar pajak, eh ini kok orang hartanya buanyak banget, sih? Sudah banyak, menghindar pajak pula.</p>
<figure id="attachment_15757" aria-describedby="caption-attachment-15757" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-15757 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/bbc.jpg" alt="Dokumen Surga yang Tak Dirindukan" width="660" height="370" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/bbc.jpg 660w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/bbc-300x168.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 660px) 100vw, 660px" /><figcaption id="caption-attachment-15757" class="wp-caption-text">Kiri ke kanan: Tommy Soeharto, Mamiek Soeharto-Prabowo (sumber: BBC Indonesia)</figcaption></figure>
<p>Memandangi deretan nama-nama di Dokumen Surga maupun Dokumen Panama yang dikeluarkan tahun 2016 lalu, memang buat hati risau saja, Jenderal. Dokumen yang marak dibahas oleh media massa sedunia ini memang hanya memberi pameo klasik saja, yaitu yang kaya makin kaya, sedangkan yang miskin makin mampus dihajar belitan pengeluaran.</p>
<p>Nah, kalau dari sisi sang <em>milyunir</em>-nya sendiri kira-kira bagaimana? Konon sih, beliau-beliau ini <em>ikutan </em>ketar-ketir, atau malu (mungkin). Rahasianya berusaha <em>ngumpet </em>dari kejaran pajak dalam negeri akhirnya terbongkar sudah, deh.</p>
<p>Tapi, mungkin setara dengan <em>Forbes</em>, masuk dalam deretan Dokumen Surga dan Dokumen Panama ini melahirkan sisi-sisi <em>graahhh</em>. Ehm, maksudnya di antara derai ketar ketir dan malu, itu secara tak langsung menduduki status sebagai orang yang sangat berpengaruh, prestisius. Dengan kata lain penobatan tersebut membuat Pak Prabowo, Tommy, dan Mamiek Soeharto layak berseloroh, “<em>aink jawara di dieu</em>!”</p>
<p>Ah, tapi tenang saja. Masuk Daftar Surga, cuma bikin sejahtera di dunia saja, tak jamin bisa masuk surga <em>betulan.</em> Eh, tapi kalau sudah tak sejahtera dunia dan akhirat bagaimana? Nah, jawabannya apa nih, Pak Ustad? (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/800x-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fadli Zon, Calon Kolektor Meme</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/fadli-zon-calon-kolektor-meme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Nov 2017 06:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Fadli Zon]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Novanto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15513</guid>

					<description><![CDATA[Jika Papa menjaring para produser meme, Pak Fadli memilih selow. PinterPolitik.com [dropcap]M[/dropcap]enghadapi belantara dunia maya, sekilas memang penuh adu jotos dan perang bintang. Tidak hanya berita hoax, kadang berseliweran meme dengan berbagai jenis dan aliran (iya, meme punya aliran). Sebagai penikmat, netizen bisa ikut sumbang cekikikan atau share&#8211;share liar. Tapi bagi korban yang dijadikan bahan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Jika Papa menjaring para produser meme, Pak Fadli memilih <em>selow.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]enghadapi belantara dunia maya, sekilas memang penuh adu jotos dan perang bintang. Tidak hanya berita <em>hoax,</em> kadang berseliweran <em>meme</em> dengan berbagai jenis dan aliran (iya, <em>meme</em> punya aliran). Sebagai penikmat, netizen bisa ikut sumbang cekikikan atau <em>share</em>&#8211;<em>share</em> liar. Tapi bagi korban yang dijadikan bahan <em>meme</em> (apalagi <em>meme</em> yang tercela), yang ada darah bisa naik sampai ubun-ubun.</p>
<p>Fadli Zon, selain Papa Setya pastinya, kerap jadi bulan-bulanan netizen di dunia maya. Coba tengok saja, ada banyak versi <em>meme</em> dirinya berserakan. Tapi, yang bisa (sedikit) dipuji dari Pak Fadli adalah sikap <em>woles</em> alias santainya. Alih-alih memburu para pembuat konten <em>meme</em> yang seringnya garing dan menjatuhkan harkat martabat, Fadli memilih untuk mengoleksi dan mengeprint-nya suatu hari.</p>
<figure id="attachment_15514" aria-describedby="caption-attachment-15514" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-15514 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/48563-fadli-zon.jpg" alt="Fadli Zon, Calon Kolektor Meme" width="500" height="375" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/48563-fadli-zon.jpg 500w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/48563-fadli-zon-300x225.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/48563-fadli-zon-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/48563-fadli-zon-265x198.jpg 265w" sizes="auto, (max-width: 500px) 100vw, 500px" /><figcaption id="caption-attachment-15514" class="wp-caption-text">meme yang terinspirasi dari serial Game of Thrones (sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Mengumpulkan artefak digital dari dunia maya memang asyik. Jangankan Pak Fadli, tukang <em>counter</em> pulsa saja sering coba-coba <em>googling</em> namanya sendiri. Tapi butuh lebih dari sekedar narsisme yang mantap untuk melihat hasil-hasil konyol, kalau tak mau dibilang buruk, soal <em>meme</em> diri sendiri. Nah, yang bisa begini si Pak Fadli seorang.</p>
<p>Mulai dari lelucon menjadi Wakil Ketua DPR, hingga diduga pernah menjalani karir sebagai model iklan sabun detergen, selalu muncul ketika mengetik nama Pak Fadli. Yang lebih jahat dari itu, tentu lebih banyak lagi. Ah, tapi sudahlah.</p>
<p>Persebaran meme yang beraliran negatif memang buat kacau dunia persilatan. Kenapa? Sebab <em>meme</em> ini banyak diminati orang. Ia singkat, padat, <em>to the point</em>, dan utamanya lucu serta <em>harmless.</em> Tapi kini, hanya gara-gara <em>meme</em>, bendera perang dikibarkan, <em>hoax</em> bebas tersebar, bahkan terakhir bisa kena hukuman bui.</p>
<p>Dulu, <em>meme</em> diibaratkan sebagai anak <em>begajulan</em>, preman, tapi jujur dan apa adanya (lho, ini <em>meme</em> apa YoungLex?). Sedangkan <em>hoax</em> itu seperti seorang pejabat atau tokoh besar yang rapi jali penampilannya, tapi isinya busuk tak kepalang. Nah, sekarang <em>meme</em> dan <em>hoax</em> sudah jadi perpaduan.</p>
<p>Nah, kalau sudah begitu harus bagaimana? Jadi <em>woles </em>layaknya  calon kolektor meme nasional seperti Pak Fadli susah, lebih baik balas <em>meme</em> buruk dengan <em>meme</em> lebih buruk. Haish, bukan. Tapi balas <em>meme</em> negatif dengan <em>meme </em>lucu. Hitung-hitung bisa jadi ajang asah kreatifitas dan humor. Jangan salah, dua elemen itu bisa jadi resep bangkitnya puncak dunia <em>meme</em> di Indonesia. Pokoknya, <em>make meme great again</em>! (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/9164cc5c-9ba0-455e-96a7-ae467f327cbb-1024x705.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Buat Meme Papa</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/hati-hati-buat-meme-papa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2017 07:15:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Novanto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15424</guid>

					<description><![CDATA[Sudah sehat walafiat, kini Papa minta polisi mengejar siapa pun yang membuat konten meme yang mengolok dirinya. Hayo, hati-hati tercyduq. PinterPolitik.com  [dropcap]L[/dropcap]uar biasa memang titah Papa. Permintaannya ini bisa langsung digenapi oleh seperangkat kuasa hukum dan kepolisian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Netizen pikir Papa akan woles, chill, dan diam saja dibuat guyon seperti itu kala [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Sudah sehat walafiat, kini Papa minta polisi mengejar siapa pun yang membuat konten <em>meme</em> yang mengolok dirinya. Hayo, hati-hati tercyduq.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="background-color: #ffffff; color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]L[/dropcap]uar biasa memang titah Papa. Permintaannya ini bisa langsung digenapi oleh seperangkat kuasa hukum dan kepolisian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Netizen pikir Papa akan <em>woles, chill</em>, dan diam saja dibuat guyon seperti itu kala sedang sakit? Tidak, tuh. Nehi. Kini Papa, lewat polisi dan lembaga hukumnya akan mencyduk kalian. Hati-hati, wahai kalian para pembuat konten garing!</p>
<p>Yang tak diduga, Pak Polisi <em>gercep</em> (gerak cepat) menangkapi orang-orang yang diduga memproduksi <em>meme</em> Setya Novanto alias Papa. Bahkan belantara sosial media juga tak ragu <em>diobok-obok </em>dalam seminggu, hingga beberapa nama sudah keluar sebagai pelaku. Ssst, salah satunya itu adalah kader dari partai anak muda zaman <em>now, </em>PSI.</p>
<p>Bayangkan, hanya dalam waktu seminggu saja, pak polisi menjajaki <em>Instagram, facebook, </em>dan <em>twitter</em> untuk mencari konten <em>meme</em> Papa. Kita bisa ingat bagaimana melimpahnya konten <em>meme</em> Papa tersebar begitu liar di internet. Bukan cuma satu atau dua, tapi hampir setiap netizen, baik yang budiman dan yang tercela, sama-sama pernah buat dan membagikan <em>meme</em> Papa. Sungguh, pekerjaan Pak Polisi sangat melelahkan pasti.</p>
<figure id="attachment_15425" aria-describedby="caption-attachment-15425" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-15425 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq.jpg" alt="Hati-Hati Buat Meme Papa" width="800" height="450" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq.jpg 800w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-300x169.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-768x432.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-696x392.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-747x420.jpg 747w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-15425" class="wp-caption-text">polisi menunjukan barang bukti (sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Polisi juga barangkali tak kuasa menerima pesan dari si kuasa hukum Papa supaya menghormati Papa layaknya kita menghormati sang presiden RI. Ingat, Papa (begini-begini) adalah ketua DPR RI yang mulia, <em>lho.</em> Maka, jika penghakiman yang tak benar terjadi padanya, harus cepat-cepat diurus tuntas. Yang menjelekkan Presiden dan istrinya saja bisa ditangkap cepat, masa buat Papa tidak? Papa <em>gitu lho.</em></p>
<p>Ah, andai energi dan daya <em>gercep</em> yang sama dari Pak Polisi juga ada untuk kasus-kasus penting lainnya. Seperti kasus Novel Baswedan misalnya? Masak sih, waktu dan energi untuk produser <em>meme</em> tersedia, tapi keadilan bagi pejuang anti korupsi, susah dikabulkan?</p>
<p>Eh, tidak kok, Pak. Ini bukan berarti Pak Polisi <em>lebay</em> dan tak tahu prioritas, kok. Sungguh, bukan. Kalau soal <em>meme</em>, kita semua tahu pasti siapapun akan terluka hatinya jika diolok-olok dan jadi sensasi dunia maya, padahal dirinya sedang bertaruh nyawa melawan penyakitnya yang bejibun <span style="text-decoration: line-through;">dan lengkap seperti Minimarket.</span> Masuk akal kok, Pak Polisi.</p>
<p>Nah, kalau begitu semoga saja ini bukan lagi jurus Naruto <em>kagebunshin no jutsu</em> ala Papa, alias jurus distraksi politik untuk menutupi isu utama, yaitu renovasi gedung DPR dan RUU Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kalau itu benar terjadi, aduh maaf banget nih, Papa dan Pak Polisi sekalian, strateginya sudah sangat zaman <em>old</em> alias ketinggalan jaman. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/659613_720.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
